Posts

4 Cara Berhenti Mengasihani Diri

Penulis: Yahya A. Tioso

berhenti-mengasihani-diri

Aku punya banyak sekali alasan untuk mengasihani diri sendiri. Salah satu alasan terbesar adalah kondisiku yang tunarungu sejak lahir. Aku tunarungu berat dan tidak bisa bicara hingga usia sekolah. Orangtuaku kemudian menyekolahkan aku ke SLB-B Pangudi Luhur. Sejak kecil, aku selalu merasa paling nyaman di rumah bersama keluargaku dan di sekolah bersama teman-teman tunarungu. Aku sering merasa minder jika harus berinteraksi di tempat umum, misalnya saat memesan makanan di food court. Aku takut ditertawakan karena merasa suaraku bakal terdengar aneh dan orang tidak akan mengerti apa yang kukatakan. Sebab itu, aku sering meminta orang tua atau kakak memesankan makanan untukku. Aku menempatkan diri sebagai “korban”, pihak yang harus dikasihani orang lain, dan tidak berani melakukan banyak hal. “Apa boleh buat, aku ‘kan tunarungu, jadi memang perlu ditolong,” alasanku setiap kali. Saat itu aku tidak menyadari bahwa sikap mengasihani diri sendiri yang terus menerus dilakukan setiap hari justru bisa merusakku, membuatku kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan talenta yang Tuhan berikan di dalam diriku.

Tetapi, Tuhan bekerja menunjukkan kasih dan kuasa-Nya yang tidak terbatas di dalam hidupku yang serba terbatas. Dia mengajarku untuk mengganti kebiasaan mengasihani diri sendiri itu dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sesuai firman-Nya. Kupikir, empat kebiasaan berikut ini dapat menolongmu juga setiap kali perasaan mengasihani diri datang menghampiri:

1. Mengandalkan Tuhan dalam segala hal.
Setelah lulus dari SLB-B, orangtua menyekolahkan aku ke SMP Jubilee, sebuah sekolah normal yang tidak menyediakan penanganan khusus bagi siswa tunarungu seperti aku. Sekolah ini termasuk sekolah nasional plus yang memiliki kurikulum bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Meski aku tahu orangtuaku telah banyak berdoa minta petunjuk Tuhan sebelum menyekolahkan aku di sana, tetap saja aku merasa takut. Aku merasa orang normal pasti jauh lebih pintar dan lebih kuat daripada aku.

Benar saja, saat mulai bersekolah di sana, aku merasa sangat frustrasi. Dunia tunarungu dan dunia normal itu sangat berbeda. Aku selalu merasa sendirian dan terkucil. Tidak ada teman sekelas yang mengajakku berbicara atau mendekati aku. Aku sama sekali tidak mengerti pelajaran yang diberikan karena gurunya berbicara terlalu cepat. Semua di luar kemampuanku. Aku sering sekali menangis di toilet. Di sekolahku dulu, para guru berbicara pelan-pelan dan aku mengerti pelajaran yang mereka berikan. Teman-teman tunarungu selalu memahamiku, bisa bermain dan ngobrol denganku. Semua menyenangkan dan mudah.

Suatu kali aku memberanikan diri mengangkat tangan dan meminta guru mengulangi kalimat yang tidak aku mengerti. Spontan, teman-teman sekelas tertawa mendengar suaraku. Aku menjadi makin minder dan menutup diri. Aku tidak mau berbicara lagi di sekolah. Kesehatanku mulai terganggu karena stres. Aku sering sakit diare. Namun, ketika dibawa ke rumah sakit, obat diare yang diberikan tidak efektif. Dokter menyimpulkan bahwa penyebab sakitku bukanlah bakteri, melainkan stres.

Di puncak stres aku minta orangtuaku untuk memindahkan aku ke sekolah khusus tunarungu. Mereka tidak setuju. Mereka bertanya, apa yang kubutuhkan agar bisa tetap bertahan. Aku langsung menjawab, “Satu teman.” Mereka pun mengajakku berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta satu teman dari Tuhan.

Dan, Tuhan mendengar! Tanpa kuduga, ada satu teman yang kemudian menghampiriku dan bertanya apakah aku bisa bicara.

