Posts

Pengaruh Jangka Panjang

Rabu, 18 Januari 2017

Pengaruh Jangka Panjang

Baca: Mazmur 100

100:1 Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi!

100:2 Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!

100:3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

100:4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!

100:5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya . . . tetap turun-temurun. —Mazmur 100:5

Pengaruh Jangka Panjang

Beberapa tahun lalu, saya dan istri pernah tinggal di sebuah penginapan yang menyediakan sarapan di daerah terpencil bernama Yorkshire Dales di Inggris. Di sana juga tinggal empat pasangan lain yang semuanya orang Inggris dan tidak pernah kami kenal sebelumnya. Saat duduk di ruang tamu sembari menikmati kopi setelah makan malam, obrolan kami mengarah pada pekerjaan. Pada saat itu saya masih melayani sebagai presiden dari Moody Bible Institute di Chicago, dan saya mengira tak ada seorang pun dari mereka yang tahu tentanginstitut itu maupun pendirinya, D. L. Moody. Setelah menyebutkan nama sekolah itu, sayaterkejut melihat respons mereka yang begitu cepat. “Moody dan Sankey . . . Moody yang terkenal itu?” Tamu lainnya menambahkan, “Di rumah kami ada sebuah buku himne yang ditulis Sankey dan keluarga kami sering berkumpul untuk menyanyikan pujian dari buku itu dengan iringan piano.” Saya takjub! Penginjil Dwight Moody dan musikus yang mengiringinya, Ira Sankey, pernah mengadakan sejumlah kebaktian kebangunan rohani di Kepulauan Britania lebih dari 120 tahun yang lalu, dan pengaruh mereka masih terasa sampai kini.

Malam itu, saya meninggalkan ruangan tersebut sambil memikirkan tentang pengaruh jangka panjang yang bisa diberikan hidup kita bagi Allah—pengaruh doa seorang ibu terhadap anak-anaknya, dorongan semangat yang diberikan seorang rekan kerja, dukungan dan tantangan yang diberikan seorang guru atau pelatih, atau teguran penuh kasih dari seorang teman. Sungguh istimewa untuk mengambil bagian dalam janji indah yang menyatakan bahwa “kasih setia-Nya . . . tetap turun-temurun” (Mzm. 100:5). —Joe Stowell

Tuhan, tolong kami mengingat bahwa meski hidup ini singkat, apa yang kami lakukan bagi-Mu sekarang dapat berdampak panjang setelah kami berpulang kepada-Mu. Pimpin aku hari ini untuk memberikan hidupku bagi sesama.

Hanya karya bagi Kristus yang bernilai kekal.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Artikel Terkait:

Inspirasi yang Aku Dapatkan dari Dalam Penjara

Jes Nuylan mempersiapkan diri untuk sebuah kunjungan ke penjara, sembari memikirkan bagaimana dia harus berkata-kata dan bersikap di tengah mereka. Hatinya berdebar-debar. Jes menjadi gugup karena dia belum pernah berinteraksi dengan para tahanan sebelumnya. Dan dia begitu terkejut ketika akhirnya bertemu mereka. Mengapa?

Baca kesaksian selengkapnya di dalam artikel ini.

Kehilangan untuk Memperoleh

Minggu, 15 Januari 2017

Kehilangan untuk Memperoleh

Baca: Matius 10:37-42

10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

10:40 Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.

10:41 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.

10:42 Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. —Matius 10:39

Kehilangan untuk Memperoleh

Setelah menikahi tunangan saya yang berkebangsaan Inggris dan pindah ke negaranya, saya mengira bahwa saya hanya akan tinggal lima tahun di tempat yang asing itu. Saya tidak pernah membayangkan masih tinggal di negara suami saya hampir 20 tahun kemudian. Adakalanya saya merasa kehilangan setelah meninggalkan keluarga, pekerjaan, teman-teman, dan semua hal yang selama ini begitu dekat dengan saya. Namun saya menyadari, justru dengan meninggalkan cara hidup yang lama, saya memperoleh cara hidup baru yang lebih baik.

