Posts

Tidak Semua Murid

“Angkatan Corona”, mungkin kamu tak asing dengan istilah ini. Kepada para pelajar—terkhusus mereka yang lulus di tahun ini—julukan ini menorehkan kesan yang sebelumnya mungkin tak pernah terbayangkan. Ruang kelas, kantin, lapangan sekolah menjadi sunyi sepi. Pun momen kelulusan yang sedianya penuh haru dan syukur kini dilalui tanpa kebersamaan.

Namun, kiranya semua ini tidak membuatmu tawar hati. Ketahuilah bahwa masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang. Segala kesulitan yang dilalui selama masa-masa pembelajaran daring ini kelak akan jadi cerita yang manis, dan tentunya mengingatkan kita bersama bahwa sejatinya belajar tak terbatas hanya pada ruangan kelas, dan meraih ilmu itu senantiasa butuh perjuangan.

Teruntuk semua murid, kalian luar biasa!
Tegapkanlah langkah kalian, sebab Tuhan, Sang Gembala Agung, Dialah yang akan menuntun kalian menuju masa depan yang cerah.

Art-project ini dibuat oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi untuk sobat muda sekalian di WarungSaTeKaMu.

Kisah-kisah di setiap gambar dibuat berdasarkan cerita dari sobat muda sekalian di unggahan Instagram WarungSaTeKaMu.

Berkat yang Kuterima dari Kegagalanku

Oleh Marion Sitanggang, Jakarta

Sejak SMP aku bercita-cita menjadi seorang Psikolog Anak. Profesi itu adalah dambaan bagiku karena aku bisa menolong para orang tua yang kesulitan menghadapi anak-anak mereka, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya kesehatan psikis anak-anak yang berpengaruh terhadap masa depan mereka.

Supaya cita-cita ini terwujud, aku belajar sungguh-sungguh. Setelah lulus SMA, aku ikut seleksi di beberapa perguruan tinggi negeri, aku memilih jurusan Psikologi di setiap PTN yang kupilih. Tapi, beberapa kali ujian, semuanya gagal. Aku pun ngambek pada Tuhan. Setiap hari pertanyaan di kepalaku, “Kenapa gagal? Kenapa Tuhan kok gak kasih kesempatan itu? Tuhan kan tahu aku pengen banget, kan Tuhan juga sudah lihat usahaku yang hampir setiap hari lembur belajar? Kenapa?”

Larut dalam kecewa membuatku menyerah pada disiplin rohaniku. Aku berdoa seadanya, kalau ingat saja. Ke gereja kalau tidak sedang malas saja. Di pikiranku saat itu, terserah Tuhan saja, toh aku meminta juga Dia gak kasih.

Meski gagal masuk jurusan Psikologi, aku tetap kuliah tahun itu. Aku diterima di salah satu perguruan tinggi di bawah Kementrian Perindustrian di jurusan Manajemen Bisnis. Jurusan ini kupilih ngasal saja. Yang penting saat ujian tidak ada materi fisika, jadi tentunya kupikir nanti saat kuliah tidak ada mata kuliah fisika.

Semester pertama aku kuliah tanpa semangat. Aku datang, duduk, diam, lalu pulang. Aku tidak belajar kala ujian, tidak ikut kegiatan. Aku tak peduli kuliahku benar atau tidak. Tapi, setelah ujian akhir semester pertama, IP-ku malah 3,67. Bukannya bersyukur, aku malah bertanya, “Kenapa Tuhan? Di saat aku berontak, Engkau malah memberiku sesuatu yang membuatku merasa bersalah sudah mengutuki keadaan. Tuhan, apa mau-Mu?”

Kebingungan itu mendorongku untuk mencoba berdamai dengan kenyataan. Mungkin aku memang tidak bisa kuliah di jurusan idamanku, tapi mungkin juga Tuhan ingin menunjukkan hal lain yang lebih baik. Saat itu, seniorku di kampus sering mengajakku untuk ikut persekutuan. Seniorku mengajakku bergabung dalam kelompok kecil dan aku bersedia.

