Posts

Cerpen: Setoples Nastar di Pergantian Tahun

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Wangi lelehan mentega bercampur sirup gula dan serbuk vanilla memenuhi udara saat jemari Chesa sibuk menguleni adonan. Jika kemarin ia sibuk membuat nastar pesanan pelanggan, kali ini ia akan membuat setoples nastar untuknya dan kedua adiknya. Setoples nastar untuk dinikmati di malam pergantian tahun nanti.

Setelah adonan dicetak dan ditata di loyang, ia beranjak memanaskan oven lalu memanggang nastar menjadi setengah matang. Aroma nenas khas nastar membumbung, mengguggah selera. Setelah setengah matang, nastar dikeluarkan dari oven, diolesi dengan kuning telur yang sudah dicampur minyak dan susu kental manis, setelah itu dipanggang lagi hingga matang sempurna.

Membuat nastar merupakan pengalaman baru bagi Chesa. Sepanjang 20 tahun usianya, biasanya mamanya yang menyiapkan kue-kue enak untuk mereka. Agar nastar buatannya sempurna, Chesa menonton tutorial di YouTube. Ia memperhatikan setiap langkah-langkahnya secara detail.

Hari sudah hampir gelap, sambil menunggu kue nastarnya matang, Chesa meminta adik kembarnya bersiap-siap untuk ibadah pergantian tahun di gereja.

“Dion, Dian. Mandi gih, udah jam 18.30 ini” seru Chesa dari dapur.

“Kita jadi ibadah di gereja kak?” sahut Dian.

“Iya, kita ibadah langsung aja. Jangan lupa Alkitab kita ya”, Chesa mengingatkan adik-adiknya.

Malam pergantian tahun ini terasa berbeda bagi Chesa dan adik-adiknya. Tahun pertama tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Mamanya meninggal di bulan April kemarin. Mama Chesa menjadi salah satu dari sekian banyak petugas medis yang gugur saat menangani mereka yang terinfeksi virus Corona. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak 15 tahun lalu tanpa alasan yang ia ketahui dengan jelas.

Chesa sengaja mengajak Dian dan Dion mengikuti ibadah di gereja daripada mengikutinya secara online dari rumah. Ia ingin menikmati malam pergantian tahun di gereja. Chesa berharap, ia merasakan sukacita bertemu dengan beberapa orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga di gereja. Ia juga ingin menepis rasa sepi setelah kehilangan mamanya.

Meski belum sepenuhnya menerima kemalangan yang menimpa keluarganya, Chesa berusaha mengumpulkan semangatnya. Tepatnya, ia harus bangkit demi adiknya dan ia sendiri. Chesa menyadari dunia tidak akan berhenti sedetik pun untuk sekadar berempati padanya. Life must go on. Terutama sebagai sulung, ia harus menopang adik-adiknya. Namun terlebih dari semua hal itu, Chesa harus kuat karena ia tahu semua yang terjadi ada dalam kendali Tuhan. Ia percaya Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mazmur 103:19).

Tentu tidak mudah untuk sampai di tahap itu. Sebulan setelah kehilangan mamanya, Chesa sering merasa Tuhan sedang tidak adil. Terlebih ia tahu kalau mamanya berjuang untuk keselamatan hidup orang lain namun harus kehilangan nyawanya sendiri. Ditambah lagi dengan ramainya pemberitaan tentang banyaknya orang yang meragukan keberadaan Covid-19 dan enggan mengikuti protokol kesehatan. Seiring berjalannya waktu, ia terus berusaha melewati masa-masa sukar itu.

Ia bersyukur pada Tuhan karena walau menjadi single parent, mamanya selalu mengenalkan Tuhan pada Chesa dan adik-adiknya. Mamanya menyadari keterbatasan waktu yang ia punya bersama anak-anaknya. Ia harus bekerja untuk kebutuhan mereka. Maka di masa hidupnya, mama Chesa memastikan adanya pengenalan akan Tuhan bagi Chesa dan adik-adiknya. Mamanya sering mengajak mereka beribadah dan membaca Alkitab. Mamanya juga yang mendorong Chesa untuk aktif dalam pelayanan pemuda di gereja dan di kampusnya. Menurut mamanya, komunitas rohani yang real itu sangat penting dalam hingar kehidupan media sosial yang semakin bingar di zaman ini.

