Posts

Ketika Tuhan Mengajarkanku untuk Terlebih Dahulu Meminta Maaf

Oleh Gracella Sofia Mingkid, Surabaya

Ketika sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota, aku bersama teman-temanku membahas sebuah topik perbincangan. Saat obrolan berlangsung, aku sempat tidak berkonsentrasi dan memberikan respons yang tidak sesuai dengan perbincangan. Akibatnya, beberapa percakapan jadi tidak nyambung. Saat itu, salah satu teman dekatku melontarkan kata-kata yang cukup menohok buatku dan dia melakukannya di depan teman-temanku yang lain. Akibatnya, aku merasa malu tak karuan dan kesal. Apalagi karena aku tipe orang yang melankolis, kata-kata temanku itu langsung membuatku kepikiran.

Aku menunjukkan rasa kesalku dengan berdiam. Aku sengaja melakukannya supaya temanku itu sadar bahwa aku tidak suka jika dia berkata seperti itu. Teman-temanku yang lain tidak menyadari perubahan sikapku, namun beberapa menit berselang, teman yang menyinggungku itu tampaknya mulai sadar kalau ada yang tidak biasa dari sikapku. Dia pun mencoba memulai pembicaraan denganku. Tapi, aku tidak menanggapinya dengan hangat. Sampai kami kembali ke kediaman masing-masing pun sikapku masih dingin terhadapnya. Bahkan di grup chat juga aku tidak begitu menanggapi setiap kicauannya. Aku seolah tidak menganggap dia ada. Hal ini terus berlangsung selama beberapa hari, dan aku hampir melupakannya karena kami tak bertemu.

Beberapa hari kemudian, seusai latihan di gereja, seorang rekanku bercerita tentang apa yang dia alami. Seorang rekan kerjanya melontarkan kata-kata kasar, bahkan juga kutukan terhadapnya, padahal masalahnya hanya sederhana. Rekan gerejaku ini bertanya mengapa harga barang yang dijual oleh rekan kerjanya itu malah lebih mahal dibandingkan yang lain. Menurutnya, pertanyaan ini wajar ditanyakan oleh seorang calon konsumen kepada penjualnya. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban yang baik, respons yang diterimanya malah kata-kata kasar, bahkan kutukan. Rekan gerejaku itu bercerita bahwa secara manusia dia tidak bisa menerima perlakuan ini. Rasa-rasanya dia ingin membalas kata-kata itu. Tapi, dia berusaha menahan diri.

Kasih Tuhan menahannya untuk tidak membalas kata-kata tersebut. Dia menahan diri sejenak dan malah berdoa untuk rekannya itu. Tak hanya itu, keesokan harinya, rekan gerejaku itu juga menemui rekannya, berusaha meminta penjelasan mengapa dia berkata-kata kasar, dan akhirnya meminta maaf terlebih dulu. Semua proses itu diceritakan kepadaku sambil dia terus mengucap syukur pada Tuhan karena dia tak sampai membalas kata-kata kasar dan kutukan itu dengan emosi.

Aku mendengarkan rekanku itu dengan saksama, kemudian aku teringat akan kondisiku sendiri. Hmmm. Kejadian yang dialami rekanku ini mirip-mirip dengan apa yang kualami—sama-sama mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman. Tapi, jika rekanku berusaha mencari solusi dan berdamai, aku malah mendiamkan teman dekatku yang telah menyinggungku itu. Sebenarnya maksud dari diamku itu adalah supaya dia menyadari sendiri kesalahannya dan menyesal. Aku sendiri memang tidak ada niat untuk membalas kata-katanya secara verbal. Tapi, setelah kupikir-pikir, dengan mendiamkannya dan tidak menganggap kehadirannya, aku sama saja sudah membalas dendam, bahkan seharusnya hal itu lebih kejam.

Cerita dari rekan gerejaku membuatku merasa ditegur. Aku sadar apa yang kulakukan itu salah. Aku pun menceritakan kondisiku kepada rekan gerejaku. Dia menyarankanku agar aku minta maaf pada temanku karena aku sudah mendiamkan dan menganggapnya tidak ada selama berhari-hari. Lebih baik aku menyelesaikan masalah ini secepatnya.

Teladan yang diperbuat oleh rekan gerejaku itu telah menginspirasiku. Dengan lapang dada dia sudi meminta maaf terlebih dulu walaupun sejatinya dia tidak bersalah. Alih-alih merasa sakit hati, yang dia rasakan justru sukacita dan damai sejahtera. Lalu, pada akhirnya relasi pertemanan mereka pun kembali terjalin karena masalah yang bisa diselesaikan dengan baik. Butuh kebesaran hati memang untuk berani melakukan hal ini.

Aku merasa bahwa pilihanku untuk berdiam diri bukanlah pilihan yang paling tepat. Tapi, di sisi lain aku juga tidak mau mengorbankan harga diriku untuk meminta maaf duluan. Butuh proses untukku mau menundukkan rasa egoisku.

Setelah sharing itu berakhir, aku seolah disadarkan oleh Tuhan dengan perlahan. Kalau aku hanya diam, aku sama saja sedang membiarkan benih kebencian untuk tumbuh secara perlahan. Dan lagi, teman yang menyinggungku adalah teman dekatku. Masakan aku senang membiarkannya merasa menyesal berkepanjangan? Kalau begitu, aku sama saja tidak mengasihi dia.

Akhirnya, aku memantapkan hatiku untuk meminta maaf terlebih dahulu melalui chat. Sebelumnya, aku berdoa, memohon supaya Tuhan memberikan keberanian dan hikmat untukku. Di dalam pesanku, aku meminta maaf apabila belakangan ini aku sering tidak menganggapnya. Aku juga bilang kalau aku merasa kesal karena kata-katanya yang menohokku dalam perjalanan itu. Secara rinci, kucoba menjelaskan semuanya, dan pada akhirnya dia pun meminta maaf juga kepadaku. Dia mengatakan bahwa dirinya menyesal telah mengucapkan kata-kata yang demikian. Bahkan, dia juga memintaku untuk tidak segan menegurnya jika kata-katanya salah.

Selepas chatting itu aku benar-benar merasa lega. Saat itu, tanganku lemas dan aku hanya bisa duduk sambil air mata perlahan mengalir. Aku menangis bukan karena menyesali tindakanku, tapi aku bersyukur karena Tuhan mengajarkanku satu hal, yakni inisiatif. Aku harus berani mengambil tindakan yang tepat, tidak memupuk keegoisanku, meskipun itu tampaknya seperti aku harus merendahkan harga diriku.

Jika aku menilik diriku lebih dalam, sebenarnya aku bukanlah orang yang mudah melepaskan rasa ego dan gengsiku. Ketika aku bisa meminta maaf duluan, aku percaya semua ini adalah karya dari Roh Kudus yang melembutkan hatiku supaya relasiku dengan temanku itu dapat pulih. Aku juga percaya bahwa bukan suatu kebetulan apabila rekan gerejaku mengalami hal yang mirip denganku terlebih dahulu. Aku yakin bahwa inilah salah satu maksud Tuhan supaya aku bisa belajar darinya.

Berkaca dari pengalamanku dan cerita rekan gerejaku, sebenarnya kami punya dua pilihan saat itu: membiarkan masalah, memupuk rasa sakit hati serta mengasihani diri, atau melangkah maju dan memulihkan relasi. Di sinilah pelajaran yang Tuhan Yesus ajarkan untukku.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Allah adalah Allah yang bertakhta dan berkuasa, dan tentunya tidak bersalah apalagi memiliki dosa. Namun, Dia berinisiatif untuk datang ke dunia dengan maksud memulihkan relasi manusia dengan Bapa yang telah rusak karena dosa. Karena inisiatif inilah, kita bisa hidup dalam anugerah-Nya setiap hari. Bukan karena kebaikan kita, tetapi karena Allah yang mengasihi kita dan berinisiatif memulihkan relasi yang rusak.

Apa yang menjadi respons kita atas inisiatif Allah tersebut? Tinggal diam dan memupuk dosa, ataukah datang dan memilih hidup baru bagi Allah? Jika kita memilih pilihan yang kedua, biarlah itu juga terpancar dari bagaimana cara kita menanggapi setiap keadaan di sekitar kita.

“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23-24).

Baca Juga:

5 Alasan Mengapa Reformasi Protestan Masih Berarti Hingga Hari Ini

Tepat hari ini kita memperingati 500 tahun peristiwa Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther. Inilah lima alasan mendasar mengapa kesaksian, kepercayaan, dan pendirian Luther mengenai teologi dan praktiknya masih berpengaruh hingga saat ini.

