Posts

Belajar Setia dari Aren

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Masa kanak-kanak adalah masa–masa yang menyenangkan. Saat–saat keseharian lebih banyak dihabiskan dengan bermain tanpa beban. Sayangnya, itu tak berlaku bagi Aren yang hingga umur 9 tahun, tak bisa bebas berlarian dan bermain seperti teman–temannya. Baginya, tak ada cerita pulang ke rumah dengan baju basah oleh keringat. Tak pernah pula ia menerima omelan karena pulang terlambat sebab keasikan bermain di luar rumah.

Gangguan jantung bawaan—di dunia medis lebih dikenal sebagai Tetralogy of Fallot (TOF)—membatasi aktivitas Aren sedari bayi. “Aren punya letak jantung miring, bocor di dua tempat. Dia ketahuan memiliki kelainan jantung waktu umur lima bulan. Umur empat tahun, dia punya badan biru. Kukunya juga bulat–bulat”, tutur Mama Imelda, ibunya.

Masalah pada jantungnya membuat Aren cepat lelah. Bergerak sedikit saja, nafasnya susah payah. Agar geraknya tak banyak, setelah masuk sekolah; Mama Imelda menggendong Aren pergi dan pulang sekolah. Setiap hari. Dan itu terus berlangsung selama Aren belum menjalani operasi jantung. Naik turun tangga di rumah sakit dan kemanapun, Mama Imelda tak membiarkan Aren untuk berjalan lama–lama.

Ada masa di mana Aren merasa dunianya hampir runtuh. Namun, keterbatasan tak mengekang senyum dan semangat Aren untuk berkegiatan walau kadang dirinya lebih banyak berdiam ketika sesaknya datang. Pengalaman mengajarkan Aren mencari tahu dan menemukan caranya sendiri untuk mengatasi sesaknya. Dengan muka penuh senyum, Aren berbagi tip ketika sesaknya datang. ”Kalau susah napas, aku lipat kaki rapat ke dada sampai aku tidur sudah”.

Karena keterbatasan fasilitas kedokteran di Sumba, Aren berobat ke Denpasar sebelum dirujuk untuk berobat dan menjalani operasi di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Aku bertemu dengan Aren ketika menjadi volunteer di sebuah rumah singgah, tempat Aren dan ibunya tinggal selama menjalani pengobatan di Jakarta. Waktu itu Aren sudah selesai operasi jantung dan sudah dalam tahap pemulihan. Badannya yang dulu kurus dan menonjolkan tulang–tulangnya, kini mulai berisi. Ia pun sudah terbiasa naik turun tangga tanpa merasa lelah. Tak lagi digendong ibunya.

Pertemuan dengan Aren membuatku belajar 3 (tiga) hal paling dasar untuk menjalani keseharian sebagai anak Tuhan yang tahu bersyukur walau hidup sering mendadak serupa bermain roller-coaster.

1. Sabar dan tidak bersungut-sungut

Sabar dalam penderitaan, itu pilihan Aren. Menurut Mama Imelda, “ketika rasa sakit, Aren tak pernah menangis. Mengeluh sebentar, itu saja.” Tentu saja tidak mudah untuk anak seusia Aren belajar sabar jika tak didampingi oleh sosok yang kuat. Bukan sekadar sosok yang mengingatkan tapi lebih lagi yang bisa memberinya teladan dalam menjalani hari–harinya sehingga Aren yakin dan percaya, Tuhan pasti tolong! Dan sosok ibu, memegang peranan penting di kehidupan Aren.

2. Melibatkan Tuhan dalam hidupnya

“Tiap hari aku berdoa, bangun aku berdoa, mau tidur aku berdoa, mau bikin apa – apa harus berdoa, kakak. Mama ajar aku begitu, harus mengucap syukur,” Aren menimpali obrolan kami dengan riang. Ucapannya membuat mata yang sedari tadi panas, tak kuasa lagi untuk membendung aliran air yang turun satu–satu dan merengkuh tubuhnya. Ya Tuhan, anak ini luar biasa!

