Posts

Mengasihi dan Mendoakan Musuh: Antara Perintah dan Kasih

Oleh Antonius Martono

Lebih mudah mana mendoakan atau mengasihi musuh? Mungkin keduanya adalah hal yang sama-sama sulit. Namun, bagiku pribadi dulu, mendoakan musuh terasa lebih mudah daripada mengasihinya. Setidaknya itu yang pernah kualami.

Aku sempat memiliki kepahitan terhadap teman sepelayananku. Saat itu aku melihat dia sebagai orang yang keras kepala dan kurang bertanggung jawab. Selain itu sikapnya yang cuek makin menambah kemarahanku. Berkali-kali aku bicara tentang keberatanku padanya, berkali-kali juga argumen-argumen pembelaan membentengi dirinya. Seolah-olah segala sesuatu baik-baik saja, tidak menyadari kalau sikap dia telah merepotkanku dan rekan sekerja yang lain. Sikap dan perilaku dia telah mengiritasi diriku. Semakin lama aku semakin sulit bekerjasama dengan dia. Aku merasa dia telah menyakitiku dan aku mulai kesal jika hidupnya baik-baik saja.

Dari kekesalan yang semakin hari terus menumpuk itu, muncul niatan buruk di hatiku. Aku ingin dia membayar sakit hati hati yang telah dia torehkan di hatiku. Aku merasa diperlakukan tidak adil jika hidup dia baik-baik saja tanpa dia menyadari kesalahannya. Aku berharap keadilan Tuhan datang kepadanya. Tentu aku tidak ingin dirinya celaka. Aku hanya ingin dia merasa dipermalukan, sadar, dan bertobat dari kesalahannya.

Saat itu aku tahu bahwa sikap hatiku jelas salah. Itu sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan Kristus. Yesus mengajarkan untuk mengasihi dan mendoakan musuh yang telah menyakiti kita. Aku coba melawan sikap hatiku yang buruk itu dengan belajar untuk mendoakan dia. Kudoakan agar dia mendapatkan hidup yang baik. Kata-kata memang keluar dari mulutku tapi, hatiku tidak mengaminkannya. Aku lupa kalau perintah mengasihi dan mendoakan adalah suatu kesatuan. Aku tidak bisa mengasihi musuhku tanpa mendoakannya, demikian juga tidak mungkin aku bisa mendoakannya jika hatiku tidak mengasihinya. Hatiku masih tidak rela jika hidupnya bebas dari pembalasan Tuhan sedangkan aku telah berdarah-darah menanggung sikap-sikap dia.

Jika kuingat lagi pengalamanku ini, aku teringat akan kisah Yunus. Yunus diminta Tuhan pergi ke kota Niniwe untuk memberitakan seruan pertobatan. Walaupun Yunus sempat menolak, akhirnya dia taat dan pergi ke Niniwe setelah Tuhan menyelamatkan nyawanya dengan mendatangkan ikan besar. Pelayanan Yunus telah membuat Niniwe berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan Tuhan mengurungkan niat untuk menunggangbalikan Niniwe. Namun, Yunus tidak bersukacita atas hal itu. Justru, Yunus kepahitan dengan keputusan tersebut dan kehilangan alasan untuk hidup. Di pinggir kota dia mengeluh dan masih menunggu apa yang akan terjadi terhadap kota itu.

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.” Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah?” – Yunus 4: 1-4

Meskipun Yunus taat melakukan perintah Tuhan, tapi hatinya menolak keputusan Tuhan. Yunus berbuat baik kepada Niniwe, meskipun di hatinya yang terdalam dia tetap membenci Niniwe. Jelas Niniwe adalah musuh yang kejam bagi Israel. Menyelamatkan Niniwe sama saja artinya dengan membunuh bangsanya. Yang Yunus inginkan adalah menghabisi musuh Israel, sekalipun dia taat kepada perintah Allah untuk menyerukan pertobatan.

Dalam bukunya The Prodigal Prophet, Tim Keller mengatakan ada sebuah filosofi kuno yang berbicara tentang cinta akan kebajikan. Filosofi itu berkata kita bisa melakukan hal baik dan berguna kepada orang sekalipun kita tidak menyukai mereka. Itu adalah manifestasi dari kekuatan kehendak kita, sehingga kita mampu melakukan aksi cinta kasih sekalipun tidak ada ketertarikan afeksi di hati kita pada seseorang.

Sedangkan, Tuhan mengharapkan lebih dari itu. Lewat peristiwa pohon jarak yang layu karena ulat, Tuhan hendak mengajarkan kepada Yunus untuk memiliki hati yang mengasihi musuh. Jadi, berbuat baik bukan sekadar karena tahu itu adalah hal yang baik, melainkan dimotivasi oleh kasih.

Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” – Yunus 4: 11

Pengalaman Yunus sedikit banyak mencerminkan sikap hatiku juga. Aku mendoakan teman sepelayananku yang kubenci, tapi hatiku menginginkan hal yang buruk baginya. Di permukaan aku seolah sedang menunjukkan perbuatan kasih, sedangkan di kedalaman hatiku, aku membenci temanku. Namun, aku pun tidak bisa segera mengubah hatiku untuk mengasihinya. Itu bukanlah proses semudah membalik telapak tangan. Apa yang aku tunggu tetaplah keadilan ditegakan untukku.

Waktu berlalu dan perlahan Tuhan melembutkan hatiku. Aku mulai menyadari, bahwa sejatinya diriku pun tidak lebih baik dari rekan sepelayananku itu. Keburukan apa yang pernah dia lakukan, aku juga pernah melakukannya. Kalau aku menuntut keadilan terjadi atasnya, bukankah seharusnya aku pun tak luput diadili? Akhirnya dalam doa-doaku aku mengubah fokusku kepada karya salib Yesus Kristus. Di situlah keadilan dan anugerah Tuhan bertemu. Aku gagal mengasihi temanku dan hanya cenderung menginginkan keadilan. Namun, di atas kayu salib kesalahanku dan temanku telah mendapatkan bentuk keadilannya.

