Posts

Belajar Setia dari Aren

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Masa kanak-kanak adalah masa–masa yang menyenangkan. Saat–saat keseharian lebih banyak dihabiskan dengan bermain tanpa beban. Sayangnya, itu tak berlaku bagi Aren yang hingga umur 9 tahun, tak bisa bebas berlarian dan bermain seperti teman–temannya. Baginya, tak ada cerita pulang ke rumah dengan baju basah oleh keringat. Tak pernah pula ia menerima omelan karena pulang terlambat sebab keasikan bermain di luar rumah.

Gangguan jantung bawaan—di dunia medis lebih dikenal sebagai Tetralogy of Fallot (TOF)—membatasi aktivitas Aren sedari bayi. “Aren punya letak jantung miring, bocor di dua tempat. Dia ketahuan memiliki kelainan jantung waktu umur lima bulan. Umur empat tahun, dia punya badan biru. Kukunya juga bulat–bulat”, tutur Mama Imelda, ibunya.

Masalah pada jantungnya membuat Aren cepat lelah. Bergerak sedikit saja, nafasnya susah payah. Agar geraknya tak banyak, setelah masuk sekolah; Mama Imelda menggendong Aren pergi dan pulang sekolah. Setiap hari. Dan itu terus berlangsung selama Aren belum menjalani operasi jantung. Naik turun tangga di rumah sakit dan kemanapun, Mama Imelda tak membiarkan Aren untuk berjalan lama–lama.

Ada masa di mana Aren merasa dunianya hampir runtuh. Namun, keterbatasan tak mengekang senyum dan semangat Aren untuk berkegiatan walau kadang dirinya lebih banyak berdiam ketika sesaknya datang. Pengalaman mengajarkan Aren mencari tahu dan menemukan caranya sendiri untuk mengatasi sesaknya. Dengan muka penuh senyum, Aren berbagi tip ketika sesaknya datang. ”Kalau susah napas, aku lipat kaki rapat ke dada sampai aku tidur sudah”.

Karena keterbatasan fasilitas kedokteran di Sumba, Aren berobat ke Denpasar sebelum dirujuk untuk berobat dan menjalani operasi di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Aku bertemu dengan Aren ketika menjadi volunteer di sebuah rumah singgah, tempat Aren dan ibunya tinggal selama menjalani pengobatan di Jakarta. Waktu itu Aren sudah selesai operasi jantung dan sudah dalam tahap pemulihan. Badannya yang dulu kurus dan menonjolkan tulang–tulangnya, kini mulai berisi. Ia pun sudah terbiasa naik turun tangga tanpa merasa lelah. Tak lagi digendong ibunya.

Pertemuan dengan Aren membuatku belajar 3 (tiga) hal paling dasar untuk menjalani keseharian sebagai anak Tuhan yang tahu bersyukur walau hidup sering mendadak serupa bermain roller-coaster.

1. Sabar dan tidak bersungut-sungut

Sabar dalam penderitaan, itu pilihan Aren. Menurut Mama Imelda, “ketika rasa sakit, Aren tak pernah menangis. Mengeluh sebentar, itu saja.” Tentu saja tidak mudah untuk anak seusia Aren belajar sabar jika tak didampingi oleh sosok yang kuat. Bukan sekadar sosok yang mengingatkan tapi lebih lagi yang bisa memberinya teladan dalam menjalani hari–harinya sehingga Aren yakin dan percaya, Tuhan pasti tolong! Dan sosok ibu, memegang peranan penting di kehidupan Aren.

2. Melibatkan Tuhan dalam hidupnya

“Tiap hari aku berdoa, bangun aku berdoa, mau tidur aku berdoa, mau bikin apa – apa harus berdoa, kakak. Mama ajar aku begitu, harus mengucap syukur,” Aren menimpali obrolan kami dengan riang. Ucapannya membuat mata yang sedari tadi panas, tak kuasa lagi untuk membendung aliran air yang turun satu–satu dan merengkuh tubuhnya. Ya Tuhan, anak ini luar biasa!

