Posts

Kemuliaan setelah Penderitaan

Hari ke-9 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 2:9-11

2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Pernahkah kamu bekerja sangat keras dan berharap hasil kerjamu tersebut akan setimpal dengan upayamu?

Beberapa tahun lalu, otot ligamen di lututku sobek saat bermain sepak bola. Pada pemeriksaan pertama setelah dioperasi, aku hanya punya satu pertanyaan—apa yang perlu kulakukan agar aku bisa bermain sepak bola lagi sama seperti sebelum aku mengalami cedera?

Dokter memberitahuku bahwa aku perlu mengikuti program rehabilitasi yang intensif, menghabiskan waktu di gym dan di fisioterapi untuk memperkuat otot di sekitar lututku yang cedera. Jadi, itulah komitmenku untuk setahun ke depan—menghabiskan banyak waktu untuk memulihkan cedera lututku. Prosesnya sangat panjang dan sulit, tapi aku tahu aku harus berusaha keras agar bisa kembali ke lapangan bersama teman setimku.

Kita melihat prinsip yang sama di Filipi 2:9-11. Dalam ayat-ayat sebelumnya (ayat 5-8), kita melihat Paulus mendorong gereja Filipi untuk rendah hati seperti Kristus—kerendahan hati yang tetap ada bahkan di saat-saat sebelum Ia mati.

Dan, dalam bacaan ini (ayat 9-11), kita melihat kerendahan hati dan ketaatan akan memimpin kita kepada kemuliaan. Kata “itulah sebabnya” di awal ayat ke-9 adalah kunci; itu menunjukkan hubungan antara ayat kemarin dengan ayat hari ini. Kerendahan hati dan ketaatan Yesus membawa-Nya kepada hadiah yang Paulus telah tuliskan untuk kita di Filipi 2:9-11. Apakah sebenarnya hadiah ini? Hadiahnya adalah kemuliaan yang jauh melampaui akal manusia—Yesus dimuliakan di atas segalanya dan disembah oleh seluruh dunia.

Di sini, Paulus sedang menunjukkan kepada gereja Filipi tentang apa yang akan mereka dapatkan dari pengorbanan mereka. Sebelumnya, Paulus mendorong para jemaat Filipi untuk terus “bersama berjuang sebagai kesatuan dalam kepercayaan kepada Injil” (Filipi 1:27), dan kita lihat bahwa perjuangan mereka dapat membuat mereka menderita demi iman mereka (1:29).

Filipi 2:3-4 menunjukkan apa yang jemaat seharusnya lakukan, dan mengorbankan kenyamanan merupakan salah satunya. Tidak akan mudah bagi para jemaat Filipi untuk menghargai orang lain di atas diri mereka sendiri (2:3), dan untuk memperhatikan kepentingan orang lain dan bukan kepentingan mereka sendiri (2:4). Tapi di ayat 5, Paulus mendorong mereka untuk “memiliki pola pikir yang sama dengan Kristus Yesus”—kerendahan hati dan ketaatan kepada Tuhan, karena seperti Yesus, hal itu akan membawa mereka kepada hadiah yang Tuhan telah persiapkan dalam kekekalan.

Jemaat Filipi dapat yakin dengan janji ini karena mereka telah melihatnya dalam kehidupan, kematian, dan kenaikan Yesus; mereka bisa yakin bahwa ketekunan mereka sekarang akan membawa mereka kelak menikmati kemuliaan yang kekal bersama Tuhan. Dan lebih dari itu, mereka dapat yakin bahwa kemuliaan yang sedang menanti mereka akan jauh melampaui pengorbanan yang harus mereka lakukan sekarang.

Sama seperti harapan dapat bermain sepak bola lagi membantuku melewati masa-masa pemulihan yang sulit, Paulus mengingatkan kita untuk berharap pada janji mulia Tuhan, yaitu kekekalan. Ketika kita merasa kita tidak mau lagi mengasihi dan melayani orang lain seperti yang diminta Tuhan pada kita, mengingat hadiah yang kelak akan kita terima di akhir bisa membantu kita untuk terus taat.

Mungkin saat ini kita menderita, tetapi jika kita terus meneladani Yesus, segala penderitaan itu tak akan ada lagi artinya saat kita kelak bertemu dengan-Nya.

Ketika saat itu tiba—terkagum dengan kemuliaan dan kehadiran Allah yang kekal—tidak salah lagi bahwa semua penderitaan yang telah kita tanggung sepadan dengan apa yang kita dapatkan.—Andrew Koay, Australia

Handlettering oleh Novelia Damara

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Kristus telah ditinggikan di atas segala-Nya. Bagaimana pemahaman ini memengaruhi cara kita memuji dan bertindak bagi-Nya?

