Posts

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Oleh Olyvia Hulda S, Sidoarjo

Ditegur, kita semua pernah mengalaminya. Ketika ditegur, kita mungkin merasa kaget, malu, sedih, menyesal, atau bahkan marah. Bila tegurannya disampaikan dengan sopan dan pengertian, mungkin kita merasa dikasihi. Namun, bila teguran yang dilayangkan ditambah dengan intonasi tinggi dan kata-kata pedas, bukan tidak mungkin akan muncul rasa tersinggung dan sakit hati yang berkepanjangan.

Terlepas dari bagaimana cara teguran itu disampaikan, kita tentu sepakat bahwa teguran sejatinya punya maksud baik. Seseorang biasanya ditegur jika dia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang disepakati. Sehingga, tujuan dari teguran adalah agar seseorang kembali bertindak benar, tidak melenceng dari nilai dan norma yang ada.

Namun, meskipun teguran punya tujuan yang baik, banyak dari kita tidak suka bila ditegur. Jika boleh memilih, mungkin kita lebih suka dipuji. Ketika pujian memberikan apresiasi atas diri atau prestasi kita, teguran mengganggu naluri ke-aku-an kita.

Alkitab memberi kita dua contoh yang menarik mengenai teguran. Pertama, kisah tentang Raja Uzia. Dalam 2 Tawarikh 26:16-21, dikisahkan Raja Uzia telah berubah menjadi tinggi hati dan tidak setia. Suatu ketika, dia masuk ke bait Allah untuk membakar ukupan di atas mezbah. Tugas tersebut seharusnya hanya dilakukan oleh imam, sehingga atas perbuatannya, Uzia pun mendapatkan teguran keras dari Imam Azarya. “Hai, Uzia, engkau tidak berhak membakar ukupan kepada TUHAN, hanyalah imam-imam keturunan Harun yang telah dikuduskan yang berhak membakar ukupan! Keluarlah dari tempat kudus ini, karena engkau telah berubah setia! Engkau tidak akan memperoleh kehormatan dari TUHAN Allah karena hal ini” (ayat 18). Apa yang terjadi selanjutnya? Teguran itu tidak diindahkan. Uzia malah menjadi marah dan diluapkannya amarah itu kepada para imam. Allah lantas menimpakan tulah kepada Uzia berupa sakit kusta sampai kepada hari kematiannya.

Kisah kedua mari kita lihat dari Daud. Dalam 2 Samuel 12, dikisahkan Allah mengutus Natan datang kepada Daud sebagai respons atas perbuatan keji Daud mengambil Batsyeba, istri dari Uria. Natan lalu menceritakan sebuah perumpamaan kepada Daud tentang seorang kaya yang mengambil kepunyaan dari seorang miskin. Mendengar perumpamaan itu, Daud menjadi marah dan mengatakan seharusnya orang kaya yang berbuat semena-mena itu dihukum mati. Daud tidak sadar kalau perumpamaan itu bukan sekadar cerita, itu adalah teguran terselubung baginya. Ketika Daud tidak menyadari kalau sosok orang kaya di perumpamaan itu adalah gambaran dirinya, Natan merespons Daud dengan keras, “Engkaulah orang itu!….Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya?” (ayat 7 dan 9).

Berbeda dengan Uzia yang merespons teguran dengan amarah yang meletup-letup, teguran keras dari Natan seketika menghantam hati Daud hingga melalui mulutnya dia mengakui, “Aku sudah berdosa kepada TUHAN” (ayat 12). Natan menjawab, “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati” (ayat 13-14). Daud berbalik dari dosanya dan mendapatkan pengampunan Allah meskipun konsekuensi dari dosa tersebut tetap harus ditanggungnya.

Dari dua kisah tentang dua raja Israel yang memerintah pada masa Perjanjian Lama, kita melihat bahwa teguran yang Allah sampaikan melalui perantaraan imam dan nabi bernada keras. Tetapi, Uzia dan Daud menunjukkan respons hati yang berbeda. Respons hati inilah yang menentukan kelanjutan kisah mereka: Daud memperoleh pengampunan dan berbalik pada Allah, hingga dia pun tercatat sebagai seorang yang berkenan di hati Allah (Kisah Para Rasul 13:22) , sedangkan Uzia mendapatkan tulah hingga pada hari meninggalnya.