3. Setia walau hari–hari yang dilalui terasa berat

“Aku tidak rasa sakit, kakak. Cuma pegal saja waktu dokter bilang dadaku dibuka. Tempat tidurnya juga dingin.”

Mama Imelda membenarkan pernyataan Aren, selama ini anaknya tak sedikitpun menangis. “Saya sudah khawatir waktu kami naik bus dari Bali ke Jakarta. Saya terus berdoa, Tuhan jangan sampai anak ini tiba – tiba kesakitan. Puji Tuhan, kami sampai di sini, Aren baik–baik saja.”

* * *

Perjalanan panjang yang dilalui Aren dan Mama Imelda hingga mendapatkan jadwal operasi, bukanlah perkara yang mudah. Bisa saja di tengah perjalanan, ibunya menyerah atau anaknya putus asa. Lebih lagi mereka hanya bisa melakukan perjalanan darat karena Aren punya ketakutan jika terbang, pesawatnya jatuh. Kalau itu terjadi, dia tak bisa melanjutkan berobat. Tapi Aren belajar setia menunggu waktu-Nya Tuhan.

Kadang, Tuhan izinkan masalah muncul di kehidupan kita untuk mendorong kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Hanya saja, kita suka kurang peka. TOF tak sedikitpun menyurutkan semangat Aren untuk mewujudkan cita–citanya menjadi anak Tuhan yang setia. Betapa senangnya Aren dan Mama Imelda ketika dokter memberikan izin boleh pulang ke Sumba dan melakukan kontrol di Denpasar saja. Awal Desember 2019, Aren yang bercita–cita menjadi pendeta; pulang ke Sumba. Ia sudah tak sabar untuk merayakan Natal bersama teman–teman Sekolah Minggu dan keluarganya di kampung yang tak ditemuinya selama hampir setahun.

Apa masalahmu saat ini? Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebihi dari yang dapat kita tanggung. Yakin dan percaya, Tuhan pasti selalu menyertai.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Tahun 2020 kemarin spesial buatku. Aku mendapat pekerjaan pertamaku setelah melalui berbagai lika-liku. Dari situlah aku belajar bahwa bekerja itu tidak cuma soal mencari uang, tapi juga bagaimana kita melakukan kehendak-Nya.

Kepada Temanku yang Berpikir untuk Menyerah

Oleh Rebecca Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Letter To The Friend Who Feels Like Giving Up On God

Temanku,

Aku terkejut dan tak menyangka ketika kamu berkata bahwa kamu ingin “menyerah”.

Tapi, jika aku memutar kembali memoriku, kupikir keputusan itu seharusnya tidaklah mengejutkanku.

Untuk waktu yang lama, kamu bergumul dengan rasa sakit, konflik yang tak kunjung selesai, dan beban emosi yang menunggangimu. Kami melihat rasa sakitmu sebagai tanda seolah Tuhan telah meninggalkan dan mengabaikanmu di tengah belantara sendiran.

Mungkin saat ini kamu menyangkali perasaanmu, tapi aku ingin kamu tahu akan suatu kebenaran.

Terkadang, sulit rasanya untuk melihat kembali perjalanan kita di belakang, terutama ketika perjalanan itu seolah tidak tampak ujungnya. Dan, aku pun tahu betapa kerasnya kamu sudah berusaha untuk mencari Tuhan di tengah banyak pencobaan yang kamu lalui selama beberapa tahun belakangan. Aku tahu kamu berusaha menggenggam erat tangan Tuhan terlepas situasi yang tak dapat kamu pahami. Aku tahu betapa susah payahnya kamu berjuang untuk menemukan jawaban.

Kamu mengorbankan banyak bagian dari masa mudamu untuk melayani-Nya. Kamu menukarkan tawaran pekerjaan yang menguntungkan untuk pekerjaan misi Tuhan—merelakan kenyamanan materialmu, keuanganmu, dan bahkan relasi dengan keluargamu—untuk hidup di antara orang miskin dan membangun kerajaan-Nya di sana. Kamu merasa hancur ketika segala sesuatunya tidak berjalan seperti yang kamu harapkan, dan kamu malah diminta untuk pergi meninggalkan pekerjaanmu setelah banyak perselisihan dengan rekan sekerjamu. Kamu pun pulang ke rumah dengan hati yang hancur, letih, dan kecewa.