“Mama tidak selalu bisa bersama kalian. Kalian pasti membutuhkan orang lain. Dari sana juga kalian akan semakin mengenal Tuhan yang selalu ada bagi kalian.”

Pesan khas mama yang diterima Chesa saat merasa bosan atau sedang kecewa dengan sikap orang-orang yang terlibat dalam pelayanan dan hendak memutuskan berhenti ambil bagian. Atau saat Chesa merasa relasinya dengan orang-orang di komunitas tidak begitu penting.

Benar saja seperti yang dikatakan mamanya. Pasca kematian mamanya, Chesa menerima banyak penghiburan. Chesa mendapati orang-orang yang ia kenal lewat pelayanan di gereja dan kampus hadir memberikan dukungan padanya secara bergantian. Meski tidak semuanya hadir secara fisik, tapi Chesa merasakan dan mengenal kasih Tuhan lewat mereka. Penghiburan, topangan doa dan sumbangan belasungkawa ia terima.

Demikian halnya dengan usaha nastar yang sedang ia geluti akhir-akhir ini. Awalnya, Chesa hanya mencari ide agar ia bisa memperoleh uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski saat itu ia masih menerima uang santunan dari kematian mamanya serta dana pensiun mamanya sebagai perawat, Chesa merasa perlu memiliki penghasilan tambahan. Ia ingin kuliah dan sekolah adiknya bisa terus berlanjut.

Chesa mulai belajar membuat nastar dan menawarkannya kepada orang-orang yang ia kenal. Ia juga membuat promosinya di media sosial. Meski tidak jago, berbekal tutorial dari beragam sumber, Chesa memupuk optimismenya untuk memulai usahanya. Kurang lebih 5 bulan berjualan nastar, ada sekitar 100 toples pesanan yang sudah berhasil ia penuhi. Pesanan itu datang dari sebagian besar orang-orang yang ia kenal di komunitasnya, ditambah dengan mereka yang tertarik dengan promosinya di media sosial. Dengan harga Rp50.000-Rp75.000 untuk tiap toples berukuran 300 gram, Chesa memperoleh pemasukan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dentang lonceng gereja yang tidak jauh dari rumah Chesa sudah terdengar. Lonceng panggilan beribadah. Chesa dan adik-adiknya pun berangkat ke gereja. Tidak lupa mereka membawa toples berisi nastar untuk hidangan mereka di pergantian tahun nanti. Meski ia tahu keadaan akan terasa sulit tanpa kehadiran mamanya, Chesa menepis rasa pesimisnya.

“Jika lewat nastar saja Tuhan bisa memelihara hidupku, lantas apa yang membuat aku ragu untuk berjalan bersama Kristus di tahun 2021 ini!”, gumamnya sembari menggenggam tangan adik-adiknya memasuki gereja. Setoples nastar di pergantian tahun yang berhasil dipakai Tuhan untuk mengingatkannya akan kasih-Nya.

“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Mazmur 27:10).

Soli Deo Gloria.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluar dari Pekerjaan Lama, Tuhan Memberiku Pengalaman Baru

Ketika kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku beralih profesi menjadi seorang pengusaha skala mikro. Ragu, takut gagal, minim pengalaman dan modal, tapi Tuhan menuntun dan mencukupkan setiap proses yang kulalui.

Jangan Hidup dalam Kekhawatiran

Oleh Yulinar Br. Bangun, Tangerang

Di ibadah yang kuikuti beberapa minggu lalu, ada lagu yang mengusik hatiku. Lagu ini ditulis oleh Ira Forest Stanphill, yang berjudul “I Know Who Holds Tomorrow”. Berikut ini sepenggal liriknya:

Many things about tomorrow
I don’t seem to understand
But I know who holds tomorrow
And I know who holds my hand

Bukan tanpa alasan mengapa lagu ini liriknya mengusikku. Lagu ini ini seperti jawaban, sekaligus tamparan buatku. Aku mahasiswa penerima beasiswa di sebuah kampus Kristen, sekarang aku tinggal menunggu wisuda. Aku bersyukur bisa menyelesaikan studiku dengan baik, tapi aku bingung dengan persiapan wisuda dan masuk dunia kerja nanti. Aku kepikiran dengan segala biaya yang perlu dikeluarkan: untuk cari kerja,untuk biaya tinggal di kota perantauan, dan sebagainya. Biaya ini tentu akan jadi beban buat keluargaku.