2. Apa yang memotivasimu untuk menjadi rendah hati dan memikirkan orang lain lebih dahulu daripada dirimu sendiri?

3. Bagaimana pengharapan akan kekekalan menyemangatimu hari ini?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Andrew Koay, Australia | Andrew meluangkan waktunya untuk menonton film dokumenter. Andrew juga suka mendengarkan suara Tuhan lewat firman-Nya dalam Alkitab.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Memprioritaskan Tuhan di Tengah Waktu Dunia yang Terbatas

Oleh Mary Anita, Surabaya

Hari Minggu yang lalu diawali dengan kabar memilukan. Teroris menyerang tiga gereja di Surabaya, kota tempat tinggalku dengan meledakkan bom. Kaget dan tak menyangka. Kabar ini seperti mimpi buruk di siang bolong.

Pagi itu aku belum sempat ke gereja, dan kupikir aku tetap bisa ke gereja di sore hari. Tapi, demi alasan keamanan, pihak kepolisian meminta semua gereja di Surabaya meniadakan ibadah. Beberapa gereja kemudian menyiarkan khotbah dalam bentuk online, dan kami dihimbau untuk berkumpul di tempat yang aman dan saling menguatkan satu sama lain. Pengalaman ini baru pertama kali terjadi dalam hidupku.

Dengan hati pedih, aku berpikir, “Ya Tuhan, untuk beribadah ke gereja di hari Minggu mencari Tuhan, perlukah umat-Mu sampai harus melewati kesulitan seperti ini? Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhirku untuk bersekutu mencari-Mu?” Teror ini membuatku takut. Namun, saat itu Roh Kudus menyadarkanku bahwa daripada larut dalam ketakutan, aku dapat menggunakan momen ini untuk mengoreksi diriku sendiri. Peristiwa teror ini seakan menampar wajahku. Sebagai orang Kristen yang katanya sudah lahir baru, aku mendapati kalau terkadang diriku masih suka sekenanya saja dengan Tuhan.

Aku memang rutin hadir di gereja, rajin saat teduh, juga ikut pendalaman Alkitab. Tapi, nyatanya, aktivitas yang tampaknya rohani itu bukanlah jaminan kalau aku sungguh-sungguh mencari Tuhan. Ada saat di mana semangatku berkobar-kobar mencari Tuhan dan aku rajin bersaat teduh, tapi sering pula sikapku asal-asalan.

Ketika distraksi demi distraksi menghampiriku, aku dengan mudah melengserkan Tuhan dari prioritasku. Ketika aku pulang ke rumah larut malam setelah bekerja, aku hanya sekadar berdoa sebelum tidur. Kalaupun bersaat teduh, seringkali aku melakukannya hanya di waktu sisaku. Hasilnya aku lebih banyak mengantuk daripada mengerti firman Tuhan. Tapi, kalau soal hiburan seperti nonton televisi dan bermain media sosial, aku bisa berjam-jam lupa waktu. Di gereja pun, pikiranku melayang-layang, lebih sering berpikir tentang kekhawatiran masalah hidup daripada Tuhan sendiri.

Efesus 5:15-16 mengatakan demikian:
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.”

Aku sadar. Aku perlu bertobat dan memperbaiki sikap hatiku, memprioritaskan Tuhan dalam waktu keseharianku. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk setiap saat mencari wajah-Nya, sehingga bukanlah keputusan yang bijaksana apabila aku mengabaikan-Nya di tengah-tengah waktu yang Dia karuniakan kepadaku.

Kehidupan bisa berakhir kapan saja. Pun kita tidak tahu sampai kapan kita bisa dengan leluasa datang beribadah dan bersekutu bersama orang percaya untuk menyembah Tuhan. Hanya Tuhanlah yang kekal dan setia selama-lamanya. Hari itu, aku berkomitmen dan memulai perjuangan untuk memiliki hati yang selalu lapar dan haus akan firman-Nya. Aku membutuhkan Roh Kudus supaya hidupku dapat dipersembahkan sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya. Tak ada waktu yang sia-sia jika kita investasikan itu untuk bersekutu dengan-Nya.

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6).

Baca Juga:

Ketika Aku Menemukan Berhala dalam Diriku

Kupikir tidak ada salahnya mengejar ambisi-ambisi pribadi. Toh, Tuhan juga dimuliakan di dalamnya. Tuhan pasti bangga jika anak-Nya menjadi yang terbaik. Tapi, akhirnya aku sadar bahwa di sinilah aku sedang menjadikan hasrat hatiku sebagai berhala buatku sendiri.

Janelle: Menghadapi Penyakit dengan Goresan Pena

janelle-menghadapi-rasa-sakit-dengan-goresan-pena

Oleh Jasmine Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Janelle: Facing Pain with A Pen

Mungkin itu karena senyum hangat yang selalu terhias di wajah Janelle*. Atau, mungkin juga, karena kepribadiannya yang ramah sehingga orang-orang menyukai dia. Sulit rasanya membayangkan bahwa di balik senyum dan sikapnya yang lemah lembut, terdapat penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya.