Mengapa Aku Mengampuni Ayahku yang Adalah Seorang Penjudi

ketika-aku-mengampuni-ayahku-yang-seorang-penjudi

Oleh Raganata Bramantyo Wijaya

Mengampuni itu mudah jika hanya dikatakan, tetapi sulit sekali ketika harus dipraktikkan. Benarkah begitu?

Di tahun 2012, rasa benciku kepada ayahku telah memuncak. Bagiku dulu, dia hanyalah seorang penjudi, munafik, dan sangat tidak layak disebut sebagai seorang ayah.

Suatu pagi ketika matahari masih belum terbit, dia pulang ke rumah dengan kondisi marah besar akibat kalah judi. Pikirannya penuh dengan amarah hingga ia memukul dan menendang banyak perabot rumah. Ibuku yang pagi itu tengah memasak pun tidak luput dari serangan amarahnya.

Sebagai anak lelaki, aku merasa muak untuk mendiamkan semua ini. Kuhampiri dirinya, kubanting pintu dapur yang kala itu tengah terbuka. “Aku tidak peduli tentang judimu, kalah atau menang itu pilihanmu. Tapi, bisakah pulang ke rumah tanpa membawa masalah dari luar?” Karena emosiku memuncak, nada bicaraku pun tinggi.

Bukan jawaban kata-kata yang kudapat, melainkan sebuah tinju yang dilayangkan padaku. Aku menghindar kemudian berlari keluar rumah. Kemudian serangkaian kata-kata kasar dan makian mengalir deras dari mulut ayahku. Hari itu aku merasa berada di titik kebencian tertinggi. Aku merasa tidak sudi memiliki ayah seperti itu.

Karena kondisi rumah yang mencekam, hari itu sejak pagi aku memutuskan untuk tidak pulang. Aku bersepeda tanpa tahu ke mana arah tujuan yang kutempuh, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke gereja tempatku berjemaat. Hari itu bukan hari Minggu sehingga tidak banyak orang di sana. Aku menepikan sepedaku dan duduk di tangga, kemudian melamun selama berjam-jam.

Dalam lamunan itu aku masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi pagi itu. Hatiku terasa semakin hancur ketika pikiranku memaksaku untuk mengingat kembali seluruh luka-luka yang pernah digoreskan oleh ayahku dalam keluarga. Aku menjadi semakin frustrasi karena perasaan itu seperti menekanku untuk masuk ke dalam jurang keterpurukan.

Hari itu seorang sahabatku datang, dan ketika ia menghampiriku ia hanya bertanya “Kenapa?” Setelah aku menjelaskan dengan terbata-bata, kemudian dia hanya merangkulku tanpa memberi nasihat apapun. Akhirnya di malam hari aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan ayahku ternyata pergi berjudi kembali.

Keputusan untuk mengampuni

Malam itu, pikiranku berkecamuk. Di satu sisi aku begitu merasa sakit hati atas kejadian tadi pagi, tapi di sisi yang lain aku mempertanyakan kembali identitas diriku. Pada tahun 2004 aku telah mengikrarkan diriku lewat upacara baptisan bahwa aku dengan sungguh-sungguh akan mengikut Yesus. Namun, kejadian hari itu seolah hendak mengujiku apakah aku memang sungguh-sungguh meneladani Tuhan Yesus atau hanya sekadar menjadikan iman Kristenku sebagai agama yang tercantum di kartu identitas.

Saat aku berdoa memohon jalan terbaik dari Tuhan, yang terlintas di benakku hanyalah ayat-ayat mengenai pengampunan. Salah satu ayat yang waktu itu terlintas di benakku adalah Matius 18:21-22 yang tertulis: “Kemudian Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus menjawab, ‘Aku berkata kepadamu, bukan tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Sesungguhnya ayat itu terdengar klise buatku. Rasanya setiap bulan, atau bahkan tiap minggunya aku sering mendengar ayat itu disebutkan dalam khotbah maupun sekolah minggu. Tapi, ayat yang terdengar klise itu sesungguhnya berbicara tentang inti dari iman Kristen, yaitu tentang mengampuni dan diampuni.

Akhirnya aku menyerah. Ayat yang terdengar klise itu menegurku dengan kuat hingga mulutku pun mengucap, “Tuhan, kalau memang aku harus mengampuni, beri aku kekuatan.” Aku tahu dan percaya Tuhan mendengar doaku saat itu. Perlahan aku mulai merasa tenang dan mulai memahami lebih jernih tentang kejadian yang terjadi pagi tadi.

Aku menyadari bahwa aku juga telah berbuat salah karena lebih mengedepankan emosi ketika berhadapan dengan ayahku yang juga sedang dirundung amarah. Alih-alih bersabar sedikit, aku memilih untuk membalas api dengan api hingga terciptalah konflik yang membakar. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menyiramkan air kepada konflik yang terbakar itu, dan air itu adalah pengampunan.

Karena aku masih takut untuk bertemu muka dengan ayahku, malam itu aku mengirimkannya sebuah pesan singkat. “Aku minta maaf karena aku salah,” tulisku singkat, lalu kutekan tombol kirim. Malam itu entah mengapa aku merasa lega dan bisa tidur dengan damai. Esok paginya ketika aku bangun, ayahku masih tertidur di kamarnya. Ketika ia bangun, aku mendekati kamarnya dan mengatakan, “Aku minta maaf”. Dia tidak menjawab apapun seolah tidak menghiraukan kehadiranku.

Tapi, ketika aku mengatakan “maaf” kepadanya, sesungguhnya aku sedang membebaskan diriku sendiri dari belenggu dendam dan keegoisan. Waktu itu aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan menjadi respons dari ayahku. Ada sukacita besar yang melingkupiku dan satu hal yang pasti adalah pengampunan itu membebaskanku dari rasa benci yang menekan jiwa.

Sesudah aku mengampuni

Sudah bertahun-tahun berlalu semenjak kali pertama aku mengampuni ayahku. Sekarang aku sudah bekerja dan tidak lagi tinggal satu rumah dengan ayahku. Memang keadaan tidak berubah banyak, bahkan hingga kini ayahku pun masih tetap berjudi.

Pengampunan seringkali tidak mengubah orang yang telah menyakiti kita, ataupun mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi, satu hal yang harus kita ingat adalah dengan mengampuni, kita mengubah diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Ketika Tuhan Yesus dihina dan disiksa dalam perjalanan-Nya ke Golgota, tidak sekalipun Dia mengucap sumpah serapah ataupun memaki-maki orang yang menganiaya-Nya. Alih-alih membalas dengan yang jahat, Tuhan Yesus malah berdoa untuk mereka yang telah menganiaya-Nya. Injil Lukas pasal 23:34 mencatat demikian, “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Sekarang aku tidak hanya dapat berdoa untuk ayahku supaya dia dapat mengenal Yesus, tapi perlahan aku mulai dapat berbicara kepadanya—sesuatu yang dulu mustahil kulakukan. Aku percaya bahwa pengampunan itu ibarat sebuah benih yang kita tanam. Ketika kita memelihara pengampunan itu untuk tumbuh, kelak itu pula akan berbuah. Ya, berbuah menjadi suatu hubungan yang damai.

Lewat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, Dia membawa rekonsiliasi atau pendamaian kita dengan Allah. Dia mau supaya kita tidak lagi terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang kita perbuat. Puji Tuhan, karena peristiwa kematian Yesuslah akhirnya kita beroleh sebuah hubungan pribadi yang dekat dengan Allah, hingga kita dapat memanggil-Nya sebagai Bapa.

Seperti Bapa telah mengampuni kita lewat kematian Yesus di kayu salib, di momen Paskah ini maukah kita mengikuti teladan-Nya? Maukah kita mematikan rasa egoisme kita dan melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah melukai kita?

Pengampunan tidak terjadi dengan instan, jika hari ini kamu masih merasa berat untuk mengampuni, itu bukan berarti kamu tidak mampu mengampuni. Mintalah kepada Tuhan yang telah mengampuni kita terlebih dahulu untuk memberimu kekuatan untuk mengampuni.

Baca Juga:

Aku Tidak Lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Haruskah Aku Kecewa?

Jika aku mengingat kembali masa-masa ketika aku mulai kuliah, semua yang kudapatkan saat ini hanyalah anugerah. Aku pernah berharap bisa kuliah ke luar negeri untuk mendalami dunia seni dan desain, atau setidaknya masuk di perguruan tinggi negeri. Untuk mewujudkan impianku itu, sejak SMA aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain.

Kisahku sebagai Putri Seorang Penarik Becak yang Belajar Mengampuni

Kisahku-sebagai-Putri-Seorang-Penarik-Becak-yang-Belajar-Mengampuni

Oleh Yezia Sutrisni, Tangerang

Aku adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Ibuku menderita penyakit kanker payudara dan akhirnya meninggal saat aku duduk di kelas 2 SD. Selama hampir satu tahun ibuku terbaring lemah di tempat tidur melawan sakit kankernya.

