Posts

Melawan Cuek, Raksasa Penumpul Jiwa

Oleh: Andhika Ariella Lumembang

cerita-pelayanan-kami

Tidak terbayangkan sebelumnya aku akan makan bersama para preman, bergaul dengan penghuni area pembuangan sampah, juga menerjang arus deras demi mengantar bantuan bagi para korban banjir; orang-orang yang kelaparan, haus, dan telanjang, seperti yang digambarkan Tuhan Yesus dalam Matius 25:35-40.

Sebelum menginjakkan kaki ke tanah Jawa, aku tidak banyak memikirkan tentang orang lain di sekitarku. Cuek. Seperti kebanyakan orang, aku punya banyak mimpi yang ingin kucapai, mana ada waktu mengurusi orang lain? Aku juga bukan orang yang sangat memuja Tuhan. Aku tak pernah meluangkan waktu untuk mengenal-Nya lebih karib. Aku merasa hidupku baik-baik saja dengan atau tanpa Dia.

Namun, Tuhan kemudian membukakan mataku tentang siapa sesungguhnya aku di hadapan-Nya. Seperti secarik kain kotor yang tidak berharga. Jika bukan karena kasih Tuhan, kehidupanku ini tidak ada artinya. Aku disadarkan betapa aku membutuhkan Tuhan. Dialah yang seharusnya menjadi dasar hidupku. Dan, seiring pertumbuhan imanku, mataku pun mulai terbuka melihat betapa banyaknya orang di sekitarku yang membutuhkan anugerah yang sama.

Bersama adik saya, Meyyer, dan beberapa sahabat dekat, kami mulai memikirkan apa yang bisa kami lakukan untuk membagikan kasih Tuhan kepada orang-orang di sekitar kami. Dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti mengumpulkan pakaian bekas layak pakai dari rumah ke rumah, lalu kami bagikan kepada anak-anak jalanan dan orang-orang miskin. Mengandalkan BBM, Facebook, dan Twitter, kami berusaha membangun komunitas yang peduli. Kami menamakan pelayanan kami sebagai Theou Foundation (Wadah yang Berfondasikan Tuhan) dan STLC (Save Their Life Community, komunitas yang menyelamatkan mereka yang didera rasa lapar, haus, dan keterasingan).

Kedengarannya mulia, tetapi praktiknya ada lebih banyak cemooh dan tawa daripada pujian yang kami terima. Kelihatannya sederhana, tetapi, prosesnya sungguh tidak mudah. Dalam masyarakat modern yang sibuk, sikap cuek laksana raksasa yang menghambat kasih untuk dibagikan. Tidak peduli, masa bodoh, terutama dengan orang yang berbeda dengan kita. Masalah sendiri sudah banyak, untuk apa menyusahkan diri dengan kebutuhan orang lain? Kerap aku merasa seperti pejuang di jalan sunyi. Hati menangis melihat banyak orang yang lemah tak berdaya, namun aku sendiri tidak punya kapasitas yang cukup untuk menolong mereka. Rasanya jauh lebih mudah untuk ikut bersikap cuek. Namun, aku diingatkan bahwa dasar pelayananku adalah Tuhan sendiri, bukan aku dan segenap kemampuanku. Jadi, kami terus melangkah hingga hari ini dengan keyakinan bahwa setiap hal yang kami lakukan bagi mereka yang membutuhkan, tanpa pandang bulu, semua itu kami lakukan bagi Tuhan yang telah mengasihi kami. Dan, Dia memperhatikan setiap hal yang kami lakukan, sekecil apa pun itu.

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan”—Matius 25:35.

Mungkin kamu juga pernah atau sedang merasa seperti pejuang di jalan sunyi. Kamu gelisah melihat berbagai kebutuhan di sekitarmu, tetapi kamu tak berani melangkah karena merasa tak mampu. Lebih banyak orang yang cuek daripada yang mendukung. Ingatlah bahwa yang seharusnya menjadi dasar pelayanan kita adalah Tuhan saja, bukan yang lain. Kita tidak menunggu hidup kita sempurna dan berkelebihan baru melayani. Kita tidak menunggu semua orang melihat dan mendukung kita baru mulai menolong sesama yang membutuhkan. Jangan biarkan sikap cuek menumpulkan jiwa kita. Isi diri terus dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, agar kita tetap peka dan bersemangat dengan apa yang ingin Tuhan lakukan melalui hidup kita. Hidup di dunia ini terlalu singkat. Mari mulai melakukan hal-hal yang bernilai kekal. Menyatakan kasih Tuhan di tengah komunitas kita melalui tiap talenta dan kesempatan yang Tuhan berikan. Membagikan pengharapan yang kita miliki di dalam Kristus, kepada dunia yang sungguh membutuhkan-Nya.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah …” —Filipi 1:21-22