Tapi, kamu masih belum mau menyerah, kamu masih berjuang untuk memberikan hidupmu untuk Tuhan. Kamu ingin hidupmu berkenan pada-Nya, jadi kamu melibatkan dirimu lebih banyak ke dalam kesempatan pelayanan, mengikuti studi teologi, dan meluangkan lebih banyak waktumu bersama Tuhan.

Aku ingat percakapan panjang yang pernah kita lakukan. Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Mengapa Tuhan tidak memberimu jalan keluar? Mengapa Tuhan membuat segalanya lebih mudah supaya kita bisa melihat bahwa Dia bekerja di balik layar? Waktu itu kuharap aku bisa menolongmu menemukan jawaban-jawaban yang baik, yang memberi penghiburan, dan juga kedamaian.

Hingga saat ini, aku masih belum memiliki jawabannya.

Namun, inilah yang kuingin kamu tahu: Di momen terendah dalam hidupku sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Ingatkah kamu suatu masa ketika aku merasa seperti ada di puncak dunia—aku merasa seolah aku mendapatkan pekerjaan impianku hingga kemudian semuanya hancur hanya dalam satu hari? Hari itu, aku tidak hanya kehilangan pekerjaan, aku kehilangan visi dan semangat hidupku, semua rencana yang telah kususun berubah jadi butiran debu.

Butuh waktu yang lama untukku pulih dan mulai percaya lagi kepada Tuhan, bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu dalam hidupku. Tapi, di masa itu, kamu ada bersamaku ketika aku memutuskan untuk mengambil jeda sejenak dan pergi ke suatu tempat selama enam bulan, berharap dari perjalanan itu aku bisa mendapatkan visi yang lebih jelas akan apa yang harus kulakukan kelak.

Ingatkah kamu selama sembilan bulan setelahnya aku berjuang untuk mendapatkan pekerjaan? Aku lelah, tiap aplikasi lamaran kerjaku tidak berbalas. Aku pun harus mengahadapi banyak pertanyaan tentang mengapa aku masih menganggur. Kamu tahu betapa aku enggan ke luar dari rumah, aku takut menghadapi lebih banyak lagi pertanyaan yang tak mampu kujawab. Dan, kamu ada bersamaku hingga akhirnya ada tawaran kerja datang padaku.

Kamu ada bersamaku untuk mendengarkanku ketika aku terjebak dalam lingkungan kerja yang beracun, hingga aku bertanya-tanya apakah aku mendengarkan kata Tuhan untuk mengambil pekerjaan ini? Adalah perjuangan yang berat untuk bangun dari tidur setiap harinya, dan tiba di rumah setiap malam dengan tubuh lelah dan jiwa tertekan, bertanya-tanya bagaimana bisa aku mengumpulkan energi untuk bisa kembali bekerja besok.

Kamu melihatku tumbuh dalam keputusasaan ketika satu-satunya temanku di tempat kerja pindah ke tempat lain. Aku heran, mengapa Tuhan memberi jalan keluar bagi orang lain dengan mudahnya, sedangkan aku terjebak di sana dan harus memperjuangkan hidupku sendiri. Aku merasa pahit dan marah pada Tuhan, aku tidak bisa mengerti apa baiknya untukku jika aku tetap berada di tempat itu.

Lebih dari satu tahun aku bergumul demikian hingga akhirnya aku menemukan jalan keluar.

Sekarang, beragam rasa sakit dan kebingungan yang kualami dulu datang bersamaan. Dan, aku mulai melihat gambar yang Tuhan maksudkan untuk hidupku.

