Posts

Rumah di Hari Natal

Kamis, 21 Desember 2017

Rumah di Hari Natal

Baca: Kejadian 28:10-17

28:10 Maka Yakub berangkat dari Bersyeba dan pergi ke Haran.

28:11 Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.

28:12 Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.

28:13 Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Akulah TUHAN, Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu.

28:14 Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

28:15 Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu.”

28:16 Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: “Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya.”

28:17 Ia takut dan berkata: “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang sorga.”

Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini. —Kejadian 28:15

Rumah di Hari Natal

Suatu waktu di hari Natal, saya mendapat tugas di suatu tempat yang lokasinya tidak lazim bagi kebanyakan orang. Dalam perjalanan kembali ke kamar, saya diterpa udara dingin yang tertiup dari Laut Hitam. Saat itu, saya sangat merindukan rumah.

Saat tiba di kamar, saya membuka pintu dan seakan menemukan suatu keajaiban. Teman sekamar saya yang menyukai seni baru saja menyelesaikan proyek terbarunya—pohon Natal keramik setinggi hampir 50 cm yang kini menerangi kegelapan kamar kami dengan kelap-kelip warna-warni. Untuk sementara waktu, saya merasa seperti sudah pulang ke rumah!

Saat Yakub kabur dari Esau, saudaranya, Yakub terdampar sendirian di tempat yang asing. Saat tidur di tanah, ia bertemu Allah dalam mimpi. Dan Allah menjanjikan kepada Yakub sebuah rumah. “Tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu,” kata Allah kepada Yakub. “Olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 28:13-14).

Tentu saja, dari Yakub dan keturunannya akan datang Mesias yang dijanjikan, satu Pribadi yang meninggalkan rumah-Nya untuk membawa kita pulang dan tinggal bersama dengan-Nya. “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada,” kata Yesus kepada murid-murid-Nya (Yoh. 14:3).

Suatu malam di bulan Desember itu, saya duduk dalam kegelapan kamar sembari memandang pohon Natal yang terang itu. Tidak bisa tidak, saya pun terpikir tentang Sang Terang yang datang ke dunia untuk menunjukkan jalan kepada rumah kita yang kekal. —Tim Gustafson

Tuhan, di mana pun kami berada hari ini, kami bersyukur karena Engkau menyediakan tempat bagi kami untuk tinggal bersama dengan-Mu. Bahkan sekarang pun kami selalu disertai oleh Roh-Mu!

Rumah bukan sekadar tempat, melainkan sebuah kediaman. Ada kediaman kekal yang diberikan Allah kepada kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 4-5 dan Wahyu 12

Memecah Kesunyian

Rabu, 20 Desember 2017

Memecah Kesunyian

Baca: Lukas 1:11-17

1:11 Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.

1:12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.

1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.

1:14 Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu.

1:15 Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;

1:16 ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka,

1:17 dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.”

Dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia . . . dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya. —Lukas 1:17

Memecah Kesunyian

Di akhir Perjanjian Lama, Allah seperti sedang bersembunyi. Selama empat abad, orang Yahudi menanti dan bertanya-tanya. Allah terlihat seperti pasif, tidak peduli, dan tidak mendengarkan doa-doa mereka. Hanya tersisa satu harapan: janji tentang Mesias yang sudah dikumandangkan sejak lama. Orang Yahudi mempertaruhkan segalanya demi janji itu. Lalu sesuatu yang monumental terjadi. Kabar kelahiran seorang bayi pun tersiar.

Kamu dapat merasakan kegembiraan yang luar biasa ketika membaca reaksi orang-orang dalam kitab Lukas. Peristiwa seputar kelahiran Yesus terdengar bagaikan drama musikal yang riang gembira. Para tokoh berkerumun masuk panggung: seorang imam lanjut usia (Luk. 1:5-25), seorang perawan yang terkejut (1:26-38), sang nabi perempuan tua bernama Hana (2:36). Maria sendiri mengutarakan sebuah pujian indah karena hatinya begitu gembira (1:46-55). Bahkan sepupu Yesus yang belum lahir melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya (1:41).

Lukas dengan cermat menghubungkan janji-janji di Perjanjian Lama tentang Mesias dengan peristiwa ini. Malaikat Gabriel bahkan menyebut Yohanes Pembaptis sebagai “Elia” yang diutus untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan (1:17). Jelaslah, sesuatu yang penting akan terjadi di planet Bumi. Di tengah para penduduk desa yang muram dan terhimpit oleh penjajahan, di suatu pelosok daerah Kekaisaran Romawi, sesuatu yang indah akan segera datang. —Philip Yancey

Engkau datang bagi kami, untuk itulah kami bersukacita! Yesus, Engkaulah anugerah penebusan dan pengharapan bagi kami. Kami sungguh bersyukur kepada-Mu.