Kesalahanku dan temanku telah dihukumkan kepada Kristus. Sedangkan kasih-Nya jelas terpancar bagiku dan temanku. Aku tahu membentuk hati yang mengasihi memang butuh proses. Aku tidak berhenti mendoakan rekanku itu, tapi kini aku tidak lagi berfokus pada rasa sakit hatiku dan perbuatannya melainkan berfokus kepada keadilan dan kasih Tuhan di atas kayu salib. Usahaku lebih banyak digunakan untuk mengingat pengorbanan Yesus ketimbang perbuatan rekanku, yang sebenarnya jika aku pikirkan ulang sekarang, ternyata aku saja yang enggan mengalah dan tidak mau berusaha lebih untuk memahami pribadinya.

Ketika berfokus kepada Kristus aku tidak lagi berbuat baik hanya karena aku tahu itu baik, melainkan lebih dari itu, aku berbuat baik karena hatiku melimpah kasih yang dari pada-Nya. Begitu melimpah sehingga aku tidak bisa menampungnya bagi diriku sendiri.

Semoga Tuhan terus menolong hatiku dan hati kita yang lamban mengasihi ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menghadapi Pandemi: Kita Butuh Lebih Dari Sekadar Berani

Kisah Gideon memberi ketenangan di tengah kekalutanku menghadapi pandemi yang rasanya tak kunjung berakhir. Masa pandemi ini mungkin bisa kita ibaratkan seperti sedang ‘berperang’ melawan musuh-musuh yang tak terkira jumlahnya.

4 Cara Menghadapi Seseorang yang Berbeda Pendapat Denganmu

Tahun ini sudah semakin mendekati ujungnya, dan sepanjang masa ini tentunya kamu bertemu dengan beragam orang yang pendapat, cara pikir, atau opininya berbeda darimu.

Bagaimana caranya supaya kita tetap menghormati mereka yang berbeda pendapat? Yuk kita simak beberapa tips sederhana yang diilustrasikan dalam wujud dua hewan nan lucu ini.

Karya seni ini dibuat oleh YMI.

Dari Danny, Aku Belajar Mengasihi Tanpa Syarat

Oleh Nerissa Archangely, Tangerang

Adikku bernama Danny, usianya 25 tahun. Dia anak yang istimewa dengan retardasi mental, tapi satu yang kuingat adalah dia selalu tersenyum apa pun yang terjadi. Saat bicara, pasti gigi-giginya akan terlihat. Walau sering dimarahi, atau kadang dipukul, dia tetap saja bisa tertawa. Rumah kami pun selalu ramai kalau ada Danny.

Namun, perubahan besar terjadi saat mamaku mendapat serangan stroke. Beliau lumpuh separuh badan dan sulit bicara. Kejadian itu terjadi di Februari 2020, beberapa hari sebelum Imlek. Papaku yang sangat syok dan depresi juga jadi sulit melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, tidur, dan sebagainya. Danny yang biasanya mendapatkan perhatian dan asuhan penuh dari kedua orang tua pun jadi terlantar. Akhirnya, kami sekeluarga berembuk dan dengan berat hati kami menitipkan Danny di sebuah panti rehabilitasi Bethesda yang dikelola oleh Ps. Irwan Silaban, MARS (Manajemen RS) di Bogor. Namun belum genap satu bulan, kami dihubungi panti untuk menjemput Danny di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi (RSMM). Alasannya, Danny sudah empat hari lebih tidak makan. Dia mengalami perburukan gizi, badannya lemas. Saat itu dia diinfus dan dipasangi selang untuk mensuplai makanan ke dalam tubuhnya.

Berbekal info tersebut, aku dan suamiku pergi ke sana untuk melihat Danny secara langsung. Keadaan Danny rupanya lebih buruk dari gambaran kami. Danny terbaring lemas sulit bergerak, tidak bisa bicara. Tawanya kini berganti dengan erangan tertahan, terlebih ada memar-memar di sekujur tubuhnya. Bahkan, didapati ada kerusakan fungsi liver. Kami putuskan untuk merawat Danny sementara di sini sampai fisiknya pulih. Saat itu, virus Covid-19 sudah menyebar di Indonesia dan RSMM pun sempat menerima pasien suspect corona. Hingga tanggal 10 April 2020, Danny diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena intake (kebutuhan gizi) dan fungsi organ vital lainnya sudah stabil.

Karena kondisi orang tua yang tidak memungkinkan lagi untuk merawat Danny, maka aku dan suamiku sepakat untuk merawat Danny di rumah kami. Sangat tidak mudah awalnya, karena kami memang bukan tenaga ahli seperti perawat khusus orang sakit atau homecare. Di tahun ketiga pernikahan kami, di saat kami mengharapkan adanya bayi di tengah keluarga kecil kami, kami seolah-olah mendapatkan ‘bayi besar’ yang setiap hari harus diberi susu, diganti popoknya, dimandikan, dijemur, dan sebagainya. Tapi, anugerah Tuhan tak pernah habis. Aku belajar banyak dari perawat di rumah sakit hingga aku bisa memasang selang NGT sendiri, memandikan di tempat tidur, membersihkan mulut dengan kasa, mengganti popok dengan benar, dan lainnya. Aku juga bersyukur suamiku siap sedia untuk membantu, walau memang awalnya kami jadi sering bertengkar karena selain kesulitan merawat Danny, kami juga khawatir terhadap kedua orang tua kami yang rapuh di tengah masa pandemi. Orangtuaku dirawat oleh adik lelakiku di Tangerang. Bukan hanya kami lelah secara fisik, namun kami juga dirundung oleh beban mental yang besar: khawatir akan kesehatan orang tua dan apakah adikku sanggup merawat mereka seorang diri. Bahkan ada masa-masa di mana aku merasa sangat tertekan hingga tak bisa melihat Allah dan rasanya ingin mati saja. Tapi, dengan segala cara yang ajaib, Tuhan tetap merengkuhku kembali.

