Posts

Anugerah Menderita Bagi Kristus

Hari ke-6 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:29-30

1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

1:30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

Kisah Romo Damien selalu menjadi inspirasiku. Beliau berumur 24 tahun ketika berlayar dari kampung halamannya di Belgia untuk melayani orang-orang Hawaii.

Beberapa tahun kemudian di tahun 1873, ada sebuah panggilan bagi sukarelawan untuk melayani penderita kusta di Kalowao. Daerah itu lokasinya terpencil, tiap penduduk asli Hawaii yang menderita kusta akan dikirim ke sana, menghabiskan waktu, hingga akhirnya meninggal.

Tentunya tempat tersebut bukanlah tempat yang nyaman. Romo Damien akan selalu dikelilingi penyakit, dan juga oleh kesedihan dari orang-orang yang keluarganya telah direnggut dari mereka. Singkatnya, ia akan dikelilingi oleh penderitaan.

Meski demikian Romo Damien berkomitmen untuk melayani penduduk Kalowao hingga pada akhirnya, ia pun mengidap penyakit kusta dan meninggal di Hawaii pada usia 49 tahun.

Pelayanan Romo Damien untuk Tuhan di tengah penderitaan yang harus ia tanggung adalah contoh jelas bagi kita mengenai apa artinya menjadi seorang Kristen, dan mengarahkan orang-orang pada sang Juruselamat yang telah menderita bagi kita.

Seperti Romo Damien, kehidupan Rasul Paulus pun tidak asing dengan penderitaan. Ia telah menerima 39 cambukan lima kali, didera tiga kali, dilempari batu, mengalami karam kapal, dan mengalami begitu banyak bahaya dalam perjalanannya, terkadang bahkan dari sesama orang Yahudi (2 Korintus 11:24-29).

Namun tetap saja ia tidak pernah terlihat mengeluh. Bahkan, dalam surat Paulus untuk jemaat Filipi, ia berkata bahwa kita seharusnya menerima kenyataan bahwa setiap kita yang percaya pada Yesus juga akan menderita bagi-Nya—dan kita seharusnya menganggap itu sebuah “anugerah” (ayat 29, BIS). Paulus melanjutkan perkataannya untuk menunjukkan bahwa penderitaannya belum berakhir (ayat 30).

Pada awalnya, perkataan Paulus tidak terlihat menguatkan bagi jemaat Filipi maupun setiap kita yang sedang berada dalam penderitaan.

Ada baiknya bagi kita untuk berhenti sejenak dan menanyakan diri kita pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa gunanya menderita? Mengapa percaya pada Kristus dan penderitaan sangat berkaitan erat?

Pada ayat 30, Paulus berempati dengan penderitaan jemaat Filipi dengan mengingatkan mereka bahwa ia pun menjalani hal yang serupa. Di tengah segala penderitaan yang dialami Paulus, ia mencontohkan pada jemaat Filipi—dan juga pada kita hari ini—kebaikan Allah di tengah semua itu.

Jemaat Filipi mengetahui penderitaan Paulus, dan dapat melihat bagaimana Tuhan memeliharanya di tengah segala pencobaan dan masa-masa sulit yang ia lewati (ayat 19). Mereka juga mengetahui bahwa Paulus menemukan kekuatan untuk menanggung penderitaannya karena ia melihatnya sebagai sebuah cara untuk berpartisipasi dalam penderitaan Yesus dan menjadi semakin serupa dengan-Nya (Filipi 3:10-11). Lalu mereka dapat memperoleh penghiburan bahwa Tuhan akan menopang mereka juga, dan pada akhirnya kesaksian mereka akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan.

Sebagai orang Kristen, kita tahu bahwa pada suatu saat kita akan menderita. Bagaimana kita akan merespons penderitaan itu ketika saatnya tiba? Mungkin beberapa orang di antara kita telah mengalami penderitaan dalam bentuk tertentu—bagaimana ayat-ayat ini dapat menguatkan kita hari ini?

