Posts

Mengampuni Musuh Kita, Mungkinkah?

mengasihi-musuh-kita-mungkinkah

Oleh Charmain S.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is It Possible to Forgive Our Enemies?

Suatu sore di tahun 2015, seorang anak muda berjalan masuk ke dalam sebuah gereja. Para peserta rutin acara Pendalaman Alkitab mingguan gereja itu pun menyambutnya dan acara pun dimulai dan berjalan selama satu jam. Tiba-tiba, anak muda itu berdiri, mengambil sebuah pistol, dan menembaki semua orang di dalam ruangan itu. Dia menembaki setiap orang beberapa kali, mengeluarkan ungkapan rasisme, dan pergi meninggalkan gereja itu. Sembilan orang tewas malam itu, termasuk pendeta senior gereja itu.

Ini bukanlah adegan pembukaan dramatis dari sebuah film aksi. Ini adalah peristiwa nyata. Gereja itu adalah Gereja Emanuel African Methodist Episcopal di Charleston, South Carolina, Amerika Serikat. Sembilan orang yang terbunuh adalah para anggota gereja—dan seorang keturunan Amerika-Afrika. Anak muda itu adalah seorang anak muda berumur 21 tahun bernama Dylann Roof, seorang pria kulit putih yang kemudian mengaku bahwa dia melakukan aksi kejahatan itu dalam rangka memicu sebuah perang ras.

Kata-kata apa yang dapat mendeskripsikan tindakan yang sangat tidak berperikemanusiaan ini? Siapa yang dapat memahami kesedihan dan kemarahan yang dirasakan oleh keluarga dan teman-teman korban? Pastinya mereka mengharapkan keadilan, atau bahkan ganti rugi.

Namun tidak seperti yang banyak orang pikirkan, keluarga korban-korban itu ternyata memberikan sebuah tanggapan yang luar biasa. Meskipun mereka berlinang air mata dan sulit berkata-kata, mereka memilih untuk mengampuni. Dalam pernyataan resmi mereka kepada Roof di persidangan, para kerabat yang berduka berdiri satu demi satu, menyatakan bahwa mereka mengampuni Roof dan mereka mendoakan dia.

Wow.

Bayangkan itu. Bayangkan seorang yang sangat jahat atau yang tidak suka denganmu, menghancurkan mereka yang kamu kasihi. Bagaimana reaksimu? Apakah kamu, seperti orang-orang percaya di Charleston, memilih untuk tidak membalas namun malah menawarkan pengampunan kepada musuhmu?

Dengan kekuatan kita sendiri, kemungkinan kita tidak dapat melakukannya. Tapi yang dimiliki oleh orang-orang percaya di Charleston, dan kita semua, adalah iman; iman di dalam Tuhan yang tidak hanya mati bagi musuh-musuh-Nya tapi juga mengampuni mereka. Sebagai orang Kristen, kita tahu benar perintah yang Yesus berikan dalam Matius 5:44, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Itu terdengar sangat sederhana dan begitu jelas, tapi kenyataannya hampir mustahil untuk menaati perintah ini.

Membaca berita tentang Charleston ini membuatku merefleksikan pengalaman pribadiku. Lima tahun lalu, seorang temanku ditusuk hingga mati oleh seorang pelaku setelah sebuah percobaan pelecehan seksual. Meskipun kita tidak ada hubungan darah, namun dia aku anggap seperti saudaraku sendiri. Kehilangan dia adalah seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Aku benar-benar merasa kehilangan.

Pembunuhnya akhirnya ditangkap dan dihukum 26 tahun penjara. Ketika aku mendengar kabar tentang vonis hukuman tersebut, aku tidak merespons seperti yang dilakukan oleh orang-orang percaya di Charleston. “Itu tidak cukup,” temanku yang lain berkata, sama seperti yang aku juga pikirkan. Kami masih begitu marah. Aku begitu bergumul untuk dapat mengampuni.

Butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya aku mendengar dan mengerti panggilan Tuhan untuk mengampuni. Melalui kisah Raja Daud, Tuhan melembutkan hatiku.

Ini adalah rangkumannya. Sebelum Daud menjadi raja, dia menghabiskan sekitar delapan tahun untuk lari dari Saul, raja Israel yang pertama, yang begitu ingin menghabisi dia. Itu adalah sebuah masa yang penuh ketegangan, ketakutan, dan penderitaan. Namun, bahkan ketika Daud mendapatkan kesempatan untuk membunuh Saul, dia tidak melakukannya. Dia tahu bahwa Saul adalah orang pilihan Tuhan. Dan ketika Saul akhirnya mati, dia bahkan berduka untuk kematian musuhnya itu (lihat 2 Samuel 1:11-12).