3. Setia walau hari–hari yang dilalui terasa berat

“Aku tidak rasa sakit, kakak. Cuma pegal saja waktu dokter bilang dadaku dibuka. Tempat tidurnya juga dingin.”

Mama Imelda membenarkan pernyataan Aren, selama ini anaknya tak sedikitpun menangis. “Saya sudah khawatir waktu kami naik bus dari Bali ke Jakarta. Saya terus berdoa, Tuhan jangan sampai anak ini tiba – tiba kesakitan. Puji Tuhan, kami sampai di sini, Aren baik–baik saja.”

* * *

Perjalanan panjang yang dilalui Aren dan Mama Imelda hingga mendapatkan jadwal operasi, bukanlah perkara yang mudah. Bisa saja di tengah perjalanan, ibunya menyerah atau anaknya putus asa. Lebih lagi mereka hanya bisa melakukan perjalanan darat karena Aren punya ketakutan jika terbang, pesawatnya jatuh. Kalau itu terjadi, dia tak bisa melanjutkan berobat. Tapi Aren belajar setia menunggu waktu-Nya Tuhan.

Kadang, Tuhan izinkan masalah muncul di kehidupan kita untuk mendorong kita lebih dekat lagi kepada-Nya. Hanya saja, kita suka kurang peka. TOF tak sedikitpun menyurutkan semangat Aren untuk mewujudkan cita–citanya menjadi anak Tuhan yang setia. Betapa senangnya Aren dan Mama Imelda ketika dokter memberikan izin boleh pulang ke Sumba dan melakukan kontrol di Denpasar saja. Awal Desember 2019, Aren yang bercita–cita menjadi pendeta; pulang ke Sumba. Ia sudah tak sabar untuk merayakan Natal bersama teman–teman Sekolah Minggu dan keluarganya di kampung yang tak ditemuinya selama hampir setahun.

Apa masalahmu saat ini? Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebihi dari yang dapat kita tanggung. Yakin dan percaya, Tuhan pasti selalu menyertai.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Tahun 2020 kemarin spesial buatku. Aku mendapat pekerjaan pertamaku setelah melalui berbagai lika-liku. Dari situlah aku belajar bahwa bekerja itu tidak cuma soal mencari uang, tapi juga bagaimana kita melakukan kehendak-Nya.

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

Merayakan Peran Ibu

Oleh: January Lim

wow-mom

Hari Ibu mengingatkan kita untuk menghargai dan merayakan peran seorang ibu. Perannya di tengah keluarga, juga di tengah lingkungan sekitarnya. Bagiku pribadi, Ibu adalah orang yang dipakai Tuhan membentuk hidupku. Ia adalah seorang perempuan yang rela kehilangan nyawa demi melahirkanku ke dalam dunia. Ia adalah seorang pribadi yang kukagumi dan kuhormati.

Tuhan sendiri memberi kita perintah untuk menghormati ayah dan ibu kita (lihat Matius 15:4). Merekalah yang dipilih Tuhan untuk menghadirkan kita di dunia dan membawa kita bertumbuh mengenal-Nya. Beberapa sosok ibu luar biasa juga dicatat dalam Alkitab. Maria, misalnya. Ketika diberi tugas untuk mengandung anak dari Roh Kudus, ia masih perawan. Menjadi seorang ibu mungkin membuatnya harus menerima celaan banyak orang. Tapi, ia rela menjalaninya karena ia memercayai firman Tuhan sepenuhnya (lihat Lukas 1:38).

Aku pikir setiap ibu adalah anugerah Tuhan yang istimewa. Sebagai seorang anak, kita seharusnya bersyukur atas ibu kita, dan bukan malah melukai hatinya. Di hari istimewa ini, yuk kita ambil waktu untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada ibu kita, atau meminta maaf jika kita pernah membuat hatinya terluka.

