Posts

Ketika Aku Bertobat dari Menghakimi Orang Lain

Oleh Sharon Audry, Bandung

Beberapa pekan lalu aku bertemu dengan seorang teman. Kami tidak terlalu dekat layaknya sahabat, tapi kami juga tidak terlalu jauh.

Kami asyik mengobrol dan ada banyak hal yang kami bicarakan hingga akhirnya obrolan kami menyinggung soal pelayanan. Dari obrolan itu, aku tahu bahwa dia bukan seorang anggota tetap di suatu gereja, suka pindah-pindah. Dia juga berkata bahwa dia tidak melakukan pelayanan apa-apa di gereja.

“Ooo, dia orang Kristen KTP. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertumbuh apabila pindah-pindah gereja? Dan, bagaimana mungkin seorang Kristen tidak pelayanan? Sudah pasti hidupnya tidak benar!” kataku dalam hati

Beberapa minggu kemudian, aku terlibat di sebuah acara bersama dengan temanku itu. Kebetulan acara itu mengharuskan kami menginap selama tiga hari dua malam, dan ternyata aku sekamar dengannya.

Singkat cerita, ketika bangun pagi, hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke kamar mandi. Namun, betapa kagetnya aku saat aku selesai dari kamar mandi, aku melihat kalau orang yang kuanggap sebagai Kristen KTP itu sedang bersaat teduh. Dia bahkan mengingatkanku supaya tidak lupa bersaat teduh.

Aku merasa malu. Aku hanya melihat orang dari luarnya saja, aku menghakiminya sejak dalam pikiranku. Aku selalu merasa kalau akulah yang paling rohani di antara yang lain, tapi bahkan untuk bersaat teduh saja aku tidak pernah. Aku jadi teringat firman Tuhan dalam Lukas 6:42 yang berkata demikian:

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Jujur, selama ini aku merasa kalau aku adalah orang Kristen yang saleh karena aku ikut terlibat aktif dalam pelayanan di gereja. Orang-orang pun mengapresiasi pelayananku. Namun, ada satu hal yang sebenarnya aku tutupi. Kehidupan pribadiku itu benar-benar jauh dari Tuhan. Aku merasa hidupku sangat kacau. Meski aku tahu kalau aku sudah jauh dari Tuhan ,tapi aku tetap bersikukuh dan menganggap kalau hidupku bisa berjalan sendiri tanpa Tuhan. Di balik pelayanan yang kulakukan itu terselip kesombongan supaya orang lain melihatku sebagai orang Kristen yang saleh.

Sekilas mungkin aku terlihat sebagai orang Kristen yang saleh. Sering hadir di gereja dan pelayanan di sana-sini. Tapi, jauh di dalam hatiku tidak ada damai sejahtera. Aku sudah tidak tahu lagi kapan terakhir kali aku bersaat teduh. Bahkan berdoa pun sudah tidak pernah, contoh kecilnya adalah doa makan. Aku tidak tahu lagi kapan terakhir kali aku berdoa mengucap syukur kepada Tuhan karena sudah memberkatiku sehingga aku bisa makan.

Sejak kejadian itu, aku jadi malu dengan diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa berkata “kamu bukan orang Kristen yang sejati!” sementara hidupku sendiri jauh dari Tuhan. Aku merasa menjadi orang yang paling munafik sedunia ketika mengatakannya.

Aku berusaha mengembalikan hubunganku yang sempat retak dengan Allah. Aku mulai bersaat teduh dan belajar untuk melakukan setiap aktivitas rohaniku dengan sungguh-sungguh, bukan lagi supaya dilihat orang.

Saat aku berkomitmen mengubah diriku, Tuhan memulihkanku. Aku merasa hidupku jadi jauh lebih bahagia ketika berjalan bersama Yesus. Aku percaya bahwa tidak ada kata terlambat untuk mengalami pemulihan Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari kesalahan kita, memohon ampun pada Tuhan, dan berkomitmen untuk memperbaiki diri.

Sekarang, aku tidak lagi cepat menilai orang berdasarkan apa yang kulihat atau kudengar saja. Aku hanyalah manusia biasa, yang hanya melihat apa yang dilihat mata, sedangkan Tuhan mampu melihat sampai kedalaman hati manusia. Aku akan berusaha mengintrospeksi diriku sendiri terlebih dulu.

Baca Juga:

Karena Imanku pada Yesus, Aku Ditolak oleh Teman-temanku

Ibuku dan nenekku mendidikku untuk mengimani iman bukan Kristen yang mereka anut. Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk percaya kepada Yesus dan kemudian teman-temanku pun menolakku.

Mata Yesus

Jumat, 15 Maret 2013

Mata Yesus

Baca: Markus 5:1-20

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. —Matius 9:36

Saya memperhatikan orang itu ketika kami sedang antre di suatu toko es krim. Wajahnya penuh bekas luka perkelahian, dengan tulang hidung yang bengkok dan sejumlah goresan. Bajunya kusut meski bersih. Saya pun mengambil tempat di antara pria itu dengan anak-anak saya dan berdiri memunggunginya.

Pertama kali ia berbicara, saya tidak mendengarkan dengan jelas dan hanya mengangguk-angguk untuk menghargainya. Saya berusaha menghindari kontak mata dengannya. Karena istri saya tidak ikut, ia berpikir bahwa saya adalah orangtua tunggal dan dengan lembut ia berkata, “Tak mudah membesarkan anak-anak sendirian, bukan?” Nada bicaranya membuat saya berbalik dan memandangnya. Baru pada saat itulah saya menyadari kehadiran anak-anaknya, lalu saya mendengarkan cerita tentang istrinya yang telah meninggalkan mereka. Ucapannya yang lembut sangat bertolak belakang dengan penampilan luarnya.

Saya sungguh merasa tertegur! Saya kembali gagal untuk melihat jauh lebih dalam dari sekadar penampilan luar. Yesus bertemu dengan orang-orang yang penampilan luarnya dapat membuat-Nya menjauh, termasuk seorang yang kerasukan setan dalam bacaan kita hari ini (Mrk. 5:1-20). Namun Dia melihat kebutuhan yang ada di dalam hati manusia dan menjawab kebutuhan tersebut.

Yesus selalu melihat kita dengan mata penuh kasih, walaupun diri kita penuh luka dan berantakan akibat dosa. Ini terlihat dalam pergumulan kita untuk tetap setia. Kiranya Allah menolong kita untuk menggantikan keangkuhan kita dengan hati Yesus yang penuh kasih. —RKK

Bapa, kiranya fokus hidup kami takkan melemahkan kemampuan
kami untuk melihat orang lain seperti Yesus melihat mereka.
Berikan hati-Mu kepada kami. Kiranya kami rindu
untuk membawa orang lain kepada-Mu.

Jika melihat melalui mata Yesus, Anda akan melihat banyak jiwa yang membutuhkan-Nya.

Nilailah Dengan Benar

Selasa, 19 Juni 2012

Nilailah Dengan Benar

Baca: Ayub 42:1-8

Karena kamu tidak berkata benar tentang Aku. —Ayub 42:7

Setelah sebuah majalah berita berskala nasional memuat liputan tentang suatu penelitian yang menyebut bahwa kota kami merupakan salah satu dari 10 kota di Amerika Serikat yang sudah “sekarat”, banyak penduduk kota yang marah. Mereka memprotes hal ini secara terbuka dan mengemukakan bukti-bukti yang menyanggah liputan tersebut. Salah seorang warga bahkan mengambil langkah lebih jauh untuk membuktikan sanggahan itu. Ia mengajak berbagai warga kota lainnya untuk pergi ke pusat kota untuk direkam dalam video yang akan menunjukkan betapa hidupnya komunitas kami. Video tersebut mendapat-kan perhatian dunia dan majalah itu mengakui bahwa mereka salah. Namun organisasi yang melakukan “penelitian” tersebut tetap tidak mau mengubah kesimpulannya, walaupun hal itu diambil berdasarkan kriteria sempit saja.

Pembelaan diri mereka cukup mengagetkan saya karena kesimpulan mereka yang gegabah itu sama sekali tidak berdasar. Kemudian saya berpikir, betapa seringnya orang membuat penilaian yang salah karena minimnya informasi. Salah satu contoh klasik dalam Alkitab adalah dari para sahabat Ayub. Dengan salah mereka menyimpulkan bahwa serangkaian tragedi yang Ayub alami pastilah disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya.

Pada akhirnya, Allah membela Ayub dan memberikan suatu kesimpulan yang mengejutkan. Ia tidak menegur para sahabat Ayub karena mereka menghakimi Ayub, tetapi karena mereka tidak berkata benar tentang Allah (Ayb. 42:7). Inilah peringatannya bagi kita semua: pada saat kita gegabah dalam menilai seseorang, sebenarnya kita sedang berdosa terhadap Allah. —JAL

Tuhan, jagalah bibirku saat aku terdorong untuk mengatakan yang
tidak seharusnya kukatakan tentang seseorang yang diciptakan
menurut gambar-Mu. Pakailah kata-kataku untuk memberkati dan
bukan untuk menyakiti. Biarlah sikapku mencerminkan isi hati-Mu.

Bila Anda seorang Kristen, ingatlah bahwa orang menilai Tuhan Anda melalui diri Anda.