Posts

Memilih Jalan

Selasa, 23 Oktober 2018

Memilih Jalan

Baca: Matius 7:13-14

7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. —Matius 7:14

Memilih Jalan

Saya memiliki sebuah foto musim gugur yang indah. Di dalamnya tampak seorang anak muda menunggang kuda di pegunungan Colorado, dan rupanya ia sedang memikirkan jalan mana di depannya yang harus ia tempuh. Gambaran itu mengingatkan saya pada puisi karya Robert Frost “The Road Not Taken” (Jalan yang Tak Ditempuh). Dalam puisi itu, Frost sedang mempertimbangkan dua jalan di depannya. Kedua jalan itu sama-sama menarik hatinya, tetapi ia tidak yakin akan dapat kembali ke persimpangan jalan itu lagi, maka ia harus memilih salah satu jalan. Frost menulis, “Ada dua cabang jalan di hutan, dan saya—saya memilih jalan yang jarang dilalui, dan pilihan itulah yang mempengaruhi saya sampai sekarang.”

Dalam khotbah Yesus di bukit (Mat. 5-7), Tuhan berkata kepada para pendengar-Nya, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat. 7:13-14).

Di sepanjang perjalanan hidup ini, kita menghadapi banyak pilihan mengenai jalan mana yang harus ditempuh. Banyak jalan yang kelihatannya menjanjikan dan menarik, tetapi hanya ada satu jalan yang menuju pada kehidupan. Yesus memanggil kita untuk menapaki jalan pemuridan dan ketaatan pada firman Allah—untuk mengikut Dia daripada menapaki jalan yang dilewati banyak orang.

Ketika mempertimbangkan jalan yang ada di hadapan kita, kiranya Allah memberi kita hikmat dan keberanian untuk mengikuti jalan Nya—jalan kehidupan. Pilihan itu akan memberikan pengaruh terbesar bagi kita dan bagi semua orang yang kita kasihi! —David C. McCasland

Tuhan, saat kami menjalani hari ini, berilah kami mata yang dapat melihat jalan sempit yang menuju pada kehidupan dan juga keberanian untuk menapakinya.

Pilihlah jalan kehidupan bersama Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1-2; 1 Timotius 3

Tanyakan Dahulu kepada Allah

Jumat, 28 September 2018

Tanyakan Dahulu kepada Allah

Baca: Mazmur 37:3-7,23-24

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

37:7 Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. —Mazmur 37:4

Tanyakan Dahulu kepada Allah

Di awal pernikahan kami, saya kesulitan untuk mengetahui kesukaan istri saya. Apakah ia suka makan malam yang tenang di rumah atau menikmatinya di restoran mewah? Apakah tidak masalah baginya jika saya pergi dengan teman-teman pria saya di akhir pekan, atau ia mengharapkan saya untuk menemaninya saja? Daripada menebak dan memutuskan sendiri, saya pernah bertanya kepadanya, “Apa yang kauinginkan?”

“Apa pun pilihanmu, aku tidak masalah,” jawabnya dengan senyum hangat. “Aku sudah senang karena kau memikirkanku.”

Adakalanya saya berusaha keras untuk mengetahui dengan persis apa yang Allah inginkan untuk saya lakukan—misalnya tentang pekerjaan apa yang harus saya lakukan. Berdoa untuk meminta petunjuk dan membaca Alkitab tidak memberi saya jawaban yang spesifik. Namun, ada satu jawaban yang jelas: saya harus percaya kepada Tuhan, bergembira karena Dia, dan menyerahkan hidup saya kepada-Nya (Mzm. 37:3-5).

Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Allah biasanya memberi kita kebebasan untuk menentukan pilihan—jika kita ingin mengutamakan kehendak-Nya di atas kehendak kita sendiri. Itu berarti membuang segala pilihan yang jelas-jelas salah atau yang tidak menyenangkan hati-Nya, misalnya suatu tindakan yang amoral, tidak sesuai dengan iman kita, atau tidak berguna bagi hubungan kita dengan-Nya. Jika pilihan-pilihan yang tersisa bagi kita itu menyenangkan Allah, kita bebas memilihnya. Bapa kita yang penuh kasih ingin memberikan apa yang diinginkan hati kita—hati yang bergembira karena Dia (ay.4). —Leslie Koh

Ajarilah aku, ya Allah, untuk mengutamakan-Mu dalam segala hal yang kulakukan. Tunjukkan kepadaku bagaimana aku bisa bergembira karena Engkau, agar hatiku terus diubahkan menjadi seperti hati-Mu.