Tentunya, ketaatan Daud kepada Tuhanlah yang membuatnya memilih untuk tidak membalas Saul. Dan aku percaya bahwa seperti Daud, para kerabat korban-korban di Charleston juga melakukan hal yang sama, karena mereka menyadari bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas Roof, sama seperti Dia juga berkuasa atas mereka. Hidup Roof ada di tangan Tuhan, bukan tangan mereka. Karena itu, mereka dapat berserah dalam ketaatan kepada Tuhan dan mengampuni musuh mereka.

Sama seperti itu, aku juga harus mengakui bahwa pembunuh temanku ada di tangan Tuhan, bukan di tanganku. Aku harus mengakui kuasa Tuhan atas diri pembunuh temanku. Jadi, meskipun terdengar aneh olehku saat itu, aku dapat mengucapkan pengampunan dan berdoa bagi pembunuh temanku itu. Hal itu tidak menghilangkan rasa duka yang kualami, namun tindakan pengampunan itu membebaskanku dari ilusi seolah-olah aku memiliki hak atas hidupnya—yang tadinya aku pikir aku berhak karena dia telah menyakitiku, karena dia adalah musuhku.

Aku percaya bahwa pengampunan adalah langkah pertama yang harus kita lakukan untuk mengasihi musuh-musuh kita.

Itu adalah sebuah langkah iman di dalam Tuhan yang Mahakuasa dan berdaulat. Dan tidak peduli apakah kita suka atau tidak, kita dahulu juga adalah musuh-musuh Tuhan. Namun Tuhan memilih untuk menyediakan jalan pengampunan bagi kita, sehingga “kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya” (Roma 5:10). Karena kita telah menerima pengampunan dari Tuhan, marilah kita juga mengampuni orang lain—bahkan musuh-musuh kita.

Adakah seseorang yang perlu kita ampuni hari ini?

Baca Juga:

Rencana Tuhan di Balik Retaknya Keluargaku

Felicia dan adiknya lahir di tengah keluarga yang dulunya lengkap. Namun saat Felicia kelas 1 SD dan adiknya masih berumur 3 tahun, mereka sudah sering mendengar mama dan papa mereka bertengkar setiap hari.

Tidak Sempurna

Kamis, 4 Agustus 2016

Tidak Sempurna

Baca: Roma 7:14-25

7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

 

Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya. —Roma 7:18 BIS

Tidak Sempurna

Dalam bukunya Jumping Through Fires (Melewati Kemelut), David Nasser bercerita tentang perjalanan rohaninya. Sebelum mengenal Yesus, ia berteman dengan sekelompok remaja Kristen. Walaupun biasanya teman-teman akrabnya itu bersikap murah hati, menyenangkan, dan tidak menghakimi, David pernah melihat salah seorang dari mereka berbohong kepada pacarnya. Merasa bersalah, pemuda itu kemudian mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada si pacar. Saat memikirkan hal tersebut, David mengatakan bahwa Kejadian itu membuatnya semakin akrab dengan teman-teman Kristennya. Ia menyadari bahwa mereka juga membutuhkan anugerah, sama seperti dirinya.

Di hadapan orang-orang yang kita kenal, kita tidak perlu bersikap seolah-olah kita telah sempurna. Kita boleh berterus terang tentang kesalahan dan pergumulan kita. Rasul Paulus secara terbuka menyebut dirinya sebagai orang yang paling berdosa (1Tim. 1:15). Ia juga menjabarkan pergumulannya melawan dosa di Roma 7, dengan mengatakan, “Sebab ada keinginan pada saya untuk berbuat baik, tetapi saya tidak sanggup menjalankannya” (ay.18 BIS). Sayangnya, justru sebaliknya yang terjadi, “Saya melakukan hal-hal yang jahat, yang saya tidak mau lakukan” (ay.19 BIS).

