Posts

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Aku menghela napas panjang mendengar keputusan mama. Permintaannya kali ini sungguh di luar dugaanku.

“Kak, kamu harus menemui papamu dulu, baru kamu bisa pergi sama Daniel!” tegas mama.

“Mama, please! I just need you and I am happy,” pintaku sedikit memelas.

“Sere, you will walk the aisle with papa,” ujar mama meyakinkanku.

“Udah deh, Ma! Banyak kok pengantin perempuan yang nikah nggak digandeng sama papanya. Lagian aku bisa meminta Daud atau Natan yang mengantarku berjalan menuju altar.”

Akhir Februari nanti, aku akan menikah dengan Daniel, pria yang kukenal lewat kegiatan kemanusiaan yang diinisiasi yayasan tempatku bekerja. Meski baru dua tahun menjalin relasi, kami telah lama berteman. Daniel sudah mengenalkanku pada orangtuanya dan dia juga sudah bertemu dengan mamaku. Mama tidak keberatan dengan rencana pernikahan kami. Hanya, mama memintaku untuk terlebih dulu menemui papa, pria yang meninggalkan kami 20 tahun silam karena terlilit utang.

Kisah kelam papa terjerat utang dimulai dari iseng-iseng mencoba judi togel, jenis judi berupa permainan taruhan menebak angka. Awal-awal bertaruh, nominal uangnya masih kecil. Tapi, seiring papa merasa penasaran dan tertantang, jumlah uang yang ditaruhkan makin besar. Dari sepuluh ribu, dua puluh ribu, terus naik sampai barang-barang berharga dijual tanpa persetujuan mama. Saat kecanduannya tidak terkendali, rumah kami pun digadaikannya. Ketika harta yang tersisa makin menipis, utang jadi solusi yang dipilih papa. Sikap tamak papa itu turut menyulut api konflik dalam keluarga kami. Pertengkaran antara papa dan mama tidak terelakkan, padahal sebelumnya kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Papa menjalankan usaha rental mobil yang telah dirintisnya sedari lajang dan mama bekerja sebagai guru dengan gaji tetap. Penghasilan yang mereka dapatkan setiap bulannya selalu cukup untuk kelangsungan hidup keluarga kami.

Merasa malu dan penat menghadapi orang-orang yang datang menagih utangnya, papa mengajak mama pindah. Ia bermaksud membawa kami pulang ke kampung halamannya, tapi mama menolak ide itu. Pertengkaran mereka pun terulang.

Saat itu usiaku masih sepuluh tahun. Aku tidak tahu banyak tentang biduk rumah tangga, terlebih cara untuk menghentikan pertengkaran antara papa dan mama. Aku hanya diam menyaksikan mereka bertengkar. Satu-satunya hal yang kutahu di momen itu adalah papa akhirnya pergi tanpa kami. Ia meninggalkan mama dengan utang judinya yang berserak. Aku tak mengerti mengapa papa sanggup meninggalkan aku dan kedua adikku begitu saja.

“Kalian sudah lama tidak bertemu. Pergilah! Papa pasti rindu melihatmu,”sambung mama.

Otakku mencerna perkataan mama. “Aneh! Kalau benar papa rindu, tentu dia datang menemuiku.” Sekilas rekaman kenangan pahit di masa kecil itu kembali terbayang di benakku. Perginya papa secara tiba-tiba telah mengecewakanku, dan bagiku dia itu tak ubahnya bak seorang pengecut.

“Kak, ia tetap papamu. Perginya papa dari kita tidak akan mengubah statusmu sebagai anaknya. Kasih papa kesempatan menemanimu di momen itu,” suara mama bergetar.

Banyak jeda dalam percakapanku dengan mama. Aku bingung dengan langkahku selanjutnya. Meskipun nasihat mama terasa baik, tapi aku tidak siap bertemu papa. Atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menemuinya.

Di tengah keheningan diskusi kami, ponselku tetiba berdering. Daniel meneleponku. Momen itu menyelamatkanku dari kebuntuan percakapan dengan mama. Kuraih ponselku dan berjalan menuju kamar.

“Ayolah sayang. Selagi papa masih hidup. Mau sampai kapan kamu membenci papa?” Dengan lembut Daniel membujukku mengikuti saran mama.

“Aku sudah memaafkan papa kok! Tidak menemui bukan berarti benci kan?” timpalku membela diri.

“Aku akan menemanimu.”

“Aku nggak tahu!” dengan ketus kututup telepon kami.

Aku merebahkan badan di kasur, berharap bisa segera terlelap. Hingga pukul 1 dini hari, mataku tidak juga terpejam. Beragam imaji pertemuanku dengan papa lalu-lalang di pikiranku. Aku tidak tahu jam berapa akhirnya aku pulas sampai akhirnya pagi ini aku terbangun karena mendengar mama memanggilku dari ruang makan. Di hari Minggu, kami biasanya menyantap mie gomak dengan kuah santan yang dibeli dari warung kecil di ujung gang. Penjualnya kami panggil inang. Andaliman yang menjadi rempah andalan pada kuah dan sambalnya memberi sensasi getir pada lidah. Rasanya semakin mantap bila ditambah bakwan dan gorengan lainnya.

Suasana kaku tadi malam telah mencair. Salah satu anugerah yang kusyukuri ialah meski tanpa kehadiran papa, keluarga kami bisa tetap kompak. Sembari menikmati sarapan, kami bercerita ngalor-ngidul. Kami menggoda Natan, adik bungsuku, yang kemungkinan akan wisuda online di masa pandemi ini. Tawa kami juga lepas saat Daud menceritakan siswa-siswanya yang lucu dan polos. Saat ini adikku yang kedua itu bekerja sebagai guru mengikuti jejak mama. Aku pun berbagi keseharianku sebagai pekerja di salah satu cabang perusahaan nirlaba yang berpusat di luar negeri. Mama juga tentu tidak ketinggalan. Ia bercerita tentang hal-hal yang ia lakukan untuk mengisi masa pensiunnya.