Harapanku adalah agar seperti Paulus, kita dapat menganggap penderitaan demi Kristus sebagai suatu anugerah. Mari kita menatap pada sumber kekuatan surgawi yang telah menopang Paulus dan jemaat Filipi—Bapa kita di surga. Seperti Paulus dan jemaat Filipi, mari kita berjuang bersama-sama untuk iman dan Injil, melanjutkan pekerjaan warisan kita untuk menuntun orang pada Yesus bahkan di tengah penderitaan.—Caleb Young, Selandia Baru

Handlettering oleh Marcella Leticia Salim

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apakah kamu sedang mengalami penderitaan? Bagaimana pesan dari bacaan ini dapat menguatkan kamu?

2. Apakah kamu mengenal orang-orang yang pernah atau sedang menderita bagi Kristus? Bagaimana ketekunan mereka menguatkanmu untuk melakukan hal yang sama?

3. Apakah kamu mengenal orang yang sedang mengalami penderitaan? Bagaimana saat teduh hari ini mendorongmu untuk ikut masuk ke dalam penderitaan mereka dan menguatkan mereka?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Caleb Young, Selandia Baru | Caleb adalah penyuka film, makanan, hiburan, dan juga keluarga. Dia ingin semakin menjadi serupa dengan Kristus, dan bersyukur memiliki Juruselamat yang mengasihinya meskipun dia punya banyak kekurangan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Apakah Kamu Mencari Alasan untuk Memaklumi Dosa?

Hari ke-5 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1: 27- 28

1:27 Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,

1:28 dengan tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah.

Kita sangat ahli membuat alasan ketika kita melakukan dosa. Kita memakai imajinasi kita untuk membuat alasan-alasan baru, untuk menjelaskan dosa yang kita lakukan tidaklah seburuk yang dikira. Biasanya, mudah sekali bagi kita untuk menyalahkan kondisi yang sulit sebagai penyebab kita bersikap.

“Ya, memang aku tadi bersikap kasar, tetapi aku mengalami masalah dalam pekerjaanku hari ini.”

“Mungkin aku tadi tidak bisa menahan amarahku, tetapi itu karena ia bersikap bodoh.”

“Betul aku tidak membayar tiket kereta tadi, namun perusahaan itu juga sudah mendapatkan banyak keuntungan tanpa aku harus membayar.”

Jemaat Filipi, sebagai jemaat yang berhadapan dengan pengajaran sesat, argumen-argumen di dalam jemaat, dan persekusi dari luar, mungkin memiliki banyak alasan untuk memaklumi sikap buruk. Namun Paulus tidak menerima alasan apapun. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, seperti tercantum dalam Alkitab versi NIV, tertulis demikian: “Whatever happens, conduct yourselves in a manner worthy of the gospel of the Christ.” yang artinya, “Apapun yang terjadi, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus…”

Bagi orang Kristen, tidak peduli tekanan apa pun yang kita alami atau seberapa sulitnya kondisi yang terjadi, hidup kita harus dijalani dengan suatu cara yang akan membuat Kristus bangga, cara hidup yang menghormati dan memuliakan-Nya. Tidak ada cara hidup lain yang dapat diterima selain ini bagi seorang Kristen.

Sebuah standar yang tinggi, bukan? Selalu memiliki sikap yang berpadanan dengan Injil tidaklah mudah. Namun ada hal yang dipertaruhkan di sini: dunia yang perlu tahu bahwa kekristenan menawarkan kepuasan yang radikal sedang melihat kita, dan seharusnya mereka dapat melihat melalui kehidupan orang Kristen bahwa mereka sedang melewatkan suatu hal yang menakjubkan!

Maka dari itu, Paulus mencatat dua cara khusus agar kita dapat memiliki sikap yang berpadanan dengan Injil. Pertama-tama, kita harus disatukan—kita harus “teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman” (ayat 27).

Mungkin kita tidak menyangka standar pertama Paulus adalah untuk dipersatukan dengan saudara-saudari kita di dalam Kristus. Ini tugas yang sulit, namun sangat diperlukan untuk menunjukkan dunia bahwa Yesus yang menyelamatkan dan mempersatukan kita jauh lebih penting dari hal apapun yang dapat memisahkan kita.

Karena kita suka berselisih dan berdebat, perintah ini menantang kita sebagai orang Kristen untuk tidak membiarkan keangkuhan diri kita mengalahkan kesatuan. Melihat semua fitnah dan gosip yang berada di sekitar kita, terlihat jelas bahwa perintah Paulus untuk jemaat Filipi masih relevan bagi kita hari ini.