Berterus terang tentang pergumulan-pergumulan kita menempatkan kita dalam kedudukan yang sejajar dengan siapa saja di dunia ini. Memang demikianlah keadaan kita! Namun, karena Yesus Kristus, kita tidak perlu membawa dosa kita selamanya. Ini seperti pepatah yang menyatakan, “Seorang Kristen bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang telah diampuni.” —Jennifer Benson Schuldt

Ya Yesus, aku menyembah-Mu sebagai satu-satunya manusia sempurna yang pernah ada di dunia. Terima kasih karena Engkau telah memungkinkan kami untuk menang atas dosa.

Satu-satunya perbedaan antara orang Kristen dan orang lain adalah pengampunan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 66-67; Roma 7

Artikel Terkait:

Tiga Hal yang Kugumulkan dalam Mengampuni

Pengampunan lebih sering dibicarakan daripada dipraktikkan. Mengapa begitu sulit untuk mengampuni? Apa sebenarnya arti mengampuni?
Yuk baca pergumulan Ian dalam hal mengampuni dalam artikel berikut.

Awal yang Baru

Rabu, 11 Mei 2016

Awal yang Baru

Baca: Mazmur 86:5-15

86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.

86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.

86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

86:8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.

86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.

86:10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.

86:11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.

86:12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya;

86:13 sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang mati yang paling bawah.

86:14 Ya Allah, orang-orang yang angkuh telah bangkit menyerang aku, dan gerombolan orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku, dan tidak mempedulikan Engkau.

86:15 Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia.

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23

Awal yang Baru

Sewaktu masih kecil, salah satu buku favorit saya adalah Anne of Green Gables (Anne dari Green Gables) karya Lucy Maud Montgomery. Dalam salah satu bagian yang kocak, diceritakan bahwa Anne yang masih kecil tidak sengaja memasukkan obat kulit dan bukannya bubuk vanili ke dalam adonan kue yang sedang dibuatnya. Setelah itu, ia berseru dengan nada ceria pada Marilla, pengawasnya yang bertampang galak, “Alangkah menyenangkannya membayangkan bahwa esok adalah hari baru yang belum ternoda oleh kesalahan apa pun!”

Saya suka dengan perkataan Anne: esok adalah hari baru—kesempatan kita untuk memulai kembali dari awal. Kita semua pernah membuat kesalahan. Namun dalam hal dosa, hanya pengampunan Allah yang memampukan kita untuk memulai setiap pagi dengan awal yang benar-benar baru. Jika kita bertobat, Dia memilih untuk tidak lagi mengingat dosa-dosa kita (Yer. 31:34; Ibr. 8:12).

Ada di antara kita yang pernah mengambil jalan yang salah dalam hidup ini. Akan tetapi perkataan dan tindakan kita di masa lalu tidak sepatutnya membatasi masa depan kita di hadapan Allah. Awal yang baru selalu tersedia bagi kita. Dengan memohon pengampunan-Nya, kita mengambil langkah pertama untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9).

Kasih setia dan rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi (Rat. 3:23), sehingga kita dapat menerima awal yang baru setiap harinya. —Cindy Hess Kasper

Terima kasih untuk hari baru ini, Tuhan. Ampunilah aku karena melakukan hal-hal yang tidak semestinya kulakukan dan tidak melakukan hal-hal yang semestinya kulakukan. Tuntunlah langkahku pada jalan kebenaran-Mu hari ini.

Hari baru memberi kita alasan baru untuk memuji Tuhan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 13-14; Yohanes 2

Lebih Besar dari Semua Kekacauan

Senin, 25 April 2016

Lebih Besar dari Semua Kekacauan

Baca: 2 Samuel 22:26-37

22:26 Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,

22:27 terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

22:28 Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kaurendahkan.

22:29 Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.

22:30 Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok.

22:31 Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.

22:32 Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu selain dari Allah kita?

22:33 Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata;

22:34 yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit;

22:35 yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melengkungkan busur tembaga.

22:36 Juga Kauberikan kepadaku perisai keselamatan-Mu, dan kebaikan-Mu telah membuat aku besar.

22:37 Kauberikan tempat lapang untuk langkahku, dan mata kakiku tidak goyah.

Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku. —2 Samuel 22:29

Lebih Besar dari Semua Kekacauan

Bisa dikatakan bahwa tema utama dari kitab 2 Samuel di Perjanjian Lama adalah “Hidup ini memang kacau!” Membaca kitab itu seperti menyaksikan sebuah serial televisi yang seru dan menegangkan. Sementara Daud berusaha memantapkan kedudukannya sebagai raja di Israel, ia dihadapkan pada tantangan militer, intrik politik, dan pengkhianatan dari sahabat dan anggota keluarganya. Raja Daud sendiri tentu tidak lepas dari kesalahan, seperti yang dinyatakan dengan jelas melalui hubungannya dengan Batsyeba (pasal 11-12).