Saat dirawat di RSMM itu memang ada indikasi pendarahan di otak Danny serta cedera lainnya, namun kami tak pernah menyangka bahwa bahu kanan Danny ternyata mengalami dislokasi dan open fracture. Hingga sekitar akhir April, kami perhatikan ada memar di bahu kanannya yang berujung pada pembengkakan dan sepsis (nanah yang sudah menginfeksi seluruh tubuh) pada 2 Mei 2020. Kami segera membawa Danny ke RS Medika BSD untuk mendapat penanganan pertama. Diperlukan ICU untuk operasi, tapi tak ada tempat tersedia di sana. Terpaksa kami harus menunggu 3 hari untuk mendapat rujukan. Tak hanya itu, kami juga dihadapkan dengan fakta lain. Danny sempat melalui rapid test Covid-19 dan CT-Scan paru-paru. Hasil CT-Scan menunjukan ground-glass opacification/opacity (GGO), sebuah indikasi kuat dari infeksi Covid-19. Kami menghubungi seluruh rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya, namun semuanya menolak karena alasan suspect infeksi Covid-19 dan kompleksnya kondisi Danny (ada open fracture bahu, sepsis, dan anak kebutuhan khusus). Pihak RS Medika menyarankan kami untuk membawa Danny langsung ke RSUP Fatmawati yang punya fasilitas lebih lengkap.

Tanggal 5 Mei 2020, akhirnya Danny dibawa ke IGD RSUP Fatmawati sendiri—tanpa ambulans—dan sungguh karena anugerah Tuhan, dia bisa mendapatkan ruang ICU besoknya. Sebelumnya, Danny membutuhkan darah karena sel darah putihnya semakin meningkat akibat infeksi. Ini membuat sel darah merahnya sangat kurang, sehingga sangat berisiko jika dia dioperasi tanpa ada transfusi darah. Awalnya kami ragu akan dapat donor dengan cepat, terlebih karena stok di PMI pusat pun kosong. Pandemi Covid-19 membuat banyak orang enggan mendonorkan darah. Tetapi jalan Tuhan tidak pernah buntu. Lewat pesan broadcast di Twitter, Instagram dan WhatsApp grup serta dibantu oleh rekan-rekanku sewaktu di PMK POMITI dulu, akhirnya kami bisa mendapatkan donor yang diperlukan. Pihak RS membutuhkan minimal 3 orang sebagai pendonor tapi Tuhan yang Maha Pemurah menyediakan sampai 4 orang. Tuhan seolah ingin menyampaikan bahwa rencana-Nya untuk Danny masih belum usai.

Tuhan terlebih-lebih menyayangi Danny. Tuhan memanggil Danny pulang pada 8 Mei 2020 jam 7 pagi. Sekarang Danny tidak lagi merasakan sakit dan sesak. Danny bisa tertawa lagi bersama Bapa di Surga.

Pemakaman Danny sungguh sepi. Tiada musik, tiada karangan bunga, tiada arak-arakan, bahkan kami pun tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Tapi kami yakin Allah Bapa telah menyiapkan pesta meriah untuk kepulangannya. Mungkin dunia menolak Danny, tapi tangan Bapa terbuka lebar menyambut Danny.

Awalnya aku bertanya-tanya apa tujuan Tuhan menjadikan Danny hadir di dunia ini? Mengapa Tuhan izinkan Danny ‘berbeda’?

Kini aku mengerti. Lewat Danny, Tuhan mengajariku untuk bisa mengasihi tanpa syarat, kepada siapa pun, sesulit apa pun situasinya. Hidup Danny walau singkat, memberiku kesan mendalam. Aku tak akan pernah lupa pelajaran hidup dari adikku yang istimewa ini.

Aku pribadi amat bersyukur atas setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Bahkan sampai saat ini pun aku merasa aku orang yang amat beruntung. Di tengah situasi yang luar biasa sulit, Tuhan yang penuh kuasa memberikan orang-orang yang luar biasa pula, yang dipakai-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Suamiku, Indra, dia sosok yang sabar mendampingiku. Dia mendukungku di masa-masa terkelamku, tetap mengasihiku dalam kondisi apa pun. Sungguh aku amat beruntung dikasihi dan memilikinya sebagai teman hidupku.

Mertuaku sekeluarga, juga sangat luar biasa mendukung kami secara fisik maupun mental. Aku tahu dari mana kebaikan suamiku berasal. Papa dan mama mertuaku sungguh istimewa, betapa aku beruntung dan bersyukur bisa memanggil mereka ‘papa’ dan ‘mama’.

Keluarga kecilku di guru-guru sekolah Minggu GKY BSD, Laoshi Wiwi sebagai pembina dan secara khusus partner-ku di kelas 2 siang, kalian sungguh luar biasa. Sungguh ucapan terima kasihku rasanya tak cukup membalas setiap chat, telepon, dukungan dana, dan bahan pangan sehari-hari, serta setiap bentuk perhatian yang dicurahkan. Kehadiran mereka ibarat lilin-lilin kecil yang menerangi hatiku yang gelap dan lembab di tengah keterpurukan.

Juga kelompok kecilku sejak di PMK kampus. Meskipun kami hanya berlima, tapi berdampak besar. Meski kami berjauhan, tapi Tuhan selalu mendekatkan hati kami.

Bahkan, Tuhan juga memakai mereka yang belum percaya, dan juga orang-orang yang baru kukenal via media sosial, yang bermurah hati untuk membantu dari segi dana dan siap menjadi pendonor bagi Danny. Betapa Tuhan juga bermurah padaku dengan mengaruniakan seorang atasan yang peduli, penuh pengertian serta suportif terhadap kondisi yang aku alami, sehingga tanggung jawab pekerjaanku dilonggarkan ketika sedang merawat Danny.