Setelah ibuku meninggal, aku tinggal bersama ayah dan dua orang kakakku. Hari demi hari kami lewati tanpa kasih sayang seorang ibu. Sehari-harinya ayah bekerja sebagai penarik becak di kota Yogyakarta, sedangkan kami tinggal di kabupaten Klaten. Ayah hanya pulang menemui kami beberapa kali dalam satu bulan.

Ketika aku berusia 9 tahun, ayahku juga jatuh sakit sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Penyakit darah tinggi akut yang diderita ayah membuatnya tidak bisa menarik becak setiap hari dan aku pun harus merawatnya. Di usiaku yang masih kecil itu aku harus menggantikan peran ibu.

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah aku harus bangun jam 5 pagi dan memasak untuk seluruh isi rumah. Sebelum berangkat ke sekolah aku harus memastikan makanan untuk ayah sudah tersedia sehingga dia tidak harus berdiri untuk mengambil makan. Penyakit darah tinggi ayah membuatnya sulit berdiri, mungkin juga dia akan jatuh. Mau tidak mau aku harus membantunya makan, mandi, dan melakukan aktivitas lain.

Ketika tetangga-tetangga melihat keadaan kami waktu itu, mereka selalu bertanya, “Di mana saudara-saudaramu yang lain?” Usiaku dengan kakak-kakakku terpaut cukup jauh. Dengan kakak pertamaku saja kami berbeda hampir 20 tahun. Empat kakak-kakakku waktu itu telah sibuk sendiri. Ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang merantau jauh. Mereka seolah tidak peduli dengan keadaan ayah saat itu.

Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan keberadaan kakak-kakakku. Entah karena aku terlalu polos atau hanya menerima segalanya dengan ikhlas, aku lupa persisnya perasaanku seperti apa. Yang aku tahu adalah kakak-kakakku mungkin pernah mengalami kepahitan. Ayah memang orang yang keras, dia sering memukul dan melontarkan kata-kata kasar kepada anak-anaknya.

Ketika aku ditelantarkan oleh kakak-kakakku

Setelah sekitar tiga tahun hidup dalam keadaan sakit, ayahku dipanggil pulang oleh Tuhan. Kehidupan keluargaku semakin sulit dan aku pun tinggal berdua bersama kakakku yang kelima. Kakak-kakakku yang lain ada yang sudah berkeluarga dan ada juga yang merantau.
Kami berdua menjalani hidup tanpa orangtua. Kadang kami hanya makan menggunakan nasi putih dan sambal saja. Kadang kami pun menjual pohon bambu yang kami tanam di depan rumah untuk bisa membeli makanan. Beras pun kami dapat dari jatah beras miskin pemerintah. Kadang juga tetangga kami yang merasa iba memberi kami makanannya.

Aku sempat berpikir kalau kami ini enam bersaudara, maka seharusnya aku tidak sampai harus hidup seperti ini. Aku merasa ditinggalkan dan tidak memiliki siapapun dan bertanya-tanya mengapa kakak-kakakku yang lain itu tidak mau peduli dengan kedua adiknya? Sejujurnya kami punya alasan untuk menyimpan luka dan membenci mereka.

Ketika aku mengenal Yesus

Dulu aku bukanlah orang Kristen, demikian juga dengan kedua orangtuaku. Saat aku mulai duduk di bangku sekolah dasar, salah seorang kakakku yang telah menjadi Kristen terlebih dulu sempat membawaku untuk ikut ke sekolah minggu. Setelah itu aku menjadi lebih sering datang ke gereja walau tidak selalu hadir setiap minggunya. Sekalipun orangtuaku bukan Kristen, tapi mereka tidak melarangku untuk pergi ke gereja.

Setelah kedua orangtuaku dipanggil Tuhan, aku sendiri bingung akan masa depanku. Hingga pendeta di gerejaku mempertemukanku dengan seorang bapak dari Kalimantan. Akhirnya bapak ini secara tidak langsung “mengadopsiku” dengan membiayai seluruh kebutuhanku. Saat aku masuk SMA, aku pun pindah dari Klaten ke kota Yogyakarta untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Aku memang tidak tinggal satu rumah dengan ayah angkatku itu, tapi beliau sering menyempatkan dirinya mengunjungiku di Yogyakarta dan memastikan kebutuhanku terpenuhi. Ketika liburan tiba, aku pun diajaknya ke Kalimantan dan tinggal bersama keluarga angkatku. Mereka begitu mengasihiku dan menganggapku sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.

Kebaikan mereka itulah yang akhirnya semakin memantapkan imanku kepada Tuhan Yesus. Mereka mendukungku selayaknya aku adalah anak kandung mereka sendiri. Ketika aku sudah lulus dari SMA, mereka mendukung penuh studiku di perguruan tinggi hingga akhirnya aku bisa lulus menjadi seorang sarjana.

Sekalipun sejak kecil aku datang ke gereja, tapi aku merasa hidupku datar. Aku membaca firman Tuhan, tapi tidak mengerti apa yang dimaksud. Barulah ketika aku mulai duduk di bangku kuliah, lambat laun aku mulai mengerti betapa baiknya Tuhan Yesus kepadaku. Lewat kasih sayang tulus yang diberikan oleh ayah angkatku, aku dapat merasakan kasih Tuhan bahwa Dia tidak pernah meninggalkanku seorang diri.

Saat ini aku telah menyelesaikan studiku dan bekerja di sebuah lembaga pelayanan di Tangerang. Sesekali ketika aku merenung, aku bisa saja berpikir untuk membenci saudara-saudaraku atas perbuatan mereka saat aku menderita susah dulu. Tapi, setiap kali bersaat teduh aku selalu ingat ayat di mana Tuhan Yesus mengajar kita untuk mengampuni, bahkan lebih dari sekadar mengampuni, Tuhan meminta kita untuk mengasihi. “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagai Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).

Aku manusia berdosa dan Tuhan sudah mengampuni dosaku. Ketika aku mulai berpikir untuk membenci kakak-kakakku, aku selalu melihat kembali kepada diriku sendiri yang penuh dosa dan Tuhan sudi mengampuniku. Betapa egoisnya aku ketika Tuhan sudah mengampuniku tetapi aku tidak mau mengampuni saudara-saudaraku.

Secara manusia memang berat untuk mengampuni orang yang telah menyakitiku, tapi aku selalu memohon agar Tuhan memampukanku. Setiap hari aku berdoa untuk semua kakak-kakakku, memohon agar mereka yang belum mengenal Tuhan dapat menjadi percaya. Aku belajar untuk sesekali menyapa mereka lewat telepon. Saat ini aku sudah mengampuni mereka dan mengasihi mereka.

Aku belajar dari kisah Yusuf yang tetap tekun dan berpengharapan sekalipun dia harus dibuang oleh kakak-kakakknya. Aku percaya bahwa kisah masa laluku yang kelam merupakan alat yang dipakai Tuhan untuk menyiapkan masa depanku. Tanpa masa lalu yang keras mungkin aku takkan menjadi seorang yang tegar.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar,” (Kejadian 50:20). Seperti kisah Yusuf, mungkin ada rancangan-rancangan jahat yang dilakukan oleh manusia terhadap kita, tapi aku percaya bahwa Tuhan sanggup mengubah itu menjadi kebaikan untuk kita.

Tuhan telah menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa-dosa kita, tapi karena kematian-Nya kita beroleh keselamatan. Dari pengalaman hidupku, aku dapat memaknai Paskah sebagai momen ketika Tuhan mengampuni dosaku maka aku pun harus mengampuni orang lain yang bersalah kepadaku, bahkan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihiku.

Kita tidak akan pernah bisa mengampuni bahkan mengasihi orang yang sudah menyakiti kita dengan kekuatan sendiri. Kita membutuhkan Tuhan. Hanya Tuhan saja yang memampukan kita untuk mau mengampuni dan melembutkan hati mereka. Datanglah kepada Tuhan dan minta supaya Dia memampukan kita.

Baca Juga:

Tuhan Yesus, Terima Kasih untuk Anugerah Keselamatan yang Kau Berikan

Katie adalah seorang perempuan kecil yang harus melakukan transfusi darah karena penyakit langka yang dideritanya sejak lahir. Namun, kelak ia dapat disembuhkan ketika ada ada orang lain yang mau menjadi donor baginya. Kisah tentang Katie ini mengingatkanku kembali tentang anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus berikan.