Bagi Janelle yang saat ini sudah berusia 23 tahun, tidak ada hari yang dilaluinya tanpa rasa sakit. Semenjak usia enam tahun, dia memerangi sebuah penyakit auto-imun yang menyerang kulitnya. Penyakitnya itu diawali dengan demam selama berminggu-minggu, dan perlahan, bercak-bercak merah dan putih mulai timbul di kulitnya. Keluarganya memutuskan untuk mendatangi seorang dermatolog dan hasil diagnosis dokter membuat keluarga Janelle terkejut. Di usia yang masih belia itu, Janelle harus menghadapi kenyataan bahwa ia akan kesulitan tidur setiap malam dan akan terus menderita rasa sakit sepanjang hidupnya.

Semenjak diagnosis itu, hidup Janelle yang adalah seorang Sarjana Akuntasi tidak pernah lepas dari beragam upaya pengobatan.

Pada Oktober 2014, keadaan Janelle memburuk. Janelle selalu joging secara rutin. Namun, suatu hari setelah ia selesai joging, otot betisnya terasa sakit. Rasa sakit itu terus berlanjut selama beberapa hari hingga akhirnya Janelle memeriksakannya ke dokter. Ketakutan terbesar Janelle terungkap menjadi kenyataan. Selain masalah kesehatan yang sudah ia alami selama bertahun-tahun, ternyata Janelle juga menderita artritis (peradangan otot) pada kakinya. Kondisi ini perlahan-lahan akan menghancurkan persendian di tubuhnya. Janelle harus mengonsumsi lebih dari 180 pil penghilang rasa sakit dan imunosupresif (obat untuk menekan aktivitas imun) setiap bulannya. Namun, apabila sewaktu-waktu terjadi infeksi, ia harus mengonsumsi lebih banyak dari itu.

Janelle ingat bahwa ketika ia mendengar diagnosa tersebut, hatinya hancur dan ia hampir tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Beban itu rasanya terlalu berat untuk ditanggung.

Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang Janelle derita semakin menjadi-jadi. Sampai pada suatu titik, Janelle sadar bahwa ia tidak dapat lagi bergantung pada emosinya sebagai manusia semata. Ia dapat memilih antara: mengasihani diri sendiri atau melekat kepada Tuhan senantiasa.

Mengambil sebuah pena

Setelah dua bulan mencari-cari obat terbaik, ditemukanlah obat penghilang rasa sakit yang cocok dengan tubuh Janelle. Lambat laun keadaan Janelle membaik. Seiring ia berserah kepada Tuhan, imannya semakin bertumbuh dan ia mampu mengatasi ketakutan terbesarnya. Janelle menemukan sebuah hal baru yang bisa ia lakukan, yaitu: hand and brush lettering—seni menulis indah layaknya kaligrafi dengan menggunakan tangan. Janelle mulai menulis lirik-lirik pujian serta ayat-ayat Alkitab dengan seni menulis indahnya.

Sukacita rohani yang Janelle terima mampu mengalahkan rasa sakit yang harus dideritanya tiap kali proses pengobatan dan injeksi berlangsung.

Pada pertengahan tahun 2015, Janelle menciptakan “The Hope Letter”, yaitu sebuah akun hand-lettering di Instagram yang berisikan kata-kata mutiara dan ayat-ayat Alkitab. Saat ini, akun tersebut sudah memiliki sekitar 3.000 followers.

@thehopeletter

@thehopeletter

“Anugerah Tuhan yang menghidupi aku menjadi alasanku menekuni hal ini,” kata Janelle.

Ketika masih duduk di sekolah menengah, Janelle pertama kali menyadari bahwa dia bisa membagikan imannya lewat kartu-kartu ucapan. Di kartu-kartu yang dia bagikan kepada teman-temannya, Janelle menuliskan kata-kata inspiratif dan ayat Alkitab yang dia kemas dengan indah. Dukungan dari teman-temannya mendorong Janelle untuk terus merancang kartu-kartu baru demi proyek pengumpulan dana di universitasnya.

Tetapi, seiring waktu Janelle menyadari bahwa dia juga bisa menggunakan kartu-kartu itu sebagai sarana untuk membagikan “harapan” kepada banyak orang dan juga menginspirasi orang-orang lain yang memiliki pergumulan serupa dengannya. Tanpa meminta imbalan, Janelle bersedia membagikan ayat-ayat Alkitab dan kata-kata mutiara tentang berjuang dari penderitaan. “Sebagian besar dari karya-karyaku yang paling disukai adalah karya yang kubuat ketika aku sedang menghadapi masa-masa tersukar,” kata Janelle

Akun Instagram yang dibuat oleh Janelle membawanya mengenal Heather Baker, seorang wanita berusia 40-an yang mengidap kanker stadium 4. Heather, secara kebetulan melihat karya-karya Janelle di Instagram. Kemudian ia merasan penasaran dan akhirnya mengirim pesan langsung kepada akun Instagram Janelle di bulan Juli 2016. Heather menanyakan apakah Janelle juga sedang bergumul dengan penyakit atau sekadar menyemangati orang-orang yang sakit.

