Posts

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Oleh Olyvia Hulda S, Sidoarjo

Ditegur, kita semua pernah mengalaminya. Ketika ditegur, kita mungkin merasa kaget, malu, sedih, menyesal, atau bahkan marah. Bila tegurannya disampaikan dengan sopan dan pengertian, mungkin kita merasa dikasihi. Namun, bila teguran yang dilayangkan ditambah dengan intonasi tinggi dan kata-kata pedas, bukan tidak mungkin akan muncul rasa tersinggung dan sakit hati yang berkepanjangan.

Terlepas dari bagaimana cara teguran itu disampaikan, kita tentu sepakat bahwa teguran sejatinya punya maksud baik. Seseorang biasanya ditegur jika dia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang disepakati. Sehingga, tujuan dari teguran adalah agar seseorang kembali bertindak benar, tidak melenceng dari nilai dan norma yang ada.

Namun, meskipun teguran punya tujuan yang baik, banyak dari kita tidak suka bila ditegur. Jika boleh memilih, mungkin kita lebih suka dipuji. Ketika pujian memberikan apresiasi atas diri atau prestasi kita, teguran mengganggu naluri ke-aku-an kita.

Alkitab memberi kita dua contoh yang menarik mengenai teguran. Pertama, kisah tentang Raja Uzia. Dalam 2 Tawarikh 26:16-21, dikisahkan Raja Uzia telah berubah menjadi tinggi hati dan tidak setia. Suatu ketika, dia masuk ke bait Allah untuk membakar ukupan di atas mezbah. Tugas tersebut seharusnya hanya dilakukan oleh imam, sehingga atas perbuatannya, Uzia pun mendapatkan teguran keras dari Imam Azarya. “Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini” (ayat 18). Apa yang terjadi selanjutnya? Teguran itu tidak diindahkan. Uzia malah menjadi marah dan diluapkannya amarah itu kepada para imam. Allah lantas menimpakan tulah kepada Uzia berupa sakit kusta sampai kepada hari kematiannya.

Kisah kedua mari kita lihat dari Daud. Dalam 2 Samuel 12, dikisahkan Allah mengutus Natan datang kepada Daud sebagai respons atas perbuatan keji Daud mengambil Batsyeba, istri dari Uria. Natan lalu menceritakan sebuah perumpamaan kepada Daud tentang seorang kaya yang mengambil kepunyaan dari seorang miskin. Mendengar perumpamaan itu, Daud menjadi marah dan mengatakan seharusnya orang kaya yang berbuat semena-mena itu dihukum mati. Daud tidak sadar kalau perumpamaan itu bukan sekadar cerita, itu adalah teguran terselubung baginya. Ketika Daud tidak menyadari kalau sosok orang kaya di perumpamaan itu adalah gambaran dirinya, Natan merespons Daud dengan keras, “Engkaulah orang itu!….Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?” (ayat 7 dan 9).

Berbeda dengan Uzia yang merespons teguran dengan amarah yang meletup-letup, teguran keras dari Natan seketika menghantam hati Daud hingga melalui mulutnya dia mengakui, “Aku sudah berdosa kepada TUHAN” (ayat 12). Natan menjawab, “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (ayat 13-14). Daud berbalik dari dosanya dan mendapatkan pengampunan Allah meskipun konsekuensi dari dosa tersebut tetap harus ditanggungnya.

Dari dua kisah tentang dua raja Israel yang memerintah pada masa Perjanjian Lama, kita melihat bahwa teguran yang Allah sampaikan melalui perantaraan imam dan nabi bernada keras. Tetapi, Uzia dan Daud menunjukkan respons hati yang berbeda. Respons hati inilah yang menentukan kelanjutan kisah mereka: Daud memperoleh pengampunan dan berbalik pada Allah, hingga dia pun tercatat sebagai seorang yang berkenan di hati Allah (Kisah Para Rasul 13:22) , sedangkan Uzia mendapatkan tulah hingga pada hari meninggalnya.