Pernah terjadi di dunia, sebuah palungan memuat sesuatu yang jauh lebih besar dari seluruh dunia yang kami diami. —C. S. Lewis (dari The Last Battle)

Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 1-3 dan Wahyu 11

Artikel Terkait:

Kisah Orang Majus Keempat

Lebih dari Sekadar Pahlawan

Jumat, 15 Desember 2017

Lebih dari Sekadar Pahlawan

Baca: Yohanes 1:1-5,9-14

1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14

Lebih dari Sekadar Pahlawan

Sementara penggemar Star Wars di seluruh dunia dengan semangat menantikan peluncuran Episode 8, “The Last Jedi”, para pengamat terus menganalisis kesuksesan luar biasa dari film-film serial Star Wars yang pertama kali ditayangkan tahun 1977. Frank Pallotta, reporter media dari CNNMoney, mengatakan bahwa Star Wars disukai oleh banyak orang yang merindukan “suatu harapan baru dan kekuatan kebaikan di masa ketika dunia membutuhkan sosok pahlawan”.

Pada masa kelahiran Yesus, orang Israel sedang hidup dalam tekanan dan sangat merindukan kedatangan Mesias yang telah lama dijanjikan. Banyak orang mengharapkan kedatangan seorang pahlawan yang akan membebaskan mereka dari penindasan Romawi. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan politik atau militer. Dia justru datang sebagai bayi mungil yang lahir di kota Betlehem. Akibatnya, banyak orang tidak mengenali siapa Yesus sebenarnya. Rasul Yohanes menulis, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11).

Lebih dari sekadar pahlawan, Yesus datang sebagai Juruselamat kita. Dia lahir untuk membawa terang Allah ke dalam kegelapan dan untuk memberikan nyawa-Nya agar setiap orang yang menerima-Nya dapat diampuni dan dibebaskan dari kuasa dosa. Yohanes menyebut Yesus sebagai “Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (ay.14).

“Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (ay.12). Sungguh, Yesus adalah pengharapan sejati dan satu-satunya bagi dunia ini. —David C. McCasland

Tuhan Yesus, Engkaulah Juruselamat kami. Kami memuji-Mu karena Engkau telah datang untuk mati agar kami beroleh hidup.

Di Betlehem, Allah menunjukkan bahwa mengasihi berarti memberi.

Bacaan Alkitab Setahun: Amos 1-3 dan Wahyu 6

Menunggu

Minggu, 3 Desember 2017

Menunggu

Baca: Mikha 5:1-3

5:1 Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

5:2 Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.

5:3 Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,

Hai Betlehem Efrata, . . . dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel. —Mikha 5:1

Menunggu

“Berapa hari lagi kita merayakan Natal?” Ketika anak-anak saya masih kecil, mereka sering mengulang-ulang pertanyaan itu. Walaupun kami menggunakan kalender pada masa Advent untuk menghitung mundur sampai hari Natal, masih saja mereka merasa bahwa menunggu itu sangat menyiksa.

Kita bisa dengan mudah memahami kesulitan anak-anak untuk menunggu. Namun, bisa jadi kita mengecilkan kesulitan yang dirasakan umat Allah dalam penantian mereka. Lihatlah umat Israel yang menerima berita dari Nabi Mikha. Ia menjanjikan bahwa dari Betlehem akan bangkit “seorang yang akan memerintah Israel” (5:1), yang akan “bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN” (ay.3). Awal penggenapan dari nubuat tersebut terjadi pada saat Yesus lahir di Betlehem (Mat. 2:1)—dan itu terjadi setelah umat menunggu selama kurang lebih 700 tahun. Namun, ada sejumlah bagian dari nubuat itu yang belum digenapi. Kita masih menunggu dalam pengharapan akan kedatangan Yesus kembali, ketika semua umat Allah akan “hidup dengan aman” dan “seluruh dunia akan mengakui kebesaran-Nya” (Mi. 5:3 BIS). Pada saat itulah, kita akan sangat bersukacita karena penantian kita yang panjang akan berakhir.

