Posts

Ketika Penampilan Tidak Good-Looking, Bagaimana Bisa Meraih Bahagia?

Oleh Jasmine Ong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can I Be Happy If I’m Not Good Looking?

Ketika film Crazy Rich Asian dirilis, banyak orang mengapresiasinya karena itu jadi film Hollywood pertama yang diperankan orang-orang Asia dan menonjolkan budaya ‘Asia’. Tapi, yang menohok buatku adalah: selain crazy rich, para pemeran film itu penampilannya luar biasa good looking. Aku pun teringat omongan orang yang berkata kalau penampilan fisik yang menarik bisa membuat hidup jadi sukses.

Tahun 1994, ada artikel berjudul “Beauty and the Labor Market” ditulis oleh Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle. Artikel itu menunjukkan kalau karyawan yang dianggap berpenampilan menarik oleh perusahaannya mendapatkan penghasilan 10-15% lebih tinggi dari orang sepantarannya. Selain dalam hal pekerjaan, riset lain dari Alan Feingold yang berjudul, “Good-Looking People Are Not What We Think” menemukan kalau penampilan yang lebih baik juga berkorelasi secara positif dengan jumlah teman yang lebih banyak, dan popularitas yang lebih tinggi kepada lawan jenis. Tahun 2016 juga digelar studi yang melibatkan 120 ribu orang di Inggris Raya. Periset studi itu mendapati kalau laki-laki yang pendek atau perempuan yang tubuhnya gemuk (kebanyakan karena hal genetik) cenderung berpenghasilan lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang lebih tinggi dan langsing.

Aku tidak membutuhkan riset-riset di atas untuk memberitahuku apa yang telah kulihat dengan nyata di keseharianku–tapi, hasil riset itu seolah menegaskanku omongan-omongan orang yang bilang ‘kalau kamu good-looking, hidupmu bakal lebih gampang.’ Semua orang ingin jadi temanmu; kamu memancarkan kepercayan diri dan menghadapi hidup dengan mudah; kamu selalu menulis tagar #blessed di postingan Instagrammu. Aku tidak sedang bicara soal selebriti atau influencer. Mereka yang kumaksud adalah orang-orang biasa—teman sekelas, sesama jemaat gereja, tetangga kita—yang kelihatannya mendapatkan privelese karena genetik alias keturunan.

Aku juga melihat bagaimana orang-orang bisa kehilangan kesempatan kerja dan lingkaran sosial karena penampilan mereka. Aku ingat dua teman sekelasku yang bersusah payah mencari pekerjaan di negara asal mereka. Meskipun nilai-nilainya bagus dan mereka bisa berbicara dalam beberapa bahasa, mereka tidak juga diterima karena masalah berat badan. Suasana pasrah di antara kedua temanku itu sungguh memilukan, mereka seolah telah menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari hidup mereka. Ada pula temanku yang lain yang diomeli oleh saudaranya yang bilang kalau dia melajang sebagai akibat dari keengganannya diet dan menurunkan berat badan.

Pertarunganku dengan tubuhku sendiri

Dalam kasusku pribadi, masa-masa remaja dan awal usia 20-anku dipenuhi rasa tidak percaya diri dengan penampilan fisikku. Kupingku berukuran besar dan menonjol. Aku pun sering dijadikan bahan ejekan dengan dalih ‘canda doang kok’, tapi candaan itu menusuk begitu dalam. Tubuhku juga lebih besar dibandingkan dengan rata-rata perempuan Asia, fakta yang sering disematkan padaku oleh teman sekelas, keluarga, dan bahkan orang asing.

Karena semua itu, harga diriku terpukul jatuh. Aku menghabiskan waktuku berjam-jam menatap kaca di tembok, mengkritik wajah dan tubuhku sendiri. Aku memelas kepada papaku untuk melakukan operasi di telingaku dan hidungku supaya lebih mancung. Aku pikir semua itu jika dilakukan akan membuat kepercayaan diriku meningkat dan aku akan benar-benar bahagia. Papa dengan tegas menolak ideku itu.

Dia menjelaskan tentang risiko operasi plastik, tapi meskipun aku tahu itu memang bahaya aku tetap ingin melakukannya, terkhusus jika itu bisa membuatku berhenti membenci diriku sendiri.

Ketika akhirnya aku tidak lagi terobsesi operasi plastik, aku ingin menguruskan badanku. Aku bersumpah untuk makan lebih sedikit, tapi akhirnya terjebak dalam lingkaran setan yang terus membuatku merasa gagal dan membenci diri sendiri. Dikalahkan oleh beberapa upaya yang gagal, aku pun berpikir: Harapan macam apakah yang tersedia buat orang sepertiku, yang tidak kaya ataupun cantik, untuk memperoleh kebahagiaan?

Kecantikan di mata Allah

Pada waktunya, Alkitab menolongku memutus cerita dongeng yang kupercayai itu. Pada satu perikop, Allah memberitahu Samuel ketika Dia hendak menunjuk raja Israel yang selanjutnya: “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7).

Bagian ini menarik buatku. Allah yang menciptakan manusia menegaskan bahwa penampilan fisik tidaklah menarik. Ayat itu lantas membuka mataku untuk berpikir bahwa standar Allah itu berbeda. Allah menunjuk orang-orang untuk memenuhi peran masing-masing yang unik dalam kerajaan-Nya, tanpa melihat bagaimana penampilan fisik mereka. Aku sadar bahwa masyarakatlah, bukan Tuhan, yang membangun gagasan dan bias tentang kecantikan.

Aku kemudian belajar bahwa penderitaan adalah sesuatu yang lumrah bagi umat manusia. Kekayaan dan penampilan rupawan tidak menjamin hidup akan terbebas dari kesulitan. Lihatlah berita tentang bencana alam, perang, atau penyakit yang menghacurkan hidup seseorang tanpa melihat status mereka. Dokumenter yang baru dirilis tentang Britney Spears misalnya, menunjukkan padaku bahwa bintang terkenal sekalipun tidak kebal dari masalah mental.

Melalui realita ini, aku belajar untuk menerima bahwa melakukan operasi plastik tidak akan mengubah jalan hidupku. Hidupku malah berubah drastis ketika aku menerima Kristus sebagai Juruselamatku. Dari titik ini, aku tidak lagi menghadapi penderitaanku seorang diri, karena aku telah mendapatkan Penghibur dan Kawan yang mampu melihat rasa tidak percaya diriku dan berbagi beban. Yesus, yang disebut dalam nubuat Yesaya sebagai ‘tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada; (Yesaya 53:2), yang kemudian ditelanjangi dan berdarah-darah di atas kayu salib, sungguhlah jauh dari definisi fisik yang rupawan. Namun, dari Dialah kasih dan harapan hadir bagiku. Yesus jugalah yang berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Meskipun kadang masih sedih karena tidak memiliki fisik yang rupawan dan berberat hati karena tekanan yang diberikan oleh masyarakat untuk menjadi ideal berdasar standar mereka, aku menghibur hatiku dengan Mazmur 23 yang menyatakan Allah adalah gembala, dan aku tidak kekurangan suatu apa pun. Meskipun aku tidak memenuhi standar kecantikan masyarakat, atau aku menghadapi diskriminasi dan penolakan dalam berbagai bentuk, aku tahu Allah membimbingku melalui setiap momen itu dan Dia sungguh peduli padaku.