Teguran seringkali datang pada kita secara tidak terduga dan pada keadaan yang tidak kita harapkan. Tetapi, hal ini tentulah wajar karena sebagai manusia biasa, kita tidak pernah luput dari perbuatan salah. Yang paling penting ketika sebuah teguran datang kepada kita ialah kita belajar seperti Daud, dengan rendah hati menerima teguran tersebut, mengintrospeksi diri, dan memperbaiki perbuatan kita di masa mendatang. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima setiap teguran yang ada. Ketika teguran yang disampaikan seolah tidak selaras dengan realita yang sebenarnya, alih-alih segera emosi kita dapat berdiskusi dan mencoba memahami maksud dari si penegur, bukan hanya fokus pada nada atau kata-kata teguran yang disampaikan. Dengan kita memahami maksud utama dari suatu teguran, itu dapat menolong kita mengurangi prasangka negatif terhadap orang yang memberi teguran itu serta menghindari kita dari kemungkinan merasa sakit hati. Dan, satu hal yang terpenting lainnya ialah jika kita merasa teguran yang disampaikan terlalu berat untuk kita cerna, adalah baik untuk bersikap tenang sejenak sebelum kita merespons.

Ada sebuah ayat yang mendorongku untuk tidak berpikir negatif terhadap mereka yang pernah menegurku, yakni Mazmur 141:5, “Biarlah orang benar memalu dan menghukum aku, itulah kasih”.

Aku percaya bahwa teguran-teguran yang disampaikan padaku memiliki maksud yang baik, terlepas dari kemasannya yang baik maupun tidak. Teguran itu mengingatkanku agar aku tidak merasa nyaman dengan pelanggaran dan kesalahan, serta bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Teguran-teguran dari orang-orang di sekeliling kita bisa menjadi sarana dari Allah untuk membuat kita terhindar dari jalan yang jahat. Memang teguran tidak semanis pujian, tetapi pada momen-momen tertentu dalam hidup kita, kita sungguh membutuhkan teguran.

Adakah di antaramu yang masih kepahitan dengan mereka yang menegurmu? Aku berdoa agar Tuhan menyembuhkan lukamu, serta memberikan hikmat dan pemahaman untuk menyadari kesalahan yang diperbuat, dan kembali bertindak benar. Percayalah, mereka yang menegur kita, apapun ‘kemasannya’, mereka adalah orang yang mengasihi dan peduli dengan hidup kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bukan Cuma Tentang Romantis, Inilah Sesungguhnya Kasih Itu

Coklat, sekuntum bunga, atau kata-kata manis, seringkali kita berikan sebagai ungkapan atas rasa cinta. Dan, cinta seringkali diidentikkan dengan perasan atau suasana romantis. Tapi, hari ini, yuk kita telusuri kembali apa sesungguhnya makna cinta atau kasih itu.

Buatlah Pilihan untuk Melakukan Perkara Surgawi

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Jika kamu pernah mengemudi sebuah motor, apalagi dengan kecepatan yang cukup tinggi, kamu tentu tahu bahwa hanya dengan satu kesalahan pilihan saja, sesuatu yang fatal dapat segera terjadi.

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung.

Makanan apa yang kita makan? Pakaian seperti apa yang kita kenakan? Bagaimana cara kita tidur? Jika keputusan yang kita pilih terhadap hal-hal yang terlihat kecil seperti itu saja mengandung sebuah risiko yang serius jika diabaikan. Bagaimana dengan pilihanmu terkait sebuah profesi yang menantimu di masa depan?

Kita hidup dalam budaya yang cenderung mengagung-agungkan apa yang terlihat oleh mata dan mengabaikan apa yang ada di baliknya. Itu sebabnya di negara kita—jika tidak selalu—mungkin banyak kita temui orang tua yang lebih menginginkan anaknya bekerja untuk sebuah instansi yang “mewajibkan” pekerjanya menggunakan pakaian rapi. Mereka ingin anaknya terlihat “terhormat” dalam pandangan masyarakat umum.

Aku punya seorang teman yang dianggap remeh oleh orang lain termasuk beberapa keluarganya karena ia adalah seorang peternak yang selalu tampil kotor dengan pakaian khas ala gembala. Ejekan demi ejekan ia terima dari mereka yang tidak sadar bahwa temanku itu punya penghasilan pribadi yang berkali-kali lipat dari para pekerja berdasi yang aroma bajunya wangi. Tapi, aku juga punya banyak teman—baik pria maupun wanita—yang senang sekali menjalin hubungan serius dengan orang-orang berparas menawan tanpa menyelidiki karakternya. Mereka lupa bahwa kecantikan bukan melulu soal wajah dan tubuh.

Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan jenis pekerjaan orang dan mencari-cari kelemahannya. Aku juga tidak bermaksud untuk menjadi hakim atas baik buruknya sebuah selera akan pasangan hidup. Aku hanya sedang memastikan kita benar-benar menyadari bahwa kita sedang “menari” di dalam dunia yang menomorduakan atau bahkan menutup mata terhadap sesuatu yang “tak nampak”. Inilah yang membuat begitu banyak tipuan, yang mungkin kelak akan berujung pada penyesalan.