Teguran seringkali datang pada kita secara tidak terduga dan pada keadaan yang tidak kita harapkan. Tetapi, hal ini tentulah wajar karena sebagai manusia biasa, kita tidak pernah luput dari perbuatan salah. Yang paling penting ketika sebuah teguran datang kepada kita ialah kita belajar seperti Daud, dengan rendah hati menerima teguran tersebut, mengintrospeksi diri, dan memperbaiki perbuatan kita di masa mendatang. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima setiap teguran yang ada. Ketika teguran yang disampaikan seolah tidak selaras dengan realita yang sebenarnya, alih-alih segera emosi kita dapat berdiskusi dan mencoba memahami maksud dari si penegur, bukan hanya fokus pada nada atau kata-kata teguran yang disampaikan. Dengan kita memahami maksud utama dari suatu teguran, itu dapat menolong kita mengurangi prasangka negatif terhadap orang yang memberi teguran itu serta menghindari kita dari kemungkinan merasa sakit hati. Dan, satu hal yang terpenting lainnya ialah jika kita merasa teguran yang disampaikan terlalu berat untuk kita cerna, adalah baik untuk bersikap tenang sejenak sebelum kita merespons.

Ada sebuah ayat yang mendorongku untuk tidak berpikir negatif terhadap mereka yang pernah menegurku, yakni Mazmur 141:5, “Biarlah orang benar memalu dan menghukum aku, itulah kasih”.

Aku percaya bahwa teguran-teguran yang disampaikan padaku memiliki maksud yang baik, terlepas dari kemasannya yang baik maupun tidak. Teguran itu mengingatkanku agar aku tidak merasa nyaman dengan pelanggaran dan kesalahan, serta bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Teguran-teguran dari orang-orang di sekeliling kita bisa menjadi sarana dari Allah untuk membuat kita terhindar dari jalan yang jahat. Memang teguran tidak semanis pujian, tetapi pada momen-momen tertentu dalam hidup kita, kita sungguh membutuhkan teguran.

Adakah di antaramu yang masih kepahitan dengan mereka yang menegurmu? Aku berdoa agar Tuhan menyembuhkan lukamu, serta memberikan hikmat dan pemahaman untuk menyadari kesalahan yang diperbuat, dan kembali bertindak benar. Percayalah, mereka yang menegur kita, apapun ‘kemasannya’, mereka adalah orang yang mengasihi dan peduli dengan hidup kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bukan Cuma Tentang Romantis, Inilah Sesungguhnya Kasih Itu

Coklat, sekuntum bunga, atau kata-kata manis, seringkali kita berikan sebagai ungkapan atas rasa cinta. Dan, cinta seringkali diidentikkan dengan perasan atau suasana romantis. Tapi, hari ini, yuk kita telusuri kembali apa sesungguhnya makna cinta atau kasih itu.

Menegur dengan Maksud Baik

Oleh Yuki Deli Azzolla Malau, Jakarta

Sewaktu menjadi pengurus di bagian acara persekutuan kampus kami di Pekanbaru, Johan rekan sepelayananku di bidang acara menunjuk Sari* untuk menjadi singer dalam Kebaktian Awal Tahun Akademik (KATA). Sari adalah adik tingkat kami yang telah mengikuti pembinaan. Kami menilai Sari punya relasi yang baik dengan Tuhan.

Atas pertimbangan relasi pribadinya yang erat dengan Tuhan, juga kedekatan kami dengannya, Johan pun menunjuk Sari sebagai singer di ibadah tersebut. Supaya ibadah bisa berlangsung baik, bisanya kami mengadakan latihan tiga sampai empat kali.

Ketika hari pertama latihan, aku dan seluruh rekan pengurus, termasuk Johan, menyadari bahwa Sari rupanya tidak punya talenta dalam menyanyi. Johan sendiri tidak memastikan apa talenta Sari sebelumnya. Karena takut melukai perasaan Sari, Johan tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Sari. Pun kami sebagai rekan pelayanan tidak berupaya untuk mendorong dan menegur Johan supaya dia berkata jujur pada Sari. Kami tidak ingin dianggap mengambil alih tanggung jawab Johan.

Ibadah KATA pun berlangsung. Sari menyanyikan lagu pengantar saat teduh secara solo. Menyadari hal yang sama dengan para pengurus, jemaat yang harusnya mengambil sikap teduh jadi tidak kondusif. Sari pun menyadari respons jemaat, dia menjadi sangat sedih dan malu. Kejadian ini lalu membuat kami merasa sangat bersalah karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan menegur Johan.