Kedua, kita harus berani—kita harus hidup dengan “tiada digentarkan sedikitpun oleh lawanmu” (ayat 28).

Menulis surat ini dari dalam penjara pada abad pertama, Paulus tahu persis bahwa ada banyak alasan yang logis untuk merasa takut pada lawan. Namun melakukan apapun dengan didasari rasa takut pada manusia tidaklah pantas bagi seorang Kristen; hal itu berarti kita lupa bahwa Dia yang bersama kita lebih besar dari kuasa maupun pencobaan apapun, lupa bahwa Yesus sudah menaklukkan dunia!

Maka sebagai ganti dari menggunakan ancaman penderitaan atau kesulitan untuk memaklumi dosa dan kegagalan kita, Paulus mengatakan kita harus menjadi seperti orang-orang Kristen berabad-abad lalu yang tidak takut, orang-orang yang terlihat berbeda dari kasihnya yang rela berkorban dan bukan dari rasa takutnya. Tidak ada hal lain yang bisa lebih membedakan orang Kristen dengan yang lainnya dibanding ini.

Jadi, standar dan harga yang harus dibayar dari kehidupan orang Kristen sangatlah tinggi. Kenapa kita tidak menjauh saja dari masalah, menunggu surga, dan menghindar dari drama-drama yang dapat terjadi?

Alasannya adalah, pola hidup Kristen untuk menderita sekarang dan dimuliakan nanti bukanlah suatu ketidaksengajaan. Pada Filipi 1:29, Paulus mengatakan dan mencontohkan bahwa salah satu ciri-ciri orang Kristen adalah kita mendapat penderitaan karena iman kita. Dan ketika kita menanggung penderitaan demi Kristus, tanpa dilumpuhkan oleh ketakutan atau mengabaikan saudara-saudari kita, dan dalam keberanian dan kesatuan yang tampak dengan jelas, kita menunjukkan pada dunia bahwa Kristus adalah pribadi yang layak untuk kita pertaruhkan nyawa kita.

Dan mari kita bayangkan; ketika pada akhirnya kita menyembah dengan sukacita yang mendalam pada takhta Anak Domba Allah bersama dengan orang-orang percaya lainnya di dunia yang baru, kita tidak akan menyesal sudah berkorban demi Kristus pada masa sekarang.—James Bunyan, Inggris

Handlettering oleh Robby Kurniawan

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Alasan apa yang kamu gunakan untuk meremehkan dosa atau kegagalanmu? Bagaimana bacaan hari ini mendorongmu untuk menjalani hidup yang berpadanan dengan Injil?

2. Langkah praktis apa yang dapat kamu ambil untuk memastikan kamu tetap disatukan dengan orang Kristen lainnya?

3. Kapan kamu merasa sulit untuk menjadi berani demi Kristus? Mengapa?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

James Bunyan, Inggris | James tinggal dan bekerja di London, menolong para mahasiswa berjumpa dengan Yesus lewat pembacaan Alkitab. Itu bukanlah pekerjaan yang sulit, sebab Alkitab memang buku yang luar biasa!

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Apa yang Kau Kejar dalam Hidupmu?

Hari ke-4 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:19-26

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. 1:21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. 1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

Berlari, aku sedang berlari

Untuk mendapatkan segalanya.

Cepat, ayo cepatlah,

Aku perlu meraih

Satu hal lagi

Aku menulis puisi ini lebih dari 10 tahun yang lalu. Beberapa tahun sebelumnya, aku hampir kehilangan ibuku karena kanker, tak lama setelah aku menjadi seorang Kristen. Kematian memiliki kesan baru bagiku: rasa sakit yang ditinggalkannya benar-benar nyata. Aku merasa kesal, takut, dan kebingungan. Aku mulai mengejar hal-hal seperti harta, pencapaian dan keluarga yang harmonis, untuk menghilangkan rasa sakit dan sedih.