Apakah keputusan kamu menyenangkan Allah?

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 5-6; Efesus 1

Mengikuti Jalan Allah

Senin, 24 September 2018

Mengikuti Jalan Allah

Baca: Yesaya 30:15-21

30:15 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,

30:16 kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

30:17 Seribu orang akan lari melihat ancaman satu orang, terhadap ancaman lima orang kamu akan lari, sampai kamu ditinggalkan seperti tonggak isyarat di atas puncak gunung dan seperti panji-panji di atas bukit.

30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

30:19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.

30:20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia,

30:21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: “Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya,” entah kamu menganan atau mengiri.

Bila kamu menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suara-Nya yang berkata, “Inilah jalannya; ikutlah jalan ini.” —Yesaya 30:21 BIS

Mengikuti Jalan Allah

“Ayo, lewat sini,” ujar saya kepada putra saya sambil menyentuh bahunya untuk mengarahkannya melewati kerumunan dan menyusul ibu serta saudara-saudaranya yang berjalan di depan kami. Saya semakin sering melakukannya ketika hari makin larut di taman hiburan yang sedang kami kunjungi. Putra saya mulai lelah dan mudah sekali perhatiannya teralihkan. Mengapa ia sulit sekali membuntuti mereka? saya bertanya-tanya.

Kemudian sesuatu terlintas di benak saya: Seberapa sering saya melakukan hal yang sama? Seberapa sering saya menyimpang dari kesetiaan mengikuti Allah, karena terpikat oleh godaan untuk mengejar kesenangan saya daripada mengikuti jalan-jalan-Nya?

Coba perhatikan perkataan Allah yang disampaikan Nabi Yesaya kepada Israel: “Bila kamu menyimpang dari jalan, di belakangmu akan terdengar suara-Nya yang berkata, ‘Inilah jalannya; ikutlah jalan ini’” (Yes. 30:21 bis). Di bagian awal pasal tersebut, Allah telah menegur umat-Nya karena pemberontakan mereka. Namun, apabila mereka mempercayai kekuatan-Nya daripada jalan mereka sendiri (ay.15), Dia berjanji akan menunjukkan kemurahan dan kasih sayang-Nya (ay.18).

Salah satu ungkapan kemurahan hati Allah adalah janji-Nya untuk membimbing kita melalui Roh Kudus. Hal itu terjadi ketika kita menyatakan kepada-Nya segala kerinduan kita dan berdoa memohon kepada-Nya apa yang telah Dia sediakan bagi kita. Saya bersyukur karena Allah dengan sabar mengarahkan kita, hari lepas hari, langkah demi langkah, ketika kita mempercayai-Nya dan mendengarkan suara-Nya. —Adam Holz

Ya Bapa, Engkau berjanji membimbing kami melewati pasang-surut kehidupan dan keputusan yang harus kami ambil dalam hidup ini. Tolong kami untuk mempercayai dan mengikut-Mu, serta mendengarkan tuntunan suara-Mu dengan saksama.

Allah dengan sabar mengarahkan kita ketika kita mempercayai-Nya dan mendengarkan suara-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5; Galatia 3

Fondasi yang Solid

Kamis, 30 Agustus 2018

Fondasi yang Solid

Baca: Lukas 6:46-49

6:46 “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

6:47 Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya—Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan—,

6:48 ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.

6:49 Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. —Lukas 6:48

Fondasi yang Solid

Setelah tinggal di rumahnya selama beberapa tahun, teman saya mendapati bahwa ruang tamu rumahnya mulai turun—dinding rumahnya mulai retak dan ada jendela yang tidak lagi dapat dibuka. Ia menemukan bahwa ruang tamu tersebut dibangun belakangan tanpa fondasi. Memperbaiki hasil pekerjaan yang buruk itu harus memakan waktu berbulan-bulan karena para tukang perlu menaruh fondasi yang baru.