Sepanjang masa-masa aku tergabung dalam persekutuan dan melayani di sana, aku tertampar oleh banyak sekali ayat-ayat Alkitab. Salah satunya dari Yesaya 55:8, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Aku teringat bagaimana pedihnya hatiku ketika berhadapan dengan kegagalan. Di awal-awal kuliah aku masih sering menangis dan berandai jika saja aku kuliah di Psikologi. Apalagi setiap ada pengumuman masuk Perguruan Tinggi Negeri, kegagalan itu masih terbayang dan membuatku bertanya lagi pada Tuhan.

Namun seiring waktu, Tuhan nyatanya malah menyertaiku. Kisah hidupku tidak selesai ketika aku gagal, melainkan Tuhan melanjutkannya dengan penyertaan-Nya yang sempurna. Hari lewat hari aku diajar-Nya untuk berdamai dengan keadaan. Melalui doa, persekutuan, dan ibadah Minggu, pelan-pelan aku mengerti bahwa segala sesuatu pastilah terjadi dengan alasan. Aku membayangkan, jika seandainya aku sungguh mendapatkan apa yang aku mau, besar kemungkinan aku akan jadi orang yang serakah dengan segala keinginan dagingku hingga melupakan-Nya. Aku mungkin akan jadi orang yang sombong karena merasa berhasil dengan upayaku sendiri.

Tuhan sungguh baik, Dia menunjukkanku bahwa yang menjadikan hidupku baik bukanlah karena aku mendapatkan apa yang kuinginkan, melainkan karena Dia menyertaiku senantiasa. Hari-hariku melayani-Nya menjadi saat-saat penyembuhanku. Aku sadar Tuhanlah yang sepenuhnya berkuasa. Aku terlalu rakus mengejar mimpi tanpa peduli akan kehendak-Nya, tanpa melibatkan-Nya. Aku telah sombong, merencanakan segala yang baik tanpa sikap berserah.

Kisah yang awalnya gagal Tuhan rangkai dengan amat baik. Sekarang aku telah lulus dari studiku dan meraih IPK 3,74, lebih daripada yang kuminta. Sungguh Tuhan itu baik, teramat baik!

* * *

Kawanku, ceritaku ini adalah cerita tentang kekecewaanku dan bagaimana Tuhan bekerja seturut kehendak-Nya. Setiap tahun akan ada orang-orang yang gagal masuk PTN sepertiku. Aku tahu betapa sesaknya di hati, sampai kata-kata pun hilang dan hati hanya bisa bertanya, “Kenapa?”

Aku berdoa kiranya kamu yang masih bergumul dengan pedihnya kegagalan dapat bertahan melewati saat-saat tersulit sekalipun. Dan untuk kamu yang tahun ini akan mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri, kiranya Tuhan beserta langkahmu.

Siapa pun kamu yang membaca tulisan ini, aku harap kiranya inilah yang jadi pengingat bagi kita semua: bahwa ketika keadaan tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita, sekalipun kita sudah berusaha semampu kita atau bahkan lebih, pandanglah pada Yesus. Di tengah perasaan kecewa dan terpuruk, semoga kita bisa melembutkan hati, menerima keadaan, dan mencari Tuhan. Menangislah jika ingin menangis, marahlah jika ingin marah, tetapi jangan sampai menghambat dirimu untuk dituntun Tuhan.

Tuhan tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya jatuh sampai tergeletak. Tangan-Nya selalu menopang. Dia selalu ada menunggu kita untuk datang kepada-Nya.

Tuhan memberkati dan menyertai kita setiap waktu.