Kebanyakan orang tidak suka menunggu. Namun, kita dapat percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya untuk menyertai kita selama kita menunggu kedatangan Yesus kembali (Mat. 28:20). Karena saat Yesus lahir di kota kecil bernama Betlehem, Dia datang membawa hidup dalam segala kelimpahannya (lihat Yoh. 10:10)—suatu hidup yang terbebas dari penghukuman. Saat ini, kita menikmati kehadiran-Nya sembari menunggu kedatangan-Nya dengan penuh harap. —Amy Boucher Pye

Ya Allah Bapa, kami menunggu dan berharap kepada-Mu. Ya Yesus yang terkasih, kami menunggu untuk datangnya kedamaian. Ya Roh Penghibur, kami menunggu hingga seluruh dunia mengenal kasih-Mu.

Kita menunggu janji-janji Allah, dengan meyakini bahwa semua janji itu akan digenapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 45-46; 1 Yohanes 2

Artikel Terkait:

Ada Apa Dengan Natal?

Perjalanan yang Utama

Senin, 29 Agustus 2016

Perjalanan yang Utama

Baca: Yesaya 40:1-11

40:1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,

40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.

40:3 Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;

40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”

40:6 Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan?” “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.

40:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.

40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

40:9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!”

40:10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.

40:11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! —Yesaya 40:3

Perjalanan yang Utama

National Road 5 di Madagaskar menyajikan pemandangan pantai pasir putih, hutan palem, dan Samudera Hindia yang indah. Namun, jalan dua arah sepanjang 200 km dari batu, pasir, dan lumpur itu telah dijuluki sebagai salah satu jalan raya terburuk di dunia. Para turis yang ingin melihat pemandangan indah di sana disarankan untuk menaiki kendaraan four-wheel drive yang dikendarai oleh sopir yang berpengalaman dan didampingi seorang montir.

Yohanes Pembaptis datang untuk memberitakan kabar baik tentang Mesias yang akan datang bagi siapa saja yang telah menempuh perjalanan hidup yang keras dan gersang. Dengan mengulangi pernyataan Nabi Yesaya yang tertulis berabad-abad sebelumnya, Yohanes mendesak orang banyak yang mendengarkannya untuk mempersiapkan “jalan untuk Tuhan” dan meluruskan “jalan bagi-Nya” (Luk. 3:4-5; Yes. 40:3)

Yohanes tahu jika penduduk Yerusalem ingin siap menyambut Mesias yang telah lama mereka nantikan, hati mereka harus berubah. Kebanggaan rohani yang menjulang tinggi dalam diri mereka harus diruntuhkan. Sebaliknya, mereka yang terpuruk dalam keputusasaan karena pergumulan hidup butuh dikuatkan.

Semua itu tidak dapat dilakukan dengan usaha manusia semata. Mereka yang menolak untuk menanggapi Roh Kudus dengan menerima baptisan pertobatan dari Yohanes Pembaptis akan gagal mengenali Mesias yang datang untuk mereka (Luk. 7:29-30). Sebaliknya, mereka yang menyadari kebutuhan mereka untuk berubah akan dapat menyaksikan kebaikan dan keajaiban Allah di dalam diri Yesus. —Mart DeHaan

Bapa di surga, kami memerlukan-Mu untuk melakukan dalam diri kami sesuatu yang tak bisa kami lakukan sendiri. Runtuhkanlah kebanggaan dan keputusasaan yang menghalangi kami menyambut-Mu dalam hidup kami.

Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk berjalan bersama Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 126-128; 1 Korintus 10:19-33

Artikel Terkait:

Menguak Misteri Masa Depan

Daripada galau dengan perhitungan manusia yang serba tak pasti, bukankah lebih baik kita mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang menurut Firman Tuhan pasti akan terjadi?

Allah Berbicara

Selasa, 23 Agustus 2016

Allah Berbicara

Baca: Ibrani 1:1-12

1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,

1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

1:4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

1:5 Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?”

1:6 Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”

1:7 Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: “Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.”

1:8 Tetapi tentang Anak Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.

1:9 Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu.”

1:10 Dan: “Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.

1:11 Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian;

1:12 seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. —1 Korintus 2:12

Allah Berbicara

Baru-baru ini, menantu saya, Ewing, sedang menjelaskan kepada anaknya, Maggie, bahwa kita dapat berbicara kepada Allah dan Dia berkomunikasi dengan kita. Ketika Ewing mengatakan bahwa Allah terkadang berbicara kepada kita melalui Alkitab, Maggie menjawab dengan yakin: “Dia tak pernah mengatakan apa pun kepadaku. Aku tak pernah dengar Dia berbicara kepadaku.”