“Bisa sedikit,” kataku.

Teman itu sangat baik dan mau belajar berkomunikasi denganku. Ia minta aku mengulangi ucapanku jika ia tidak dapat menangkap maksudku. Bila setelah tiga kali diulang ia masih juga belum mengerti, barulah aku menulis apa yang kumaksudkan di sebuah buku. Demikian pula sebaliknya. Jika ia berbicara kepadaku dan aku tidak memahami maksudnya hingga tiga kali, ia juga akan menuliskannya di sebuah buku. Perlahan-lahan aku mulai berani bicara lagi.

Sungguh ini merupakan jawaban Tuhan yang luar biasa dan sangat sesuai dengan kebutuhanku untuk beradaptasi di sekolah. Aku terkagum-kagum. Pengalaman itu membuat imanku bertumbuh makin kuat. Aku percaya bahwa Tuhan itu hidup, dan Dia mendengarkan doa anak-anak-Nya. Aku dapat bergantung kepada-Nya dalam segala hal. Ketika masalah datang, aku belajar untuk tidak mengasihani diri, tetapi segera datang kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya.

2. Mengucap syukur.
Sikap mengasihani diri membuat kita berfokus pada hal-hal yang negatif dan lalai memperhatikan kebaikan-kebaikan Tuhan. Kita sibuk membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menyalahkan situasi, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan.
“Mengapa Tuhan menciptakan aku seperti ini?”
“Mengapa aku tidak secantik/setampan orang lain?”
“Mengapa Tuhan mengizinkan aku dilahirkan di keluarga ini dan bukan di keluarga itu?”
“Mengapa orang tuaku tidak sebaik orangtua temanku?”
“Seandainya aku seperti orang itu, hidup pasti jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah.

Mengucap syukur adalah sikap hati yang mengubah fokus tersebut.

Tuhan membuka mataku untuk melihat bahwa sebenarnya ada begitu banyak hal yang bisa kusyukuri setiap hari. Dia memberiku keluarga yang menyayangi aku, tempat untuk tinggal, makanan yang cukup, kesempatan bersekolah, teman-teman yang baik, guru-guru yang sabar, dan banyak lagi.

Yang lebih luar biasa, Dia mengizinkan aku mengenal-Nya dan mengalami kasih-Nya. Firman Tuhan memberitahukan bahwa Dia menciptakan setiap orang—termasuk aku—secara istimewa (Mazmur 139:13-14). Karena begitu besar kasih-Nya kepada dunia ini, Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal (Yohanes 3:16). Kalau Tuhan itu tidak baik, tidak mengasihi kita, Yesus tidak akan turun ke dunia dan mati di kayu salib, dan kita tidak akan punya kesempatan menjadi anak-anak-Nya.

Ketika aku mulai berfokus pada kebaikan Tuhan, hatiku menjadi ringan dan penuh sukacita. Masalah yang aku hadapi jadi tampak sangat kecil dibandingkan dengan semua yang sudah Tuhan berikan kepadaku. Masalah-masalah itu memang tidak serta-merta pergi, tetapi aku mendapatkan kekuatan untuk menghadapinya bersama dengan Tuhan. Fokusku tidak lagi tertuju pada masalah, tetapi pada kebesaran Tuhan.

3. Menyerahkan hak pribadiku kepada Tuhan.
Sikap mengasihani diri membuat kita merasa berhak untuk diperhatikan, ditolong, dilayani, diberi perlakuan istimewa. Kita berfokus pada diri kita sendiri, dan kecewa ketika orang lain tidak memenuhi harapan kita. Aku pribadi mendapati diriku sering mengeluh, ”Ah, mengapa tidak ada orang yang memperhatikan aku, membantu aku, dan mau menjadi temanku?” Secara tidak sadar aku berharap orang lain melakukan ini dan itu untukku karena aku tunarungu. Ketika semua harapan itu tidak terwujud, aku menjadi sangat stres.

Aku ingat saat aku mulai kuliah di Malaysia dan untuk pertama kalinya harus hidup jauh dari keluarga dan teman-temanku di sana. Aku merasa sangat tertekan dan sulit beradaptasi. Aku berdoa, tetapi situasiku tidak kunjung membaik. Di tengah rasa frustrasi itu, Tuhan berbicara di dalam hatiku, “Anak-Ku, serahkan semua hak pribadimu kepada-Ku. Hak untuk diperhatikan. Hak untuk dibantu. Hak untuk mempunyai teman.”

Aku sungguh terkejut dengan permintaan Tuhan yang menurutku aneh dan sangat bergumul untuk menanggapi-Nya. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk taat. Aku menyerahkan semua hak pribadiku kepada Tuhan, sekalipun aku belum begitu memahami apa artinya itu.

Keesokan harinya, hatiku berubah drastis. Aku menjadi sangat tenang. Pikiranku yang tadinya frustrasi kini diliputi damai sejahtera. Aku baru mengerti maksud Tuhan. Menyerahkan hak pribadi berarti aku tidak lagi menuntut orang lain untuk membantu, memperhatikan, dan memberiku perlakuan yang khusus karena situasiku. Sebaliknya, aku belajar percaya bahwa Tuhan akan menyediakan semua kebutuhanku pada waktu-Nya. Sebuah perubahan pola pikir yang radikal! Namun melaluinya, aku sungguh mengalami bagaimana Tuhan menyediakan semua yang terbaik bagi anak-anak-Nya!

4. Menerima dan mempercayai apa yang Tuhan rancangkan atas hidupku.
Waktu kecil, aku sering bertanya kepada mama, “Mengapa aku dilahirkan tunarungu?” Mama biasanya menjawab, “Oh karena mama sakit waktu hamil.” Tetapi, jawaban itu tidak pernah memuaskan aku. Suatu hari, aku bertanya lagi. Mama membuka Alkitab, lalu mengajak aku membaca Yohanes 9:1-3 bersamanya:

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Jawaban Yesus sungguh luar biasa. Banyak yang berpikir bahwa cacat adalah hukuman atas dosa, baik dosa orang cacat itu sendiri ataupun dosa orangtuanya. Namun, Yesus menegaskan bahwa kondisi cacat itu berasal dari Allah sendiri, karena ada pekerjaan Allah yang harus dinyatakan dalam diri orang tersebut.

Hatiku diliputi rasa tenteram mendengar jawaban itu. Aku menjadi tenang karena tahu bahwa aku bukan sebuah produk gagal. Tuhan punya rencana dengan menciptakan aku dalam kondisi yang tunarungu. Aku belum mengerti bagaimana pekerjaan Tuhan dapat dinyatakan di dalam hidupku, tetapi aku berusaha belajar dan melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin. Aku mau hidup untuk menyenangkan Tuhan.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mendapatkan lebih banyak teman dan bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik. Tanpa disangka, aku bahkan menjadi langganan juara 1. Aku kemudian mendapat kesempatan belajar di luar negeri, bekerja, dan bahkan membangun rumah tangga sendiri.

Menengok ke belakang, aku mulai mengerti bagaimana Tuhan menyatakan pekerjaan-Nya melalui hidupku. Jika orang normal bisa berprestasi, itu hal biasa. Tetapi, jika orang seperti aku yang susah berkomunikasi dan sulit menangkap apa yang disampaikan guru di kelas sampai bisa meraih juara pertama, jelas itu bukan hal yang bisa kulakukan dengan kemampuan sendiri.

Aku pernah melihat orang yang tidak punya tangan, tetapi bisa melukis dengan kaki jauh lebih indah daripada orang normal, membuat banyak orang takjub. Kupikir, Tuhan memakai orang cacat dan mereka yang dianggap lemah oleh dunia untuk menyatakan bahwa Dia sungguh HIDUP. Kesadaran ini membuatku tidak lagi punya alasan untuk mengasihani diri sendiri. Kelemahanku ternyata justru menjadi sarana Tuhan menyatakan kebesaran-Nya kepada banyak orang. Tuhan sanggup memakai situasi terburuk untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya (Roma 8:28).

Temukan kisah lengkapnya di http://godisnotdeaf.com/

Mengapa Hidup Terasa Begitu Melelahkan

Penulis: Yuliani Trifosa

mengapa-hidup-ini-begitu-melelahkan

Belakangan ini aku merasa sangat lelah dengan hidupku. Aku merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk memastikan segala sesuatu berjalan dengan sempurna, tetapi ibarat orang yang berusaha menangkap angin, semua terasa sia-sia. Dalam pekerjaan, ada saja hambatan yang membuat hasil kerjaku terasa tidak memuaskan. Dalam persahabatan, aku masih mengecewakan sahabatku. Dalam keluarga, impianku untuk membahagiakan orangtua kandas karena sebelum bisa mewujudkannya, ayahku sudah dipanggil pulang ke rumah Bapa.

Ketika aku berdoa di tengah kelelahan itu, Tuhan memberiku gambaran tentang sebuah buku yang sudah rusak. Buku itu berusaha kuperbaiki dengan mengelemnya, mengganti sampulnya, namun sia-sia. Aku lalu menyerahkan buku itu kepada sang pembuat buku, minta pertolongannya untuk memperbaiki. Setelah buku itu kuserahkan, aku mendiktenya dengan apa saja yang menurutku harus dikerjakan, mana yang harus dilem, diganti, dan seterusnya. Namun, buku itu tetap saja tidak kembali seperti sediakala. Lelah dan putus asa, akhirnya aku berkata kepada sang pembuat buku: “Lakukan saja apa yang kau anggap baik.”

Gambaran itu menyentak hatiku. Tuhan menyadarkanku bahwa selama ini aku tidak mengandalkan Dia, aku mengandalkan kekuatanku sendiri untuk melakukan segala sesuatu. Mungkin kelihatannya aku berdoa meminta pertolongan Tuhan, namun sesungguhnya aku tidak sedang menyerahkan hidupku seutuhnya kepada Tuhan. Aku hanya memberi laporan saja tentang apa yang hendak aku lakukan. Atau, aku menyerahkan situasi hidupku kepada Tuhan, namun mendikte apa saja yang harus Dia lakukan.

Firman TUHAN mengingatkanku dengan keras: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5). Tuhan mengenal kita luar dalam. Dia tahu ketika hati kita “menjauh” dari-Nya, sekalipun dari luar kita mungkin kelihatannya rajin berdoa dan berusaha. Sia-sialah bila kita mengusahakan segala sesuatu tanpa perkenan Tuhan (Mazmur 127:1-2).

Aku sadar bahwa aku harus belajar untuk lebih mempercayai Tuhan. Kelelahanku bersumber dari hati yang berpusat pada diri sendiri. Aku berfokus pada apa yang kuinginkan dan berpikir bahwa aku tahu apa yang terbaik untuk hidupku. Padahal, pikiranku jelas terbatas. Sementara, Tuhan adalah Pencipta segenap semesta ini, Pemilik hidup kita. Jelas Dia tahu betul apa yang harus Dia lakukan. Dari sudut pandang manusia yang terbatas, mungkin kita mengira Dia sedang berpangku tangan saat apa yang telah kita usahakan dengan segenap hati tampaknya tidak membuahkan hasil apa-apa. Namun, sebenarnya Dia sedang dan senantiasa bekerja, dengan cara yang melampaui akal kita. Ketika hati kita melekat kepada Tuhan, mempercayai-Nya sebagai Penguasa segala sesuatu dan sebagai Bapa yang punya rancangan damai sejahtera bagi anak-anak-Nya (Yeremia 29:11), kita akan selalu memiliki semangat dan kekuatan untuk melakukan yang terbaik, sekalipun situasi tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan kita.

Leaning on God’s Grace

By Cynthia Ayuningtyas

On November 6th, I had a drawing exam. I didn’t prepare for it as I figured it didn’t require any studying. When the exam began, I was nervous because I didn’t know how to answer the question. I was stuck! So, I decided to ask my friend who was sitting beside me. We were cheating!

That night while looking for my binder, I discovered that it was lost. “Oh, Jesus” was the word that came out from my mouth. At that moment, I remembered Jesus and it struck me that I had sinned against Him by cheating. I had made a big mistake! So I entered my room and prayed to God. I asked Him to forgive me. I was disappointed with myself. What have I done? Why can’t I keep my integrity?

Two days later, I found my binder. Thank God for His grace! I pray that God will help me not to cheat in exams again. I’m sure I can count on Him!