Sementara itu, aku tetap melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan orang Kristen: pergi ke gereja, memberi persembahan, berdoa, menyanyikan beberapa lagu, dan membaca Alkitab. Semua hal ini baik dan penting untuk perjalananku bersama Tuhan, namun aku kehilangan hati untuk berelasi dengan-Nya. Kekristenan hanyalah suatu hal yang kutambahkan ke dalam daftar hal-hal yang membuatku aman, sebuah jaminan untuk memperoleh puncak kebahagiaan—kehidupan abadi. Bagiku, hidup berarti bahagia, dan mati adalah sebuah tragedi.

Yang belum kumengerti adalah berelasi dengan Allah berarti menjadikan segalanya tentang Yesus. Termasuk menjadikan kerinduan dan misi-Nya—menjadikan segala bangsa murid-Nya (Matius 28:19)—menjadi kerinduan dan misiku. Inilah bagaimana Paulus menjalani hidupnya.

Surat Paulus kepada jemaat Filipi banyak berisi hasrat terdalam dan harapannya: bahwa Kristus dimuliakan di dalamnya baik dalam hidup maupun matinya. Cara pandang Paulus sangat bertentangan denganku—karena baginya, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (ayat 21).

Seluruh kehidupan Paulus adalah tentang Kristus. Ketika ia menuliskan deklarasinya yang indah mengenai kesetiaannya pada Kristus, ia sedang berada di dalam penjara yang dijaga oleh tentara Romawi. Deklarasi tersebut bukanlah kata-kata kosong belaka, namun sebuah pernyataan yang berasal dari kepercayaan diri. Paulus siap menanggung segala konsekuensi dari menjalani hidup bagi Kristus—bahkan kematian.

Kematian bukanlah tamu yang tidak diundang bagi Paulus, karena mati berarti pulang untuk bersama dengan Kristus, yang baginya adalah jauh lebih baik daripada hidup (ayat 23)—sebuah keuntungan terbesar bagi orang yang alasan keberadaannya dalam hidup adalah Kristus. Namun bahkan dalam pemikirannya mengenai apakah ia lebih memilih untuk hidup atau mati, Paulus memilih apa yang lebih mendatangkan kebaikan bagi orang lain dibanding bagi dirinya sendiri (ayat 24-25). Ia menuntun orang lain untuk semakin bersukacita di dalam Kristus (ayat 26).

Pilihan Paulus adalah sebuah contoh yang indah mengenai pengosongan diri demi orang lain dan demi Kristus. Pilihan itu adalah sebuah jenis pilihan yang dapat dengan mudah tersingkirkan ketika kita berfokus pada kebahagiaan dan keuntungan diri kita sendiri. Paulus tidak berpegang erat pada apapun, kecuali Kristus. Ia menyambut apapun yang terjadi demi Kristus.

Teladan Paulus mengubah tujuan pribadiku dalam hidup. Alih-alih mengejar hal-hal duniawi, kini kerinduanku adalah untuk mengenal Yesus lebih lagi dan mengarahkan orang-orang pada-Nya—meskipun itu berarti beranjak dari zona nyamanku dan membagikan Injil dengan orang-orang di sekitarku.

Aku berdoa untuk semua orang percaya di seluruh dunia, termasuk diriku, supaya memiliki visi yang sama yang dimiliki Paulus—sebuah kerinduan untuk menjalani hidup kita bagi Kristus di atas segalanya, dan sebuah sikap yang tidak takut pada kematian karena itu berarti kita akan “bersama-sama dengan Kristus” (ayat 23). Mari kita terus mengevaluasi apa yang kita kejar dalam hidup, mengarahkan kembali prioritas kita dengan prioritas Allah, dan membuat keputusan yang akan mengarahkan orang lain pada Kristus.

Aku berdoa agar seperti Paulus, mengenal, mengejar, dan hidup bagi Kristus adalah satu-satunya hal yang berarti bagi kita.—Kezia Lewis, Filipina

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Renungkan apa yang Paulus tulis dalam Filipi 1:19-26 dan minta Tuhan untuk menunjukkan isi hatimu. Apa tujuan hidupmu? Hal apa yang deminya kamu rela mati?