Aku memikirkan beberapa opsi, tapi aku malah jadi berdebat dengan orang tuaku. Apa yang menurutku baik ternyata tidak searah dengan pemikiran mereka. Aku ingin berhemat. Saat nanti diterima kerja, di bulan pertama kan aku belum mendapatkan gaji. Tapi, mereka malah ingin memberiku uang karena mereka ingin menenangkanku dan bersyukur karena aku tidak membebani mereka dengan biaya studi.

“Nak, pasti ada rezekinya. Tuhan pasti kasih jalan.” Percakapan kami berakhir dengan kalimat ini, kalimat sederhana yang mencerminkan keyakinan orang tuaku akan pemeliharaan Tuhan.

Jika ditelisik, masalahku adalah kekhawatiran akan hal-hal yang belum terjadi. Aku khawatir kalau orang tuaku nanti kesulitan finansial. Tapi, apakah kekhawatiran inilah yang jadi masalah utama? Dari konselingku, aku mendapati kalau khawatir hanyalah masalah yang tampak di permukaan saja. Akar dari khawatir adalah meragukan Tuhan, yang berujung pada mengandalkan diri sendiri.

Khawatir bukanlah pergumulan yang kualami sendiri, atau dialami oleh manusia zaman ini saja. Dari masa ke masa, khawatir senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam Injil Matius, Yesus menekankan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Rasul Paulus juga menegaskan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

Ketika keluar dari Mesir, bangsa Israel juga mengalami kekhawatiran. Meski Allah telah menyertai mereka dengan membelah Laut Teberau (Keluaran 14:15-31), mereka tetap saja khawatir dan bersungut-sungut. Namun, Allah tetap setia. Allah memelihara bangsa Israel dengan memberi mereka makanan berupa roti mana (Keluaran 16:4), melindungi mereka dengan tiang api dan tiang awan (Keluaran 14:19-2), serta memberi mereka mata air untuk diminum (Keluaran 15:22-27).

Penggalan lagu di awal tulisan ini membawaku kepada refleksi mendalam. Aku lahir dan besar di keluarga Kristen, kuliah di kampus Kristen, ikut ibadah di gereja, berdoa, memuji Tuhan. Tapi, seberapa sungguh aku mengimani itu semua?

Jika aku melihat perjalanan hidupku ke belakang, Tuhan selalu mencukupiku. Dia setia memelihara sampai ke titik ini. Dia izinkan aku menerima beasiswa. Lantas, mengapa aku harus khawatir untuk masa depanku jika Dia telah membuktikan kesetiaan-Nya. Mendapati fakta ini, aku jadi sangat malu.

Sebagai manusia yang tidak bisa mengetahui dengan jelas bagaimana masa depan, kita rentan jatuh dalam godaan kekhawatiran. Kita khawatir akan karier, jodoh, usia, keluarga, keuangan, dan lainnya. Alih-alih membiarkan khawatir itu memenuhi isi pikiran kita, kita dapat menaikkannya kepada Tuhan dalam doa. Izinkanlah Tuhan bekerja dalam kekhawatiran kita, izinkanlah hati kita untuk percaya dan taat pada cara kerja Tuhan.

Ketika kekhawatiran datang, izinkanlah kembali hati kita untuk percaya pada kesetiaan-Nya. Tuhan tak menjanjikan hidup kita bebas rintangan dan penderitaan, tetapi Dia berjanji setia menyertai.

I don’t worry o’er the future
For I know what Jesus said
And today I’ll walk beside Him
For He knows what is ahead

Many things about tomorrow
I don’t seem to understand
But I know who holds tomorrow
And I know who holds my hand

Baca Juga:

Ibadah Online, Salah Satu Kontribusi Gereja Redakan Pandemi COVID19

Apakah ibadah boleh ditiadakan hanya gara-gara sebuah wabah? Perlukah ibadah konvensional (secara tatap muka) tetap dipertahankan? Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini?

Aku Memberi Persepuluhan Karena Motivasi yang Salah

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Was Tithing For The Wrong Reasons

Empat tahun lalu, aku bersilang pendapat dengan keluargaku dan aku pun tidak lagi tinggal serumah dengan mereka. Di waktu yang hampir bersamaan, aku mulai menghadiri ibadah di sebuah gereja kecil.