Bertahan hidup dalam pandemi telah mengajariku banyak hal. Hari-hari ini, aku merasa sungguh bahagia ketika aku pulang kerja setelah melayani pasien-pasien dan rekan kerjaku dengan sepenuh hati, sesuai kemampuanku. Aku menemukan sukacita dalam memupuk persahabatan yang telah bertahan dalam ujian waktu dan jarak.

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:9).

Baca Juga:

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, Papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.” Ian tak tahu harus menjawab apa.

Berdamai Dengan Perasaan Rendah Diri

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

Satu hal yang sering menjadi pergumulanku secara pribadi adalah kecenderunganku untuk minder dan rendah diri. Mungkin hal ini adalah hal yang ironis, karena sepertinya di mata orang, hidupku baik-baik saja. Tuhan telah memberi aku keluarga yang baik, pekerjaan yang stabil, dan dalam ukuran dunia, memang aku hidup dalam kecukupan, dan bahkan kelimpahan.

Dari usia dini aku selalu merasakan pressure untuk menjadi orang yang sempurna. Sewaktu aku masih di Sekolah Minggu, aku memiliki ketakutan yang tidak wajar tentang neraka. Karena Alkitab pun menuntut kita untuk sempurna, karena Tuhan sendiri sempurna (Matius 5:48). Mungkin karena aku adalah anak tengah dari lima bersaudara—banyak orang berkata bahwa anak tengah cenderung memiliki “middle child syndrome” atau keinginan untuk dianggap. Atau mungkin ada unsur bullying yang pernah aku alami ketika duduk di bangku SMP. Apapun itu, selalu ada keinginan untuk menyenangkan orang tua, diterima di komunitas, dan menjalin hubungan yang baik dengan semua orang. Dan selalu–hal ini membuat aku merasa bahwa diriku adalah “kurang”.

Banyak orang berkata, “jangan minder!” “Itu hanya masalah mindset.” Namun, apa yang kita rasakan, tidak dapat kita abaikan begitu saja. Nasihat seperti ini, walaupun mungkin diucapkan dengan maksud yang baik, kadang malah tidak membantu. Karena kalau kita jujur, mau sekeras apapun kita mendorong diri, sesungguhnya, kepercayaan diri bukanlah hal yang bisa di buat-buat.

Supaya Aku Jangan Meninggikan Diri

Memang, ada perbedaan di antara kerendahan hati dan kerendahan diri. Alkitab mengajarkan kita untuk rendah hati, dan bukan rendah diri, karena sesungguhnya, manusia telah diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:27). Namun, kerendahan diri bukanlah sesuatu yang dapat kita ubah dalam sekejap. Setidaknya, selama ini, perubahan tersebut bukanlah hal yang mudah bagi diriku. Walaupun mungkin setelah sekian lama tentunya aku mengalami pertumbuhan, kecenderungan untuk jatuh dalam unhealthy self-image seringkali masih ada.

Suatu bagian Firman yang menguatkan bagiku adalah 2 Korintus 12, di mana kita diceritakan tentang suatu kelemahan yang Paulus miliki. Ia menulis,

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku (ayat 7).

Kita tidak pernah diberitahu apakah sesungguhnya ‘duri’ tersebut yang menjadi suatu gangguan dan halangan bagi Paulus, namun kita diceritakan betapa sang rasul telah berdoa pada Tuhan untuk mengambil duri tersebut darinya. Akan tetapi, dalam keluhannya pun, ia menyatakan suatu kebenaran, yaitu, bahwa duri tersebut ada “supaya aku jangan meninggikan diri.”

Satu hal yang aku syukuri dalam kecenderunganku untuk rendah diri adalah peringatan yang sangat nyata akan kelemahanku dan ketergantunganku kepada Tuhan. Banyak orang memikir bahwa cara untuk mendorong orang lain untuk menjadi percaya diri adalah untuk membanjiri mereka dengan pujian. Tentu, kita boleh memuji dan mengapresiasi orang lain. Namun, jika berlebihan, sanjungan dapat memupuki bibit keangkuhan yang ada dalam hati setiap manusia–keangkuhan yang ada di awal mula, ketika Adam dan Hawa menginginkan otonomi, dan menyangkal dependensi mereka terhadap Tuhan.

Dalam Kelemahan, Kuasa-Nya Sempurna

Mengakui kelemahan kita bukan berarti kita menjadi orang-orang yang pesimis dan tanpa harapan. Orang Kristen tidak seharusnya merasa terkalahkan ataupun putus asa. Karena sesungguhnya, Kristus telah menang atas dunia.

Namun, kemenangan Kristus bukan berarti tiba-tiba kita tidak lagi dihadapi oleh kekurangan dan kelemahan. Sayangnya kebiasaan kita dalam komunitas Kristen adalah untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan memberikan kesaksian, hanya ketika ada hal-hal yang ‘layak’ untuk dibagikan. Seperti mengalami suatu mujizat atau terobosan yang tak terduga.

Sebaliknya kita melihat bahwa dalam kelemahannya, Paulus datang kepada Tuhan, sebagai seorang yang mengakui ketergantungannya pada-Nya. Dan Tuhan pun menjawabnya:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (ayat 9).

Satu hal yang menjadi penghiburan dan kekuatan bagiku, sewaktu-waktu aku jatuh dalam pemikiran-pemikiran yang tidak sehat tentang diriku sendiri (atau, unhealthy self-image) adalah Kebenaran Kekristenan yang paling mendasar. Bahwa identitasku tidak tergantung pada apa yang aku miliki, apa yang aku dapat bawa, ataupun pada pemikiranku tentang diriku sendiri. Identitasku sebagai anak Allah telah diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan yang telah membeliku dengan darah-Nya yang mahal.

Dalam Kebenaran inilah, aku percaya. Dan maka dari itu, karena Kebenaran ini, aku dapat bermegah atas kelemahanku, bahkan kerendahan diriku.

Yesus, Sang Raja Yang Merendahkan Diri-Nya Untuk Melayani Kita

Tuhan sendiri mencontohkan hal ini. Meskipun Ia adalah Raja segala raja, Ia datang ke dunia sebagai Bayi di palungan. Walaupun Ia adalah Tuhan, Ia tumbuh sebagai seorang manusia selama tiga puluh tahun dalam keterampilan pekerjaan ayah-Nya, seorang tukang kayu. Ketika Ia memulai pelayanan-Nya, banyak orang ingin menjadikan-Nya sebagai Raja. Tapi tidak lama kemudian, Ia dicemooh dan dihina, bahkan sampai kematian-Nya di atas kayu salib.

Yesus, Tuhan yang sempurna, merendahkan diri-Nya agar Ia dapat melayani kita, manusia yang angkuh. Ia tidak menuntut kesempurnaan dari kita, melainkan, mengasihi kita bahkan dalam segala kelemahan, agar kita dapat berseru kepada-Nya, sang Juruselamat. Dan karena Ia telah menjubahkan kita dengan kesempurnaan-Nya, kita dapat menjalankan hari-hari kita dengan setia, mengetahui bahwa bahkan dalam kelemahan kita, kasih Karunia Tuhan selalu ada.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Hal yang Kupelajari Ketika Aku Mengalami Frustasi Spiritual

Perasaan frustasi akan kegagalanku dalam pertobatan malah membuatku semakin menjauhi-Nya. Perasaan takut, sungkan dan khilaf membaur menjadi satu. Perasaan berulang inilah yang membuatku semakin depresi dalam spiritualku.

