Posts

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

Tuhan Memampukanku Menyatakan Kasih Kepada Orang Yang Paling Sulit Kukasihi

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Tanggal 14 Februari kemarin, linimasa Instagramku penuh dengan foto coklat dan ucapan selamat hari kasih sayang. Teman-temanku merayakan hari itu bukan cuma dengan kekasih, ada pula yang bersama keluarga dan rekan-rekan terdekatnya. Namun bagiku, hari kasih sayang tidaklah spesial. Aku melakukan rutinitas mengajarku seperti biasa tanpa memberi atau menerima coklat.

Sekitar jam makan siang, muncul notifikasi di ponselku. Ada pesan dari ayahku. Dia memintaku untuk video call. Seorang ayah yang menelepon anaknya bukanlah kisah luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Aku tidak lagi bertemu ayahku sejak aku berusia tiga tahun.

Ayahku meninggalkan keluargaku. Sejak saat itu, aku tinggal bersama keluarga ibuku yang karena tindakan ayahku, jadi amat membencinya. Aku dilarang berkomunikasi dengannya. Keluarga ibuku pun terus menjelek-jelekkan ayahku di depanku. Tak terhitung berapa banyak hal buruk yang diceritakan padaku. Lama-kelamaan, aku tumbuh menjadi pribadi yang punya konsep bahwa ayahku jahat. Tanpa perlu dilarang pun, aku jadi tidak ingin berkomunikasi dengannya. Pernah ketika aku SMA, ayahku mengirimiku friend request di media sosial. Yang kulakukan adalah memblokir akunnya, tapi ayahku tidak berhenti. Dia membuat tiga akun baru dan terus mengirimiku permintaan pertemanan dan responsku tetap sama: aku memblokirnya.

Kakak pembimbing rohaniku tahu akan pergumulanku ini. Dia lalu menyarankanku untuk membuka blokirnya dan memberi kesempatan buat ayahku bicara denganku. Siapa tahu ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Kuikuti saran itu. Ayahku sering mengirimiku pesan, tapi aku sangat jarang membalasnya. Beberapa kali dia meminta video call, tapi tidak juga kurespons hingga tiba hari itu. Aku mengiyakan permintaannya untuk video call.

Untuk pertama kalinya setelah 18 tahun, aku bicara dengan ayahku. Aku menatap wajahnya dari layar ponselku. Dia bicara banyak hal dan mengajukan beberapa pertanyaan. Satu kalimat yang kuingat dari percakapan itu adalah, “Aku [ayah] rindu kamu.” Aku tidak tahu harus merespons apa. Aku terdiam dengan air mata menetes. Ayahku juga menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kujawab dengan diam. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kusampaikan kepada orang yang sudah meninggalkanku selama itu. Percakapan itu kemudian ditutup dengan lambaian tangan.

Aku tidak menyangka apa yang baru saja terjadi itu. Aku bersedia melakukan video call dengan ayahku dan menjawab berbagai pertanyaannya. Aku mempertanyakan diriku sendiri bagaimana aku bisa melakukan ini.

Aku mengingat saat teduh hari itu. Firman yang kubaca diambil dari Mazmur 16, yang mengingatkan kembali tentang kebaikan Allah apa pun kondisinya. Tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah adalah alasan yang masuk akal untuk berpendapat bahwa Tuhan itu tidak baik. Namun, kebenarannya tidak seperti itu. Benar memang aku tidak merasakan kasih seorang ayah, namun ada Ayah sejati yang mengasihiku. Ada Ayah yang mengasihiku bahkan di tengah ketidaklayakanku. Allah yang tetap baik meski semuanya terasa berat.

Aku membuka hatiku untuk menerima ajakan bicara ayahku adalah anugerah Allah, dan aku amat bersyukur kepada-Nya, Ayah sejatiku. Allahlah yang memberiku kekuatan untuk menyatakan kasihku kepada orang yang sangat sulit kukasihi.

Meski belum banyak pernyataan kasih yang bisa kuberikan kepada ayahku, aku bersyukur kepada Allah karena Dia memberiku kesempatan itu. Kupikir inilah hal yang Allah ingin aku lakukan di hari kasih sayang, yaitu menyatakan kasih sayangku kepada orang yang amat sulit kukasihi. Dan, kupikir ini jugalah yang Dia mau kita terus lakukan sebagai anak-anak-Nya, karena kasih-Nya yang besar sudah dinyatakan bagi kita.