Memperoleh hidup yang dianugerahkan kepada kita ketika kita melepaskannya itulah yang dijanjikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Ketika mengutus kedua belas murid untuk mewartakan kabar baik-Nya, Yesus meminta mereka untuk mengasihi Dia lebih daripada mengasihi orangtua atau anak-anak mereka (Mat. 10:37). Perkataan-Nya itu diucapkan di tengah suatu budaya yang menjunjung tinggi keluarga sebagai fondasi masyarakat. Namun Dia berjanji, apabila mereka kehilangan nyawa mereka karena Dia, mereka akan memperolehnya (ay.39).

Kita tidak perlu pindah ke luar negeri untuk memperoleh hidup di dalam Kristus. Melalui pelayanan dan komitmen—seperti para murid yang pergi mewartakan kabar baik tentang Kerajaan Allah—kita akan mengalami bahwa kita memperoleh lebih banyak daripada yang kita lepaskan. Semua itu adalah karena besarnya kasih yang dicurahkan Tuhan kepada kita. Kasih-Nya memang tidak tergantung pada seberapa banyak pelayanan kita, tetapi kita akan memperoleh makna, kepuasan, dan kebahagiaan sejati apabila kita menyerahkan diri sepenuhnya demi melayani sesama. —Amy Boucher Pye

Memandang salib Rajaku yang mati untuk dunia, kurasa hancur congkakku dan harta hilang harganya. Isaac Watts (Kidung Jemaat, No. 169)

Setiap kehilangan meninggalkan ruang yang hanya bisa diisi dengan kehadiran Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 36-38; Matius 10:21-42

Artikel Terkait:

Ketika Kita Kehilangan, Satu Hal Inilah yang Membuat Kita Bertahan

Hidup itu seperti uap, yang sebentar ada kemudian tiada. Gambaran yang diberikan firman Tuhan tentang hidup manusia yang singkat ini sangat tepat. Beberapa orang menjadi tua, mereka akan segera tiada. Beberapa orang masih muda, namun siapa yang tahu sampai kapan mereka hidup? Baca kisah selengkapnya di dalam artikel ini.

Cincin Meterai

Kamis, 29 Desember 2016

Cincin Meterai

Baca: Hagai 2:16-24

2: 16 “Maka sekarang, perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya! Sebelum ditaruh orang batu demi batu untuk pembangunan bait TUHAN,

2:17 bagaimana keadaanmu? Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh; dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh.

2:18 Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu; namun kamu tidak berbalik kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.

2:19 Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya–mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah

2:20 apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!”

2:21 Maka datanglah firman TUHAN untuk kedua kalinya kepada Hagai pada tanggal dua puluh empat bulan itu, bunyinya:

2:22 “Katakanlah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, begini: Aku akan menggoncangkan langit dan bumi

2:23 dan akan menunggangbalikkan takhta raja-raja; Aku akan memunahkan kekuasaan kerajaan bangsa-bangsa dan akan menjungkirbalikkan kereta dan pengendaranya; kuda dan pengendaranya akan mati rebah, masing-masing oleh pedang temannya.

2:24 Pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, Aku akan mengambil engkau, hai Zerubabel bin Sealtiel, hamba-Ku–demikianlah firman TUHAN–dan akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Aku . . . akan menjadikan engkau seperti cincin meterai; sebab engkaulah yang Kupilih, demikianlah firman Tuhan. —Hagai 2:24

Cincin Meterai

Ketika pertama kalinya berkenalan dengan seorang teman dari luar negeri, saya tertarik pada logatnya yang sangat bagus dan sebuah cincin yang terdapat pada jari kelingkingnya. Belakangan saya mengetahui bahwa cincin itu bukan sekadar perhiasan. Sebuah lambang yang terukir pada cincin itu menunjukkan tempatnya dalam silsilah keluarganya.

Cincin teman saya itu mirip dengan cincin meterai—bisa jadi seperti yang disebutkan dalam kitab Hagai. Dalam kitab Perjanjian Lama yang singkat itu, Nabi Hagai menyerukan kepada umat Allah untuk membangun kembali bait Allah. Mereka pernah dibuang dan sekarang sudah kembali ke tanah air mereka, tetapi ketika mereka mulai membangun kembali, pertentangan dari para musuh membuat proyek itu terhenti. Pesan dari Hagai meliputi janji Allah kepada Zerubabel, bupati Yehuda, yang menyatakan bahwa ia telah dipilih dan dijadikan seperti cincin meterai.