Aku tahu kondisi Covid-19 tidak bisa dianggap remeh, tapi aku tahu Tuhan kita Yesus Kristus jauh lebih hebat daripada virus itu. Di atas segala-galanya, Dialah tabib segala tabib yang mampu menyelamatkan bukan hanya fisik, namun jiwa kita pun sanggup Dia selamatkan.

Ayub 1:21 berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengajarku Melalui Anakku yang Cacat Mental

Vonis dokter bahwa Sharon adalah anak cacat membuatku terkejut. Aku termenung sejenak, mengapa ini semua harus terjadi? Di tengah perenungan itu, aku mengingat bahwa bagaimanapun juga, Sharon adalah anak yang kulahirkan sendiri. Penyakit ini datang bukan karena kesalahan Sharon. Oleh karena itu, tak peduli apapun keadaannya, aku berjanji untuk selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.

Arti Sesungguhnya Mengasihi Seseorang

Hari ke-2 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:9-11

1:9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

1:11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Beberapa waktu lalu, seorang temanku mengirimiku chat yang panjang, ia sedang merasa frustrasi. Aku tidak nyaman dengan konflik—terutama ketika kondisinya tidak melibatkanku. Maka meskipun aku tahu aku harus menolong temanku itu, aku tidak tahu bagaimana caranya.

Suamiku mendorongku untuk meneleponnya, namun aku tidak menyukai pembicaraan melalui telepon. Aku tergoda untuk membiarkan perasaanku mengalahkan kepedulianku terhadap temanku, dan mengabaikannya begitu saja.

Namun, jika aku benar-benar mengasihi saudariku dalam Kristus, aku seharusnya memilih untuk berada di sampingnya. Aku pun memberanikan diri untuk meneleponnya, ternyata itu berdampak positif bagi kami berdua.

Menyatakan kasih dalam puji-pujian di hari Minggu atau melalui hashtag di Instagram memang mudah. Tetapi, cara tersebut bisa menjadi cara yang dangkal jika tidak disertai dengan tindakan nyata dari kasih tersebut. Terkadang kita memiliki niat yang baik, tapi kita tidak tahu bagaimana cara menyatakannya itu melalui tindakan.

Untungnya, Paulus meneladankan aplikasi praktis dari kasih ini. Dalam suratnya, ia mengekspresikan rasa syukurnya atas jemaat Filipi, dan menjelaskan bagaimana ia seringkali berdoa untuk mereka. Paulus membagikan detail doanya dalam ayat 9-11.

Dua frasa yang sangat menonjol bagiku adalah “pengetahuan” dan “segala macam pengertian”. Kata pengetahuan yang digunakan disini bukan hanya sekadar kumpulan fakta-fakta. Bahasa Yunaninya, “epignosis”, memiliki arti jenis pengetahuan yang berdampak pada pikiran dan hati, yang menuntun pada aplikasi yang personal dan relasional. Paulus menggunakan kata ini setiap kali ia mendorong para pembacanya untuk mengetahui/mengenal Tuhan (Efesus 1:17; Kolose 1:9-10; Filemon 6).

Istilah yang kedua, segala macam pengertian, dapat diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan. Itu adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang benar-benar penting, dan mengetahui hal terbaik untuk dilakukan di setiap situasi.

Paulus mengatakan bahwa seiring kita mengenal Allah dengan lebih baik, kasih kita pada-Nya dan orang-orang lain akan semakin mendalam dengan sendirinya dan terwujudnyatakan dalam kehidupan. Kasih tersebut adalah kasih yang tanggap, dan sangat penting bagi perjalanan spiritual kita, hingga Paulus juga menyinggung perlunya bertumbuh dalam kasih ini dalam surat-suratnya yang lain (1 Tesalonika 3:12).

Kasih yang bijak tidak berhenti dalam pikiran. Kasih itu akan membentuk sikap dan perilaku kita. Kecenderungan alamiku adalah menjauh dari situasi yang sulit. Namun pengetahuanku akan perintah Kristus untuk mengasihi sebagaimana Ia mengasihi kita—dan mengetahui dengan jelas apa yang akan Kristus lakukan di dalam situasi tersebut—meyakinkanku untuk menelepon temanku.

Ketika kita mampu mengenali apa yang benar, kita akan mampu membuat keputusan yang “kudus dan tidak bercacat” yang sejalan dengan firman Tuhan dan sifat-Nya. Hidup seperti inilah yang akan menghasilkan buah-buah yang baik dan memuliakan Tuhan.

Aku lega karena mengetahui kitab Filipi menunjukkan pada kita bahwa ada cara untuk menumbuhkan kasih. Jika tidak, aku hanya akan mengandalkan pemahamanku sendiri tentang cara mengasihi—pemahaman yang aku tahu tidak cukup baik. Sebagai permulaan, kita dapat membudayakan kasih seperti yang Paulus tuliskan—kasih yang dibentuk melalui pengetahuan dan segala macam pengertian—dengan cara membaca dan merenungkan firman Tuhan, mengambil waktu untuk berdoa, belajar dari para mentor dan pemimpin, dan dengan menjadi pendengar dan pemerhati yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar kita.

Mari izinkan diri kita untuk mengambil langkah untuk menumbuhkan kasih yang bijaksana. Mari kita berkomitmen untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan mengizinkan-Nya untuk mengubah kasih kita menjadi kasih yang tidak mudah digoyahkan oleh keadaan ataupun perasaan. Mari kita bertumbuh hari demi hari, bagi kemuliaan Allah.—Charmain Sim, Malaysia

Handlettering oleh Tora Tobing

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pikirkan sesorang yang kamu kenal yang bijak dan penuh kasih. Pernahkah kamu mendapat nasihat yang didasari oleh “kasih” dan “pengetahuan”?