Suka dan Luka Mengenal Diri Sendiri

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Pada bulan April lalu, aku mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa patah hati yang kualami. Aku belajar bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak akan pernah bisa membuatku merasa cukup atau memperoleh kepuasan sejati (aku sempat menuliskan prosesnya di sini). Aku pikir peristiwa penolakan itu sudah cukup membuatku sadar akan pentingnya berelasi dengan Tuhan dengan motivasi hati yang murni; bukan hanya rutinitas keagamaan belaka. Namun ternyata Tuhan masih ingin membentuk aku dan menyingkapkan hal-hal baru tentang diriku sendiri, meski rasanya sakit dan aku harus terluka secara emosi dalam prosesnya.

Menyadari Masalah di Dalam Diri dari Konflik Relasi

Salah satu hal yang tidak aku sukai dari masa-masa pandemi ini—aku rasa banyak orang bisa merasakan hal yang sama—adalah menurunnya intensitas pertemuan tatap muka. Sehingga semua alur komunikasi diusahakan sebisa mungkin dilakukan melalui media elektronik dan aplikasi pesan singkat. Sayangnya, bahasa chat yang menjadi fitur utama aplikasi tersebut benar-benar terbatas dalam menyampaikan makna pesan ketika berkomunikasi. Tidak ada bahasa tubuh, ekspresi dan intonasi nada bicara yang sebenarnya bisa makin melengkapi makna dari pesan yang ingin disampaikan. Sehingga, salah paham kerap kali terjadi.

Ceritanya begini. Aku berselisih paham dengan salah satu teman kelompok tumbuh bersama (KTB). Di suatu pagi, kami sedang mengobrol santai melalui grup WhatsApp. Ketika sedang membicarakan sebuah topik, aku merasa ada perubahan gaya bahasa chat dari temanku itu. “Terdengar” lebih cuek dan jutek, menurutku. Lalu aku klarifikasi saja di sana apakah dia memang sedang kesal padaku, atau mungkin aku telah menyampaikan hal yang menyinggung perasaannya. Aku meminta dia untuk jujur saja. Ternyata benar. Dia merasa direndahkan oleh kata-kataku. Padahal, aku mengatakan hal yang dimaksudkan untuk kesehatan mentalnya sendiri (saat itu kami tengah membicarakan topik tentang bermain media sosial). Ironisnya, aku meminta dia jujur tapi aku sendiri ternyata tidak siap untuk menerima kejujuran itu. Aku ikut tersinggung, karena motivasiku sama sekali tidak ingin merendahkan atau menggurui dia. Sakit hati karena merasa dihakimi, aku pun meluapkan emosiku di grup tersebut dan berjanji untuk tidak akan berbagi hal baik apapun lagi di sana.

Aku sedih sekali. Tangis air mata tidak dapat kubendung, padahal saat itu aku sedang berada di kantor (bersyukur sekali aku sedang mendapat shift sendirian jadi tidak akan ada yang melihat). Konsentrasiku hilang saat bekerja. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di dalam pikiran: aku mengasihi dia, kenapa dia malah menilaiku begitu? Aku sudah biasa dihakimi orang lain, tapi mengapa dia, yang adalah teman baikku, ikut menghakimiku juga?

Aku berdoa dengan air mata dan tanpa kata-kata. Saat itu hanya kebingungan dan kesedihan yang melanda. Ketika tangisanku sudah mereda, barulah aku bertanya: Tuhan, aku kenapa ya? Aku arahkan pikiranku sejenak untuk merenung, lalu aku mengontak beberapa orang yang kupercaya untuk mencurahkan isi hati. Dari beberapa orang yang kuceritakan masalah ini, ada benang merah yang kuperoleh untuk “pertolongan pertama pada konflik”: tenangkan diri terlebih dahulu. Akhirnya aku putuskan untuk tidak melanjutkan pertengkaran di grup WhatsApp, bahkan temanku itu pun sudah mengontakku secara personal tapi aku putuskan untuk tidak membuka chat darinya. Pertimbangannya karena emosiku masih belum stabil dan aku belum tenang.

Beberapa hari setelahnya, temanku yang lain—masih satu grup KTB yang sama—mengajakku berbincang-bincang lewat telepon. Kondisinya saat itu aku sudah lebih tenang, tapi aku memang masih belum mau berkomunikasi dengan si teman yang berkonflik. Dalam percakapan di telepon, dia mengatakan bahwa ini bukan soal siapa yang paling benar, tapi apa isu pribadi yang ada di dalam diri kami masing-masing? Lalu ia memulai dengan mengajukan dua pertanyaan yang membuatku merenung:

1. Apa yang kamu rasakan saat ini?
2. Apa yang kamu pikirkan saat ini?

Dalam merenungkan dua pertanyaan ini, aku akhirnya menemukan bahwa aku bergumul dengan rasa takut dihakimi, rasa takut ditolak, sehingga aku sering jatuh pada overthinking, dan akibatnya aku menjadi orang yang sangat minder dan rendah diri di segala situasi.

Menarik sejarah hidupku ke belakang, aku menyadari ternyata memang ada beberapa peristiwa di masa lalu yang membuatku merasa dihakimi dan ditolak sampai rasa minder juga rendah diri menguasai. Salah satunya adalah waktu SD aku sering sekali dibandingkan tinggi badannya dengan teman-temanku yang lebih tinggi. Mereka mengejekku karena memang tubuhku pendek. Posturku yang kecil memang sering menjadi bahan olok-olok beberapa teman atau kerabat pada masa itu. Ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh seperti ini ternyata menjadi akar minder dan rendah diri yang tertanam kuat sampai aku dewasa—ini pun baru aku sadari akhir-akhir ini saat masa pandemi. Dan masih ada beberapa peristiwa ‘traumatik’ lainnya yang tidak dapat aku ceritakan secara rinci di tulisan ini. Intinya, secara tidak sadar aku masih membawa luka-luka di masa lalu yang membuatku penuh dengan ketakutan, rasa minder, rendah diri, dan—parahnya—aku mengkonfirmasikan hal-hal itu menjadi identitas sejatiku; bahwa Meista memang perempuan yang penakut, layak untuk minder, dan tidak patut dihargai meskipun memiliki prestasi atau talenta positif. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Meista karena hidupnya hanya penuh dengan kesalahan—itu pemikiranku.

Menolak Diri Sendiri, Berpura-pura Menjadi Orang Lain

Merenungkan hasil perbincangan kami di telepon, aku tiba-tiba teringat sebuah lirik lagu tentang menjadi diri sendiri. Judulnya: Reflection yang dipopulerkan oleh Christina Aguilera. Lirik lagu original soundtrack dari film “Mulan” ini cukup membantuku untuk merenung: apakah selama ini aku kurang menjadi diri sendiri demi supaya selalu bisa diterima oleh orang lain? Izinkan aku mengutip beberapa penggalan lirik yang aku nikmati dari lagu tersebut:

“Now I see, if I wear a mask, I can fool the world. But I cannot fool my heart.”
(Sekarang aku paham, jika aku menggunakan topeng, aku bisa menipu dunia. Tapi aku tak bisa menipu hatiku sendiri.)