 
Tentang penulis
Andhika & Meyyer Lumembang adalah kakak beradik yang merintis komunitas sosial Save Their Live Community di bawah naungan Theou Foundation pada bulan April 2012, sebagai tanggapan atas berbagai kebutuhan masyarakat di sekitar mereka. Mereka menghimpun dan menyalurkan donasi secara jujur, transparan, dan bertanggung jawab, kepada sesama yang membutuhkan, tanpa memandang suku, ras, dan agama.

Mengapa Aku?

Oleh: Jason Chen, Taiwan
(Artikel asli dalam Bahasa Mandarin tradisional: 為什麼是我?)

Artikel-WarungSaTeKaMu-Why-Me-2

Why Me? [Mengapa Aku?] Itulah judul menarik dari sebuah buku yang aku baca belum lama ini; sebuah pertanyaan yang membuatku kembali ingat dengan banyak hal yang pernah kualami.

Tersirat di dalamnya sebuah pertanyaan yang lebih besar: “Mengapa Tuhan mengizinkan manusia mengalami penderitaan yang begitu berat?” Aku sendiri pernah mengajukan pertanyaan ini kepada Tuhan. Saat itu aku baru kehilangan orang yang kukasihi, harus menghadapi konflik dalam keluarga, tertekan dalam studi, bermasalah dalam hubungan, goyah dalam iman, juga menderita gangguan rasa takut dan cemas. Semua pengalaman yang berat dan menyakitkan itu hampir membuatku mati rasa. Rasanya seperti jatuh dalam sebuah jurang tanpa dasar. Aku tidak bisa keluar dari sana. Pada waktu-waktu tertentu (aku tidak ingat kapan persisnya), aku mulai menghindari orang lain, merasa takut dengan tatapan orang lain dan merasa sesak dengan kehadiran mereka. Aku juga kehilangan selera makanku. Pada malam hari, aku merasa kesepian, hampa, dan takut. Sering aku tiba-tiba terbangun dari mimpi, sehingga akhirnya tidurku sangat kurang. Rasanya tidak ada orang yang bisa mengerti pikiran atau perasaanku; aku pun hampir tidak bisa mengenali diriku sendiri.

Pada saat itu, beberapa orang menasihatiku: “serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Tuhan”. Bukan hanya aku tidak bisa memahaminya. Nasihat dari Alkitab itu malah membuatku semakin bertanya-tanya. Apa artinya “menyerahkan” kekuatiran? Bagaimana caranya “menyerahkan” kekuatiran? Beberapa teman lainnya menasihatiku: “Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal…” Siapa bilang aku tidak pernah mencobanya? Aku sudah berdoa dan mengucap syukur, namun tetap saja aku merasa berjalan melewati lembah kekelaman. Aku menangis, bersujud di samping tempat tidurku sembari memandang salib, berdoa dan berharap agar Tuhan mengangkat dan melepaskan aku dari jurang yang sangat dalam itu. Namun, tidak ada yang berubah setelah aku berdoa, hatiku tetap saja jauh dari kedamaian. Seringkali aku menangis, berseru kepada Tuhan dari dasar hatiku, hingga tubuhku gemetaran, “Tuhan, tolong aku! Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku sangat bingung dan sudah hampir gila. Aku merasa seperti sedang tergelincir dari sebuah tebing dan akan segera mati. Ya Tuhan, nyatakanlah diri-Mu kepadaku dan jawablah doaku segera. Mengapa aku menderita? Mengapa aku?” Dari waktu ke waktu aku terus mempertanyakan Tuhan, persis seperti judul buku yang kubaca itu.