Cerita terus berlanjut dengan ragam topik yang tidak terencana. Bermula dari sarapan, hingga tiga jam berlalu tanpa terasa. Kami mengakhiri obrolan itu. Aku kembali ke kamar, beres-beres sebelum mengikuti ibadah live streaming di sore nanti.

Dret! Dret! Dret! Ponselku bergetar. Daniel mengirimi aku chat.

“Kamu pasti bisa membuang semua kepahitan itu. Kamu berdoa dulu. Tuhan akan menuntunmu. Happy Sunday sayang!” kirimnya disertai emotikon berbentuk hati.

Membaca pesan itu, aku tertegun. “Benarkah aku menyimpan kepahitan pada papa? Sejak kapan kekecewaanku berubah menjadi kepahitan?” batinku.

“Doakan aku ya,” balasku.

Hari-hari terus bergulir. Rencana hari pernikahanku semakin dekat. Aku harus segera menemui papa.

Kendati di awal aku hanya ingin menyenangkan mama, tapi secara pribadi aku juga ingin memperbaiki relasiku dengan papa. Rasanya sudah terlalu lama aku selalu merasa benar dengan menyimpan kekecewaanku pada papa. Kepedihan di masa silam itu membuatku menjadi benci pada papa dan sulit mengingat hal-hal baik yang pernah ia lakukan untuk kami. Perasaan sakit hati itu awet bertahun-tahun membebaniku tanpa solusi. Aku merasa kebencian itu seperti racun yang menghancurkan dari dalam, menghasilkan kepahitan yang menggerogoti hati dan pikiranku. Rasul Paulus dalam Ibrani 12:15 juga sudah menyatakan hal itu. Aku membenarkan chat Daniel tempo hari. Aku menyadari pengalaman masa lalu itu ternyata menjadi “akar pahit” yang membuatku kehilangan sukacita setiap kali mengingat papa. Aku mungkin kecewa dan memutuskan tidak ingin menjalin relasi lagi dengan papa. Tapi, aku sadar kepahitan itu membuat batinku tidak nyaman. Aku harus segera membuangnya.

Karena lama tak pernah berjumpa ataupun mengobrol, aku tak punya kontak papa, tapi papa punya akun media sosial. Perasaanku campur aduk: ragu, takut, sedih, rindu menjadi satu. “Pa, bisa ketemu tanggal 12 Februari nanti? Aku akan ke Siantar,” ketikku singkat

Tidak berselang lama setelah pesanku terkirim, papa menghubungiku. Aku menjawab panggilan itu dengan canggung. Tidak banyak yang kami bicarakan. Aku dan papa hanya menyepakati waktu dan tempat kami bertemu. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku saat mendengar suara papa setelah sekian lama. Suara di seberang telepon itu masih sama seperti suara yang kukenal puluhan tahun lalu. Suara yang berat tapi lembut. Suara yang sejatinya kurindukan tetapi sekaligus juga pernah kubenci dengan sangat. Hari itu aku merasa hatiku menikmati kelegaan yang Tuhan anugerahkan. Aku pun sedikit memahami kata-kata keras mama: bagaimanapun juga, dia adalah papaku. Ikatan batin dan biologis antara ayah dan anak tetaplah ada tak peduli seberapa kelam kisah perpisahan itu terjadi.

Sekitar jam sepuluh pagi di hari Jumat, aku naik bus dari Medan. Kutolak tawaran Daniel yang ingin mengantarku. Tiga jam berselang, aku tiba di Kopi Kok Tong. Papa sudah menungguku di sana.

Aku memasuki kedai yang sudah beroperasi hampir seabad itu. Aroma seduhan kopi mengepul di ujung penciumanku. Bau itu seakan membuat hatiku semakin tidak karuan. Aku masih tidak percaya kalau aku akhirnya menemui papa.

Degup jantungku semakin kencang saat melihat pria yang duduk di sudut kedai itu. Wajahnya tidak banyak berubah meski kini tampak ada kerutan dan kelopak mata yang sudah mengendur. Ia mengenakan celana jeans dipadu dengan kaos merah tua berkerah. Pria itu papaku!

Kutarik nafas dalam-dalam lalu menghampirinya.

“Apa kabar pa?” sapaku terdengar kaku.

Papa tidak segera menjawabku. Ditariknya kursi di depanku, lalu dipersilakannya aku duduk.

“Daniel pria yang baik,” ucapnya sembari menorehkan senyum tipis ke wajahku. “Ia sepertinya menyukai anak-anak ya.”

Aku terdiam. Wajahku menyiratkan tanda tanya, mengapa papa bisa tahu tentang Daniel ketika aku sendiri tidak pernah menceritakannya pada papa.

“Mama kamu yang memberitahu papa soal Daniel,” jawab papa memecah diamku. “Papa akan hadir di pernikahan kalian, Maafkan papa ya kak. Papa senang bisa ketemu kamu.”

Jawaban lirih itu menghantam hatiku, mengaktifkan kedua kelenjar air mataku. Tangis sesenggukan pun pecah. Dengan spontan kurekatkan tubuhku pada papa. Kurasakan hangat tubuhnya, sehangat pertemuan kami siang itu yang menghancurkan kebekuan yang telah terbangun bertahun-tahun.

