Posts

Pergumulanku untuk Belajar Menyayangi Diriku Sendiri

Oleh Paramytha, Surabaya

Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan yang tak lagi asing di telinga kita. Jika dicermati, rasanya memang tidak mungkin menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya. Mengenal adalah langkah pertama untuk dapat menyayangi.

Bagiku, menyayangi diri sendiri tidak lebih mudah dari menyayangi orang lain. Jika aku menilik ke dalam diriku sendiri, rasanya seperti berjalan di lorong panjang yang menyuguhkan gambaran karakter diri yang menakutkan pada dinding kiri dan kanannya. Tentunya sama sekali tidak seperti tamasya yang menyenangkan.

Aku selalu berpikir, apakah salah bila aku menyembunyikan kelemahan demi kelemahanku di sudut ruang paling pojok hingga tak terdeteksi lagi? Bukankah pada umumnya manusia ingin terlihat baik dan kuat dimata orang lain? Bukankah kita semua ingin diterima, dihargai, dan dikasihi? Mungkin salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan sesedikit mungkin menunjukkan ketidakberdayaan dan keburukannya di depan orang lain.

Pergumulanku mengenali diriku sendiri

Sekitar 2 tahun terakhir, aku memang sedang berada dalam posisi yang labil dan kacau. Persiapan pernikahan, urusan keluarga, dan pekerjaan memenuhi pikiranku. Banyak kejadian yang membuatku bertengkar dengan banyak orang. Orang-orang terdekatku seringkali berkomentar bahwa aku aneh, membesar-besarkan masalah yang sepele, terlalu sensitif, dan meresponi segala sesuatu secara berlebihan.

Aku pun frustasi. Aku jadi menyalahkan keadaan, diriku sendiri, dan orang lain. Aku tidak merasa aman dan tenang, sehingga aku memilih untuk menyendiri. Kucoba meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja. Anehnya, hal itu hanya membuat keadaanku semakin parah, relasiku dengan orang lain semakin kacau, dan membuatku semakin sulit memahami diriku sendiri. Aku sendiri tidak tahan dengan sikapku yang berlarut-larut dalam keadaan. Tetapi, aku pun tidak tahu cara yang tepat untuk mengatasinya.

Dalam kondisi seperti itu, aku dapat merasa marah, kecewa, bahkan merasa tertolak apabila ada orang yang tidak meresponku ketika aku menyapa atau memberi senyuman. Padahal, orang tersebut belum tentu orang yang aku kenal. Tetapi, kejadian seperti itu terasa sangat menyakitkan. Aku pun menanyakan pada adikku tentang hal ini.

“Dek, apa responmu saat kamu tersenyum dan menyapa orang lain tapi orang itu tidak menyapa atau senyum balik?”

“Ya biasa aja toh, Mba. Mungkin orang itu ndak lihat atau ndak perhatiin,” jawab adikku.

Aku pun mulai menyadari hal yang tidak wajar dalam diriku. Di waktu lain, aku mulai merasakan perasaan yang sama. Saat aku berada di tengah kerumunan orang banyak tanpa ada yang memperhatikanku atau mengajakku ngobrol, aku langsung merasa disingkirkan, ditolak, bahkan merasa sangat sakit hati. Perasaan tersebut terus aku rasakan setiap menghadapi keadaan yang serupa.

Aku sungguh-sungguh ingin lepas dari perasaan yang menyiksaku, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku memberanikan diri untuk meminta saran dari temanku yang dewasa secara rohani, dan ia menyarankanku untuk bertemu dengan seorang konselor. Awalnya aku merasa takut, karena aku bukanlah orang yang mudah bergaul dengan orang yang baru kukenal. Namun, aku melawan rasa takutku demi mendapatkan jalan keluar dari apa yang tengah kualami.

