Posts

Doaku untuk Indonesia

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Tuhan, aku bersyukur atas bangsa Indonesia yang hari ini memperingati kemerdekaan-Nya.
Aku bersyukur atas segala kekayaan alam yang Kau limpahkan di negeri ini.
Pun, aku bersyukur atas segala keragaman yang Kau karuniakan di bangsa ini.

Namun, Tuhan, di balik segala hal baik yang tampak menghiasi negeriku, aku melihat ada banyak hal buruk yang tidak berkenan kepada-Mu terjadi di sini. Di balik kekayaan alamnya, ada orang-orang yang hidupnya terjerat dalam kemiskinan. Di balik keragaman yang menjadikan bangsa ini kaya, ada perseteruan-perseteruan yang meruncing karena tidak ada saling pengertian.

Tuhan, kadang aku merasa sedih dan ingin menutup mataku dari segala hal yang tampak buruk tersebut.

Tapi, ingatkan aku Tuhan, bahwa Engkau tidak pernah berhenti mengasihi Indonesia. Maka, sudah seharusnya pula aku terus belajar untuk mengasihi bangsaku.

Ajar aku untuk selalu mendoakan bangsaku, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanku (Yeremia 29:7).

Ajar aku untuk menghormati pemimpin-pemimpinku, sebab merekalah yang Engkau tetapkan untuk memerintah bangsa ini (Roma 13:1).

Aku percaya, Tuhan, bahwa ketika aku dan umat-Mu bersama-sama bertekun mencari wajah-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu, serta berbalik dari jalan-jalan kami yang jahat, Engkau mendengar seruan kami dan kiranya Engkau berkenan untuk memulihkan negeri kami.

Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Yesus.

Amin.

Baca Juga:

Sekelumit Kisahku Ketika Menghadapi Depresi dalam Pekerjaan

Aku sadar bahwa tak peduli seberapa banyak uang yang bisa kuraih, atau seberapa potensial pekerjaan yang kugeluti, aku telah tiba di titik di mana kalau aku melanjutkannya, aku akan melukai kesehatan mentalku.

Mengapa Aku Tetap Optimis Sekalipun Negeriku Dipenuhi Banyak Masalah?

mengapa-aku-tetap-optimis-sekalipun-negeriku-dipenuhi-banyak-masalah

Oleh Aryanto Wijaya

“Penyertaan-Mu sempurna, rancangan-Mu penuh damai, aman dan sejahtera walau di tengah badai.”

Penggalan lirik sebuah lagu itu terngiang di pikiranku tatkala tanganku terus menggeser layar kaca ponselku. Hari itu jagad dunia maya sedang bergejolak, banyak orang menyuarakan berbagai komentarnya atas masalah-masalah yang tengah terjadi di Indonesia. Ada yang menyesali, mengumpat, pesimis, optimis, bahkan ada pula yang memaki. Kulepaskan ponselku dari genggamanku. Apa yang baru saja kulihat itu membawaku pada perenungan mendalam.

Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku bertanya dalam hati. Aku tahu ada banyak masalah yang terjadi di negeri ini, tapi apakah yang sejatinya harus aku perbuat?

Sebuah kesempatan untuk belajar percaya

Ketika pertanyaan itu berdengung di telingaku, tiba-tiba aku diingatkan lagi akan sebuah lagu yang liriknya sempat terngiang di pikiranku. Rancangan Tuhan adalah rancangan penuh damai, juga penyertaan-Nya sempurna. Sekilas, kalimat itu seolah terdengar sangat klise buatku, tapi kenyataannya adalah memang demikian. Tuhan ingin kita belajar mempercayai Dia seutuhnya.

Seringkali ketika kita dihadapkan pada suatu masalah, kita menjadi khawatir akan sesuatu yang sesungguhnya belum terjadi. Pikiran kita menjadi berkecamuk dan berspekulasi tentang kemungkinan-kemungkinan buruk di masa depan. Kekhawatiran memang wajar terjadi dalam hidup kita, akan tetapi siapakah di antara kita yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya (Matius 6:27)?

Alih-alih menjadi khawatir, aku percaya bahwa Allah memiliki kedaulatan atas dunia ini. “Allah berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya”(Daniel 4:35). Setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan ini tidak terlepas dari rencana-Nya.

Segala masalah yang tengah terjadi hari ini adalah sebuah kesempatan untuk aku dan kamu belajar percaya seutuhnya kepada Allah. Kita berdoa bukan supaya kehendak kita yang terjadi, melainkan sebagaimana Yesus pernah berdoa, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Sebuah kesempatan untuk berdoa

Aku teringat akan kisah Saulus, seorang penganiaya orang Kristen yang berbalik menjadi salah satu pengikut Kristus yang paling setia. Jika aku hidup pada masa itu dan menjadi orang Kristen, mungkin bisa saja aku begitu takut dan benci terhadap Paulus. Tapi, Allah kembali menunjukkan jalan-Nya yang terkadang tidak terselami itu.

Kisah pertobatan Saulus dimulai dari niat jahatnya untuk membunuh dan menganiaya orang-orang Kristen di daerah Damsyik. Dalam perjalanannya untuk mencari orang-orang Kristen, Saulus tiba-tiba melihat cahaya yang memancar dari langit hingga dia pun rebah ke tanah. “‘Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kisah Para Rasul 9:1-5).

Allah bahkan memakai seorang mantan pembunuh untuk berbalik dan menyelematkan jiwa-jiwa dengan cara yang tidak terduga. Pertobatan Paulus pada akhirnya bukan hanya membawa dirinya sendiri kepada Kristus, melainkan, lewat pelayanannya, ada begitu banyak orang yang dimenangkan bagi Kristus.

Hari ini, ketika kita tahu ada begitu banyak orang-orang yang meneriakkan ketidakadilan, janganlah kita berdoa supaya mereka mendapatkan hukuman dari Tuhan. Akan tetapi, berdoalah, supaya lewat momen-momen ini boleh lahir Paulus-Paulus baru yang berbalik dari kehidupan lamanya yang kelam menjadi seorang pengikut Kristus yang luar biasa.

Berdoalah supaya setiap peristiwa yang terjadi hari-hari ini boleh menjadi suatu kesempatan bagi kita, orang-orang Kristen, untuk lebih bersungguh-sungguh lagi menjadi warga negara yang baik.

Sebuah kesempatan untuk berkarya lebih

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6).

Ada kalanya masalah-masalah yang terjadi memang membuat kita seolah ingin merasa putus asa dan hilang harapan. Tapi, janganlah takut, sebagaimana firman-Nya berkata untuk kita tidak tawar hati dan gentar, hendaknya kita semangat untuk melakukan bagian yang Tuhan telah tetapkan atas kita.

Apa yang menjadi pekerjaanmu saat ini? Lakukanlah itu dengan setia, jujur, dan sukacita supaya lewat karya-karya kita, Tuhan dimuliakan. “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini” (Filipi 2:14-15).

* * *

Aku tetap percaya dan yakin seutuhnya bahwa Tuhan memegang kendali, Dia ada dan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan, sebab rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan yang mendatangkan kecelakaan (Yeremia 29:11).

Baca Juga:

Apa Sesungguhnya Panggilan Allah Bagi Hidupku?

Bagaimana jika Allah tidak pernah memberitahu kita apa yang Dia ingin kita lakukan? Lantas, apa yang harus kita lakukan apabila Allah seolah hanya diam saja ketika kita bertanya apa yang menjadi kehendak-Nya atas hidup kita?