Aku mungkin bertanya-tanya apakah segala rasa sakit yang kualami itu sia-sia atau tidak, tapi yang kutahu adalah rasa sakit itu memberiku sedikit pemahaman akan apa yang ingin kubagikan dalam persekutanku bersama Tuhan Yesus.

Aku membagikan ceritaku bukan supaya kamu meremehkan apa yang sedang kamu alami, atau membubuhi garam dalam lukamu. Aku menulis ini untuk mengingatkanmu betapa aku menghargai kebersamaan denganmu, ketika kamu duduk bersamaku dalam dia, meratap bersamaku di dalam pergumulanku, dan bersukacita ketika aku mendapatkan jalan keluar. Dan, yang kuingin kamu tahu adalah aku ada di sini untuk melakukan yang sama untukmu.

Selama beberapa tahun, aku mendengar Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-7. Aku bersukacita untuk kesempatan berjalan bersamamu, menghiburmu dengan penghiburan yang telah kuterima dari Tuhan (ayat 4).

Hari ini, salah satu lagu favoritmu terputar di playlist-ku, dan itu mengingatkanku akan api yang dulu pernah membara dalam dirimu, kerinduanmu untuk melihat kebaikan Tuhan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarmu (Mazmur 27:13).

Mungkin kata-kataku ini rasanya tak berarti buatmu sekarang.

Tapi, seperti pertemanan dan pertolongan doa darimu menolongku untuk melihat kembali pada Tuhan, aku mau tetap berdoa dan percaya bersamamu, bahwa kita akan bersama-sama melihat kebaikan Tuhan. Suatu hari, kamu akan memahami alasan di balik apa yang kamu alami, dan waktu-waktu yang telah kamu luangkan tidaklah berakhir sia-sia.

Dan di lain kesempatan ketika kamu menyanyikan lagu “Engkau baik”, akan ada api semangat yang berbeda. Api itu akan menjadi api kepercayaan seperti yang diucapkan oleh pemazmur yang berkata, “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mazmur 27:1). Tuhan tahu jalan hidup kita, dan ketika Dia menguji kita, kita akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Kita akan mengalami itu sebagai buah dari kelembutan hati yang bersedia mencicipi dan melihat kebaikan Tuhan, bahkan ketika kita telah memutuskan untuk melepaskan tangan-Nya.

Sampai tiba masa itu, aku akan terus berdoa untukmu, berjalan bersamamu, dan menunggu bersamamu.

Dengan kasih,

Temanmu.

Baca Juga:

Kecelakaan Hebat Menghancurkan Hidupku, Namun Kisahku Tidak Berakhir di Situ

Ketika aku berusia 16 tahun, segala sesuatu dalam hidupku berjalan dengan baik. Aku unggul di bidang akademis dan olahraga Judo, masa depanku tampak menjanjikan. Namun, hari-hari kejayaanku itu berakhir secara tragis dan mendadak pada 20 April 2010. Aku mengalami cedera otak traumatik (traumatic brain injury; TBI).

Sekelumit Kisahku Ketika Menghadapi Depresi dalam Pekerjaan

Oleh Leslie Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: My Quarter-Life Crisis: The Day I Went Berserk

Aku tahu ada sesuatu yang salah ketika aku mulai menendangi kardus-kardus di bawah mejaku.

Biasanya, aku adalah seorang yang tenang, mampu menahan diri. Tapi, hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang tersentak. Seseorang meneleponku dengan nada dan instruksi yang membuat emosiku terpancing. Sesuatu dalam diriku menahanku untuk berteriak, tapi kakiku bergerak-gerak karena kesal, dan aku mengalihkan amarahku dengan menendangi kardus yang biasanya kuletakkan di bawah mejaku sebagai tumpuan kakiku.

Kamu bisa membayangkan kelanjutannya seperti apa. Seorang pria yang biasanya pendiam, meraih ponsel, menggerak-gerakkan jemarinya sambil berkata: “Oke, oke, aku mengerti, akan kulakukan,” dengan nada yang paling lembut—meski di bawah meja, kakinya menghentak-hentak lantai. Di sekelilingnya, rekan-rekan kerjanya memandangnya dengan heran, bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Seminggu setelahnya, aku keluar dari pekerjaanku. Sembilan tahun berkutat di dunia jurnalistik berakhir sudah. Satu karier telah selesai.

Setelah kemarahanku itu, aku meminta maaf kepada bosku dan dia menerima maafku. Keputusan mundur dari pekerjaan ini adalah karena aku merasa kelelahan, dan aku sadar bahwa tak peduli seberapa banyak uang yang bisa kuraih, atau seberapa potensial pekerjaan yang kugeluti, aku telah tiba di titik di mana kalau aku melanjutkannya, aku akan melukai kesehatan mentalku.

Sebelumnya, selama beberapa bulan aku merasa semakin lelah dan ingin sekali bisa tertidur nyenyak, karena biasanya ketika aku bangun, aku merasa tidak ada di dunia nyata. Jam-jam panjang di ruang redaksi mengambil alih waktuku, dan semakin sulit buatku karena beberapa pekerjaan seperti mewawancarai orang itu bukanlah sesuatu yang nyaman kukerjakan. Aku pernah mendengar kalau kesulitan tidur dan bangun adalah tanda-tanda dari kemungkinan depresi, dan aku bertanya-tanya apakah ini sedang terjadi juga kepadaku. Kinerjaku juga menurun: aku bekerja tanpa peduli lagi apakah aku sudah mencapai standar minimal, dan seringkali aku mengabaikan instruksi dari atasanku. Sekali waktu, ketika aku ditugaskan mendatangi sebuah acara, aku malah meminjam mobil orang tuaku dan mengemudi tanpa tujuan selama dua jam. (Tidak ada yang mengetahui ini karena aku tetap bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari acara itu.)

Mengundurkan diri dari pekerjaan ini membuatku lega.

Akhirnya, aku bisa berhenti menyeret diriku dari kasur setiap pagi untuk menghadapi kenyataan. Aku bisa terbebas dari akhir pekan yang mengerikan karena pekerjaan-pekerjaan di hari kerja. Aku bisa berhenti dari memaksakan diri untuk berlama-lama di ruang redaksi dan membenci setiap pekerjaan yang datang kepadaku. Aku bisa berhenti dari memikirkan fantasi tentang menjadi kaya dalam semalam supaya aku tidak perlu lagi bekerja. (Atau, fantasi tentang kantor yang tiba-tiba kebakaran dalam semalam supaya besok pagi aku tidak perlu bekerja lagi.)

Tapi, itu hanyalah fantasi. Aku masuk ke pekerjaan itu dengan penuh antusias sebagai orang yang belum berpengalaman, namun, aku menjadi letih selama bertahun-tahun setelahnya karena jam kerja yang panjang dan stres yang terus menerus menguras energiku.

Keluar dari pekerjaan ini bukanlah keputusan yang mudah, meski aku sudah melakukannya. Di benakku, ada dua pemikiran yang terngiang-ngiang.

Pertama: “Apakah aku lemah? Apakah aku mencari jalan keluar yang paling mudah?” Generasi yang lebih muda sering disebut sebagai “Generasi Stroberi” (Kamu tahu mengapa? Karena seperti stroberi yang kalau ditekan jadi memar, mereka juga seperti itu). Dan, sepertinya aku termasuk dalam generasi itu. “Mengapa, generasi yang lebih tua bekerja selama 40 tahun tanpa libur, dan mereka tidak mengeluh. Kamu belum sampai 10 tahun dan sudah kelelahan?”

Kedua: “Apakah ini kehendak Tuhan?” Apakah aku lebih dulu menyerah sebelum Tuhan membentuk dan mengubahku menjadi orang yang lebih baik? Apakah aku melarikan diri dari proses pendisiplinan-Nya?

Sejujurnya, sampai hari ini pun aku belum bisa benar-benar menjawab pertanyaan ini. Mungkin aku tidak hanya berjuang dari kelelahan, tapi juga bergumul dengan quarter-life crisis saat aku berusaha menggumulkan pekerjaanku, tujuan hidupku, dan apa arti hidupku untuk pekerjaan yang kugeluti.

Setelah melalui pengalaman yang kupikir sebagai kelelahanku, aku mau berkata: Apa yang orang lain pikirkan tentangmu itu bukanlah yang terpenting. Jika kamu sedih dan tertekan, dan tubuhmu menjadi sakit, tidak ada pekerjaan apapun yang sepadan. Tentu, ada waktu untuk menunggu, untuk bertahan, untuk melawan. Tapi, setiap kita memiliki batasan yang berbeda. Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, sebab setiap orang punya perjalanannya masing-masing. Satu orang mungkin berpikir kalau dia butuh keberanian untuk terus maju, sementara yang lainnya mungkin berpikir bahwa mundur adalah pilihan yang bijak.

Apapun yang orang lain katakan tentang keputusanku, aku dapat mengatakan ini dengan pasti: Aku dapat melihat tangan Tuhan dalam segala sesuatu yang terjadi. Aku percaya ada campur tangan ilahi dalam pencarianku menemukan pekerjaanku selanjutnya. Aku melamar ke suatu pekerjaan yang terlihat lebih menarik. Dan yang lebih penting, pekerjaan itu sepertinya menjanjikan waktu kerja yang lebih damai. Ketika tidak ada jawaban, aku coba melamar lagi. Selama menunggu, aku berkesempatan bertemu dengan seseorang—yang baru saja diterima di departemen itu—dan pertemuan inilah yang akhirnya memberiku jalan lebih cepat untuk wawancara dengan bos. Tawaran kerja pun datang segera.

Aku tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baruku, karena selama melewati beberapa bulan tanpa bekerja, di situlah aku bisa menikmati masa jedaku. Tuhan memampukanku pindah ke tempat lain yang jam kerjanya lebih sehat dan lebih sedikit stres, dan inilah yang membuat beda.

Kelelahanku dan insiden menendang kardus adalah hal yang tidak ingin aku alami lagi. Aku tidak membanggakan diri atas responsku itu. Tapi, jika aku menoleh ke belakang, aku dapat melihat bagaimana hal itu turut membentuk perjalananku untuk menemukan diriku dan imanku. Apakah hal itu baik? Tidak. Apakah Tuhan mengizinkannya untuk terjadi? Kupikir iya!

Menghadapi kelelahan itu, aku belajar untuk menyadari batasan diriku sendiri. Ya, kamu dapat menganggapku punya batasan yang menyedihkan dan tidak punya ketahanan diri. Tapi, inilah batasanku. Karena aku pernah melampaui batasan itu, sekarang aku punya gambaran yang lebih baik tentang seberapa banyak yang bisa kutanggung, dan seberapa banyak yang tidak. Pemahaman ini menolongku untuk mengambil keputusan yang lebih baik dalam hidupku. Di pekerjaanku selanjutnya, aku mendapati kalau aku punya pegangan yang lebih baik untuk melakukan apa yang sudah siap kulakukan, dan apa yang tidak dapat kulakukan. Pengalaman itu tidak ternilai.

Aku juga belajar untuk mempercayai kehendak dan tangan Tuhan di dalam hidupku. Beberapa tahun kemudian, aku dapat melihat Dia menggunakan insiden dahulu untuk membentuk keputusan masa depan tentang karierku. Tapi, yang lebih penting, aku belajar melihat bahwa Tuhan itu bukannya Tuhan yang tidak peduli, Tuhan yang saklek, yang mana kita akan seketika gagal ketika tidak mengambil keputusan yang tepat. Ya, kita perlu mencari tahu kehendak-Nya dan memahami apa yang Tuhan ingin kita lakukan atau putuskan di situasi yang Dia berikan. Tapi, Dia juga adalah Tuhan yang kreatif, yang memberi kita kebebasan untuk memilih ketika kita menggumulkan kehendak-Nya dalam hidup kita. Jika kita berpegang pada hukum-Nya, kesukaan-Nya, dan jalan-jalan-Nya daripada diri kita sendiri, Dia akan memberi kita apa yang diinginkan hati kita (Mazmur 37:4).

