Posts

Belajar dari Nehemia dan Ester: Mencintai Bangsa melalui Doa dan Tindakan

Oleh Dorkas Febria Krisprianugraha, Karanganyar

Seberapa greget kamu mencintai Indonesia?

Ketika mendengar pertanyaan itu, mungkin kamu akan menjawab dengan berbagai kalimat ala generasi millenial yang akhir-akhir ini sedang hits. Tapi, benarkah kamu segreget itu dalam mencintai Indonesia? Atau, jangan-jangan nama Indonesia tidak masuk dalam daftar sesuatu yang kamu cintai?

Jika bicara soal mencintai bangsa, ada dua tokoh Alkitab yang dikenal karena kecintaannya pada bangsanya, mereka ialah Nehemia dan Ester. Nehemia berpuasa, berdoa sambil menangis, dan berkabung ketika mendengar berita kalau tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar (Nehemia 1:1-11). Ester berpuasa ketika akan menghadap Raja Ahasyweros setelah mendapat kabar dari Mordekhai bahwa Haman akan membinasakan orang Yahudi (Ester 4:15-17). Tidak berhenti hanya berdoa dan berpuasa, dalam Kitab Nehemia dan Kitab Ester juga diceritakan bagaimana mereka melakukan tindakan nyat sebagai upaya untuk menyelamatkan dan memulihkan bangsa mereka. Ya, mereka membuktikan seberapa besar rasa cinta mereka kepada bangsanya.

Bagaimana dengan kita?

Berdoa untuk Indonesia adalah hal yang baik, yang memang seharusnya kita lakukan. Namun, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apa yang kita lakukan setelah itu? Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mennjukkan rasa cinta kita kepada indonesia, misalnya melalui profesi kita dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, maupun pendidikan; atau melalui prestasi kita yang mengharumkan nama Indonesia; atau bisa dengan cara yang sederhana yaitu dengan menggunakan hak dan melaksanakan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia secara seimbang. Salah satu hak yang diberikan kepada warga negara Indonesia adalah hak memilih dalam Pemilu. Setelah mendengar kalimat itu, mungkin sebagian kita ada yang berpendapat, “kalau itu hak, berarti itu terserah kita dong mau menggunakan hak itu atau tidak.”

Namun, benarkah demikian?

Coba bayangkan apa yang terjadi ketika semua warga negara Indonesia berpendapat seperti itu dan akhirnya memilih untuk tidak menggunakan hak itu. Bisa jadi negara kita malah mengalami kekacauan. Ketika mencoba merenungkan hal ini, aku memiliki pendapat secara pribadi bahwa memilih dalam Pemilu adalah hak kita sebagai warga negara, dan menggunakan hak pilih itu adalah suatu kewajiban.

Tahun 2019 akan menjadi salah satu tahun yang tercatat dalam sejarah Indonesia. Berbagai pihak sibuk menyambut pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019, baik sebagai calon yang akan dipilih, tim sukses, maupun para pendukung calon. Bagaimana dengan kamu?

Belajar dari kisah Nehemia dan Ester, bagaimana sih seharusnya sikap kita dalam menyambut Pemilu 2019 sebagai bentuk rasa cinta kita kepada Indonesia?

1. Menyadari menggunakan hak pilih adalah kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia

Ketika mendengar bahwa tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu gerbangnya terbakar, Nehemia bisa saja memilih untuk tidak mempedulikannya karena posisinya sebagai juru minuman raja tidak membuatnya memiliki kewajiban untuk membangun kembali tembok itu.

Mungkin Nehemia sebelumnya tidak pernah berpikir bahwa posisinya sebagai juru minuman raja akan membuka jalannya untuk memulihkan bangsanya (Nehemia 2). Namun, Nehemia memilih berbuat sesuatu untuk bangsanya. Demikian juga Ester, ketika berada di posisi sebagai ratu, bisa saja Ester memilih untuk tidak peduli denagn berita yang dia dengar bahwa Haman sedang merencanakan pembinasaan orang-orang Yahudi. Namun, Ester memilih untuk melalukan sesuatu bagi bangsanya bahkan ketika hal itu dapat membahayakan nyawanya (Ester 4:16). Ya, Tuhan menempatkan Nehemia dan Ester pada posisi masing-masing untuk berbuat sesuatu bagi bangsanya.