2. Dalam hal apa cara pandangmu mengenai kehidupan dan kematian sama atau berbeda dengan cara pandang Paulus?

3. Bagaimana teladan Paulus dapat mendorongmu untuk menjalani hidupmu dengan berbeda hari ini?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Kezia Lewis, Filipina | Tiada hal yang lebih menyenangkan bagi Kezia selain naik mobil selama dua jam bersama suaminya, sembari mendengarkan rekaman khotbah. Tapi, menikmati hujan ditemani secangkir kopi juga merupakan waktu yang berkualitas buatnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Apakah Kamu Takut Membagikan Injil?

Hari ke-3 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:12-18

1:12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

1:13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

1:14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

1:15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

1:16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

1:17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.

Seberapa besarkah rasa peduli kita terhadap kesempatan orang-orang mendengar Injil?

Aku mengingat kesempatan yang kudapat baru-baru ini untuk memberitahu seorang temanku tentang Yesus Kristus. John telah membagikan pergumulannya padaku tentang keluarganya dan perjuangannya melawan depresi.

Pada saat itu, aku tahu persis apa yang perlu kukatakan, namun entah mengapa kata-kata tersebut tersangkut di tenggorokanku, seperti sebuah gumpalan yang besar dan membuat tidak nyaman. Pada akhirnya, dalam pembicaraan tersebut untuk sebagian besarnya aku hanya mendengar dan menawarkan beberapa nasihat, sementara aku sadar bahwa yang seharusnya kulakukan adalah membagikan pengharapan Kristus padanya.

Mengapa aku tidak melakukannya? Dalam perenunganku, aku takut. Sejak kami berkenalan, John selalu berkata terus terang mengenai kepercayaan ateisnya dan kritikannya terhadap agama. Dan meskipun kami pernah membahas topik seputar Tuhan, aku selalu gagal membagikan Injil secara lengkap karena rasa takut akan bagaimana John merespons.

Bagaimana jika ia tersinggung akibat aku membagikan Injil? Tidakkah itu akan membuat pertemanan akrabku menjadi retak dan canggung? Lebih lagi, bagaimana jika ia kesal hingga ia memberitahu teman-teman kami yang lainnya mengenai usahaku yang dianggapnya ingin mendorongnya berubah kepercayaan? Tidakkah itu akan menghancurkan reputasiku, dan dengan efektif membuatku dikucilkan?

Teladan Paulus dalam Filipi 1:12-18 merupakan teguran yang keras buatku. Dalam ayat-ayat ini Paulus mencontohkan bagaimana seharusnya kita memiliki pola pikir. Ketika kita fokus menyebarkan Injil, maka mencari kenyamanan diri sendiri tidaklah menjadi suatu hal yang penting.

Dalam ayat-ayat ini, kita mendapati Paulus sedang berada di situasi yang tidak mudah. Tidak hanya menulis surat untuk jemaat Filipi di dalam penjara, namun sebagaimana ditulis di ayat 17, Paulus memiliki alasan untuk khawatir yang berasal dari ketidakhadirannya akibat pemenjaraannya. Nampaknya beberapa orang yang menggantikan Paulus untuk menyebarkan Injil memiliki motivasi yang buruk; sebagaimana Paulus menuliskan “sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.”

Namun, respon Pauluslah yang paling menguatkan kita. Alih-alih bersedih atas situasinya, ia justru bersukacita (ayat 18)! Yang terpenting bagi Paulus adalah pemenjaraannya telah terbukti menghasilkan buah bagi Injil. Pemenjaraannya memberikan kesempatan bagi Paulus untuk membagikan Injil pada penjaga penjara, dan telah membuat orang-orang Kristen lainnya memiliki keberanian untuk memberitakan Injil (ayat 13-14). Di tengah situasinya yang buruk dan motivasi jahat yang dimiliki orang-orang lain (ayat 17-18), yang paling Paulus pedulikan adalah tersebarnya Injil itu.

Jadi seberapa besarkah rasa peduli kita terhadap kesempatan orang-orang mendengar Injil?

Kegagalanku untuk membagikan Injil pada John membuktikan bahwa aku lebih memperhatikan kenyamanan dan reputasiku; aku tidak bersedia menanggung kemungkinan yang membuat tidak nyaman dan canggung. Aku perlu memiliki pola pikir yang Paulus tunjukkan di surat Filipi—pola pikir untuk mengasihi John, untukku memiliki keberanian membagikan kabar terbaik yang pernah kudengar apapun resikonya.

