Posts

Dipandang Lemah, Tetapi Punya Peran yang Besar

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Pagi ini aku menikmati saat teduhku yang membahas tentang Timotius. Sosok ini mungkin tidak asing di telinga kita. Nama Timotius tersemat dalam dua surat yang ditulis Paulus. Namun, siapakah sebenarnya Timotius dan teladan apakah yang bisa kita raih dari kisahnya?

Timotius dikenal bertumbuh sebagai pribadi yang mengasihi Allah. Awalnya, kupikir karakter baik ini pastilah ada dalam diri Timotius karena pengaruh dari Paulus, tapi setelah kubaca lagi bagian-bagian dari suratnya, rupanya ada orang lain lagi yang turut memberi andil dalam perjalanan iman Timotius.

Alkitab tidak banyak mencatat tentang masa kecil Timotius. Dia tumbuh besar di kota Listra sebagai anak dari perempuan Yahudi bernama Eunike, yang telah percaya pada Yesus. Sedangkan ayahnya diyakini berkebangsaan Yunani (Kisah Para Rasul 16:1). Minimnya penyebutan tentang ayah Timotius menunjukkan besar kemungkinan apabila Timotius diasuh hanya oleh ibunya seorang. Tetapi, dalam 2 Timotius 1:5, tertulis nama Lois, nenek dari Timotius yang rupanya turut merawat Timotius. Menjadi orang tua tunggal bukanlah perkara yang mudah, terlebih pada zaman Timotius. Ada kemungkinan mereka mendapatkan stigma, apalagi status Eunike dan Lois sebagai orang percaya yang merupakan kaum marjinal pada masyarakat kekaisaran Romawi abad pertama. Tetapi, teladan dari merekalah yang akhirnya membawa Timotius pada keselamatan.

Saat teduh pagi ini pun mengusikku. Apakah aku bisa menjadi seperti Lois dan Eunike yang mampu memberi teladan baik bagi orang lain?

Lois dan Eunike membuktikan bahwa wanita yang kerap dipandang sebagai kaum yang lemah rupanya punya peran yang besar. Alkitab kita mencatat ada banyak tokoh wanita lain yang juga dipakai Allah untuk mewujudkan rencana-Nya. Ada Sarah yang melahirkan Ishak sebagai penggenapan janji Allah atas Abraham, juga Maria yang dipakai Allah untuk melahirkan sang Juruselamat.

Dalam kisah penciptaan, wanita adalah makhluk yang diciptakan terakhir. Ketika air dipisahkan dari daratan, wanita belum ada. Ketika binatang dan tumbuh-tumbuhan bermunculan, wanita masih tetap belum ada. Hingga akhirnya Allah menciptakan wanita (Hawa) dari rusuk pria (Adam). Allah melihat bahwa dunia dan manusia yang sudah diciptakan-Nya tidak akan lengkap tanpa ciptaan-Nya yang terakhir ini. Wanita menjadi “puncak” dari seluruh penciptaan dan melalui ini Allah ingin menyampaikan bahwa wanita diperlukan dan sangat penting.

Wanita disebut penolong yang sepadan. Wanita diciptakan untuk kemampuan-kemampuan yang bisa menolong pria dan ciptaan lainnya.

Aku jadi teringat dengan salah satu film yang berjudul, War Room. Seorang wanita tua, Ny. Clara yang setia berdoa. Dia memiliki satu ruangan khusus yang menjadi tempatnya untuk berdoa. Ruangan itu disebutnya sebagai tempatnya untuk berperang. Berperang untuk berdoa melawan segala kedagingannya, berdoa untuk orang-orang di sekelilingnya bahkan berdoa agar semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus.

Singkat cerita, suatu hari dia dipertemukan dengan seorang wanita muda, Elizabeth Jordan yang banyak bergumul dengan hidupnya. Wanita yang mengaku Kristen tetapi belum mengenal lebih sungguh siapa Allah. Lewat perjumpaan rutinnya dengan Ny. Clara, Elizabeth ditolong untuk mengenal siapa Allah. Mereka tekun untuk berdoa bersama hingga Elizabeth akhirnya memutuskan menjadikan lemarinya sebagai ruangan khusus buatnya untuk berdoa. Elizabeth beserta keluarga pada akhirnya mengenal siapa Allah melalui Ny. Clara.

Aku sendiri sadar, banyak orang yang ada di sekitarku. Tetapi aku sering lalai untuk memperhatikan mereka karena kesibukan-kesibukanku.

Terkadang berpikir bahwa waktu yang aku gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan, studi dan hal-hal lainnya masih kurang, bagaimana aku harus memikirkan mereka.

Mungkin di saat aku sedang menyelesaikan tugasku, ada orang tua yang merindukan telepon dariku.

Mungkin di saat aku sedang sibuk dengan pekerjaanku, ada rekan di sebelahku yang ingin bercerita menyampaikan pergumulannya akan pekerjaan.

Mungkin di saat aku sedang menulis ini pun, ada teman kosku yang sedang menantiku untuk keluar dan bercerita sejenak.

Kadang, aku berpikir bahwa momen-momen tersebut hanya akan menghabiskan waktuku padahal sebenarnya momen-momen itulah yang bisa menolongku untuk menyatakan Kristus dalam kehidupan mereka.

Allah menciptakan perempuan sama mulianya dengan laki-laki. Perempuan juga punya andil dalam menorehkan kisah sejarah umat manusia, sebagaimana teladan Lois dan Eunike serta bagaimana pemikiran Kartini yang akhirnya menata kembali tatanan feodalisme Jawa abad 20.

Selamat menyatakan Kristus di tengah kehidupan kita!

Baca Juga:

3 Hal yang Hilang Jika Kita Menikah dengan Pasangan Tidak Seiman

Semua manusia mencari kenyamanan. Ketika manusia telah menemukannya maka sangat sulit bagi mereka untuk meninggalkannya dan pergi menghadapi risiko-risiko baru. Begitu juga halnya dengan memilih pasangan hidup.

Kebohongan yang Kita Genggam, Membuat Kita Mudah Menyerah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Kuliah jangan di perguruan tinggi swasta, nanti kamu susah dapat kerja.”

“Jurusan untuk perempuan itu bagusnya ambil pendidikan atau keguruan, supaya bisa bekerja sambil mengurus keluarga.”

“Untuk apa lanjut kuliah S2? Nanti ujung-ujungnya kamu di rumah saja. Toh juga yang mencari nafkah kelak adalah tugas suamimu.”

“Duh, ngapain pacaran jarak jauh, nanti ujung-ujungnya putus.”

Itu adalah beberapa pernyataan yang pernah disampaikan orang-orang kepadaku. Aku tidak tahu apa yang mendasari mereka mengatakan hal tersebut. Kadang aku beranggapan mungkin mereka pernah melihat orang yang mengalami hal yang sama atau mungkin mereka sendiri pernah mengalaminya. Di awal aku sempat kepikiran dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Aku takut melangkah karena bisa jadi yang mereka katakan itu benar, apalagi yang mengatakannya adalah orang-orang yang sudah dewasa atau berpengalaman.