Namun di penghujung kitab 2 Samuel, kita menemukan nyanyian Daud yang bersyukur kepada Allah atas belas kasihan, kasih setia, dan kelepasan yang diberikan-Nya. “Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku” (22:29).

Dalam banyak kesulitan yang dihadapinya, Daud berpaling kepada Tuhan. “Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok” (ay.30).

Mungkin kita dapat merasakan dan memahami pergumulan-pergumulan Daud karena seperti kita, ia pun jauh dari sempurna. Namun Daud tahu bahwa Allah jauh lebih besar daripada bagian-bagian hidupnya yang paling kacau sekalipun.

Bersama Daud, kita dapat berkata, “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda Tuhan itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (ay.31). “Semua orang” itu termasuk kita!

Hidup ini memang kacau, tetapi Allah jauh lebih besar daripada semua kekacauan itu. —David McCasland

Tuhan, kami tidak dapat membaca tentang kegagalan dan kesulitan orang lain tanpa diingatkan akan kegagalan dan kesulitan kami sendiri. Kami membawa semua itu kepada-Mu, dan memohon pengampunan, serta kuasa-Mu untuk suatu awal yang baru.

Belumlah terlambat untuk memulai suatu awal yang baru bersama Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 21-22; Lukas 18:24-43

Jangan Menyimpan Kesalahan

Kamis, 11 Februari 2016

Jangan Menyimpan Kesalahan

Baca: Efesus 4:25-32

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Hendaklah kamu . . . saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. —Efesus 4:32

Jangan Menyimpan Kesalahan

Di resepsi pernikahan putranya, teman saya Bob berkesempatan untuk memberikan nasihat dan dorongan kepada pasangan pengantin baru tersebut. Dalam sambutannya, ia menceritakan tentang seorang pelatih football yang tinggal tidak jauh dari kotanya. Apabila tim yang diasuhnya kalah dalam suatu pertandingan, pelatih itu akan membiarkan papan skor di lapangan yang menunjukkan angka kekalahan mereka sepanjang minggu itu untuk mengingatkan pemainnya pada kegagalan mereka. Sekalipun itu mungkin strategi yang baik dalam olahraga, Bob dengan bijak mengatakan bahwa perbuatan itu merupakan strategi yang sangat buruk jika diterapkan dalam pernikahan. Apabila pasanganmu sempat mengecewakan atau gagal memenuhi harapanmu, janganlah terus-menerus mengingat dan berfokus pada kegagalannya. Jangan lagi menyimpan kesalahannya.

Sungguh nasihat yang luar biasa! Kitab Suci dipenuhi perintah bagi kita untuk saling mengasihi dan mengampuni kesalahan. Kita diingatkan bahwa kasih “tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1Kor. 13:5) dan bahwa kita harus mau mengampuni satu sama lain “sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32).

Saya sungguh bersyukur karena Allah tidak lagi mengingat-ingat kesalahan saya. Allah tidak sekadar mengampuni ketika kita bertobat; Dia membuang dosa kita jauh-jauh, sejauh timur dari barat (Mzm. 103:12). Bagi Allah, pengampunan berarti bahwa dosa kita tidak lagi dipandang dan diingat oleh-Nya. Kiranya Allah memberi kita anugerah agar kita juga rela mengampuni orang-orang di sekitar kita. —Joe Stowell

Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak menyimpan dosa-dosaku dan telah memberiku kesempatan kedua. Tolonglah aku hari ini untuk mengampuni sesamaku, sama seperti Engkau telah begitu murah hati mengampuniku.

Ampunilah sesama sebagaimana Allah mengampuni kamu— janganlah menyimpan kesalahan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 9-10; Matius 25:31-46

Debu Intan

Minggu, 27 Desember 2015

Debu Intan

Baca: Yesaya 1:18-20; Mazmur 51:9

Yesaya 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! –firman TUHAN–Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

1:19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.

1:20 Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Mazmur 51:9 Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

Basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! —Mazmur 51:9

Debu Intan

Di suatu musim dingin yang sangat menusuk tulang di wilayah tempat tinggal kami di Michigan, ada perasaan campur aduk di antara warga tentang cuaca tersebut. Ketika musim dingin yang bersalju berlanjut hingga Maret, sebagian besar orang tidak lagi menyukai salju dan merasa jengkel pada ramalan cuaca yang memberitakan bahwa suhu rendah itu masih akan berlangsung lama.