Hal itu tidak berarti aku harus menjadi orang yang kurang ajar dan menghancurkan setiap percakapan, namun contoh Paulus mendorongku untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana aku bisa membagikan Injil dengan teman-temanku. Kiranya kita menjadi seperti Paulus, tidak membiarkan ketakutan kita menghalangi tersebarnya Injil. Melihat lebih banyak orang menemukan pengetahuan tentang Kristus yang menyelamatkan merupakan hal yang jauh lebih penting.—Andrew Koay, Australia

Handlettering oleh Septianto Nugroho

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Ketakutan apa yang menghalangimu dari memberitakan Yesus Kristus pada orang-orang di sekitarmu?

2. Kesulitan apa yang sedang kamu jalani saat ini? Bagaimana caranya kamu dapat mendoakan supaya kesulitan tersebut menjadi kesempatan untuk menyebarkan Injil?

3. Apa yang kamu rasakan ketika kamu melihat Injil dibagikan dengan motivasi yang tidak murni? Bagaimana sikap Paulus dapat menantangmu untuk memberikan respon yang berbeda?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Andrew Koay, Australia | Andrew meluangkan waktunya untuk menonton film dokumenter. Andrew juga suka mendengarkan suara Tuhan lewat firman-Nya dalam Alkitab.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Arti Sesungguhnya Mengasihi Seseorang

Hari ke-2 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:9-11

1:9 Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian,

1:10 sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus,

1:11 penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.

Beberapa waktu lalu, seorang temanku mengirimiku chat yang panjang, ia sedang merasa frustrasi. Aku tidak nyaman dengan konflik—terutama ketika kondisinya tidak melibatkanku. Maka meskipun aku tahu aku harus menolong temanku itu, aku tidak tahu bagaimana caranya.

Suamiku mendorongku untuk meneleponnya, namun aku tidak menyukai pembicaraan melalui telepon. Aku tergoda untuk membiarkan perasaanku mengalahkan kepedulianku terhadap temanku, dan mengabaikannya begitu saja.

Namun, jika aku benar-benar mengasihi saudariku dalam Kristus, aku seharusnya memilih untuk berada di sampingnya. Aku pun memberanikan diri untuk meneleponnya, ternyata itu berdampak positif bagi kami berdua.

Menyatakan kasih dalam puji-pujian di hari Minggu atau melalui hashtag di Instagram memang mudah. Tetapi, cara tersebut bisa menjadi cara yang dangkal jika tidak disertai dengan tindakan nyata dari kasih tersebut. Terkadang kita memiliki niat yang baik, tapi kita tidak tahu bagaimana cara menyatakannya itu melalui tindakan.

Untungnya, Paulus meneladankan aplikasi praktis dari kasih ini. Dalam suratnya, ia mengekspresikan rasa syukurnya atas jemaat Filipi, dan menjelaskan bagaimana ia seringkali berdoa untuk mereka. Paulus membagikan detail doanya dalam ayat 9-11.

Dua frasa yang sangat menonjol bagiku adalah “pengetahuan” dan “segala macam pengertian”. Kata pengetahuan yang digunakan disini bukan hanya sekadar kumpulan fakta-fakta. Bahasa Yunaninya, “epignosis”, memiliki arti jenis pengetahuan yang berdampak pada pikiran dan hati, yang menuntun pada aplikasi yang personal dan relasional. Paulus menggunakan kata ini setiap kali ia mendorong para pembacanya untuk mengetahui/mengenal Tuhan (Efesus 1:17; Kolose 1:9-10; Filemon 6).

Istilah yang kedua, segala macam pengertian, dapat diartikan sebagai kearifan atau kebijaksanaan. Itu adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang benar-benar penting, dan mengetahui hal terbaik untuk dilakukan di setiap situasi.

Paulus mengatakan bahwa seiring kita mengenal Allah dengan lebih baik, kasih kita pada-Nya dan orang-orang lain akan semakin mendalam dengan sendirinya dan terwujudnyatakan dalam kehidupan. Kasih tersebut adalah kasih yang tanggap, dan sangat penting bagi perjalanan spiritual kita, hingga Paulus juga menyinggung perlunya bertumbuh dalam kasih ini dalam surat-suratnya yang lain (1 Tesalonika 3:12).