Panggilan Melayani di Pelosok Negeri

Oleh Blessdy Clementine, Jakarta

Sejak SMP, aku sangat menyukai kegiatan sosial. Aku merasa bahagia ketika berbagi sembako kepada petugas kebersihan di sekitar Jakarta, mengunjungi panti asuhan dan panti wredha, menghabiskan waktu bersama anak-anak di yayasan kanker, dan sebagainya. Hal ini terus berlanjut hingga SMA melalui program kerja OSIS, yaitu memberikan kursus bahasa Inggris gratis bagi petugas keamanan dan petugas kebersihan sekolah. Ketika lulus SMA sampai kuliah, aku mengikuti berbagai kegiatan kerelawanan dan menemukan dunia sosial sebagai passion hidupku.

Pengalaman pertama ke pelosok Indonesia

Awal tahun 2018, di tahun pertama perkuliahan, sahabatku yang juga memiliki minat tinggi pada kegiatan sosial memberitahuku tentang sebuah organisasi yang mengadakan kegiatan voluntourism ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, yaitu jalan-jalan sambil mengajar anak-anak di sana. Mendengar hal itu, seketika jantungku berdebar-debar. Aku benar-benar antusias untuk menjadi salah satu pesertanya!

Aku begitu bersyukur karena orang tuaku sepenuhnya mendukungku untuk melibatkan diri dalam kegiatan tersebut. Bagi mereka, traveling adalah cara untuk “berinvestasi” wawasan. Mengetahui bahwa kali ini aku akan jalan-jalan sambil berbagi ilmu dengan sesama membuat mereka memandang kegiatan ini sebagai sesuatu yang positif.

Mengajar anak-anak di pelosok menjadi suatu hal baru yang sangat menggugah hatiku. Kondisi sekolahnya tidak menyerupai sekolahku di Jakarta. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah bolong-bolong, lantainya tanah tanpa semen, meja dan kursinya kayu yang tidak diamplas, dengan papan tulis kapur. Suara dari kelas sebelah jelas terdengar, yang membuat siswanya tidak bisa berkonsentrasi penuh. Tenaga pendidiknya amat terbatas, siswanya memakai seragam yang lusuh dan bertelanjang kaki. Tetapi, semangat belajar anak-anak itu sungguh tidak tertandingi. Binar mata mereka ketika memperhatikanku dan teman-temanku memimpin pembelajaran di kelas tidak akan pernah kulupakan.

Sejak itu, aku rindu untuk bisa berkontribusi lebih banyak lagi pada pendidikan Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang kurang mendapatkan perhatian. Aku ingin mengikuti program lainnya dengan jangka waktu lebih panjang dan di tempat yang lebih membutuhkan. Aku pun berdoa memohon kesempatan ini pada Tuhan.

Doaku terjawab. Tuhan membuka kesempatan demi kesempatan selanjutnya. Relasi yang kuperoleh dari acara-acara sosial yang pernah kuikuti dipakai Tuhan untuk memberikanku informasi tentang berbagai program pengabdian masyarakat bagi para mahasiswa yang ingin berkontribusi di pelosok.

Pengabdian ke Mentawai

Bulan Juli yang lalu, aku mengikuti program pengabdian masyarakat ke Dusun Salappa, Mentawai, Sumatera Barat. Perjalanan menuju Dusun Salappa terbilang panjang: jalur udara dari Jakarta ke Padang, dilanjutkan 4 jam perjalanan dengan kapal cepat ke Pulau Siberut, jalur darat menuju Desa Muntei, lalu menyusuri sungai menggunakan Pompong (sampan kayu) menuju Dusun Salappa selama 4,5 jam perjalanan. Meski cukup melelahkan, aku sangat menikmati perjalanan yang menawarkan pemandangan alam yang indah.