“Who is that girl I see staring straight back at me?”
(Siapakah perempuan yang kulihat sedang menatap langsung ke arahku?)

“Must I pretend that I’m someone else for all time?”
(Haruskah aku berpura-pura menjadi orang lain sepanjang waktu?)

“Why must we all conceal what we think, how we feel?”
(Mengapa kita harus menyembunyikan apa yang kita pikirkan dan rasakan?)

“I won’t pretend that I’m someone else for all time.”
(Aku tak akan berpura-pura menjadi orang lain sepanjang waktu.)

“When will my reflection show who I am inside?”
(Kapan bayanganku akan menunjukkan siapakah diriku yang sesungguhnya?)

Baris terakhir pada lirik lagu tersebut merupakan pertanyaan refleksi untukku pribadi. Sambil berkaca—dalam arti sesungguhnya, berdiri di depan kaca/cermin—aku merenung: apakah aku menaruh identitasku pada penerimaan orang lain? Siapa role model yang ingin kujadikan identitas sehingga aku bisa diterima orang lain dan tidak ditolak lagi? Sebenarnya siapakah perempuan yang sedang aku lihat di cermin ini? Dalam merenungkan hal ini, aku teringat 3 bagian Firman Tuhan yang sebenarnya telah menyatakan identitasku sebagai manusia:

  1. Kita diciptakan segambar dan serupa dengan Allah Sang Pencipta (Kejadian 1:27)
  2. Karena dosa, gambaran tersebut akhirnya rusak dan diri ini sudah kehilangan kemuliaan Allah. Bahkan relasi kita dengan-Nya pun rusak akibat dosa (Roma 3:23)
  3. Yesus Kristus datang ke dalam dunia karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita, sehingga relasi antara kita dengan Tuhan kembali dipulihkan oleh karena karya Kristus di kayu salib (Yohanes 3:16)

Mungkin selama ini aku ingin menjadi si A yang, menurutku, parasnya lebih cantik, tubuhnya lebih langsing dan lebih tinggi. Atau aku ingin menjadi si B yang, lagi-lagi menurutku, lebih berprestasi di sekolah atau kampus, lebih jago main musiknya, lebih banyak teman-temannya, lebih besar gaji di kantornya, lebih sukses dan mapan kelihatannya. Dari keinginan-keinginan yang berakar pada hasrat ‘ingin diterima’ tersebut, aku sebenarnya sedang jatuh pada penolakan diri sendiri. Aku merasa diriku tidak berharga—sangat bertolak belakang dengan apa yang tertulis pada kitab Yesaya 43:4a.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…”.

Aku malah cenderung melukai mental diriku sendiri (seorang psikolog bernama Guy Winch—pada sebuah artikel tentang bagaimana menghadapi penolakan—memberi istilah self-inflicted: melukai emosi dan harga diri sendiri, merasa jijik pada diri sendiri, dan berdampak pada emosi yang tidak sehat). Sadar bahwa menolak diri sendiri itu tidak baik, pelan-pelan aku mengizinkan diriku untuk belajar mengenal diriku sendiri. Belajar peka tentang bagaimana responku ketika menghadapi konflik dan masalah, apa yang kurasakan jika aku mengalami hal ini dan itu, bagaimana responku saat ada orang-orang yang ternyata menerimaku apa adanya dengan tulus, juga bagaimana responku ketika lagi-lagi dihakimi atau ditolak. Dan yang terpenting: mengizinkan diri untuk ditolong Tuhan dan menjadi rentan (vulnerable). Curt Thompson dalam bukunya yang berjudul “The Soul of Shame” menuliskan:

“Bagian-bagian dari kita yang terasa paling rusak dan yang paling kita sembunyikan adalah bagian-bagian yang paling butuh dikenal oleh Allah, agar bisa dikasihi dan disembuhkan.”

Dari sini, pelan-pelan aku mengizinkan diriku untuk berproses dalam mengenal diri sendiri. Mengakui kerapuhanku, luka masa lalu, dan akar pahit yang mengganggu ke hadapan Tuhan. Memberi diriku untuk dikasihi dan disembuhkan oleh-Nya—kadang aku hanya tahu secara teoretis bahwa Tuhan mengasihiku, tapi terlalu takut dan mengerikan jika aku harus melakukan penyerahan diri secara total, termasuk menyerahkan luka-luka dan akar pahit hidup ini ke dalam tangan-Nya. Butuh perenungan yang tidak sebentar sampai aku benar-benar siap untuk percaya dan merasa dikasihi oleh-Nya.

Lega dan Bebas Menjadi Diri Sendiri dalam Yesus

Akhirnya aku tidak lagi menjadikan manusia manapun sebagai role model identitasku, karena aku paham satu-satunya Manusia yang sempurna hanyalah Yesus Kristus. Dialah role model identitasku. Benar, bahwa aku hanya manusia berdosa dan bukan Juruselamat seperti Dia. Tapi menyadari dan menghayati hal ini membuatku menikmati fakta bahwa aku akan selalu berhadapan dengan sesama orang berdosa, termasuk menghadapi diriku sendiri yang juga berdosa. Oh iya, namun bukan berarti kita tidak boleh meneladani sesama manusia ya. Tetap boleh, kok. Maksudku, aku yakin Tuhan hadirkan orang-orang di sekitar kita untuk menjadi teladan, panutan, dan inspirasi bagi sesama. Semisal kita mengagumi seorang artis karena talentanya, atau pendeta di gereja karena kebijaksanaannya, atau bahkan teman sepersekutuan kita karena teladannya yang lemah lembut, menurutku itu tidak masalah jika kekaguman tersebut mendorong kita untuk semakin bertumbuh. Yang bisa membuat kita ‘tergelincir’ adalah ketika kita sudah menancapkan identitas kita harus semakin serupa dengan orang yang kita idolakan tersebut. Padahal kita sama-sama orang berdosa, dan padahal seharusnya kita semakin serupa dengan Yesus Kristus (Roma 8:29).

Mengenal diri sendiri dengan baik merupakan proses yang akan berlangsung terus-menerus seumur hidup. Sekarang, dengan kasih karunia Allah, aku bersukacita dan bebas mengenal diriku sendiri lebih dalam. Dulu aku stres memikirkan dan mengharapkan apa yang orang lain pandang tentang diriku. Setelah itu merasa terluka dan kecewa karena ternyata pandangan mereka berbeda dengan apa yang aku pikir dan harapkan. Sekarang aku ‘stres’ kalau tidak menjadi diriku yang apa adanya, karena aku merasa palsu jika tidak jujur dengan diri sendiri. Dan aku percaya: Tuhan pasti menolong kita masing-masing untuk mengenal diri kita yang sebenarnya, lalu di saat yang sama menolong kita juga untuk mengenal dan berelasi dengan Dia di dalam kasih-Nya yang tak terbatas. Maukah kita bersukacita dengan diri sendiri dan menyerahkan luka-luka kita kepada-Nya? (Ngomong-ngomong, aku sudah baikan dengan teman KTB-ku itu, dan konflik tersebut membuat kami justru jadi makin mengenal lebih dalam satu sama lain. Tuhan memperbaiki relasi kami dan menolong kami untuk berdamai melalui kasih dari teman-teman lain dalam grup itu. Terpujilah Tuhan!).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

4 Alasan untuk Tidak Perlu Takut Bertemu Ahli Kesehatan Mental

Pergi menemui ahli kesehatan mental bukanlah aib. Aku punya pengalaman pribadi bertemu rutin dengan konselor untuk menolongku mengendalikan emosiku. Lewat pertemuan itulah Tuhan menolongku.

Diam, Tak Bisa Melawan

Oleh Nurafni

Orangtua kemungkinan besar akan bangga ketika mengetahui anaknya dapat bersekolah di sekolah favorit. Tak cuma orangtuanya, anaknya pun tentulah merasa bangga. Itulah perasaanku ketika aku diterima di sekolah favorit sewaktu SMP. Ketika teman-teman SD-ku beserta orangtua mereka meremehkan dan berkata bahwa mustahil aku dapat bersekolah di sana, tetapi Tuhan Yesus berkehendak lain dan melunturkan stigma mereka tentangku.

Perasaan bahagia dan berharap besar akan kehidupan SMP-ku untuk berjalan lancar terus mengelilingiku, karena aku satu-satunya murid dari SD-ku dan lingkunganku yang dapat masuk ke sekolah tersebut. Awalnya aku berpikir bahwa aku dapat menjalani masa-masa remajaku ini dengan baik dan penuh tawa. Saat kelas VII, aku ditempatkan Tuhan di kelas yang seru dan nyaman dengan teman-teman yang kocak. Bisa dibilang aku sangat bahagia sewaktu kelas VII ini.

Tetapi keadaan kemudian berbanding terbalik ketika aku menginjak kelas VIII. Di mana setiap pergantian kelas setiap siswa akan diacak sehingga aku mempunyai teman dan lingkungan baru dalam suasana kelas yang baru juga. Kali ini, aku ditempatkan Tuhan dengan orang-orang yang suka mengolok orang lain untuk menjadi bahan hiburannya. Aku termasuk ke dalam bahan hiburan dan tawaan mereka karena warna kulitku yang lebih gelap. Hampir setiap hari dalam kelas itu aku selalu diolok-olok. Bahkan di saat jam pelajaran pun saat guru sedang menjelaskan, mereka berbisik-bisik sambil menatapku dan sambil melontarkan kata-kata hinaan. Mereka memandangku seolah-olah aku adalah sebuah ‘barang’ yang buluk dan telah usang. Bahkan lebih dari itu, aku seakan-akan seperti monster di hadapan mereka. Kata-kata mereka yang menyakitkan terus terngiang bahkan membuatku menangis seketika itu juga. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya tertunduk dan mengambil earphone dan mendengarkan lagu “Hanya dekat kasih-Mu Bapa”. Dalam penggalan lirik tersebut terdapat kalimat. “walau dunia melihat rupa, namun Kau memandangku, sampai kedalaman hatiku”. Aku pun merasa tenang dan dikuatkan walaupun hatiku menangis. Aku menyadari bahwa cara Allah memandangku berbeda dari cara dunia. Mengetahui Allah tidak memandang fisikku memberiku kekuatan untuk menjalani kehidupan masa remajaku.

Meskipun aku sempat kecewa pada diri sendiri dan kepada Tuhan yang membiarkan hal ini terjadi padaku, namun hal itu tidak membuat Tuhan menunda pekerjaan tangan-Nya. Aku pun diberi kekuatan untuk mulai membiasakan diri dengan hinaan serta olokan mereka yang melukai perasaanku hampir tiap hari sepanjang kehidupan SMP-ku. Tetapi aku lantas tidak bersedih lagi karena hal-hal itu. Rasa sakitku diganti dengan perasaan kagum kepada Tuhan atas penyertaan-Nya melalui orangtua yang baik, menghiburku dan mendukungku. Ketika aku kembali berpikir saat ini, kenapa sewaktu aku mengalami perundungan aku tidak melawan dan menghajar mereka? Kenapa aku lemah sekali? Kenapa aku malah menyiksa diriku sendiri karena perkataan mereka? Oh mungkin karena aku merasa tidak dapat melawan mereka, temanku tidak ada yang membelaku.

Tetapi setelah berpikir sampai saat ini aku menemukan jawaban yang Tuhan berikan padaku. Bahwa penderitaan yang Tuhan izinkan terjadi atasku tidak melebihi kekuatanku. Bahkan lebih daripada itu, penderitaan yang aku alami tidaklah seberapa besar dari apa yang telah Tuhan Yesus alami. Dia dihina, dicaci, diludahi bahkan disalibkan. Yesus yang tidak mengenal dosa menerima perlakuan tidak manusiawi itu dan tidak melawan. Yesus taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Mengapa aku bersungut-sungut? Mengapa aku merasa menyesal karena tidak melawan?

Aku pun menyadari bahwa melalui penderitaan yang kualami tersebut, Tuhan Yesus ingin supaya aku lebih mengenal Dia satu-satunya pribadi yang tidak pernah meninggalkanku. Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia dapat mengecewakan, tetapi Dia tidak. Bahkan sekalipun aku merasa ditinggalkan namun Dia tak pernah jauh dariku. Hal ini dibuktikan dengan aku bisa melewati kehidupan SMP-ku dan Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan memberikanku kepandaian dan nilai yang cukup memuaskan. Memang aku tidak diterima di kehidupan teman-temanku. Tetapi Tuhan Yesus menerimaku apa adanya dan Dia mengizinkanku untuk membuat orangtuaku bangga.

Dari pergumulan ini aku belajar bahwa lebih baik berlindung kepada Tuhan daripada percaya kepada manusia (Mazmur 108:8). Sedekat atau seakrab apa pun kita dengan teman kita, mereka belum tentu dapat menolong kita. Hanya Tuhan yang dapat menolong dan menjadi sandaran kita. Namun bukan berarti kita menjadi membenci teman kita. Aku sekalipun tidak membenci teman-temanku yang tidak beraksi menolongku saat aku diperolok. Aku menyadari bahwa mereka hanyalah manusia terbatas dan mungkin saat itu mereka juga sedang merasakan pergumulan atau penderitaan tersendiri. Dengan begitu pula, aku mulai menjadi akrab dengan Kristus dan merasakan ketenangan sejati hanya dari pada-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menemukan Passion: Kombinasi Sukacita dan Derita

Passion biasanya identik dengan apa yang kita senangi. Tapi, seiring proses ketika kita dihadapkan dengan tantangan dan rintangan, apakah kita tetap setia melakukan passion tersebut?

Apakah Kamu Merasa Pelayananmu di Gereja Tidak “Sukses”?

Oleh Leslie Koh
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Are You “Unsuccessful” In Church?

Kamu aktif melayani di gereja. Kamu hadir setiap Minggu pagi, datang lebih awal untuk menata bangku dan menyiapkan peralatan kebaktian, atau kamu menjemput jemaat-jemaat yang renta dari rumah mereka, lalu mengantarnya hingga mereka duduk di tempat biasa mereka di ruang ibadah.