Kasih yang bijak tidak berhenti dalam pikiran. Kasih itu akan membentuk sikap dan perilaku kita. Kecenderungan alamiku adalah menjauh dari situasi yang sulit. Namun pengetahuanku akan perintah Kristus untuk mengasihi sebagaimana Ia mengasihi kita—dan mengetahui dengan jelas apa yang akan Kristus lakukan di dalam situasi tersebut—meyakinkanku untuk menelepon temanku.

Ketika kita mampu mengenali apa yang benar, kita akan mampu membuat keputusan yang “kudus dan tidak bercacat” yang sejalan dengan firman Tuhan dan sifat-Nya. Hidup seperti inilah yang akan menghasilkan buah-buah yang baik dan memuliakan Tuhan.

Aku lega karena mengetahui kitab Filipi menunjukkan pada kita bahwa ada cara untuk menumbuhkan kasih. Jika tidak, aku hanya akan mengandalkan pemahamanku sendiri tentang cara mengasihi—pemahaman yang aku tahu tidak cukup baik. Sebagai permulaan, kita dapat membudayakan kasih seperti yang Paulus tuliskan—kasih yang dibentuk melalui pengetahuan dan segala macam pengertian—dengan cara membaca dan merenungkan firman Tuhan, mengambil waktu untuk berdoa, belajar dari para mentor dan pemimpin, dan dengan menjadi pendengar dan pemerhati yang lebih baik bagi orang-orang di sekitar kita.

Mari izinkan diri kita untuk mengambil langkah untuk menumbuhkan kasih yang bijaksana. Mari kita berkomitmen untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan mengizinkan-Nya untuk mengubah kasih kita menjadi kasih yang tidak mudah digoyahkan oleh keadaan ataupun perasaan. Mari kita bertumbuh hari demi hari, bagi kemuliaan Allah.—Charmain Sim, Malaysia

Handlettering oleh Tora Tobing

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pikirkan sesorang yang kamu kenal yang bijak dan penuh kasih. Pernahkah kamu mendapat nasihat yang didasari oleh “kasih” dan “pengetahuan”?

2. Hal-hal apa yang biasanya kamu doakan? Apakah kamu berdoa untuk nilai, kondisi finansial, dan relasi yang baik—atau kamu berdoa agar bertumbuh dalam kasih, kearifan, dan sifat-sifat yang benar?

3. Bagaimana doa Paulus dalam surat ini menantang caramu melihat hal yang penting dalam hidupmu?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Charmain Sim, Malaysia | Charmain menyuikai coklat, kue-kue, dan cerita-cerita luar biasa dari orang biasa. Charmain juga menyukai kejutan-kejutan kecil namun berarti yang Tuhan berikan untuknya setiap hari.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Bukan Persekutuan Biasa

Hari ke-1 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 1:1-8

1:1 Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken.

1:2 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

1:3 Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.

1:4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita.

1:5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini.

1:6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.

1:7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil.

1:8 Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.

Bukan Persekutuan Biasa

Apa yang muncul di pikiranmu ketika kamu mendengar kata “persekutuan”? Seringkali kita membayangkannya sebagai sekadar acara “kumpul-kumpul”, bermain bersama di komunitas pemuda, atau berbincang-bincang tentang topik-topik yang santai.

Meskipun tidak ada yang salah dengan itu, pernahkah kamu merenungkan apakah ada makna yang lebih dalam dari sebuah persekutuan?

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menunjukkan gambaran yang berbeda mengenai persekutuan. Ia memulai suratnya dengan berterima kasih pada jemaat Filipi untuk “persekutuan mereka dalam Berita Injil” (Filipi 1:5). Persekutuan seperti apa yang membuat Paulus berterima kasih?

Jemaat Filipi adalah jemaat pertama yang Paulus bentuk di Eropa. Jemaat tersebut terdiri dari seorang pedagang bernama Lydia dan seisi rumahnya, seorang kepala penjara dan keluarganya, dan orang-orang lain yang menjadi percaya semenjak terbentuknya jemaat itu (Kisah Para Rasul 16). Ketika Paulus banyak menulis surat untuk mengoreksi atau menegur permasalahan di jemaat mula-mula, suratnya untuk jemaat Filipi terlihat berbeda sebagai surat yang berisi ucapan syukur dan sukacita.