Sesampainya di Dusun Salappa, kami disambut hangat oleh senyuman anak-anak dan sapaan warga dusun yang menerima kami dengan tangan terbuka. Dusun Salappa adalah dusun dengan 91 kepala keluarga. Warganya tinggal di rumah-rumah panggung (karena sering terkena banjir kala musim hujan) yang terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari daun sagu. Mata pencaharian utama warganya adalah petani, dengan komoditas berupa sagu, ubi, keladi, dan pisang. Aliran listrik tidak ada sama sekali—untuk penerangan pada pagi hingga sore hari, warga Salappa bergantung pada cahaya matahari dan pada malam hari bergantung pada generator bensin dan senter tenaga surya sumbangan dari pemerintah. Air bersih yang minim diperoleh dari sumur tadah hujan yang dibuat sendiri oleh warga dan kondisi airnya jauh dari jernih. Untuk saat ini, air PDAM sudah mulai mengalir ke dusun tersebut.

Aku dan 15 teman relawan lainnya terbagi menjadi sejumlah divisi, yaitu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Divisi pendidikan membuat sejumlah program untuk siswa TK dan SD (karena SMP dan SMA berada di Desa Muntei), divisi kesehatan mengadakan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis dan sejumlah penyuluhan kesehatan, sedangkan divisi lingkungan bertugas melaksanakan program bersih-bersih desa, sosialisasi pemilahan sampah dan penyuluhan penanaman bibit tanaman baru.

Sebagai bagian dari divisi pendidikan, salah satu tanggung jawabku adalah melancarkan program pengenalan profesi dan memberi semangat bagi adik-adikku di sana untuk bercita-cita tinggi dan belajar dengan tekun. Kami mengumpulkan surat-surat dari teman-teman di Jakarta dengan berbagai latar belakang profesi, lalu membagikannya kepada setiap anak agar dapat menginspirasi mereka.

Selama lima hari menjalankan program di Salappa, kami tinggal di rumah-rumah warga dan menikmati kehidupan sebagai warga Salappa. Kami belajar bahasa Mentawai, makan makanan khas mereka, dan berinteraksi secara intens dengan warga. Bagiku, kehidupan di desa yang serba sederhana terasa menyenangkan. Di malam hari, kondisi desa gelap gulita, tapi di langit ratusan bintang berkilauan dengan amat jelas. Keluarga tempatku tinggal memperlakukanku sebagai anggota keluarga mereka sendiri, membuatku nyaman dan sejenak lupa akan hiruk pikuk kota Jakarta. Aku merasa tersentuh ketika keluarga angkatku di Salappa berkata:

Di, kapanpun kamu mau kembali ke Mentawai, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke Salappa.

Setiap saat aku berjalan sendirian maupun bergandengan dengan adik-adik di Salappa, aku hanya bisa berkata, “Terima kasih Tuhan, untuk kesempatan yang berharga ini!”

Terpanggil untuk Pelosok

Semenjak kali pertamaku pergi ke pelosok Indonesia, aku menyadari bahwa ini adalah sebuah panggilan yang Tuhan berikan bagiku. Aku semakin yakin ketika bercerita kepada orang-orang di sekitarku tentang pengalamanku tinggal di pelosok dengan segala kondisinya yang memprihatinkan. Ketika mereka menganggap tantangan yang ada di pelosok itu sebagai sesuatu yang harus dihindari, aku justru semakin terdorong untuk datang dan merasakan apa yang dirasakan warga setempat. Ketidaknyamanan yang ada tidak pernah menghalangiku untuk terus maju—itulah yang membuatku yakin bahwa ini adalah tugas khusus dari Tuhan untuk kukerjakan bersama-Nya.

Passion yang Tuhan letakkan dalam hatiku untuk saudara-saudara sebangsa dan tanah air di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) harus terus kutunaikan menjadi sebuah aksi nyata untuk dapat menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi mereka yang membutuhkan. Namun, tidak jarang pula aku merasa ragu: akankah aku sanggup hidup sementara saja di medan-medan yang sulit? Di saat-saat seperti itu, Tuhan meneguhkanku melalui kalimat dalam sebuah buku.