Walaupun begitu, keindahan salju yang menakjubkan senantiasa membuat saya kagum. Sekalipun saya harus menyekopnya tanpa henti dari halaman rumah ke arah gundukan salju yang menjulang tinggi, saya tetap terpesona dengan benda berwarna putih itu. Suatu hari, kristal es turun dari langit dan jatuh di atas salju yang telah ada. Ketika saya dan istri sedang berjalan kaki di tengah peristiwa yang berkilauan itu, kami seperti melihat debu intan telah bertaburan di sepanjang salju yang membentang.

Dalam Kitab Suci, salju digunakan untuk beragam maksud. Allah menurunkan salju sebagai tanda bagi kebesaran kuasa penciptaan-Nya (Ayb. 37:6; 38:22-23). Pegunungan yang puncaknya tertutup salju mengairi lembah tandus di lerengnya. Namun yang jauh lebih bermakna, Allah menggunakan salju sebagai gambaran pengampunan kita. Kabar baik dari Yesus membuka jalan bagi kita untuk dibersihkan dari dosa dan hati kita dijadikan “lebih putih dari salju” (Mzm. 51:9; Yes. 1:18).

Bila kamu berkesempatan melihat salju, entah langsung atau melalui foto, ucapkanlah syukur kepada Allah atas pengampunan dan kebebasan dari hukuman dosa, yang digambarkan oleh fenomena alam yang indah itu bagi semua yang percaya kepada Sang Juruselamat. —Dave Branon

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengampuni kami dan mengubah kenajisan kami menjadi karya pengampunan yang indah. Tolong kami untuk menunjukkan keindahan pengampunan itu kepada orang yang kami temui.

Pengampunan Kristus menjadikan hati kita sebersih salju yang baru turun.

Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 1-4; Wahyu 18

Hanya Sebuah Surat Tilang

Rabu, 9 Desember 2015

Hanya Sebuah Surat Tilang

Baca: Efesus 1:1-10

1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus.

1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,

1:8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.

1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus

1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

Sebab di dalam Dia dan oleh darah- Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. —Efesus 1:7

Hanya Sebuah Surat Tilang

Ketika seorang polisi menghentikan seorang pengendara wanita karena putrinya yang masih kecil ikut di dalam mobil tanpa duduk di kursi khusus anak-anak, ia dapat saja menuliskan surat tilang atas pelanggaran lalu lintas tersebut. Namun, ia justru meminta ibu dan putrinya itu untuk menemuinya di toko terdekat. Kemudian, dengan uangnya sendiri, polisi itu membelikan kursi khusus yang dibutuhkan. Wanita itu sedang mengalami masa-masa yang sulit dan tidak mempunyai cukup uang untuk membeli kursi khusus tersebut.

Alih-alih didenda karena kesalahannya, wanita itu bebas dan menerima sebuah hadiah sebagai gantinya. Setiap orang yang mengenal Kristus telah mengalami hal serupa. Setiap dari kita layak mendapatkan hukuman karena telah melanggar hukum Allah (Pkh. 7:20). Namun karena Yesus, kita menerima karunia yang tidak sepantasnya kita terima dari Allah. Karunia ini membebaskan kita dari akibat dosa yang terbesar, yaitu kematian dan keterpisahan dengan Allah selamanya (Rm. 6:23). “Di dalam [Yesus] . . . kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef. 1:7).

Kasih karunia sering disebut sebagai “kasih yang diwujudkan dalam tindakan”. Ketika ibu muda tadi mendapat pemberian itu, ia pun menyatakan, “Saya akan selalu berterima kasih! . . . Segera setelah saya mampu mencukupinya, saya akan membalasnya dengan terus berbuat baik kepada orang lain.” Respons yang penuh syukur dan besar hati dari sang ibu terhadap pemberian polisi itu merupakan contoh yang sungguh menginspirasi setiap dari kita yang telah menerima pemberian Allah berupa kasih karunia-Nya! —Jennifer Benson Schuldt

Allah Bapa, terima kasih karena Engkau memberikan kepada kami apa yang tidak layak kami terima. Engkau telah mengampuni dosa kami dan menyediakan jalan untuk berdamai dengan-Mu melalui karunia Anak-Mu. Tolong kami untuk selalu bersyukur atas anugerah-Mu.