Di dalam mengambil sebuah pilihan, apa pun itu, ingatlah bahwa semuanya memiliki dampak yang signifikan dalam hidup kita, cepat atau lambat. Itu sebabnya sebagai seorang anak Tuhan berhati-hatilah dalam memilih.

Perhatikanlah apa motivasimu memilih sesuatu dan caramu menjalaninya. Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kolose 3:1). Di sini Paulus sedang mengingatkan kepada jemaat Kolose untuk menyadari identitas mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus. Dengan kata lain, mereka adalah warga kerajaan surga yang harus mencari perkara-perkara surgawi. Setiap pilihan dan keputusan yang mereka ambil serta setiap tindakan yang mereka jalankan harus sejalan dengan Kristus yang telah memberikan keselamatan dan status baru kepada mereka, yaitu anak-anak Allah. Demikian jugalah kita yang percaya kepada-Nya.

Sebagai orang-orang yang telah dibayar dengan darah Kristus, apa saja yang akan kita pilih dan bagaimana kita menjalaninya nanti, kita sama sekali tidak boleh melupakan tujuan dan cara kita adalah memuliakan Allah.

Jangan khawatir hanya pada apa yang terlihat oleh mata, karena dalam pengertian tertentu tidak ada yang “sekuler” dalam kekristenan. Jangan berpikir bahwa dengan menjadi seorang pengkhotbah, pemimpin pujian, ketua pemuda, dan semacamnya adalah sesuatu yang disebut “perkara di atas” atau “perkara surgawi” sedangkan menjadi seorang penjual kue, pilot, buruh bangunan dan sebagainya merupakan apa yang disebut “perkara di bumi” atau “perkara duniawi”.

Seperti yang telah aku singgung pada bagian awal, itu adalah pemikiran keliru yang tidak komprehensif. Fakta sedihnya ada beberapa orang yang berkhotbah dan memimpin pujian supaya dipuji-puji orang. Tetapi ada banyak sekali pula orang-orang yang mau menjual kue, menjadi pilot, bahkan buruh bangunan untuk melayani orang lain. Yang manakah perkara di atas dan yang manakah perkara di bumi? Sangat mudah ditebak bukan?

Beratus-ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan di Betlehem, Ezra, Nehemia dan bangsa Israel diizinkan pulang ke tanah mereka setelah diangkut oleh bangsa Babilonia. Ketika mereka tiba di kampung halaman mereka, dibangunlah tembok Bait Allah oleh pimpinan Nehemia sang “insinyur”. Ezra sang imam mengajarkan kembali Taurat yang mungkin telah banyak dilupakan oleh bangsa ini semasa di pembuangan.

Di antara keduanya (Ezra dan Nehemia), siapa yang sedang melakukan perkara surgawi?

Apakah hanya Ezra karena ia yang mengajarkan Taurat? Apakah tembok Bait Allah yang dibangun oleh Nehemia bukan untuk kemuliaan Allah? Tentu tidak! Mereka berdua sedang melakukan perkara surgawi karena mereka memilih mengerjakan sesuatu sesuai dengan keahlian dan keterampilan mereka agar nama Tuhan dimuliakan. Allah memberikan keterampilan dan bakat yang berbeda-beda kepada setiap kita agar supaya kita saling melengkapi satu sama lain.

Coba bayangkan jika semua orang Israel yang pulang dari pembuangan hanya sibuk membangun Bait Allah dan temboknya. Taurat akan diabaikan. Sebaliknya, coba bayangkan jika Ezra dan Nehemia bersama mengajarkan Taurat dan membiarkan Bait Allah dan temboknya tidak dibangun.

Dalam konteks kita saat ini, aku sungguh tidak dapat membayangkan apabila semua orang (Kristen) menjadi pendeta, entah siapa yang akan membantu persalinan ibu hamil? Kita perlu orang Kristen yang mau menjadi bidan untuk kemuliaan Tuhan! Kita perlu dokter yang mau melayani Allah dan sesamanya! Dunia ini butuh orang-orang yang mau hidup dan mati bagi Kristus.

Jadi jika kamu mau memilih segala sesuatu untuk masa depanmu, entah itu pendidikanmu, pekerjaaanmu, pasangan hidupmu, terlebih dahulu engkau harus bertanya, “Apakah pilihan ini dapat menjadi perkara di atas bagiku? Apakah aku melakukannya untuk Kristus?”

Jangan lupa meminta nasihat dari orang-orang yang hidup dalam Tuhan.

