Posts

Tetaplah Berlari

Oleh: Ade Henka Sinurat

berlarilah

Hidup ini bukan untuk membebani diri
Dengan berusaha meraih
Apa yang diraih orang lain

Setiap pencapaian
Adalah tanggung jawab tiap insan
Di hadapan Tuhan yang memanggilnya

Berlarilah dalam jalurmu
Jangan habiskan waktu
Bandingkan kiri dan kanan
Jangan sia-siakan kesempatan
Dengan menoleh ke belakang

Berlarilah…
Fokus pada tujuan

Tahukah kau
Betapa orang akan diberkati
Melihat ketekunanmu berlari
Lewati segala yang menghalangi
Hingga kau tiba di garis akhir?

Tidak harus kau jadi yang tercepat
Atau lebih cepat dari orang lain
Yang penting kau jadi yang terbaik
Yang terbaik dari dirimu sendiri

Berjalanlah sejenak jika kau lelah
Tapi, jangan pernah menyerah
Karena Penciptamu pasti memberi
Kekuatan yang kau butuh tiap hari
Hingga rencana-Nya di hidupmu digenapi

 
Yogyakarta, November 2014
Puisi ini adalah sebuah perenungan ketika aku merasa gagal. Firman Tuhan mengingatkanku untuk tidak mengukur keberhasilan dalam hidup dengan pencapaian orang lain, tetapi dengan apa yang menjadi rancangan Tuhan dalam hidupku.

“Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:13b-14)

Bertekun Yuk!

Ilustrasi oleh: Handy Wachyudi

Bayangkanlah menghabiskan sebagian besar waktumu untuk berlari-lari keliling lapangan, lompat tali berjam-jam, latihan menendang, menangkap, menggiring dan mengoper bola berulang-ulang, lagi dan lagi setiap hari. Bosan? Mungkin. Tapi bagi para pemain sepakbola profesional, itulah prioritas hidup mereka. Mengasah keterampilan bermain bola untuk menjadi bintang yang bersinar di lapangan. Bisa jadi ada saat-saat mereka merasa jenuh dan ingin melanggar aturan yang diberikan sang pelatih. Namun bayangan gelar juara dan piala yang menanti membuat mereka kembali bersemangat dan fokus.

Ketekunan. Mencurahkan segenap pikiran, perasaan, tenaga, untuk mengerjakan sesuatu hingga tuntas. Menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Tidak cepat menyerah. Tidak mudah jemu. Rajin berusaha. Sikap yang mengekspresikan hasrat hati yang kuat. Namun, bukan hal yang gampang untuk bertekun dalam zaman ini. Di sekeliling kita banyak iming-iming untuk meraih sukses secara instan. Membuat kita kurang tertarik dengan yang namanya proses. Membangun hal-hal yang bersifat dasar terasa seperti membuang-buang waktu saja.

Sebagai seorang Kristen, mungkin kita sering berkata ingin hidup memuliakan Tuhan, ingin makin peka dengan kehendak Tuhan, ingin memiliki karakter seperti Yesus. Namun, apakah benar itu menjadi kerinduan hati kita? Jika ya, seberapa banyak kita sudah bertekun mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan? Seberapa sering kita rajin menghadap Tuhan dalam doa? Seberapa besar kesungguhan kita melatih tutur dan laku kita agar makin hari makin serupa Kristus?

Hari ini, pikirkanlah satu hal yang kamu ingin capai dalam tahun 2014 sebagai seorang pengikut Kristus. Daftarkanlah hal-hal yang perlu kamu lakukan untuk mencapainya. Dan, mohonlah kasih karunia Tuhan untuk mengaruniakanmu ketekunan dalam melakukannya.

Taktik Jitu 2

Maju Terus

Selasa, 4 Juni 2013

Maju Terus

Baca: Filipi 1:12-18; 3:8-11

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. —Filipi 3:10

Dalam sebuah seminar bagi kaum pria Kristen, saya berbincang-bincang dengan Clyde, seorang teman lama yang telah membina dan menolong saya selama bertahun-tahun. Ia hadir di sana bersama dua pemuda dari China, yang baru saja menjadi orang percaya. Kedua pemuda ini sangat berterima kasih atas persahabatan dan dukungan rohani yang diberikan Clyde selama ini. Dengan antusiasme yang meluap-luap, teman saya yang berusia hampir 80 tahun itu berkata, “Sekarang ini, saya merasa semakin berapi-api untuk mengenal dan mengasihi Kristus.”

Surat Paulus kepada jemaat di Filipi mengungkapkan isi hati dan tujuan hidupnya yang tak lekang oleh waktu. “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Didasari hubungan pribadinya dengan Yesus, muncullah dalam diri Paulus suatu semangat yang tak terpadamkan untuk membawa orang lain kepada iman di dalam Tuhan. Paulus mengabarkan Injil dengan penuh sukacita dan menjadi kian bersemangat saat orang lain menunjukkan keberanian yang semakin besar karena dirinya (1:12-14).

Jika tujuan kita semata-mata adalah untuk melayani Tuhan, pada suatu saat kita bisa kehabisan daya. Namun jika tujuan kita sama seperti tujuan Paulus, Clyde dan banyak yang lainnya, yaitu untuk mengenal Kristus dan mengasihi Dia, kita akan selalu memperoleh kekuatan untuk memperkenalkan nama-Nya kepada orang lain. Dengan penuh sukacita, marilah kita terus maju dalam kekuatan yang diberikan Allah! —DCM

Allah Bapa, aku ingin mengenal segalanya tentang-Mu
dan mengasihi-Mu sepenuhnya. Aku percaya bahwa hubungan
dengan-Mu adalah dasar dari pelayananku kepada-Mu.
Tolong aku melayani bukan dengan kekuatanku sendiri.

Belajarlah dari Kristus, lalu perkenalkanlah nama-Nya kepada orang lain.

Setia Sampai Akhir

Rabu, 24 April 2013

Setia Sampai Akhir

Baca: Ibrani 12:1-4

. . . marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. —Ibrani 12:1

Setelah berlari sejauh 32 kilometer dalam Lomba Maraton Salomon Kielder di Inggris, seorang pelari berhenti lalu menumpang sebuah bus dan turun di daerah pepohonan dekat garis akhir. Kemudian, ia ikut bergabung kembali ke dalam lomba dan merebut juara ketiga. Ketika ditanya oleh petugas lomba, ia beralasan bahwa ia berhenti berlari karena sudah lelah.

Banyak dari kita bisa memahami kelelahan yang dirasakan para olahragawan yang sudah kepayahan karena kita juga menempuh suatu perlombaan iman. Kitab Ibrani mendorong kita untuk “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (12:1). Berlomba dengan tekun mengharuskan kita untuk menyingkirkan dosa yang menghalangi langkah kita dan menanggalkan beban berat yang memperlambat laju kita. Kita harus tetap maju meski kita mungkin mengalami penganiayaan (2Tim. 3:12).

Agar kelemahan dan keputusasaan tidak berdiam di dalam jiwa kita (Ibr. 12:3), Alkitab mendorong kita untuk memusatkan perhatian kepada Kristus. Ketika kita lebih memperhatikan Dia daripada pergumulan kita, kita akan melihat Dia berlari di sisi kita—menopang ketika kita tersandung (2Kor. 12:9) dan menyemangati kita dengan teladan-Nya (1Ptr. 2:21-24). Dengan mengarahkan pandangan kepada Yesus “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:2), kita akan ditolong untuk tetap dekat dengan sumber kekuatan kita dan untuk tetap setia sampai akhir. —JBS

Pandanglah pada Yesus,
Pandanglah wajah mulia-Nya;
Di dalam terang kemuliaan-Nya,
Dunia akan menjadi hampa. —Lemmel
(Buku Lagu Perkantas, No. 74)

Kita bisa mencapai akhir dengan meyakinkan ketika kita memusatkan perhatian kepada Kristus.

Wallpaper: Berlomba Dengan Tekun

“Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8)

Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768


“Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajahnya selalu.” (Mazmur 105:4)

Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768


“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768


“… dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:14)

Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768


“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

Download wallpaper ukuran: 1024×768 | 1280×800 | 1366×768

Safari Semut

Jumat, 13 Juli 2012

Safari Semut

Baca: Amsal 6:6-11

Pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak. —Amsal 6:6

Dalam bukunya Adventures Among Ants: A Global Safari with a Cast of Trillions (Petualangan Para Semut: Safari Global Dengan Triliunan Peserta), Mark Moffett mengenang kembali kekagumannya terhadap semut di awal masa kanak-kanaknya—suatu ketertarikan yang tidak pudar seiring pertumbuhan dirinya. Minat Moffett yang besar ini membawanya meraih gelar doktor di Harvard dan kemudian berkeliling dunia sebagai seorang ahli dalam bidang tersebut. Studi yang dilakukannya telah memberinya pemahaman yang luar biasa tentang hewan yang rajin bekerja ini.

Jauh sebelum Moffett menemukan hal-hal ajaib dari dunia semut, Kitab Suci telah menyebut tentang kecerdikan dan etos kerja dari serangga mungil ini. Semut dipuji oleh Raja Salomo yang bijaksana sebagai teladan kerja keras bagi mereka yang suka bermalas-malasan: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya . . . ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen” (Ams. 6:6-8).

Keajaiban akan ciptaan Allah tergambar dengan sangat indah ketika Allah memakai makhluk ciptaan-Nya untuk mengajar kita. Contohnya, dari semut kita dapat melihat pentingnya merencanakan masa depan dan menyiapkan persediaan untuk masa yang akan datang (30:25). Allah memberikan pelajaran rohani melalui alam itu sendiri, dan kita dapat belajar dari makhluk ciptaan-Nya bahkan yang sekecil semut sekalipun. —HDF

Dalam kitab alam yang terbuka iman tetap tak goyah—
Pola Sang Maha Pencipta terbukti dari setiap fakta;
Maka dengan khidmat kita renungkan karya agung
Dari semesta sekitar, yang dicipta oleh tangan Ilahi. —Peterson

Dalam kitab alam ciptaan Allah, kita dapat menemukan banyak pelajaran berharga.