Kebanyakan dari kita mungkin sependapat dengan Maggie, apabila kita menganggap bahwa cara komunikasi Allah dengan kita itu harus berupa suara yang terdengar, seperti mengatakan kepada kita, “Juallah rumahmu, dan urusilah anak-anak yatim piatu di daerah terpencil.” Namun biasanya, yang kita maksud dengan mendengar Allah “berbicara” tidaklah seperti itu.

Kita “mendengar” Allah berbicara melalui pembacaan Kitab Suci. Alkitab memberitahukan tentang Yesus kepada kita dan mengatakan bahwa Allah “telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” yang merupakan “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:2-3). Kitab Suci memberitahukan kepada kita cara menerima keselamatan dalam Yesus dan cara menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya (2Tim. 3:14-17). Selain Kitab Suci, kita mempunyai Roh Kudus. Dalam 1 Korintus 2:12 tertulis bahwa kita diberi Roh “supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”

Apakah sudah lama kamu tidak mendengar Allah berbicara? Berbicaralah kepada-Nya dan dengarkanlah Roh Kudus, yang menyingkapkan Yesus kepada kita melalui firman-Nya. Dengarkanlah hal-hal indah yang hendak dikatakan Allah kepada kamu. —Dave Branon

Berbicaralah kepadaku, Tuhan. Tolonglah aku untuk memahami isi Kitab Suci, pelajaran yang diberikan Yesus, dan dorongan dari Roh Kudus.

Allah berbicara melalui firman-Nya ketika kita menyediakan waktu untuk mendengarkan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 113-115; 1 Korintus 6

Artikel Terkait:

Pengetahuan yang Menuntunku kepada Iman

Tuhan dapat memakai apa dan siapa saja untuk membawa umat-Nya kembali kepada-Nya. Bagaimana Chia Poh Fang dapat mempercayai Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya? Baca kesaksiannya dalam artikel berikut.

Memancarkan Terang

Selasa, 16 Agustus 2016

Memancarkan Terang

Baca: Yohanes 1:1-8

1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Memancarkan Terang

Pada tahun 1989, setelah hidup sebagai tahanan politik, Vaclav Havel diangkat menjadi presiden terpilih pertama Cekoslowakia. Bertahun-tahun kemudian pada pemakaman Havel di Praha tahun 2011, mantan Menteri Luar Negeri AS, Madeleine Albright, yang lahir di Praha, menggambarkan Havel sebagai seorang tokoh yang telah “memancarkan terang di tempat-tempat yang tergelap.”

Sebagaimana Havel telah memancarkan terang dalam kancah politik Cekoslowakia (yang kemudian menjadi Republik Ceko), Tuhan kita Yesus Kristus memancarkan terang bagi seluruh dunia. Dia menghadirkan terang ketika Dia menjadikan terang dari kegelapan pada masa penciptaan (Yoh 1:2-3; lihat Kej. 1:2-3). Kemudian, dengan kelahiran-Nya di dunia, Dia membawa terang dalam kancah spiritual. Yesuslah kehidupan dan terang yang tak bisa dikuasai oleh kegelapan (Yoh 1:5).

Yohanes Pembaptis datang dari padang gurun untuk menjadi saksi bagi Yesus, sang Terang dunia. Kita bisa melakukan hal yang sama di masa kini. Itulah yang Yesus perintahkan kepada kita, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16).

Di dunia kita saat ini—ketika yang baik sering dianggap buruk dan yang buruk dipandang baik, ketika yang benar dianggap salah dan juga sebaliknya—orang-orang sedang mencari arah dalam hidup mereka. Kiranya kita memancarkan terang Kristus di tengah dunia ini. —C. P. Hia

Bapa di surga, terima kasih atas terang Yesus yang datang ke dunia dan untuk terang yang telah dipancarkan-Nya dalam hidupku. Tolonglah aku untuk selalu mengucap syukur dan menjadi terang-Mu bagi dunia yang gelap di sekitarku.

Pancarkan Sang Terang!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 94-96; Roma 15:14-33

Artikel Terkait:

Seks: Untuk Apa Menunggu?

Baca kesaksian Kezia selengkapnya di dalam artikel ini.

Siapa yang Memperhatikanmu?

Jumat, 5 Agustus 2016

Siapa yang Memperhatikanmu?

Baca: Mazmur 34:16-23

34:16 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:17 wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:18 Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

34:20 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

34:21 Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

34:22 Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

34:23 TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar. —Mazmur 34:16

Siapa yang Memperhatikanmu?