Pertemuan kami tidak berlangsung lama, tapi aku yakin ini menjadi awal yang baik untuk memulihkan hubunganku dengan papa. Saat aku belajar memaafkan papa, di situlah aku sedang belajar pula untuk meneladani kasih Bapa (Efesus 4:31-32). Sebab Bapa adalah kasih, dan oleh kasih-Nya pula aku dimampukan untuk mengasihi, bahkan kepada orang yang seharusnya tidak terampuni.

Soli Deo Gloria.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Mengasihi dan Mendoakan Musuh: Antara Perintah dan Kasih

Aku sempat memiliki kepahitan terhadap teman sepelayananku. Berkali-kali aku bicara tentang keberatanku padanya, berkali-kali juga argumen-argumen pembelaan membentengi dirinya.

Tidak Sempurna, Tetapi Diberikan-Nya Tepat Buatku

Oleh Wisud Yohana Sianturi, Sidikalang
Foto diambil dari Pexels

Cerita antara aku dan ayahku bisa dibilang bukanlah kisah romantis. Hubunganku dengan ayah tidak terlalu dekat karena trauma masa kecil yang masih membekas, tetapi aku bisa memahami kasihnya.

Sehari-harinya, aku memanggil ayah dengan sebutan “bapak”. Dia orang yang tegas dan cukup keras. Ketika kecil, bapak pernah memukulku di depan banyak orang. Ketika aku beranjak besar, dia beberapa kali menolak memberiku uang jajan, sehingga untuk memenuhi kebutuhanku waktu itu aku cuma berani minta ke ibuku. Kejadian-kejadian yang menurutku buruk itu sering kuingat, tapi bapak selalu berkata bahwa sikap kerasnya itu untuk mendidikku.

Sampai akhir hidup bapak, aku tidak menjalin relasi yang hangat dengannya. Kata-kata terakhir yang dia ucapkan padaku adalah, “Nang, pasti kau merasa aku tidak peduli kepadamu, cuek sama kamu. Tapi bapak sayang sama kamu, Nang.” Seketika air mataku pecah. Aku menyesal, tidak bisa lagi menjalani hari-hari dengan melihat wajahnya.

Dalam penyesalan itu, aku bilang pada ibuku kalau aku mau berhenti berdoa dan beribadah, tapi ibuku menjawab, “Tuhan itu tidak pernah berbuat buruk. Tuhan selalu berlaku baik. Apa pun itu pasti untuk kebaikan.”

Sepeninggal bapak, aku melanjutkan kuliahku dan aku jadi sering merenungkan kebaikan bapak yang selama ini kuabaikan. Memang bapak tidak pandai mengutarakan kasih sayangnya. Tapi aku ingat, pernah suatu kali, ketika aku berangkat ke luar kota untuk melanjutkan studi, sekilas aku melihat bapak menghapus air matanya. Dia lalu masuk ke mobil tanpa melihatku lagi. Aku mengabaikan air matanya, malah berfokus pada bapak yang melengos saja masuk ke mobil tanpa melihatku lebih lama.

Sampai suatu ketika, ibuku pun pergi menyusul bapak di surga. Kakakku lalu bercerita tentang masa-masa kecilku, saat dia bertugas menjagaku. “Aku ingat dulu waktu kamu kecil, aku harus menghabiskan makanan sisamu, karena kalau nggak, aku pasti kena marah sama amangboru dan namboru. Karena si Wisud ini ga banyak makan, ga boleh ada nasi yang sisa. Udah gitu harus lengkap makanannya: harus pakai wortel, ikan, digiling lagi. Setiap hari pasti ditanya nasinya habis atau gak, terus dilihat benar habis atau gaknya.” Aku tertawa mendengar cerita itu, tapi hatiku menangis. Aku menyesal baru mendengarnya sekarang, bukan ketika bapak dan ibu masih ada di bumi ini. Tetapi, aku bersyukur tetap bisa mendengar kisah ini yang akhirnya mengubah cara pandangku. Momen ini adalah titik balik aku memahami bagaimana bapak menyayangiku, sebagaimana Bapa di surga pun memelihara hidupku.

Rasa ego dan kepahitan yang kupendam membuatku buta akan kasih sayang yang sejatinya tercurah dari bapakku. Ketika aku merasa trauma karena dipukul sewaktu kecil, aku tidak mau mengerti bahwa ada alasan di balik tindakan bapak itu. Saat itu aku berteriak keras memanggil ibu untuk meminta kunci rumah, padahal aku bisa menemuinya langsung tanpa berteriak. Untuk mendidikku, bapak memukulku. Ada momen-momen ketika aku tidak mengerti alasan di balik tindakan bapak, yang kulakukan bukannya mempercayai bahwa dia bertujuan baik, malahan aku sibuk menyusun daftar kepahitan dalam hatiku.

Ada banyak kebaikan bapak yang tak bisa kuceritakan satu-satu, sebagaimana dia juga banyak berbuat salah karena dia hanyalah manusia biasa. Tetapi, aku menyayanginya. Aku tak bisa mengatakan itu ketika dia masih ada di dunia, tetapi dalam hatiku dan doaku, aku kini mengatakannya.

Kasih bapakku tidak sempurna, tetapi kasih Allah Bapa menyempurnakannya. Kepada Allah, aku mengucap syukur untuk kedua orangtuaku. Mereka tidak sempurna, tetapi merekalah orangtua yang tepat buatku.

Semoga kesaksian sederhana ini dapat menolong kita untuk semakin mengasihi orangtua kita, juga memaafkan kesalahan yang pernah mereka lakukan. Kesalahan mereka bukan kepastian bahwa mereka tidak mengasihi kita, mungkin kita cuma tidak mengerti atau tidak mau mengerti alasan mereka melakukannya.