Aku yakin jemaat Filipi tidaklah sempurna. Tidak ada gereja yang sempurna. Namun apa yang membedakan jemaat Filipi dari yang lainnya adalah fokus mereka yang tajam: mereka berkomitmen untuk melakukan tujuan bersama mereka—menyebarkan Kabar Baik tentang Kristus. Dengan membantu Paulus secara finansial dan bekerja dengannya (4:15), jemaat Filipi tidak hanya sedang menyebarkan Injil, tetapi mereka juga sedang menghidupi Injil itu di dalam komunitasnya.

Ketika Paulus mengucap syukur pada Tuhan untuk persekutuannya dengan orang-orang percaya di Filipi, ia tidak hanya membayangkan obrolan santai setelah makan atau permainan yang menyenangkan. Paulus mengucap syukur karena jemaat Filipi bekerja bersamanya dalam menyebarkan Injil pada orang-orang bukan Yahudi, menolong orang-orang yang membutuhkan, dan memperhatikan kebutuhan orang lain meskipun mereka sendiri sedang menderita.

Itulah persekutuan yang sesungguhnya.

Pernahkah kamu membaca buku J. R. R. Tolkien, Fellowship of the Ring?

Dalam cerita tersebut, persekutuan (fellowship) itu dibentuk dari sembilan individu dari berbagai ras dan kepribadian, dan berbagai pendapat tentang cara melakukan suatu hal. Orang-orang ini tidak menjalankan persekutuannya dengan duduk mengelilingi api unggun dan berbagi candaan. Itu bukanlah persekutuan yang sebenarnya.

Persekutuan mereka yang sejati adalah tentang menjaga satu sama lain untuk bertahan dari godaan kekuatan jahat; tentang melindungi satu sama lain dari musuh bersama. Yang menjadikan mereka sebuah persekutuan adalah perjalanan berbahaya mereka menghadapi kejahatan dan maut untuk memperjuangkan apa yang baik.

Seperti itulah seharusnya sebuah gereja.

Gerejaku tidak selalu seperti itu. Sebagai seorang pemimpin di gereja, kami sering berusaha keras untuk membuat gereja menjadi menyenangkan dan relevan, sampai kami lupa akan tujuan utama kami.

Jika itu terdengar seperti gerejamu juga, jangan putus asa. Sebaliknya, mari kita terdorong untuk mengejar gambaran yang Paulus tunjukkan mengenai persekutuan yang sesungguhnya.

Mari kita mulai dengan melakukan percakapan yang jujur dengan satu sama lain tentang sejauh mana kita melangkah dalam perjalanan iman kita. Mari kita saling berbagi dalam pergumulan satu sama lain (1:29-30), bertekad untuk berjalan bersama dan mendoakan satu sama lain melewati beragam musim dalam hidup, dan mendorong satu sama lain untuk bertumbuh di dalam kedewasaan rohani (2:12).

Persekutuan kita bukanlah sekadar persekutuan dunia biasa. Kita dipersatukan oleh Allah sendiri untuk suatu tujuan mulia. Maka mari kita bersama-sama memenuhi tujuan itu, yang adalah menyebarkan Kabar Baik-Nya pada dunia. (1:27)—Carol Lerh, Singapura

Handlettering oleh Naomi Prajogo Djuanda

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Bagaimana caranya agar persahabatan kita di gereja dapat berfokus untuk menyebarkan Injil?

2. Pikirkan satu perubahan yang dapat kamu lakukan untuk membagikan persekutuan yang sesungguhnya pada komunitas Kristenmu.

3. Dengan cara apa kamu dapat bekerja bersama orang-orang Kristen di sekitarmu dalam pekerjaan Injil?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Carol Lerh, Singapura | Carol suka berpikir, salah satu hal yang selalu dia pikirkan adalah betapa lebar, dalam, dan luasnya kasih Allah yang tak terukur. Hal lain yang Carol suka lakukan adalah menulis.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi