Posts

Tuhanlah Sumber Kekuatan, Sebuah Surat Dariku yang Pernah Kehilangan

Oleh Nia Andrei, Sampit

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan Yesus, sekitar satu bulan yang lalu aku menuliskan kesaksian yang berjudul “Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu”. Di tulisan itu aku menceritakan momen-momen ketika Tuhan akhirnya memanggil pulang suamiku. Dan di tulisan ini, aku ingin bercerita kembali tentang kebaikan Tuhan, terkhusus setelah kehilangan berat yang kulalui.

Sebelum dan setelah menikah, aku dan suamiku melayani bersama-sama di gereja. Dia melayani sebagai pemain musik, sedangkan aku sebagai singer. Sempat beberapa kali kami mendapatkan jadwal pelayanan bersama. Sungguh suatu sukacita bisa melayani Tuhan dan jemaat-Nya di gereja. Walaupun saat itu kondisi suamiku telah sakit, dan dalam beberapa minggu sekali dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk transfusi darah. Namun, dia tetap semangat untuk pelayanan musik di gereja.

Singkat cerita, ketika Tuhan akhirnya memanggilnya pulang, aku kembali mengingat pesan-pesan berharga yang pernah dia sampaikan kepadaku. “Jangan hidup dalam kekhawatiran, ada Tuhan yang pelihara.” Dia juga memintaku untuk jadi wanita yang kuat, bijak, dan mandiri. Aku tidak perlu menangis karena dia baik-baik saja. Aku sangat percaya bahwa sekarang dia baik-baik saja bersama Bapa di surga, sudah sehat dan tidak lagi merasakan penderitaan di dunia. Pesan-pesan itulah yang selalu kuingat sampai saat ini. Sampai pada saat kehilangan itu terjadi, aku tetap berkomitmen memberikan hidupku untuk melayani Tuhan walaupun tidak lagi bersama-sama dengan suamiku.

Aku melakukan aktivitasku seperti biasa: bekerja dan melayani di gereja. Aku minta kekuatan dari Tuhan sebab aku hanyalah manusia yang terbatas. Aku menyadari bahwa kematian itu pasti akan kita alami, namun di balik itu, aku menyadari pula bahwa kehidupan ini berharga bagi Tuhan. Kita bisa menjalani hari demi hari karena kasih dan penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Mungkin akan ada saatnya ketika kita tiba di satu titik, kita menyadari bahwa hari-hari yang kita jalani tanpa lagi ditemani oleh orang-orang yang kita cintai. Namun, karena kita punya iman kepada Yesus, kita mampu untuk melalui rasa kesepian dan kesendirian.

Berlarut-larut dalam rasa kehilangan, mungkin bagi sebagian kita itu membuat kita tidak lagi bersemangat, tidak nafsu makan, dan tidak berdaya. Namun, aku percaya bahwa Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:16-17 bahwa Dia menjanjikan Penghibur, Penolong, dan memberikan kita damai sejahtera untuk menjalani hari-hari di hidup kita. Tuhan Yesus juga mengingatkan dalam Yesaya 46:4 bahwa “sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Dalam satu buku yang kubaca berjudul Dear God-Season One karya Vonny Evelyn Jingga, terdapat ilustrasi percakapan seperti ini:

God : Kau kecewa pada-Ku karena semuanya Ku-ambil darimu?
Me : Tidak, Tuhan. Segala sesuatu boleh Kau ambil dariku. Asal jangan Kau tinggalkan aku.
God : Aku tahu sesungguhnya Aku tidak mengambil semuanya darimu. Ada satu yang Ku-tinggalkan untukmu.
Me : Apakah itu, Tuhan?
God : Hati-Ku.

Aku percaya, melalui tulisanku ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa Dia berkuasa penuh dalam hidup kita, tetapi Dia juga ingin menyatakan kemuliaan-Nya di hidup kita. Dia ingin hidup kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Meskipun kita mengalami kehilangan yang pedih, kita bisa mempercayai hati-Nya.

Kiranya kehidupan kita sehari-hari dapat berdampak positif dan bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bagaimana Usia 20-an Mengajariku Cara Pandang Baru untuk Menjalin Relasi

Di usia 20-an kita bukan lagi remaja. Relasi dengan orang-orang di sekitar kita perlu dibina dengan cara yang benar.

Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu

Oleh Nia Andrei, Sampit

Kawanku terkasih, tulisan ini adalah cerita singkat dari perjalanan pernikahanku dan suamiku.

Sekitar sebulan lebih setelah pernikahan kami, barulah diketahui bahwa suamiku menderita Leukimia atau kanker darah. Selama beberapa bulan setelahnya, suamiku harus kontrol bolak-balik ke rumah sakit dan transfusi darah.

Karena kondisi sakit kankernya yang membutuhkan perawatan lebih intensif, kami sekeluarga memutuskan untuk melanjutkan perawatannya di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, aku mendapatkan cuti dari kantorku. Aku sengaja tidak menghubungi suamiku. Aku tidak bilang kalau aku akan menyusulnya ke Jakarta. Hari itu, aku tiba-tiba datang ke ruang perawatannya.

Aku membuka tirai ruangannya dan berkata, “Hai..”

Papa mertuaku yang sedang menemaninya di ruangan pun tersenyum ketika aku datang.

Suamiku kaget, lalu bilang, “Hah?!”

“Kamu seneng nggak aku datang?”

“Iya,” jawabnya lirih.

“Tapi kok biasa aja?”

“Memangnya aku harus loncat-loncat di ranjang?” jawabnya begitu.

Aku tertawa dan menimpalinya dengan candaan, “Iya lah, sambil loncat-loncat di bed.”

Waktu melihat keadaannya, aku hampir menangis, tapi aku tetap berusaha tegar di hadapannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis di depan suamiku. Aku melihat lebam besar di pergelangan tangan kanan dan di paha sebelah kirinya. Kuoleskan salep di kedua bagian itu.

Mulai hari itu, aku menginap di RS, menenami dia. Setiap hari sebelum dia tidur, aku mengelus dahinya supaya dia merasa nyaman.

Minggu, 3 Februari 2019

Kegiatanku selama di rumah sakit tiap pagi dan sore adalah mengambil air panas di sudut ruangan. Tiap subuh jam 5, perawat datang untuk mengambil darah suamiku melalui selang cvc yang terpasang di dada kanannya, diukur tekanan darahnya, dan suhu tubuhnya. Aku melap seluruh badannya menggunakan waslap dan mengganti bajunya dengan baju pasien. Sprei dan sarung bantalnya pun tak lupa kuganti. Tiap mengusap wajahnya dengan waslap, aku berkata, “Ayang… Ayang…,” inginku menangis rasanya, tapi aku selalu menahan. Setiap kali dia buang air kecil selalu kucatat berapa mililiter volumenya, demikian juga jika dia minum dan buang air besar. Dia pun rutin menggunakan pengobatan uap untuk perbaikan infeksi di paru-parunya. Kadang hanya berselang satu hari jikalau Hb dan trombositnya turun, pasti dia harus melakukan transfusi darah.

Aku membawa Alkitab pernikahan kami. Setiap pagi sesudah sarapan aku membacakan beberapa ayat Alkitab dan dia hanya memandang diriku. Aku pun memandangi dirinya. Kami berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Rasanya kami mampu menjalani hari ke hari hanya oleh penyertaan dan kasih setia Tuhan yang begitu luar biasa bagi kami.

Senin, 4 Februari 2019

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ambil darah setiap pagi lewat selang cvc, disuntikkan antibiotik untuk paru-paru, minum obat pagi siang sore (4 macam), tetap pakai uap untuk perbaikan paru-parunya. Pagi hari itu, aku membacakan sebagian ayat Alkitab dan berdoa bersama. Sempat aku terdiam pada ayat Alkitab dari 2 Korintus 4:16, 5:1-8. Aku menangis dan diam, lalu dia memintaku untuk membacanya sampai habis.

Aku sempat mengobrol serius dengannya, “Hun, aku mau resign dari kerjaanku.”

Dia menjawab, “Kenapa? Pikirkan juga kerjaan.”

“Tapi kamu mau aku di sini sama kamu, kan? Mengurus kamu kan?”

“Iya,”

“Ya udah, jangan dipikirkan dulu.”

Selasa, 5 Februari 2019

Menjalani hari-hari bersama dia di RS, mengurus ini dan itu kebutuhannya setiap hari. Siangnya bertemu dokter paru dan dokter mengatakan bahwa pengobatan untuk paru-parunya perlu tetap dijalankan supaya nanti bisa dilakukan kemoterapi. Dokter sempat mengatakan dia perlu keluar dahulu sejenak supaya bisa menghirup udara segar dan terkena sinar matahari, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk keluar karena dia masih bergantung dengan selang oksigen.

Rabu, 6 Februari 2019

Kami menjalani hari-hari seperti hari-hari sebelumnya. Kami membaca Alkitab dan berdoa bersama.

Kamis, 7 Februari 2019

Sekitar jam 5 subuh, dokter Hematologi datang dan mengatakan kalau dia perlu dibawa keluar dari ruang perawatan supaya mendapat udara segar dan terkena sinar matahari karena udara dalam ruangan tidak baik untuk paru-parunya, antibiotik pun sudah resisten. Tapi, kondisinya masih tidak memungkinkan untuk keluar dari ruangan karena dia terlihat mulai sesak nafas dan bergantung dengan selang oksigen.

Hari itu adalah hari yang berat bagiku karena aku harus kembali ke Sampit dan meninggalkan dia di Jakarta.

Aku bertanya lagi memastikan keputusanku, “Hun, aku mau nanya lagi ni, memastikan. Kamu mau aku di sini kan nemenin kamu, mengurus kamu?”

“Iya, terserah saja. Yang terbaik ya.”

Aku bilang, “Oke kamu gak usah pikirin dulu karena keputusan ada di tanganku, aku mau resign.”

Pagi itu dia sudah terlihat mulai sesak nafas dan aku tak tega meninggalkan dia. Aku menghubungi atasanku untuk memperpanjang izinku, tapi tidak diperbolehkan. Mau tidak mau aku perlu pulang ke Sampit dan bilang bahwa aku ingin resign. Waktu aku pamit pada suamiku, wajahnya memerah. Matanya menatapku seolah ingin berkata, “Hun, jangan pergi.” Tapi aku tetap pergi waktu itu dan kembali ke Sampit.

Jumat, 8 Februari 2019

Pagi harinya aku masuk kantor dan sore hari tepat di jam pulang kantor aku memberanikan diri bilang ke atasanku bahwa aku ingin resign dan keputusan ini sudah bulat. Aku mau fokus merawat suamiku. Atasanku setuju.

Malam harinya aku mendapat kabar kalau dia sudah mulai sesak nafas dan di ruang perawatan pun sudah digunakan monitor jantung dan rencananya suamiku akan segera dibawa ke ICU. Aku menangis, berlutut, dan berdoa kiranya Tuhan dapat menolong dia melewati kondisi yang harus dihadapi. Aku pun bergegas membeli tiket pesawat untuk berangkat ke Jakarta besok paginya lewat Palangkaraya. Singkat cerita, saat dia yang kukasihi sedang berjuang di ruang ICU, waktu menunjukkan pukul 23:45 dan aku mendapat kabar bahwa Tuhan Yesus telah memanggilnya pulang.

Aku tersentak. Aku menangis. Aku meraung dan malam hari itu di Sampit turun hujan yang sungguh deras.

* * *

Aku mampu melewati semuanya, sepanjang perjalanan hubungan kami hingga menikah, semuanya karena kekuatan dan penyertaan daripada Tuhan. Aku mengingat kembali semua kebaikan-Nya pada kami. Walaupun waktu-waktu kami bersama begitu singkat, tetapi aku tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikanku waktu untuk merawat suamiku dengan intens selama 6 hari di RS Kanker Dharmais Jakarta. Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau sangat baik.

Sampai saat ini pun, aku tetap merasakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupanku walau terkadang aku sangat rindu dengan suamiku, dia yang kukasihi.

Semoga kesaksian tentang sekelumit kisah kehidupanku dan alharhum suamiku bisa menjadi berkat bagi semua yang membaca kisah kehidupan kami.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Wanita untuk Kemuliaan Allah

Pada saat Ia bangkit dari kematian-Nya, saksi pertama dari kisah yang mengguncangkan sejarah itu adalah Maria Magdalena, seorang wanita. Mengapa bukan tokoh yang dianggap penting seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, atau murid pria lainnya?