Aku membuat janji untuk bertemu dengan konselor tersebut dan mulai menceritakan semua masalah dan perasaanku. Sang konselor mendengarkan dengan saksama, lalu memintaku untuk menuliskan seluruh kejadian yang aku alami dari aku kecil hingga dewasa. Ia juga memintaku untuk menuliskan apa yang aku rasakan di setiap kejadian yang kualami. Aku pun melakukannya. Tidak terasa, aku mulai menangis di setiap bagian cerita yang kutulis. Tumpahlah seluruh perasaan—senang, sedih, marah, kecewa, dan tertolak. Kuakui, butuh keberanian untuk menulis kejadian demi kejadian dalam hidupku.

Tak kusangka, banyak hal tentang diriku yang baru kuketahui setelah mengikuti sesi dengan konselor tersebut. Aku baru tahu, bahwa ternyata aku lebih suka memendam perasaan kecewa dan sakit hati terhadap orang lain. Sebaliknya, aku juga tidak berani menyampaikan isi hatiku pada orang lain, karena khawatir mereka akan sakit hati karena perkataanku. Aku juga takut bila orang lain merespon aku dengan buruk, sehingga aku selalu berusaha menyenangkan orang lain meskipun aku tidak merasa nyaman melakukannya. Aku juga ingin orang lain memperhatikanku dan memberi waktu untukku, karena aku jarang memiliki waktu dengan orang tua di masa kecilku.

Aku bersyukur karena konselor yang kutemui adalah sesama orang percaya. Beliau memintaku untuk belajar berani menghadapi dan mengakui apa yang kurasakan terhadap suatu kejadian atau terhadap orang lain. Saat aku merasa kecewa atau tertolak, aku perlu menyatakan dan mengakuinya. Setelah itu, aku diminta untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain yang terlibat, kemudian menyerahkan semua yang kurasakan kepada Tuhan dan menerima kasih karunia dan anugerah-Nya bagiku dengan iman.

Pengalaman ini membuatku belajar untuk menyayangi diri sendiri. Langkah awal yang kulakukan adalah memberanikan diri untuk menghadapi masa laluku, berani untuk mengakui perasaan-perasaanku, berani menyerahkan perasaanku kepada Tuhan, serta menerima dengan iman pengampunan dan kasih-Nya yang tak bersyarat bagiku. Apakah setelah itu aku langsung berubah menjadi pribadi yang tidak lagi memiliki perasaan-perasaan itu? Tentu saja tidak. Sampai saat ini, aku masih terus berproses dan berjuang. Namun, satu hal yang kuyakini—Tuhan mengerti dan memahami setiap proses yang kulalui. Ia mengetahui dan menerimaku dengan segala kelemahan dan perasaan yang kualami. Ia juga selalu bersedia menguatkanku saat aku datang kepada-Nya.

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:14-16).

Baca Juga:

Kejenuhan, Celah Si Jahat Untuk Hambat Produktivitas

Rutinitas seringkali membuat jenuh. Tapi, sadarkah kita bahwa di balik kejenuhan yang tampaknya biasa, hal ini bisa dipakai si jahat untuk menjatuhkan kita?

Dialah Jawabannya

Seri Kesaksian Atlet

Juan Carlos Valeron

Perjalanan iman Juan Valerón adalah contoh yang baik dari kehidupan penuh tantangan yang sering dihadapi para petobat baru di dalam Kristus. Sebagai salah satu pemain sepakbola profesional terbaik Spanyol dalam 15 tahun terakhir, Valerón pernah memimpin tim nasionalnya dalam dua Piala Eropa dan Piala Dunia.

Namun, kemenangannya di lapangan tidak menjamin hidupnya berjalan mulus. Ada banyak masalah yang diderita keluarganya di luar lapangan, bermula dari kematian kakak laki-lakinya pada usia 30 tahun.