Setelah pekerjaan itu selesai, saya tidak melihat banyak perbedaan (walaupun retakan sudah hilang dan jendela sudah bisa dibuka). Namun, saya menjadi paham tentang pentingnya fondasi yang solid.

Demikian juga dengan hidup kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang yang bijaksana dan yang bodoh dalam membangun rumah untuk menggambarkan kebodohan dari sikap yang tidak mau mendengarkan Dia (Luk. 6:46-49). Mereka yang mendengarkan dan menaati perkataan-Nya sama seperti orang yang membangun rumah di atas fondasi yang teguh, tidak seperti mereka yang mendengarkan, tetapi mengabaikan kata-kata-Nya. Yesus meyakinkan para pendengar-Nya bahwa ketika air bah datang, rumah mereka akan tetap bertahan. Iman mereka tidak akan terguncang.

Kita bisa tenang karena tahu bahwa saat kita mendengarkan dan menaati Yesus, Dia membangun fondasi yang kuat bagi kehidupan kita. Kita dapat memperkuat kasih kita kepada-Nya dengan membaca Alkitab, berdoa, dan belajar dari saudara seiman. Kemudian, di saat kita diterpa derasnya air bah—baik itu kejahatan, penderitaan, atau kekecewaan—kita dapat meyakini bahwa fondasi kita memang solid. Sang Juruselamat akan menyediakan dukungan yang kita butuhkan. —Amy Boucher Pye

Tuhan Allah, aku ingin membangun hidupku di atas fondasi yang solid. Tolonglah aku menyadari bahwa aku hanya bisa bersandar kepada-Mu, dan firman-Mulah yang memberi kami hikmat dan kekuatan.

Mendengarkan dan menaati Yesus memberikan fondasi yang kuat bagi hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 129-131; 1 Korintus 11:1-16

Kepedulian Allah bagi Kita

Rabu, 22 Agustus 2018

Kepedulian Allah bagi Kita

Baca: Kejadian 3:1-13

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

3:11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. —Kejadian 3:21

Kepedulian Allah bagi Kita

Cucu-cucu saya yang kecil sangat suka memakai sendiri pakaian mereka. Adakalanya mereka memakai kaos terbalik dan cucu yang paling kecil sering memakai sepatu di kaki yang salah. Saya biasanya tidak tega menegur mereka, bahkan menganggap keluguan mereka itu sangat menggemaskan.

Saya senang melihat dunia melalui mata mereka. Bagi mereka, segala sesuatu adalah petualangan yang seru, entah itu berjalan di atas batang pohon yang tumbang, mengintip kura-kura yang berjemur di atas sebilah kayu, atau dengan penuh semangat melihat mobil pemadam kebakaran yang menderu-deru saat lewat di depan rumah. Namun, saya juga tahu bahwa cucu-cucu kecil saya tidak benar-benar lugu. Mereka bisa mencari-cari alasan untuk tidak segera tidur di malam hari dan senang sekali berebut mainan. Meskipun demikian, saya sangat sayang kepada mereka.

Saya membayangkan ada kemiripan antara Adam dan Hawa—manusia pertama ciptaan Allah—dan cucu-cucu saya. Segala yang mereka lihat saat berjalan bersama Allah di Taman Eden tentu membuat mereka terpana. Namun, suatu hari mereka secara sadar memilih untuk tidak taat. Mereka makan buah dari satu pohon yang dilarang untuk dimakan buahnya (Kej. 2:15-17; 3:6). Ketidaktaatan itu langsung menyeret mereka ke dalam kebohongan dan sikap saling menyalahkan (3:8-13).

Namun, Allah tetap mengasihi dan mempedulikan mereka. Dia mengorbankan binatang dan mengenakan kulitnya sebagai pakaian untuk mereka (ay.21). Kelak, Dia pun menyediakan jalan keselamatan bagi semua orang berdosa melalui pengorbanan Anak-Nya (Yoh. 3:16). Alangkah besar kasih-Nya bagi kita! —Alyson Kieda

Tuhan, terima kasih karena meskipun kami berdosa, Engkau telah mengasihi kami dan membuka jalan bagi kami untuk tinggal bersama-Mu selamanya!