Ketika aku meresponi panggilan-Nya dengan hati yang taat dan bersungguh-sungguh, Tuhan sendiri yang akan memampukanku dan menyediakan apa yang kuperlu.

Janji Tuhan tidak pernah diingkari. Aku diberikan kemampuan beradaptasi, sukacita, kesehatan, kekuatan, dan rasa nyaman. Lebih dari itu, Tuhan juga selalu mengirimkan donatur-donatur di setiap program pengabdian yang kuikuti untuk memberikan berbagai jenis bantuan bagi pemenuhan kebutuhan warga pelosok.

Panggilan Tuhan, anak muda, dan Indonesia

Aku percaya, Tuhan menempatkanku dan kita semua di Indonesia dengan sebuah tujuan. Setiap kita memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bagi kesejahteraan Indonesia. Dalam Yeremia 29:7, Allah berkata, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

Apakah kontribusi bagi negeri ini harus selalu dengan menjadi seorang presiden, menteri, PNS, polisi, dan tentara? Tentu saja tidak terbatas pada profesi-profesi tersebut! Dalam 1 Korintus 12:12-31, Rasul Paulus berpesan bahwa dalam tubuh Kristus, tidak ada yang lebih penting atau kurang penting dari yang lain sebab kita semua memegang peran yang berbeda-beda dan sama pentingnya. Tuhan memberikan kita talenta dan potensi masing-masing yang harus terus kita kembangkan dan kita gunakan untuk sesama kita demi kemuliaan nama Tuhan, di ladang pelayanan kita masing-masing. Ladangku adalah desa-desa di pelosok negeri, bisa jadi ladangmu adalah di kantor tempatmu bekerja, di gereja tempatmu melayani, atau di lingkungan tempat tinggalmu.

Mungkin banyak dari kita yang masih belum menemukan passion dan belum mengetahui panggilan Tuhan bagi hidup kita. Aku berdoa supaya kita semua diberikan hikmat dari Tuhan, serta kerinduan dan ketekunan untuk menemukannya. Tetapi, kiranya hal itu tidak menghentikan kita untuk tetap melakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk negeri kita tercinta, dimulai dari langkah-langkah kecil. Menjadi relawan adalah salah satunya!

Selagi kita masih muda—dengan bekal semangat yang membara dan kondisi fisik yang masih mendukung—aku mengajak kita semua untuk bekerja di ladang Tuhan tempat di mana kita tinggal, yaitu negara kita, Indonesia. Biarlah kecintaan kita pada Indonesia tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi nyata dalam pelayanan kita. Tuhan Yesus memberkati kita, anak-anak muda Indonesia!

Baca Juga:

Mereka Tanggung Jawab Kita

Jika kita bisa menangis di dalam gereja, maka kita pun harus juga bisa menangis untuk jiwa-jiwa di luar gereja yang membutuhkan pertolongan tangan kita.

Sulit Membuat Keputusan? Libatkanlah Tuhan dalam Hidupmu

Oleh Airell Ivana, Bandung

Kelas 3 SMA—momen di mana keputusan tentang masa depan harus dibuat.

Aku bingung. Di jenjang ini, semua siswa harus menentukan, antara melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. Aku ingin berkuliah. Namun, saat itu aku belum memiliki bayangan sama sekali tentang dunia perkuliahan, dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa kutempuh hingga masing-masing prospek karirnya.

Orang tuaku menginginkanku untuk langsung bekerja saja karena alasan finansial—mereka tidak sanggup membiayaiku untuk berkuliah. Orang tuaku juga memintaku memeriksa motivasiku untuk berkuliah, apakah karena aku benar-benar ingin belajar atau hanya karena gengsi semata karena mayoritas teman-temanku melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Aku menuruti saran orang tuaku, aku pun berpikir ulang. Tapi, aku merasa dilema. Di satu sisi aku belum siap memasuki dunia kerja. Di sisi lain, aku takut untuk kuliah. Aku takut jika kuliahku nantinya menjadi zona nyamanku, karena aku hanya perlu belajar dan tidak perlu menghadapi tekanan-tekanan dalam dunia pekerjaan.