Tuhan Yesus memberkati.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Diam, Tak Bisa Melawan

Ketika aku dihina karena penampilan fisikku, aku sempat kecewa pada Tuhan . Tetapi kemudian, rasa sakit itu digantikan-Nya dengan perasaan kagum: bahwa cara Allah memandangku tidaklah sama dengan cara dunia.

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

Tuhan Memampukanku Menyatakan Kasih Kepada Orang Yang Paling Sulit Kukasihi

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Tanggal 14 Februari kemarin, linimasa Instagramku penuh dengan foto coklat dan ucapan selamat hari kasih sayang. Teman-temanku merayakan hari itu bukan cuma dengan kekasih, ada pula yang bersama keluarga dan rekan-rekan terdekatnya. Namun bagiku, hari kasih sayang tidaklah spesial. Aku melakukan rutinitas mengajarku seperti biasa tanpa memberi atau menerima coklat.

Sekitar jam makan siang, muncul notifikasi di ponselku. Ada pesan dari ayahku. Dia memintaku untuk video call. Seorang ayah yang menelepon anaknya bukanlah kisah luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Aku tidak lagi bertemu ayahku sejak aku berusia tiga tahun.

Ayahku meninggalkan keluargaku. Sejak saat itu, aku tinggal bersama keluarga ibuku yang karena tindakan ayahku, jadi amat membencinya. Aku dilarang berkomunikasi dengannya. Keluarga ibuku pun terus menjelek-jelekkan ayahku di depanku. Tak terhitung berapa banyak hal buruk yang diceritakan padaku. Lama-kelamaan, aku tumbuh menjadi pribadi yang punya konsep bahwa ayahku jahat. Tanpa perlu dilarang pun, aku jadi tidak ingin berkomunikasi dengannya. Pernah ketika aku SMA, ayahku mengirimiku friend request di media sosial. Yang kulakukan adalah memblokir akunnya, tapi ayahku tidak berhenti. Dia membuat tiga akun baru dan terus mengirimiku permintaan pertemanan dan responsku tetap sama: aku memblokirnya.

Kakak pembimbing rohaniku tahu akan pergumulanku ini. Dia lalu menyarankanku untuk membuka blokirnya dan memberi kesempatan buat ayahku bicara denganku. Siapa tahu ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Kuikuti saran itu. Ayahku sering mengirimiku pesan, tapi aku sangat jarang membalasnya. Beberapa kali dia meminta video call, tapi tidak juga kurespons hingga tiba hari itu. Aku mengiyakan permintaannya untuk video call.

Untuk pertama kalinya setelah 18 tahun, aku bicara dengan ayahku. Aku menatap wajahnya dari layar ponselku. Dia bicara banyak hal dan mengajukan beberapa pertanyaan. Satu kalimat yang kuingat dari percakapan itu adalah, “Aku [ayah] rindu kamu.” Aku tidak tahu harus merespons apa. Aku terdiam dengan air mata menetes. Ayahku juga menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kujawab dengan diam. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kusampaikan kepada orang yang sudah meninggalkanku selama itu. Percakapan itu kemudian ditutup dengan lambaian tangan.

Aku tidak menyangka apa yang baru saja terjadi itu. Aku bersedia melakukan video call dengan ayahku dan menjawab berbagai pertanyaannya. Aku mempertanyakan diriku sendiri bagaimana aku bisa melakukan ini.

Aku mengingat saat teduh hari itu. Firman yang kubaca diambil dari Mazmur 16, yang mengingatkan kembali tentang kebaikan Allah apa pun kondisinya. Tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah adalah alasan yang masuk akal untuk berpendapat bahwa Tuhan itu tidak baik. Namun, kebenarannya tidak seperti itu. Benar memang aku tidak merasakan kasih seorang ayah, namun ada Ayah sejati yang mengasihiku. Ada Ayah yang mengasihiku bahkan di tengah ketidaklayakanku. Allah yang tetap baik meski semuanya terasa berat.

Aku membuka hatiku untuk menerima ajakan bicara ayahku adalah anugerah Allah, dan aku amat bersyukur kepada-Nya, Ayah sejatiku. Allahlah yang memberiku kekuatan untuk menyatakan kasihku kepada orang yang sangat sulit kukasihi.

Meski belum banyak pernyataan kasih yang bisa kuberikan kepada ayahku, aku bersyukur kepada Allah karena Dia memberiku kesempatan itu. Kupikir inilah hal yang Allah ingin aku lakukan di hari kasih sayang, yaitu menyatakan kasih sayangku kepada orang yang amat sulit kukasihi. Dan, kupikir ini jugalah yang Dia mau kita terus lakukan sebagai anak-anak-Nya, karena kasih-Nya yang besar sudah dinyatakan bagi kita.

Aku berdoa kiranya Tuhan terus memampukanku mengampuni ayahku dan mau berjuang menyatakan kasih kepadanya, sebagaimana Tuhan yang terus menyatakan kasih-Nya padaku.

Baca Juga:

Apa yang Terjadi Jika Kita Lupa Berdoa?

Ternyata aku mempercayai beberapa mitos tentang doa. Kepercayaanku akan mitos-mitos itu menunjukkan bahwa aku salah dalam memahami Tuhan. Lalu, apa sih yang akan terjadi jika kita tidak berdoa?

Keluargaku, Ladang Pelayananku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Apa yang biasanya kita pikirkan atau lakukan menjelang liburan: langsung menyusun jadwal untuk bepergian ke destinasi wisata hits atau pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga?