Karena begitu mengasihi kita, Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai ganti dosa-dosa kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 110-112; 1 Korintus 5

Naik ke Atas Pohon

Selasa, 22 Mei 2018

Naik ke Atas Pohon

Baca: Yunus 2:1-10

2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku. —Yunus 2:2

Naik ke Atas Pohon

Ibu saya menemukan anak kucing peliharaan saya, Velvet, di atas meja dapur sedang melahap roti buatannya. Dengan gusar, ibu mengusirnya keluar. Berjam-jam kemudian, kami harus mencari kucing yang hilang tersebut di halaman rumah kami dengan sia-sia. Ketika akhirnya terdengar sayup-sayup suara meong yang lirih, saya memandang ke salah satu ujung pohon dan melihat sesosok berwarna hitam bergelayut di salah satu dahan.

Dalam usahanya melarikan diri dari kegusaran ibu saya atas kelakuannya, Velvet justru memilih situasi yang lebih berbahaya. Mungkinkah kita juga terkadang melakukan hal serupa—melarikan diri dari kesalahan yang kita lakukan dan menempatkan diri kita sendiri dalam bahaya? Bahkan pada saat seperti itu Allah datang untuk menyelamatkan kita.

Nabi Yunus melarikan diri dalam ketidaktaatan kepada Allah yang memanggilnya untuk berkhotbah kepada orang Niniwe, dan akhirnya ditelan seekor ikan besar. “Berdoalah Yunus kepada Tuhan, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: ‘Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku’” (Yun. 2:1-2). Allah mendengarkan permohonan Yunus dan, “berfirmanlah [Dia] kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat” (ay.10). Kemudian Allah memberikan kesempatan kedua kepada Yunus (3:1).

Setelah usaha kami membujuk Velvet turun menemui kegagalan, kami pun menghubungi pemadam kebakaran setempat. Dengan menaiki tangga panjang yang dibentang hingga maksimal, seorang pria yang baik hati memanjat sampai mendekati ujung pohon, menarik kucing saya dari tempatnya, lalu membawanya turun hingga kembali aman dalam pelukan saya.

Betapa tinggi—dan dalamnya—kasih penebusan Allah yang membuat-Nya rela bertindak untuk menyelamatkan kita dari ketidaktaatan kita! —Elisa Morgan

Allah terkasih, betapa kami membutuhkan penyelamatan-Mu hari ini!

Kematian Yesus di kayu salib telah menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 16-18; Yohanes 7:28-53

Mengikuti Pimpinan Allah

Selasa, 8 Mei 2018

Mengikuti Pimpinan Allah

Baca: Keluaran 3:7-14

3:7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

3:9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.

3:10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

3:11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”

3:12 Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini.”

3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? —apakah yang harus kujawab kepada mereka?”

3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. —Matius 4:20

Mengikuti Pimpinan Allah

Pada bulan Agustus 2015, ketika sedang menyiapkan diri untuk berkuliah di universitas yang kampusnya berjarak lumayan jauh dari rumah, saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan kembali tinggal di rumah setelah lulus. Pikiran saya pun menjadi kalut. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rumah? Keluargaku? Gerejaku? Bagaimana jika nanti Allah memanggilku pergi ke daerah atau negara lain?

Seperti Musa, ketika Allah memerintahkan dirinya menghadap “Firaun untuk membawa umat-[Nya], orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel. 3:10), saya juga merasa takut. Saya tidak ingin meninggalkan zona nyaman saya. Musa memang menaati dan mengikuti perintah Allah, tetapi ia baru melakukannya setelah mempertanyakan Allah dan meminta agar orang lain saja yang pergi menggantikannya (ay.11-13; 4:13).

Lewat contoh Musa, kita bisa melihat apa yang tidak seharusnya dilakukan ketika kita merasa mendapatkan panggilan yang jelas. Sebaliknya, kita dapat berusaha untuk bersikap seperti murid-murid Yesus. Ketika Yesus memanggil mereka, mereka segera meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 4:20-22; Luk. 5:28). Merasa takut memang wajar, tetapi kita dapat mempercayai rencana Allah.

Tinggal jauh dari rumah masih terasa berat. Namun, saat saya terus mencari Allah, Dia membukakan pintu demi pintu kesempatan bagi saya, sehingga saya diyakinkan bahwa memang di sinilah seharusnya saya berada.

Ketika dibawa keluar dari zona nyaman kita, kita bisa memilih untuk melangkah pergi dengan enggan, seperti Musa, atau dengan sukarela seperti para murid—mengikuti Yesus ke mana pun Dia memimpin. Terkadang itu berarti meninggalkan hidup kita yang nyaman dan pergi hingga ratusan atau ribuan mil jauhnya. Namun, sesulit apa pun pilihan kita, mengikut Yesus itu sungguh sepadan. —Julie Schwab

Tuhan, mampukan aku untuk mengikut-Mu ke mana pun Engkau memimpinku.

Kita tidak dipanggil untuk menikmati zona nyaman kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 4-6; Lukas 24:36-53

Menyenangkan Telinga Kita

Kamis, 5 April 2018

Menyenangkan Telinga Kita

Baca: 2 Tawarikh 18:5-27

18:5 Lalu raja Israel mengumpulkan para nabi, empat ratus orang banyaknya, kemudian bertanyalah ia kepada mereka: “Apakah kami boleh pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?” Jawab mereka: “Majulah! Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.”

18:6 Tetapi Yosafat bertanya: “Tidak adakah lagi di sini seorang nabi TUHAN, supaya dengan perantaraannya kita dapat meminta petunjuk?”

18:7 Jawab raja Israel kepada Yosafat: “Masih ada seorang lagi yang dengan perantaraannya dapat diminta petunjuk TUHAN. Tetapi aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan selalu malapetaka. Orang itu ialah Mikha bin Yimla.” Kata Yosafat: “Janganlah raja berkata demikian.”

18:8 Kemudian raja Israel memanggil seorang pegawai istana, katanya: “Jemputlah Mikha bin Yimla dengan segera!”

18:9 Sementara raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, duduk masing-masing di atas takhtanya dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan pintu gerbang Samaria, sedang semua nabi itu bernubuat di depan mereka,

18:10 maka Zedekia bin Kenaana membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: “Beginilah firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan mereka.”

18:11 Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: “Majulah ke Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam tangan raja.”

18:12 Suruhan yang pergi memanggil Mikha itu berkata kepadanya: “Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.”

18:13 Tetapi Mikha menjawab: “Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allahku, itulah yang akan kukatakan.”

18:14 Setelah ia sampai kepada raja, bertanyalah raja kepadanya: “Mikha, apakah kami boleh pergi berperang melawan Ramot-Gilead atau aku membatalkannya?” Jawabnya: “Majulah dan kamu akan beruntung, sebab mereka akan diserahkan ke dalam tanganmu!”

18:15 Tetapi raja berkata kepadanya: “Sampai berapa kali aku menyuruh engkau bersumpah, supaya engkau mengatakan kepadaku tidak lain dari kebenaran?”

18:16 Lalu jawabnya: “Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti kambing domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.”

18:17 Kemudian raja Israel berkata kepada Yosafat: “Bukankah telah kukatakan kepadamu: Tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan hanya malapetaka?”

18:18 Kata Mikha: “Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya.

18:19 Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab, raja Israel, untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu.

18:20 Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa?

18:21 Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian!

18:22 Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut nabi-nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.”

18:23 Sesudah itu tampillah Zedekia bin Kenaana; ditamparnyalah pipi Mikha serta berkata: “Bagaimana mungkin Roh TUHAN pindah dari padaku untuk berbicara kepadamu?”

18:24 Tetapi Mikha menjawab: “Sesungguhnya engkau akan melihatnya pada hari engkau lari dari satu kamar ke kamar yang lain untuk menyembunyikan diri.”