Kini, setelah aku melihat kembali semua yang sudah kulalui, aku menyadari bahwa sesungguhnya masa-masa itu memberiku salah satu pelajaran paling berharga dalam hidup—menantikan Tuhan.

Pada saat Tuhan sepertinya tidak menjawab seruanku, Dia sebenarnya sedang mengajarku untuk menantikan Dia; pada saat aku kehilangan segenap kekuatanku, Dia mengajarku untuk menyerahkan segenap hidupku kepada-Nya; pada saat aku tidak bisa melihat pengharapan dan masa depan, Dia sedang mengajarku untuk memercayai Dia sepenuhnya. Meski sepertinya Juruselamatku tidak serta-merta menanggapi seruanku, Dia sesungguhnya mempersiapkan apa yang terbaik bagiku, memberiku apa yang aku butuhkan untuk memperkuat tubuhku, hatiku, dan jiwaku.

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Janji-janji Allah selalu digenapi. Ketika aku belajar berserah dalam masa-masa sukar dan mencari dahulu kerajaan dan kebenaran-Nya, Dia membimbingku untuk memahami kebenaran. Dia menolongku menghadapi berbagai tantangan hidup, seperti kehilangan orang terkasih, konflik keluarga, tekanan dari sekolah, dan banyak lagi. Dia juga memulihkan hatiku serta kesehatanku (berat badanku naik dari 55 kg menjadi 67 kg). Dia menguatkan imanku sehingga aku dapat membagikan kasih Kristus dengan orang tua dan saudara-saudaraku, membawa harmoni dan sukacita dalam sebuah keluarga yang tadinya penuh dengan pertikaian. Aku bahkan mendapat kesempatan mengundang mereka datang ke gereja bersamaku.

Merenungkan perjalanan ini, tidak bisa tidak, aku memuji Tuhan yang begitu ajaib dan besar. Mungkin semua kita pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Namun, ketika kita belajar melihat situasi kita dari perspektif yang berbeda, Tuhan menolong kita untuk bertumbuh. Melalui berbagai cobaan, Dia mengajarkan kita apa arti berserah kepada-Nya; melalui keterbatasan manusiawi kita, Dia mengajarkan kita apa arti mengandalkan Dia; dan melalui kelemahan-kelemahan kita, Dia mengajarkan kita apa arti percaya kepada-Nya. Suatu hari kelak, ketika kita melihat kembali semua yang kita alami, kita akan berseru, “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memilihku!”

SinemaKaMu: Facing The Giants

Oleh: Devina Stephanie

SampulDVD-Facing-The-Giants

Judul : Facing The Giants
Sutradara : Alex Kendrick
Penulis Naskah: Alex & Stephen Kendrick
Tahun Rilis : Sep 2006 (tersedia dalam DVD tahun 2007)

 
Guys, tau gak kenapa film ini dijuluki sebagai film legendaris? Yup! Meski usianya sudah hampir satu dekade, film ini menyampaikan pesan yang tak lekang oleh waktu. Aku sendiri baru menontonnya tahun 2015 dan merasa sangat diberkati.

Istimewanya, film ini dikerjakan hampir seluruhnya oleh para relawan dari sebuah gereja. Gagasannya muncul dari dua bersaudara, Alex dan Stephen Kendrick, yang rindu memakai media film untuk menguatkan sesama orang percaya dan memperkenalkan iman Kristen kepada dunia.

Selain sebagai sutradara, Alex juga berperan sebagai tokoh utama film ini, Grant Taylor, pelatih football di sebuah SMA. Taylor hampir saja kehilangan pekerjaan karena selama menjadi pelatih selama 6 tahun, tim football-nya belum pernah mencicipi satu kemenangan di ajang pertandingan manapun. Tak hanya itu, langkahnya juga dihadang banyak “raksasa” lain, termasuk krisis keuangan dalam keluarga dan masalah infertilitas yang membuat istrinya tidak bisa mengandung. Di tengah situasi yang kelihatannya tanpa pengharapan, Taylor pun belajar bergantung sepenuhnya hanya kepada Tuhan. Situasi Taylor tidak lantas berubah dalam sekejap, namun ketika hatinya melekat pada Tuhan, ia pun mulai menanggapi berbagai masalah di sekitarnya dengan sikap yang berbeda. Perubahan sikap ini ia bagikan juga kepada timnya saat akan bertanding: “Jangan mudah menyerah. Tetap fokus. Berikan yang terbaik dalam setiap hal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Hormati Tuhan dalam segala hal. Jika kita menang, kita memuji Tuhan dan jika kita kalah, kita tetap memuji Tuhan.”

