Lidya lahir, besar, dan tinggal di Jakarta. Untuk mengisi waktu senggang, Lidya suka membaca buku rohani, menulis blog, dan streaming youtube. Saat ini masih aktif terlibat dalam beberapa pelayanan, terutama pelayanan kepada mahasiswa. Tulisan-tulisannya dapat ditemukan di lidcorr.wordpress.com.

Posts

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Beberapa pekan lalu, jagat Twitter diramaikan oleh kicauan seorang figur publik yang menyatakan bahwa seorang SJW (Social Justice Warrior atau Pejuang Keadilan Sosial) adalah “tipe orang di kelas yang saat ulangan mengumpulkan jawabannya duluan agar tidak ditanya-tanya (dicontek) oleh temannya, melaporkan ke guru apabila ada teman yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di kelas, atau mengingatkan guru tentang ulangan atau kuis.”

Kicauan ini pun direspons hangat oleh banyak orang, baik yang mendukung atau menentang.

Sebenarnya, apa sih SJW itu? Oxford Dictionaries memberikan definisi SJW sebagai “a person who expresses or promotes socially progressive views”. Meski definisi dan tujuan SJW ini baik, istilah ini kemudian mengalami makna peyoratif. Istilah yang tadinya dipandang positif menjadi sangat negatif sekitar tahun 2011 ketika dilontarkan sebagai celaan untuk pertama kalinya di Twitter.

Tulisanku ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kontroversi itu, tetapi melalui topik ini aku ingin mengajakmu untuk melihat bahwa memperjuangkan keadilan sejatinya adalah tugas kita sebagai orang Kristen. Mengapa?

Menurutku, setidaknya ada tiga alasan:

Pertama, keadilan adalah sifat Allah dan Allah menghendaki keadilan ditegakan di dunia.

“Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya” (Mazmur 99:4).

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24).

Dalam beberapa kitab di dalam Alkitab, Allah melalui perantaraan para nabi secara tegas menyatakan ketidaksukaannya kepada ibadah umat yang tidak disertai perbuatan baik dan kebajikan kepada orang-orang miskin dan tertindas. Misalnya melalui Nabi Yesaya, Allah menyatakan bahwa Ia jijik dengan persembahan umat dan tidak menyukai perayaan dilakukan bangsa Israel. Allah kemudian berfirman:

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:16-17)

Keadilan adalah sifat Allah, dan oleh karena itu Ia menghendaki agar kita umat-Nya hidup dalam keadilan dan senantiasa berbuat adil. Sebagai umat Allah, sudah sepatutnya kita ikut terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan melawan penindasan di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Kedua
, orang Kristen adalah terang dan garam dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13).

Pada zaman dahulu, ketika bahan pengawet buatan belum ditemukan, garam adalah bahan alami untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat busuk. Itulah fungsi garam: mencegah kebusukan. Garam juga digunakan untuk memberikan rasa yang enak; dan meskipun kehadirannya dalam sebuah masakan tidak terlihat, keberadaannya bisa dirasakan.

Sebagai orang Kristen, kita hadir di tengah dunia untuk mencegah kebusukan oleh karena dosa serta memberikan pengaruh yang baik bagi lingkungan di sekitar kita, termasuk dalam memperjuangkan keadilan sosial. Perlu diingat bahwa Matius 5:13-16 bukan menyatakan bahwa “kamu harus menjadi garam dan terang dunia”, melainkan “kamu adalah garam dan terang dunia”. Artinya, orang Kristen sudah merupakan garam dan terang dunia. Menjadi orang Kristen berarti harus menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang karena “jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Terakhir, Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna untuk memperjuangkan keadilan.

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Markus 12:38-40).

Selama pelayanannya di dunia, Tuhan Yesus sendiri menjadi sosok yang kontroversial dengan tindakan dan pengajaran-Nya yang seolah-olah mengobrak-abrik tatanan kehidupan masyarakat yang pada saat itu diterima sebagai “tradisi yang harus dipatuhi”. Tuhan Yesus duduk bergaul dengan para pemungut cukai, perempuan sundal, dan orang-orang dianggap berdosa oleh masyarakat serta dikucilkan dari pergaulan. Dia melawan kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi serta menentang ketidakadilan atau praktik kejahatan yang dilakukan para pemuka agama pada saat itu. Tuhan Yesus melayani setiap orang tanpa memandang wajah serta latar belakang sosial ekonomi, serta memberikan berbagai jawaban/keputusan yang adil atas pertanyaan orang-orang (bahkan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti kisah perempuan yang kedapatan berbuat zinah dalam Yohanes 7:53-8:11). Tuhan Yesus adalah teladan yang sempurna mengenai memperjuangkan keadilan (sosial).