Mazmur 37 juga mengingatkan kita untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya (ayat 5), dan berdiam diri di hadapan-Nya dan dengan sabar menanti-Nya untuk mengetahui kehendak-Nya (ayat 7). Kita punya jaminan bahwa Tuhan yang baik dan penuh kasih akan melakukan yang terbaik untuk kita—sekalipun kita mungkin tidak melihatnya saat itu juga.

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;
Apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”
(Mazmur 37:23-24).

Baca Juga:

Teguran dari Tuhan Saat Aku Bertemu Temanku yang Pernah Sakit Kanker

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah tiga hal yang bisa membantu kita.

Berpacu Melawan Kuda

Penulis: Jeffrey Siauw

berpacu-melawan-kuda

Pendeta Eugene Peterson pernah menulis sebuah buku yang sangat menginspirasi saya, berjudul Run with the Horses, yang mengupas berbagai pelajaran dari kehidupan nabi Yeremia.

Sejak membaca buku itu, beberapa kali saya pernah merenungkan dan membagikan ayat berikut:

“Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?” (Yeremia 12:5)

Ayat ini bahkan menghiasi dinding ruang kerja saya di perpustakaan.

Pesannya sederhana. Hidupmu yang sekarang mungkin hanya seperti berlari dengan orang berjalan kaki. Kalau begini saja engkau telah lelah, bagaimana engkau hendak berpacu melawan kuda? Apa yang kau hadapi sekarang mungkin bisa dibandingkan seperti “hidup di negeri yang damai”. Kalau begini saja engkau sudah tidak merasa tenteram, lalu apa yang akan engkau perbuat jika hidup di hutan belukar?

Ini adalah tanggapan Tuhan terhadap keluhan nabi Yeremia. Tanggapan yang juga relevan untuk keluhan-keluhan saya. Seolah-olah saya mendengar: “baru segini kesulitan yang engkau hadapi”, “baru segini pencobaan yang kau alami”, “baru segini tantanganmu melawan dosa”, “baru segini sakit yang harus kau tanggung”, “baru segini….” Tetapi nadanya mendorong dan bukan mengejek.

Hidup ini sulit. Betul. Hidup ini seperti berada di hutan belukar! Hidup ini seperti berpacu melawan kuda!

Tetapi, apakah kemudian kita mau menyerah? Kita punya beberapa pilihan:

Pertama, hidup dengan buruk. Artinya kita tidak lagi mau berjalan apalagi berlari melawan kehidupan. Kita menyerah. Kita ikut arus saja. Kita sia-siakan hidup kita dengan menyerah kepada berbagai macam hawa nafsu.

Kedua, hidup “ala kadar”nya. Artinya tidak usah terlalu susah-susah dan berjuang mati-matian. Nikmati saja hidup. Berjalan seperlunya tapi tidak usah berlari. Ke gereja, ya boleh. Hidup suci, ya sebisanya. Melayani, ya selama saya mau. Semua “ala kadar”nya saja.

Ketiga, hidup sebaik-baiknya. Memberi usaha terbaik yang kita bisa, sebagaimana yang diinginkan Tuhan. Berapa pun harganya. Berapa pun sulitnya. Tetapi, ini sama sekali tidak mudah, karena itu berarti kita siap hidup “di hutan belukar” dan “berpacu melawan kuda”.

Saya memilih yang ketiga. Walaupun seringkali saya juga sudah lelah dan merasa tidak tenteram… saya tetap mau memilih yang ketiga dan itu berarti juga mau untuk “berpacu melawan kuda”.

Bila kita mau menjalani kehidupan yang terbaik, bukan sekadar kehidupan yang mudah, kita tidak akan membiarkan hambatan-hambatan yang ada dalam hidup ini menghentikan langkah kita. Dalam anugerah Tuhan, mari terus melangkah maju, bahkan siap “berpacu melawan kuda”!