“Ma, aku bersyukur pada Tuhan atas perjuanganmu yang luar biasa untuk melahirkan dan membesarkan aku. Maafkan aku jika pernah melukai hatimu. Love you, Mom.”

Mama Sayang

Apa yang terlintas di benakmu setiap kali memikirkan tentang ibumu?

Anna Jarvis mengenang seorang perempuan yang gigih memperjuangkan kualitas kesehatan dan pendidikan para ibu di komunitasnya dan yang tak kenal lelah menggerakkan sesama perempuan untuk berperan aktif dalam masyarakat termasuk menolong para tentara yang terluka ketika perang melanda negerinya. Anna juga mengenang seorang ibu yang dengan setia mengajarkan Firman Tuhan di sekolah minggu, dan yang meletakkan impian-impiannya dalam doa. Enam tahun setelah perayaan Hari Ibu yang dirintis Anna pada tahun 1908, pemerintah USA menetapkan minggu kedua bulan Mei sebagai Hari Ibu nasional, dan dengan segera tradisi ini diikuti oleh banyak negara lainnya.

Memperingati satu abad Hari Ibu Sedunia tanggal 11 Mei 2014, mari ambil waktu merenungkan pelajaran-pelajaran berharga yang kita peroleh dari kehidupan ibu kita. Bersyukurlah kepada Tuhan atas semua itu. Mulailah mempraktikkan nasihat-nasihat baik ibu yang sempat kita abaikan. Biarlah dia yang melahirkan kita berbahagia karena melihat kita menjalani hidup dalam kebenaran (bdk. Amsal 23:25)

M A M A

Oleh: Rigoberta Maryuana Sahertian

untuk seorang wanita kuat yang kusebut Mama…

belajar-dari-ibu

Darinya aku belajar berbicara
Darinya aku belajar berjalan
Darinya aku belajar cara makan yang benar

Darinya aku menikmati susu yang paling sehat dan bergizi,
bagaimana membersihkan badanku yang kotor dan luka,
belajar menjadi kuat dan tidak manja di saat sakit

Darinya aku bisa memegang gelas dengan tanganku,
bisa memegang pena, mengenal abjad dan angka,
dan akhirnya mengerti tulisan-tulisan di semua media

Darinya aku tahu bagaimana caranya mengasihi sesama manusia,
belajar menghormati mereka yang lebih tua,
belajar menerima penilaian orang lain yang tidak selalu indah

Darinya aku belajar memaafkan
Darinya aku belajar mengasihi mereka yang telah menyakiti kami,
dan memberi kesempatan kedua kepada orang yang pernah salah

Darinya aku tahu bahwa tidak semua permintaan itu harus dituruti
Darinya aku paham bahwa menunggu itu harus sabar

Darinya aku sadar memasak itu melelahkan,
dan bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga tidak pernah berhenti

Darinya aku tahu, aku belajar, aku mengerti,
bahwa kita harus peduli dan sayang dengan saudara saudari,
bahwa cinta dan kasih yang akan mempererat tali kekeluargaan kami

Darinya aku mengenal siapa Tuhan dan Jurus’lamatku,
bagaimana memuji Sang Pencipta hidupku,
dan hidup menghormati-Nya setiap waktu

Tak selalu sikapku baik
Tak selalu aku bisa menyenangkannya
tapi rasa sayangnya tak berubah.
ia selalu memperhatikanku, kakakku, dan adikku

Mama…
terima kasih untuk semua yang kau ajarkan selama ini
maafkanlah anakmu yang kerap tidak menuruti nasihatmu

Mama… ketahuilah dan dengarlah
bahwa anakmu sangat sangat menyayangimu
bahwa aku ingin menjagamu hingga maut memisahkan kita

Terima kasih telah berjuang dengan segenap hati
untuk merawat, dan membesarkan kami
Terima kasih telah menjadi Mama yang terbaik
Terima kasih telah menjadi Mama yang terhebat bagi kami