Posts

Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

Lima, Dua, Satu

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Bulan mengambang dengan diam. Sinarnya memancarkan kelembutan yang memukau. Malam terasa hening dan damai. Namun, suasana hatiku gundah gulana. Beberapa kejadian siang ini terlintas kembali dalam benakku dengan sangat jelas.

Aku baru saja selesai membereskan catatan kehadiran anak, ketika merasa perutku mulai lapar. “Eh, ada Susan,” kataku ketika melihat keluar jendela.

“Hai, Susan, yuk, makan siang. Aku yang traktir.”

“Sorry, Bren. Aku tidak bisa. Aku mau persiapan pelayanan buat minggu depan. Lain kali ya.”

“Oh…OK, selamat persiapan.” Aku melambaikan tangan dan mencoba untuk tersenyum.

Sepulang dari kantin gereja, aku bertemu Lia di tengah jalan. “Sudah lama nggak ngobrol dengan Lia, aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” pikirku.

“Lia, kamu lagi sibuk, ya?”

“Oh, hai, Bren. Iya, aku mau latihan paduan suara. Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol saja dengan kamu. Tetapi kamu sepertinya sibuk. Kita ngobrol lain kali ya.”

“Iya, sorry ya, Bren. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk persiapan buat acara bulan Agustus nanti.”

Aku mengangguk dan melangkah dengan gontai. “Semua orang sepertinya sibuk pelayanan. Hanya aku yang tidak.”

Aku sedang berdiri di pintu gerbang gereja ketika melihat Yunita berdiri juga di sana.

“Hai, Yun.”

“Hai, Bren. Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang siap-siap menunggu jemputan. Mau pergi pembesukan ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal kelompokku.”

“Oh…kalau begitu, selamat membesuk ya.”

Aku melambaikan tangan kepada Yunita yang segera naik mobil jemputannya.

Aku menghela nafas. Sungguh sulit bertemu dengan teman-temanku sekarang. Sepertinya semua orang sangat sibuk dengan pelayanan. Susan, misalnya, selain aktif menjadi worship leader ibadah Minggu, dia juga aktif di perpustakaan gereja, dan Persekutuan Doa. Lia pun demikian, seorang penyanyi andalan di gereja, dan Ketua Komisi Anak. Yunita terlibat aktif di pelayanan rumah sakit, pemimpin kelompok kecil, sekaligus pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab.

Sebuah perasaan asing menyelip di hatiku. Aku merasa begitu kecil dan sendiri. Merasa diriku tidak berharga, dan tidak diakui oleh orang lain. Aku hanya melayani di satu bidang, yaitu sie pemerhati untuk komisi anak. Tugasku hanya mencatat kehadiran anak-anak setiap hari Minggu, menelepon mereka bila ada yang sakit, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendoakan mereka. Hanya itu. Pelayanan yang sudah kulakukan selama hampir 1 tahun ini. Apakah Tuhan itu adil? Mengapa Dia tidak memberikanku pelayanan yang lain juga? Mengapa aku hanya melayani di satu bidang saja? Mengapa aku tidak bisa seperti Susan, Lia atau Yunita?

Persekutuan Doa berjalan seperti biasa. Tetapi aku sulit sekali berkonsentrasi, aku bernyanyi dengan setengah hati, dan merasa tidak bersemangat ketika renungan dimulai. Pembicara itu mengajak kami membuka bagian Alkitab dari kitab Matius 25:14-30.

“Ah…itu lagi,” kataku dalam hati.

“Aku sudah tahu bagian Alkitab itu. Tentang talenta. Ada yang diberi lima, dua dan satu.”

Beberapa kalimat pembuka tidak terdengar, karena aku sibuk dengan pemikiranku. Namun tiba-tiba, ada yang menarik perhatianku.

“Jika kita membaca bagian ini, banyak orang berpikir Tuhan tidak adil ketika dia memberikan talenta yang berbeda-beda. Mengapa tidak sama? Mengapa harus berbeda?”

“Iya, tentu saja tidak adil. Bukankah yang adil itu harus sama?”jawabku dalam hati.

“Nah, justru di sanalah letak kesalahpahaman kita. Bila kita menganggap Tuhan tidak adil hanya karena talenta yang diberi tidak sama, maka kita telah salah memahami keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan tidak sama dengan keadilan manusia. Bagi kita manusia, yang disebut adil adalah setiap orang memiliki bagian yang sama.”

Aku memajukan dudukku. Sekarang perhatianku kembali penuh. Pembicara itu seolah-olah sedang membaca pikiranku.

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kue dan menunjukkannya kepada kami. “Misalnya jika saya ingin membagikan kue ini kepada kalian, saya harus membagikannya secara sama, bukan? Yang adil adalah kalian masing-masing mendapatkan satu potong kue. Dan akan menjadi tidak adil, jika salah seorang dari antara kalian mendapatkan dua potong kue. Hasilnya kalian akan marah, dan tentu saya tidak ingin kena marah.” Dia menyengir lucu.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Tetapi jika kita berbicara keadilan Tuhan, yang berlaku tidak seperti itu. Talenta dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya. Besarnya memang tidak sama, tetapi apa yang dipercayakan itu sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba. Jadi apakah tuan itu tidak adil? Tidak. Justru tuan itu sangat adil karena masing-masing diberikan sesuai dengan kemampuannya. Coba bayangkan bila hamba yang diberikan dua talenta itu diberikan lebih banyak dari kemampuannya, apa yang akan terjadi?”

Pembicara itu diam sejenak, menatap kami yang sedang memperhatikannya.

“Kemungkinan yang terjadi adalah hamba tersebut tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal karena kemampuannya hanya terbatas dua talenta. Dan lihatlah, ketika tuan itu memuji hamba-hambanya, dia tidak memuji jumlah yang mereka hasilkan. Tetapi yang dipuji justru kesetiaan para hamba tersebut menjalankan apa yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Bila kita setia pada apa yang dipercayakan pada kita, bukankah Tuhan pun akan menambahkan tanggung jawab yang lain?”

Aku mengulang dalam hati kalimat terakhir yang disampaikan pembicara itu, dan mencoba memikirkan kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini.

“Ternyata yang diminta oleh Tuhan adalah kesetiaan untuk menjalankan pelayanan yang dipercayakan itu. Bukan berapa banyak pelayanan yang dilakukan.” Aku kembali teringat akan kesibukan pelayanan teman-temanku. Aku menetapkan hati untuk belajar setia pada pelayananku saat ini sama seperti mereka.

Langkah kakiku terasa ringan saat meninggalkan gereja. Mengucap syukur aku memiliki Tuhan yang adil, yang memberi sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Baca Juga:

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain.

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Oleh Meili Ainun

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

“Nah, dia pasti menuju dapur, lalu ke ruang tamu, dan sekarang ke kamar.”

Pintu kamar terbuka dan muncullah wajah manis sahabatku sejak kecil. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Begitu masuk, Yenny langsung mengambil posisi berbaring di ranjang.

“Ada apa?” tanyaku. Pertanyaan yang kutanyakan setiap kali bertemu Yenny.

“Biasa, mau ngobrol saja.” jawab Yenny. Jawaban yang sama juga sepanjang yang aku ingat.

“OK, mulailah,” ajakku santai.

Yenny tertawa kecil, dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

“Gini, Wi. Kamu tahu kan si Adi, itu yang sekelas dengan kita di kelas Manajemen Umum. Aku baru tahu lho, ternyata dia suka traveling juga, sama seperti aku. Rencananya kelompok travel kampus akan pergi ke Bali saat liburan. Aku akan ajak Adi ikut, ah… Sekalian kenalan lebih dekat,” Yenny memulai ceritanya dengan bersemangat.

Aku mengangguk tersenyum.

“Terus…kamu tahu kan si Camalia. Bunga kampus kita. Aku baru tahu ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah kita, Wi. Bayangkan kalau kita bisa mengajak dia main juga, Wi. Asyik juga kan ya, bisa bersahabat dengan orang terkenal.”

Yenny terus bercerita mengenai adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA, kedua orang tuanya yang masih sibuk bekerja bahkan juga di akhir pekan, keinginannya untuk bekerja di perusahaan terkenal setelah lulus, dan berbagai hal lain.

“Eh..Wi. Kamu dengerin aku nggak, sih? Kok kamu diam saja?” tanya Yenny tiba-tiba.

“Aku dengerin kamu kok,” jawabku.

“Kamu bosan ya?” tanya Yenny dengan serius.

“Ngak, aku sudah terbiasa mendengarkan kamu bercerita sampai berjam-jam,” kataku sambil nyengir. “Hanya saja…”

“Apa?” tanya Yenny waspada.

“Aku lagi berpikir mengapa kamu senang ngobrol dengan aku? Padahal kan aku lebih banyak diamnya daripada menanggapi kamu,” jawabku.

“Karena itulah kita cocok. Aku bicara, kamu mendengarkan. Iya kan?” katanya sambil memelukku. “Juga karena kamu memperhatikan saat aku berbicara. Aku kesepian, selain kamu, tidak ada orang yang dapat aku ajak ngobrol seperti ini. Kadang mereka suka memotong pembicaraan, ada juga yang menghakimiku sebelum aku selesai cerita, macam-macam deh sikapnya. Jadi aku lebih senang mengobrol sama kamu.”

“Oh..gitu ya? Sebenarnya kamu tahu nggak, ada teman ngobrol yang lebih asyik daripada aku,” kataku.

“Masa? Siapa? Beneran ada? Atau kamu bosan jadi kamu bilang seperti itu?” sahut Yenny.

“Beneran ada. Aku saja ngobrol sama Dia setiap hari. Bukan hanya setiap hari, satu hari bisa beberapa kali,” terangku.

“Hah? Siapa Dia? Aku jadi ingin tahu. Kamu ngobrol dengan Dia melalui apa? Telepon? Apa Dia datang ke rumahmu? Atau apa?” Yenny terlihat penasaran dan terus mengajukan pertanyaan.

“Dengan Tuhan, Yen. Ngobrol dengan Tuhan itu ternyata asyik, lho,” jawabku bersemangat.

Yenny menatapku tidak percaya. “Masa sih?”

“Ngobrol dengan teman itu memang asyik. Tetapi dengan Tuhan lebih asyik lagi. Teman nggak bisa selalu ada buat kita. Tetapi Tuhan selalu ada. Kapan pun kita mau ngobrol dengan Dia, langsung ngobrol saja. Di mana pun, dalam situasi apa pun, Dia siap mendengarkan. Dan kamu bisa ngobrolin apa saja termasuk rahasia hatimu. Mau kamu lagi susah, lagi senang, langsung ngobrol saja. Asyik kan?” jelasku.

“Hm… itu benar. Tetapi Tuhan kan tidak bicara langsung begitu kalau kita sedang ngobrol dengan Dia. Darimana kita tahu Dia sedang mendengarkan? Terus darimana kita tahu juga jawaban Dia?” tanya Yenny mempertahankan pendapatnya.

Melihat sahabatku tertarik, aku lebih bersemangat.

“Tuhan pasti mendengar ketika kita sedang berbicara dengan Dia. Dan bukan hanya ngobrol dengan Tuhan itu asyik. Jawaban Tuhan itu tidak kalah asyiknya. Karena Dia bisa menjawab dengan berbagai cara. Nggak hanya lewat satu cara. Macam-macam caranya. Bahkan yang tidak terpikir sebelumnya.”

“Misalnya apa?” Yenny masih menatapku heran.

Baru kali ini aku berbicara serius soal Tuhan dengan Yenny. Meskipun kami bersahabat sejak kecil, tetapi aku merasa sulit berbicara mengenai imanku. Hari ini aku melihat Tuhan membuka jalan.

“Kamu ingat ngak baju hijau yang aku pakai kemarin?”

Yenny mengangguk.

“Aku sudah lama sekali menaksir baju hijau itu, Yen. Tetapi aku nggak tega mengeluarkan uang untuk beli karena harganya mahal. Ketika aku lagi ngobrol sama Tuhan, aku ingat baju hijau itu. Aku bilang aku ingin menginginkan baju hijau itu sebagai kado ulang tahunku nanti. Begitu saja. Aku tidak ingat lagi dengan baju hijau itu sampai di hari ulang tahunku. Kamu tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku mendapat hadiah dari sepupuku. Coba tebak? Iya, benar. Baju hijau itu. Luar biasa, kan? Cara Tuhan menjawab nggak terduga sama sekali. Asyik banget. Memang sih Tuhan tidak selalu mengabulkan yang kita doakan. Tetapi kalau kamu pikirkan dengan serius, Tuhan sudah menjawab. Hanya biasanya kita tidak menyadarinya.”

“Wah…luar biasa, Wi. Ternyata Tuhan bisa menjawab dengan cara seperti itu, ya?” Yenny berdecak kagum.

“Cobain deh. Beneran. Asyik banget. Kamu harus coba supaya tahu asyiknya,” kataku memberikan senyum terbaikku.

“Ok deh. Aku akan coba. Tetapi aku masih boleh kan ngobrol dengan kamu? Siapa tahu Tuhan menjawab doaku nanti lewat kamu,” goda Yenny mengedipkan mata.

“Ha…ha…ha…ha…tentu saja. Iya, siapa tahu ya?”

“Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.”

-Kidung Jemaat 453, Yesus Kawan yang Sejati-

Baca Juga:

3 Sifat Anak Kecil yang Perlu Kita Contoh

Anak kecil sering dianggap sebagai sosok yang lemah dan penuh ketergantungan. Lantas, apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari mereka?

Cerpen: Kapan Nikah?

Oleh Meili Ainun, Jakarta

”Coba pegang kepalaku! Panas, kan? Lis, bayangin! Aku harus menghadiri 6 pernikahan tahun ini. Bayangkan minimal 6 kali. Sepertinya semua orang menikah. Dari teman kantor, teman gereja, sampai mantan pacar, menikah! Belum lagi kalau ada saudara yang married. Aku bisa gila!”

Lilis memegang kepala Ririn. ”Ya, memang panas. Sepertinya kamu memang sudah gila.”

Sebuah bantal melayang. ”Aduh, Lis. Aku lagi serius, nih. Kamu malah bercanda.”

”Rin, aku juga serius. Kamu memang bisa gila kalau kamu stres seperti itu.”

”Lis, bagaimana tidak stres? Kamu dengar, kan? Tadi aku cerita sama kamu kalau dalam waktu 2 minggu ini saja, aku sudah terima 6 undangan pernikahan. Enam, Lis!”

”Iya. Lalu, kenapa? Aku tidak mengerti mengapa kamu menjadi stres. Harusnya kamu senang. Kamu diundang berarti kamu masih diingat. Masih dihargai.”

”Aku akan senang terima undangan mereka kalau aku sendiri sudah married. Tetapi aku kan masih single. Pacar saja aku belum punya!”

Lilis mengerutkan dahinya jika sedang berpikir. ”Aku benar-benar tidak mengerti apa hubungan semua ini dengan status kamu.”

Muka Ririn cemberut. ”Jelas saja ada hubungannya. Aku belum punya pacar. Aku belum menikah. Sampai di sini, jelas?”

Lilis mengangguk kepalanya berkali-kali. ”Jelas sekali, bu. Bagian itu semua orang sudah tahu.”

Ririn melempar bantal kembali. ”Karena aku belum menikah, maka di setiap undangan pernikahan nanti, aku akan ditanya kapan aku menikah. Tahun ini ada 6 pernikahan. Minimal 6 kali aku akan ditanya. Itu pun kalau yang tanya hanya 1 orang. Tetapi aku yakin pasti lebih dari 1 orang. Misalnya saja ada 5 orang, berarti aku akan ditanya 30 kali dalam tahun ini. Makanya aku stresssssssssss!”

”Ha…ha…ha….”

Ririn memalingkan wajahnya dengan kesal.

Lilis memeluk sahabatnya dengan erat. ”Aku minta maaf. Sekarang tenang dulu. Kita akan coba membicarakan masalah ini.”

Perlahan-lahan tangis Ririn mereda. ”Lis, kamu tidak tahu bagaimana rasanya. Sedih sekali. Semua orang memandang kamu dengan aneh. Seakan-akan kamu berasal dari planet lain. Kamu kelihatan berbeda. Dianggap tidak laku. Perawan tua.”

Ririn kembali menangis.

”Sst…sst… tenang, Rin. Siapa yang menganggap kamu seperti itu?”

”Mereka semua, Lis. Pandangan orang-orang. Belum lagi jika orang tua tanya. Kapan kamu nikah? Si A sudah, si B juga sudah. Bahkan si C sudah punya anak. Mana pacar kamu? Kenapa tidak dikenalkan?”

Lilis terdiam memikirkan apa yang harus dia katakan.

Ririn kembali bicara. ”Lis, aku udah kepala 3. Sudah tidak muda lagi. Tetapi aku bisa apa? Aku memang belum punya pacar.”

Lilis memegang bahu Ririn. ”Kamu stres karena membayangkan kamu akan ditanya oleh orang-orang mengenai kapan kamu akan menikah, benar?”

Ririn mengangguk.

”OK, kamu tidak bisa mengubah status kamu. Paling tidak untuk saat ini. Kamu memang belum punya pacar, jadi memang belum bisa menikah dalam waktu dekat ini. Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah orang-orang bertanya tentang statusmu. Yang bisa kamu ubah adalah respons kamu terhadap pertanyaan orang-orang itu.”

Lilis melanjutkan setelah diam sejenak.

”Kamu pasti pernah dengar, kan? Kadang hidup kita menjadi berantakan karena kita salah meresponnya. Jadi yang harus kamu ubah adalah pandangan kamu. Pikiran kamu. Kita tidak bisa menyuruh mereka berhenti bertanya. Itu hak mereka. Tetapi… kamu bisa mengubah cara berpikir kamu. Kalau mereka bertanya begitu, itu memang wajar. Anggap mereka perhatian sama kamu. Jadi, jangan marah. Jawab saja yang sebenarnya. Kamu bisa bilang kalau kamu memang belum punya pacar. Minta mereka carikan saja. He…he…he… Atau kamu memang lagi sibuk bekerja, belum terpikir ke sana.”

Ririn tersenyum kecil. Mulai ada kelegaan di hatinya.

”Jadi, Ririn manis. Jangan stress. Kamu tidak bisa lari dari semua ini. Hadapi dengan tenang. Berdoa. Kalau memang Tuhan ingin kamu menikah, Dia pasti memberikan. Kalau tidak, pastilah ada rencana lain buat kamu. Benar, tidak?”

Ririn mengangguk. Dia teringat ayat Alkitab yang dibacanya tadi pagi. Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Amsal 3:5).

“Lis, kamu benar. Aku akan semakin mempercayai Tuhan dalam menjalani hidupku. Aku percaya Tuhan akan menolongku. Karena Dia mengasihiku dan tahu apa yang paling baik bagi hidupku.”

Lilis tersenyum dan memeluk Ririn dengan hangat.

Baca Juga:

Bagaimana Merespons Teman yang Mengakui Dosanya pada Kita

Bagaimana respons pertama kita ketika kita mendengar orang tersebut jatuh ke dalam dosa? Apakah kita segera memandang rendah dia, lalu buru-buru mengabari teman yang lain untuk menceritakan masalahnya?