Di tengah-tengah kebimbangan, aku berdoa dan berserah kepada Tuhan. Aku membutuhkan hikmat Tuhan untuk menentukan pilihan yang tepat. Ia menjawab doaku lewat pameran pendidikan yang diadakan di sekolahku.

Salah satu universitas menarik perhatianku karena menawarkan jurusan yang kuminati, yaitu Teknik. Lebih menariknya lagi, universitas tersebut memiliki program 3 tahun untuk Strata 1—satu tahun lebih cepat dari S1 pada umumnya. “Kalau hanya 3 tahun, mungkin biayanya tidak akan terlalu membebani orang tua,” pikirku.

Aku kembali membawa pergumulanku dalam doa. Apakah ini benar-benar jawaban yang Tuhan tunjukkan padaku? Jika Tuhan memang mengizinkan, aku percaya Tuhan akan membukakan jalan bagiku.

Setelah aku berdiskusi dengan orang tuaku, puji Tuhan mereka mengizinkanku berkuliah di tempat yang kuinginkan. Mereka juga akan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahku.

Dunia perkuliahan dimulai. Berbagai tantangan kuhadapi, salah satunya adalah mengatur waktu antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan melakukan tanggung jawabku sebagai ketua himpunan mahasiswa. Sempat terpikir untuk mundur dari jabatanku, tetapi aku bersyukur Tuhan memberiku kekuatan untuk menjalaninya sampai akhir.

Meskipun kuliah dengan jurusan pilihanku, aku ingin cepat-cepat lulus dan segera bekerja penuh waktu karena keterbatasan uang jajan yang diberikan oleh orang tuaku. Uang yang diberikan hanya cukup untuk makan dan membeli keperluan kuliah. Aku memperoleh uang tambahan dengan mengajar les privat dan menjadi asisten dosen. Kondisi finansial yang cukup menantang membuatku sempat sedikit menyesali keputusanku untuk tidak langsung bekerja. Namun, aku percaya Tuhan sendiri yang menuntunku ke jalan yang kutempuh saat itu (Ulangan 31:8). Aku berjalan dalam rencana-Nya dengan tuntunan-Nya.

Tidak pernah luput dari penyertaan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan perkuliahan dalam 3 tahun—sesuai janjiku pada orangtuaku.

Saat ini aku sudah bekerja, dan aku masih seorang yang sulit membuat keputusan. Menyadari hal itu, aku selalu melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya. Tuhan mengingatkan kita akan janji-Nya dalam Yesaya 41:10, “Janganlah takut, sebab aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab aku ini Allahmu; aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Ketika kita bingung akan langkah yang harus kita ambil, izinkan Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita. Ia akan mengantarkan kita pada rencana indah-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Belajar Menyayangi Diriku Sendiri

“Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan yang tak lagi asing di telinga kita. Jika dicermati, rasanya memang tidak mungkin menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya. Mengenal adalah langkah pertama untuk dapat menyayangi.

Ketika Keputusan Karierku Berbeda dari Teman-temanku

Lulusan-Cum-Laude-tapi-Bergaji-Kecil,-Inilah-Cara-Tuhan-untuk-Membentukku

Oleh Aloysius G. Dinora, Yogyakarta

Tanganku lemas, kakiku mati langkah dan tubuhku mulai bergetar. Aku bertanya dalam hati, “Sebegitu rendahkah aku, seorang sarjana dengan predikat cum laude, mendapat sedikit lebih besar dari gaji minimum kabupaten Bantul?” Padahal baru saja aku bersukacita ketika tahu bahwa sebelum wisuda aku telah diterima bekerja di sebuah yayasan pendidikan.

Semua berubah drastis, aku menjadi begitu dilema karena ternyata pengabdian dan uang tidak bisa berjalan “bergandengan”. Aku merasa bahwa mimpi-mimpiku seolah pupus ketika menerima gaji bulanan yang bahkan lebih kecil daripada kiriman kedua orangtuaku semasa kuliah dulu. Sebenarnya, tidak ada tekanan dari siapapun perihal gaji yang aku terima, termasuk orangtuaku sekalipun. Satu-satunya tekanan itu adalah dari dalam diriku sendiri yang kusebut sebagai gengsi. Pilihan karier yang telah kupilih ini begitu dilematis dan membawa perenungan mendalam.

Mengapa aku memutuskan berkarier di dunia pendidikan

Yayasan tempatku bekerja adalah sebuah yayasan yang bergerak untuk menyalurkan bantuan berupa beasiswa kepada siswa-siswi yang tidak mampu secara ekonomi. Aku bekerja di divisi program pengembangan, sehingga tugasku adalah mengakomodasi kegiatan pengembangan untuk membentuk karakter, potensi, dan kepercayaan diri siswa-siswi dari tingkat SD hingga SMA yang menerima beasiswa.

Keputusanku untuk mengabdi dalam dunia pendidikan bukanlah datang tanpa sebab. Sebenarnya, dulu ketika kuliah, motivasiku adalah aku harus menjadi sarjana supaya nanti bisa hidup mapan, mudah, dan masa depan terjamin. Karena motivasi itu, aku pun menjadi mahasiswa pengejar nilai yang berpikir kalau dengan IPK yang tinggi maka aku akan mudah diterima di perusahaan ternama dan karierku pun akan terjamin.

Aku lahir dan dibesarkan di Buntok, sebuah kota kecil di Kalimantan Tengah dan ketika aku pindah ke Yogyakarta untuk kuliah, aku melihat ada ketimpangan antara pendidikan di Jawa dan luar Jawa. Tidak banyak anak-anak di daerahku yang mampu bersekolah hingga jenjang perguruan tinggi. Ada banyak faktor yang menghambat mereka, entah itu masalah ekonomi keluarga hingga minimnya fasilitas yang mengharuskan siswa-siswi yang ingin belajar lebih lanjut harus pergi ke kota besar.

Pengalaman itulah yang membentuk diriku untuk bertekad berkontribusi pada dunia pendidikan. Memasuki tahun kedua kuliahku di Yogyakarta, aku mendapatkan kesempatan untuk menjadi relawan di beberapa komunitas pendidikan di Yogyakarta. Aku bergabung sebagai relawan di sebuah yayasan khusus anak-anak jalanan. Tapi, dulu motivasiku menjadi relawan belum begitu tulus, dulu aku berpikir oportunis dan pragmatis, bergabung dengan kegiatan relawan seperti itu kumanfaatkan untuk sekadar menambah riwayat hidupku, atau paling tidak aku bisa pamer kepada teman-temanku di media sosial.

Sebuah kesempatan yang menegurku

Waktu berlalu aku bertemu dengan banyak orang yang peduli dengan dunia pendidikan, kami banyak berdiskusi dan sharing. Mereka bukanlah orang-orang biasa menurutku, mereka adalah lulusan-lulusan luar negeri yang aku pikir seharusnya mereka bisa saja hidup mapan dengan masuk ke perusahaan ternama dan mendapatkan gaji tinggi.

Melihat dedikasi dan keilmuan mereka yang jauh lebih tinggi dariku membuatku merasa malu akan apa yang menjadi motivasiku saat itu, mereka benar-benar memilih untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Sejak saat itulah aku berusaha memurnikan motivasiku. Aku merenung dan bertanya kepada diriku sendiri, apakah minatku untuk berkarier nanti di dunia pendidikan adalah pilihan yang benar-benar aku ingin hidupi setelah kuliah, atau hanya karena aku ikut-ikutan tren anak muda yang aktif di kegiatan sosial.