Meski berkisah tentang tokoh-tokoh rekaan, film ini memberitahukan kepada setiap penonton tentang Tuhan yang nyata dan hidup. Benar bahwa tantangan dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, relasi dengan orang lain, kebutuhan finansial, dan sebagainya, dapat tampak seperti raksasa-raksasa yang menghadang langkah kita, sebagaimana yang dialami Taylor. Namun, kita selalu dapat mengandalkan Tuhan, Bapa kita, yang lebih besar dari semua masalah kita. Di saat kita tak berdaya, di situlah tangan Tuhan berkarya.

Apakah Kamu Takut Gelap?

Oleh: Phoebe C.
(artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are You Afraid of The Dark?)

Are-You-Afraid-of-the-Dark

Jujur saja, aku takut gelap. Aku tidak menyadari hal ini sebelumnya. Namun, belakangan aku mendapati bahwa ketika malam menjelang, aku merasa ada sesuatu (dan itu bukan anjingku) yang pelan-pelan mendekatiku dan hendak menyerangku.

Ketika akhirnya aku berhenti menyangkal perasaan itu dan berusaha menghadapinya dengan akal sehat, aku menemukan bahwa rasa takut tersebut berkaitan dengan beberapa potongan kelam dalam perjalanan hidupku. Aku tersadar bahwa mungkin yang kutakuti sebenarnya bukanlah kegelapan, tetapi sesuatu yang tidak kuketahui.

Apakah kamu pernah merasakan hal yang sama? Mungkin kamu pernah terbangun pada jam tiga dini hari mencemaskan tentang masa depan. Mungkin kamu bertanya, “Apa yang akan aku lakukan setelah lulus kuliah?” “Apa sebenarnya yang harus aku lakukan dengan hidupku?” “Akan jadi apa hidupku sepuluh tahun ke depan?”

Dalam Kejadian pasal 37-45, kita melihat bagaimana Allah menyertai Yusuf melewati peristiwa-peristiwa terburuk dalam hidupnya, mengubah tragedi menjadi kesempatan yang luar biasa. Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya ke Mesir, dijebloskan ke dalam penjara, namun pada akhirnya diangkat menjadi perdana menteri—sebuah posisi yang sempurna untuk menolong keluarganya melewati masa kelaparan.

Sebagai seorang pemuda yang menderita dalam perbudakan di negeri asing, Yusuf mungkin bertanya-tanya apakah Allah akan campur tangan. Hari-hari yang ia lalui mungkin terasa sangat menakutkan, karena ia tidak tahu masa depan seperti apa yang sedang menantinya. Namun kemudian, Yusuf menjadi orang yang jauh lebih dewasa, bijaksana, dan berkuasa. Ketika ia menengok kembali perjalanan hidupnya yang sarat dengan berbagai pengalaman yang sulit dan menakutkan, Yusuf tentulah menyadari betapa Allah telah menjaga dan memelihara hidupnya senantiasa.

Kisah Yusuf sangat menghibur dan menyemangatiku; aku melihat bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya secara luar biasa dalam kehidupan anak-anak-Nya. Perlahan, aku belajar untuk melihat kehidupan seperti sebuah petualangan mendaki gunung bersama Allah, dan Dia menuntunku langkah demi langkah. Adakalanya pijakanku goyah dan aku kehilangan keseimbangan; adakalanya pemandangan yang kulihat sangat menakjubkan; adakalanya muncul kabut yang mengaburkan pandanganku dan aku tidak bisa melihat jalan di hadapanku. Namun, dalam semua situasi itu, aku tahu bahwa Allah akan selalu menuntun perjalananku. Dan, hal itu membuat ketidakpastian menjadi sesuatu yang (anehnya) menggairahkan.

Jika kamu sedang mengalami situasi yang serupa, pertanyaanku untukmu adalah: Daripada membiarkan rasa takut menguasaimu, maukah kamu membiarkan Allah membawamu ke dalam sebuah petualangan? Aku jamin, hidupmu tak akan pernah sama lagi!