Namun, kembali ke tulisanku dua bulan lalu, “Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan”, sejatinya yang penting adalah bagaimana kita bergumul terlebih dahulu kepada Allah saat membuat keputusan. Orang lain tidak mengambil andil sepenuhnya dalam setiap hal yang kita putuskan. Jika Allah meyakinkan kita untuk membuat pilihan tersebut, lakukanlah, sambil terus senantiasa bergumul dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sekalipun kita gagal, Allah pun akan turut campur tangan menggunakan kegagalan tersebut untuk kebaikan buat hidup kita.

Kita sering diperhadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Misalnya: kalau aku kuliah di perguruan tinggi swasta aku susah dapat kerja. Nyatanya, aku bisa dapat kerja yang baik walaupun aku lulusan perguruan tinggi swasta. Kadang kala, pernyataan-pernyataan itu malah membuat kita jadi menyerah duluan. Bayangkan, jika ada beberapa orang yang lulusan perguruan tinggi swasta mendengar pernyataan tersebut lalu menelannya mentah-mentah. Mereka mungkin menjadi tidak bersemangat, enggan berusaha dengan lebih lagi, hingga akhirnya jadi sungguhan kesulitan mendapat kerja.

Pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya sesungguhnya sangat berbahaya dan bisa membuat orang lain menyerah dalam mengerjakan setiap hal dalam hidupnya.

Kyle Idleman, dalam bukunya yang berjudul Don’t Give Up mengatakan bahwa dalam kehidupan, kita sering sekali diperhadapkan dengan berbagai kebohongan. Karena kita mempercayai kebohongan itu, maka kita pun menjadi hidup sesuai dengan kebohongan tersebut. Mungkin bukan masalah besar jika kita menghabiskan waktu kita dengan kebohongan yang terbilang tidak serius, misalnya: jangan potong kuku di malam hari. Tetapi, bagaimana jika kita diperhadapkan dengan kebohongan yang lebih serius?

Menurut Kyle Idleman, ada tiga kebohongan yang sering kita percayai dan mari kita pelajari kebenaran Firman Allah yang mampu membebaskan kita dari kebohongan tersebut:

1. Kita tidak punya kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil

Ketika Allah mempercayakan kita sesuatu untuk dikerjakan, maka Dia akan memberikan kita kemampuan untuk mengerjakannya. Misalnya: kita sedang bergumul untuk mengerjakan tugas akhir. Allah mempercayakan kita untuk sampai ke tahap mengerjakan tugas akhir, artinya Dia akan menolong kita untuk mengerjakannya.

Baru-baru ini, aku mendapatkan tanggung jawab yang baru di pekerjaanku. Awalnya aku merasa tidak sanggup, pekerjaan itu menurutku sangat berat untuk aku lakukan, tetapi aku tidak bisa menolak karena itu sudah keputusan dari pimpinan di tempat kerjaku. Aku berdoa dan bergumul sama Tuhan. Dalam saat teduhku, Allah mengingatkanku dari Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Pagi itu aku diingatkan, keperluanku bukan hanya soal uang, makan, minum atau kebutuhan jasmani lainnya. Keperluan disini juga termasuk kemampuan yang akan diberikan Tuhan agar aku dimampukan mengerjakan tanggung jawab yang baru dipercayakan kepadaku.

Bersama Tuhan, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan segala sesuatu yang perlu kita kerjakan.

2. Kita bisa memperbaikinya sendiri

Bagian ini berlawanan dengan poin yang pertama, tetapi ini pun masih sebuah bentuk kebohongan. Kita sering beranggapan bahwa kita bisa menyelesaikan sendiri setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kita merasa tidak perlu memerlukan bantuan orang lain. Kita berusaha menyembunyikan segala kelemahan dan kekurangan kita. Padahal secara tidak langsung selain sedang melakukan kebohongan, kita juga sedang melakukan kesombongan. Merasa tidak memerlukan Tuhan atau orang lain. Kondisi ini pun bisa menyebabkan kita menjadi menganggap enteng setiap masalah yang kita hadapi, merampas keintiman dalam hubungan kita dengan orang lain, dan menjadikan kita seperti munafik, karena tidak membiarkan orang lain tahu kelemahan kita dan ini merupakan suatu hal yang sangat melelahkan.

Tidak semua hal tentunya perlu kita sampaikan kepada orang lain. Yang utama yang perlu kita lakukan adalah bergumul bersama Allah lewat doa dan Firman setiap hari. Jika Allah mengarahkan kita untuk meminta bantuan orang lain, kita melakukannya. Namun pada kenyataannya, kita juga sering gagal. Kita lebih sering menyimpan sendiri atau buru-buru mencari pertolongan kepada orang lain. Kita lupa untuk terlebih dahulu bergumul kepada Allah.

3. Kita pantas bahagia

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29).

Keadaan yang sulit, kondisi yang tidak kita inginkan, seringkali membuat kita merasa bahwa Tuhan sedang tidak berpihak kepada kita. Tidak jarang kita bahkan menyalahkan Tuhan untuk setiap kesulitan atau penderitaan yang kita alami.

Tuhan ingin kita bahagia, tetapi kebahagiaan yang berasal dari mengejar dan mengenal Dia. Sayangnya, kita sering memandang Tuhan sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dalam versi kita sendiri. Kita tidak memiliki Tuhan agar Dia bisa memberi kita berkat supaya kita bahagia. Kita memiliki Tuhan, dan Dia adalah kebahagiaan sejati itu.

Bahkan seringkali kesulitan dan penderitaan kita alami tujuannya adalah untuk mengenal Allah, supaya kita menemukan bahwa hanya Allah saja yang mampu membuat kita bahagia.

Sangat mudah bagi kita untuk mempercayai setiap kebohongan yang disampaikan di tengah kehidupan kita setiap hari. Bahkan kebohongan itu sering membuat kita menjadi memilih untuk menyerah.

Saat ini, aku tidak tahu kebohongan-kebohongan apa yang sudah teman-teman percayai. Jika kita tahu bahwa semua itu adalah kebohongan, maka kita tidak akan mempercayainya. Tetapi, ketika kebohongan-kebohongan itu kita percayai, maka kebohongan-kebohongan itu memiliki kekuatan atas hidup kita. Jika saat ini rasanya kita ingin menyerah, entah itu karena kondisi keluarga, kondisi studi, kondisi pekerjaan atau mungkin kondisi keuangan, mari kita coba tanyakan dalam diri kita, apakah ada kebohongan yang sedang kita genggam. Berdoalah dan minta Tuhan untuk menyatakan kebohongan apapun yang sedang kita hidupi.