5 Cara Mengatasi Patah Hati

Penulis: Michele Ong, New Zealand
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: How To Get Over a Breakup

How-to-get-over-a-break-up

Minggu terakhir di semester terakhir sekolah jurnalisme adalah minggu yang sangat menyakitkan. Pacarku memutuskan hubungan dengan cara yang sangat tidak enak. Aku menerima SMS-nya pada hari Minggu malam lalu segera menghubungi sahabat baikku. Di telepon, aku tidak bisa berhenti menangis, dan masih terus menangis lama setelah telepon ditutup.

Dengan susah payah aku berusaha menenangkan diri dan tetap mengikuti kelas di hari Senin. Tetapi, pertanyaan sederhana seperti “Kamu ngapain saja akhir minggu kemarin?” sudah membuatku menangis lagi. Hari itu penampilanku pasti sangat kacau, aku berjalan di kampus dengan mata bengkak dan tangan meremas-remas gumpalan tisu.

Mengapa ia tega melakukannya? Apa salahku? Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Aku merasa sudah berusaha menjadi pacar termanis yang bisa dimilikinya. Aku selalu ingat hari ulang tahunnya, dan tidak pernah lupa merayakan hari jadian kami. Aku juga selalu siap mendengarkan setiap kali ia punya masalah.

Namun kenyataannya, kami tidak cocok satu sama lain. Kami berdua memiliki tujuan hidup yang berbeda dan memiliki rencana yang berbeda untuk mewujudkannya. Aku ingin bekerja dan bepergian ke luar negeri, sementara ia cukup senang melanjutkan hidupnya di New Zealand. Aku jengkel karena merasa ia kurang punya ambisi dan kejelasan arah hidup, sementara ia menganggapku sebagai cewek yang manja dan terlalu bergantung kepada orang lain.

Sayangnya, pada saat itu aku tidak bisa melihat perbedaan yang ada di antara kami. Aku berusia 23 tahun, masih muda dan naif, tidak bisa berpikir jauh melampaui apa yang ada di depan mataku. Sebab itu aku marah ketika berbagai hal tidak berjalan sesuai dengan yang kuharapkan. Aku pikir aku tidak beruntung dalam cinta, dan kebahagiaan itu hanya untuk orang lain.

Setahun sebelumnya, aku juga mengalami patah hati. Aku mendapati pacarku saat itu selingkuh. Putusnya hubungan kami membuatku sangat marah, muak, dan sakit hati. Rasanya aku ingin menemui pria itu dan mengacak-ngacak wajahnya seperti mainan Mr. Potato Head. Namun, pada satu titik, aku ingin melarikan diri jauh-jauh darinya, hingga aku pun memilih terbang ke Australia, mengunjungi teman dan kerabatku di sana.

Tidak heran bila Greg Behrendt, penulis buku It’s Called A Breakup Because It’s Broken berkata, “Patah hati itu seperti patah tulang rusuk. Dari luar kelihatannya baik-baik saja, tetapi setiap menarik napas, sakitnya sangat terasa.”

Pernahkah kamu juga mengalami patah hati? Beberapa hal berikut telah menolongku. Semoga bisa menolongmu juga.

1. Bawalah rasa sakitmu kepada Tuhan

Entah bagaimana aku bisa menggambarkan masa-masa patah hatiku saat itu. Hampir setiap malam aku hanya bisa menelungkup di tempat tidur dengan air mata berderai. Di sela-sela tangis, aku menyebut nama Tuhan, tetapi aku tidak punya kekuatan untuk melanjutkan doaku.

Jujur kuakui, peristiwa patah hati itulah yang mendorongku mencari Tuhan.

C.S. Lewis berkata, “Rasa sakit menuntut perhatian. Suara Allah terdengar sayup saat kita senang, terdengar jelas saat kita memeriksa hati kita, namun terdengar sangat nyaring saat kita merasa sakit. Rasa sakit adalah megafon Allah untuk membangunkan dunia yang sudah tuli.”

Rasa sakit dipakai Tuhan untuk menarikku kembali kepada-Nya. Jadi, aku pun datang menumpahkan isi hatiku kepada-Nya, sama seperti aku datang kepada ayahku saat aku sedang sedih.

Sebuah penghiburan besar kutemukan dalam Mazmur 147:3. Pemazmur menulis, “Ia [Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”

Ketika aku merasa sangat kesepian setelah putus dengan pacarku, aku juga dihiburkan dengan Yohanes 16:32 yang menggambarkan bagaimana Yesus pernah ditinggalkan sendirian, namun Dia tetap yakin akan penyertaan Bapa-Nya. Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.”

Jangan pernah tergoda untuk mencari solusi sesaat, seperti mengonsumsi minuman energi, obat-obatan alternatif, atau pelukan seseorang. Selain berisiko, semua pelarian itu nantinya akan membuat kita makin mudah terluka.

Carilah pemulihan yang sejati: Allah, Sang Penyembuh, yang dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan sanggup memulihkan hati kita agar kembali utuh seperti sediakala.

2. Ingatlah bahwa kamu dicintai Tuhan

Hari-hari setelah putus dengan pacarku sangatlah berat. Aku merasa diriku tidak menarik, tidak berarti, tak berbeda dengan sebuah pion dalam permainan catur. Rasanya ingin makan keripik kentang saja sepanjang hari sambil meratapi nasibku yang buruk. Pikiran-pikiran negatif menjadi teman setiaku, “Ah, seandainya saja aku lebih cantik, lebih pintar, punya pekerjaan yang lebih baik…

Suatu hari, saat aku lagi-lagi mengeluh kepada Tuhan tentang betapa aku merasa tidak dicintai, Tuhan berkata dalam hatiku, “Kamu lupa, Aku mencintaimu.” Pernyataan itu sangat kuat menyentak hatiku. Meski tumbuh besar menyanyikan lagu sekolah minggu “Yesus sayang padaku”, aku sebenarnya masih sulit membayangkan dan memahami seberapa besar Tuhan mengasihiku. Namun, hari itu, saat aku merasa benar-benar lemah, bahkan bisa dibilang saat aku merasa sangat jelek (bayangkan saja waktu itu aku hanya memakai piyama, rambutku acak-acakan, dan hidungku berair seperti bendungan jebol), hatiku terasa sangat teduh karena mengetahui dengan pasti bahwa kasih Yesus kepadaku tidak berubah sedikit pun. Kegalauan karena merasa diri tidak cukup baik dan berharga setelah ditinggal pacarku, dengan segera menguap tanpa bekas.

Jika kamu mengalami hal serupa, ingatlah bahwa putus dengan pacar tidak menentukan identitasmu. Yang menentukan identitasmu adalah Tuhan, yang menciptakan dirimu. Mantan pacarmu mungkin tidak menghargai dirimu, tetapi di mata Tuhan, kamu sangatlah berharga (Yesaya 43:4), kamu utuh, lengkap di dalam-Nya (Kolose 2:10), kamu adalah buatan tangan-Nya, yang diciptakan untuk melakukan hal-hal yang baik (Efesus 2:10).

Ingatlah akan identitasmu di dalam Kristus, ingatlah bahwa kamu sangat dikasihi Tuhan (Efesus 2:4).

3. Arahkan pandanganmu ke masa depan

Mungkin sekali kamu tergoda untuk terus mengingat kenangan masa lalu bersama mantan pacarmu. Namun, hidup dalam bayang-bayang masa lalu hanya akan menghambatmu untuk melangkah maju. Aku sendiri saat itu sudah menghapus semua SMS dan e-mail, membuang semua hadiah yang pernah diberikan mantan pacarku. Tetapi, aku masih menahan sebuah boneka kelinci, dan masih mendengar lagu-lagu dengan tema patah hati—berulang kali.

Alkitab mengajar kita untuk melupakan apa yang telah di belakang kita dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita (Filipi 3:13). Jadi, aku menetapkan tekad untuk berhenti mengenang masa lalu dan memakai waktuku untuk menata ulang prioritas-prioritas dalam hidupku. Aku memutuskan untuk meluangkan lebih banyak waktu dengan Tuhan, dan berfokus memulai karirku sebagai seorang jurnalis.

Aku juga mulai mengucap syukur atas peristiwa patah hati yang Tuhan izinkan aku alami. “Tuhan, Engkau tahu bahwa hubungan kami akan berakhir,” kataku, “Engkau menopang dunia ini dalam tangan-Mu.” Menyadari bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan kita alami, termasuk putus dengan pacar, membuat hatiku tenang (Mazmur 139:16). Tuhan mengizinkan aku mengalaminya karena Dia telah mempersiapkan hal-hal yang lebih baik untukku. Pada saat itu aku tidak tahu apa “hal-hal yang lebih baik” yang dipersiapkan Tuhan. Namun, dengan iman aku bergantung pada janji-janji-Nya, mengetahui bahwa Dia Tuhan, dan Dia peduli.