Bebas dari Kebiasaan Buruk

Oleh: Andrianus Fredy Wijaya

bebas-dari-kebiasaan-burukku

Dosa, Dosa, DOSA.

Itulah kata yang sangat rumit di hidupku. Sekalipun aku tumbuh sebagai seorang yang beragama Kristen, aku adalah tipikal orang yang suka mengulangi dosa yang sama, istilah kerennya “jatuh di lobang yang sama”. Nonton film porno, merokok, minum minuman berakohol tinggi adalah hal yang amat aku sukai. Setiap selesai melakukan hal tersebut, ada rasa bersalah yang muncul di hatiku dan sering aku pun segera mengaku dosa di hadapan Tuhan. Namun, sekalipun aku tahu itu kebiasaan yang tidak menyenangkan Tuhan, tetap saja aku mengulanginya terus menerus. Kebiasaan-kebiasaan itu seolah membelenggu hidupku. Membuatku sangat frustrasi. Sering sekali muncul pertanyaan dalam diriku, “Apakah dosa-dosaku masih mungkin diampuni?”

Sebenarnya aku sempat mencoba berbagai cara untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan burukku itu. Pernah aku mengikuti terapi merokok. Tetapi, bukannya sembuh, aku malah mendapat teman-teman baru yang akhirnya membuat kebiasaan merokokku makin parah. Kebiasaan nonton film porno adalah hal yang sangat mendarah daging di hidupku. Aku bahkan pernah menjadi bandar film di SMP. Bayangkan saja, seorang Kristen dikenal sebagai bandar film porno di sekolah, sungguh tidak pantas, bukan? Aku pernah minta didoakan oleh banyak pendeta, namun hidupku tak kunjung berubah. Malah makin parah. Aku merasa tak berdaya. Aku malu akan hidupku. Aku merasa tidak layak menjadi anak Allah. Tentulah aku tidak akan selamat.

Namun, dalam kasih karunia Tuhan, pada saat kuliah aku dipertemukan dengan seorang sahabat yang cinta Tuhan. Ia mengingatkan aku pada momen pembaptisanku waktu SMA dulu, saat aku mengaku percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Ia mengingatkan aku pada Firman Tuhan yang berkata: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberikan kuasa supaya menjadi anak–anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12). Ibarat seorang gelandangan tak berpendidikan yang diadopsi keluarga berada, aku yang adalah seorang pendosa besar telah diangkat Tuhan menjadi anak-Nya. Gelandangan itu tentunya tidak serta merta bisa hidup laksana keluarga barunya yang terpelajar. Namun kini, ia punya kesempatan untuk berubah, punya orangtua yang akan membimbingnya. Sama halnya dengan itu, pengampunan dan status yang baru memang tidak otomatis membuatku menjadi pribadi yang sempurna, tetapi aku kini punya kemampuan untuk berkata tidak kepada dosa, karena Tuhan yang kini menjadi Bapaku memberikan aku kesempatan dan kekuatan untuk menjalani hidup yang baru. Aku bukan lagi orang yang terbelenggu dan tidak berdaya.

“Tetapi aku sudah terlanjur melakukan banyak dosa … aku harus bagaimana?” tanyaku masih agak ragu.

“Tuhan itu setia dan adil …” kata sahabatku sembari tersenyum.
“Jika kita mengaku dosa kita … Ia akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan,” lanjutnya mengutip 1 Yohanes 1:9.

Sebuah jaminan yang begitu melegakan hati dari Tuhan sendiri! Tuhan tidak membuang anak-anak-Nya yang melakukan kesalahan. Ketika kita jatuh, yang harus kita lakukan adalah cepat-cepat bangkit dan kembali mendekat kepada-Nya, mengakui dan menjauhi dosa, serta memberi diri untuk diperbarui oleh-Nya.

Betapa aku merasa sangat merdeka. Bukan merdeka untuk berbuat dosa sesuka hatiku, tetapi merdeka untuk terus hidup bagi Tuhan, karena kini aku mempunyai keyakinan teguh untuk tidak berbuat dosa lagi. Nyatanya, hari demi hari aku makin diperbarui. Aku tidak lagi dibebani rasa bersalah atas masa laluku atau rasa tidak berdaya menghadapi kebiasaan-kebiasaan burukku. Aku yakin Tuhan sendirilah yang menjamin hidupku dan akan terus memberiku kekuatan untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan hati-Nya.