Kita berharga di mata Tuhan, buktinya Dia sudah memberikan Putra-Nya Yesus Kristus untuk disalibkan menebus seluruh dosa-dosa kita. Jangan biarkan kebohongan-kebohongan yang ada di dunia ini membuat kita menjauh dari Tuhan.

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya
Dia ciptakan kau seturut gambar-Nya
Sungguh terlalu indah kau bagi Dia

Dia berikan kasih-Nya bagi kita
Dia telah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga

Buluh yang terkulai takkan dipatahkan-Nya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang telah pudar takkan dipadamkan-Nya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya

Baca Juga:

Kemenangan Melintasi Jalur Sunyi

“Kuliah itu kudu di negeri.”
“Ah, anak kota mah manja, mana sanggup jauh dari orang tua”
“Masih fresh graduate, susah cari kerja.”

Pernyataan di atas mungkin kita dengar ketika jalan yang kita pilih berbeda dari pilihan kebanyakan orang. Tapi, di pilihan dan jalan sunyi sekalipun, Tuhan menuntun kita.

Apa Pun Ucapan Syukur yang Bisa Kita Ucapkan, Ucapkanlah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Satu bulan yang lalu, saat aku benar-benar berada pada titik jenuh akibat script software pekerjaanku yang selalu menunjukkan kegagalan, aku mendapatkan pesan dari grup WhatsApp yang menginfokan bahwa bapak dari salah satu kakak seniorku dipanggil Tuhan. Rasa dukaku dengan sekejap mengalihkan rasa jenuhku. Aku mengalami pengalihan rasa ini, karena beberapa bulan terakhir, aku selalu melihat unggahan Instagram story beliau yang menampilkan betapa beliau mengasihi bapaknya. Mungkin beberapa orang menganggap perasaanku ini berlebihan, namun aku yakin bagi kamu yang sangat merasakan kasih dari sosok bapak, pasti kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan.

Kakak seniorku ini sangatlah lemah lembut dan juga baik hati, bahkan kepadaku yang hanya sebatas juniornya. Pernah suatu ketika, Instagram story-nya menunjukkan betapa beliau merindukan kakak kandungnya yang telah dipanggil Tuhan tepat di hari ulang tahunnya yang lalu, 25 Juni 2019, dan saat ini 26 Mei 2020 Tuhan memanggil pula bapak yang dikasihinya.

Minggu-minggu sebelum kepergian bapaknya, beliau mengabadikan video saat beliau ke supermarket bersama almarhum. Hati ini pilu, bukan hanya karena melihat kedekatan kakak ini dengan almarhum, namun juga karena almarhum yang sangat romantis kepada beliau. Keromantisannya ini diwujudkan dalam bentuk kehadiran. Hal yang sepenglihatanku sangat jarang, ketika seorang bapak mau menemani anak perempuannya ke supermarket.

Selain itu, bentuk keromantisan almarhum lainnya yaitu ketika almarhum membantu kakak ini memasak dan juga menemani beliau kerja dari rumah alias work from home. Padahal, pada saat itu kondisi almarhum sudah dalam keadaan sakit, namun itu tidak mengurangi kasih sayang almarhum kepada putrinya.

Instagram story nan indah berubah menjadi story yang menyayat hati. Tepatnya 2 minggu lalu, story beliau menampilkan ruang ICU dengan tulisan “Cepat sembuh ya Pah”. Ruang ICU dan kata-kata cepat sembuh adalah hal yang sensitif untuk kulihat dan kudengar. Aku punya trauma tersendiri dengan dua hal ini. Dua tahun yang lalu, bapakku sakit berhari-hari karena salah satu telapak tangannya bengkak dan bernanah. Mama dan kakakku sudah mengantarkannya ke salah satu rumah sakit dan dokter berkata “tidak apa-apa, tidak ada penyakit yang berat”.

Namun, embusan kabar baik tersebut tidak sesuai dengan realita, bukannya semakin membaik, kondisi bapakku malah semakin memburuk. Sampai pada suatu hari, beliau yang adalah pria teraktif yang kukenal, berubah menjadi seseorang yang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tak tega melihatnya, akhirnya kakak dan mamaku bergegas kembali periksa ke rumah sakit lain dan dokter rumah sakit tersebut berkata bahwa bapakku mengidap penyakit gula dan harus segera dioperasi.

Melihatnya masuk ke ruang operasi hanya melalui sebuah layar gawai, studi yang berat untuk aku tinggalkan, dan jarak yang sulit untuk aku gapai adalah momen yang sangat menyayat hati. Namun pada akhirnya, aku sangat bersyukur kalau Tuhan masih memberi bapakku kesembuhan.

Alih-alih stres karena kejenuhanku mengedit script yang selalu gagal, aku mencoba mengucap syukur dari sisi yang lain, yaitu mengucap syukur ketika Tuhan masih mengizinkan bapakku untuk kembali sehat. Tidak sampai di situ, aku juga sangat bersyukur, keesokan harinya ketika hari masih begitu dini, ketika mungkin di saat para pelayat telah tiada, kakak seniorku masih sempat-sempatnya membagikan firman melalui Instagram story-nya dengan cara menangkap layar renungan harian yang beliau nikmati, walau memang judulnya tetap memilukan, “Mengapa aku? mengapa Tuhan memilihku?”

Ketika aku membaca judul ini, aku pun refleks bertanya kepada Tuhan “Iya ya Tuhan, mengapa beliau yang harus melalui ini? Mengapa harus orang baik yang merasakan penderitaan seberat ini? Adiknya yang memiliki penyakit jiwa, kakaknya yang belum 1 tahun tutup usia, dan sekarang bapaknya lagi yang Engkau panggil”.

Sambil bertanya-tanya, aku tetap mencoba membaca tangkapan layar renungan harian tersebut. Ternyata, Tuhan menguatkan beliau dari kisah Ayub. Ayub yang adalah hamba Allah yang setia dan sangat baik (Ayub 1:8), tetapi yang hidupnya juga amat sangat menderita. Kisah Ayub mengajarkan kalau hidup tidak selalu berdasarkan perumpamaan tabur tuai, menabur baik akan menuai baik, dan sebaliknya. Namun, Ayub mengajari kita bahwa “Iman itu jangan hanya dilihat dari yang terlihat, bukan juga dengan perasaan. Namun, iman adalah meyakini sepenuhnya bahwa tidak ada segala sesuatu pun di luar kendali-Nya, walau kadang tampak tidak adil sekalipun.” Membaca ini aku langsung membatalkan pertanyaanku kepada Tuhan dan mengimani kembali iman yang dimiliki Ayub dari kisah hidupnya.