Ketika Janelle memberitahukan kondisi kesehatannya, Heather pun secara sukarela mengajukan diri untuk mendoakan Janelle. Mereka berdua akhirnya menjalin hubungan pertemanan yang erat. Mereka juga mulai saling bertukar pikiran, pokok doa, pergumulan, dan ucapan terima kasih. Lewat hubungan pertemanan ini, Janelle tahu pasti bahwa Tuhan hadir dan ada dalam kehidupannya.

@thehopeletter

@thehopeletter

Pergumulan yang terus-menerus

Seiring Janelle terus mengekspresikan imannya kepada Tuhan lewat karya-karya hand lettering-nya, bisul-bisul mulai muncul di lidah, amandel, dan tenggorokannya. Hal ini menyebabkan Janelle merasa mual, tidak nafsu makan, tidak nyaman pada perutnya, dan tubuh Janelle menjadi mudah letih.

Pada tahun 2016, peradangan yang dialami Janelle merambat ke tulang rusuk, leher, dan tulang belakang. Hasil ultrasound scan yang dilakukan pada lutut Janelle memastikan bahwa rutinitas pengobatan Janelle harus segera diubah. Selain pengobatan yang lebih intensif, penambahan dosis obat dan injeksi mandiri juga harus dilakukan. Dokter juga memperingatkan Janelle bahwa kemungkinan terjadinya kerusakan sendi akan semakin besar.

Injeksi pertama yang Janelle terima sungguh menyakitkan. “Aku meronta-ronta ketika injeksi dilakukan. Rasa sakit separah itu belum pernah aku rasakan sebelumnya.”

Pada suatu pagi di bulan September tahun 2016, Janelle kehilangan penglihatannya secara tiba-tiba. Walaupun pada saat itu dia sadarkan diri, namun semuanya terlihat gelap gulita. Beberapa waktu lalu sebelum hal ini terjadi, pandangan Janelle pernah seakan-akan berputar dan hal ini terus berlanjut walaupun tubuhnya sudah mendapat istirahat dan asupan cairan yang cukup. Janelle dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD), namun pihak UGD awalnya mendiagnosis bahwa itu hanyalah vertigo.

Seminggu setelah dia keluar dari UGD, seorang dokter ahli reumatologi yang biasa merawat Janelle meneleponnya. Dokter itu berkata bahwa apa yang terjadi pada Janelle mungkin lebih serius daripada sekadar sakit kepala biasa. Kemungkinan, terjadi demielinasi di dalam otak Janelle, yaitu kerusakan sistem saraf yang mengganggu kesadaran, pergerakan, dan sensasi yang dirasakan tubuh. Karena itu, MRI scan harus segera dilakukan.

Sembari menanti pengobatan dilakukan, Janelle teringat akan sebuah pasal di kitab Mazmur yang pernah Tuhan sampaikan kepadanya ketika ia bersaat teduh. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

@thehopeletter

@thehopeletter

Namun, Janelle pada waktu itu tidak tahu bahwa Heather Baker ternyata juga mengirimkan pesan berisi sebuah refleksi dari buku yang berjudul “Seorang gembala yang memandang Mazmur 23”, dengan harapan bahwa Janelle juga akan dikuatkan. Ketika dia mengecek waktu pesan itu dikirim di ponselnya, ternyata pesan itu dikirim tepat sebelum dilakukannya MRI scan. Janelle terkagum melihat cara Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya terhadap dirinya melalui Heather.

Kabar baikpun datang. Di akhir bulan Oktober, hasil dari MRI scan memastikan bahwa kondisi otak Janelle stabil. Namun, dokter ahli reumatologi mengambil kesimpulan bahwa proses pengobatan Janelle terlalu beresiko untuk dilanjutkan, karena memiliki efek samping yang mempengaruhi otak.

Menjalani hidup hari demi hari

Sekarang, Janelle mengonsumsi 450mg obat penghilang rasa sakit dan menerima dua injeksi setiap bulannya. Namun, seiring peradangan, kerusakan, pengobatan, dan infeksi telah menjadi sesuatu yang biasa bagi Janelle, dia juga jadi terbiasa untuk melekat kepada Tuhan. Janelle yakin bahwa dia dapat memuliakan Tuhan lewat kekurangannya. “Dari semenjak aku kecil, aku sudah menyadari bahwa setiap hari yang kulewati itu berharga… Itulah mengapa aku mau menjalani hidupku untuk memuliakan Penciptaku,” kata Janelle.

Di masa-masa tersukarnya, Janelle bergumul melawan tiga hal, yaitu dirinya sendiri, emosinya, dan kesehatannya.

Namun semua tantangan yang dia hadapi justru menjadi batu loncatan yang memperteguh keyakinannya kepada Tuhan. “Jika bukan karena Tuhan, aku pasti sudah berhenti sekolah. Dia menopangku secara fisik, emosional, dan rohani,” ungkap Janelle.

“Keseluruhan perjalanan hidupku ini mengajar aku untuk bergantung kepada Tuhan.”