Istri dari pendeta di gereja itu meluangkan banyak waktunya untuk membimbingku. Setiap minggunya kami belajar Alkitab bersama-sama, dan dia juga sering meluangkan waktunya untuk mendengarkan curhatanku. Aku sangat mengucap syukur. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikannya, jadi aku mulai memberikan persembahan persepuluhan ke gereja itu sebagai ungkapan terima kasihku kepada sang istri pendeta; aku tidak ingin apa yang sudah berikan untukku tidak dibalas apapun.

Alasan lain mengapa aku mulai memberi persepuluhan adalah karena gereja itu kecil, dan setiap uang dari persepuluhan maupun persembahan yang diberikan oleh anggota gereja sangatlah berarti. Aku ingat pada suatu bulan, pendeta kami mengumumkan kalau bulan itu gereja kami tidak mempunyai cukup uang untuk membayar sewa bulan itu. Meskipun aku tidak kaya dan tidak mendapat gaji yang tinggi, aku memutuskan untuk memprioritaskan persepuluhanku dibandingkan dengan prioritas keuanganku yang lain.

Beberapa waktu berselang, hubunganku dengan keluargaku pun pulih, dan aku mulai mendukung kebutuhan finansial keluargaku lagi. Namun, pengeluaran ini membuat keadaan keuanganku tertekan. Tapi, aku masih ingin terus memberikan persepuluhan sebagai wujud terima kasihku kepada istri pendeta yang telah menolongku selama masa-masa sulit, dan aku tidak ingin keuangan gereja kecil itu jadi terganggu.

Di titik ini, aku tidak memberikan persepuluhan sebagai keyakinanku untuk menyenangkan Tuhan. Melainkan, aku memberikan persepuluhan untuk menyenangkan orang-orang di sekitarku (istri pendetaku, orang-orang di gereja). Memberi persepuluhan berdasarkan kekuatanku sendiri dan untuk alasan yang salah membuatku mulai menggerutu. Meskipun aku terus memberikan 10 persen penghasilanku kepada gerejaku, di dalam diriku aku merasa tidak bersukacita.

Aku juga mulai mencari-cari kesalahan dari apa yang pembawa persembahan biasanya doakan. Dia berdoa, “Aku berdoa kiranya kami semua memberikan dengan hati yang sukacita.” Namun, kata-kata itu tidak berarti apa-apa buatku. Aku tetap menggerutu dalam hatiku, berpikir tentang diriku sendiri, “Selama aku memberi, itu tidak apa-apa… Tidak masalah apakah hatiku bersukacita atau tidak, selama aku tidak membebani keuangan gereja, seharusnya itu tidak apa-apa.”

Pemahamanku yang salah mengenai persepuluhan

Namun Tuhan memedulikan bagaimana sikap hatiku ketika memberi. Tuhan tidak membiarkan aku menggerutu terus-terusan. Saat aku tengah bersaat teduh, dengan penuh kasih Tuhan menunjukkanku bahwa doa yang dinaikkan oleh para pembawa persembahan itu sesungguhnya berasal dari Alkitab. Bagian akhir dari 2 Korintus 9:6-7 menyentakku, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

Saat aku mempelajari ayat ini, aku merasa bahwa Tuhan berbicara dengan penuh kasih, “Aku ingin agar kamu memberi dengan sukacita. Janganlah karena paksaan. Kalau kamu tidak bersukacita, tolong simpan saja uangmu. Aku tidak menginginkannya. Aku lebih memilih hatimu.”

Aku merasa bersalah. Aku menyadari suatu kebenaran—Tuhan menginginkan hatiku. Dia ingin aku memiliki sikap hati yang benar di hadapan-Nya. Tuhan tidak menginginkan uangku; keinginan-Nya adalah aku mengasihi-Nya dengan hati yang penuh keyakinan, dan aku memberinya tempat di atas segala hal lainnya di hatiku. Aku merasakan kasih yang Bapa yang lembut mengalir dari firman Tuhan tersebut, mengatakan bahwa aku lebih berharga daripada hal-hal lainnya di dunia ini.

Jadi mengapa sangat sulit buatku untuk memberi dengan sukacita? Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Aku sadar bahwa aku tidak cukup mencintai Tuhan. Di luar aku menunjukkan bahwa aku mengasihi Tuhan, tetapi Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa di dalam hatiku, aku tidak sungguh-sungguh mengasihi-Nya.