Kasih karunia merupakan pemberian dari Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 11-12; Yudas

Lebih Baik dari Bangun Tidur

Sabtu, 3 Oktober 2015

Lebih Baik dari Bangun Tidur

Baca: Lukas 23:33-43

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya

23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. —Lukas 23:43

Lebih Baik dari Bangun Tidur

Pernahkah kamu merasa bahwa hidupmu hancur karena kamu telah melakukan sesuatu yang membawa aib, memalukan, atau bahkan bersifat kriminal—tetapi kemudian kamu terbangun dan menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi? Namun bagaimana kalau semua itu benar-benar terjadi dan bukan hanya mimpi buruk? Bagaimana jika peristiwa dalam mimpi itu sungguh-sungguh dialami olehmu atau seseorang yang kamu kasihi?

Itulah keadaan yang diceritakan dalam novel dari abad ke-19 karya George MacDonald yang berjudul The Curate’s Awakening (Kesadaran Sang Pendeta). Kisahnya bercerita tentang seorang pendeta yang menyadari bahwa selama ini ia telah berkhotbah tentang Allah yang ia rasa tidak lagi dipercayainya. Di kemudian waktu, ia dipanggil untuk menjenguk seorang pemuda yang menderita depresi dan tengah sekarat karena dihantui oleh pembunuhan yang pernah dilakukannya.

Dalam pergumulan iman yang memilukan, pendeta itu kemudian menyadari sesuatu yang kita semua perlu sadari. Kelegaan yang dialami saat terbangun dari mimpi buruk tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kesadaran bahwa pengampunan Allah itu benar-benar nyata dan bukan angan-angan belaka.

Di mana kita akan menemukan belas kasihan yang kita butuhkan? Belas kasihan itu ditemukan di dalam Yesus, yang pada saat disalib berkata kepada penjahat yang berpaling kepada-Nya di tengah penderitaannya, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23:43). —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolong kami untuk percaya bahwa pengampunan-Mu atas kami sepadan dengan penebusan yang Engkau tanggung demi keselamatan kami.

Kita diselamatkan oleh belas kasihan Allah, bukan oleh usaha kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 17-19; Efesus 5:17-33

Lembah Penglihatan

Rabu, 30 September 2015

Lembah Penglihatan

Baca: Yunus 2:1-10

2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu. —Yunus 2:7

Lembah Penglihatan

Buku doa kaum Puritan berjudul “Lembah Penglihatan” menggambarkan jarak yang terbentang antara seorang manusia berdosa dan Allah yang kudus. Manusia itu berkata kepada Allah, “Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan . . . ; dikungkung oleh dosa yang menggunung, telah kulihat kemuliaan-Mu.” Setelah menyadari kesalahannya, manusia itu tetap memegang pengharapan. Ia melanjutkan, “Bintang dapat terlihat dari sumur yang terdalam, dan semakin dalam sumurnya, semakin terang bintang-Mu bersinar.” Akhirnya, puisi itu diakhiri dengan permohonan: “Kiranya aku menemukan terang-Mu dalam kegelapanku, . . . kemuliaan-Mu di tengah lembahku.”

Yunus menemukan kemuliaan Allah selama ia berada di dalam laut. Ia telah memberontak kepada Allah dan terdampar di dalam perut ikan. Di sana, tersadar akan dosanya, Yunus pun berseru kepada Allah: “Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, . . . Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku” (Yun. 2:3,5). Meskipun dalam keadaan demikian, Yunus tetap berkata, “Teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu” (ay.7). Allah mendengar doa Yunus dan membuat ikan itu memuntahkan dirinya.

Meskipun dosa menciptakan jarak antara Allah dan kita, kita dapat memandang ke atas dari titik nadir hidup kita dan melihat kepada-Nya —untuk melihat kesucian, kebaikan, dan karunia-Nya. Apabila kita berpaling dari dosa kita dan mengakuinya kepada Allah, Dia akan mengampuni kita. Allah menjawab doa-doa yang kita panjatkan dari lembah hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan, di siang hari bintang dapat terlihat dari sumur yang terdalam, dan semakin dalam sumurnya, semakin terang bintang-Mu bersinar; kiranya aku menemukan terang-Mu dalam kegelapanku.

Kegelapan dosa hanya akan membuat terang anugerah Allah bersinar semakin cemerlang.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 9-10; Efesus 3