PustaKaMu: Facing Your Giants

Oleh: Devina Stephanie

SampulBuku-Facing-The-Giants

Judul : Facing Your Giants
Penulis : Max Lucado
Tahun Terbit : 2006
Jumlah Halaman : 255 halaman
Penerbit : Gloria Graffa

 
Pusatkan perhatian pada raksasa–Anda akan tersandung. Pusatkan perhatian pada Allah–Raksasa akan tumbang,” begitu bunyi kutipan di belakang sampul buku ini menggelitik batinku. “Hmm.. raksasa?”, aku bertanya dalam hati. Sedetik kemudian memori sekolah minggu menyeruak. Aha! Rupanya kisah si anak muda dan raksasa, Daud dan Goliat. Bila sejak kecil kamu sudah sangat akrab dengan kisah yang dicatat Alkitab ini, mungkin respons awalmu sama sepertiku. Jangan-jangan buku ini membosankan, hanya mengulang cerita lama. Tetapiiii… setelah dibaca, ternyata bukunya sangat menarik. Penulis kondang Max Lucado mengajak kita merenungkan kebenaran-kebenaran penting dalam cerita lawas ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan masa kini.

Raksasa zaman sekarang, menurut Max, bukanlah Goliat kasat mata berbadan besar. Raksasa zaman ini tak kasat mata. Kita tidak tahu berapa tinggi badannya, berapa berat tubuhnya, dan apa makanan kesukaannya. Tetapi, kita mengenal Goliat kita masing-masing. Kita mengenali derap langkahnya dan gelegar suaranya. Ia mendatangi kita dengan hari-hari murung, permusuhan, penolakan, kepedihan yang tak terkatakan, harapan yang kandas, tagihan yang tidak dapat dibayar, orang-orang yang tidak dapat disenangkan, kebiasaan buruk yang tidak dapat ditinggalkan, kesalahan yang tidak dapat dilupakan, dan masa depan yang tidak dapat dihadapi. Raksasa itu menghantui pikiran, cara pandang, dan bahkan fokus hidup kita. Namun, sebagaimana Daud mampu menghadapi Goliat ketika Allah menyertainya, demikian pula kita akan mampu menghadapi raksasa dalam hidup kita bersama Allah.

Wait..! Tapi kita kan beda sama Daud. Bukankah Daud itu raja yang berkuasa, kaya raya, pintar, beriman teguh, dan bahkan disebut Allah sendiri sebagai orang yang berkenan di hati-Nya? Hmm… saat melawan Goliat sih Daud hanyalah seorang gembala muda dari desa yang penampilannya sama sekali tidak meyakinkan sebagai seorang penakluk raksasa. Bahkan setelah meraih tampuk kekuasaan pun, Daud bukanlah sosok tanpa cacat cela. Seperti yang dijelaskan oleh Max, ”Daud terjatuh sesering ia berdiri, tersandung sesering ia berhasil menaklukkan lawan. Ia menghunjamkan pandang pada Goliat, namun bermain mata dengan Batsyeba. Ia melawan pencemooh-pencemooh Allah di lembah, namun bergabung dengan mereka di padang belantara. Satu ketika ia pramuka teladan, lain kali ia bergaul akrab dengan mafia. Ia dapat memimpin bala tentara tetapi tidak dapat mengurus keluarganya. Daud yang mengamuk. Daud yang menangis. Daud yang haus darah. Yang mencari Tuhan. Delapan istri. Satu Allah.”

See? Daud bukanlah manusia sempurna. Ia sama seperti kita semua. Ia hanya manusia biasa. Allah menyebut Daud sebagai orang yang berkenan di hati-Nya bukan karena hidupnya lurus mulus, namun karena hampir dalam segala kondisi, ketika ia bingung, ditantang, dan takut, Daud selalu mencari Allah dan bergantung pada-Nya.

Setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan: mau melarikan diri atau menghadapi raksasa-raksasa dalam hidup kita? Jika kita ingin belajar menghadapi raksasa, ini salah satu buku yang akan menginspirasi kita. Dengan gaya khasnya, Max Lucado menguraikan prinsip-prinsip alkitabiah dengan kalimat-kalimat yang berirama, sehingga isi buku ini tak hanya mudah dipahami, tetapi juga enak dinikmati. Buku ini disertai pula dengan pedoman studi agar kita bisa merenungkan setiap prinsip yang dikupas lebih dalam, baik secara pribadi maupun bersama keluarga dan sahabat.

 
Tentang Penulis:
Max Lucado telah menggembalakan Gereja Oak Hills di San Antonio, Texas, selama lebih dari 25 tahun. Ia dikenal sebagai seorang pendeta yang punya talenta istimewa dalam menyampaikan cerita. Banyak cerita yang ia tuturkan telah diterjemahkan dalam lebih dari 54 bahasa di dunia, sebagian besar dalam bentuk buku. Banyak penghargaan yang sudah diraihnya, buku-bukunya pun selalu laris manis. Namun, yang paling memotivasi Max untuk menulis adalah kerinduan untuk meneruskan anugerah dan penghiburan yang telah diterimanya dari Allah kepada orang lain.

Skripsi dan Iman

Oleh: Teresia

skripsi-dan-iman

Siapa sangka skripsi bisa membuat iman bertumbuh?

Bagi para mahasiswa tingkat akhir, skripsi biasanya menjadi momok. Tapi tidak bagiku. Aku sama sekali tidak menganggap skripsi sebagai sesuatu yang sulit. Aku sangat yakin skripsi dapat diselesaikan dengan baik kalau kita mau berusaha. Dan memang kenyataannya begitu. Proposal skripsiku diterima tanpa hambatan yang berarti.

Tanpa disangka-sangka, beberapa minggu sebelum seminar proposalku diadakan, aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang tidak beralasan. Pikiran negatif bermunculan tanpa bisa dibendung. Keluarga dan teman dekat tidak banyak membantu, karena setahu mereka, aku adalah sosok yang kuat dan percaya diri. Apa yang aku ceritakan tidak mereka tanggapi dengan serius. Mereka yakin aku pasti bisa mengatasinya. Namun, ketakutan itu begitu hebat hingga mulai mempengaruhi kondisi fisikku. Aku merasa sangat bingung. Rasanya seperti tidak mengenal diriku sendiri. Aku takut, tetapi tidak tahu apa yang kutakutkan. Aku mencoba menggunakan “Teknik Pembebasan Emosi”, bersandar pada ilmu psikologi yang memang kusukai. Tentu saja, tidak banyak membantu. Kecemasan itu masih ada.

Sampai pada akhirnya aku menyerah dan mencari jawaban kepada Tuhan. Aku sangat malu saat membaca Matius 8:26. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya yang sedang ketakutan: “‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.”

Sebutan “kamu yang kurang percaya” atau dalam terjemahan Inggris: “you of little faith” benar-benar menamparku. Selama ini aku “merasa” sudah punya hubungan yang erat dengan Tuhan, setiap malam aku biasa membaca Alkitab. Namun, sesungguhnya dalam kehidupan sehari-hari aku lebih banyak bersandar pada pengertianku sendiri. Ayat-ayat Alkitab sekadar menjadi bacaan yang baik bagiku, bukan sesuatu yang benar-benar kuhidupi.

Pengalaman skripsi itu dipakai Tuhan untuk membuatku mengerti apa artinya “percaya”. Dia mau aku menyandarkan hati dan pikiranku sepenuhnya hanya kepada-Nya. Mungkin ini yang namanya “spiritual awakening” alias kebangunan rohani yang sebenarnya. Mataku dibukakan pada kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang mengubahkan hidup. Imanku yang sempat goyah dikuatkan oleh-Nya. Semua ketakutan dan kecemasan yang tak beralasan itu pun perlahan lenyap, berganti kedamaian yang melegakan hati. Kedamaian yang hanya dapat ditemukan di dalam Tuhan. Tak satu pun manusia yang bisa menghibur kita seperti itu. Tak satu pun teknik psikologi yang bisa memberikan damai serupa.