Persepuluhan sebagai bentuk penyerahan diri

Aku belajar untuk melihat bahwa persepuluhan bukanlah sebuah ketaatan yang dilakukan dengan keraguan; melainkan merupakan wujud bahwa aku menyerahkan hatiku. Hati yang berserah adalah hati yang bersukacita dalam memberi, dan Tuhan dapat melakukan jauh lebih banyak dalam kehidupan kita ketika kita hidup dengan hati yang berserah.

Sejak Tuhan menunjukkan apa yang menjadi keinginan-Nya dalam hatiku, aku tidak lagi menggerutu ketika memberikan persepuluhan. Meskipun keuanganku masih terbatas, 2 Korintus 9:6 menguatkanku: “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Kerajaan Allah itu bukanlah tentang benda-benda di dunia; Kerajaan Allah adalah tentang nilai-nilai yang bersifat kekal. Ketika kita memberikan persepuluhan dengan hati tulus, kita mungkin tidak akan diberkati dengan uang di rekening yang bertambah banyak, tetapi tentu kita menerima berkat yang bernilai kekal.

Ketika aku menyerahkan persepuluhanku kepada Tuhan meskipun keuanganku terbatas, aku justru belajar lebih banyak tentang penyerahan diri daripada ketika aku sedang berada dalam kondisi yang berlimpah. Aku belajar bagaimana rasanya berjalan dengan iman dan bukan dengan pandangan sendiri (2 Korintus 5:7), dan aku mengucap syukur untuk mengalami kebenaran Tuhan dalam janji-janji-Nya ketika aku menyerahkan diriku. Perlahan tetapi pasti, Tuhan sedang mengajariku untuk lebih mempercayai-Nya, dan setiap kali Dia melakukan itu, kasihku kepada-Nya pun bertumbuh.

Baca Juga:

3 Langkah yang Kulakukan untuk Lebih Efektif dalam Membaca Alkitab

Aku tampak Kristen di luar, tetapi di dalam hatiku, aku tidak tertuju kepada Tuhan. Aku memanjakan diriku dalam kehidupan dosaku tanpa memiliki hati yang mau bertobat. Hingga suatu ketika, aku pun belajar untuk mengubah caraku dalam membaca Alkitab.

Pegangan Kita Setiap Waktu

Penulis: Henry Jaya Teddy

pegangan-kita

Anak saya sekarang ini suka sekali berdiri dengan berpegang pada benda apa saja yang ada di dekatnya. Tidak masalah jika benda yang dipegangnya cukup kokoh, seperti lemari. Namun, jika benda yang diraihnya mudah bergeser atau ia tidak hati-hati, dengan sangat mudah ia bisa jatuh. Sebab itu, saya harus selalu siaga di belakangnya, bersiap-siap menangkap dan memeluknya, kalau-kalau ia jatuh. Sebisa mungkin saya berusaha mengawasi semua aktivitasnya.

Pengalaman ini mengingatkan saya pada pemeliharaan Tuhan sebagaimana yang digambarkan pemazmur: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24). Bagaimana cara Tuhan menetapkan langkah anak-anak-Nya agar tidak jatuh? Dia memberikan hukum-hukum-Nya, ketetapan-ketetapan-Nya, agar kita dapat selalu menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik (ayat 27-28). Ketika kita berpegang pada firman-Nya, langkah kita tidak akan goyah (ayat 31); kita bahkan akan dapat melakukan hal-hal yang besar bersama-Nya (ayat 34). Betapa luar biasanya pemeliharaan Bapa kita di sorga melalui firman-Nya!

Seringkali mungkin kita tidak menyadari penyertaan Tuhan ini. Adakalanya, kita bahkan mungkin merasa Dia berubah, tidak lagi memperhatikan dan mendengar permintaan kita. Padahal, kitalah yang sering “bandel”, tidak mau mengikuti jalan-Nya dan lebih suka memilih jalan kita sendiri. Bukannya mencari tahu kehendak Tuhan dalam firman-Nya, mungkin tanpa sadar kita lebih banyak menuntut Tuhan untuk mengikuti kemauan kita.

Firman Tuhan tidak pernah berubah. Sebab itu, ketika situasi di sekitar kita berubah atau tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, kita tidak perlu gelisah atau takut. Firman Tuhan dapat selalu dipercaya dan menjadi pegangan kita. Firman Tuhan akan menopang kita dalam masa-masa yang sulit, mengoreksi langkah-langkah kita yang keliru, mengajar kita untuk bangkit dari kegagalan dan kembali berjalan dalam kebenaran.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut:
Apakah firman Tuhan selalu menjadi pegangan hidupmu? Bagaimana firman Tuhan memelihara hidupmu selama ini?

Bapamu Tahu yang Kamu Perlu

Oleh: Novi Kurniadi

bapamu-tahu-yang-kamu-perlu

Baca: Lukas 12:22-34

Sejak bekerja dan tinggal jauh dari keluarga, aku mulai mengalami yang namanya kuatir tentang berbagai kebutuhan hidup. Besok makan apa ya? Harus belanja apa saja ya di pasar? Uang segini cukup nggak ya sampai akhir bulan? Kekuatiran tersebut masih ditambah dengan kenyataan bahwa adikku juga membutuhkan biaya kuliah, sementara Papa sudah tiada dan Mama sudah tidak lagi bekerja. Dengan kata lain, aku adalah satu-satunya orang berpenghasilan tetap dalam keluarga. Memang adikku mengambil pekerjaan paruh waktu, tapi berapa sih penghasilan seorang mahasiswa? Paling banyak hanya cukup untuk mencukupi uang saku selama sebulan.

Tapi pada saat yang sama, aku juga mengalami pemeliharaan Tuhan yang luar biasa. Selama kurang lebih setahun setengah kami menjalani hidup tanpa Papa, dengan penghasilan yang pas-pasan untuk membayar kuliah adik, Bapa kami di surga senantiasa mencukupkan kebutuhan kami sekeluarga. Adakalanya kami gelisah karena uang di rekening bank sudah terkuras habis sementara biaya kuliah adikku belum lunas, dan bahkan sepertinya tak cukup lagi untuk makan kami sehari-hari. Tetapi, TIDAK PERNAH sekalipun Dia membiarkan kami sekeluarga kekurangan.

Beberapa minggu lalu, aku menghitung kembali apa yang kami punya dan menjadi sangat kuatir. Tapi bukan suatu kebetulan kalau pagi itu bahan Saat Teduh yang kubaca diambil dari Lukas 12. Pada ayat yang ke-22 hingga 34, Tuhan Yesus berbicara mengenai hal kekuatiran. Aku sungguh bersyukur karena kembali diingatkan bahwa hidupku dan keluargaku terjamin dalam tangan Sang Pencipta. Tuhan Yesus sendiri dengan jelas berkata agar kita jangan kuatir akan hidup. Burung-burung gagak diberi makan oleh Allah. Bunga bakung didandani lebih cantik daripada kemegahan pakaian Raja Salomo.

Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu. (Lukas 12:29-31).

Seringkali sadar atau tidak, kita hidup dengan penuh kekuatiran, seakan-akan Bapa yang di surga tidak tahu apa yang kita perlukan. Lalu segala cara kita tempuh. Bisnis sampingan, bisnis online, bahkan money game. Segala yang memberi iming-iming penghasilan instan menarik minat kita. Entahkah itu caranya etis atau tidak, yang penting menghasilkan uang, kita terabas saja. Kita tak lagi berpikir panjang apakah pekerjaan yang kita lakukan itu menunjukkan kasih kepada Tuhan dan sesama atau tidak. Yang kita pikirkan hanyalah apakah itu menguntungkan kita atau tidak. Benarkah itu yang Tuhan mau kita lakukan?

Tuhan tahu setiap kesulitan dan kekuatiran kita akan hidup, makanan, pakaian, pendidikan, dan lain-lain. Dia bahkan sudah menjamin bahwa kita ada di dalam pemeliharaan-Nya. Betapa kita perlu terus belajar bersandar kepada-Nya. Belajar untuk tidak kuatir. Tidak takut. Pada Lukas 12:32, Tuhan Yesus bahkan berkata bahwa “Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”. Kalau sebuah Kerajaan saja bisa Dia berikan, bukankah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari adalah perkara kecil bagi-Nya?

Memasuki tahun yang baru ini, kiranya hati kita boleh senantiasa bersyukur dan penuh damai mengetahui Bapa yang di surga tahu apa yang kita perlukan. Tanpa kuatir dan takut, kita dapat bekerja dengan jujur, menunjukkan kasih dan kemurahan kepada sesama, hidup dengan penuh rasa syukur dan rasa cukup, karena kita tahu inilah cara hidup yang memperkenankan hati Sang Raja yang telah menebus dan menjamin hidup kita.