“Kami adalah keluarga yang cukup kompak, dan kepergian kakak sangat mengejutkan kami,” kata Valerón. “Sangat sulit melihat orangtua kami menghadapi peristiwa itu. Namun Allah begitu memperhatikan kami dengan kasih-Nya, dan aku yakin, tanpa pertolongan-Nya, orangtua kami tidak akan dapat mengatasi rasa kehilangan mereka. Sayangnya, penderitaan itu bertambah berat ketika tidak lama kemudian, ayahku juga dipanggil Tuhan.”

Dalam penderitaannya, Valerón bergumul dengan berbagai pertanyaan, seperti, Mengapa semua itu terjadi? Dan ketika ia tidak dapat menemukan sendiri jawabannya, ia percaya kepada Allah.

“Dialah jawabannya,” tegas Valerón. “Dia menunjukkan kepadaku bahwa kebaikan akan datang dari pengalaman yang menyakitkan. Pada masa-masa sulit itu, salah seorang saudaraku bisa mengenal Tuhan, dan sejak saat itu, iman keluargaku pun pelan-pelan bertumbuh.”

Ketika Valerón masih muda, ia berharap dapat mencapai prestasi sepakbola dengan bermain di divisi utama dan mencapai kesuksesan bagi negaranya. Namun setelah mencapai semua itu, termasuk bermain di Piala Dunia, ia menyadari bahwa tanpa Allah, semua prestasi itu tidak akan memberinya kepuasan.

“Aku menyadari bahwa semua prestasi itu tidak terlalu penting,” kata Valerón. “Bahkan, tanpa Allah, semua itu tidak berarti sama sekali. Yesuslah segala-galanya. Seperti makanan yang kita butuhkan untuk hidup, Yesus adalah kebutuhan hidup yang terutama. Setelah aku menikmati hubungan pribadi dengan-Nya, aku ingin selalu bersama dengan-Nya. Meski aku masih akan mengalami masa-masa sulit, aku tahu Allah beserta denganku, karena itu aku menerima keadaan itu dengan sukacita. Dan aku tahu, suatu hari nanti, aku akan pergi menghadap Dia dan mengalami kemuliaan-Nya selamanya.”

Sumber: Sports Spectrum

 

🙂 Untuk direnungkan

1. Valerón memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan. Bagaimana dengan kamu? Apa yang ingin kamu tanyakan kepada Allah hari ini?

2. Setujukah kamu dengan kesimpulan Valerón bahwa Yesus adalah kebutuhan hidup yang terutama? Apa alasanmu?

Ketika Aku Mempertanyakan Allah

Seri Kesaksian Atlet

Clint Dempsey

Clint Dempsey menyadari kecintaannya pada sepakbola sejak masa sekolah. Luapan kegembiraan setelah mencetak gol telah mendorong Dempsey makin mendalami kecintaannya pada olahraga yang telah membawanya hingga ke berbagai tempat di dunia dan bermain dalam level tertinggi di Eropa dan Amerika Serikat.

“Awalnya orangtuaku membawaku belajar sepakbola supaya aku mempelajari cara bergaul yang baik dengan orang lain,” kata Dempsey. “Aku tidak pernah tahu bahwa olahraga yang kusukai dan keterampilan yang kupelajari itu kemudian berperan besar dalam hubunganku dengan Allah.”

Dempsey masih berusia 21 tahun ketika ia menjadi pemain profesional, dan pada tahun itu juga ia berhasil masuk dalam tim nasional Amerika Serikat serta meraih gelar Pemain Baru Terbaik di Liga Utama Sepakbola AS (MLS). Setahun kemudian ia membawa klubnya New England Revolution memenangi trofi juara MLS yang diraih dua kali berturut-turut. Selanjutnya ia bermain di Inggris untuk Fulham dan Tottenham Hotspur, membantu tim nasional menjuarai Piala Emas CONCACAF, mewakili negaranya dalam kejuaraan Piala Dunia dan beberapa kali digelari Atlet Sepakbola Terbaik di AS.