4. Hitunglah berkat-berkat yang sudah Tuhan berikan

Waktu terasa begitu lambat saat aku berusaha memulihkan diri dari patah hati. Siang hari terasa sangat panjang, malam hari apalagi. Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun rasanya waktu berjalan terlalu lambat untukku.

Dalam masa-masa transisi yang sulit itu, memastikan diriku selalu punya kesibukan adalah salah satu hal yang sangat menolong. Aku menyibukkan diri dengan menghitung berkat-berkat yang kuterima, dan itu ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan.

Pada saat aku punya pacar, mudah saja mengucap syukur dalam hidup dan merasa diberkati. “Terima kasih Tuhan untuk pacar, untuk keluarga, untuk sahabat-sahabat yang mengasihiku.” Namun, ketika itu diambil (pacar, bukan keluarga dan sahabat), aku harus secara sengaja mengingatkan diri untuk bisa tetap mengucap syukur dalam hal-hal yang sederhana.

Aku membuat catatan harian berisi hal-hal yang membuatku bersyukur setiap hari. Aku bersyukur kepada Tuhan bisa pergi nonton dengan teman-temanku, menikmati makan siang dan malam dengan keluargaku, bisa mendapatkan pakaian baru (jika hari itu aku pergi belanja), dan seterusnya. Dengan sibuk menghitung berkat, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk berkubang dalam kemarahan, kepahitan, dan rasa tidak terima.

Mungkin menghitung berkat itu kedengarannya sedikit klise, tetapi Alkitab mengajar kita untuk mengucap syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kita (1 Tesalonika 5:18). Tidak berarti kita harus melompat-lompat gembira, mengatakan kepada semua orang betapa senangnya kita sudah putus dari pacar kita. Menghitung berkat bagiku berarti mempertahankan sikap bersyukur, senantiasa berterimakasih kepada Tuhan yang sudah menyertaiku selama masa-masa yang sulit.

5. Maafkanlah mantanmu

Harus kuakui dengan jujur, awalnya aku tidak mau memaafkan mantan pacarku. Bagiku, memaafkan itu seperti memberi jaminan bebas penjara kepada seorang penjahat. Mengapa aku harus memberinya kesempatan istimewa itu?

Aku kemudian teringat pada percakapanku dengan Tuhan saat aku sedang mendoakan beasiswa yang akan memungkinkan aku bekerja di sebuah surat kabar kota Beijing selama 3 bulan. Aku berkata kepada Tuhan betapa aku sangat-sangat menginginkan beasiswa itu. Tuhan berkata, “Kamu harus mengampuni mantan pacarmu dulu.” Aku tidak mungkin bisa melakukannya, jawabku. Namun, Roh Kudus mengingatkanku pada Markus 11:25, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

Aku tidak suka dengan pemikiran harus mengampuni mantan pacarku. Tetapi aku tahu itu harus kulakukan.

Aku tidak lantas buru-buru menemui mantan pacarku, membuka tangan lebar-lebar dan siap memberinya pelukan hangat sembari berkata bahwa aku sudah memaafkannya. Semua kemarahan yang pernah ada dalam hatiku harus perlahan-lahan aku lepaskan. Aku sadar bahwa aku tidak bisa menyebut diriku sendiri sebagai seorang pengikut Kristus bila aku tidak dapat melepaskan pengampunan bagi orang yang telah menyakitiku.

Betapa lega rasanya ketika aku akhirnya bisa memaafkan mantan pacarku. Beberapa minggu kemudian, aku menerima sebuah e-mail yang memberitahukan bahwa aku mendapat beasiswa ke Beijing. Aku yakin bahwa Tuhan sedang menguji dan membangun karakterku pada saat yang sama. Dia mau aku mengampuni sesamaku sama seperti Dia telah mengampuniku (Matius 6:14), mengasihi musuhku (Lukas 6:27), dan memberkati mereka yang menyakitiku (Lukas 6:28).

Patah hati itu tidak mudah dijalani, mengacaukan hidup, dan menguras emosi. Kabar baiknya, malam-malam yang kelam itu tidaklah abadi. Meski perihnya luka membuat kita sukar menatap masa depan, semua pasti akan berlalu juga.

Ingatlah, Tuhan menyayangimu dan peduli kepadamu. Frank Laubach, seorang misionaris berkata, “Kristus memperhatikan setiap detail kehidupan kita, karena Dia mengasihi kita lebih dari seorang ibu mengasihi anaknya.”

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 3 – tamat)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu3

Perlahan namun pasti, aku mulai menata kehidupanku lagi. Aku menyadari betul itu bukan karena kekuatanku sendiri, namun karena kasih karunia Tuhan. Pak Yudi dan teman-teman gereja membantuku untuk bangkit lagi. Dengan kemampuan lukisku, aku mulai bekerja untuk menyambung hidup. Aku juga mulai aktif melayani di gereja. Sungguh aku sangat bersyukur bisa kembali menjalani hidup dengan pikiran yang jernih.

Meski begitu, ada satu hal yang masih terus menghantui hidupku. Aku masih sulit sekali melepaskan pengampunan bagi orangtuaku. Setiap kali ada pembicaraan yang menyinggung tentang mereka, nada suaraku berubah menjadi ketus. Pak Yudi pernah menegurku, mengingatkanku pada firman Tuhan.

Neng, dalam Matius 6:14-15 Tuhan mengatakan ‘jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’ Bapak dulu juga susah mengampuni orang yang menabrak istri dan anak Bapak, tapi percayalah Neng, hidup Neng gak akan tenang kalau Neng tidak mau mengampuni. Kalau orangtua Neng tetap keras hati dan tidak mau hidup bersama lagi itu urusan mereka dengan Tuhan. Bagian Neng adalah mengampuni dan menghormati mereka. Bukankah Tuhan juga sudah mengampuni Neng?”

Aku terdiam, memilih untuk tidak mendebat Pak Yudi yang sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Namun, hatiku masih protes. Mengampuni dan menghormati kedua orangtuaku? Apakah mereka masih merasa menjadi orangtua dari seorang Ellea? Mungkin saja mereka sudah tidak ingat kalau mereka pernah punya seorang anak perempuan yang mereka sia-siakan. Meski firman Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa aku harus mengampuni, praktiknya bagiku tidak semudah itu.

Ellea, kami sangat menyesal…..” sosok di depanku mengulangi pernyataannya dengan wajah penuh air mata.

Maafkan kami karena kami begitu egois dan tidak memikirkan masa depanmu. Kamu pasti sangat menderita…”

Badanku terasa kaku, tanganku bergetar memegangi pinggir sofa yang mulai mengelupas. Aku tidak mengerti keajaiban apa gerangan yang telah membawa papa dan mamaku ke tempat ini. Aku melihat mamaku terisak-isak dalam pelukan papaku. Bertahun-tahun aku ingin melihat mereka berangkulan seperti itu. Wajah mereka tampak letih dan makin tua, meski sebenarnya baru dua tahun kami berpisah.

Ada banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi dari rumah, Ellea…” papaku angkat bicara dengan suaranya yang berat. Desahannya juga terdengar sangat berat.

Kami tidak jadi bercerai. Memang belum semua masalah kami bisa dibereskan, tetapi satu hal yang pasti, kami tidak ingin kehilangan kamu. Kalau kamu bersedia Ellea, kembalilah pulang. Kita mulai kembali lembaran baru untuk keluarga kita…”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Air mataku tak terbendung. Seharusnya aku bahagia. Namun, entah kenapa aku masih ragu. Apa jaminannya mereka tidak akan bertengkar dan menyakitiku lagi? Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Ayat-ayat firman Tuhan yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir bermunculan di kepalaku. Aku tertegun menyadari Roh Kudus tengah mengingatkanku tentang apa yang Tuhan ingin aku lakukan sebagai anak-Nya.

“ … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

“… hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:4)

… ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…” (Matius 6:12)

Aku tahu ini bukan masalah orangtuaku lagi. Ini masalah hatiku sendiri di hadapan Tuhan. Aku ingat begitu seringnya aku berdoa “jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku.” Dan kini, aku diperhadapkan pada pilihan, apakah aku akan membiarkan kehendak Tuhan itu dinyatakan dalam tindakanku atau tidak. Aku menarik napas dalam-dalam. Saatnya mengambil keputusan. Sekarang atau tidak sama sekali. Mengikuti kehendak Tuhan, atau kehendak hatiku sendiri.

Papa tahu, kamu mungkin butuh waktu untuk memaafkan papa dan mama…” sosok gagah di hadapanku berujar pelan sambil menundukkan kepala seperti seorang prajurit kalah perang.