2. Hal-hal apa yang biasanya kamu doakan? Apakah kamu berdoa untuk nilai, kondisi finansial, dan relasi yang baik—atau kamu berdoa agar bertumbuh dalam kasih, kearifan, dan sifat-sifat yang benar?

3. Bagaimana doa Paulus dalam surat ini menantang caramu melihat hal yang penting dalam hidupmu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Charmain Sim, Malaysia | Charmain menyuikai coklat, kue-kue, dan cerita-cerita luar biasa dari orang biasa. Charmain juga menyukai kejutan-kejutan kecil namun berarti yang Tuhan berikan untuknya setiap hari.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Tetap Mengasihi Sahabat, Meskipun Dia Berlaku Buruk Padaku

Oleh Maxentia Septrierly, Semarang

Sewaktu SMA dulu aku berteman dekat dengan seorang laki-laki, sebut saja namanya Marvin. Banyak kegiatan yang kami lakukan bersama, mulai dari ekstrakurikuler sampai persekutuan bersama. Aku senang berteman dengannya. Dia seorang yang humoris, pintar, dan penampilannya menarik. Persahabatan kami diisi dengan tawa dan canda. Kadang kami bertengkar, tapi selalu baik kembali. Hingga suatu ketika ada hal yang membuat persahabatan ini kandas.

Meski relasi kami erat, aku menganggapnya sebagai sahabatku. Dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja yang kami ikuti bersama, aku ingin kami bisa mengikuti lomba dan meraih juara bersama. Namun, kedekatan kami berdua sebagai sahabat rupanya disalahartikan oleh teman-temanku. Mereka pikir kami berpacaran. Desas-desus tersebut membuat Marvin tidak nyaman dekat denganku.

Suatu hari, aku mendengar teman sekelasku berbisik. Mereka memberi saran pada Marvin untuk menghapus fotoku dengannya saat hari Hartini di akun Instagramnya. Setelah itu, aku melihat sikap Marvin yang berubah. Aku pun bertanya padanya, apakah ada yang salah denganku? Pertanyaan itu dijawabnya dengan bentakan. Pikiranku kacau dan aku pun menangis, padahal hari itu aku ingin memfokuskan diriku untuk mengikuti persekutuan. Beberapa temanku kemudian menghiburku.

Semenjak hari itu, relasi persahabatan kami yang semula erat jadi renggang. Aku sering menangis. Namun, puji Tuhan. Dalam kesedihanku itu, ada penghiburan yang kudapatkan ketika aku mengikuti retret. Aku diingatkan bahwa kedekatanku dengan sahabatku dulu pernah membuatku jadi menjauh dari Tuhan. Aku memang sering ikut persekutuan bersama, tapi aku jarang berdoa. Sepulang retret, aku mengambil komitmen untuk memperbaiki relasiku dengan Tuhan, mengampuni perlakuan buruk sahabatku, dan belajar mengasihinya dalam kondisi apapun.

Aku pun menjalani hari-hariku seperti biasa. Jika bertemu Marvin, aku menyapanya. Aku meminta maaf padanya apabila ada kesalahan-kesalahan yang telah kubuat. Meski sampai saat ini sikapnya tidak berubah, tapi di sinilah aku benar-benar belajar untuk mengasihinya. Aku menemukan dua ayat yang menolongku untuk tetap mengasihi orang yang telah menyakitiku.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:13).

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13).

Tuhan telah mengasihaniku dan mengampuniku dari kesalahan-kesalahanku, maka aku pun belajar untuk mengasihi orang lain dan mengampuni sahabatku atas sikap buruknya kepadaku. Kasih itu tidak hanya diungkapkan lewat kata-kata saja, namun juga lewat sikap hati kita kepada saudara-saudari kita. Aku bersyukur, dari persahabatanku dengan Marvin, aku belajar untuk mempraktikkan kasih tersebut. Aku belajar untuk mengampuni dan mendoakannya.

Aku percaya bahwa di dalam doaku Tuhan bekerja untuk melembutkan hati sahabatku. Bukan aku yang dapat mengubah seseorang, tetapi Tuhan saja yang mampu menyentuh hati dan mengubahkannya.

Baca Juga:

Ketika Kerinduan untuk Memperoleh Kasih Sayang Menguasai Diriku

Meski keluargaku penuh kasih sayang, aku mudah cemburu pada perhatian dari teman-teman dekatku. Aku selalu ingin diprioritaskan oleh mereka, hingga akhirnya tak jarang aku pun jatuh dalam kekecewaan.

Berkaca dari Injil Lukas, Inilah Caraku untuk Mengasihi Musuh

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Aku adalah orang yang sejak kecil hingga dewasa menyukai film kartun, salah satunya adalah Doraemon. Jika teman-teman juga pernah atau sering menonton, tentu kalian akrab dengan tokoh Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, dan Giant di mana mereka memiliki karakter masing-masing yang kuat. Nobita diperkenalkan dengan karakternya yang cengeng, yang kerap menjadi sasaran kejahilan dari Suneo maupun Giant; tak jarang mereka juga mem-bully dan melakukan kekerasan fisik kepada Nobita. Karena kerap tertindas, Nobita pun mengadu kepada robot ajaib yang juga menjadi temannya, Doraemon. Sambil menangis, Nobita menceritakan kekesalannya dan merayu Doraemon mengeluarkan alat ajaibnya untuk kepentingan balas dendam.

Beruntung nasibku tidak seburuk Nobita yang saat SD mendapat bully dan kekerasan fisik dari teman-temannya. Aku tergolong laki-laki yang berada di garis tengah dari “rantai makanan”, tidak menindas dan mungkin selalu berhasil kabur dari beragam penindasan mulai dari SD hingga SMA. Memasuki dunia perkuliahan, tepatnya ketika terlibat dalam sebuah kepanitiaan, aku melakukan kesalahan dalam menyampaikan pesan kepada rekan-rekan kepanitiaanku. Spontan mereka pun marah, dan aku pun meminta maaf kepada mereka. Sebagian rekan-rekan memaafkanku dan berkawan baik hingga sekarang, namun ada juga rekan-rekan yang tergabung dalam satu geng yang tidak memaafkanku. Dalam beberapa kesempatan, mereka masih mencibir aku di belakang, melihat segala yang aku lakukan sebagai kesalahan dan menjadikannya sebagai bahan olok-olokkan.

Kisahku di atas merupakan penggalan kisah di mana aku tak disukai karena berbeda pandangan akan sebuah pesan dalam kepanitiaan. Mungkin kisahku tidak seberapa dibandingkan dengan beberapa temanku yang dulu kerap menjadi korban bully dan kekerasan fisik di sekolahnya, entah karena dia berbeda suku dan agama dari rekan-rekannya atau perihal tampilan fisik yang berbeda. Pernahkah teman-teman juga merasakan tidak disukai oleh orang lain? Jika kita punya teman robot ajaib seperti Doraemon, mungkinkah kita akan meminta alat ajaib untuk membalas perbuatan tersebut seperti Nobita?

Realitanya, Doraemon hingga saat ini hanyalah karya fiksi. Tetapi, kita punya sahabat yang jauh lebih ajaib, yaitu Tuhan kita yang selalu mendengar setiap keluh kesah kita. Tentu tidak salah berkeluh kesah kepada Tuhan tentang orang-orang yang tidak menyukai kita. Namun, sedihnya, kita kerap menganggap Tuhan layaknya Doraemon yang akan membantu kita membalas kejahatan orang lain; kita kadang berdoa kepada Tuhan untuk menghukum musuh-musuh kita. Aku pun ketika berada dalam kondisi jengkel, terkadang tercetus, “Gusti ora sare (Tuhan tidak tidur) kok, Dia pasti akan balas perbuatan jahat kalian.” Mungkin jika teman-teman merasakan kesamaan denganku, maka inilah saatnya kita sama-sama belajar kasih yang diajarkan Yesus.

Dalam Injil Lukas 6:27, Yesus memberikan ajaran yang menegurku:

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah mushmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.”

Wah, kok susah banget ya nampaknya ajaran untuk mengasihi musuh. Kalau orang berbuat jahat, tentu secara refleks kita ingin membalas mereka, “mata ganti mata gigi ganti gigi”, jika kita memakai istilah dalam Injil Matius. Aku juga menilai, mengasihi musuh nampaknya susah karena aku mungkin lebih terbiasa untuk mengasihi orang yang berlaku baik kepadaku, atau istilah ini dikenal dengan balas budi.

Tapi, walaupun nampak sulit, bukan berarti mustahil kok. Di poin-poin di bawah ini yang terambil dari Lukas 6:27-35, aku ingin menunjukkan padamu bahwa kita pun bisa mengasihi musuh kita.

1. Sadarlah bahwa Tuhan lebih dulu mengasihi orang-orang yang berdosa

Memang orang yang mem-bully atau melakukan kekerasan fisik kepada kita adalah orang yang telah berlaku salah. Tetapi, apakah dengan begitu kita menjadi orang yang benar-benar suci? Aku bercermin melihat diriku, bahwa sebenarnya aku juga tak lepas dari dosa dan kejahatan. Tetapi, kita punya Allah yang baik kepada semua manusia. Seperti tertulis dalam Lukas 6:35b, “…sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Seharusnya aku sadar bahwa aku dan manusia yang sudah jatuh dalam dosa, sebenarnya adalah musuh Tuhan. Tetapi Tuhan mengasihi kita, dan seharusnya kita belajar dari kasih Tuhan kepada manusia.

2. Hidupilah anugerah dari Tuhan

Jika saat ini kita sudah mengaku percaya akan kasih Kristus yang dianugerahkan lewat penebusan di kayu salib, maka anugerah tersebut seharusnya tidak kita sia-siakan. Dalam ayat 32, Yesus berkata: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.”

Kata “apakah jasamu” diulang tiga kali oleh Yesus dalam ayat 32, 33, dan 34, yang berarti Yesus punya tujuan yang kuat. Jika kita menengok dalam bahasa asli (Yunani) dari kata “jasa”, ternyata kata itu berasal dari kata “χάρις” (baca: Kharis) yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berarti “GRACE” atau “anugerah”.

Tentu hanya Tuhan saja yang memberikan anugerah dan anugerah penebusan tersebut diberikan kepada semua manusia, tak terkecuali. Saat ini tentu kita yang telah percaya pada-Nya seharusnya hidup juga dalam anugerah-Nya, anugerah untuk mengasihi, bukan hanya mereka yang baik kepada kita, tetapi juga mengasihi orang yang berbuat jahat pada kita.

3. Praktikkan kasih agar mereka belajar kasih

Setelah kita sadar bahwa Tuhan lebih dulu mengasihi kita dan kita memiliki kerinduan menghidupi anugerah Tuhan dengan mengasihi siapapun, maka kita perlu mempraktikkan kasih tersebut. Tentu kita ingin agar orang-orang yang berlaku jahat bisa berbalik mengenal kasih Tuhan, maka kita perlu meniru teladan Yesus yang penuh kasih. Seperti tertulis pada ayat 31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka”, maka kitalah yang harus mulai mengasihi mereka.

Aku pun belajar untuk ikut teladan Yesus yang mengasihi musuh. Aku berusaha untuk menyapa terlebih dahulu orang-orang yang tidak suka kepadaku, bertanya kabar, membuka sedikit obrolan dan bahkan meminjamkan catatan kuliah karena mereka membutuhkannya. Dengan tindakan kecil tersebut, tentu aku berharap agar mereka mengenal kasih Yesus dalamku.

4. Bagaimana jika ditolak atau direspons negatif? Tetaplah teguh berusaha!

Apakah tindakan baikku akan segera direspons positif? Tidak. Mereka tetap mengabaikanku, nyinyir kepadaku. Sedih tentunya dan aku sampaikan hal tersebut kepada Tuhan. Tapi, aku meyakini bahwa bukan aku yang dapat membuat mereka berubah, melainkan Tuhan. Aku hanyalah alat yang dipakai untuk mengenalkan kasih Tuhan kepada setiap orang, tidak lebih.

Yang perlu kita lakukan ketika mendapatkan respons negatif adalah kita tetap teguh. Mempelajari sebuah mata pelajaran atau mata kuliah tentu tidak sehari atau dua hari, terlebih belajar tentang kasih Tuhan. Butuh proses di mana kita menyatakannya lewat teladan kita. Kita pun perlu tetap berserah kepada Tuhan yang akan mengubah mereka, yaitu dengan membawa nama mereka ke dalam doa, seperti tertulis pada ayat 28: “Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Tuhan kita bukanlah Doraemon yang akan mengabulkan permintaan kita untuk membalaskan dendam. Tuhan kita justru mengajarkan kita untuk mengasihi musuh kita. Dengan mengasihi musuh kita, kita pun menyatakan kasih Tuhan yang nyata bagi seluruh manusia.

Baca Juga:

Paradoks Doa

Tuhan Yesus mengajar kita untuk terus meminta, mencari, mengetok pintu, sampai diberikan, ditemukan, dan dibukakan pintu. Tapi, di sisi lainnya kita pun diajar untuk mengatakan “Jadilah kehendak-Mu”. Jadi, bagaimana seharusnya kita berdoa?

Belajar Melihat Hidup dari Kacamata Orang Lain

Oleh Charles, Jakarta

Ketika aku dan beberapa temanku sedang makan malam di sebuah rumah makan, seorang anak kecil mendatangi kami. Dia berjualan tissue dan menawarkannya kepada kami.

Kami tidak memberikan respons apa-apa karena kami tidak berminat membeli tissue saat itu. Namun, anak itu dengan pantang menyerah tetap berdiri di sana dengan muka memelas. Hingga akhirnya seorang temanku bertanya, “Tissuenya berapa harganya, dik?”

“Lima ribu,” jawabnya.

Temanku lalu mengeluarkan selembar uang lima ribu dan membeli satu pak tissue yang dijualnya. Kemudian anak itu pun beralih ke meja lain.

Aku lalu teringat bahwa aku pernah membeli tissue yang serupa di sebuah toko beberapa waktu yang lalu. Harganya juga lima ribu. Kemudian aku juga teringat kalau tissue di mobilku sudah mau habis. Jadi kupikir tidak ada ruginya membeli tissue dari anak itu. Sebelum meninggalkan rumah makan itu, aku menghampiri anak itu dan menyodorkan selembar lima ribu untuk membeli satu pak tissue yang dijualnya.

Setelah meninggalkan rumah makan tersebut, dalam perjalanan pulang tiba-tiba ada beberapa hal yang terlintas dalam pikiranku.

Aku lalu berpikir, seandainya tadi aku beli semua tissue yang dibawanya (dia hanya bawa 5 pak tissue) dan aku memberikannya uang Rp 50.000 tanpa meminta kembali, kira-kira apa yang dirasakannya?

Mungkin dia akan merasa lega karena dia dapat beristirahat sejenak karena dagangannya sudah laku semua.

Mungkin juga dia menganggap hal itu menjadi bukti bahwa kerja keras akan menghasilkan hasil, dan itu memotivasinya untuk bekerja dengan tekun setiap hari.

Dan lebih daripada itu, mungkin juga dia menjadi percaya sebuah hal: Masih ada orang di dunia ini yang ingin berbuat baik kepadanya. Masih ada yang peduli dengannya, masih ada yang mengasihi dia.

Tiba-tiba, aku menjadi menyesal karena aku hanya membeli satu pak tissue seharga lima ribu Rupiah darinya. Aku telah melewatkan kesempatan untuk mencerahkan hati seorang anak yang mungkin sedang haus kasih sayang.

Namun, peristiwa singkat ini memberikan sebuah pelajaran berharga bagiku.

Mengapa pola pikirku bisa berubah drastis ketika aku ada di rumah makan dan ketika aku ada dalam perjalanan pulang? Jawabannya sederhana. Di rumah makan, aku hanya melihat kebutuhanku: “Apakah aku sedang butuh tissue?”, “Apakah harga tissuenya masuk akal?”, “Haruskah aku ingin membantu anak ini?” Semua fokusnya ada di “aku”. Namun, ketika dalam perjalanan, aku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Aku memikirkan kebutuhan anak itu: “Berapa penolakan yang telah dilaluinya?”, “Cukupkah uang yang dihasilkannya untuk biaya hidupnya?”, “Apakah dia mendapatkan kasih sayang yang layak didapatkannya?”. Semua fokusnya beralih dari “aku” kepada “dia”. Dan inilah yang mengubah pemikiranku.

Sekali lagi Tuhan mengingatkanku bahwa hidup ini terlalu sayang untuk dijalani dengan hanya memperhatikan kepentingan diriku semata. Banyak kesempatan-kesempatan emas yang dapat kuambil hanya dengan mengubah sudut pandangku dan mulai memperhatikan kepentingan orang lain seperti aku memperhatikan kepentinganku.

Ketika Tuhan memanggil kita suatu saat nanti, aku percaya Tuhan tidak akan menanyakan, “Seberapa banyak keuntungan yang telah kamu hasilkan di dunia?”. Yang Dia akan tanyakan adalah, “Seberapa banyak kasih yang telah kamu bagikan dengan sesamamu manusia?”

Marilah kita perluas sudut pandang kita dan mulai melihat hidup ini dari kacamata orang lain juga, termasuk musuh-musuh kita. Perhatikanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka. Jika kita setia melakukannya, aku yakin hati kita dan dunia ini bisa menjadi lebih indah dan damai.

Baca Juga:

10 Tahun Bekerja dengan Sikap Hati yang Salah, Inilah Cara Tuhan Menegurku

Selama 10 tahun bekerja, aku takut kalau aku dicap sebagai orang yang ceroboh dan tidak kompeten. Bukannya belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat, yang ada aku malah merasa kesal. Hingga akhirnya, Tuhan pun menyadarkanku dari sikap hatiku yang salah.

Wallpaper: Yohanes 15:12

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12)

Yuk download dan pakai wallpaper ini! Kiranya kita terus diingatkan untuk saling mengasihi!

Sampai Sejauh Mana Aku Bisa Mengasihi?

Sampai-Sejauh-Mana-Aku-Bisa-Mengasihi

Oleh Agus Andriyanto, Jakarta

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Markus 12:31). Aku sering mendengar ayat ini, tetapi rasanya sulit sekali untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan itu mengingat sekarang ini relasi kita kepada sesama mungkin lebih banyak dihitung berdasarkan untung dan rugi. Tapi, ada sebuah film yang mengajariku bahwa perintah untuk mengasihi itu bukanlah sekadar teori semata, tapi memang harus kita lakukan sebagai pengikut Yesus.

Film ini berjudul Hacksaw Ridge, sebuah film besutan sutradara Mel Gibson yang diangkat dari kisah nyata seorang tentara bernama Desmond T. Doss. Ketika perang dunia kedua pecah di Pasifik, Desmond yang juga adalah seorang Kristen terpanggil untuk menjadi tentara medis. Syarat utama untuk menjadi tentara adalah keharusan memegang senjata api. Tetapi, ketika menjalani seleksi masuk, Desmond mati-matian bersikukuh untuk tidak memegang senjata api. Rekan-rekannya menertawakan Desmond. Bagaimana mungkin seorang tentara tidak memegang senjata? Itu sama saja dengan menyerahkan nyawa di hadapan musuh dan mati konyol. Karena dianggap menentang peraturan militer, Desmond pun dijebloskan ke dalam penjara.

Singkat cerita, Desmond dibebaskan dan ditugaskan menjadi seorang tentara medis dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat di Okinawa, Jepang. Desmond memiliki misi mulia. Alih-alih berperang untuk membunuh, Desmond mau menyelamatkan setiap nyawa yang bisa dia tolong. Suatu ketika, pasukan Amerika Serikat mengalami kekalahan. Pemimpin pasukan memerintahkan semua anak buahnya untuk mundur menarik pasukan. Tetapi, Desmond mengabaikan perintah itu. Seorang diri, dia bertahan di tengah gempuran musuh tanpa senjata apapun untuk menyelamatkan satu demi satu nyawa tentara yang terluka. Tolong Tuhan, berikan aku satu orang lagi untuk kutolong, begitulah doanya. Dia tidak lagi menghiraukan keselamatan dirinya. Tak hanya menolong sesama tentara Amerika, Desmond juga bahkan menolong seorang tentara Jepang yang notabene adalah musuhnya.

Setelah perang usai, pemerintah Amerika Serikat memberikan Desmond penghargaan berupa Medal of Honor—penghargaan tertinggi dalam militer Amerika Serikat. Tanpa senjata apapun, Desmond berhasil menyelamatkan 75 nyawa tentara-tentara yang terluka. Ketika suasana perang menorehkan luka fisik dan batin yang teramat dalam, Desmond hadir membawa harapan. Tanpa kehadirannya, mungkin saja ke-75 orang itu akan mati di tengah medan perang.

Kisah hidup Desmond begitu menegurku yang sebagai orang Kristen terkadang masih suka pikir-pikir untung dan rugi untuk mengasihi. Jika kepadaku ditanyakan sampai sejauh manakah aku bisa mengasihi, mungkin aku akan menjawab aku mau mengasihi selama aku tidak dirugikan. Tentu Desmond tahu bahwa keputusannya untuk menolong tentara-tentara itu bukanlah tindakan yang akan memberinya keuntungan, malah bisa saja dia kehilangan nyawanya. Tapi, di mata Desmond, setiap manusia itu berharga, entah itu tentara Amerika ataupun tentara Jepang yang jelas-jelas adalah musuhnya.

Jika Desmond yang seorang manusia saja bisa mengasihi sesamanya dengan begitu tulus, aku membayangkan betapa Yesus mengasihiku dengan teramat tulus. Yesus yang tak berdosa harus mengalami cercaan dan siksaan, bahkan mati meregang nyawa di atas kayu salib untuk menggantikan kita, manusia yang berdosa. Yesus tidak hanya datang untuk menyelamatkan 75 orang, tetapi Dia datang untuk semua orang. Yesus tidak hanya memberikan kita keselamatan yang sementara, tetapi Dia memberi kita keselamatan yang kekal.

Ketika aku merefleksikan kembali makna dari perintah Yesus untuk saling mengasihi di Markus 12:30-31, aku menyadari bahwa sudah menjadi panggilanku sebagai pengikut Yesus untuk mengasihi sesama manusia. Mungkin, aku tidak harus pergi ke medan perang dan melakukan aksi heroik seperti yang dilakukan Desmond. Tetapi, lewat hal sederhana, aku bisa belajar untuk meneladani kasih Yesus yang sejati. Aku mau belajar untuk tidak hitung-hitungan mengenai untung dan rugi ketika menolong orang lain, sebab Tuhan Yesus telah memberikan segalanya untukku, dan juga untukmu.

Baca Juga:

SinemaKaMu: Dunkirk—Perjalanan Pulang yang Amat Berbahaya

Apa yang akan kamu lakukan demi bertahan hidup? Sejauh manakah kamu rela berkorban untuk menyelamatkan orang lain? Dua pertanyaan inilah yang menjadi intisari dari Dunkirk, sebuah film action-thriller yang dibuat berdasarkan kisah nyata.