Atau, pelayanan yang kamu lakukan secara pribadi adalah mendengarkan curhatan para remaja atau menghibur para lansia. Jadi, setiap minggunya sehabis ibadah, kamu mengobrol dengan mereka sembari menyeruput segelas teh. Kamu mendengar keluh kesah mereka, lalu berdoa bersama mereka. Dan, selama bertahun-tahun, mereka selalu datang padamu, satu per satu, untuk mengucap terima kasih dan memberitahumu betapa kamu berarti buat mereka.

Tapi, tak ada seorang pun yang tahu pelayananmu ini. Namamu tidak muncul di daftar ucapan terima kasih di buletin gereja. Ketika gerejamu mengangkat diakon dan pemimpin baru, kamu tidak masuk di antaranya. Ketika gerejamu menyebutkan nama-nama orang yang telah berjasa, namamu tak muncul pula. Sedikit orang menyapamu dengan memanggil namamu. Entahlah, padahal hampir semua orang sebenarnya tahu siapa namamu.

“Nggak apa-apa,” kamu memberitahu dirimu sendiri. “Tuhan tahu. Aku tidak butuh untuk dikenal; adalah baik untuk tetap rendah hati.”

Namun, mungkin tak selamanya kamu kuat. Setiap orang agaknya membutuhkan sekadar tepukan di punggung mereka, entah sekarang atau nanti. Tak dipungkiri, tentu ada masa-masa ketika kamu lelah; kamu merasa seolah dianggap remeh, dan sedikit pujian atau ucapan terima kasih tentu tak akan menyakitimu. Kamu tidak cemburu karena orang lain yang mendapat pujian atau ketenaran (sungguh!), tapi kamu merasa cukup lelah karena melakukan segalanya tanpa ada sedikit pun apresiasi.

Hei, kita semua sebenarnya “sukses” dalam pelayanan kita di gereja (atau juga di pekerjaan kita). Tapi, sepertinya, cara “sukses” itu bukan sesuatu yang kita nikmati.

Alkisah ada seorang pria yang pergi ke pantai untuk mengambil bintang-bintang laut yang terdampar di pasir. Dia lalu melemparkan satu per satu bintang laut itu ke laut. Seseorang lantas bertanya, “Bagaimana caranya kamu bisa menyelamatkan semua bintang laut ini? Terlalu banyak!” Dia menjawab, “Iya, susah tentunya, tapi aku memberi perbedaan untuk satu bintang laut ini.” Pelajaran umum yang bisa dipetik adalah: kita mungkin tidak mampu menyelamatkan semua orang, tapi kita bisa menyelamatkan satu orang, pada satu waktu.

Bagus. Tapi, inilah masalahnya: Tahukah kamu nama pria itu?

Kamu tentu tidak tahu. Tidak ada satu orang pun yang tahu. Dia tidak disebutkan di buletin gereja atau dipuji dalam sesi pengumuman di ibadah Minggu. Pendeta di gerejanya bahkan tak tahu namanya. Tapi, bagi setiap bintang laut yang dia lemparkan kembali ke laut, dia adalah juruselamat sejati. Tiap bintang laut itu tentu tahu siapa dia. Siapakah dia? Dialah si Pemungut Bintang Laut!

Dan itulah siapa dirimu. Hanya mereka yang kamu tolong yang mengetahuimu. Seorang perempuan yang kamu hibur ketika hatinya remuk. Seorang pria tua yang kamu tolong menaiki tangga setiap minggu. Bagi mereka, kamu adalah dunianya, karena kamulah satu-satunya yang peduli. Orang banyak mungkin tak tahu namamu, tapi mereka tahu. Kamulah “pemungut bintang laut” bagi mereka.

“Tapi, aku cuma menolong lima orang saja,” katamu. Mungkin itulah yang membuatmu berpikir kenapa sedikit orang di gereja yang menyadari pelayananmu. Tetapi, tak peduli lima orang—dua, atau satu—orang yang kamu layani, kamu adalah rahmat dari Tuhan. Di malam hari mungkin mereka mengucap syukur pada Tuhan atas kehadiranmu dalam hidup mereka. Mengapa? Karena kamulah ‘pemungut bintang laut’nya Tuhan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Kristus dan Liverpool: Pengikut Sejati atau Penggemar Belaka?

Cukup lama Liverpool puasa gelar dan tak selalu aku menggemarinya. Padahal, aku mencap diriku sebagai fans Liverpool. Aku pun terpikir, bagaimana dengan mengikut Kristus? Apakah aku sekadar penggemar atau pengikut-Nya sejati?

Kala Instagram Merenggut Sukacitaku

Oleh Minerva Siboro, Tangerang

Suatu ketika, aku melihat status temanku di Facebook. “Untuk saat ini tidak akan aktif dalam media sosial manapun. Seluruhnya telah menjadi racun bagiku dan mungkin hanya bisa menghubungiku lewat WA saja,” tulisnya. Dengan membaca status itu, aku menerka, mungkin saja temanku ini sedang bergumul karena ketergantungan pada media sosial. Aku lalu merefleksikan pada diriku sendiri, apakah aku mengalami yang sama?

Saat aku menjelajah Instagram, kulihat story teman-temanku berjejer. Ketika kubuka, kulihat betapa aktif dan banyaknya kegiatan yang mereka lakukan. Tiba-tiba, aku merasa kepercayaan diriku ambruk. “Kapan aku bisa seperti itu? Fotonya bagus banget! Kalau dibandingin denganku, aku sepertinya tidak ada apa-apanya. Aduh, kok aku gak seberuntung dia. Aku harus posting juga deh foto ini supaya kelihatan keren!” Tanpa kusadari, aku melewatkan waktu dua jam untuk melihat story teman-temanku dan membandingkannya dengan diriku sendiri, bahwa aku sepertinya selalu kurang jika dibandingkan dengan unggahan teman-temanku itu.

Segera kututup Instagramku dan berdoa, “Tuhan, ampunilah aku yang menganggap diriku tidak lebih baik dari orang lain, terlebih aku telah membuat Engkau terpojokkan. Engkau yang telah menciptakanku dengan sangat baik adanya, tapi aku tidak mensyukuri karya-Mu yang luar biasa dalam diriku ini.”

Aku ingat khotbah dari pendetaku saat kebaktian Minggu di gereja. Kira-kira beginilah kata-katanya, “Jikalau kamu merasa dirimu berharga (sebab Allah telah menciptakan kamu), maka hal-hal berharga lainnya (uang, jabatan, kemewahan) yang tidak kamu miliki bukanlah standar yang membuat dirimu berharga.” Jika saat ini kita tak punya baju bagus, rumah mewah, kendaraan yang keren, itu tidaklah masalah. Kepemilikan atas benda-benda tersebut bukanlah indikator seberapa berharganya diri kita. Kita berharga karena Allah yang telah menciptakan kita. “Untuk mencapai kepuasan diri, maka lihatlah betapa berharganya dirimu di hadapan Tuhan.” Dari perenungan itu, aku menyadari bahwa kunci kebahagiaan sejatinya bukanlah ada pada apa yang belum kita miliki atau apa yang ingin kita tambahkan, melainkan pada apa yang sudah kita miliki: talenta dan karunia yang telah Allah berikan.

Manusia adalah imago Dei, segambar dan serupa dengan Allah seperti tertulis dalam Kejadian 1:26a-27. Citra kita sebagai gambaran Allah adalah sebuah keistimewaan. Meski kita telah jatuh ke dalam dosa, Allah tetap menjadikan kita istimewa hingga Dia datang ke dunia dalam rupa Kristus untuk menyelamatkan kita.

Aku adalah satu-satunya di antara sekian banyak umat manusia di dunia ini. Saat aku belajar biologi, aku mengetahui bahwa tidak ada satu pun dari antara seluruh umat manusia memiliki DNA yang sama. Bahkan, dua orang yang kembar identik pun DNA-nya berbeda. Tak ada satu pun manusia yang tak berharga. Semuanya diberi talenta dan kemampuan yang berbeda-beda, supaya setiap dari kita bisa saling melengkapi di dalam persekutuan yang bertumbuh dalam Tuhan.

Aku sangat bersukacita membayangkan betapa beruntungnya aku memiliki Tuhan yang sangat besar dan menyayangiku dengan sangat istimewa. Terlebih lagi, Tuhan mengenali satu persatu umat-Nya, yang Dia bentuk dengan tangan-Nya sendiri (Yeremia 1:5). Aku masih terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Godaan memang selalu datang. Ilah-ilah palsu dunia ini merayuku dan menarikku untuk menjauh dari Tuhan dengan mengajakku untuk memercayai bahwa diriku kurang ataupun tidak berharga.

Menikmati media sosial dengan perspektif baru

Aku tidak menutup akun media sosialku. Menurutku, banyak hal positif yang aku dapatkan dari media sosial, seperti berita dan informasi, kondisi teman-teman lamaku, keluargaku yang jauh, bahkan bekerja pun lewat media sosial. Hal yang aku lakukan agar media sosial tidak lagi membuatku tidak bersukacita yaitu dengan cara menggunakannya sesuai porsi yang tepat. Aku juga belajar untuk mengatur waktu dan mengendalikan diriku sendiri saat bermain media sosial. Saat ini aku sangat bersukacita dengan apa yang sudah aku miliki dari Sang Pemilik itu sendiri.

Ravi Zacharias, penulis buku “The Grand Weaver” menyebut-Nya dengan istilah “Sang Penenun Agung”. Aku sangat menyukai sebutan itu. Tuhan telah “menenunku” sedemikian rupa dalam suatu tujuan dan ketetetapan yang kekal. Seperti yang dikatakan dalam Mazmur 139:13-17 “Engkaulah yang membuat bagian-bagian halus di dalam tubuhku dan menenunnya di dalam rahim ibuku. Terima kasih karena Engkau telah membuat aku dengan begitu menakjubkan! Sungguh mengagumkan kalau direnungkan! Buatan tangan-Mu sungguh ajaib—dan semua ini kusadari benar. Pada waktu aku dibentuk di tempat tersembunyi, Engkau ada di sana. Sebelum aku lahir, Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau telah merencanakan setiap hari hidupku. Setiap hariku tercantum dalam Kitab-Mu! Tuhan, sungguh indah dan menyenangkan bahwa Engkau selalu memikirkan aku. Tidak terhitung betapa seringnya pikiran-Mu tertuju kepadaku. Dan ketika aku bangun pada pagi hari, Engkau masih juga memikirkan aku.” (FAYH).

We are so precious, kita sungguh berharga.

Baca Juga:

4 Jurus untuk Mengatasi Kekhawatiran

Mengatasi khawatir itu susah-susah gampang. Kita tahu janji Tuhan, tapi hati ini kerap menolaknya. Yuk simak 4 jurus ini untuk mengatasinya.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Pernahkah kamu menolak dirimu sendiri?

Mungkin ketika nilai-nilaimu tak memenuhi keinginan orang tuamu? Karena teman-temanmu mengejek dan menertawakanmu? Atau, karena kondisi keluargamu tak sebaik keluarga orang lain? Dunia ini mengajari kita untuk selalu merasa tidak puas. Ibarat secarik kertas putih, kita dinodai oleh pandangan-pandangan buruk yang berkembang di sekeliling kita. Tanpa kita sadari, kita pun menolak diri kita.

Apa sih tandanya kalau kamu sedang menolak dirimu sendiri?

1. Kamu berjuang keras untuk membuktikan dirimu

Ada kutipan yang bilang: what doesn’t kill you, makes you stronger. Komentar-komentar buruk mungkin menjadi motivasi penggerakmu. Kata-kata itu melukaimu, tapi mendorongmu bangkit. Selembar kertas putih menyembunyikan wujudnya, mengenakan sehelai masker untuk menunjukkan senyum getirnya. Penolakan dari orang lain kamu jadikan pecut bagi dirimu sendiri, dan kamu paksa dirimu untuk selalu jadi orang yang lebih baik.

2.Takut melihat ke belakang

Menutup lembaran lama, sama sekali tak ingin menengoknya lagi. Ketika kenangan itu datang, ada narasi yang berbisik di hati: Kok aku bodoh banget sih? Kok aku jelek? Kok aku memalukan? Kamu melabeli dirimu dengan banyak hal negatif.

3. Tak bisa menilai diri dengan objektif

Semakin banyak informasi buruk diterima, semakin sulit kamu menilai dirimu dengan objektif. Kamu menganggap kamulah yang paling bodoh, paling jelek, paling suram di dunia ini

Namun, seiring kamu kelak mengalami proses pemulihan dari Tuhan, Dia membukakan pandanganmu untuk melihat betapa kamu telah menolak dirimu sendiri. Di hadapan tuntutan tinggi yang diterapkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkunganmu, kamu mungkin tak mampu mencapainya. Akibatnya, kamu menolak dirimu, membandingkan dengan orang lain, dan merasa buruk. Perasaan-perasaan ini menekanmu sampai Tuhan akhirnya memberimu kelegaan.

4. Ketahuilah nilai dirimu yang sejati di hadapan Tuhan

1 Korintus 6:20 berkata, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. Tuhan mengerti dan menguatkan kita. Ingatlah siapa kita di dalam-Nya.

5. Serahkanlah segala kepedihanmu kepada Tuhan

Kuatkanlah hatimu, berdamailah dengan dirimu sendiri, dan serahkanlah segala luka masa lalumu pada Tuhan yang akan menolongmu keluar dari kegelapan.

Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Baca Juga:

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan?

Imperfect: Menjadi Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

Oleh Tabita Davinia Utomo, Jakarta
Gambar diambil dari official trailer

Film besutan Ernest Prakasa dan istrinya, Meira Anastasia yang tayang perdana di akhir 2019 lalu mungkin menjadi film yang dinantikan banyak orang. Film ini mengangkat isu yang hangat di masyarakat saat ini: insecurity.

Sesuai judul bukunya, Imperfect menceritakan tentang keadaan para wanita yang merasa insecure (tidak aman) dengan ketidaksempurnaan diri mereka. Secara khusus, film ini menyoroti kehidupan Rara yang bermasalah dengan kegemukan, Lulu yang kurus tapi dibilang chubby oleh pasangannya, empat penghuni kos ibu Dika, dan kekasih Rara. Mereka harus siap dicibir orang lain karena tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku di masyarakat zaman ini: tubuh langsing, pipi tirus, berkulit putih, berwajah manis, dan bisa berdandan atau up to date terhadap fashion. Namun, perlahan-lahan mereka bisa bangkit dan menunjukkan bahwa kecantikan tidak selalu harus bersumber dari kecantikan fisik semata. Di akhir film, Rara yang diperankan oleh Jessica Mila mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia.”

Sebagai orang yang sering merasa insecure dengan penampilan fisik, aku merasa tertohok dengan film ini. Meskipun terlahir sebagai orang Kristen yang sangat tidak asing dengan frasa “kamu berharga di mata Tuhan”, aku masih bergumul dengan perasaan minder karena kondisi tubuhku yang kelewat kurus berdasarkan standar body mass index. Banyak orang berkata kalau aku kurang makan. Tidak sedikit juga yang “menyalahkan” orang tuaku yang sama-sama berperawakan kurus. Akibatnya, kalau kesal, aku sering memendamnya dengan makan (terutama makan coklat)…namun ini tidak juga menambah berat badanku.

Selain itu, aku juga memiliki bekas jerawat di wajahku yang sulit hilang, ditambah lagi kedua mataku yang minusnya tinggi. Aku jadi sulit melihat jauh jika tanpa kacamata. Plus, aku juga termasuk orang yang terlambat belajar cara make-up dan memadupadankan pakaian di saat teman-temanku sudah melakukannya lebih dulu. Ini semua menambah perasaan minderku.

Tapi…meskipun dunia mungkin melihatku berdasar penampilan fisikku dan orang-orang melakukan body shaming terhadapku, Tuhan tidaklah demikian. Tuhan tidak menilaiku dengan cara seperti itu.

Kita diciptakan dengan amat baik

Ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya sampai di hari kelima, Alkitab mencatat metode penciptaan-Nya, yaitu dengan berfirman. Ya, hanya dengan berfirman, Allah menciptakan segala sesuatu—kecuali manusia. Di hari keenam, barulah Allah menciptakan manusia, ciptaan Allah yang paling mulia. Allah tak hanya berfirman (Kejadian 1:26), tapi juga membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri serupa dengan gambaran-Nya, imago Dei (Kejadian 1:27), diberi-Nya nafas kehidupan, dan diberikan pula mandat budaya (Kejadian 1:28). Penciptaan manusia terlihat kontras dari ciptaan-ciptaan yang lain, bukan?

Namun, ironisnya, gambar Allah yang mulia itu rusak karena dosa (Kejadian 3). Akibatnya, manusia mengalami keterpisahan dari Sang Pencipta…sekaligus harus bergumul dengan dosa. Tidak heran jika semakin lama dosa muncul dalam berbagai bentuk—termasuk insecurity atas bentuk fisik yang Tuhan berikan. Mungkin, kita pun termasuk salah satu di antara banyak orang yang terjebak dalam masalah ini.
Meski kita terjebak, bukan berarti tidak ada jalan keluar.

Allah mengetahui kerapuhan kita, karena itulah Dia memberikan Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa kita dan menjadi jembatan bagi relasi kita dengan Bapa. Yang lebih indah lagi, Yesus juga membaharui citra diri kita yang rusak dengan memberikan status yang baru bagi kita orang percaya sebagai anak-anak Allah. Ada dua bagian dari firman Tuhan yang membuktikan ini:

1. Mazmur 139 yang menjelaskan bagaimana Allah menciptakan setiap orang dengan detail dan dengan keunikannya masing-masing. Sekalipun kita tidaklah sempurna, tetapi Allah tetap mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, karena kita adalah kepunyaan-Nya.

2. Doa Bapa Kami. Yesus meneladani kita untuk menyebut “Bapa” sebagai fokus doa kita. Artinya, bagaimana pun orang lain menilai kita, kita memiliki Bapa di surga yang setia mendengarkan doa-doa kita…bahkan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

3. Bukan kita yang membuat diri kita masing-masing bisa tetap kuat hingga detik ini, tapi karena Tuhan sendiri. Bahkan, tokoh sekaliber Paulus juga bergumul dengan “duri” dalam dirinya, sampai dia berdoa tiga kali agar Tuhan mengangkat “duri” itu. Bukannya mengabulkan doa Paulus, Tuhan justru berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Mungkin dua poin di atas terasa klise di saat kita sedang bergumul dengan kondisi fisik yang tidak sesuai dengan pandangan orang pada umumnya; cita-cita yang kandas karena faktor yang tidak bisa dikendalikan; rasa minder karena merasa tidak memiliki potensi diri sebanyak teman-teman lainnya; merasa tidak mampu menghasilkan uang seperti saudara kita, atau teman yang sudah beriwirausaha di saat kita masih ditolong secara finansial dari orang tua; dan hal-hal lainnya yang menjadi pergumulanmu.

Aku pun bergumul dengan salah satu dari banyak pergumulan di atas. Temanku, kita tidak sendirian. Apa pun keadaanmu saat ini, kamu tetaplah berharga di mata Tuhan. Tidak apa-apa jika saat ini kita ingin marah kepada Tuhan untuk ketidaksesuaian dengan apa yang kita harapkan, karena toh Tuhan menciptakan marah sebagai respons emosi yang baik. Namun, jangan sampai kita hanya berkubang dalam kemarahan itu, lalu pasrah terhadap keadaan yang tidak bisa diubah. It’s okay to be fragile, but don’t cry alone. Bersamamu, ada orang-orang yang juga bergumul akan hal yang sama. Mengutip lagu “Pelukku untuk Pelikmu”, Fiersa Besari berkata, “Kita perlu untuk kecewa untuk tahu bahagia. Bukankah luka menjadikan kita saling menguatkan?”

Luka yang diserahkan pada Tuhan harus diobati, dan itu pedih. Namun, ketika kita mulai pulih, kita dimampukan-Nya untuk menerima keadaan untuk bersyukur, bahkan bisa menjadi teman bagi mereka yang bergumul dengan keadaan serupa.

Menutup tulisan ini, aku ingin membagikan sebuah lagu dari SAAT Youth Camp 2019 yang berjudul Kar’na Cinta-Mu, Tuhan. Kiranya lagu ini menjadi pengingat kita bahwa hidup kita bukan untuk menemukan kepuasan dari dunia ini, tetapi justru dari Tuhan sendiri.

Saat ‘ku melangkah dan ‘ku pandang dunia, banyak hal yang ditawarkan yang memberi bahagia
Saat ‘ku terima semua dari dunia, namun yang kudapatkan hanya bahagia yang fana
‘ku rasakan hidupku hampa dan tak berarti, menjalani hidup yang tak pasti
Namun Engkau, Tuhan, yang selalu ada, menerangiku dan b’riku harapan
Kar’na cinta-Mu yang selamatkanku dan kasih-Mu yang telah menyadarkanku
Dunia tak dapat memuaskanku, tak dapat bahagiakanku, namun Kau Yesus jawaban hidupku
‘ku ingin setia cintai Firman-Mu yang akan menjadi kebenaran hidupku
dan kuterima kebahagiaan yang sejati hanya di dalam-Mu, oh Yesus Tuhanku.

Cheers!

Baca Juga:

Penyertaan Tuhan Melampaui Segala Ketakutanku

Sejak aku percaya pada Kristus empat tahun lalu, hubunganku dengan ibuku menjadi sangat tidak baik. Penolakan dari orang terdekatku sempat membuatku ragu, sungguhkah Tuhan menyertaiku?