Allah telah mulai membentuk hidup Dempsey jauh sebelum ia berkiprah dalam sepakbola. Dan uniknya, pembentukan itu justru dimulai melalui sebuah tragedi yang terjadi saat ia masih berusia 12 tahun.

“Aku bertumbuh di dalam keluarga yang taat beragama dan biasa pergi ke gereja bersama Nenek setiap Minggu. Melalui Nenek, aku menyadari arti penting dari iman,” cerita Dempsey. “Namun, saat aku berusia 12 tahun, hidupku berbalik 180 derajat. Jennifer, saudara perempuanku, meninggal dunia (karena aneurisma otak) dan aku banyak mempertanyakan mengapa semua itu terjadi dan bagaimana campur tangan Allah di dalam semua itu. Selama bertahun-tahun, aku bergumul dan menjauh dari hubungan dengan Allah. Namun Dia setia dan sabar, dengan perlahan-lahan memberikan pemulihan dan kekuatan yang baru.”

Ya, meskipun Dempsey telah mengenal Allah karena lahir dari sebuah keluarga Kristen, ia tidak sungguh-sungguh mencari Allah. Namun Allah terus mencarinya. Pada saat kuliah, ada satu kelompok PA di Universitas Furman di Greenville, South Carolina yang mendukungnya untuk mengenal Allah lebih jauh dan memahami arti dari iman yang aktif.

“Di universitas, aku bergabung dengan sebuah kelompok PA. Firman Tuhan memberiku damai sejahtera dan suatu kerinduan untuk berhubungan dengan Dia,” tutur Dempsey. “Aku mendapati bahwa mempertanyakan Dia dan mencari jawaban melalui Kitab Suci telah menolongku bertumbuh dan memberiku arah yang jelas. Kini imanku di dalam Kristus telah memberiku keyakinan akan masa depan. Aku tahu, di tengah pengalaman yang baik atau buruk, Dia tetap setia dan akan terus menjagaku.”

Tidak hanya melalui kelompok PA. Allah juga membentuk Dempsey melalui tragedi lainnya.

Suatu hari, dua rekan setimnya mengajaknya pergi ke suatu konser. Karena tidak punya banyak uang, Dempsey pun menolak ajakan itu. Tanpa diduga, dalam perjalanan ke konser, mobil yang ditumpangi kedua rekan Dempsey mengalami kecelakaan hingga jungkir balik. Sebuah truk 18 roda menghantam mobil itu dan menewaskan salah seorang dari mereka, sementara yang satu lagi mengalami luka-luka parah yang membuatnya tidak bisa lagi bermain sepakbola.

Allah memakai tragedi di masa lalu Dempsey untuk membentuk pandangannya terhadap kehidupan. Dempsey jadi menyadari bahwa ia tak dapat mengandalkan kehebatannya sendiri untuk membuat hidupnya berarti. Hidupnya dapat berakhir kapan saja. Sebab itu, kerinduannya untuk menyenangkan Allah pun makin besar. Ia ingin memakai waktunya yang singkat di dunia ini untuk memberi pengaruh yang baik dalam hidup sesama.

Kini fokus doa Dempsey bukanlah agar hidupnya aman, bebas dari bahaya. “Sekarang, aku berdoa untuk dikuatkan dalam menjalani hidup yang terbentang di depanku,” tutur Dempsey. Ia pun bertekad, “Aku bermain sebaik yang aku bisa dan bersyukur untuk banyaknya kesempatan dan keberhasilan yang telah diberikan-Nya kepadaku. Dalam semua itu, aku mau melakukan apa yang benar, tidak salah jalan, dan menjalani hidup yang menyenangkan Allah.”

Salah satu wujud nyata dari tekadnya itu adalah kedisiplinan Dempsey untuk membaca Alkitab. Firman Allah menolongnya untuk terus bertumbuh.