Bahkan Tuhan Yesus menggenapi perjuangan-Nya melawan ketidakadilan dengan menjadi korban yang sejati dari ketidakadilan kosmis ketika Ia rela mati untuk menanggung dosa kita semua di atas kayu salib.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Ketidakadilan adalah produk kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika dosa menghancurkan dan merusak relasi manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan alam ciptaan, dan dengan sesama; membuat manusia dapat bersikap tidak adil bahkan menindas sesamanya manusia.

Karya keselamatan yang Kristus bawa melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah menghancurkan dosa dan ketidakadilan sekali untuk selama-lamanya. Karya Agung ini telah memberikan kepada kita harapan bahwa meski dunia ini begitu tidak adil dengan berbagai penindasan dan kejahatan; akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja, dan Ia akan memerintah dengan penuh keadilan di langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:3-4).

Tetaplah berpengharapan dan terlibat!

Lighten our darkness, breathe on this flame
Until your justice burns brightly again
Until the nations learn of your ways
Seek your salvation and bring you their praise
God of the poor, friend of the weak
Give us compassion we pray
Melt our cold hearts, let tears fall like rain
Come, change our love from a spark to a flame

Lirik lagu God of the Poor (Beauty for Brokennes) oleh Graham Kendrick

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Papa kelelahan bukan main. Hampir seluruh waktunya habis untuk mengurusi orang-orang lain. Rasanya aku ingin marah pada dunia, kenapa ada pandemi? Kenapa papa harus jadi dokter?

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

“Biasalah warga +62”

Kalimat itu tertulis di sebuah stiker WA. Ketika seorang teman berkata atau berbuat sesuatu yang menurutku udik, stiker tersebut jadi respons yang kurasa pas. Tapi, meski cuma candaan, tanpa kusadari aku melabeli “warga +62” atau warga negara Indonesia sebagai pihak yang kurang tahu sopan santun atau kampungan. Tidak berusaha membenarkan diri, namun aku melihat bukan hanya aku yang melakukannya.

Lebih lanjut, ketika melihat berita mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seringkali aku melihat komentar di sosial media yang kurang mengenakkan. Kritik dan kekecewaan terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia datang dari berbagai penjuru. Kemelut, konflik, dan debat-debat di kolom komentar tidak bisa dihindari hingga terkadang membacanya membuatku menghela napas.

Pernahkah terpikir oleh kita mengapa kita lahir sebagai orang Indonesia pada waktu seperti ini?

Menjadi Nehemia bagi Indonesia

Nehemia bin Hakhalya merupakan orang Yahudi yang dibuang ke Persia dan bekerja sebagai juru minuman Raja Artahsasta I (raja Persia) di Puri Susan. Suatu hari ia mendengar kabar mengenai Yerusalem, kampung halamannya; dan kondisi orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dari salah seorang dari saudara dari Yehuda.

“Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

(Nehemia 1:3)

Ketika Nehemia mendengar berita itu, dia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia kemudian berpuasa dan berdoa kepada Allah untuk memohon pengampunan atas dosanya, kaum keluarganya, serta bangsanya; dan memohon belas kasihan Allah untuk memulihkan bangsanya. Tidak berhenti di situ, Nehemia kemudian kembali ke kampung halamannya untuk membangun kembali Tembok Yerusalem, sebuah tindakan yang nekad namun penuh dengan kasih untuk bangsanya. Perlu diingat kembali bahwa sebagai seorang juru minuman raja yang tinggal di istana, Nehemia sebenarnya telah hidup dalam zona nyaman. Namun, Nehemia memutuskan untuk menginggalkan segala kenyamanan dan kemapanannya untuk melakukan sesuatu bagi bangsa yang dikasihinya.

Mungkin sebagian dari kita, seperti Nehemia, hidup dalam kenyamanan dan privilese yang kadang membuat kita terlena dan merasa aman. Kenyamanan menumpulkan indera-indera kita; membuat kita seringkali abai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini: budaya korupsi yang mengakar, penegakan hukum dan keadilan yang seolah mati suri, kemiskinan di mana-mana, keagamaan yang serba formalitas belaka, serta kekerasan dan intoleransi yang dibiarkan saja. Kita berpikir bahwa masalah-masalah ini hanya ada di dunia maya dan tidak bersentuhan langsung dengan kita dalam kehidupan nyata. Kita mungkin bekerja pada sektor yang “tidak menantang”, sehingga kita berpikir bahwa urusan untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas bukanlah bagian kita, bahkan mungkin kita yang berhadapan kondisi-kondisi tersebut, cenderung memilih untuk mengambil tempat yang aman dan bekerja secara mekanik: datang ke kantor setiap pagi, mengerjakan bagian kita sebisanya, kemudian pulang ke rumah dan melupakan apa pun yang terjadi di kantor hari ini. Yang penting pekerjaan selesai, yang penting aku tidak berbuat curang.

Namun, orang Kristen tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16a). Dalam anugerah Tuhan, masing-masing kita diberikan bagian untuk berkarya untuk sesuatu yang lebih besar daripada atasan atau instansi/perusahaan tempat kita bekerja; kita dipanggil untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia di dalam pekerjaan kita.

“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.

(Ester 4:13-14)

Seperti Nehemia dalam jabatannya sebagai juru minuman raja di istana atau Ester dalam jabatannya sebagai ratu, kita dipanggil dalam profesi kita untuk berkontribusi menghadirkan shalom di dunia. Dalam kedaulatan Tuhanlah Nehemia dan Ester memiliki jabatan yang strategis pada waktu tantangan besar sedang terjadi, sehingga Nehemia dan Ester dapat membuat perubahan. Sama seperti Nehemia dan Ester, kita dipanggil untuk merespons panggilan Allah secara spesifik bagi hidup kita, untuk berani keluar dari “cangkang kenyamanan” dan mau berjuang bagi bangsa kita.

Mewujudkan shalom tidak melulu bicara soal transformasi besar-besaran pada sebuah bangsa atau komunitas. Shalom yang adalah damai sejahtera, keadaan di mana Allah berkuasa, dapat kita hadirkan ketika kita bersedia melihat dengan hati dan melayani setiap orang yang kita jumpai dengan sepenuh hati. Ketika seorang guru mengajar muridnya, ketika seorang dokter mengobati pasiennya, ketika seorang petugas kebersihan menjaga lingkungan tetap asri, Allah dapat memakai setiap buah pekerjaan itu bagi kemuliaan-Nya.

Jika Engkau Mempunyai Mata, Maka Melihatlah

“Jika engkau mempunyai mata, maka melihatlah” adalah salah satu judul bab dalam Buku Vision of Vocation (Panggilan untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia) oleh Steven Garber. Judul bab ini (tentu beserta isinya) menghantuiku—mengguncangku untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya terhadap lingkungan sekitar. Aku tahu bahwa kondisi Indonesia jauh dari kata ideal, tapi apakah aku benar-benar “tahu”? Aku melihat ketidakadilan dan kemiskinan di depan mata, tapi apakah aku benar-benar “melihat”? Bagaimana denganmu? Apakah kamu “melihatnya”?

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

(Yeremia 29:7)

Kita tidak perlu menjadi pejabat publik atau posisi strategis lain untuk mengambil bagian dalam membangun bangsa dan negara kita. Panggilan atau pekerjaan apa pun yang Tuhan percayakan bagi kita; apabila kita menyadari bahwa kita mengerjakannya untuk Tuhan demi menghadirkan kesejahteraan bagi negara ini, maka kita telah menjadi bagian dalam pekerjaan Tuhan bagi Indonesia.

Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk menjadi Nehemia-Nehemia, Ester-Ester, dan Daniel-Daniel di masa kini. Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk sungguh-sungguh melihat, sungguh-sungguh berdoa, dan sungguh-sungguh berkarya bagi Tuhan, Bangsa Indonesia, dan sesama.

Soli Deo Gloria.

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ Name
(lirik bait kedua Bring Your Healing to The Nation – Liz Pass dan David Pass)

Semoga kita menjadi umat yang dapat memperbaiki hidup yang rusak
Memberi harapan bagi dunia yang rusak dalam kasih karunia Tuhan
Semoga kita menjadi umat yang melayani Tuhan dan manusia
Membagikan cinta dan martabat, di dalam nama Tuhan Yesus

div style=”line-height: 20px; background-color: #dff2f9; padding: 20px;”>Baca Juga:

Lima, Dua, Satu

Ketika Tuhan memberi talenta dengan jumlah yang berbeda, banyak orang berpikir Dia tidak adil. Mengapa tidak dibuat sama? Mengapa harus berbeda?