Foto oleh Blake Wisz

Foto oleh Blake Wisz

Dukungan dari teman-teman dekat menjadi salah satu cara Janelle untuk mengingatkan dirinya agar dia selalu memandang kepada Tuhan. Janelle selalu mengabarkan kondisi kesehatannya serta meminta bantuan doa kepada teman-teman dekatnya dari waktu ke waktu lewat pesan singkat.

Saat ini, Janelle sedang mengambil masa istirahat selama beberapa waktu untuk fokus pada proses pemulihan dirinya dan mencari tahu kehendak Allah. Dia mengikuti sekolah Alkitab dan terus menulis karya-karya hand lettering untuk menyaksikan kesetiaan Tuhan di dalam hidupnya. Di waktu luangnya, Janelle biasanya mengunjungi toko kerajinan untuk membeli keperluan karya hand lettering-nya. Atau juga, betemu dengan saudari-saudari seiman di dalam Kristus untuk komsel.

Aku tidak bisa memprediksi kondisi tubuhku dan masa depanku, karena itulah aku selalu mengarahkan pandanganku kepada Yesus,” ungkap Janelle. “Aku yakin dan aku menyatakan, bahwa Yesus pasti akan menyembuhkan aku. Namun yang terpenting di atas segalanya bagiku adalah: kemenangan terbesar sudah kuraih ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib… bagi diriku.”

*Bukan nama sebenarnya.

@thehopeletter

@thehopeletter

Baca Juga:

Berkali-kali Gagal Mencari Pekerjaan, Tuhan Membawaku pada Rencana-Nya yang Tak Terduga

Satu hari setelah dinyatakan lulus sebagai Sarjana, aku pikir kehidupan akan menjadi lebih mudah. Aku tidak perlu lagi berpikir keras untuk merangkai kata-kata dalam skripsi, ataupun memikirkan tugas-tugas kuliah lainnya. Tapi, semua itu hanya sementara hingga sebuah pertanyaan menyergapku, “Habis lulus mau ngapain dan kerja di mana?”

Teruslah Mendayung

Minggu, 22 Mei 2016

Teruslah Mendayung

Baca: Filipi 3:12-16

3:12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.

3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,

3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

3:15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.

3:16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

Ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. —Filipi 3:13

Teruslah Mendayung

Saya menyukai Reepicheep, tikus kecil yang ulet dan bisa berbicara dalam cerita The Chronicles of Narnia karya C. S. Lewis. Setelah memutuskan untuk pergi ke “Lautan Timur” dan bergabung dengan singa agung bernama Aslan [simbol dari Kristus], Reepicheep menyatakan tekadnya: “Selagi aku bisa, aku akan berlayar ke Timur dengan kapal Dawn Treader. Jika kapal itu berhenti berlayar, aku akan mendayung ke Timur dengan perahu kecilku. Jika perahu kecil itu tenggelam, aku akan berenang ke Timur dengan keempat kakiku. Saat aku tak mampu lagi berenang, dan belum juga sampai ke Negeri Aslan, maka aku akan tenggelam dengan hidung yang terus menghadap ke arah matahari terbit.”

Paulus menyatakan hal serupa dengan cara lain: “[Aku] berlari-lari kepada tujuan” (FLP. 3:14). Tujuan hidupnya adalah untuk menjadi seperti Yesus. Tidak ada hal lain yang lebih penting. Paulus menyadari bahwa ia masih jauh dari sasaran, tetapi ia tidak akan menyerah sampai ia memperoleh apa yang menjadi panggilan Yesus baginya.

Tak seorang pun dari kita sudah mencapai apa yang seharusnya kita capai, tetapi seperti Rasul Paulus, kita bisa terus berdoa dan berlari kepada tujuan itu. Sama seperti Paulus, kita akan selalu berkata, “Bukan seolah-olah aku . . . telah sempurna.” Namun demikian, meski kita lemah, gagal, dan lelah, kita harus terus mengejarnya (ay.12). Akan tetapi segalanya bergantung kepada Allah. Tanpa Dia, kita tidak bisa melakukan apa-apa!

Ingatlah bahwa Allah selalu menyertaimu, dan Dia memanggil kamu untuk terus maju. Teruslah mendayung! —David Roper

Tuhan, tolong kami memahami bahwa kami tidak sanggup mencapai tujuan kami dengan kekuatan kami, melainkan lewat doa dan bimbingan Roh Kudus. Tanpa-Mu, kami tak bisa berbuat apa pun. Bekerjalah di dalamku hari ini.

Allah menyediakan kekuatan yang kita butuhkan untuk tetap bertahan.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 16-18; Yohanes 7:28-53

Artikel Terkait:

Mengapa Hidup Terasa Begitu Melelahkan

Mungkinkah penyebab kelelahan kita adalah karena kita lebih mengandalkan diri kita daripada mengandalkan Tuhan? Temukan kesaksian Yuliani di dalam artikel ini.

4 Hal yang Kupelajari dari Kesuksesan Paulus

Penulis: Radius S.K. Siburian

4-hal-yang-kupelajari-dari-paulus

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7). Beberapa kali aku membaca ayat ini dikutip dalam obituarium (berita kematian) yang dimuat di sebuah harian lokal. Sejumlah pertanyaan mengusik pikiranku. Benarkah pernyataan tersebut ingin diberikan oleh almarhum di akhir hidupnya? Benarkah ia telah mengasihi Tuhan semasa hidupnya dan bertekun dalam imannya? Ataukah, kutipan ayat itu adalah inisiatif keluarga belaka demi membuat sebuah obituarium “kristen” yang terlihat baik?

Harus diakui, pernyataan itu sangat menggugah. Siapa yang tidak ingin “mengakhiri pertandingan yang baik”? Kita menangkap kesan bahwa orang yang memberi pernyataan ini telah sukses menyelesaikan misi hidupnya. Lebih mengagumkan lagi, ia bisa dengan yakin berkata, “Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya…” (2Tim. 4:8).

Ada banyak hal yang kemudian aku pelajari ketika membaca surat-surat Paulus, Rasul besar yang membuat pernyataan tersebut. Khususnya, surat terakhir yang ditulisnya kepada Timotius, anak rohaninya. Setidaknya ada empat hal yang kulihat mendasari keberhasilan hidup Paulus, dan yang ingin ia wariskan kepada generasi setelahnya.

1. Doa
Paulus sadar betul bahwa dasar pelayanannya adalah maksud dan kasih karunia Tuhan semata, dengan tujuan agar rahmat Tuhan dalam Kristus Yesus dapat dinyatakan kepada dunia (2Tim. 1:9-12). Sebab itu, ia selalu membawa setiap pekerjaannya, orang-orang yang ia layani, dan rekan-rekan pelayanannya dalam doa (1Tim. 2:1-4; 2Tim. 1:3).

Sikap Paulus ini mengingatkanku untuk juga memelihara kehidupan doaku. Dengan berdoa, kita mengakui bahwa setiap profesi atau pelayanan yang kita kerjakan untuk Tuhan sesungguhnya berasal dari Tuhan sendiri dan bisa kita lakukan karena kesanggupan yang diberikan-Nya semata. Kita tidak bisa berhasil tanpa perkenan Tuhan.

2. Teladan
Nasihat Paulus kepada Timotius untuk bertekun dalam firman Tuhan dan setia dalam pekerjaan pelayanannya bukan sekadar teori (2Tim. 1:13; 2Tim. 3:10). Paulus sendiri adalah orang yang sangat giat bekerja, giat belajar dan mengajarkan firman Tuhan. Meski banyak menghadapi kesulitan, ia tak kenal lelah memberitakan Injil. Tindakannya berpadanan dengan perkataannya.

Integritas Paulus mengingatkanku untuk mengevaluasi diri: apakah perkataan dan tindakanku sudah selaras? Ketika kita hanya bisa bicara, tetapi tidak melakukan tindakan nyata, kita tidak akan mencapai apa-apa, apalagi menginspirasi orang lain untuk mengikuti jejak kita.

3. Pengharapan
Paulus tidak menjadi tawar hati ketika menghadapi berbagai masalah yang menghadang. Ia tidak hanya semangat di awal, lalu kehilangan optimisme dalam proses yang sulit. Apa gerangan yang membuatnya bertahan hingga akhir? Kita bisa melihat dengan jelas pengharapan yang dimiliki Paulus dalam surat-suratnya. Pengharapan di dalam Pribadi Tuhan yang tidak berubah (2Tim. 1:12), pengharapan di dalam kebangkitan Kristus yang menyelamatkan setiap orang percaya (2Tim. 2:10), dan pengharapan di dalam janji Tuhan yang akan menyediakan upah pada waktu-Nya (2Tim. 4:8).

Harus diakui kadangkala masalah yang datang silih berganti membuatku tawar hati dalam berkarya. Pengharapan Paulus mengingatkanku bahwa aku pun punya pengharapan yang sama. Aku punya Tuhan yang tidak pernah berubah kuasa dan kasih-Nya, Dia telah menyelamatkanku, Dia memperhatikan segala pekerjaanku dan akan memberikan upah pada waktu-Nya. Sebab itu, aku dapat mengerjakan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya dengan penuh optimisme. Tidak ada pekerjaan yang sia-sia ketika kita melakukannya dengan hati yang tertuju kepada Tuhan.

4. Ketekunan
Pengharapan yang dimiliki Paulus melahirkan sikap tekun yang luar biasa. Pekerjaan yang ia lakukan untuk memberitakan Injil tidaklah mulus. Ia harus menghadapi orang-orang yang bermaksud jahat (2Tim. 4:14). Ketika menghadapi kesulitan, ia bahkan ditinggalkan oleh teman-temannya (2Tim. 4:10, 16). Namun, pengharapan Paulus kepada Tuhan membuatnya tetap tekun berusaha. Banyak surat penggembalaannya bahkan ditulis dari dalam jeruji penjara. Paulus tidak menjadikan penghargaan manusia sebagai ukuran keberhasilannya. Ia mengarahkan pandangannya kepada mahkota kehidupan yang telah disediakan Tuhan.

Adakalanya aku juga bekerja dengan orientasi yang keliru. Berfokus hanya pada upah dan penghargaan manusia. Dengan mudah aku bisa kecewa dan mundur ketika situasi menjadi sulit atau orang-orang di sekitarku tidak memberi tanggapan yang sesuai dengan harapanku. Ketekunan Paulus mendorongku untuk juga ikut bertekun, bekerja dengan mengarahkan pandangan pada upah yang disediakan Tuhan sendiri. Ketika kelak kita dipanggil menghadap-Nya, kita dapat dengan lega berkata seperti Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Jalan yang Berat

Sabtu, 17 Oktober 2015

Jalan yang Berat

Baca: Mazmur 25:4-11

25:4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.

25:5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.

25:6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

25:7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN.

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

Tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. —Yeremia 6:16

Jalan yang Berat

Seorang teman memancing menceritakan kepada saya tentang danau yang letaknya tinggi di lereng utara Gunung Jughandle di Idaho, Amerika Serikat. Ada kabar bahwa di sana terdapat sejenis ikan trout yang besar. Ia menggambarkan peta ke sana di selembar serbet kertas. Beberapa minggu kemudian, saya pun berangkat dengan truk mengikuti petunjuk yang diberikannya. Peta itu ternyata membawa saya melalui salah satu jalan terburuk yang pernah saya lalui! Jalan itu dahulu merupakan jalan tembus yang dibuka paksa oleh para penebang pohon dengan buldoser dan tidak pernah diperbaiki. Tanah yang becek, balok-balok kayu yang berserakan, alur-alur yang dalam, dan bebatuan yang besar telah menyiksa tulang punggung saya dan membengkokkan kerangka bawah truk saya. Butuh waktu sepanjang pagi untuk mencapai tujuan saya, dan ketika sudah tiba, saya berpikir, “Mengapa seorang teman tega memberi petunjuk untuk melalui jalan yang buruk seperti ini?”

Namun ternyata danau itu memang sangat indah dan ikannya sungguh sangat besar dan agresif! Teman saya telah membawa saya melalui jalan yang tepat—jalan yang juga akan saya pilih dan jalani dengan sabar apabila saya tahu seperti apa tujuan akhirnya.

Firman Allah berkata, “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). Ada jalan Allah yang terasa berat dan tidak mulus, sementara jalan yang lain terasa membosankan dan melelahkan, tetapi semuanya dipenuhi kasih setia dan kebenaran-Nya. Di ujung perjalanan, ketika kita menyadari apa yang telah terjadi, kita akan berkata, “Jalan Allah memang yang terbaik untukku.” —David Roper

Ya Bapa, kami tak melihat ujung jalannya, tetapi Engkau tahu. Kami mempercayai-Mu atas semua yang tak bisa kami lihat. Kami tahu Engkau memampukan kami untuk melaluinya.

Sekalipun jalan kita penuh rintangan, Allah tetap akan memimpin kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 50-52; 1 Tesalonika 5

Pelayanan yang Setia

Senin, 20 Juli 2015

Pelayanan yang Setia

Baca: 2 Timotius 2:1-10

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

2:7 Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu.

2:8 Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.

2:9 Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.

2:10 Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.

Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. —2 Timotius 2:3

Pelayanan yang Setia

Karena pernah bertugas di Perang Dunia I, C. S. Lewis tidak asing lagi dengan tekanan dalam dinas militer. Dalam sebuah pidato pada khalayak umum semasa Perang Dunia II, ia dengan fasih melukiskan kesukaran yang harus dihadapi seorang prajurit: “Segala hal yang kita takutkan dari segala jenis penderitaan . . . ditemukan dalam kehidupan seorang prajurit yang sedang bertugas. Seperti penyakit yang menyebabkan penderitaan dan kematian. Seperti kemiskinan yang membuat seseorang tak mempunyai tempat berlindung, kedinginan, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Seperti perbudakan yang menyebabkan seseorang harus kerja paksa, menerima penghinaan, perlakuan tidak adil, dan peraturan yang sewenang-wenang. Seperti pengasingan yang memisahkan kita dari segala sesuatu yang kita kasihi.”

Paulus menggunakan analogi tentang seorang prajurit yang mengalami penderitaan untuk menggambarkan pencobaan yang dapat dialami seorang percaya dalam pelayanannya kepada Kristus. Paulus—di penghujung hidupnya—telah setia menderita demi Injil. Ia mendorong Timotius untuk melakukan hal yang sama: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2Tim. 2:3).

Melayani Kristus membutuhkan ketekunan. Kita mungkin menemui rintangan berupa kesehatan yang buruk, hubungan dengan sesama yang bermasalah, atau keadaan-keadaan yang sulit. Namun sebagai seorang prajurit yang baik, kita terus maju—dengan kekuatan Allah—karena kita melayani Raja dari segala raja dan Tuhan dari segala tuan yang bersedia menyerahkan diri-Nya bagi kita! —Dennis Fisher

Bapaku, tolonglah aku untuk setia dalam melayani-Mu. Terima kasih untuk kekuatan dari Engkau yang menolongku bertahan di tengah penderitaan.

Kasih Allah tidak menghindarkan kita dari beragam pencobaan, melainkan membimbing kita untuk melalui semua pencobaan itu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 26–28; Kisah Para Rasul 22

Jangan Menjadi Lemah

Jumat, 12 Juni 2015

Jangan Menjadi Lemah

Baca: Galatia 6:1-10

6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. —Galatia 6:9

Jangan Menjadi Lemah

Memasak bisa menjadi pekerjaan yang membosankan ketika saya mengerjakannya tiga kali sehari dari Minggu ke Minggu. Saya lelah harus mengupas, memotong, mengiris, mencampur, dan kemudian menunggu makanan itu selesai dipanggang, dibakar, atau direbus. Namun, saya tidak pernah bosan menyantap makanan! Menyantap makanan adalah sesuatu yang benar-benar kita nikmati sekalipun kita harus melakukannya dari hari ke hari.

Paulus menggunakan ilustrasi tabur tuai karena ia tahu bahwa melakukan perbuatan baik bisa membuat lelah (Gal. 6:7-10). Ia menulis, ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (ay.9). Memang sulit untuk mengasihi musuh kita, mendidik anak-anak kita, atau berdoa terus-menerus. Namun demikian, menuai kebaikan yang kita tabur tidak pernah membosankan! Alangkah sukacitanya kita ketika melihat kasih yang berhasil meredakan permusuhan, ketika anak-anak mau mengikuti jalan Tuhan, atau ketika kita menerima jawaban atas doa-doa kita.

Memang kegiatan memasak dapat menghabiskan waktu berjam-jam, dan keluarga kami biasanya menyantap makanan hanya dalam waktu 20 menit atau kurang. Namun penuaian yang Paulus maksudkan bersifat abadi. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita giat berbuat baik dan menunggu berkat Tuhan menurut waktu-Nya. Ketika kamu mengikuti jalan Tuhan hari ini, janganlah merasa kecil hati. Ingatlah bahwa sukacita tersedia bagi kita sampai selamanya. —Keila Ochoa

Tuhan, tolonglah aku untuk tidak menjadi lemah ketika aku berbuat baik hari ini. Aku bersyukur suatu hari nanti aku akan bersama-Mu dalam sukacita abadi!

Teruslah berlomba dengan mata yang tertuju pada kekekalan.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 3–5; Yohanes 20

Satu Langkah Lebih Dekat

Senin, 18 Mei 2015

Satu Langkah Lebih Dekat

Baca: Roma 13:10-14

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.

13:12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!

13:13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

13:14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

Sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya. —Roma 13:11

Satu Langkah Lebih Dekat

Beberapa tahun yang lalu, saya dan seorang teman berusaha mendaki Gunung Whitney. Dengan ketinggian sekitar 4420 M, itulah gunung tertinggi di daratan Amerika Serikat. Kami tiba di perkemahan di daerah Whitney Portal pada tengah malam, jadi kami langsung mengeluarkan kantong tidur dan mencoba untuk terlelap sebelum kami memulai pendakian pada waktu fajar. Mendaki Gunung Whitney sebenarnya lebih berupa sebuah perjalanan menanjak yang sangat panjang dan melelahkan sejauh 17,7 km.

Sekalipun berat, pendakian itu terasa begitu menyenangkan dengan adanya pemandangan yang menakjubkan, danau biru yang indah, dan padang rumput yang rimbun di sepanjang jalan. Namun perjalanan itu seakan tidak ada habisnya dan semakin melelahkan, sehingga benar-benar menjadi ujian bagi daya tahan kaki dan paru-paru kami. Saya sempat terpikir untuk berbalik arah saat hari bertambah siang dan jalan itu tampaknya terentang tanpa akhir di depan kami.

Namun, sesekali waktu, saya memandang sekilas ke arah puncak gunung dan menyadari bahwa setiap langkah membawa saya satu langkah lebih dekat. Jika saya terus berjalan, saya pasti sampai di sana. Pemikiran itulah yang membuat saya terus melangkah.

Paulus meyakinkan kita, “Sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (Rm. 13:11). Setiap hari membawa kita satu hari lebih dekat pada hari agung ketika kita “mencapai puncak” dan bertemu muka dengan Juruselamat kita. Pemikiran itulah yang dapat membuat kita terus melangkah. —David Roper

Tuhanku, kiranya aku bisa dengan sabar bertahan menghadapi kesulitan dalam perjalanan demi sukacita yang telah menanti kami. Ketika perjalananku usai, aku akan bertemu muka dengan-Mu dan tinggal selamanya bersama-Mu.

Sekarang kita melihat Yesus di dalam Alkitab, tetapi kelak kita akan melihat-Nya muka dengan muka.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 4-6; Yohanes 6:1-21