Menegur ataupun mengatakan kebenaran seringkali menjadi dilema bagi tiap orang, termasuk orang percaya. Atas dasar relasi yang baik, kita tidak siap dengan risiko atau dampak yang akan dihasilkan, baik sebagai orang yang menyatakan atau menerima kebenaran itu sendiri. Sebagai orang yang akan menyatakan kebenaran kita takut orang yang menerimanya akan terluka, tidak terima dan dapat merusak relasi kita dengannya. Sedangkan sebagai orang yang menerima, kita tidak siap untuk rendah hati menerima teguran atau kebenaran.

Salomo dalam Amsal 27:5-6 mengatakan, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” Ayat ini mengajarkan kita untuk menyatakan kebenaran dan teguran secara nyata sebagai bentuk kasih. Kita diajarkan bahwa kebenaran ataupun teguran meskipun sakit dan tidak mengenakkan di awal apabila didasarkan dengan kasih dan maksud baik akan mendatangkan kebaikan bagi kita dan setiap orang yang mendengar dan menerimanya.

Salomo juga di dalam kitab Amsal menyatakan beberapa manfaat teguran. Teguran mendidik kita untuk tetap berada di jalan yang seharusnya (Amsal 6:23), membawa kita kepada kehidupan (Amsal 15:31), memperoleh akal budi (Amsal 15:32) dan mendatangkan hikmat (Amsal 29:15).

Mengasihi orang lain, berarti kita bersedia untuk terus mendorong dan membantu orang yang kita kasihi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk dengan mengungkapkan kebenaran dan teguran yang membangun bagi mereka. Dengan teguran yang dilandaskan kasih, kita mengingatkan orang yang kita kasihi agar tetap berada atau berbalik kepada kebenaran. Kita juga dapat menghindarkan mereka dari kejatuhan ataupun kesalahan yang terlalu dalam. Serta membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal yang sama juga berlaku dengan kita. Ketika kita menerima kebenaran dan teguran dari orang yang mengasihi kita, kita harus melihatnya sebagai bentuk kasih untuk kita dan kerinduan yang mendatangkan kebaikan buat kita. Kita harus merespons teguran dengan sikap terbuka dan merefleksikan diri hingga kita dapat melihat manfaat dan tujuan teguran tersebut sebagai sesuatu yang membangun.

Dalam Wahyu 3:19 dikatakan, “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Tuhan sendiri pun mengingatkan kita bahwa teguran adalah salah satu bentuk kasih. Justru ketika dalam kesalahan dan kejatuhan kita tidak ditegur atau menegur itu tanda bahwa kita tidak peduli dan dipedulikan. Pukulan dengan maksud baik akan membangun sedangkan pujian yang palsu akan menjatuhkan.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

“Pelayanan” Yang Kurang Pas Disebut Pelayanan

Kita tahu bahwa pelayanan bisa dikritisi dari berbagai macam sisi. Kita bisa melihat motivasinya. Kita bisa melihat caranya. Apakah motivasi dan caranya memuliakan Tuhan? Tetapi, satu sisi dari pelayanan yang jarang kita perhatikan adalah efektivitasnya. Apakah betul yang dilakukan menghasilkan sesuatu yang baik untuk kerajaan Tuhan?

Ketika Saudaramu Berbuat Dosa

Hari ke-30 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Ketika Saudaramu Berbuat Dosa

Baca: Yakobus 5:19-20

5:19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,

5:20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

Ketika Saudaramu Berbuat Dosa

Pertama kali aku bertemu dengan temanku, ia mengaku sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saat ia berusia 6 tahun. Namun, saat aku mendorongnya untuk datang ke gereja secara teratur, ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan agak malu. Ia mengatakan bahwa ia sebenarnya bergumul dengan kecanduan dan ingin membereskan hidupnya dulu sebelum datang kembali kepada Tuhan.

Kami masih terus saling kontak. Tiga tahun kemudian, ia masih bergumul dengan kecanduan dan juga beberapa keputusan yang buruk dalam hidupnya. Setiap kali kami berbicara, ia berusaha meyakinkanku bahwa ia sedang berusaha berubah. Namun, setiap kali, aku melihat ia makin menderita (secara fisik dan emosional) akibat pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Apakah kamu mengenal seseorang yang, dalam bahasa Yakobus, “menyimpang dari kebenaran”? Ada orang yang menyimpang dalam hal doktrin tentang Tuhan dan tentang Injil. Ada pula orang yang doktrinnya benar, tetapi tidak lagi hidup menurut apa yang diketahuinya itu.

Temanku adalah contohnya. Ia mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya—tetapi pengakuan itu tidak pernah bisa dilihat dari cara ia hidup.