Aku bersyukur tulisan ini diizinkan kakak seniorku untuk aku bagikan. Beliau sangat senang jikalau dukanya bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Apalagi, jika kita semua mau menguatkan beliau dalam doa. Walau memang mungkin kisah hidup kita belum ada apa-apanya dibanding kisah Ayub dan kisah beliau, tetapi aku yakin setiap dari kita pasti pernah berada di posisi bertanya-tanya seperti itu, “Mengapa harus aku?”, baik itu di saat sedih atau di saat jenuh. Namun, lewat kisah Ayub dan juga kisah kakak seniorku, aku berharap ini bisa menjadi kekuatan bagi kita untuk sama-sama berjuang keluar dari rasa kesedihan atau kejenuhan, dengan cara terus beriman bahwa segala sesuatu tidak ada di luar kendali-Nya dan juga mengucap syukur dengan keberadaan orang-orang yang kita kasihi.

Apa pun ucapan syukur yang bisa kita ucapkan, ucapkanlah.

Baca Juga:

Lahirnya Kedamaian Karena Pengampunan

Aku dan temanku mengalami salah paham. Akibatnya, relasi kami sempat mendingin. Jujur, saat itu aku ingin menghindar saja, tapi Tuhan tak ingin aku merespons masalah ini dengan egois.

Belajar Menantikan Allah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Menunggu seringkali terasa berat untuk dilakukan. Menunggu itu sangat membosankan. Menunggu seakan tidak ada kepastian yang akan terjadi. Tetapi mau tidak mau, menunggu adalah pilihan yang selalu diperhadapkan dalam kehidupan kita setiap hari. Saat ini aku harus menunggu tangan kananku sembuh untuk bisa melanjutkan kompetisi novel yang sedang aku ikuti, pun aku harus menunggu kapan pandemi Covid-19 akan berakhir sehingga aku bisa pulang ke kampung halaman. Setiap hari kita dituntut untuk belajar menunggu.

Mungkin hal-hal menunggu yang aku sampaikan ini masih terbilang remeh. Lalu bagaimana jika kita harus menunggu hal-hal yang lebih serius? Kita yang masih lajang dan rindu berpasangan menunggu Allah mempersiapkan pernikahan buat kita; pasangan suami istri yang sudah menikah lama rindu membesarkan keturunan; atau mungkin juga ada di antara kita yang sedang menanti pekerjaan, namun tidak kunjung memperolehnya. Tiap-tiap kita, dalam setiap kehidupan yang kita jalani, harus belajar untuk menunggu.

Selama liburan ini, aku sedang menikmati buku “Jika Anda Ingin Berjalan Di Atas Air Keluarlah Dari Perahu” yang ditulis oleh John Ortberg. Dalam bagian buku yang dia tuliskan, ada satu bagian yang membahas tentang MENUNGGU.

John menulis, menunggu bisa jadi merupakan hal paling sulit yang harus kita lakukan. Sungguh mengecewakan ketika kita berpaling kepada Alkitab dan mendapati bahwa Allah sendiri, yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, terus berkata kepada umat-Nya: Tunggu!

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. (Mazmur 37:7)

Nantikanlah Tuhan dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan (Mazmur 37:34)

Allah mendatangi Abraham ketika ia berumur 75 tahun dan mengatakan bahwa ia akan menjadi seorang ayah, leluhur dari suatu bangsa yang besar. Berapa lama sebelum janji itu digenapi? 24 tahun Abraham harus menunggu.

Allah memberi tahu bangsa Israel bahwa mereka akan meninggalkan perbudakan di Mesir dan menjadi suatu bangsa. Namun bangsa itu harus menunggu 400 tahun.

Allah memberi tahu Musa bahwa Dia akan menuntun umat-Nya ke Tanah Perjanjian. Namun mereka harus menunggu selama 40 tahun di padang gurun.

Sebanyak 43 kali dalam Perjanjian lama, orang diperintahkan, “Nantikanlah. Nantikanlah Tuhan.” Lalu pertanyaannya, mengapa Allah membuat kita menunggu? Jika Dia dapat melakukan sesuatu, mengapa Dia tidak memberikan kelegaan dan jawaban sekarang? Salah satu alasannya—meminjam penjelasan dari Bet Patterson—apa yang Allah kerjakan di dalam diri kita saat menunggu itu sama pentingnya dengan apa yang kita tunggu.

Menantikan Tuhan bukan berarti menanti dengan pasif, artinya bukan tidak melakukan apa-apa. Kadang kita mengatakan kalau kita sedang menantikan Tuhan sebagai dalih untuk tidak memikul tanggung jawab atau mengambil tindakan yang diperlukan. Menantikan Tuhan itu berarti terus melekat kepada Allah dengan penuh keyakinan, berdisiplin, penuh pengharapan, aktif dan kadang-kadang menyakitkan. Paulus mengatakan bahwa selama kita menunggu Allah memulihkan segala sesuatu, kita mengalami penderitaan. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita dan oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5). Menunggu itu bukan hanya sesuatu yang kita lakukan sebelum kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Menunggu adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan Allah.

John Ortberg menjelaskan ada tiga sikap yang harus kita lakukan ketika menantikan Tuhan:

  1. Kepercayaan yang sabar
  2. Petrus menulis dalam 2 Petrus 3:8-9, “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

    Terlalu sering kita menginginkan berkat-berkat dari Allah, namun kita tidak menginginkan penentuan waktu-Nya. Kita lupa bahwa pekerjaan-Nya di dalam diri kita saat kita menunggu itu sama pentingnya dengan apa yang kita pikir sedang kita nanti-nantikan. Mungkin saat ini kita memiliki impian tentang pencapaian tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan. Apa yang kita harapkan tidak terjadi. Kita tidak tahu penyebabnya, tetapi kegagalan itu menyakitkan diri kita. Kita menjadi tergoda untuk berusaha memaksakannya, kita mendesak, memanipulasi atau menyusun siasat untuk memperoleh apa yang kita inginkan itu.

    Saat menunggu, tugas kita adalah bukan meraih dengan penuh kecemasan. Menunggu memerlukan kepercayaan yang sabar.

  3. Kerendahan hati yang penuh keyakinan
  4. Dalam Yesaya 32:17, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya.”

    Dari ayat ini buah dari kebenaran menghasilkan dua kualitas karakter. Pertama adalah keyakinan. Bukan keyakinan terhadap diri sendiri, melainkan terhadap Dia yang menopang kita. Yang kedua adalah ketenangan, dengan rendah hati kita mengakui keterbatasan kita.

    Menunggu itu perlu dilakukan dengan rendah hati, kita membutuhkan anugerah Tuhan untuk melakukannya. Sembari menunggu, kita dapat berdoa, sebab doa dapat menolong kita mengatasi perasaan khawatir.

  5. Menantikan Tuhan memerlukan pengharapan yang tidak terpadamkan
  6. Dalam Roma 8:24-25, “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.”

    Pengharapan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah bentuk penantian. Bila saat ini kita sedang menantikan Allah, jika kita menaati Allah tetapi belum melihat hasil yang kita harapkan, kita perlu tahu di Alkitab ada janji indah yang berkaitan dengan penantian ini:

    “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:30-31).