Baca Juga:

Tuhan Lebih Tahu Sedalam-dalamnya Kita

Memilih berjalan bersama Tuhan dan mengikuti semua kehendak-Nya adalah pilihan yang harus kita ambil. Kadang kita tidak tahu apa rencana Tuhan atas hidup kita, padahal sebenarnya yang lebih tahu sedalam-dalamnya hidup kita adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri.

Meneladani Sang Konselor Sejati

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya—bagiku, itulah yang disebut sebagai kelebihan. Namun, bagi orang lain, aku memiliki kelebihan yang berbeda dari apa yang kupahami sebagai kelebihan. Padahal, apa yang dianggap orang lain sebagai kelebihanku sepertinya adalah hal yang biasa dan dimiliki oleh banyak orang: mendengarkan dan mendoakan.

Ketika menerima kata-kata pujian tentang kedua hal itu dari orang lain, aku hanya tersenyum tipis dan kadang menjawab dengan, “Ah, masa?” atau “Amin…”. Aku merespon dengan cara seperti itu bukan karena merasa senang dipuji, tetapi karena aku merasa belum sepenuhnya menjadi seorang pendengar dan pendoa yang baik.

Seringkali keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarku juga menyampaikan bahwa mereka sangat tersentuh dengan kata-kata yang kuucapkan dalam doaku. Mereka bilang, aku adalah pendoa yang baik. Namun, lagi-lagi aku merasa apa yang kulakukan adalah hal yang biasa-biasa saja, karena setiap orang bisa berdoa dan setiap kata yang disampaikan dalam doa tidak ada yang salah. Sikap hati saat berdoa adalah hal yang terpenting.

Aku sangat sering mendengarkan curhat dari orang lain, baik orang yang sudah maupun baru kukenal. Entah mengapa, mereka yang baru saja mengenalku bisa langsung merasa nyaman untuk bercerita kepadaku, bahkan meminta aku untuk mendoakan mereka.

Suatu malam, aku merasakan ada yang berbeda saat sedang mendengarkan curhatan seorang junior di kampusku dulu. Usai kami berbincang lewat WhatsApp, aku membaca kembali setiap kata dan kalimat yang kusampaikan. Aku tersenyum dan merenung, “Tuhan, kenapa aku bisa menyampaikan hal ini ya?”. Aku juga teringat bahwa setiap kali ada orang yang bercerita kepadaku, baik langsung maupun lewat media sosial, mereka selalu menyampaikan, “bawa aku dalam doamu setiap hari”. Aku mulai merenung, apakah mendengarkan dan mendoakan memang dua hal yang Tuhan karuniakan bagiku?

Aku teringat pada pengalamanku ketika mengikuti konseling. Sebuah konseling terdiri dari dua pihak, yaitu konselor dan konseli (atau klien). Konselor mampu menolong konseli untuk menyampaikan masalah yang sedang ia hadapi serta memberikan solusi agar si konseli bisa pulih dan kembali melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan baik.

Malam itu juga aku mendapati sebuah jawaban bahwa hanya karena pertolongan dari Yesus Kristus, Sang Konselor Sejati, aku dimampukan untuk mendengarkan dan mendoakan orang lain. Sang Konselor Sejati terlebih dahulu memulihkan hidupku dengan berbicara lewat firman-Nya dalam Alkitab dan memberiku kekuatan lewat doa, sehingga aku dimampukan untuk menjadi konselor bagi orang lain.

Untuk menjadi konselor yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, tentunya kita harus terlebih dahulu memiliki relasi yang intim dengan Sang Konselor Sejati. Mendengar suara-Nya dan mengenal kehendak-Nya adalah hal utama yang harus selalu kita kejar hari demi hari. Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk menjalani panggilan-Nya dalam hidup kita, yaitu untuk menjadi ‘konselor-konselor’ Ilahi.

Mendengarkan dan mendoakan—dua cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menyatakan kasih Yesus kepada sesama. Kita dapat menolong orang lain dengan mengajak mereka datang kepada Yesus, Sang Konselor Sejati yang memberi kelegaan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Baca Juga:

Terlalu Fokus Pelayanan Membuatku Lupa Siapa yang Kulayani

Kupikir jalan hidup yang kuambil sudah tepat—menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan. Tapi, kemudian aku sadar bahwa ada yang keliru dalam motivasiku melayani-Nya.

Banyak Penasihat

Jumat, 16 Mei 2014

Banyak Penasihat

Baca: Amsal 15:16-23

15:16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.

15:17 Lebih baik sepiring sayur dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian.

15:18 Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.