“Allah memberikan kekuatan, bahkan di tengah keadaan yang tampaknya mustahil,” kata Dempsey membagikan salah satu pelajaran yang didapatnya dari Alkitab. “Dari kitab Kejadian dalam Alkitab, Allah menjanjikan Abraham bahwa ia akan menjadi bapa dengan banyak keturunan, tetapi selama bertahun-tahun, Sara, istrinya, tidak dapat mempunyai anak. Bahkan ketika ia hampir berusia 100 tahun, Abraham ‘tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah’ (Roma 4:20). Iman Abraham pun berbuah manis ketika Allah menepati janji-Nya dan Sara pada usia 90 tahun melahirkan anak mereka, Ishak.”

Sumber: Sports Spectrum

 

🙂 Untuk direnungkan

1. Kapan pertama kalinya kamu menyadari bahwa kamu membutuhkan Allah? Peristiwa-peristiwa apa saja yang telah membawamu mengenal-Nya?

2. Ketika kamu memiliki pertanyaan-pertanyaan tentang Allah, seberapa besar hasratmu untuk mencari jawabannya melalui doa dan pembacaan Alkitab?

Papa yang Jahat (?)

Oleh: Sandra Cory Clarisa Tarigan

papa-yang-jahat

Entah kenapa perasaan gue takut banget sama papa. Setiap kali ketemu, hati gue ciut. Waktu pertemuan keluarga, papa memarahi gue di depan semua orang. Malu, sebel, rasanya mau ditelan bumi aja. Aaaaaa.

Gue inget ekspresi papa yang serem ketika menolak proposal gue tentang rencana setelah lulus. Kenapa papa jadi kejam dan menakutkan. Gak ada sedikitpun damai ketika papa ada di deket gue.

Kok jadi gini sih.

🙁 Takut. Banget.

Gue terbangun.

Inget tindakan papa di mimpi, hati gue menyela:

Papa gak mungkin kayak gitu, kan kamu kenal Papa.

Seketika, damai membanjiri jiwa. Lega, gue move on dari ketakutan palsu dan beranjak minum susu.

Iya, gue kenal Papa. Tiap hari gue berbicara dengannya.

Dan papa yang gue kenal adalah papa yang sangat baik. Papa selalu sedia telinga sekaligus sedia nasehat tiap kali gue bingung sama sesuatu. Di satu sisi, dia selalu mendengar pendapat gue, se-kontras apapun dengan apa yang beliau bilang. Tapi di sisi lain, dia juga mengusahakan segalanya yang mungkin dilakukan agar gue mengambil jalan yang benar, walau tetap menyerahkan pengambilan keputusan di gue. Real gentleman.

Seketika, ada suara dalam hati.
Tuh, kalau kamu kenal Bapamu di surga, kamu juga gak mungkin berprasangka buruk sama Dia.

Waw tepat banget menjawab kebandelan gue akhir-akhir ini.

Belakangan ini gue memang selalu mempertanyakan dan meragukan intervensi Tuhan dalam hidup gue. Intervensi yang membuat gue kehilangan zona nyaman gue. Sempat beberapa kali, gue mempertanyakan, “TUHAN maunya apa sih di hidupku? Arghk” (pertanyaan yang sok-sokan, syukurlah Tuhan gak langsung ngirim api nyembur dari langit untuk negur gue)

Gue sadar gue sudah berprasangka buruk ke Tuhan. Gue takut Tuhan lagi error atau salah ketika memutuskan sesuatu yang sangat berdampak pada masa depan gue. Gue takut Dia gak mikir matang waktu mutusin untuk nge-cut jalan yang sedang gue ambil.

Pagi ini, momen ketika gue bangun, minum susu, dan “mendengar jawaban” di hati adalah momen yang me-merdeka-kan.

Iya, gue kan kenal Tuhan, meski pengenalan itu gue sadari masih jauh dari sempurna.
Roma 8:28-29 mencatat, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya …”

Jelas bahwa Bapa di surga tahu apa yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Dia akan melakukan segala hal yang perlu untuk kebaikan gue, yaitu untuk membuat hidup gue makin serupa dengan Dia. Namun, prasangka buruk dan ketakutan bisa mengaburkan fakta yang Tuhan nyatakan dalam Firman-Nya. Bahwa Dia baik, murah hati, dan berkuasa, tiba-tiba jadi sulit diyakini sepenuh hati ketika ketakutan dan kekhawatiran mendominasi.