Seperti yang ditekankan Yakobus dalam suratnya, Tuhan tidak menghendaki pengakuan superfisial kita akan Dia. Tuhan mau kita mewujudnyatakan Injil dalam cara kita hidup.

Tidak berhenti di sana, Tuhan juga mau kita peduli dengan saudara-saudara seiman kita di dalam Kristus. Saat kita melihat sesama pengikut Kristus mulai menyimpang dari kebenaran, baik itu dalam pemikiran atau perbuatannya, Yakobus berkata bahwa harus ada “seseorang yang membuat dia berbalik” (ayat 19).

Untuk mendorong kita memperhatikan jiwa-jiwa yang terhilang, Yakobus mengingatkan bahwa “barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa” (ayat 20).

“Menutupi banyak dosa” berarti bahwa Tuhan akan mengampuni dosa-dosa itu (Roma 4:7). Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk ditebus oleh pengorbanan Kristus. Saat kita menolong seorang saudara seiman untuk kembali pada Tuhan, apapun dosa yang sudah ia perbuat, pengampunan Tuhan tersedia untuk menyelamatkan mereka dari kematian rohani. Apa yang lebih luar biasa daripada sebuah kehidupan yang diperbarui dalam Kristus? Sungguh luar biasa kalau Tuhan mengizinkan kita ikut ambil bagian dalam karya pemulihan-Nya yang mengagumkan itu!

Namun, bagaimana caranya kita bisa menolong orang yang sudah menyimpang untuk kembali kepada Tuhan?

Kita dapat mengasihi mereka. Kita mengasihi mereka sama seperti Kristus mengasihi kita, dan itulah alasan kita mau peduli dan berusaha membawa mereka kembali kepada Tuhan (Yohanes 15:12). Mengasihi saudara-saudara seiman mencegah kita jatuh ke dalam dosa menghakimi atau bergosip. Saat kita mengasihi, kita akan berusaha menjaga hubungan baik dengan orang tersebut, dan hubungan yang baik itu dapat saja dipakai Tuhan untuk menyatakan karya-Nya.

Kita juga dapat berdoa—secara teratur dan dengan penuh keyakinan. Pada akhirnya, bukan argumen pintar atau perkataan tulus kita yang bisa mengubah pikiran seseorang. Roh Kudus yang bekerja di kedalaman hati orang tersebut, Dialah yang berkuasa membawa orang itu kembali. Dengan berdoa, kita membawa permohonan kita langsung kepada Tuhan, yang mengasihi orang itu jauh lebih daripada kita mengasihi mereka.

Kita juga dapat dengan kasih menegur orang yang sudah menyimpang dari Tuhan. Kasih melarang kita untuk sekadar menjadi seorang pengamat di pinggir lapangan, hanya diam menonton, sementara seseorang sedang kehilangan jiwanya. Saat berbicara dengan seseorang yang tindakannya melawan Tuhan, ”jangan anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara” (2 Tesalonika 3:15), dengan kasih dan doa.

Tuhan menghendaki kita mewujudnyatakan Injil dalam hidup kita sehari-hari, Dia berduka saat salah satu dari kita menyimpang. Sebagai saudara seiman dalam Kristus, mari kita berkomitmen untuk saling menjaga satu sama lain karena kasih kita kepada Tuhan dan kasih kita kepada sesama saudara.

Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kiranya kita menyatakan kasih dalam tindakan dan bergantung sepenuhnya pada anugerah dan pimpinan Tuhan, percaya bahwa Dia akan terus bekerja dalam kehidupan semua orang yang adalah milik kepunyaan-Nya. —Christine Emmert, Amerika Serikat

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apakah kamu mengenal seseorang yang sudah menyimpang dari Tuhan? Tanda-tanda apa saja yang bisa mengindikasikan seseorang mulai menyimpang dari kebenaran?

2. Satu langkah apa yang bisa kamu ambil untuk menolong saudara seiman yang menyimpang untuk dapat kembali lagi kepada Tuhan?

3. Satu kebenaran apa dari firman Tuhan yang dapat kamu pegang dalam proses membawa saudara seimanmu kembali ke jalan yang benar?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Christine Emmert, Amerika Serikat | Christine adalah seorang pengikut Kristus, pecinta buku dan makanan. Hidup ini indah, katanya, dan setiap hembusan nafas adalah pengingat bahwa di dalam segala keadaan Tuhan itu selalu baik. Dia dan suaminya sedang membangun sebuah keluarga yang mencari Kristus dan menjadi terang dan garam di antara bangsa-bangsa. Ezra 7:10 adalah ayat favoritnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus