Posts

Dua Pelajaran

Sabtu, 14 Juli 2012

Dua Pelajaran

Baca: Ulangan 8:1-10

Seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu . . . selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau. —Ulangan 8:2

Beberapa minggu setelah menulis sebuah artikel Our Daily Bread (Santapan Rohani) mengenai pentingnya menaati hukum, saya berkendara untuk menempuh perjalanan sejauh 1.400 km—dengan tekad untuk tetap berada dalam batas kecepatan yang ditentukan. Sewaktu berkendara keluar dari suatu kota kecil di New Mexico, perhatian saya tersita untuk membuka bungkusan roti sehingga saya lalai memperhatikan rambu-rambu jalan, dan saya pun ditilang karena mengebut. Pelajaran pertama yang saya dapatkan hari itu adalah bahwa kelalaian untuk waspada membawa akibat yang sama seperti pelanggaran hukum yang dilakukan secara sengaja. Dan masih ada 1.100 km lagi yang harus saya tempuh!

Pelajaran kedua yang saya dapatkan adalah tekad kita akan selalu diuji. Saya teringat pada kata-kata Musa kepada umat Allah ketika mereka bersiap-siap memasuki Tanah Perjanjian: “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak” (Ul. 8:2).

Pendeta dan penulis Eugene Peterson menyebut proses mengikut Kristus sebagai “ketaatan jangka panjang pada arah yang tetap sama.” Setiap tekad untuk mau taat harus diikuti dengan banyaknya keputusan demi keputusan untuk maju terus.

Melalui peristiwa tersebut, Allah mengingatkan saya tentang betapa pentingnya untuk terus menjaga hati saya dalam ketaatan kepada- Nya—untuk tetap waspada di sepanjang jalan hidup ini. —DCM

Engkau telah memberi dengan rela
Diri-Mu sendiri seutuhnya bagiku,
Inilah hidupku agar Engkau pakai
Seluruhnya bagi-Mu, Juruselamatku. —Christiansen

Mengasihi Allah artinya menaati Allah.

Pekerja Malam

Senin, 21 Mei 2012

Pekerja Malam

Baca: Kolose 3:22-25

Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. —Kolose 3:22

Pekerjaan pertama Pat adalah sebagai pekerja malam di suatu toko bahan makanan. Setelah toko tutup, Pat dan para pekerja lainnya harus mengisi kembali bahan-bahan makanan ke rak yang ada. Atasan Pat memerintahkan mereka untuk selalu mengatur kaleng sup dengan label menghadap ke depan supaya mudah dibaca. Namun lebih dari itu, sang atasan berkata, “Pastikan labelnya menghadap ke depan—sampai kaleng pada tiga baris ke belakang.” Suatu malam ketika Pat sedang menyusun isi rak, rekan-rekan kerjanya berkata, “Buat saja yang menghadap depan cuma kaleng yang terdepan. Lagipula, siapa sih yang akan memperhatikan?”

Inilah waktunya bagi Pat yang masih remaja untuk membuat keputusan. Haruskah ia menaati perintah atasannya itu, atau melakukan saja apa yang mudah?

Kita semua pernah berada dalam situasi yang serupa ketika kita harus membuat keputusan. Rasul Paulus mendorong saudara-saudara seimannya untuk taat bahkan ketika tidak ada orang yang melihat: “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan” (Kol. 3:22).

Melakukan hal yang benar seharusnya tidak tergantung dari apakah atasan kita mengawasi atau ada orang lain yang melihat kita. Bersikap taat bukanlah sesuatu yang mudah atau menyenangkan. Namun itu adalah hal yang benar.

Ingat, “jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17). —CHK

Tuhan, tolong aku untuk ikut Yesus,
Menatati perintah-Nya hari lepas hari,
Menjadi murid-Nya yang setia
Menyenangkan-Nya dalam segala hal. —Fitzhugh

Karakter kita dinilai dari perilaku kita ketika tidak ada orang lain yang melihat.

Menjadi Yang Sejati

Selasa, 27 Maret 2012

Baca: 1 Yohanes 2:3-11

Barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. —1 Yohanes 2:5

Jemaat gereja di Naperville, Illinois, Amerika Serikat, mengalami kegembiraan yang meluap-luap ketika menyambut hadirnya lonceng baru di menara yang terletak di atas tempat ibadah mereka. Ketika gereja ini dibangun bertahun-tahun sebelumnya, mereka tak memiliki cukup dana untuk membeli lonceng. Namun, pada ulang tahun gereja yang ke-25, gereja ini mampu menggalang dana untuk membeli dan memasang tiga buah lonceng di tempatnya yang kosong. Meski ketiga lonceng itu tampak mengesankan, masih ada masalah: jemaat tak akan pernah mendengar ketiga lonceng itu berdentang. Meski terlihat nyata, sesungguhnya lonceng-lonceng itu palsu.

Rasul Yohanes menulis surat pertamanya untuk menguatkan orang-orang percaya supaya tidak hanya terlihat seperti orang Kristen sejati, tetapi supaya membuktikan kesejatian itu melalui cara hidup mereka. Bukti bahwa seseorang memiliki iman sejati tidaklah dilihat dari sejumlah pengalaman mistis bersama Allah. Bukti bahwa seseorang benar-benar mengenal dan mengasihi Allah dapat dilihat dari penyerahan dirinya pada kuasa Allah dan firman-Nya. Yohanes menuliskan, “Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh. 2:5-6).

Jika kita mengaku bahwa kita telah diubah oleh Injil dan kita mengenal serta mengasihi Allah, kita harus membuktikannya melalui ketaatan kita pada firman-Nya. —MLW

Jangan hanya mendengarkan firman Allah
Lalu mengabaikan apa yang telah kau dengar;
Tetapi taatilah kehendak Allah bagimu—
Jadilah seorang pelaku firman. —Sper

Ketaatan kepada Allah merupakan perwujudan kasih kita kepada-Nya.

Orang Yang Enggan?

Selasa, 21 Februari 2012

Baca: Amsal 6:6-11

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? —Amsal 6:9

Ketika mempelajari kitab Amsal dalam kelompok Pemahaman Alkitab kami, pemimpin kami memberi usul untuk mendeskripsikan kata pemalas sebagai orang yang enggan (6:6,9). Saya jadi dapat memahami lebih jelas apa maksud kata tersebut. Segera saja, saya mulai membayangkan siapa saja yang saya anggap sebagai orang yang enggan.

Contohnya, para ayah dan ibu yang gagal mendidik dan mendisiplinkan anak-anak mereka. Atau para pria yang menolak untuk menolong pekerjaan di rumah. Atau para remaja yang mengabaikan pendidikan mereka dan memilih untuk bermain di internet sepanjang hari.

Jika jujur, bisa jadi kita semua terjangkit sikap enggan ini. Apakah kita adalah “orang yang enggan berdoa” (1 Tes. 5:17-18), atau “orang yang enggan membaca Alkitab” (Mzm. 119:103; 2 Tim. 3:16-17) atau “orang yang enggan menggunakan karunia rohani” (Rm. 12:4-8), atau “orang yang enggan bersaksi?” (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8).

Jika kita tidak melakukan apa yang kita ketahui dikehendaki Allah supaya kita lakukan, sudah pasti kita adalah orang-orang yang enggan rohani. Sebenarnya, ketika kita menolak untuk menaati Allah, kita berbuat dosa.

Perhatikanlah perkataan yang menantang dan menegur dari kitab Yakobus ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17). Marilah kita tidak menjadi orang yang enggan rohani. —CHK

Ketika tahu apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan,
Namun kemudian kita menolak untuk taat, Kita mengabaikan suara Tuhan,
Dan dengan berdosa memilih jalan kita sendiri. —Sper

Kita mungkin punya alasan untuk tidak menaati Allah, tetapi Dia tetap menyebutnya sebagai ketidaktaatan.

Rencana Allah, Bukan Rencana Kita

Kamis, 2 Februari 2012

Baca: 1 Samuel 4:1-11

[Aku] akan berkata kepada Tuhan: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.” —Mazmur 91:2

Kedua belak pihak mempunyai sikap yang salah terhadap tabut perjanjian Tuhan (sebuah benda di dalam tabernakel yang mewakili takhta Allah). Setelah kalah dalam suatu peperangan melawan bangsa Filistin, orang Israel mengirimkan utusan ke Silo untuk meminta supaya tabut itu diangkut ke Eben-Haezer, tempat tentara Israel berkemah.

Ketika tabut tersebut tiba, orang Israel merayakannya dengan sorak-sorai yang begitu nyaring sampai-sampai musuh di Afek dapat mendengarnya. Kedatangan tabut tersebut menyebabkan orang Filistin ketakutan dan orang Israel memperoleh kembali keberaniannya.

Kedua pihak itu sama-sama salah. Orang Israel membawa tabut ke medan perang dan dikalahkan lagi oleh orang Filistin yang lalu merampas tabut itu. Sebuah kesalahan lagi. Bangsa Filistin pun ditimpa penyakit dan dewa-dewa palsu mereka dihancurkan.

Kita dapat memahami kesalahan orang Filistin, lagipula mereka adalah penyembah berhala. Namun, orang Israel seharusnya tahu apa yang benar. Mereka tidak meminta nasihat Allah untuk penggunaan tabut tersebut. Meski mereka mengetahui bahwa tabut tersebut sebelumnya pernah dibawa ke medan perang (Yos. 6), mereka tidak menyadari bahwa hanya karena rencana Allah, dan bukan karena adanya tabut itu, Israel dapat menaklukkan Yerikho.