Ke mana pun para atlet yang berlomba di Olimpiade 2016 pergi di wilayah kota Rio de Janeiro, mereka dapat melihat Yesus. Sebuah patung dengan tinggi 30,5 meter yang disebut (Kristus Sang Penebus) berdiri menjulang di atas kota itu di Cristo Redentor gunung Corcovado yang tingginya 700 meter. Dengan tangan yang terbentang lebar, patung raksasa itu dapat terlihat siang-malam dari hampir seluruh penjuru kota yang besar itu.

Patung yang terbuat dari beton dan batu itu mungkin dapat memberikan penghiburan bagi siapa saja yang mendongak dan memandangnya. Namun demikian, kita menerima penghiburan yang jauh lebih besar dari realitas itu: Yesus yang sejati selalu memperhatikan kita. Di Mazmur 34, Daud menggambarkannya sebagai berikut: “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (ay.16). Dia menyebutkan bahwa ketika orang-orang benar berseru meminta pertolongan-Nya, “Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (ay.18-19).

Jadi siapakah orang-orang benar itu? Mereka adalah setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang membenarkan kita (1Kor. 1:30). Allah kita memperhatikan seluruh kehidupan kita, dan Dia mendengar seruan mereka yang percaya kepada-Nya. Allah selalu siap menolong kita pada saat kita sangat membutuhkan pertolongan.

Mata Yesus terus tertuju kepadamu. —Dave Branon

Tuhan, terkadang hidup terasa berjalan di luar kendali dan aku tak tahu arah mana yang harus kutempuh. Terima kasih karena Engkau mengawasi hidupku dan mengarahkanku ke jalan yang benar melalui firman-Mu dan Roh-Mu.

Tuhan takkan pernah membiarkan kita terlepas dari pandangan-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 68-69; Roma 8:1-21

Artikel Terkait:

Ketika Kita Kehilangan, Satu Hal Inilah yang Membuat Kita Bertahan

Pada waktu yang ditentukan-Nya, kita akan menyaksikan bagaimana Tuhan menyatakan karya-Nya yang mulia melalui kehilangan yang kita alami.

Harga Tiket Masuk

Minggu, 31 Juli 2016

Harga Tiket Masuk

Baca: Roma 3:21-26

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,

3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

[Semua orang] oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. —Roma 3:24

Harga Tiket Masuk

Setiap tahun, sekitar dua juta orang dari seluruh penjuru dunia mengunjungi Katederal St. Paul di London, Inggris. Harga tiket masuknya sepadan dengan pengalaman menikmati bangunan megah yang dirancang dan dibangun oleh Sir Christopher Wren di akhir abad ke-17. Namun wisata bukanlah maksud utama dari tempat ibadah umat Kristen itu. Misi utama dari katedral tersebut adalah “memampukan orang-orang dari latar belakang mana pun untuk mengalami kehadiran Allah dalam Yesus Kristus yang mengubahkan hidup mereka.” Jika kamu ingin berwisata mengelilingi bangunan itu dan mengagumi arsitekturnya, kamu harus membayar tiket masuk. Namun untuk masuk dan mengikuti ibadah yang diadakan sepanjang hari di Katederal St. Paul, kamu tidak dikenai biaya apa pun.

Berapa biaya yang diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah? Kamu dapat masuk dengan cuma-cuma karena Yesus Kristus telah membayar harganya bagi kita dengan kematian-Nya. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm. 3:23-24). Ketika kita mengakui kebutuhan rohani kita dan menerima pengampunan Allah atas dosadosa kita dengan iman, kita pun memiliki hidup baru yang kekal di dalam Dia.

Hari ini kamu dapat memasuki kehidupan yang baru, karena melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian, Yesus telah membayar harga tiket masuknya! —David McCasland

Kamu dapat mengundang Yesus masuk ke dalam hidupmu dengan berdoa seperti ini: Tuhan Yesus, aku percaya Engkau telah mati demi dosaku lalu bangkit dari kematian. Aku mau menerima-Mu sebagai Juruselamat dan mengikuti-Mu. Ampunilah dosaku dan tolonglah aku, mulai saat ini, agar aku dapat menjalani hidup yang menyenangkan-Mu.

Yesus membayar harganya agar kita dapat memasuki Kerajaan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 54-56; Roma 3

Artikel Terkait:

Bagaimana Jika Kekristenan Adalah Sebuah Kebohongan?

Beberapa pertanyaan seringkali datang mengusik hatiku. Bagaimana jika ternyata kekristenan adalah sebuah kebohongan? Bagaimana jika semua yang aku percayai ternyata terbukti tidak benar? Apakah keberadaan Allah itu tergantung pada iman kita? Baca kesaksian Leslie Koh selengkapnya di dalam artikel berikut.