Jika sebelumnya keterlibatanku dalam kegiatan-kegiatan relawan itu hanya berfokus untuk keuntungan diriku sendiri, aku mulai mengubah pola pikirku menjadi lebih profesional. Di yayasan sosial, saat aku menjadi relawan, kami tidak sekadar mengajar anak-anak, tapi, lewat rumah belajar yang kami dirikan, kami ingin membangun persahabatan juga dengan mereka dan menjadikan pendidikan sebagai sebuah pendekatan.

Di samping keaktifanku bekerja sosial, aku juga berprinsip untuk mengembangkan kemampuan akademisku dalam perkuliahan. Bagaimana caranya aku bisa mendidik orang lain apabila aku sendiri tidak bertanggung jawab atas kuliahku sendiri? Maka untuk menjawab itu, aku pun menjadi seorang asisten dosen yang aku pikir adalah sarana yang tepat untuk mengasah kemampuanku mengajar.

Pekerjaanku adalah ibadahku

Persiapan-persiapan yang kulakukan sejak tahun-tahun terakhir kuliah membuat motivasiku yang semula hidup berkarir di korporasi berubah, tentu bukan masalah ketika seseorang memutuskan untuk bekerja di perusahaan, karena ini adalah sebuah pilihan. Aku mengambil keputusan yang cukup berbeda dibandingkan teman-teman kuliah, yang berkarir sesuai dengan jurusan saat kuliah. Aku memilih untuk bekerja di sebuah yayasan pendidikan, di kabupaten Bantul.

Harus kuakui, kadang ada orang yang memandang rendah keputusanku ini karena mereka belum mengerti apa yang menjadi idealisme yang aku pegang. Apa yang kujalani saat ini barulah permulaan, aku tidak tahu apa yang kelak akan terjadi, tapi satu hal yang aku percaya adalah pekerjaan ini disiapkan oleh Tuhan untuk menguji diriku, apakah aku sungguh-sungguh mau melayani orang lain atau tidak.

Lewat pekerjaan ini sekarang aku mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang mengasah kepekaan hatiku. Pekerjaanku mengajariku bahwa rezeki berupa uang sudah diatur oleh Tuhan karena Dia senantiasa mencukupi semua yang kubutuhkan. Hal paling penting yang bisa kupetik dari pekerjaanku adalah bagaimana caraku bersyukur. Bagiku, ini adalah cara Tuhan untuk membentukku, Dia memberiku bagian yang terbaik setelah aku melalui banyak kebingungan dan keputusasaan.

Waktu telah berlalu, pekerjaan ini juga telah mengajarku untuk mengentaskan egoisme dalam diriku, juga mengurangi kekhawatiranku terutama dalam hal uang. Setelah bekerja, memang gaji yang yang kudapat tidak besar, namun selalu saja ada berkat yang datang, bukan saja dari orang-orang yang aku tolong, tapi ada pekerjaan-pekerjaan sambilan lain yang ternyata mencukupi kebutuhanku.

Setiap orang pasti memiliki mimpi atau passion-nya masing-masing, namun hanya sedikit yang bisa menghidupinya, dan lebih sedikit lagi yang bisa menjadikan pekerjaannya sebagai ibadah kepada Yesus. Semoga kita senantiasa bisa menghidupi panggilan hidup, baik bekerja maupun sekolah sebagai bentuk syukur kepada Tuhan.

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

Baca Juga:

Untuk Meresponi Panggilan Tuhan, Aku Melepaskan Karierku Sebagai Seorang Fotografer

“Tuhan apakah Kau sedang bercanda?” Kalimat itulah yang terlintas di pikiranku ketika Tuhan menyatakan apa yang sebenarnya menjadi panggilan hidupku.Sebelumnya,aku bekerja sebagai fotografer dan penyiar radio, namun aku melepas karier itu untuk meresponi suatu panggilan yang Tuhan berikan.