Aku berdoa kiranya Tuhan terus memampukanku mengampuni ayahku dan mau berjuang menyatakan kasih kepadanya, sebagaimana Tuhan yang terus menyatakan kasih-Nya padaku.

Baca Juga:

Apa yang Terjadi Jika Kita Lupa Berdoa?

Ternyata aku mempercayai beberapa mitos tentang doa. Kepercayaanku akan mitos-mitos itu menunjukkan bahwa aku salah dalam memahami Tuhan. Lalu, apa sih yang akan terjadi jika kita tidak berdoa?

Puji Tuhan, Papa Kembali Mengikut Tuhan

Oleh Debora, Bandung

“Jangan pergi, kamu gak boleh keluar rumah!” teriak Papa di sebuah Minggu pagi kala aku akan berangkat mengajar sekolah Minggu. Papa mengunci pintu kamarku dan meninggalkanku sendirian di dalam kamar.

Melarangku untuk beribadah hanyalah salah satu dari banyak hal yang dilakukan Papa sejak Papa menjadi begitu kecewa kepada pemimpin gereja, yang akhirnya merembet pada kekecewaan kepada Tuhan. Padahal, sebelumnya Papa begitu berkobar-kobar semangatnya dalam melayani Tuhan. Kala itu, pemimpin gereja kami sepakat untuk membuka pos PI di rumah kami untuk tempat berkumpulnya bakal jemaat. Namun, entah mengapa, rencana itu batal dan Papa menjadi sangat kecewa karenanya.

Sejak saat itu, Papa tidak beribadah lagi dan sering menyindirku dan Mama yang masih beribadah. Papa bisa tiba-tiba menyindirku, “Loh, kamu gak ibadah?”, padahal hari itu hari biasa. Contoh lainnya, ketika teman laki-lakiku datang ke rumah, Papa berkata kepadanya, “Eh, kalau kamu suka dengan anakku ini, kamu harus bisa berdoa 10 jam loh…” Sindiran-sindiran seperti itulah yang sering dilontarkan Papa, yang menyakiti hatiku. Namun demikian, Tuhan menolongku untuk mengampuni Papa, dan terus berdoa serta berpuasa khusus untuk Papa. Pagi dan malam aku menangis di tempat tidur, meminta Tuhan memulihkan Papa. Aku tetap beriman bahwa Papa akan dipulihkan oleh-Nya.

Setelah perjuangan panjang, Tuhan akhirnya menjawab doaku. Setelah dua tahun hidup dalam kekecewaan, Papa menyadari bahwa kehidupannya semakin tidak baik. Pekerjaan yang dilakukannya tidak berhasil, hingga Papa harus menutup usahanya dan menjadi supir taksi bandara. Papa juga tidak merasakan kedamaian.

Hingga suatu hari Minggu pagi ketika Papa akan pergi bekerja, Papa benar-benar merasakan kehilangan damai sejahtera. Tiba-tiba Papa terdiam di dalam mobilnya, menangis dan menyadari bahwa dia butuh Tuhan. Papa merindukan kasih Tuhan yang pernah dia rasakan dahulu. Papa lalu pulang kembali ke rumah dan berkata, “Papa mau ke gereja hari ini…”

Sejak saat itu, Papa berubah kembali menjadi pribadinya yang dahulu: suka berdoa, membaca firman Tuhan, dan bergiat lagi dalam melayani Tuhan sebagai penyambut jemaat di gereja. Aku percaya ini semua adalah pekerjaan Roh Kudus dalam diri Papa, dan aku amat bersukacita karenanya. Puji Tuhan, Papa kembali mengikut Tuhan!

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, namun aku bersyukur karena Roh Kudus selalu mengingatkanku untuk tidak menyerah, terus berdoa, terus mengampuni dan mengasihi Papa hingga akhirnya Papa mengalami pemulihan dari Tuhan. Pada akhirnya, aku dapat berkata bahwa semua rencana Tuhan bagiku adalah baik.

Jadi, jangan pernah menyerah atau berputus asa, karena di dalam Tuhan selalu ada pengharapan. Dialah satu-satunya pengharapan kita yang sejati.

Baca Juga:

Hari di mana Aku Tidak Lagi Bisa Menolak Yesus

Meski dibesarkan di keluarga yang mengenal Yesus, tapi aku meragukan imanku kepada Yesus. Selama beberapa waktu, aku pun sempat berpaling kepada kepercayaan-kepercayaan lainnya. Hingga akhirnya, Tuhan membawaku pada kesempatan di mana aku berjumpa dengan kebenaran yang sejati.