Gue tersadar bahwa se-nyata apapun perasaan gue saat bangun dari tidur (takut, serem, dll), tetap bisa dikalahkan oleh logika dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman hidup bersama papa. Papa jahat dalam mimpi gue itu bukan kebenaran! Fakta tentang siapa papa yang gue tahu selama inilah yang benar.

Begitu juga, walaupun gue punya semua alasan untuk meragukan kebaikan Tuhan,
perasaan itu bisa diatasi oleh pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman hidup gue bersama Dia. Tuhan yang bisa salah dalam bayangan gue itu bukan kebenaran! Fakta tentang siapa Bapa di surga sebagaimana yang dinyatakan dalam Firman-Nya, itulah yang benar.

Tuhan tidak sedang bermain-main dengan hidup dan masa depan gue.

Semakin gue mengenal Tuhan, semakin gue bisa bebas dari ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Dan pengenalan gue itu sendiri tumbuh ketika gue makin sering bersama Dia, memperhatikan firman-Nya, berbicara dengan-Nya dalam doa.

Gimana dengan kamu? Seberapa banyak pengenalanmu akan Bapa di surga memengaruhi cara kamu menjalani hidup?

Terima kasih Tuhan,
Engkau punya banyak cara untuk membawaku kembali pada cara pikir yang benar,
sehingga aku juga bisa mengambil tindakan dan keputusan yang benar.

Utamakan Yang Terutama

Selasa, 19 Maret 2013

Utamakan Yang Terutama

Baca: 1 Tawarikh 28:5-10

Kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati. —1 Tawarikh 28:9

Ketika cucu kami, Sarah, masih kecil, ia berkata kepada kami bahwa ia ingin menjadi seorang pelatih bola basket seperti ayahnya ketika dewasa nanti. Namun ia tak bisa langsung menjadi pelatih, katanya, karena pertama-tama ia harus menjadi pemain dahulu, dan seorang pemain harus bisa mengikat tali sepatunya, tetapi itu pun belum bisa ia lakukan!

Kita berkata, “Utamakan yang terutama.” Dan yang terutama di dalam hidup ini adalah mengenal Allah dan bersukacita di dalam Dia.

Mengakui dan mengenal Allah akan menolong kita menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya bagi kita. Nasihat Raja Daud kepada putranya Salomo: “Kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati” (1Taw. 28:9).

Ingatlah, Allah bisa kita kenal. Dia adalah satu Pribadi, bukan suatu logika atau konsep agama. Dia sanggup berpikir, berkehendak, menikmati, merasakan, mengasihi, dan merindu seperti manusia biasa. A. W. Tozer menulis, “Allah adalah satu Pribadi dan bisa dikenal dengan keintiman yang semakin mendalam ketika kita mempersiapkan hati kita untuk menerima keajaibannya.” Inilah intinya: Kita harus “mempersiapkan hati kita”.

Tuhan tidak berusaha mempersulit kita untuk dapat mengenal-Nya; sebaliknya seseorang yang ingin mengenal Dia akan dapat melakukannya. Dia tidak akan memaksakan kasih-Nya kepada kita, tetapi Dia menunggu dengan penuh kesabaran, karena Dia rindu untuk Anda kenal. Mengenal Dia adalah hal yang terutama dalam hidup. —DHR

Suara Yesus memanggilku,
Bergembiralah hatiku!
Sungguh indah persekutuanku
Bersama dengan Yesus. —Miles
(Pelengkap Kidung Jemaat, No. 246)

Memikirkan Allah akan menggoncang pikiran, tetapi mengenal-Nya akan memuaskan hati.