Apa pun sumber daya yang kita miliki, kita akan gagal—kecuali kita menggunakannya sesuai dengan rencana Allah. Marilah mempelajari firman Tuhan, berdoa memohon petunjuk-Nya, dan mempercayai pimpinan-Nya (Mzm. 91:2) sebelum kita melangkah dalam apa pun petualangan iman yang ada di hadapan kita. —JDB

Waktu hidupku ada di tangan Bapa;
Bagaimana aku bisa berharap atau meminta lebih?
Karena Dia yang telah merencanakan jalanku
Akan memanduku hingga akhir perjalananku. —Fraser

Kita hanya tahu sebagian; Allah mengetahui seluruhnya.

Menghindari Ampas

Jumat, 16 Desember 2011

Baca: Lukas 15:11-24

Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu. —Lukas 15:16

Alangkah enaknya kehidupan babi! Setiap hari tidak berbuat apa-apa, hanya berkubang di lumpur dan mendengus gembira ketika makan. Coba lihat, makanan apa yang mereka dapat? Ampas jagung garing atau sisa makanan apa pun yang dilemparkan ke dalam kandangnya!

Menarikkah? Tidak? Mungkin tidak menarik juga bagi si anak yang hilang.

Sebelum ia terpaksa makan bersama babibabi, ia punya tempat tidur yang hangat, warisan berlimpah, ayah yang penuh kasih, masa depan yang terjamin, dan mungkin makanan enak. Namun, semua itu tidak cukup baginya. Ia mendambakan “hidup berfoyafoya”. Ia ingin menjalani hidup semaunya sendiri dan melakukan apa pun yang diinginkan hatinya. Ujung-ujungnya, ia kini makan bersama babi-babi.

Akibat serupa juga akan dialami oleh seorang muda yang mengabaikan bimbingan orangtua yang saleh dan petunjuk firman Allah. Saya selalu terkejut ketika seseorang yang mengaku mengenal Yesus memilih menjalani kehidupan dengan menolak taat pada ajaran Allah yang jelas. Semua perbuatan yang tidak mengikutsertakan Allah akan dapat berakhir buruk, apakah itu dosa seksual, kecanduan obat-obatan terlarang, kurangnya kemauan untuk maju, atau hal lainnya.

Jika kita mengabaikan ajaran Alkitab yang jelas dan menelantarkan hubungan kita dengan Allah, kita pasti mengalami masalah. Lukas memberi tahu kita bahwa pemuda itu bertobat setelah ia menyadari keadaannya (Luk. 15:17). Sadarilah keadaan Anda. Hiduplah untuk Allah dengan tuntunan firman-Nya––kecuali ampas adalah makanan kesukaan Anda. —JDB

Saat kami tergoda untuk berpaling
Untuk mengikuti nafsu dosa,
Ya Allah, tolonglah kami untuk menolak daya tariknya
Dan tetap percaya hanya kepada-Mu. –Sper

Dosa itu memperdaya, oleh karena itu memikat.

Tugas Yang Penuh Risiko

Sabtu, 10 Desember 2011

Baca: Matius 1:18-25

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. —Matius 1:24

Dalam sejumlah kartu Natal yang akan Anda terima tahun ini, pastilah ada gambar seorang pria yang berdiri di belakang sembari memandang dari balik bahu Maria, yang dengan jelas digambarkan sedang mengasuh bayi Yesus. Nama pria itu adalah Yusuf. Namun, setelah kisah kelahiran Yesus, nama Yusuf tidak lagi sering disebut-sebut. Jika kita tidak memahami betul situasinya, kita mungkin berpikir bahwa Yusuf adalah seorang biasa yang kebetulan lewat atau, setidaknya, seseorang yang kehadirannya diperlukan semata-mata untuk menegaskan bahwa Yesus berhak meneruskan takhta Daud.

Namun sesungguhnya, peran Yusuf begitu penting dan strategis. Kalau saja ia tidak menaati perintah malaikat supaya mengambil Maria menjadi istrinya (Mat. 1:20), dari sudut pandang manusia, ia akan membahayakan misi kedatangan Yesus ke dunia. Mengambil Maria sebagai istrinya adalah suatu tugas yang penuh risiko. Pandangan masyarakat yang melihat bahwa Yusuf adalah ayah dari bayi tersebut membuatnya dicap sebagai pelanggar berat hukum Yahudi dan aib di tengah masyarakat. Namun sekarang, kita semua bersyukur bahwa ia bersedia mengorbankan reputasinya untuk berperan serta dan memfasilitasi karya Allah yang sedang berlangsung.

Banyak dari kita memainkan peran yang tidak begitu berarti dibandingkan dengan tokoh-tokoh besar di dunia ini. Namun, kita semua dipanggil untuk taat. Allah mungkin sedang mempersiapkan sesuatu bagi kita di saat kita bersedia untuk berserah pada kehendak- Nya—sekalipun hal itu membuat kita harus menghadapi risiko! —JMS

Siapa yang berpegang pada Sabda Tuhan,
Dan setia mematuhinya,
Hidupnya mulia dalam cahya baka.
Bersekutu dengan Tuhannya. —Sammis

(Nyanyikanlah Kidung Baru, No.11)

Percaya dan taat bukanlah hal kecil.