    Teman-teman, aku tidak tahu apa yang menjadi pergumulan kalian saat ini. Tetapi kita dituntut untuk belajar menantikan Allah. Belajar menantikan Allah yang akan menjawab seturut dengan cara dan waktu-Nya. Mari menikmati pembentukan dari Allah dalam masa-masa penantian kita masing-masing.

    “Penundaan kepuasan adalah proses menjadwalkan penderitaan dan kegembiraan hidup sedemikian rupa guna meningkatkan kegembiraan” (M. Scott Peck).

Baca Juga:

Bosan Tidak Selalu Jadi Pertanda untuk Berhenti

“Ahk, aku capek. Bosan! Daripada kukerjakan tapi tidak dari hati” belaku dengan berbagai alasan pembenaran atas keputusanku.

Tapi, sungguhkah solusi dari bosan dan lelah hanyalah menyerah?

Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Setiap hari dalam hidup kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Dimulai saat bangun tidur, kita punya pilihan mau tetap di kasur atau lanjut beraktivitas. Dari pilihan yang sederhana sampai rumit, hidup selalu dipenuhi dengan pilihan.

Jika pilihannya tampak sederhana, kita mungkin menanggapinya dengan santai. Tapi, ketika pilihan yang diambil berhubungan dengan masa depan, kita pun gusar. Bingung menentukan mana yang paling tepat. Salah satu pilihan yang menurutku sulit diambil adalah ketika aku melewati masa-masa pasca kuliah. Di mana aku akan tinggal setelah lulus? Lanjut studi apa kerja? Apakah aku harus pindah ke kota yang sama dengan pacarku? Dan sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan kita, yang berpengaruh cukup besar adalah aspek emosi. Kalau terasa benar, lakukan saja. Kalau rasanya tidak enak, pasti tidak benar. Pikiran kita menyederhanakan demikian. Tapi, kita lupa, bahwa terkadang emosi dan keinginan hati kita seringkali menipu kita sebagaimana Alkitab berkata dalam Yeremia 17:9, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”

Ketika emosi dan keinginan hati jadi faktor penggerak utama, bisa jadi keputusan yang kita ambil jauh dari apa yang Allah inginkan. Ada satu buku yang pernah kubaca, judulnya Gumulan Hidup Pascakuliah. Buku ini ditulis oleh Erica Young Reitz, pemimpin senior EXIT, sebuah program setahun yang bertujuan mempersiapkan alumni baru masuk ke fase hidup berikutnya. Dalam bukunya, sang penulis mengajak kita mengevaluasi bahwasanya ada pertimbangan dalam kita membuat keputusan.

Menyelaraskan diri dengan Allah

Keputusan yang bijak dan menghormati Allah hanya bisa diambil jika kita punya jalinan hubungan yang dekat dengan-Nya. Relasi yang dekat dengan-Nya akan menolong kita untuk mendengar dan melihat-Nya dalam keputusan yang akan kita ambil. Bagaimana caranya?

1. Carilah informasi yang detail

Sebelum membuat keputusan yang besar, penting bagi kita untuk memahami sebanyak mungkin hal yang ingin kita putuskan. Semisal, jika kita ingin mengambil pekerjaan di tempat yang baru atau di luar kampung halaman kita, maka kita bisa mencari informasi besarnya biaya hidup, pilihan transportasi dan pasar kerjanya. Allah mengaruniakan diri kita kemampuan otak yang dapat mengumpulkan informasi sehingga ketika kita diperhadapkan dengan dua pilihan yang tampaknya baik, pengumpulan informasi bisa menjadi langkah kunci dalam membantu kita memutuskan mana yang akan dipilih.

2. Carilah nasihat kepada orang yang kompeten

Amsal 15:22 berkata, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak” (Amsal 15:22).

Minggu lalu, aku bergumul mau membeli HP atau laptop. Sebenarnya aku ingin membeli HP saja karena HPku sudah jadul dan susah digunakan. Tapi, aku juga butuh laptop, apalagi sekarang pekerjaan harus dilakukan dari rumah, dan kalau ada laptop, aku bisa lebih mudah menulis. Dua benda ini terlihat sama-sama penting, tapi kalau harus beli keduanya, aku tidak punya cukup uang.

Aku bergumul. Aku bertanya pada Tuhan benda manakah yang paling tepat kubeli. Lalu aku berdiskusi dengan pacarku karena dia adalah salah satu orang terdekatku yang mampu mengatur keuangan pribadinya dengan baik. Dia pun mengerti kesulitanku, sehingga dia menyarankanku untuk membeli laptop saja. Mungkin bagi beberapa orang perkara seperti ini adalah hal biasa yang tak perlu ditanggapi serius, tapi bagiku menggumuli ini sangatlah penting. Uang yang Tuhan percayakan kepadaku harus kugunakan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam mengambil keputusan, kita perlu nasihat atau masukan dari orang lain yang kita anggap kompeten, yang punya pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menolong kita. Orang itu bisa berupa orang tua, kakak rohani, senior kita, atau pun teman kita. Namun perlu kita perhatikan: meminta nasihat bukan berarti menjadikan merekalah yang mengambil keputusan bagi kita. Bayangkan jika kita meminta nasihat dari dua atau tiga orang yang masing-masing punya nasihat berbeda. Jika harus menjadikan nasihat mereka mentah-mentah sebagai keputusan kita, pastinya kita akan bingung. Olahlah segala masukan yang telah kita terima, doakanlah, hingga akhirnya kita mengambil keputusan.

Setelah keputusan diambil, serahkanlah kembali keputusan itu kepada Allah. Kalaupun keputusan yang kita ambil tak berjalan seperti yang kita rencanakan, ingatlah bahwa segala sesuatu terjadi dalam kendali Tuhan.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).

Kegagalan mendengar suara-Nya saat kita menginginkannya adalah karena kita sebenarnya tidak ingin mendengarkan Dia. Kita menginginkannya hanya bila kita berpikir kita membutuhkannya – Dallas Willard, Hearing God.

Baca Juga:

Perjumpaan dengan-Nya, Mengubah Segalanya

Perjumpaan dengan Kristus sungguh-sungguh dapat mengubahkan siapa saja. Aku tidak berkata, setelah aku mengenalnya, aku lalu menjadi sempurna. Sama sekali tidak. Rasul Paulus pun tidak sempurna, apalagi aku. Aku berulang kali jatuh dan gagal. Tetapi, aku bisa bangkit.

Resolusiku: Belajar Mengapresiasi Diri

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Novita, terima kasih sudah tampil perkasa di dalam menjalani dan mengakhiri tahun 2019.
Terima kasih boleh tetap kuat dan teguh dalam menjalani setiap peran yang Dia percayakan.
Terima kasih sudah mau berjuang melawan kebobrokan-kebobrokanmu yang terus terulang.
Terima kasih Novita, sampai bertemu di tahun 2020.
Tetaplah menjadi Novita yang mau berjuang!

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang sering aku katakan kepada diriku akhir-akhir ini. Mungkin bagi beberapa orang pernyataan di atas seperti sedang membanggakan diri sendiri, merasa bahwa apa yang telah terjadi di 2019 atas hidupku karena kekuatanku sendiri.

Tapi, tentu bukan itu yang dimaksud. Menyatakan hal-hal di atas tujuannya bukan untuk membanggakan diriku yang ada bisa tiba sampai di titik ini. Bagiku sendiri ungkapan di atas tentunya bukan hal yang mudah untuk aku katakan di awal. Melihat perjalanan selama 2019, banyak hal yang telah gagal aku lakukan untuk menyenangkan hati-Nya, banyak pergumulan yang aku coba selesaikan sendiri, banyak dosa yang aku toleransi. Sungguh sebenarnya di tahun 2019 seperti tahun yang sangat berat bagiku.

Aku berani untuk menyatakan hal-hal di atas ketika Tuhan menyapaku lewat saat teduhku di suatu pagi.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Di buku renungan itu disampaikan, mungkin saat ini aku merasa hidupku penuh cela, lapuk, tua, atau tidak berguna lagi. Tapi, Allah tetap memandang diriku bernilai. Sang Pencipta alam semesta ini menginginkanku—bukan karena pikiran, tubuh, pakaian, pencapaian, kepandaian, atau kepribadianku, melainkan karena diriku sendiri. Dia rela menempuh apa pun dan membayar harga berapa pun untuk mendapatkanku.

Tuhan sungguh telah melakukannya. Dari surga, Dia datang ke dunia untuk menebusku dengan darah-Nya sendiri (Roma 5:6,8-9). Sedemikian besar keinginan-Nya untuk memilikiku. Aku sungguh berharga di mata-Nya, dan Dia mengasihiku.

Saat teduhku pagi itu menyapaku sangat tajam dan meneguhkan aku kembali, bahwa aku sangat berharga bagi-Nya. Mungkin saat itu banyak hal yang aku lakukan mendukakan hati-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan aku begitu saja. Dia tetap menganggap aku berharga di mata-Nya, Dia tetap mengasihiku. Itulah yang membuat aku pun harus mengasihi diriku.

Saat itu hal yang aku pilih untuk mengasihi diriku adalah dengan mengatakan hal-hal di awal tadi. Bagiku, dengan menyatakannya aku sedang mengapresiasi diriku sendiri. Sederhana dan menguatkan.

Dengan mengapresiasi diriku yang telah dibayar lunas dan berharga di mata-Nya, itu memudahkanku untuk mengucap syukur kepada Allah atas orang-orang yang sudah hadir di dalam kehidupanku.

Orang-orang yang hadir di dalam kehidupanku tentu sangat beragam dan mereka pun sama berharganya di mata Allah. Apa pun latar belakang, kondisi, karakter mereka, mereka punya porsinya masing-masing memberi peran di dalam hidupku. Sehingga ketika aku pun dikecewakan oleh mereka, aku juga harus sadar bahwa aku pun pernah mengecewakan mereka bahkan Allah sendiri.

Sahabat, memulai tahun yang baru ini, sudahkah kamu mengapresiasi dirimu yang sudah dimampukan Tuhan untuk tangguh melewati tahun yang telah berlalu? Atau kamu sedang sibuk menyalahkan dirimu untuk kesalahan-kesalahan yang telah kamu lakukan di tahun yang lalu?

Mari bersama memilih untuk mengapresiasi diri sendiri sebagai rasa ungkapan syukur kita kepada Allah sehingga kita juga dimampukan untuk mengapresiasi orang disekitar kita.

“Engkau berharga di mata-Ku, Aku menghargai dan mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a, BIS).

Baca Juga:

Bukan Resolusi Kembang Api

Semangat memulai sesuatu yang baru sering mirip kembang api. Heboh dan meriah, tapi cuma sesaat. Lantas, bagaimana supaya resolusi tahun baru bisa terlaksana?

Allah Imanuel, Menyertaiku dan Masa Depanku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Aku bersama rekan sekerjaku sedang berkomitmen untuk membaca Alkitab secara keseluruhan. Di suatu sore, aku melanjutkan pembacaan Alkitabku di Keluaran 33.

Keluaran 33 bercerita tentang Musa yang memohon penyertaan Tuhan untuk berjalan bersama-sama bangsa Israel di padang gurun menuju tanah Kanaan. Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk. Meskipun Tuhan telah menunjukkan banyak mukjizat dan memelihara mereka, bangsa Israel tetap saja bersungut-sungut. Bahkan, di Keluaran 32 tertulis bahwa bangsa Israel memalingkan diri dari Tuhan dengan membuat anak lembu emas dan sujud menyembah kepadanya.

Akibat perbuatan mereka, Tuhan tidak berkenan untuk menyertai bangsa Israel. Namun, mendengar ancaman dari Tuhan, bangsa Israel pun berkabung dan Musa memohon agar kiranya Tuhan tetap berkenan menyertai mereka. Ada bagian yang menarik di pasal ini. Di pasal 33 ayat 15, Musa berkata, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Musa memahami betul bahwa kehadiran Tuhan di tengah bangsa Israel adalah yang terpenting, hingga dia pun memohon agar kiranya Tuhan sudi beserta dengan mereka. Tanpa kehadiran Tuhan, mustahil bagi bangsa Israel untuk lari dari kejaran kereta Firaun dan juga menghadapi tantangan-tantangan lainnya.

Keluaran 33 mengingatkanku kembali akan perjalanan hidupku sepanjang tahun ini. Ada banyak hal yang aku syukuri, tapi ada juga hal-hal yang kupertanyakan. Misalnya, tahun ini aku dinyatakan lulus untuk melanjutkan pendidikanku setelah sekian lama aku mendoakannya. Namun, di tahun ini juga aku banyak dikecewakan oleh orang-orang yang aku kasihi. Aku pun bertanya, apakah yang akan terjadi di tahun depan? Semua bisa berubah tiba-tiba dan aku ragu untuk menghadapi tahun depan.

Aku pribadi adalah orang yang sistematis, aku punya perencanaan dalam segala hal. Di akhir tahun seperti ini, aku membuat berbagai perencanaan untuk ke depannya, tetapi aku malah jadi sulit menikmati kehadiran Tuhan dalam tiap perencanaan yang kubuat. Aku sibuk memikirkan bagaimana caranya supaya apa yang kurencanakan terwujud tanpa mempercayai bahwa Tuhan akan menyertai perjalananku. Agaknya, aku seperti bangsa Israel yang meragukan penyertaan Tuhan, padahal dalam perjalananku di tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya, Tuhan telah menyertaiku.