Meskipun aku seorang perantau yang mencari rezeki di kota orang, dilema ini kerap aku alami setiap liburan semakin dekat. Aku rindu untuk bertemu dengan mama, kakak, abang, dan keponakanku di kampung halaman. Tetapi, kadangkala aku juga tergoda untuk tidak pulang kampung dengan berbagai alasan. Misalnya, harga tiket yang mahal yang membuat tabunganku menipis, padahal aku masih harus memberi sedikit berkat untuk keluarga. Aku pernah berpikir untuk hanya mengirimkan uang saja kepada keluargaku karena tergoda pada tawaran teman untuk bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi.

Beberapa waktu yang lalu sebelum aku kembali ke kampung halaman, aku berdiskusi dengan teman sekantorku. Kami berdua memiliki kampung halaman yang sangat jauh, bahkan kampungnya lebih jauh daripada kampungku. Sudah kurang lebih lima tahun dia bekerja di kantor kami, dan ia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya sekali dalam setahun. Di tengah kegalauanku, dialah yang mengingatkanku untuk pulang. Waktu bersama keluarga sangatlah berarti, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kita harus mengorbankan uang yang tidak sedikit.

Perkataannya membuatku kembali merenung. Bukankah salah satu alasanku untuk merantau adalah untuk menghasilkan uang untuk berbagi berkat dengan keluarga? Kalau begitu, aku merasa cukup dengan mengirimkan uangnya saja. Namun, lagi-lagi aku diingatkan bahwa pertemuan tatap muka jauh lebih berharga dari uang yang kuberikan. Aku harus datang langsung untuk melihat kondisi keluargaku. Selama bekerja, adalah hal yang baik jika aku selalu mendoakan mereka dari kejauhan. Tetapi, jika keuanganku memadai, alangkah lebih baik jika aku datang untuk mengunjungi mereka secara langsung.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Aku begitu bersyukur dapat kembali berkumpul bersama keluargaku. Hal yang kami lakukan bersama sangatlah sederhana: makan bersama, jalan-jalan bersama, tertawa bersama, dan mendokumentasikan kegiatan kami dengan berfoto bersama. Selain itu, karena mamaku bekerja sebagai pedagang, aku mengantar jemputnya ke pasar. Aku juga menjaga keponakanku, membantu merapikan rumah, hingga mengunjungi anggota keluarga lainnya. Kegiatan yang sederhana sekalipun mampu mendatangkan sukacita yang luar biasa untuk kami semua, yang terpancar dari wajah setiap kami.

Kembali kurenungkan, saat-saat seperti ini tidak selamanya dapat kunikmati. Mengingat usia orang tuaku yang terus bertambah, dan masa pertumbuhan keponakanku yang banyak kulewatkan. Aku teringat akan sebuah pujian dari Pelengkap Kidung Jemaat 289:

Keluarga hidup indah
bila Tuhan di dalamnya.
Dengan kasih yang sempurna
Tuhan pimpin langkahnya.
T’rima kasih padaMu, Tuhan,
Kau bimbing kami selamanya.
Segala hormat, puji dan syukur
kami panjatkan kepadaMu.

Keluarga adalah ladang pelayananku—tempat bagiku untuk menyatakan kasih Tuhan. Aku harus menyatakan ungkapan syukurku atas penyertaan Tuhan bagi keluargaku dalam melewati musim demi musim kehidupan dengan mengasihi keluargaku. Untuk dapat berkumpul dan berbagi sukacita bersama keluargaku juga merupakan bentuk kasih dan penyertaan-Nya atas kami.

Aku pribadi sungguh ditegur dengan kondisi ini. Banyak hal di luar sana yang bisa membuatku tidak memilih untuk kembali ke kampung halamanku, walaupun sebentar saja. Namun aku bersyukur Tuhan meneguhkanku kembali di tengah-tengah dilema yang kualami, sehingga aku dimampukan untuk membuat keputusan yang tepat: memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada untuk melayani keluargaku yang sudah terlebih dahulu melayaniku sejak kecil.

Kiranya perenunganku dapat memberkati kita semua yang membacanya. Tuhan memberkati.

Baca Juga:

Yang Terlupakan dari Pelayanan: Kasih Yang Semula

Aku yakin hampir semua sobat muda pernah atau bahkan sedang menjadi bagian di dalam suatu kegiatan pelayanan. Namun, pernahkah kita coba menilik diri kita masing-masing, apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani?

Ketika Orang Tuaku Tidak Menyetujui Hubungan Kami

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Satu tahun lalu, aku dan pacarku memutuskan untuk menjalin relasi pacaran. Namun, perjalanan hubungan kami di masa-masa awal tidaklah mudah. Kedua orang tuaku menolak pacarku karena dia berasal dari suku yang berbeda dengan keluargaku.

Bagi orang tuaku, juga mungkin bagi banyak orang tua lainnya, melihat anaknya mendapatkan pasangan yang satu suku adalah hal yang diinginkan, atau bahkan didamba-dambakan. Bagi mereka, jika anaknya berpasangan dengan yang tidak satu suku, pasti terasa ada yang kurang. Bahkan, ada pula yang tidak mengizinkannya sama sekali.

Sebagai anak, aku belajar mengerti keinginan orang tuaku. Memiliki pasangan yang satu suku memang baik. Jika sedang kumpul keluarga tidaklah sulit untuk akrab karena sudah tahu bagaimana cara beradat dan berbahasa. Namun, apakah pasangan hidupku harus selalu satu suku? Apakah ini yang memang Tuhan Yesus ajarkan atau hanyalah stereotip belaka? Dua pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab.

Namun, saat aku mencari tahu dari Alkitab, Tuhan Allah berfirman dalam Kejadian 2:18, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Apakah kata sepadan di sini berarti dia yang berasal dari satu suku? Berdasarkan terjemahan Alkitab versi New English Translation, kata “sepadan” di sini merujuk kepada kesesuaian atau cocok. Lebih rinci lagi, sepadan adalah pasangan yang saling mengisi dan bertumbuh untuk memenuhi tujuan Allah dalam pernikahan. Di sini terlihat jelas bahwa sepadan tidaklah mutlak harus satu suku.

Sebagai seseorang yang pernah bergumul dengan hal ini, aku ingin membagikan pesan untuk teman-teman, terkhusus apabila kamu juga mengalami pergumulan sepertiku.

1. Serahkanlah hubungan kalian kepada Tuhan melalui doa. Lebih dalam lagi, terus doakan hati keluarga yang menolak pasanganmu.

2. Cobalah jelaskan dan buka pola pikir keluargamu bahwasannya pasangan satu suku itu tidak menjamin segalanya. Jaminan utama adalah kedekatan pasangan kita kepada Sang Pencipta serta karakter yang dimilikinya. Karena pada dasarnya “Allah melihat apa yang ada di kedalaman hati sebagai ukuran sejati diri kita” (dikutip dari buku The End of Me, Kyle Idleman). Selain itu, menikah bukan saja tentang bagaimana bisa membahagiakan keluarga secara kasat mata, tapi lebih dari itu adalah tentang bagaimana kamu dan pasanganmu bisa melakukan visi Allah dalam keluargamu nantinya. Dan, hal yang sifatnya esensial ini tidak dibatasi oleh perbedaan suku semata. Lebih lagi, ceritakan juga apa saja kelebihan yang dimiliki pasanganmu, di mana kelebihan itu tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Serta, bukakan juga keuntungan jikalau kita memiliki pasangan yang berbeda suku, seperti halnya keluarga akan jadi lebih indah karena ada keberagaman suku di dalamnya.

3. Ajaklah pasanganmu itu ke rumah. Izinkanlah keluarga menilai sendiri kepribadian pasanganmu tersebut. Memang ini kelihatannya tidak manjur, apalagi jika keluargamu memilki “trauma” tersendiri terhadap kasus perbedaan suku sebelumnya. Namun, lagi-lagi tidak ada yang sia-sia selagi kita mau berusaha.

4. Jika langkah 1-3 belum juga membuat keluargamu “luluh”, buatlah strategi di mana keluargamu bisa secara nyata “hidup” bersama dengan pasanganmu. Pengalamanku sebelumnya, aku mengajak bapak dan ibuku untuk menjemputku secara langsung ke negara di mana aku menempuh pendidikanku. Walau aku bisa saja menginapkan bapak ibuku di penginapan, namun aku tidak mau. Aku membiarkan bapakku untuk mengalami hidup bersama pasanganku di asramanya, dan ibuku di asramaku. Pasanganku pun menyetujui pemikiranku itu. Walau ada beberapa temanku yang tidak setuju, namun aku terus menyakini bahwa Tuhan pasti menyertai setiap niat baik.

* * *

Dua hari pertama, bapakku masih belum “luluh”. Namun, puji Tuhan di hari ketiga sampai hari terakhir bapakku berada di sana, akhirnya beliau pun mulai “luluh”. Lebih dari itu, bapakku yang awalnya adalah orang yang paling menentang hubunganku pun akhirnya bersedia dipotong rambutnya oleh pasanganku. Itu terjadi di luar ekspektasiku. Bapakku yang memiliki kebiasaan memotong rambut sendiri, tiba-tiba ingat akan ceritaku sebelumnya bahwa pasanganku punya keterampilan memotong rambut. Bahkan, uang tambahannya di negeri perantauan pun dihasilkannya dari keterampilan tersebut. Sampai akhirnya, bapakku pun menyatakan pujiannya kepada pasanganku dan mengakui bahwa dia adalah seorang yang hebat. Itu semua dapat terjadi karena ada beberapa hal lain yang bapakku telah saksikan dan rasakan secara nyata selama mereka tinggal bersama.

Aku sangat bersyukur akan hal tersebut. Aku percaya ini boleh terjadi bukan karena pandainya aku membuat strategi, namun ini terjadi karena hebatnya Tuhan yang memberiku hikmat. Walau aku tak tahu bagaimana hubungan kami ke depannya, tapi kami berkomitmen untuk menyerahkan selalu hubungan ini kepada Tuhan. Satu firman Tuhan yang membuatku terkesan adalah, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Inilah yang membuat aku dan pasanganku dapat melangkah dengan tegap. Kalau memang Tuhan berkehendak pasti Dia akan menyertai hubungan kami sampai waktu yang telah Dia tentukan untuk kami bisa hidup bersama selamanya.

Satu bagian dasar terpenting ialah pergumulan kita dengan pasangan kita untuk selalu mencari kehendak Tuhan. Bila semakin yakin akan kehendak Tuhan, maka kita berjuang untuk penerimaan orang tua akan perbedaan suku tersebut. Kiranya ini bisa menjadi semangat dan langkah praktis untukmu yang memiliki pergumulan sama denganku.

Tuhan memberkati kita.

Baca Juga:

4 Tanda Bahwa Tuhan Bukanlah Fokus Pertamamu

Meski aku tahu bahwa Tuhan mengasihiku, setiap hari aku bergumul untuk menempatkan-Nya di posisi pertama di hidupku. Dan, dari pengalaman inilah aku ingin membagikan empat hal kepadamu.

Papa Mama, Terima Kasih untuk Teladan Kalian

Oleh Jonathan Marshell Kevin, Jakarta

“Mam, aku lulus mam!”

Aku menelepon Mama setelah aku dinyatakan lulus sidang akhir. Saat itu Mama sedang berdoa. Setelah dia mengangkat teleponku, aku mendengar suara Mama dengan nada terharu. Dia menangis.

Saat aku sampai di rumah, Mama terlihat bahagia. Pandangannya seakan berkata: “Kita sudah melewati satu tahap perjuangan iman bersama, Nak.” Mama memelukku dan kami pun berdoa.

Kemudian Mama bercerita tentang apa yang dia rasakan saat kali pertama mengantarkanku ke universitas yang menjadi tempat studiku. Saat Mama menungguku di student-lounge, dia sempat berpikir: “Gimana bayarnya kalau kuliah di sini?” Kampus yang kupilih saat itu adalah kampus swasta yang terkenal mahal.

Sejak kelas 2 SMA dulu, aku tertarik untuk kuliah di bidang teknik dan sempat juga ingin masuk kedokteran. Saat penjurusan, aku pun memilih IPA. Tapi, karena aku takut melihat jenazah, aku mengurungkan niatku masuk kuliah kedokteran. Pilihan hatiku jatuh pada Mechatronics Engineering, fakultas yang saat itu hanya ada di kampus swasta yang kupilih sekarang. Fakultas ini sangat menarik untukku karena di sana aku akan belajar tentang automation system, robotic, dan lain-lain. Teknologi-teknologi itulah yang banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan sekarang. Saat itu aku tidak memikirkan masalah biaya.

Hasil seleksi masuk pertama di universitas swasta itu keluar, dan ternyata aku gagal. Aku sedih dan kecewa. Sampai suatu ketika, seorang temanku yang kuliah di Korea memberitahuku kalau di sana juga ada Mechatronics Engineering. Aku berdiskusi dengan Mama mengenai kesempatan ini. Meski ragu karena jarak yang jauh, Mama setuju. Aku coba mendaftarkan diri.

Setelah melalui tes tertulis dan wawancara, aku diterima. Tentu aku senang karena bisa diterima dan ditambah lagi dapat beasiswa 40%. Beasiswa itu akan ditingkatkan hingga 100% jika aku berprestasi di sana. Tapi, kesenangan itu tidak lama karena tuition fee yang harus dibayarkan sebelum berangkat melampaui kemampuan keluargaku. Jujur aku kecewa. Namun, aku tahu bahwa Papa dan Mama sudah mencoba memberikan yang terbaik buatku. Mereka menguatkanku bahwa aku harus terus berjuang. “Kalau memang itu sejalan dengan rencana Tuhan, pasti Tuhan buka jalan,” kata mereka.

Akhirnya, aku pun mencoba kembali mendaftar ke kampus swasta yang awalnya aku gagal. Di tes kedua ini aku diterima. Tapi, keraguan yang Mama pikirkan waktu mengantarku ujian itu benar terjadi. Keluargaku cukup sulit untuk membayar uang semesteran. Aku mendapat surat peringatan beberapa kali, didenda, dan diancam tidak ikut ujian akhir.

Salah satu kejadian yang tak terlupakan adalah saat aku duduk di semester 3. Aku bilang ke Mama, “Mam, aku pindah aja ya? Kuliah di sini terlalu mahal.”

Kami pun menangis waktu itu. Tapi, Mama akhirnya menanggapiku dengan bijak. Dia memberikan argumen dan pertimbangan tentang pilihan yang ada, apakah itu aku tetap bertahan atau pindah ke universitas lain yang lebih terjangkau biayanya. Setelah mempertimbangkannya dalam suasana yang lebih tenang, aku memutuskan tetap lanjut kuliah di sini. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa seraya tetap berusaha.

Untuk mencukupi kebutuhan kuliahku, orang tuaku berjuang ekstra. Papa menjajal usaha-usaha lain seperti berjualan bahan kimia untuk semen, mesin fotokopi dan lainnya. Aku pun belajar untuk menjalani kuliahku dengan sungguh-sungguh. Aku bukanlah anak yang pintar. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai sebuah mata kuliah. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan mengaruniakanku kerajinan sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan beasiswa hingga semester 7 karena indeks prestasiku masuk dalam kategori 3 terbesar di kelas.

Sekarang, puji Tuhan karena studiku telah selesai. Aku lulus dari sidang akhir dan mendapatkan nilai A. Semuanya karena anugerah Tuhan.

Kalau aku melihat kembali kisahku ke belakang, ada satu hal yang ingin aku sharing-kan kepadamu. Hidup itu tidak pernah mudah. Banyak kejadian yang membuatku ragu, apakah aku bisa menyelesaikan kuliahku di sini? Orang bilang kalau hidup itu kadang di atas, kadang di bawah. Tapi, dari apa yang kulewati, aku merasa mengapa aku selalu di bawah? Kapan aku naik ke atas?

Tapi, papa dan mamaku selalu mengingatkanku bahwa jangan pernah lupa kalau Tuhan selalu ada untuk mengawasi kita. Mereka mengajariku untuk sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Ketika studiku mengalami kendala, mereka berdoa untukku. Mereka menguatkanku untuk tidak minder dan larut dalam kesedihan.

Aku bersyukur karena Tuhan menempatkanku dalam keluarga ini. Keluarga yang mungkin tidak seberuntung keluarga yang lain, tapi aku tahu bahwa papa dan mamaku adalah orang yang sangat taat dan selalu mengandalkan Tuhan. Aku belajar banyak dari cara mereka melihat masalah, menyikapi masalah, beriman, dan menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan.

Memang Tuhan tidak menjanjikan hidup yang mudah untuk dijalani, tapi Dia menjanjikan penyertaan-Nya yang selalu ada, saat melalui situasi tersulit sekalipun. Tuhan telah membuktikan penyertaan-Nya kepadaku dan keluargaku sampai aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku percaya bahwa Tuhan yang sama juga akan menyertai hidupmu.

Baca Juga:

Jawaban Mengejutkan dari Temanku Ketika Aku Curhat tentang Kekecewaanku pada Tuhan

Jauh dari Tuhan membuat hidupku semakin hancur dan membuatku semakin mudah marah dan stres. Sampai suatu kali, aku curhat via LINE dengan seorang temanku. Aku berkata padanya bahwa aku kecewa pada Tuhan. Namun, satu jawaban dari temanku itu mengubah pemikiranku.

Jawaban Bijak Ayahku Ketika Aku Mengatakan Akan Menjadi Istri Hamba Tuhan

jawaban-bijak-ayahku-ketika-aku-mengatakan-akan-menjadi-istri-hamba-tuhan

Oleh Ivonne Nataly Pola, Boyolali

Minyak angin merek ini adalah minyak angin yang sering digunakan oleh ayahku. Mencium aromanya dapat mengobati rasa rinduku kepadanya, karena kami sudah tidak tinggal bersama sejak aku menikah.

Ayahku bukanlah seorang yang sempurna, tapi dia adalah seorang ayah yang membawaku mengenal Tuhan Yesus dan bertumbuh di dalam-Nya sejak aku masih kecil.

Ayahku senang bercerita tentang anak-anaknya, termasuk tentang diriku. Pernah suatu kali saat aku sedang berada di Balikpapan karena mengikuti suami yang sedang bertugas di sana, aku mengatakan kepada ayahku bahwa aku kangen donat yang saat itu tokonya baru ada di Jakarta. Tak kusangka, ayahku menceritakannya kepada teman kerjanya. Teman ayahku kemudian membawakanku dua dus donat itu ketika dia ada tugas dinas di Balikpapan.

Ayahku tidak pernah menceritakan tentang kesulitannya kepada anak-anaknya. Suatu kali ketika aku masih mahasiswa dan saatnya membayar uang kuliah, aku menunggu ayahku di kampus. Namun, hingga sore ayahku belum juga datang. Ketika aku menghubunginya, dia hanya berkata, “Sabar yah, Nak…”

Akhirnya, ayahku datang juga ke kampus untuk membayarkan uang kuliahku. Belakangan, aku baru tahu bahwa ternyata saat itu ayahku sedang tidak memiliki uang, tapi syukur kepada Tuhan karena tepat di sore harinya ayah mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja. Ayah tidak mau menunjukkan kesulitannya di depanku. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Baginya, membiayai kuliahku adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhinya sekalipun di tengah keadaan yang sulit.

Aku ingin membahagiakan ayahku

Ayahku begitu baik bagiku. Karena itu setelah aku menikah, aku bercita-cita ingin membahagiakannya dengan memberikan sebagian penghasilanku kepadanya. Saat itu, aku dan suamiku masih sama-sama bekerja. Namun, itu tidak bertahan lama.

Sebuah keputusan yang sulit perlu aku ambil ketika suamiku menjawab panggilan Tuhan dengan menjadi seorang hamba Tuhan penuh waktu dan meninggalkan segala kariernya di dunia sekuler. Aku harus melepaskan karierku untuk mendukung suamiku sebagai istri hamba Tuhan. Aku begitu bergumul. Aku ingin menuruti panggilan Tuhan, namun aku juga ingin memberkati ayahku secara finansial di masa tuanya.

Ketika aku menceritakan pergumulanku kepada ayahku, dia berkata, “Nak, panggilan itu asalnya dari Tuhan sendiri. Jadi, kalau Dia sudah memilih kalian, melangkahlah bersama-Nya. Hidup kami sebagai orangtua pasti akan terus ditopang oleh Tuhan sendiri.”

Aku kemudian bertanya kepadanya apakah ayahku kecewa karena telah susah payah membiayai kuliahku dan aku “hanya” menjadi istri hamba Tuhan. Apakah dia merasa kuliahku menjadi sia-sia? Jawaban ayahku begitu membuatku terharu, “Justru kamu dititipkan kepada kami untuk dipersiapkan menjadi alat-Nya. Jadilah istri hamba Tuhan yang menyenangkan-Nya. Kelak ketika kami bisa melihat kamu setia pada panggilan itu, kami akan sangat bangga karena kami dipercaya untuk mendidikmu.”

Aku pun menitikkan air mata. Dahulu aku mengira bahwa aku baru dapat membahagiakan ayahku jika aku berhasil dalam pekerjaanku dan dapat memberikannya harta yang kumiliki. Namun ternyata kebahagiaan ayahku adalah ketika aku menyenangkan Tuhan. Itulah yang menjadi kebanggaan ayahku.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas orangtua yang telah diberikan-Nya bagiku. Orangtua yang menghajarku ketika aku salah untuk kebaikanku. Orangtua yang tetap mengasihiku meskipun aku sering mengecewakan mereka. Orangtua yang selalu mengingat diriku dalam doa-doa mereka. Orangtua yang peduli kepadaku dan suamiku, menanyakan tentang pelayanan yang kami lakukan, dan mengingatkan tentang kasih karunia Tuhan. Meskipun aku dan orangtuaku kini terpisah oleh jarak, aku selalu mengingat nasihat mereka, “Jangan tinggalkan iman, pengharapan, dan kasih.”

Karena mereka, aku dapat merasakan kasih Bapa di surga, kasih yang sempurna. Terima kasih, ayah dan ibu. Terima kasih, Tuhan.

Baca Juga:

3 Hal yang Kudapatkan Ketika Aku Memutuskan untuk Bersaat Teduh Saat Aku Patah Hati

Hubunganku dengan pacarku dahulu membuatku lebih mengutamakan waktu bersama dengannya daripada waktu bersama dengan Tuhan. Di penghujung tahun Tuhan mengizinkanku mengalami patah hati yang pada akhirnya membawaku lebih dekat pada-Nya.