Pada zaman kuno, cincin meterai digunakan sebagai pengenal identitas seseorang. Untuk menandai sesuatu, mereka tidak membubuhkan nama sebagai tanda tangan, tetapi mencetak cincin mereka yang telah dibubuhkan ke lilin panas atau tanah liat yang lembek. Sebagai anak-anak Allah, kita juga menandai kehadiran kita di dunia ini dengan menyebarkan Injil, membagikan anugerah-Nya kepada sesama, dan bekerja meringankan beban orang lain.

Setiap dari kita memiliki cap tersendiri yang memperlihatkan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah dan menunjukkan paduan unik dari karunia, kegemaran, dan hikmat yang kita miliki. Kita menerima panggilan dan hak istimewa untuk berperan sebagai cincin meterai Allah di tengah dunia ini. —Amy Boucher Pye

Ya Allah Bapaku, hari ini, tolonglah aku mengenali identitasku yang sejati sebagai ahli waris-Mu. (Lihat Lukas 15).

Kita adalah ahli waris dan duta Allah yang dipanggil untuk membagikan kasih-Nya kepada dunia.

Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 9-12; Wahyu 20

Artikel Terkait:

Ketika Tes Kepribadian Membuatku Kehilangan Identitas

Apakah kamu seorang INTJ, ENTP, ISFP, atau yang lainnya? Jangan khawatir jika belum pernah mendengar singkatan ini. Sudah waktunya kita melihat kembali kelebihan dan kelemahan sebuah tes kepribadian.Baca kesaksian Gabrielle saat tes kepribadian membuatnya kehilangan identitas.

Pendengar dan Pelaku

Sabtu, 3 Desember 2016

Pendengar dan Pelaku

Baca: Yakobus 1:22-27

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

1:24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

1:25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat . . . ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka. —Yakobus 1:27

Pendengar dan Pelaku

Suatu malam ada seorang jemaat menelepon ke rumah hendak berbicara dengan suami saya. Ia melaporkan bahwa seorang wanita berumur 70-an tahun yang biasa melayani sebagai pendoa di gereja kami sedang dilarikan ke rumah sakit. Selama ini, wanita tersebut hidup sendiri, dan penyakitnya yang parah telah membuatnya tidak bisa makan-minum, melihat, atau berjalan. Kami sangat mengkhawatirkan keadaannya dan tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup, maka kami meminta pertolongan dan belas kasihan Allah. Gereja kami segera menyusun jadwal jaga agar ada anggota-anggota jemaat yang dapat menemani dan melayaninya sepanjang hari. Melalui kehadiran anggota jemaat itu, para pasien, pengunjung, dan staf rumah sakit pun ikut mengalami kasih Tuhan.

Surat Yakobus hendak mendorong jemaat Kristen mula-mula yang berlatar belakang Yahudi untuk mempedulikan orang-orang di sekitar mereka yang membutuhkan pertolongan. Yakobus menghendaki orang-orang beriman tidak hanya mendengarkan firman Allah, tetapi juga menjadi pelaku firman lewat tindakan mereka (1:22-25). Dengan menyebutkan perlunya mempedulikan kaum yatim piatu dan janda (ay.27), ia mengemukakan kebutuhan dari kelompok masyarakat yang tidak terurus, karena pada zaman itu seharusnya pihak keluargalah yang bertanggung jawab atas kebutuhan mereka.

Bagaimana tanggapan kita terhadap orang-orang yang tidak terurus di tengah jemaat dan lingkungan kita? Apakah kepedulian kepada para janda dan yatim piatu menjadi bagian penting dari penerapan iman kita? Kiranya Allah membuka mata kita untuk melihat dan melayani siapa saja yang yang membutuhkan pertolongan kita. —Amy Boucher Pye

Allah Bapa, hati-Mu tersentuh oleh penderitaan mereka yang tidak terurus dan kesepian. Tolonglah kami untuk mengasihi umat-Mu sebagaimana Engkau mengasihi mereka, karena kami semua diciptakan segambar dengan-Mu.

Iman sejati tidak hanya diucapkan melainkan dibuktikan lewat tindakan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 45-46; 1 Yohanes 2

Artikel Terkait:

Jeritan Bisu Aylan

Awal bulan September 2015, sebuah foto sedang marak menjadi perbincangan: foto seorang bocah laki-laki Suriah berusia 3 tahun, tertelungkup di pinggir sebuah pantai di Turki. Bocah itu bernama Aylan Kurdi. Ia tewas tenggelam—bersama kakak laki-laki dan ibunya—ketika hendak mengungsi dari Turki ke Yunani. Baca kisah lengkapnya di dalam artikel ini.