Jika ada di antara kamu yang juga mengalami sepertiku, marilah kita mengingat kembali bahwa meskipun apa yang kita inginkan tidak berjalan seturut kemauan kita, Tuhan selalu menyertai perjalanan kita. Seperti bangsa Israel di padang gurun yang diberkati Tuhan dengan burung puyuh, roti mana, tiang api, dan tiang awan, Tuhan pun dalam pemeliharaan-Nya yang sempurna akan menyediakan segala yang kita butuhkan.

Pemeliharaan Tuhan tidak selalu terwujud lewat hal-hal yang spektakuler. Ketika kita diberi kesehatan, bisa menikmati pekerjaan dan pelayanan, serta dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang mendukung, itu adalah salah satu dari sekian banyak bukti pemeliharaan-Nya buat kita.

Di penghujung tahun ini, seiring kita juga menyiapkan diri untuk menyambut Natal, kiranya kita tidak hanya sibuk oleh hal-hal lahiriah, tetapi juga menyiapkan hati kita agar Sang Juruselamat yang kita rayakan kelahiran-Nya, lahir dan memerintah pula dalam hati kita. Sang Juruselamat tidak hanya hadir saat bulan Desember, Dia senantiasa hadir menyertai kita. Nabi Yesaya dalam nubuatannya pun mengatakan bahwa Juruselamat itu akan dinamakan Imanuel, yang berarti Allah selalu menyertai kita.

Kesetiaan Allah sebagaimana ditunjukkan-Nya kepada bangsa Israel tidak pernah berubah sampai kepada hari ini, Dia pun menyertai kita senantiasa.

Menutup tulisan ini, ada sepenggal lirik lagu yang ingin kubagikan:

Pardon for sin and a peace that endureth,
Thine own dear presence to cheer and to guide;
Strength for today and bright hope for tomorrow,
Blessings all mine, with ten thousand beside!
“Great is Thy faithfulness!”

Lirik lagu ini adalah doaku untuk bersyukur atas semua hal yang terjadi di tahun ini, sekaligus juga menjadi pengharapanku untuk menjalani tahun yang baru.

Kepada sahabat-sahabatku, juga semua pembaca, selamat menyambut Sang Juruselamat dengan hati yang terus mengimani Dia, Imanuel.

Baca Juga:

Mengapa Kita Perlu Bersyukur atas Peristiwa Natal?

Menjelang Natal, tak jarang aku mendengar khotbah-khotbah diwartakan dari atas mimbar, “Kita harus bersyukur atas peristiwa Natal.” Sejenak aku berpikir, mengapa kita perlu bersyukur atas Natal? Adakah hal istimewa yang sungguh menjadikan Natal sebagai peristiwa yang patut disyukuri?

Pelayanan, Sarana Aku Bertumbuh di dalam Tuhan

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Di awal bulan September lalu, aku menerima pesan WhatsApp dari salah satu kakak yang aku belum pernah bertemu dan mengobrol dengannya. “Hai Novita, aku Maria. Apakah ada free time untuk aku izin sharing pelayanan samamu?”, begitulah isi pesan WhatsApp darinya.

Pesan tersebut aku balas keesokan harinya dan singkat cerita tibalah kami di topik pembicaraan sharing pelayanan apa yang dimaksud oleh kakak tersebut. Dia mengajakku berdoa untuk ambil bagian dalam pelayanan perayaan Natal sebagai sekretaris-bendahara. Pelayanan ini adalah pelayanan yang sudah kunikmati sejak aku berada di kampus.

“Aku doakan terlebih dahulu ya, kak”, jawabku.

“Apakah Senin ini boleh kutanyakan konfirmasinya dek?” tanyanya lagi.

Empat hari kemudian, tepat di hari Senin setelah aku mendoakannya, aku menjawab bersedia untuk menjadi sekretaris-bendahara dalam kepanitiaan Natal tersebut.

Akan tetapi, dua hari setelah aku menjawab bersedia menjadi sekretaris-bendahara, kakak tersebut menghubungiku kembali dan menyampaikan ingin mensharingkan sesuatu hal lagi. Pikirku pasti kakak itu ingin sharing hal-hal terkait dalam jobdesc-ku sebagai sekretaris-bendahara. Tetapi apa yang aku pikirkan tidak tepat, ternyata kakak tersebut ingin mengajakku berdoa kembali. Dia menawariku untuk menjadi ketua. Hal tersebut dikarenakan orang yang sudah disharingkan sebelumnya menjadi ketua belum bersedia karena beberapa hal. Akan tetapi walaupun begitu, dia tetap ambil bagian dalam kepanitiaan tetapi tidak sebagai ketua.

“Ha, kok aku sih kak? Aku baru loh disini, belum paham sepenuhnya”, jawabanku via telepon sambil refleks memukuli bantalku saat itu karena terkejut.

Setelah menjelaskan dan berbagi alasan mengapa kakak itu mengajakku mendoakan sebagai ketua serta meyakinkanku untuk ambil waktu dahulu sebelum memberi jawaban, akhirnya aku menjawab “Yaudah kak, kudoakanlah dulu ya”.

Aku teringat sebuah pesan dari seorang alumni. Ketika mendoakan pelayanan, bukan lagi mendoakan apakah pelayanan ini aku terima atau sebaliknya, melainkan memohon peneguhan dari-Nya untuk dimampukan mengerjakan pelayanan tersebut. Hal yang sama pulalah yang aku lakukan saat berdoa kepada Tuhan. Jika memang pelayanan ini harus kukerjakan, kiranya Dia meneguhkan aku dan memampukan untuk mengerjakannya. Tidak banyak waktuku saat itu untuk berdoa, karena aku harus segera memberi jawaban agar kami bisa memulai rapat perdana mengingat waktu yang tidak banyak lagi. Sewaktu bergumul dalam dua hari tersebut aku banyak diingatkan oleh Tuhan.

Pertama, aku mengingat kisah empat tahun yang lalu, aku juga diajak untuk berdoa sebagai koordinator pelayanan di kampusku. Jujur saja waktu itu aku mendoakan untuk ambil bagian dalam salah satu komisi yang sudah lama aku ingin ambil bagian di dalamnya, bahkan sejak periode awal aku menjadi pengurus di kampus. Tidak pernah aku berdoa bahkan berpikiran untuk menjadi koordinator, karena bagiku itu sangat berat. Tetapi setelah sharing dengan kakak kelompokku, teman-teman pelayanan dan alumni yang mendampingi saat itu, aku mencoba untuk mendoakannya dan saat itu meyakini Tuhan memanggilku untuk menjadi gembala di dalam kepengurusan pelayanan di kampus. Sebagai orang yang tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak aku takut menghadapi karakter teman-teman pengurus lainnya, aku juga takut jika studiku nanti terkendala. Namun, oleh anugerah-Nya aku dimampukan untuk melewati itu semua dan menyelesaikan kepengurusan dengan banyak pembentukan yang Dia berikan yang membuat aku bertumbuh dalam banyak hal, terutama karakter.

