Posts

Suatu Saat Nanti Kita Tersenyum dan Berkata dalam Hati: “Oh, Jadi Ini Maksudnya Tuhan”

Oleh Herti Juliani Gulo, Medan

Awal tahun 2022 adalah tahun yang penuh dukacita mendalam bagi keluargaku, terutama bagi diriku sendiri. Tidak pernah terbayang dalam pikiran jika tahun ini aku kehilangan seorang panutanku yang luar biasa—ayahku sendiri yang akrab kupanggil ‘papa’.

Di mataku, papa adalah orang baik, yang hidupnya selalu dipenuhi oleh kasih sayang, canda tawa, dan rasa syukur yang melimpah. Aku adalah salah satu saksi bagaimana papa menjalani hidupnya. Di tengah banyaknya cobaan, papa selalu menjadi penyejuk dalam keluarga. Ketika dia menghadapi masalah di keluarga, pekerjaan, atau komunitas gerejawi, papa selalu bijak mengambil keputusan karena dia selalu berpikir bahwa setiap masalah itu dicari solusinya, bukan dihakimi penyebabnya. Papa menyadari bahwa manusia tidaklah sempurna, dan cenderung menghakimi tanpa menyelesaikan masalah.

Ketika akhirnya papa meninggal, banyak orang mengatakan kepergiannya misterius. Saat berhadapan dengan orang lain, papa kelihatan kuat. Namun, di balik itu, ada sakit yang tak tertahankan dalam tubuhnya. Begitulah papaku, dia mampu menahan sakitnya sendiri demi menjaga perasaan keluarga dan tidak membuat orang lain khawatir.

Aku sebagai anak perempuannya, amat mengagumi papaku. Sejak aku kecil, kami sangat dekat dan kedekatan ini diaminkan oleh banyak orang yang berkata bahwa aku dan papa punya ikatan batin yang kuat. Papa juga amat mengasihiku. Dia tidak pernah marah, menghakimi, atau melakukan kekerasan fisik karena memang dalam hidupnya dipenuhi kasih. Aku sendiri merenung, betapa beruntungnya aku memilikinya sepanjang papa hidup di dunia ini.

Satu hal yang aku syukuri dari kepergiaan papa adalah papa telah hidup di dalam Tuhan. Papa orang yang sangat beriman. Sejak aku kecil, dia selalu berusaha untuk mendekatkan hidupku dan keluargaku dengan Tuhan. Namun, tidak semua dari kami berhasil hidup melekat dengan Tuhan karena tentunya kerohanian seseorang adalah keputusan personal. Berkat upaya papa, meskipun aku sendiri belum sepenuhnya berpengharapan pada Tuhan, tetapi aku selalu meminta pimpinan Roh Kudus agar Dialah satu-satunya yang kuandalkan di dunia ini.

Dari kepergian papa, aku menyadari ada dua hal penting dalam hidupku. Pertama, aku sempat berpikir mengapa orang baik sangat cepat dipanggil Tuhan? Kenapa bukan orang berdosa saja yang Tuhan cepat panggil?

Dalam perenunganku, kusadar bahwa pemikiran itu tidak benar. Jika Tuhan memanggil orang baik, orang yang telah mengenal-Nya, itu karena Tuhan tahu mereka akan tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga. Setiap orang telah berdosa, dan kepada mereka dikaruniakan kesempatan dan waktu untuk mengenal-Nya dan hidup benar.

Kedua, Tuhan punya rencana lain dalam hidupku. Kuakui bahwa selama ini, hidupku sangat bergantung pada papa karena kedamaian selalu kuperoleh dari papa, sehingga tanpa kusadari aku menaruh harap berlebih pada papa, selalu memprioritaskannya daripada Tuhan. Sekarang, aku sadar bahwa Tuhan punya rencana indah buatku. Tuhan ingin agar aku melihat-Nya dan lebih mengagumi-Nya daripada manusia yang ada di dunia ini. Kebaikan papa selama hidupnya menunjukkanku bahwa papa adalah perpanjangan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketika Tuhan memanggil papa pulang, itu karena tugasnya telah selesai di dunia ini dan Tuhan ingin agar aku dan keluarga merasakan kasih dan kebaikan-Nya secara langsung.

Proses menerima kedukaan terasa berat. Hidupku terpuruk, namun aku selalu berdoa agar Tuhan menguatkan… dan di sinilah kualami kesetiaan Tuhan. Tuhan selalu menyelipkan kedamaian di tengah-tengah dukacita yang kualami berbulan-bulan. Dari keterpurukan yang kurasakan, ada kasih setia Tuhan yang kuperoleh. Tuhan memakai orang lain, ada keluarga, teman, sahabat, untuk menjadi berkat dalam hidupku. Semenjak itu, aku terus hidup berpengharapan sama Tuhan, karena hanya di dalam Tuhan bisa kuperoleh kasih dan kedamaian hidup. Hal ini membuatku tersenyum dan dalam hati berkata, “Oh, jadi ini maksudnya Tuhan.”

Firman Tuhan di Yohanes 16:20 yang berkata, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira, kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” tergenapi dalam hidupku. Begitu banyaknya pergumulan yang kuhadapi sejak papa pergi. Namun, pergumulan itu berhasil kuhadapi, karena ada kekuatan yang Tuhan berikan. Air saja mampu Tuhan ubah menjadi anggur, maka aku percaya bahwa dukacita pasti Tuhan ubah menjadi sukacita.

Kita yang masih hidup di dunia ini, hendaknya terus bertumbuh dalam iman. Berlomba-lomba melakukan kebaikan, berbagi dengan sesama, rendah hati, dan terus mengucap syukur dalam keadaan apa pun. Marilah kita punya kerinduan untuk memperbaiki hidup menjadi lebih baik, mampu mencitrakan diri Tuhan Yesus dalam hidup kita kepada orang lain, melanjutkan kasih setia Tuhan, kebaikan dan keteladanan hidup Yesus. Ketika kita berhasil melakukan itu semua, dengan iman, kita pasti disambut oleh Tuhan dalam kerajaan surga.

Suatu saat nanti, akan ada reuni surgawi bagi kita yang sudah hidup percaya kepada Tuhan. Jadi, kiranya kita tidak takut kehilangan orang yang kita kasihi, karena pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Bapa di surga, sebab kita adalah milik-Nya. Mereka yang sudah pergi hanya mendahului kita dan Tuhan sedang mempersiapkan tempat bagi kita di surga. Rencana Tuhan indah pada waktunya.

Ada sebuah lagu favorit, yang kuharap dapat menjadi kekuatan bagi kita semua:

Indah rencana-Mu Tuhan, di dalam hidupku
Walau ku tak tahu dan ku tak mengerti, semua jalan-Mu
Dulu ku tak tahu, Tuhan, berat kurasakan
Hati menderita dan ku tak berdaya, menghadapi semua
Tapi ku mengerti sekarang, Kau tolong padaku
Kini kumelihat dan kumerasakan, indah rencana-Mu

Di Saat Aku Berdukacita, Tuhan Menghiburku

Oleh Wisud Yohana Sianturi, Sidikalang

Aku telah kehilangan kedua orangtuaku. Ayahku dipanggil Tuhan lebih dulu. Ketika hari itu tiba, aku marah dan kecewa. Aku menyalahkan semuanya, orang-orang di sekitarku, keadaanku, bahkan juga Tuhan.

Sewaktu ayahku masih hidup, hubungan kami kurang begitu baik. Karena banyak hal, aku berusaha menjaga jarak dengannya. Hingga ketika Ayah mengalami sakit keras, dia berkata kepadaku, “Nang [nak], pasti kau merasa kalau aku tidak peduli kepadamu, cuek sama kamu. Tapi bapak sayang samamu, nang.” Hari itu aku menangis di depan Ayah. Ketika dia akhirnya meninggal dunia, aku menyesal karena merasa dulu tidak menjadi anak yang baik.

Selepas kepergian Ayah, aku menjauhi Tuhan. Aku sering mengabaikan pertemuan ibadah di gereja dan juga tidak mau berdoa lagi. Ketika ibuku tahu tentang hal ini, dia menegurku. Katanya, Tuhan itu tidak pernah berbuat buruk. Tuhan selalu berlaku baik. Apa pun itu pasti untuk kebaikan. Aku menangis mendengar teguran dari ibuku, dan setelahnya aku pelan-pelan belajar untuk kembali berdoa.

Beberapa bulan berselang, ibuku masuk rumah sakit dan harus dipindahkan ke rumah sakit lain yang lebih memadai. Ketika kabar itu datang, hari sudah malam dan aku tidak tahu harus berbuat apa karena kami tidak tinggal di satu kota yang sama. Perasaanku tak karuan dan aku ketakutan. Dalam keadaan itulah aku berdoa dan membaca Alkitab sambil menangis. Aku berkata pada Tuhan kalau aku belum siap jika harus kehilangan Ibu. Jika ibuku pergi meninggalkanku, maka aku akan menyerah dengan mengakhiri hidupku juga.

Keesokan harinya, aku dikabari bahwa Ibu terkena stroke dan dilarikan ke ICU. Setelah kuliah usai, aku bergegas menuju rumah sakit tempat ibuku dirawat. Ibuku sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di dekat telinganya, aku berbisik, “Mak, jangan tinggalkan aku. Aku gak siap mamak tinggalkan sendirian.” Aku melihat ibuku meneteskan air mata.

Singkat cerita, melalui serangkaian proses perawatan itu ibuku bisa bertahan dan tetap bersamaku selama hampir setahun sampai aku diwisuda. Hari-hari yang dulu kulalui bersama Ibu adalah hari yang berat. Namun, dalam kondisi seperti itu justru aku merasa kalau itu adalah masa-masa di mana aku dekat Tuhan. Masa-masa di mana aku benar-benar membutuhkan Tuhan. Hanya Tuhan tempatku mengadu, sampai akhirnya Ibu kembali masuk rumah sakit dan Tuhan memanggilnya.

Dalam dukacitaku, Tuhan menghiburku

Sejujurnya, aku rasa aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau aku sudah tidak lagi punya orangtua. Ketika Ibu meninggal, aku sempat berpikir untuk berhenti membaca firman Tuhan dan tidak mau berdoa lagi. Ada rasa marah dan kecewa pada Tuhan hingga aku ingin meninggalkan-Nya selama beberapa waktu. Tapi, di sisi lain hatiku, aku sadar bahwa hanya Tuhan sajalah satu-satunya yang kumiliki. Dialah penciptaku, yang tahu betul akan diriku lebih daripada aku sendiri. Aku pun teringat pesan ibuku dulu ketika aku berusaha menjauhi Tuhan setelah kepergian Ayah. Tuhan itu selalu baik dan apa pun yang terjadi adalah untuk mendatangkan kebaikan.

Selama seminggu aku diliputi rasa duka. Hingga suatu ketika aku bertanya-tanya dalam hati, “Apa sih yang Tuhan akan katakan mengenai keadaanku saat ini?” Aku pun membaca renungan yang ada di tabletku. Isi renungan hari itu diambil dari Yohanes 14 yang terdiri dari beberapa ayat. Ada satu ayat yang membuatku menangis.

“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yohanes 14:18).

Melalui ayat ini, aku merasa Tuhan benar-benar menghiburku. Aku berusaha menjauh dari-Nya, tapi Dia tidak pernah meninggalkanku sendirian. Kuakui, ketika kedua orangtuaku masih hidup, aku sangat mengandalkan mereka. Bersama mereka, aku merasa aman dan kuletakkan harapanku pada mereka. Tapi, ketika mereka pergi, barulah aku sadar bahwa manusia itu terbatas dan tumpuan harapan terbesar yang seharusnya menjadi satu-satunya andalanku adalah Tuhan Yesus sendiri.

Kedua orangtuaku telah pergi dari sisiku, tetapi Tuhan selalu ada buatku. Entah bagaimana pun keadaanku, di mana pun aku berada, Dia selalu bersamaku.

Aku berdoa, kiranya kesaksianku ini boleh memberi kekuatan untuk teman-teman yang membacanya.

“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh” (Mazmur 139:2).

Baca Juga:

Tuhan, Lakukanlah Kepadaku Apa Pun

Hampir tidak pernah kita berdoa “Tuhan, berikanlah kepadaku apa pun juga. Kegelapan, terang, penghiburan, penderitaan… apa pun juga… dan aku tetap akan memuji-Mu!” Wow, doa ini mungkin terdengar ngeri buatku, tapi di sinilah aku belajar untuk memahami kembali bagaimana seharusnya aku berdoa.

Saat Kehidupan Menjelang Kesudahannya

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 清明特輯 | 在生命的盡頭,誰可以拉住你的手(有聲中文)

Nenekku terbaring tak berdaya di tempat tidur. Nafasnya terengah-engah dan sesekali dia mengerang karena merasa sakit dan tidak nyaman. Wajahnya yang keriput menunjukkan usianya yang tua.

Aku terduduk di sampingnya, tak sekalipun tatapanku lepas darinya. Dengan semua kekuatannya, Nenek membuka matanya dan menatap lurus ke arahku.

“Nenek lapar?” tanyaku. Nenek menjawabku dengan keheningan; dia tidak lagi punya kekuatan untuk berbicara.

Tiga minggu telah berlalu sejak Nenek pulang dari rumah sakit. Jika ditotal sejak hari pertama Nenek dirawat di rumah sakit, sudah 17 hari dia tidak memakan makanan keras apapun. Tidak pernah terpikirkan olehku kalau dia akan menjadi sangat lemah.

Terlepas dari fakta bahwa Nenek telah berusia 92 tahun dan pernah memiliki riwayat penyakit jantung, kesehatannya selalu prima. Dia tidak butuh banyak pertolongan dalam kesehariannya; dia makan dan tidur teratur setiap hari, dia pun tampak lebih sehat dan muda jika dibandingkan dengan para lansia lainnya yang bahkan usianya lebih muda dari dia. Selain itu, dia juga selalu memiliki pandangan yang positif tentang kehidupan (tidak seperti teman-temannya) dan sering mengatakan kalau dia harus hidup dengan baik supaya bisa terus mengikuti perkembangan dunia sekarang.

Namun, saat ini dia terbaring sekarat untuk menghadapi masa-masa terakhir dalam hidupnya. Dia terlihat sangat kesakitan. Di balik pembawaanku yang tenang, perasaanku jadi campur aduk, dan aku pun bertanya: Bagaimana aku bisa menghibur Nenek dan membuatnya merasa sedikit lega di tengah situasi ini?

Aku dengan cepat menemukan jawabannya—tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain berdoa.

Di titik ini, Nenek dengan lembut mengulurkan tangannya dan memegangku. Meski tangannya lemah, tapi terasa hangat. Aku berdoa di dalam hati: Tuhan, Engkau ada bersamanya. Tolong, berikanlah dia penghiburan dengan kehadiran-Mu. Hanya Engkau yang dapat memberinya penghiburan yang sejati… Setelah beberapa saat, Nenek sepertinya tertidur; wajahnya tampak damai. Perlahan-lahan aku melepaskan tanganku darinya dan berdoa supaya Tuhan sajalah yang memegang dan menguatkannya.

Ini adalah pengalaman pertamaku menyaksikan seseorang berjuang di momen terakhir kehidupannya. Kematian adalah peristiwa yang suatu saat nanti pasti akan kita alami, namun yang jadi pertanyaannya adalah: Siapakah yang akan menemani kita kelak di jalan yang panjang dan sepi ini?

Aku teringat akan sesuatu yang beberapa tahun lalu menegurku: Kita semua datang ke bumi ini sendirian dan suatu saat akan pergi dengan cara yang sama—sendirian. Meskipun terdengar pesimis, tapi itulah kenyataan yang harus benar-benar kita hadapi. Keluarga dan teman-teman kita hanya bisa menemani kita di saat-saat terakhir kita di bumi, dan tidak mungkin bagi siapa pun untuk menemani kita ke perjalanan setelah kematian.

Dan inilah yang membuat banyak orang putus asa. Kematian menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh banyak orang—pikiran bahwa kita harus menghadapi rasa takut yang paling dalam dan gelap itu sendirian!

Namun, puji Tuhan karena aku menemukan harapan di dalam Kristus. Karena Tuhan selalu beserta kita, tidak ada satu pun momen dalam hidup kita di mana kita sendirian. Tuhan ada bersama kita di gunung-gunung ataupun lembah-lembah kehidupan. Daud berkata dalam Mazmur 23:4, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Dan, di atas segalanya, Yesus telah menang atas kematian, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 15:55, “Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Kita tidak lagi menghadapi ketidaktahuan dan keputusasaan setelah kita mati, tetapi kita beroleh kehidupan. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Inilah yang menunjukkan besarnya kasih Allah bagi kita—Dia selalu bersama kita dan Dia ingin membawa kita kepada kehidupan yang baru.

Semakin aku berpikir tentang hal ini, semakin aku menyadari bahwa kita baru dapat mengerti kehadiran Allah sepenuhnya ketika hidup kita hampir berakhir, karena di titik inilah kita tidak dapat bergantung kepada siapapun dan apapun lagi selain Allah. Hanya di kesepian kita yang paling dalamlah kita bisa menemukan bahwa hanya Tuhanlah yang pasti dan Dialah batu perlindungan di mana kita dapat menempatkan kepercayaan kita.

Hanya Dia yang dapat memberikan kita penghiburan sejati dan pertolongan di masa-masa tergelap. Hanya Allah yang akan bersama dengan kita selamanya—semua hal lainnya hanyalah sementara dan akan berlalu.

Aku mengucap syukur pada Allah karena aku tidak pernah sendirian dalam menyelesaikan perjalananku di dunia ini. Jadi, selama waktu-waktuku hidup, aku mau hidup dengan kepercayaan penuh pada kasih setia-Nya dan menyandarkan hidupku pada-Nya, batu perlindunganku yang kokoh.

Ya Tuhan Yesus, peganglah tanganku erat-erat.

Baca Juga:

Tetap Beriman di Tengah Kecelakaan

Brakk! Kereta yang kutumpangi mengalami kecelakaan. Suasana panik dan yang bisa kulakukan hanyalah tertunduk dan berdoa.