Memakai Topeng

Kamis, 17 November 2016

Memakai Topeng

Baca: Matius 6:1-6

6:1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

6:2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

6:4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

6:6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. —Matius 6:4

Memakai Topeng

Kerri berusaha keras membuat orang mengagumi dirinya. Ia suka tampil gembira agar orang lain memperhatikan dan memujinya karena perangainya yang ceria. Ada yang mendukungnya karena melihat Kerri memang menolong orang-orang di komunitasnya. Namun suatu kali Kerri dengan jujur menyatakan, “Aku memang mengasihi Tuhan, tetapi adakalanya aku merasa seperti memakai topeng.” Perasaan tidak aman yang dimilikinya menjadi alasan di balik hampir semua upayanya untuk terlihat baik di mata orang lain, dan ia mengatakan sudah jenuh bersikap demikian.

Kita semua bisa memaklumi Kerri karena tidak seorang pun dapat memiliki motivasi yang sempurna. Kita memang mengasihi Tuhan dan sesama, tetapi motivasi kita dalam menjalani kehidupan iman kita terkadang tidak lagi murni, karena bercampur dengan kerinduan kita untuk dihargai atau dipuji.

Yesus pernah berbicara tentang mereka yang bersedekah, berdoa, dan berpuasa agar diketahui orang (Mat. 6:1-6). Dia mengajar dalam Khotbah di Bukit: “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi,” “berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi,” dan “apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu . . . supaya orang melihat bahwa [kamu] sedang berpuasa” (ay.4,6,16).

Melayani memang paling sering dilakukan di depan umum, tetapi mungkin suatu pelayanan sederhana yang tidak diketahui banyak orang dapat menolong kita untuk belajar mencukupkan diri dengan pandangan Allah atas diri kita. Allah yang menciptakan kita menurut gambar-Nya sangat menghargai kita hingga Dia menyerahkan Anak-Nya bagi kita dan menyatakan kasih-Nya kepada kita hari lepas hari. —Anne Cetas

Ya Tuhan, ampuni aku karena lebih menginginkan pujian dari orang lain ketimbang dari-Mu. Tolonglah aku untuk menjaga kemurnian motivasiku.

Kerinduan kita untuk menyenangkan Allah seharusnya menjadi motivasi kita yang tertinggi untuk menaati Dia.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 5-7; Ibrani 12

Artikel Terkait:

Mengapa Harus Aku?

Bukankah ada banyak orang lain yang punya keahlian dan lebih layak untuk dipakai Allah? Mengapa harus aku? Aku tidak punya hal yang cukup baik untuk diberikan. Baca kesaksian Putri Patuan di selengkapnya di dalam artikel ini.

Sama Sekali Tidak Tahu

Selasa, 8 November 2016

Sama Sekali Tidak Tahu

Baca: Galatia 6:2-10

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! —Galatia 6:2

Sama Sekali Tidak Tahu

Pada suatu malam yang dingin, para sukarelawan dari sebuah gereja lokal membagi-bagikan makanan kepada para penghuni dari suatu kompleks rumah susun sangat sederhana. Seorang wanita yang menerima makanan itu merasa begitu gembira. Ia menunjukkan kepada mereka lemarinya yang kosong dan mengatakan bahwa mereka adalah jawaban dari doa-doanya.

Ketika para sukarelawan itu kembali ke gereja, salah seorang di antara mereka mulai menangis. “Ketika aku masih kecil,” katanya, “wanita itu adalah guruku di Sekolah Minggu. Ia ada di gereja setiap hari Minggu. Kami sama sekali tidak tahu bahwa ia kelaparan!”

Para sukarelawan itu tentu adalah sekumpulan orang yang peduli dan sungguh-sungguh berusaha untuk meringankan beban sesamanya, seperti yang disebutkan Paulus dalam Galatia 6:2. Namun entah bagaimana mereka tidak menyadari kebutuhan wanita yang mereka temui di gereja setiap hari Minggu itu—dan wanita itu juga belum pernah menceritakan kebutuhannya. Kisah tersebut bisa mengingatkan kita semua untuk menjadi lebih peka terhadap keadaan orang-orang di sekitar kita, seperti yang dinasihatkan Paulus, “Marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (6:10).

Umat yang seiman mempunyai kesempatan istimewa untuk menolong satu sama lain agar tidak ada seorang pun di dalam tubuh Kristus lalai menerima pertolongan yang mereka butuhkan. Ketika kita berusaha saling mengenal dan mempedulikan, kiranya kita tidak akan pernah mengatakan, “Kami sama sekali tidak tahu.” —Dave Branon

Tuhan, tolonglah aku untuk menyadari kebutuhan orang-orang di sekitarku dan melakukan yang kubisa untuk membantu memenuhinya dalam nama-Mu.

Kepedulian menuntut kita untuk rela berkorban.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 43-45; Ibrani 5

Artikel Terkait:

Pentingnya Punya Sahabat

Sahabat adalah orang yang memahami ketimbang menghakimi, karena itulah kita merasa nyaman bersama dengannya. Tidak cukup hanya memiliki teman, setiap kita perlu memiliki sahabat. Mengapa? Temukan jawabannya di dalam artikel ini.

Kasih dalam Tindakan Nyata

Sabtu, 5 November 2016

Kasih dalam Tindakan Nyata

Baca: Filipi 1:27-2:4

1:27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,

1:28 dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.

1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

1:30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,

2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,

2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;

2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

[Hendaklah kamu] tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. —Filipi 2:3

Kasih dalam Tindakan Nyata

“Adakah pakaianmu yang bisa saya bantu cuci?” tanya saya pada seorang tamu yang menginap di rumah kami di London. Wajahnya terlihat senang, lalu ia berkata kepada putrinya yang sedang lewat, “Cepat, ambil pakaian kotormu—Amy akan mencucinya untuk kita!” Saya tersenyum, sambil menyadari bahwa tawaran mencuci beberapa helai pakaian tadi berubah menjadi mencuci setumpuk pakaian.

Beberapa saat kemudian, ketika sedang menjemur pakaian-pakaian itu, saya teringat bacaan Alkitab pagi itu: “Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Flp. 2:3). Saya sedang membaca surat Paulus kepada jemaat di Filipi, dan di sana ia menasihati mereka untuk menjalani hidup sesuai panggilan Kristus dengan melayani dan menjadi satu. Paulus ingin agar mereka sehati sepikir meskipun mereka sedang mengalami penganiayaan. Ia tahu bahwa kesatuan yang muncul dari persekutuan mereka dengan Kristus dan tecermin lewat sikap saling melayani akan memampukan mereka bertahan dalam iman.

Kita bisa saja mengaku mengasihi sesama tanpa bermaksud untuk mementingkan atau meninggikan diri sendiri, tetapi keadaan hati kita yang sesungguhnya hanya bisa diketahui orang ketika kita membuktikan kasih kita lewat perbuatan nyata. Meski saya tergoda untuk mengeluh, saya tahu bahwa sebagai pengikut Kristus, saya dipanggil untuk mengasihi teman-teman saya dengan hati tulus dan tindakan nyata.

Kiranya kita selalu berusaha untuk dapat melayani keluarga, teman dan sesama kita demi kemuliaan Allah. —Amy Boucher Pye

Baca Lukas 22:22-27 dan pikirkan bagaimana kamu dapat meneladani Yesus Sang Hamba, terutama dengan memperhatikan perkataan-Nya, “Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.”

Kesatuan dapat timbul dari kerelaan melayani satu sama lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 34-36; Ibrani 2

Artikel Terkait:

Hal Penting yang Kulupakan Ketika Aku Melayani Tuhan

Maleakhi senang dan sangat aktif melayani Tuhan sejak muda. Bisa dibilang hari Minggu adalah hari yang sangat sibuk buatnya. Namun, ada hal penting yang dilupakannya ketika dia melayani Tuhan. Hal apakah itu? Baca kesaksian Maleakhi selengkapnya di dalam artikel ini.

Saudara-Ku

Sabtu, 22 Oktober 2016

Saudara-Ku

Baca: Matius 25:31-40

25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.

25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,

25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Saudara-Ku

Beberapa tahun lalu ketika perekonomian di California Selatan sedang merosot, Pendeta Bob Johnson melihat adanya peluang di balik kesulitan itu. Ia bertemu dengan walikotanya dan bertanya, “Adakah yang bisa dilakukan gereja kami untuk membantumu?” Walikota itu takjub. Biasanya orang datang kepadanya untuk meminta pertolongan, tetapi pendeta itu datang justru menawarkan bantuan dari seluruh jemaatnya.

Sang walikota dan pendeta itu pun membuat perencanaan untuk mengatasi sejumlah kebutuhan yang mendesak. Di wilayah mereka saja terdapat lebih dari 20.000 kaum lansia yang tidak pernah dikunjungi sepanjang tahun sebelumnya. Ratusan anak yatim-piatu membutuhkan pengasuhan keluarga. Dan banyak anak lainnya memerlukan les pelajaran untuk membantu mereka berhasil di sekolah.

Beberapa dari kebutuhan itu memang dapat diatasi tanpa membutuhkan dana yang besar, tetapi semuanya membutuhkan waktu dan perhatian. Itulah yang kemudian diberikan oleh gereja tersebut.

Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya tentang suatu hari di masa mendatang ketika Dia akan berkata kepada para pengikut-Nya yang setia, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu” (Mat. 25:34). Dia juga berkata bahwa mereka akan terheran-heran dengan upah yang mereka terima. Kemudian Dia akan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay.40).

Kerajaan Allah dibangun ketika dengan murah hati kita memberikan waktu, kasih, daya, dan dana kita yang telah diberikan-Nya terlebih dahulu bagi kita. —Tim Gustafson

Adakah seseorang yang mungkin membutuhkan perhatian kamu saat ini? Dapatkah kamu mengunjunginya, meneleponnya, atau menyuratinya? Adakah anak muda kenalanmu yang membutuhkan waktu dan perhatianmu?

Memberi bukan saja tugas orang kaya, melainkan tugas kita semua.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 65-66; 1 Timotius 2

Artikel Terkait:

4 Tipe Pengguna Uang—Kamu Termasuk yang Mana?

Untuk memuliakan Tuhan dengan harta kita (Amsal 3:9), dapat dimulai dari hal yang sederhana: memperhatikan kebiasaan kita dalam menggunakan uang.
Berikut beberapa saran praktis untuk 4 tipe pengguna uang yang sering dijumpai.
Kamu termasuk yang mana?

Melakukan Hal yang Berlawanan

Senin, 10 Oktober 2016

Melakukan Hal yang Berlawanan

Baca: Kolose 2:20-3:4

2:20 Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia:

2:21 jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini;

2:22 semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

2:23 Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. —Kolose 3:3

Melakukan Hal yang Berlawanan

Seorang penjelajah alam membutuhkan air minum lebih banyak daripada yang dapat mereka bawa. Karena itu, mereka menyiapkan sebuah botol minum dengan saringan khusus di dalamnya, supaya mereka dapat memanfaatkan sumber air apa pun yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Akan tetapi, untuk minum dari botol seperti itu, seseorang tidak cukup hanya membalikkan botolnya, tetapi ia harus lebih dahulu meniup botol itu dengan kuat untuk mendorong air melewati saringan. Tindakan itu berlawanan dengan cara minum yang lazim.

Saat mengikut Yesus, kita pun menemukan banyak hal yang tampaknya berlawanan. Paulus memberikan satu contoh: Menaati berbagai aturan tidak akan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Ia bertanya, “Mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu . . . hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia” (Kol. 2:20-22).

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Paulus menjawab, “Kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas” (3:1). “Kamu telah mati,” ujarnya kepada orang-orang yang masih hidup, “dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (3:3).

Kita harus menganggap diri kita “telah mati” terhadap nilai-nilai dari dunia ini, tetapi yang kini hidup untuk Kristus. Sekarang kita rindu untuk menjalani hidup sebagaimana diteladankan oleh Tuhan kita yang berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26). —Tim Gustafson

Pikirkan arti dari prinsip Alkitab yang tampaknya berlawanan ini: “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 16:25); “Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat. 20:16); “Jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10).

Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat. 1 Korintus 1:27

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34-36; Kolose 2

Artikel Terkait:

Namun Tuhan Bilang

Sebuah perenungan dari Dewi Simanungkalit yang dituangkan dalam sebuah puisi yang indah.