Dan yang kedua, aku beserta adik-adik kelompok kecilku sedang membahas tentang topik “melayani” dari bahan PA yang kami gunakan. Kami sama-sama belajar, bahwa melayani merupakan hak istimewa yang dianugerahkan Allah kepada kita anak-ana-kNya, bahkan melayani merupakan salah satu bentuk ungkapan syukur atas kasih Allah kepada kita. (Memulai Hidup Baru, hal 40).

Aku sungguh bersyukur ketika diingatkan akan kedua hal tersebut. Aku ditajamkan kembali bahwa ketika aku diberi kesempatan untuk melayani-Nya itu adalah hak yang sangat istimewa. Sebagaimana Dia telah menolongku empat tahun yang lalu, pastilah Dia yang kulayani yang akan kembali memampukanku. Tuhan tentu memampukanku untuk bayar harga di dalam banyak hal, misalnya waktu. Sebagai alumni yang bekerja dan kadangkala sesampainya di kos sudah lelah, weekend adalah momen yang tepat untuk istirahat tetapi mungkin ketika melayani weekend tersebut akan digunakan untuk mengerjakan pelayanan ini.

Setelah berdoa, aku kembali menghubungi kakak itu dan menyampaikan bahwa aku bersedia menerima pelayanan sebagai ketua. Sampai saat ini, aku masih takut dan tidak tahu pembentukan seperti apa yang akan terjadi dalam hidupku lewat kepanitiaan ini. Tetapi setiap mendoakannya, aku selalu diingatkan ketika aku bergantung dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan bahkan dalam hal sekecil apapun dalam kepanitiaan tersebut, Tuhan menyertai dan memampukan.

Persiapan Natal yang akan aku kerjakan bersama teman-temanku adalah persiapan menyambut Yesus, Sang Bayi Natal yang hadir ke dunia untuk melayaniku, melayani teman-teman panitia, melayanimu, dan melayani kita semua umat manusia. Haruskah kita masih sulit memberi diri dalam melayani Sang Juruselamat Dunia?.

Tuhan memberikan kita bermacam-macam sarana untuk bertumbuh salah satunya adalah Pelayanan (Eugene Peterson)

Baca Juga:

Kamu Single? Fokuskan Dirimu pada 3 Hal Ini!

Apakah kamu lelah ditanya-tanya tentang status hubunganmu? Atau, apakah hubungan yang kamu pikir akan langgeng, nyatanya malah berakhir? Apakah kamu menghabiskan liburanmu melihat orang-orang menikah, sehingga kamu bertanya pada Tuhan, “Mengapa aku masih single?”

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

Setelah masuk ke dunia kerja selama lebih kurang tiga tahun, pertanyaan itu tidak asing buatku. Kadang aku merasa kalau aku seharusnya bisa mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada yang aku kerjakan saat ini. Ketika aku menceritakan pemikiran ini kepada temanku, rupanya mereka juga memikirkan hal yang sama.

Aku pernah berpikir kalau aku baru bisa berdampak, atau melakukan hal-hal besar jika aku sudah memiliki posisi atau jabatan yang tinggi, entah itu aku menjadi kepala divisi, manajer, atau direktur.

Tetapi, apakah benar selalu begitu?

Sebagai seorang yang mengurusi sumber daya manusia di tempat kerjaku, kadang aku merasa belum melakukan hal-hal yang berarti. Tidak heroik, pun dramatis. Tetapi, setelah kurenungkan dengan detail, apa yang kukerjakan sejatinya menolong orang lain. Semisal ketika aku mengerjakan perihal surat menyurat, aktivitas ini tampaknya sederhana, tetapi ketika surat-surat itu tidak ada yang membuat, teman-temanku yang lain bisa-bisa tidak dapat melakukan pekerjaannya. Kadang aku berpikir pekerjaan itu hanya tentang diriku, aku lupa bahwa di balik aktivitasku, aku sedang menolong orang lain.

Saat menulis artikel ini, aku jadi teringat senyuman dari mereka yang menyampaikan terima kasih dengan sukacita. Pengalamanku, mungkin juga pengalamanmu di dunia kerja mungkin belum banyak. Tetapi, itu bukanlah alasan untuk kita berkecil hati. Aku merasakan pimpinan Tuhan dalam tiap perkara, dari yang kecil hingga Dia menambahkan perkara-perkara yang lebih besar untuk kita kerjakan kelak. Mungkin buah dari pekerjaan yang kita lakukan sekarang ini belum terlihat, tetapi jika kita dengan setia mengerjakannya, Tuhan tentu akan menyatakan hal-hal yang membuat kita bersyukur kepada-Nya.

Mungkin saat ini pertanyaan yang harus kita ajukan setiap hari usai bekerja adalah apakah aku sudah melakukan yang terbaik hari ini dengan posisi yang dipercayakan kepadaku?

Sehingga kita juga bisa belajar tidak hanya mengasihi pekerjaan kita tetapi menghargai orang-orang yang ada di pekerjaan kita apapun posisi mereka, terutama mengasihi Tuhan yang telah memercayakan pekerjaan itu kepada kita.

Arie Saptaji dalam tulisannya yang berjudul “Di Balik yang Biasa-biasa Saja” menulis: “Tidak banyak dari kita yang berkesempatan untuk berkhotbah di depan ribuan orang. Tidak banyak yang menjadi misionaris secara intensif melayani daa mengubah suatu suku bangsa. Tidak banyak yang duduk dalam pemerintahan, yang bisa mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang. Tidak banyak yang menjadi selebritas yang dielu-elukan penggemar. Kehidupan kita begitu biasa. Tidak banyak ledakan dramatis. Tidak heroik. Dan, kalau mau lebih jujur, membosankan.”

Lalu, apakah dengan kehidupan yang sedang kita kerjakan, yang kelihatannya sepele kita tidak sedang melakukan apa-apa? Kita tidak sedang mendatangkan Kerajaan Allah di dunia ini, di pekerjaan kita? Sejatinya tidak ada yang terlihat sepele di hadapan Tuhan, dengan hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, dengan hal-hal rutinitas kita di pekerjaan, Tuhan melihat dan mengapresiasi hal tersebut.

Apapun yang kamu kerjakan saat ini, kamu punya peran yang sangat besar. Lakukanlah yang terbaik.

Kalimat di atas sering kurenungkan dan kutempel di komputerku, membuatku terus ditegur ketika aku mulai meragukan pekerjaanku.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya (Kolose 3:23-24).

Baca Juga:

Menegur dengan Maksud Baik

Menegur ataupun mengatakan kebenaran seringkali menjadi dilema bagi tiap orang, termasuk orang percaya. Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan?