Posts

Menikmati Bumi Pemberian Allah Bersama Makhluk Lain

Oleh Ari Setiawan

Ayat bacaan: Kejadian 7:1-9

Beberapa waktu lalu media sosial dihebohkan dengan perilaku seseorang yang dengan sengaja menabrak seekor anjing dikarenakan dianggap najis oleh kepercayaan yang dianutnya. Aku sebagai pecinta anjing tidak setuju. Anjing jenis apa pun tidak seharusnya bisa seenaknya ditabrak, dicelakai, atau dibunuh.

Aku memelihara anjing jenis Pomeranian. Menurutku, anjing adalah hewan yang dapat menunjukkan ekspresi hampir seperti manusia, dan inilah yang membuatku menjadi pecinta anjing. Tapi, sikapku mungkin akan berbeda jika bertemu hewan lain. Semisal aku bertemu dengan hewan “liar” dalam jarak dekat, seperti ular, kecoak, kaki seribu, dll, aku cenderung takut atau jijik dan tentunya tidak akan merawat jenis-jenis ini, walaupun hewan tersebut belum tentu berniat melukaiku. Teman-teman bisa cek artikel lama berjudul “Takut? Jangan!” di mana aku sangat takut kepada ular.

Di Hari Bumi yang diperingati pada 22 April ini, kita perlu menyadari kembali bahwa penduduk yang hidup di bumi bukan hanya manusia, pun pemilik bumi juga bukan manusia. Tetapi kenyataannya, sebagian manusia suka “mendadak lupa” atau justru sengaja mengabaikan keberadaan penduduk bumi lainnya, baik yang tampak kasat mata, seperti hewan dan tumbuhan; maupun yang tidak kasat mata, kualitas udara, air, cahaya dan atmosfer bumi.

Kita bisa lihat pada Indonesia di tahun 2020. Menurut Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Alue Dohong, jumlah timbunan sampah nasional pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. Masker yang kita pakai untuk melindungi diri dari virus, ketika dibuang secara sembarangan atau tidak diolah dengan baik, juga mengancam habitat hewani. Tetapi, ada juga kebiasaan baik yang muncul di kala pandemi ini, yaitu berkebun di pekarangan rumah dan menggunakan sepeda untuk beraktivitas maupun berolahraga. Tentu hal tersebut dapat kita kategorikan baik, karena kita mengurangi asap kendaraan bermotor dan juga menambah volume oksigen. Semoga kita juga salah satu yang mengerjakan kebiasaan baik tersebut, bukan karena mengikuti trend saja.

Lantas bagaimana sudut pandang Kristen, melalui Alkitab, dalam hal memelihara kehidupan di bumi? Apakah TUHAN sendiri juga merawat dan memelihara ciptaan-Nya?

Dalam sejarah kehidupan manusia, Allah pernah menghukum seluruh ciptaan dengan menurunkan air bah. Dalam Kejadian 6:5-7, tertulis:

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

TUHAN menghukum segala ciptaan disebabkan satu hal yang jelas, yaitu karena perbuatan manusia yang penuh cela, bukan karena ketidaksukaannya kepada ciptaan lainnya. Tetapi TUHAN masih menunjukkan kasih karunia-Nya melalui nabi Nuh, yang hidup benar di mata Tuhan, untuk tetap lewat dari hukuman air bah serta menjaga keberadaan dari setiap ciptaan lainnya.Dengan jelas TUHAN berfirman dalam Kejadian 7:1-4.

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini. Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu.”

Dalam penghukuman-Nya kepada manusia, TUHAN masih memikirkan keberadaan ciptaan lainnya. TUHAN tetap memelihara, baik binatang yang haram maupun yang tidak, agar keberlangsungan hidup mereka tetap terjaga. Setelah air bah surut (pasal 8), Allah juga berfirman kepada Nuh agar keluarganya maupun binatang-binatang yang besertanya dapat berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.

Melihat kisah yang disampaikan Alkitab TUHAN memberikan sebuah contoh kasih-Nya yang nyata kepada bumi dan seluruh isinya. Andaikata jika terkadang terjadi bencana banjir, tanah longsor, maupun beberapa jenis penyakit yang timbul, mungkin kita juga perlu mengoreksi diri, adakah andil kesalahan dan dosa manusia di dalamnya? Apakah berbagai program pembangunan sudah mempertimbangkan aspek lingkungan? Seberapa besar kita memberi atensi kepada pengelolaan alam?

Mari teman-teman, kita mulai dan lanjutkan langkah-langkah baik dalam menjaga keseimbangan bumi dan segala isinya. Kebiasaan berkebun maupun mengurangi penggunaan kendaraan bermotor adalah langkah awal mula yang baik. Seiring semakin sadarnya kita akan kelestarian alam, maka langkah-langkah tersebut perlu dikembangkan lebih lagi, seperti pembuatan kebijakan di perusahaan agar ramah lingkungan, mengajarkan generasi muda untuk mengelola sampah dan lingkungan, mengkritisi kebijakan yang cenderung mengabaikan keseimbangan alam.

“Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam” (Amsal 12:10).

Baca Juga:

Dipandang Lemah, Tetapi Punya Peran yang Besar

Dunia ini tidaklah lengkap tanpa kehadiran wanita, sosok yang kerap dipandang lemah tetapi sejatinya punya peran besar.

Sungguh, Allah Kita Mahaagung!

Oleh Fransiska Simbolon, Jakarta

Saat aku menyelesaikan studi pascasarjanaku di Taiwan, ada satu mata kuliah yang awalnya kuanggap menyebalkan. Mata kuliah itu bernama Genome, isinya banyak membahas tentang genetika. Jika di jenjang sarjana dulu aku belajar tentang genetika, tentu mata kuliah ini tidak sulit untuk kuikuti. Namun, aku tetap berusaha sebisaku hingga pada akhirnya mata kuliah ini menjadi sesuatu yang berkesan.

Suatu hari, kami belajar tentang Human Genome Project, atau Proyek Genom Manusia. Jika dijelaskan secara sederhana, genom adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki oleh suatu sel atau organisme. Jika kita mengingat kembali pelajaran Biologi yang didapat di bangku sekolah dulu, tubuh kita ini terdiri dari miliaran sel-sel kecil yang punya fungsi dan peranannya masing-masing.

Nah, Proyek Genom Manusia sendiri adalah sebuah proyek penelitian internasional yang digagas untuk memecahkan keseluruhan kode genetik manusia. Proyek ini membutuhkan dana fantastis, 2,7 miliar dolar dan melibatkan 20 pusat penelitian dan universitas ternama dari negara-negara maju. Sejak dimulai pada tahun 1990, proyek ini baru selesai di tahun 2013. Hasil akhirnya, sekitar 3 miliar pasang basa DNA manusia berhasil diteliti dan dipetakan data-datanya. Sekarang para ilmuwan di seluruh dunia punya akses untuk mengembangkan Ilmu Kedokteran. Mereka bisa mengembangkan alat diagnosis yang lebih efektif dan merancang perawatan baru yang lebih sesuai.

Wow. Aku berdecak kagum. Para peneliti membutuhkan waktu 13 tahun untuk memecahkan keseluruhan informasi genetik manusia yang rumit. Tapi kemudian kusadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mengagumkan. Sedari awal, kode-kode genetik itu telah tercetak di dalam gen kita, dan telah ada pula sejak manusia pertama dijadikan. Bahkan, sebelum manusia diciptakan, kode-kode rumit itu telah ada dalam pikiran Allah, Sang Pencipta yang pemikiran-Nya tidak terselami (Mazmur 139:16-17). Hanya, baru di abad ini saja manusia menemukan kerumitannya dan berusaha memahaminya.

Ilmu genetika dan kode-kode rumit itu hanyalah setetes kecil dari samudera keagungan Allah yang begitu luas untuk diselami manusia. Dan, satu hal penting lainnya adalah, setiap manusia itu berharga di mata-Nya, seperti firman-Nya yang mengatakan: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4). Miliaran sel kecil tak kasat mata yang menyusun tubuh kita inilah yang menjadi salah satu bukti bahwa Allah menciptakan manusia dengan begitu cermat dan Dia menganggap kita ciptaan-Nya yang berharga dan mulia.

Memahami bahwa setiap manusia berharga di mata Allah membuatku mengerti bagaimana seharusnya aku memperlakukan sesamaku dalam kehidupan sehari-hari. Allah yang menciptakanku telah begitu mengasihiku. Dia, Sang Pencipta, Perancang Agung, dan Inisiator Kehidupan peduli dengan setiap detail kehidupan kita. Oleh karena itu, aku pun mau meneruskan kasih-Nya dengan mengasihi orang lain.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!”

Mazmur 139:13-17.

Baca Juga:

Memprioritaskan Tuhan di Tengah Waktu Dunia yang Terbatas

Sebagai orang Kristen yang katanya sudah lahir baru, aku mendapati kalau terkadang diriku masih suka sekenanya saja dengan Tuhan dan melalui peristiwa teror yang terjadi di hari Minggu lalu, aku belajar untuk menghidupi imanku dengan sungguh-sungguh.