15:19 Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.

15:20 Anak yang bijak menggembirakan ayahnya, tetapi orang yang bebal menghina ibunya.

15:21 Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai berjalan lurus.

15:22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

15:23 Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak. —Amsal 15:22

Banyak Penasihat

Thomas à Kempis, seorang teolog dari abad ke-15, berkata, “Adakah seseorang yang begitu bijak sehingga ia memiliki pengetahuan yang sempurna akan segala sesuatu? Oleh karena itu, janganlah terlalu bergantung pada pendapatmu sendiri, tetapi hendaklah kamu mau juga mendengar pendapat orang lain. Walaupun pendapatmu itu mungkin baik, tetapi apabila demi kasih Allah kamu melepaskan pendapatmu itu dan mengikuti nasihat orang lain, kamu pun akan lebih beruntung.” Thomas menyadari pentingnya meminta nasihat dari orang-orang yang dapat dipercaya dalam perencanaan hidup kita.

Untuk mengetahui jalan yang dikehendaki Allah bagi hidup ini, seorang yang bijak perlu membuka dirinya untuk memperhatikan sejumlah nasihat yang akan dipakai Allah untuk membimbingnya lewat hikmat-Nya. Ketika seseorang meminta nasihat yang bijak dari orang lain, ia sedang menunjukkan kesadaran bahwa mungkin saja ia telah melewatkan beberapa faktor penting yang perlu baginya untuk mengambil keputusan.

Salomo, pribadi yang paling bijak di Israel, menulis tentang arti penting dari meminta nasihat dari orang lain: “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak” (Ams. 15:22).

Tuhan adalah Penasihat Ajaib (Yes. 9:5), dan Dia rindu melindungi kita melalui kehadiran para penasihat yang bijak. Mintalah nasihat dari mereka dan bersyukurlah kepada Allah karena keberadaan mereka. Perkenankan mereka menolongmu untuk melihat rancangan-Nya bagi hidupmu dengan lebih jernih. —MLW

Ajaib, sungguh ajaib, Yesus itu bagiku,
Penasihat, Raja Damai, Allah yang Perkasa;
Selamatkanku, menjagaku dari dosa dan malu,
Ajaiblah Penebusku, terpujilah nama-Nya! —Lillenas

Dengan meminta nasihat yang bijaksana, semakin besar kemungkinanmu mengambil keputusan yang tepat.

Dikelilingi Orang Bijak

Kamis, 13 Desember 2012

Dikelilingi Orang Bijak

Baca: 1 Yohanes 2:12-17

Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. —1 Yohanes 2:13

Saya pernah melayani sebagai penatua di sebuah gereja di California. Bob Smith, salah seorang penatua yang usianya lebih tua dari kebanyakan di antara kami, sering mendorong kami untuk senantiasa mengandalkan tuntunan dari firman Allah.

Pada suatu kesempatan kami sedang berdiskusi tentang kurangnya pemimpin di dalam gereja dan telah menghabiskan satu jam lebih untuk mencari jalan keluarnya. Bob berdiam diri sepanjang pembahasan tersebut. Akhirnya ia berkata pelan, “Saudara-saudara, kita telah melupakan jalan keluar dari Yesus untuk masalah kepemimpinan kita. Sebelum kita melakukan apa pun, kita harus terlebih dahulu meminta kepada ‘Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu’” (Luk. 10:2). Kami merasa tertegur, dan di sepanjang sisa waktu yang ada kami berdoa supaya Allah menyediakan para pekerja dan mengirimkan mereka ke ladang pelayanan.

C. S. Lewis berkata, “Yang terbaik selain menjadi seorang yang bijaksana adalah hidup dikelilingi oleh orang-orang bijak.” Amsal 1:5 mengatakan, “Baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.” Komentar Bob tadi hanyalah salah satu contoh dari betapa berharganya orang-orang bijak yang “telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya” (1 Yoh. 2:13-14) dan yang pikirannya dipenuhi dengan firman Allah.

Marilah kita menghayati nasihat dari orang-orang yang telah menjalani hidup di hadapan Tuhan dan menjadi dewasa oleh hikmat-Nya. Mereka adalah karunia Allah bagi kita dan gereja kita. —DHR

Orang beriman terdahulu yang mempercayai firman Allah
Telah menempuh jalan yang kini kita tempuh;
Mereka telah berjuang dalam pertempuran yang kini kita jalani—
Hikmat mereka mengajarkan kebenaran dan keadilan. —Branon

Orang yang sungguh bijaksana bersedia belajar dari pengalaman orang lain.