Papa…mama… aku…. memaafkan kalian,” kalimat itu akhirnya terucap mantap meski banjir air mata kembali tidak terhindarkan membasahi wajahku. Aku menghambur memeluk mama, lalu papa, dengan kelegaan yang luar biasa.

Terima kasih Ellea…” mama berbisik lirih. Papa menggenggam tanganku erat-erat.

***

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Aku melompat dari tempat tidurku dengan penuh semangat, membuka jendela lebar-lebar. Tidak ada sawah. Yang ada hanya pekarangan luas penuh pepohonan rindang dan bunga-bunga. Aku kembali berada di kamarku sendiri, asyik membayangkan memindahkan lukisan alam yang indah itu ke dalam salah satu kanvasku. Ah, indahnya!

Sudah bangun? Ayo turun sini, ikut papa potong rumput!” Aku tertawa lepas. Belum pernah merasa sebahagia ini. Dulu, hampir mustahil melihat papa ada di rumah pada hari Sabtu.

“Papa belum cerita, bagaimana caranya bisa menemukanku di rumah itu,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Papa tersenyum lebar, “Ada teman papa yang bekerja di panti rehabilitasi asuhan gereja itu.” Aku terpana. Wow! Tuhan punya cara yang tak terduga dalam mempertemukan kami kembali. Bayangan Pak Yudi dan teman-teman gereja yang pernah membantuku, melintas di pikiranku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya,” kata-kata Pak Yudi kembali terngiang di telingaku.

Ayo turun! Tunggu apa lagi?” aku tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolku. Sembari menuruni tangga, hatiku spontan bersenandung.

Bersama-Mu Bapa, kulewati semua…
PerkenananMu yang teguhkan hatiku…
Engkau yang bertindak memb’ri pertolongan…
AnugerahMu besar melimpah bagiku…

Aku tidak tahu apa yang akan kami hadapi sebagai keluarga ke depan. Namun, aku tahu bersama Tuhan, kami akan melewati semua dan bertumbuh di dalamnya. Bagian kami adalah belajar menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan mengikuti kehendak kami sendiri, karena kehendak-Nya jelas yang terbaik bagi kami semua.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 2)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu2

Suara itu lagi. Teriakan itu lagi. Bunyi keras itu lagi. Hampir setiap hari hanya itu yang dapat ku dengar. Papa dan mamaku selalu bertengkar setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Umpatan kasar sering terlontar dari mulut mamaku, menuduh papa tidak lagi memperhatikan keluarganya. Bantahan papa tidak kalah kasarnya, terutama bila ia kelihatan sangat lelah sepulang kantor. Kadang ia sampai menggebrak meja atau membanting barang. Aku yang mendengarkan mereka, merasa lebih lelah lagi. Tidak ada yang menemaniku belajar. Tidak ada yang mendengarkan ceritaku, apalagi keluh kesahku.

Kedua orangtuaku sebenarnya adalah orang Kristen, namun menurutku, kehidupan mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal Tuhan. Mereka jarang berdoa, apalagi ke gereja dan membaca Alkitab. Sepertinya mereka tidak pernah berpikir panjang, apalagi mempertimbangkan apa kata firman Tuhan, dalam mengambil keputusan-keputusan. Termasuk keputusan untuk bercerai.

Aku menjadi seperti orang yang yang kehilangan separuh nyawa. Sebelum sidang perceraian itu dilakukan, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa seluruh tabunganku, menghilang dari kehidupan kedua orangtuaku. Dalam keadaan depresi, aku mulai terjerumus pergaulan bebas karena pengaruh seorang teman kos. Aku ikut menggunakan narkoba dan minuman keras sebagai pelampiasan rasa kecewa atas keluargaku. Singkat cerita, hidupku berantakan, gara-gara kedua orangtuaku!

Ellea, kami sangat menyesal….” sosok di hadapanku kini ikut bersimbah air mata melihatku melangkah mundur di belakang sofa, menjaga jarak dengan mereka.

Menyesal! Aku tertegun. Momen-momen tertentu dalam hidupku seolah berulang.

Hari itu aku juga merasakan penyesalan yang luar biasa. Hidupku terasa kosong dan sia-sia. Duduk sendiri di teras kos, aku bertanya-tanya apakah masih ada harapan bagiku. Tadi malam aku baru saja menggadaikan handphone kesayanganku demi bisa membeli sepaket shabu. Kedengarannya mungkin konyol, namun apa daya, sekujur tubuhku sudah meronta dan menyiksaku sepanjang hari. Air mataku meleleh. Aku merasa sangat lemah. Aku menyesal, tetapi tidak tahu harus mulai darimana memperbaiki hidupku.

Tuhan, jika Engkau ada, tunjukkan jalan-Mu untuk aku bisa bangkit lagi…” bisikku lirih dalam hati.

Pagi, Neng!”

Aku buru-buru mengeringkan pipiku yang basah. Seorang bapak tua berkemeja batik tersenyum lebar sembari berjalan tertatih-tatih melintasi jalan di depan kosku. Pak Yudi. Pengusaha tahu berdarah Sunda yang juga membuka warung di ujung gang. Ia tinggal sendirian. Anak dan isterinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Entah apa yang membuat bapak itu begitu tegar. Ia sangat ramah kepada anak-anak kos sepertiku.

Ada apa Neng?” Pak Yudi tampak khawatir melihatku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekati pagar. Tangannya yang sudah mulai keriput memegang sebuah tas Alkitab dari kulit. Aku tahu ia baru pulang dari gereja yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumahnya. Sebuah perjalanan yang terbilang jauh, apalagi untuk orang seusianya. Setiap yang melihatnya bisa merasakan betapa berartinya Tuhan dalam kehidupan Pak Yudi. Biasanya ia mengikuti kebaktian paling pagi, sehingga pukul 10 seperti sekarang ia sudah dalam perjalanan pulang.

Aku tidak bisa menahan tangis. Sosok Pak Yudi mengingatkanku pada papaku sendiri. Papa yang aku rindukan sekaligus kubenci setengah mati.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Pak.. aku merasa hidupku sangat kosong dan sia-sia.” ujarku lirih di sela derai tangisku, ketika Pak Yudi duduk di sebelahku. Entah bagaimana, cerita hidupku mengalir begitu saja. Ketika selesai, aku merasa tak percaya baru saja membuka segala kebobrokanku dan keluargaku di depan seorang yang tidak terlalu kukenal. Aku merasa sangat malu. Namun, sorot mata Pak Yudi sama sekali tidak melecehkanku. Ia menepuk pundakku dengan lembut.

Tidak ada jalan keluar selain datang pada Tuhan, Neng. Jangan ditunda lagi,” katanya pelan namun tegas.

Tapi Pak, apa Tuhan masih mau menerimaku yang seperti ini?” aku masih terisak-isak.

Pak Yudi mengangguk sambil tersenyum. Tangannya yang keriput membuka Alkitab di pangkuannya.

Tuhan berkata kepada umat-Nya: ‘…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’” Lalu ia kembali menatapku dalam-dalam.

Dosa memang membuat hidup kita berantakan Neng. Tetapi, bagaimanapun keadaan kita, Tuhan mau menerima kita. Dia mengasihi kita dan memandang kita berharga. Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, dan Dia ingin memulihkan hidup kita untuk dapat kembali mencerminkan kemuliaan-Nya.”

Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Pak Yudi. Namun, kata-katanya menyejukkan hatiku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya.”

Dan dalam firman-Nya, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, Neng. Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.’”

Aku mengangguk pelan dan tidak menolak ketika kemudian diajak Pak Yudi berdoa.

Minggu itu sangat berat untuk kulalui, namun aku akhirnya membulatkan tekad untuk pergi ke gereja. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku. Pak Yudi menunjukkan informasi tentang sebuah panti rehabilitasi yang ada di bawah asuhan gereja. Mereka juga menyediakan bantuan dana bagi yang benar-benar membutuhkan. Dengan yakin aku segera mendaftarkan diri. Aku tahu bila aku tetap tinggal di kos, akan sulit bagiku untuk menghindari pengaruh narkoba. Mereka yang telah menjerumuskanku jelas tidak akan melepaskanku dengan mudah. Aku juga meminta bantuan pak Yudi untuk mencarikan aku tempat kontrakan yang baru setelah rehabilitasiku berakhir.

 
Bersambung …

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 1)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Jadilah-KehendakMu1

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Kicauan burung sudah ramai terdengar. Sesuatu yang paling kusenangi sejak tinggal di kontrakan mungil di pinggir sawah ini. Memang untuk mencapai halte angkutan umum terdekat aku harus berjalan sekitar 1 km, tetapi aku lebih rela untuk jalan kaki agak jauh demi menikmati pagi sepi polusi di tempat ini.

Pagi mbak Ellea,” seorang ibu berbaju biru menyapaku begitu aku membuka jendela. Balita yang digendongnya tertawa-tawa riang.

Pagi Bu Jum,” balasku tersenyum lebar.

Mawarnya sudah mekar, cantik sekali…,” katanya menunjuk sebuah pot yang berada persis di depan jendela kamarku. Aku mengangguk gembira. Menghirup wanginya dalam-dalam.

Pagi-pagi mau ke mana, Bu?”

Ke posyandu, Mbak. Tanggal 15, Intan jadwalnya imunisasi nih,” balas si ibu menunjuk balita dalam gendongannya sembari terus berjalan.

Aku melambai. Perasaanku tiba-tiba terasa campur aduk.

Di satu sisi aku sangat bersyukur. Untuk kemilau pagi, untuk semerbak bunga, untuk kicau burung, untuk keramahan warga di lingkungan baruku ini. Di sisi lain, kehangatan keluarga-keluarga di sekitarku membongkar kembali rindu yang tadinya telah terkubur dalam kalbu, menyodorkan kenyataan bahwa kini aku hidup seorang diri, tanpa ada yang menemani. Tak bisa disangkal, aku kerap merasa kesepian.

Dua tahun yang lalu, aku masih tinggal di kamar pribadi yang lebih seperti istana dibanding kamarku sekarang. Luasnya mungkin tiga kali kontrakanku ini. Bebas nyamuk, semut, dan kecoak. Setiap kali kenangan itu datang, rasa syukurku sangat cepat menguap. Berganti dengan rasa ingin menyerah dari kehidupan yang kini kujalani.

Aku beranjak keluar kamar, meraih handuk di gantungan sebelah pintu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Langkahku terhenti sebentar saat melewati kanvas di ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Aku tersenyum lega melihat lukisan yang akhirnya selesai kukerjakan tadi malam. Pesanan Pak Yudi. Pengusaha tahu yang baik hati. Lukisan itu akan menjadi hadiah Pak Yudi dan teman-teman kelompok kecilnya untuk ulang tahun pernikahan pendeta mereka. Lukisan itu juga menjadi hadiah untukku, karena dengan menyelesaikannya, aku akan bisa membayar uang kontrakanku untuk bulan ini. Lagi-lagi perasaanku jadi campur aduk. Dua tahun lalu, uang jajanku sebulan bisa membayar uang kontrakan ini selama lima bulan. Mengandalkan bakat melukis untuk hidup bukanlah jalan yang mudah. Kalau aku lulusan jurusan seni rupa dari universitas ternama mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bahkan tidak sempat menyelesaikan SMA-ku. Jika bukan karena Pak Yudi dan kenalan-kenalannya, entah dari mana aku bisa mendapat pesanan lukisan setiap bulan.

***

Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua siang ketika aku kembali dari mengantar lukisan ke rumah Pak Yudi dan singgah sebentar di warung makan. Matahari sangat terik di sepanjang perjalanan, membuatku merasa sangat gerah dan lelah. Begitu masuk rumah, aku segera menyalakan kipas angin lalu menyandarkan tubuh di sofa. Ahhh enaknya…. Entah sudah berapa lama usia sofa kusam ini, tetapi menurutku masih cukup nyaman untuk dipakai. Saatnya untuk bersantai, pikirku sambil merogoh tas, mencari-cari alat pemutar MP3 kesayanganku. Sepanjang pagi tadi aku sibuk membuat tiga sketsa lukisan baru. Sabtu pagi memang hari yang paling nyaman untuk menyelesaikan pesanan lukisan atau menggarap ide-ide baru. Sudah seminggu ini, dari hari Senin sampai Jumat aku sibuk menjadi asisten guru di sebuah taman bermain—pekerjaan yang baru kuperoleh, lagi-lagi atas rekomendasi Pak Yudi.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini
Satu perkara yang kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu ‘kan terjadi tanpa Allah peduli

Ternyata tidak mudah bagiku untuk bersantai sepenuhnya. Baru satu bait lagu itu mengalun, lelehan kristal bening sudah berlomba membasahi pipiku. Tuhan, berapa lama lagi aku harus hidup seperti ini?

Allah mengerti Allah peduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
Kubergumul sendiri
S’bab Allah peduli

Ya, Tuhan, aku tahu Engkau peduli dan mendengar doa-doaku, aku tidak akan menyerah … jadilah kehendak-Mu dalam hidupku,” gumanku dalam hati, berusaha menepis bayangan-bayangan masa lalu dan impian-impian masa depan yang membanjiri pikiranku. Memangnya kamu sudah siap bila Tuhan menjawab doamu sekarang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, menggantung di ambang pikiranku. Namun, aku sudah terlalu lelah untuk menanggapinya. Pipiku yang basah mulai mengering oleh semilir kipas angin. Bersamaan dengan itu, aku pun terlelap.

Ellea …” Sebuah tangan yang halus terasa membelai wajahku. Aku tersentak bangun. Mataku terbelalak mendapati orang yang selama ini kurindukan berada di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku memeluknya. Ia balas memelukku. Lalu tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu yang sangat kuat menghampiri pikiranku. Seperti tersadar dari mimpi, aku segera melepaskan pelukanku dan mendorong orang itu dengan kasar.

Bagaimana kalian bisa ada di sini? Mau apa kalian datang?” Aku berteriak-teriak seperti orang gila sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa bisa kukendalikan. Semua peristiwa yang tadinya sudah kusimpan rapat-rapat seolah diputar kembali di hadapanku.

 
Bersambung …

3 Hal yang Kugumulkan dalam Mengampuni

Oleh: Ian Tan
(artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Things About Forgiveness I Grapple With)

3-THINGS-ABOUT-FORGIVENESS-I-GRAPPLE-WITH

Pengampunan lebih sering dibicarakan daripada dipraktikkan. Mengapa begitu sulit untuk mengampuni? Apa sebenarnya arti mengampuni?

1. Mengampuni tidak berarti melupakan
Kita mungkin sering mendengar ungkapan bahwa kita harus “mengampuni dan melupakan”. Tetapi, praktiknya, upaya “mengampuni dan melupakan” itu bisa membuat sebagian kita sangat lelah dan frustrasi oleh luka-luka masa lalu dan masalah yang sebenarnya belum sepenuhnya selesai. Ketika kita mengampuni seseorang, tidak berarti berbagai konsekuensi menyakitkan yang telah ditimbulkan oleh orang itu serta merta hilang. Ini adalah hal yang menurutku paling sulit dihadapi.

Bayangkanlah situasi suami atau istri yang berselingkuh. Sekalipun ia kemudian menyesali dan minta ampun kepada pasangannya, sangat wajar jika suami atau istri yang telah dikhianati itu tetap hancur dan sakit hatinya. Melupakan hal yang menyakitkan bukanlah sesuatu yang alamiah bagi kita sebagai manusia yang diberi Tuhan kapasitas untuk mengingat. Kecuali ada keajaiban yang membuat memori menyakitkan itu hilang, kita akan tetap dapat mengingatnya dalam waktu yang lama. Sangat sering aku berkata “Tidak apa-apa, aku memaafkanmu,” dan menyadari bahwa perasaanku sebenarnya berkata lain. Pengampunan tidak sedikit pun menghapus memori yang menyakitkan.

2. Mengampuni tidak berarti kita mendapat keadilan
Selain mustahil melupakan kesalahan orang kepada kita, tindakan mengampuni orang yang sebenarnya tidak layak diampuni itu sama halnya dengan tidak mendapat keadilan. Di dalam Alkitab, kita belajar bahwa seringkali, pengampunan harus tetap diberikan sekalipun tidak diminta.
Belum lama ini aku membaca tentang seorang pria dari Kamboja, Sokreaksa Himm, yang menyaksikan seluruh anggota keluarganya dibantai oleh tentara Khmer Merah di depan matanya sendiri saat ia berusia 14 tahun. Trauma masa remaja itu membuatnya tumbuh dalam kepahitan dan kemarahan, menyebabkan ia ingin membalas dendam. Sekian tahun kemudian, Sokreaksa mengenal Yesus sebagai Juruselamat pribadinya dan belajar bahwa ia harus mengampuni untuk mengatasi kebencian dan kepahitan yang ia miliki terhadap orang-orang yang telah membunuh keluarganya. Akhirnya, ia mencari para pembunuh itu, tetapi bukan untuk membalas dendam. Ia memberitahu mereka satu per satu bahwa ia telah memaafkan mereka. Bagiku sungguh mengherankan bahwa seorang manusia bisa mengampuni dalam situasi yang demikian. Para pembunuh itu tidak memohon pengampunan, mereka bahkan tidak mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Pengampunan berarti kita tidak membalas orang lain setimpal dengan kesalahan mereka.

3. Mengampuni tidak menjamin adanya perubahan
Apa yang terjadi setelah pengampunan diberikan? Akankah orang yang diampuni berubah? Pengalamanku selama bertahun-tahun sebagai seorang guru mengajarku bahwa tidak ada jaminan bahwa orang yang diampuni akan mengalami transformasi hidup. Ia bisa saja terus mengulangi kesalahan yang sama. Setiap kali aku duduk bersama murid-muridku untuk mengoreksi kelakuan mereka yang salah dan memberitahu mereka bahwa mereka sudah dimaafkan, selalu saja ada perasaan ragu bahwa mereka akan berubah, karena aku ingat bahwa mereka sudah pernah melakukan kesalahan yang sama.

Mengampuni—mungkinkah dilakukan?
Kesadaran bahwa mengampuni itu tidak menghapus ingatan akan kesalahan orang, tidak adil bagi kita yang telah disakiti, dan tidak ada jaminan bahwa hidup orang yang diampuni akan berubah, dapat membuat kita merasa mustahil untuk mengampuni. Namun, kita diminta untuk meneladani Kristus yang mengampuni dosa hingga mati di kayu salib (Kolose 3:12-13). Apa yang sudah dilakukan Yesus membuatku mengerti bahwa ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pengampunan. Yesus memberikan nyawa-Nya bagi pengampunan kita, yang sesungguhnya sangat tidak layak menerima pengampunan itu.

Menurutku, kita perlu mengubah cara kita memandang diri kita dan orang lain. Seringkali aku menemukan bahwa aku sulit mengampuni karena aku membanding-bandingkan besarnya kesalahan orang lain dengan kesalahanku sendiri. Kita baru dapat mengampuni ketika kita lebih dulu memandang salib Yesus, mengingat bahwa di hadapan Allah semua kesalahan sesungguhnya sama-sama tidak layak diampuni, namun oleh anugerah-Nya, Yesus menyucikan kita dengan darah-Nya.

Mengampuni dan melupakan adalah sesuatu yang mustahil dilakukan. Tetapi, mengampuni sekalipun kita ingat kesalahan yang telah menyakiti kita, itu adalah anugerah Allah, dan dapat terjadi hanya karena Yesus dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Mari memandang salib-Nya untuk mendapatkan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengampuni, karena pengampunan hanya dapat dimungkinkan oleh Dia yang telah mati dan telah mengampuni kita.

Mengasihi Itu Tidak Mudah

Oleh: Deborah Tao
(artikel asli dalam bahasa Mandarin: 「愛」難,愛人更難)

Mengasihi-Itu-Tidak-Mudah

Kasih adalah konsep yang selalu sulit kumengerti. Dengan kondisi keluarga seperti yang kuhadapi, kasih adalah sesuatu yang terlalu indah untuk dibayangkan, terlalu jauh untuk diraih.

Ketika aku berusia 14 tahun, ibuku menikah lagi. Aku bersama ibu dan adikku lalu bermigrasi dari China ke Singapura untuk tinggal bersama ayah tiriku yang adalah warga negara Singapura. Saat itu aku bertanya-tanya dalam hati: Mengapa ibu menikah lagi? Mungkin ia sangat mencintai ayah tiriku itu.

Tetapi, ternyata ibuku malah sering bertengkar dengan ayah tiriku. Ibuku memang mudah naik darah dan keras kepala. Ketika konflik terjadi di antara mereka, barang-barang di rumah akan beterbangan, diikuti suara kaca yang pecah. Setiap kali mereka ribut, aku akan menyelinap keluar dari rumah untuk jalan-jalan sejenak. Namun, tetap saja suara-suara penuh kemarahan itu terdengar di seputar kompleks tempat kami tinggal. Perkelahian mereka kerap membekaskan luka di tubuh ayah tiriku dan mengundang kunjungan polisi. Sudah sering aku menangis dan berkata kepada ibuku bahwa aku rindu punya keluarga yang harmonis, tetapi jawabannya selalu meremukkan hati: “Itu tidak akan pernah terjadi”.

Parahnya lagi, hidup di Singapura tidaklah seperti yang kami bayangkan. Aku harus bisa mencukupkan diri dengan uang dua dolar sehari. Sebaik apa pun aku membaginya, tetap saja aku sering menahan lapar. Bisa punya cukup makan sehari sudah membuatku bahagia, sangat kontras dengan teman-temanku yang berusaha keras mengurangi makanan mereka demi menjaga bentuk tubuh. Kebiasaan mereka sangat menggangguku. Setiap kali aku melihat orang membuang-buang makanan, rasanya ingin sekali aku menggantikan mereka untuk memakannya sampai habis.

Demi mengisi perut, aku mulai bekerja paruh waktu pada umur 15 tahun. Pagi hingga siang hari aku sekolah, lalu malamnya aku bekerja sebagai seorang pelayan hotel. Sebagai konsekuensinya, aku hanya bisa beristirahat 4-5 jam setiap harinya. Namun, sekalipun sudah bekerja keras, aku tetap saja hampir tidak bisa memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bisa dibilang tiga tahun itu adalah masa-masa tersulit dalam hidupku dan aku selalu merasa kelelahan.

Aku sangat sedih dengan kondisi hidupku, sekaligus sangat iri dan benci kepada mereka yang dilahirkan dalam keluarga bahagia. Aku bertekad suatu hari nanti akan meninggalkan keluargaku dan menjalani kehidupan yang kudambakan.

Demi mencapai tujuanku, aku mulai bekerja lebih keras agar bisa menabung. Bahkan pada hari sebelum ujian pun, aku tetap pergi bekerja seperti biasa. Aku belajar lebih giat agar dapat meraih apa yang kucita-citakan. Hidupku sarat dengan keletihan dan kemarahan. Aku berjalan tanpa arah dan kehilangan tujuan hidup.

Tak kuat lagi menanggung kesengsaraan dalam hidup, aku akhirnya memutuskan untuk menyerah. Namun, pada hari aku hendak mengakhiri hidupku, aku bertemu dengan seorang pendeta. Ia memberitahuku bahwa Tuhan mencintaiku. Saat itu aku berpikir, “Kalau benar Tuhan ada, Dia tidak mungkin membiarkan aku menderita seperti ini.”

Jadi aku bertanya kepada pendeta itu, “Bisakah Anda memberiku alasan mengapa aku harus tetap hidup?” Ia menjawab, “Jika kamu terus hidup, kamu dapat menolong banyak orang untuk hidup lebih baik.” Hatiku bergetar. Momen itu memperbarui tujuan hidupku, Tuhan memberiku alasan untuk tetap hidup.

Aku pun mulai menghadiri kebaktian di gereja dan mengenal banyak saudara-saudari seiman dalam Kristus. Kami saling mendukung seperti layaknya sebuah keluarga. Melalui proses membaca dan mendalami Alkitab, aku belajar apa artinya mengasihi diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan melepaskan beban masa lalu.

Dulu aku tidak tahu bagaimana cara menghargai hidupku sendiri, juga tidak tahu bagaimana bersikap sabar dan baik terhadap orang lain. Aku tidak bisa menerima kesalahan, aku seorang yang perfeksionis. Keangkuhanku seperti tembok yang tidak dapat ditembus—tebal dan keras.
Namun, setelah mengenal Yesus, karakterku mulai diproses dan diubahkan. Yesus mengajarku untuk mengasihi, untuk menerima perbedaan, dan untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, sembari memberi diriku sendiri waktu untuk belajar dan memperbaiki diri. Aku juga belajar untuk rendah hati, menanggalkan kesombonganku, dan melepaskan diri dari kepahitan masa lalu.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku memberi diri menjadi volunter, dan bertemu banyak orang yang juga telah kehilangan tujuan hidup mereka. Atas kasih karunia Tuhan, kesaksian hidupku menguatkan mereka untuk memulai kehidupan yang baru.

Mengingat kehidupanku yang dulu, sungguh tidak pernah terpikir olehku bahwa Tuhan akan menyediakan sebuah keluarga lain (dalam Kristus) untukku (dan anggota keluarga besar ini terus bertambah!). Seiring aku bertumbuh makin dekat dengan Tuhan, aku juga belajar untuk mengampuni ibuku. Aku mulai bisa memahami bahwa ia sebenarnya juga menderita; ia menyakiti kami dengan tutur lakunya karena ia sendiri tidak mengenal Tuhan. Bila aku berada pada posisinya, mungkin aku juga akan memiliki sikap yang sama.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas damai dan sukacita yang telah Dia diberikan kepadaku sejak aku mengenal Dia secara pribadi. Kiranya Tuhan juga memberikan berkat yang sama bagi Saudara.