Sungguh hebat mengingat bahwa kita punya Allah yang kebesaran dan kasih-Nya jauh melampaui batas pemikiran kita. Lebih hebat lagi, Dia berjanji untuk tidak pernah meninggalkan kita, anak-anak-Nya yang mau percaya dan bersandar penuh kepada-Nya. Apa pun kesulitan hidup yang menghadang, kita tak perlu takut menghadapinya, sebab Tuhan kita memegang kendali atas segala yang ada.

Terpujilah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Bahwasanya cinta-Nya untuk selama-lamanya. Amin.

Wallpaper: Menaklukkan Raksasa

Bagaimana Yesus menolongmu mengatasi “raksasa-raksasa” yang menghambatmu untuk melangkah maju?

Saat Aku Menyadari Tidak Semua Impian Dapat Menjadi Kenyataan

Oleh: Sukma Sari

The Day I Realized Not Every Dream Would Come True

Pernahkah kamu memiliki banyak keinginan, harapan, dan cita-cita?
Pernahkah kamu menuliskan hal-hal yang kamu impikan tercapai pada titik tertentu dalam hidupmu?
Pernahkah kamu mendapati bahwa sebagian impianmu tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan sebagian harapanmu mustahil untuk diwujudkan?

Aku pernah.

Aku memiliki banyak keinginan, banyak cita-cita. Dulu, aku rajin menuliskan setiap impian dan keinginanku. Namun, suatu hari, aku mendapati bahwa apa yang kuimpikan tidak bisa kucapai pada tenggat waktu yang sudah aku tentukan. Perasaan marah dan kecewa berkecamuk di dalam diriku. Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia mengizinkan aku gagal mencapai apa yang aku inginkan. Aku tahu tak seharusnya aku mempertanyakan Tuhan, tetapi saat itu kekecewaan begitu menguasaiku. Kondisiku bisa dibilang sangat buruk.

Hingga pada suatu malam sebelum tidur, aku membaca postingan teman di salah satu media sosial. Sepotong refrain dari lagu berjudul Trust His Heart, yang berbunyi:

God is too wise, to be mistaken
God is too good, to be unkind
So when you don’t understand, when you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His Heart

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti:

Allah begitu bijak, tak mungkin salah
Allah begitu baik, tak mungkin jahat
Saat kau tak mengerti, (saat kau) tak paham rencana-Nya,
(saat kau) tak melihat tangan-Nya,
Percaya hati-Nya.

Syair itu membuatku merenungkan apa yang kualami. Benar bahwa banyak impianku yang tidak menjadi kenyataan, namun aku telah melupakan sejumlah fakta yang penting. Aku lupa bahwa ada satu Pribadi yang selalu bekerja di balik layar. Aku lupa bahwa setelah aku diselamatkan, hidup yang kujalani sekarang ini bukanlah milikku sepenuhnya. Bukan aku yang memegang kendali penuh atas hidupku. Aku lupa bahwa meskipun aku memiliki pensil dan kertas, Allah memiliki alat tulis yang lengkap!

Allah tidak hanya berbicara melalui lagu itu, tetapi juga melalui Firman-Nya. Dia menolongku untuk memahami dengan jelas bahwa Dialah sesungguhnya yang memegang kendali penuh atas hidupku. Dia berfirman dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Aku tersadar bahwa aku telah bersikap seperti seorang anak kecil yang menuntut semua keinginannya harus terpenuhi dan doanya dijawab segera begitu ia memintanya. Aku tidak sedang hidup sebagai seorang hamba yang mengenal dan percaya kepada Tuannya, Allah yang memegang kendali penuh atas hidupku.

Sobat, tidaklah salah jika kita punya banyak impian dan keinginan. Tetapi, janganlah kita pernah lupa bahwa kita memiliki Allah yang berdaulat, yang memegang kendali atas segala sesuatu. Kita boleh saja memegang pensil dan menulis semua impian dan keinginan kita, tetapi ingatlah bahwa Allah memegang penghapusnya. Izinkan Dia menghapus keinginan-keinginan kita yang tidak benar, dan menuliskan rencana-Nya yang lebih baik dalam hidup kita. Dan, perhatikanlah bagaimana Dia bekerja di balik layar hidup kita masing-masing.

Ketika kamu merasa keadaan di sekelilingmu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu, jangan takut! Allah, Sang Pencipta sedang dan akan terus bekerja menggenapi rencana-Nya di dalam dan melalui dirimu.