Kita memang tidak bisa memilih di negara mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih untuk berbuat sesuatu bagi bangsa kita, atau berdiam.

Hak untuk memilih adalah hak istimewa kita sebagai warga negara Indonesia, karena hanya benar-benar warga negara Indonesia saja yang mendapatkan hak itu. Kita mungkin sering mendengar banyak warga negara asing berkata, “I Love Indonesia”, namun tak peduli seberapa besar cinta mereka kepada Indonesia, mereka tetap tidak mendapatkan hak pilih ini.

Jadi, gunakanlah hak pilihmu sebagai kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Indonesia.

2. Menyiapkan strategi

Cinta Nehemia dan Ester terhadap bangsanya bukanlah cinta buta yang bertindak tanpa pertimbangan. Mereka tidak gegabah namun mereka menyusun strategi ketika akan berbuat sesuatu bagi bangsanya. Sebelum melakukan pembangunan tembok Yerusalem, terlebih dahulu Nehemia menyelidiki kondisi-kondisi tembok-tembok Yerusalem yang sudah terbongkar (Nehemia 2:11-20), dan Ester sebelum menghadap Raja Ahasyweros, dia juga menyusun strategi. Hal ini terlihat dari bagaimana cara Ester mengadakan perjamuan bagi raja dan Haman (Ester 5:1-8). Demikian juga ketika kita ingin menggunakan hak pilih kita untuk menunjukkan rasa cinta kita terhadap Indonesia.

Terlepas siapa kandidat pilihan kita, kita tetap membutuhkan strategi. Menggunakan hak pilih lebih dari sekadar hanya datang ke TPS dan mencoblos kertas yang berisi nama-nama calon presiden dan legislatif. Menggunakan hak pilih juga harus disertai banyak pertimbangan. Tidak cukup hanya berdasarkan “apa kata orang” dalam menentukan pilihan kita. Kita perlu mengamati dan menyelidiki dari berbagai sumber yang terpercaya. Banyak cara yang dapat kita lakukan, mulai dari mencari portofolio atau rekam jejak calon tersebut, mengikuti siaran debat terbuka di televisi, juga menimbang-nimbang visi dan misi serta program kerja mereka kelak.

Tentukan pilihan kita berdasarkan apa yang kita pahami dan yakini, bukan hanya berdasarkan apa kata orang.

3. Menginvestasikan waktu

Nehemia memberikan waktunya, dia bangun di malam hari untuk menyelidiki keadaan tembok Yerusalem (Nehemia 2:3). Ester berpuasa selama tiga hari tidak makan dan minum, dan tentulah dalam masa puasa itu Ester menggunakan waktunya untuk memikirkan bagaimana cara membongkar rencana jahat Haman.

Tidak ada istilah membuang-buang waktu untuk berbuat sesuatu bagi bangsa kita. Dalam proses sebelum menentukan pilihan, kita bisa menginvestasikan waktu kita untuk mulai membaca informasi-informasi terpercaya atau mendengarkan debat yang diselenggarakan langsung oleh KPU. Dan, di hari Pemilu dilaksanakan kita bisa memberikan waktu kita untuk datang ke TPS dan menggunakan hak pilih kita.

Banyak aktivitas lain yang mungkin lebih menarik untuk dilakukan di tanggal 17 April 2019, terlebih hari-hari itu kan menjadi long-weekend yang membuat banyak orang memilih untuk berlibur dibandingkan dengan datang ke TPS dan menggunakan hak pilih. Namun, percayalah bahwa waktu yang kita berikan untuk memilih dalam Pemilu tidak akan terbuang sia-sia.

4. Tetap waspada

Hoax menjadi kata yang semakin populer dalam masa-masa menjelang Pemilu dan inilah yang menjadi salah satu ancaman kita dan patut kita waspadai. Pemulihan suatu bangsa tidak selalu disukai oleh semua pihak. Sanbalat dan Tobia menentang pembangunan tembok Yerusalem, bahkan mengolok-ngoloknya (Nehemia 4). Bahkan, setelah tembok Yerusalem berhasil dibangun kembali, Sanbalat dan Tobia berusaha untuk membunuh Nehemia (Nehemia 6). Ya, akan banyak pihak yang lebih berfokus pada kepentingan pribadinya sehingga apa yang mereka lakukan buka sebagai upaya untuk berbuat sesuat bagi bangsa Indonesia, tetapi bagaimana kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan dapat terpenuhi. Itulah yang harus kita waspadai, jangan mudah dipengaruhi.

5. Tetaplah berdoa

Lebih dari tekad dan ancaman yang ada, Nehemia tetap menjadikan doa sebagai hal yang utama (Nehemia 1, Nehemia 4:9). Nehemia mengadukan semua yang dia alami kepada Tuhan. Ada banyak hal yang mungkin bisa terjadi selama masa-masa menjelang bahkan sesudah Pemilu berlangsung. Tetap berdoa menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan dalam menyambut Pesta Demokrasi 2019. Berdoalah, biar hanya kehendak Tuhan yang terjadi dalam Pemilu 2019.

Itulah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menyambut Pemilu 2019. Jadilah bagian dalam sejarah Indonesia dan gunakan hak pilihmu sebagai kesempatan bagi generasi millenial untuk menujukkan seberapa greget kita mencinti Indonesia. Tuhan memilihmu untuk berbuat sesuatu bagi bangsa ini, kalau bukan kamu, siapa lagi?

* * *

Sobat muda, pesta demokrasi akan segera kita laksanakan, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk berdoa buat bangsa kita, Indonesia. Share artikel juga video di bawah ini dan ajaklah teman-temanmu untuk bersama-sama berdoa.

Baca Juga:

Menegur, Sulit tapi Baik untuk Dilakukan

Menegur orang lain merupakan hal yang sangat sulit untuk kulakukan. Aku takut pada risiko yang mengikutinya—ditolak dan dijauhi oleh orang yang kutegur. Aku tidak siap menghadapi hal itu. Aku gelisah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku menyampaikan teguranku dengan cara yang salah hingga temanku jadi sakit hati? Apakah aku terlalu berlebihan?

Belajar dari Nehemia: Sudahkah Doa Menjadi Respons Pertamamu?

Oleh Yosephine Sitanggang, Jakarta

Dalam kehidupan ini, ada banyak informasi yang kita terima setiap hari. Ada informasi yang menyenangkan hati kita, tapi ada pula informasi yang membuat kita sedih.

Beberapa hari lalu aku menerima sebuah informasi yang menyedihkan hatiku. Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi, aku kaget dan kecewa saat dosenku menginformasikan bahwa alur bimbingan dengannya berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Jika dosen lain memperbolehkan mahasiswa untuk bimbingan per bab, dosenku memintaku untuk menyelesaikan bab 1 hingga 5 terlebih dulu barulah aku boleh bimbingan dengannya.

Aku pun jadi gelisah oleh informasi ini. Apalagi di bulan Mei nanti aku harus melakukan studi lapangan ke Jogja, sehingga waktuku menuntaskan skripsiku menjadi sangat pendek. Saat itu, di tengah rasa gelisahku, respons pertamaku adalah aku segera menghubungi temanku dan menceritakan kepadanya tentang kesulitan skripsi yang baru saja kualami.

Namun, setelah curhat kepada temanku, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku pikir respons pertamaku untuk langsung menghubungi temanku saat aku menerima informasi buruk ini tidaklah tepat. Kemudian, aku ingat akan kisah Nehemia yang beberapa hari lalu aku pelajari secara pribadi dari sebuah buku Pendalaman Alkitab (PA). Melalui buku inilah aku merasa ditegur.

Nehemia diberi tahu oleh Hanani, salah seorang saudaranya, bahwa orang-orang Yahudi yang tetap tinggal di Yerusalem mengalami kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok-tembok Yerusalem sudah terbongkar dan gerbangnya pun telah terbakar (Nehemia 1:1-3). Kabar buruk yang dibawa oleh Hanani itu membuat Nehemia begitu berduka atas keadaan bangsanya. Dalam Nehemia 1:4, respons pertama yang dilakukan oleh Nehemia setelah mendengar kabar ini adalah dengan berpuasa dan berdoa kepada Allah. Di sini, Nehemia menunjukkan penyerahan dirinya secara utuh kepada Allah.

Pada masa Nehemia, bangsa Israel adalah bangsa terjajah yang berada di bawah pemerintahan Kerajaan Persia. Meski berstatus sebagai orang Israel, kala itu Nehemia mendapatkan kepercayaan yang tinggi dengan menjadi pengurus minuman raja. Namun, posisi yang tinggi ini tidak membuat Nehemia melupakan nasib bangsanya sendiri. Selama bekerja, akibat kabar buruk yang diterimanya itu, Nehemia jadi tampak sedih dan hal ini terlihat oleh raja Artahsasta. Raja pun bertanya mengapa. Setelah menceritakan tentang kabar buruk yang diterimanya, raja pun bertanya kepada Nehemia. “Jadi, apa yang kauinginkan?” (Nehemia 2:4).

Nehemia tidak langsung menjawab pertanyaan raja saat itu juga, melainkan dia berdoa kepada Allah semesta langit. Alkitab memang tidak mencatat apa isi doa yang dinaikkan oleh Nehemia kepada Allah, namun, kembali kita dapat melihat bahwa Nehemia sungguh-sungguh menyerahkan diri dan keputusannya kepada Allah hingga akhirnya Allah menjawab pergumulan Nehemia dengan jalan raja Artahsasta mengizinkan Nehemia dan bangsanya pulang ke Yerusalem untuk membangun kembali kota itu.

Kisah Nehemia ini begitu menegurku. Seringkali, ketika mendapatkan suatu informasi, yang entah baik atau buruk, respons pertama yang kulakukan adalah segera mencari orang lain untuk menjadi tempat ceritaku dan membiarkan rasa senang atau khawatir berlebih menguasai hatiku. Aku tidak menjadikan Allah sebagai Pribadi pertama yang kucari.

Memang, dalam keadaan seperti itu, adalah sesuatu yang wajar untuk segera mencari orang lain seperti teman, sahabat, ataupun keluarga untuk kita segera bercerita. Tapi, belajar dari Nehemia, respons terbaik untuk menanggapi setiap informasi yang kita terima adalah dengan berdoa terlebih dulu kepada Allah. Dengan berdoa dan menyerahkan dirinya pada Allah, Nehemia pun belajar untuk tidak mengambil keputusan yang gegabah, yang didasarkan atas emosi yang dia rasakan saat itu. Meski Allah tidak segera saat itu juga menjawab doa Nehemia, tetapi Allah menuntun Nehemia pada keputusan yang tepat hingga akhirnya Nehemia diizinkan untuk kembali ke Yerusalem dan membangun kota itu (Nehemia 2:6).

Allah memang memberikan teman, sahabat, keluarga, ataupun komunitas supaya kita saling menguatkan dan turut berjuang dengan kita. Namun, seharusnya itu semua tidak menggantikan posisi Allah sebagai Pribadi pertama yang ada dalam kehidupan kita. Melalui teladan Nehemia, aku belajar untuk menyerahkan setiap perasaanku atas setiap informasi yang kuterima terlebih dahulu kepada Allah. Sebelum berbicara dan menceritakan keluh kesahku kepada orang lain, aku belajar untuk berdoa terlebih dulu.

Baca Juga:

Ingatlah Yesus yang Pernah Menderita bagi Kita

Aku pun mengingat apa yang terjadi di minggu menjelang Jumat Agung lima tahun yang lalu, ketika aku menghadapi masa tersulit dalam hidupku. Saat itu, ketika aku sedang merasakan tekanan yang besar di pekerjaanku, secara tiba-tiba ayahku terserang stroke yang parah.