18:25 Berkatalah raja Israel: “Tangkaplah Mikha, bawa dia kembali kepada Amon, penguasa kota, dan kepada Yoas, anak raja,

18:26 dan katakan: Beginilah titah raja: Masukkan orang ini dalam penjara dan beri dia makan roti dan minum air serba sedikit sampai aku pulang dengan selamat.”

18:27 Tetapi jawab Mikha: “Jika benar-benar engkau pulang dengan selamat, tentulah TUHAN tidak berfirman dengan perantaraanku!” Lalu disambungnya: “Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian!”

Aku membenci dia, sebab tidak pernah ia menubuatkan yang baik tentang aku, melainkan selalu malapetaka. —2 Tawarikh 18:7

Menyenangkan Telinga Kita

Sebagai manusia, kita cenderung mencari informasi yang mendukung pendapat kita. Riset menunjukkan bahwa kita sebenarnya berusaha dua kali lipat untuk mencari informasi yang mendukung posisi kita. Kita cenderung menjauhi pemikiran lain yang menentang pemikiran yang kita pegang dengan teguh.

Demikianlah yang terjadi di masa pemerintahan Raja Ahab di Israel. Ketika ia dan Yosafat, raja Yehuda, mempertimbangkan untuk berperang melawan Ramot-Gilead, Ahab mengumpulkan 400 nabi untuk menolongnya mengambil keputusan. Mereka adalah orang-orang yang ditunjuk Ahab sendiri menjadi nabi. Oleh karena itu, mereka selalu mengatakan apa yang menyenangkan telinga sang raja. Masing-masing dari nabi itu menjawab bahwa Ahab harus berperang, dengan mengatakan, “Allah akan menyerahkannya ke dalam tangan raja” (2Taw. 18:5). Yosafat bertanya apakah masih ada nabi lain yang telah dipilih Allah untuk memberikan petunjuk-Nya. Ahab menjawab dengan ogah-ogahan karena nabi Allah yang bernama Mikha “tidak pernah . . . menubuatkan yang baik tentang [dirinya], melainkan selalu malapetaka” (ay.7). Dan memang, Mikha pun menubuatkan bahwa mereka tidak akan menang, dan bangsa Israel akan “bercerai-berai di gunung-gunung” (ay.16).

Saat membaca kisah mereka, saya menyadari bahwa saya pun cenderung menghindari nasihat yang bijak apabila itu tidak menyenangkan telinga saya. Bagi Ahab, mendengarkan 400 nabi yang selalu mengatakan apa yang menyenangkan hatinya itu ternyata berakibat fatal (ay.34). Kiranya kita selalu rindu mencari dan mau mendengarkan suara kebenaran, firman Allah dalam Alkitab, walaupun suara itu bertentangan dengan kemauan dan pemikiran kita sendiri. —Kirsten Holmberg

Tuhan, tolonglah aku untuk mencari dan memperhatikan nasihat-Mu, sekalipun nasihat itu bertentangan dengan keinginanku atau pendapat umum.

Nasihat Allah sungguh bijaksana dan dapat dipercaya.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 1-3; Lukas 8:26-56

Instruksi Langsung

Jumat, 9 Maret 2018

Instruksi Langsung

Baca: 1 Raja-Raja 13:11-22

13:11 Di Betel diam seorang nabi tua. Anak-anaknya datang menceritakan kepadanya segala perbuatan yang dilakukan abdi Allah pada hari itu di Betel. Mereka menceriterakan juga kepada ayah mereka perkataan yang dikatakannya kepada raja.

13:12 Kemudian ayah mereka bertanya: “Dari jalan manakah ia pergi?” Lalu anak-anaknya menunjukkan kepadanya jalan yang diambil abdi Allah yang datang dari Yehuda itu.

13:13 Ia berkata kepada anak-anaknya: “Pelanai keledai bagiku!” Mereka memelanai keledai baginya, lalu ia menunggangnya

13:14 dan pergi mengikuti abdi Allah itu dan mendapatinya duduk di bawah sebuah pohon besar. Ia bertanya kepadanya: “Engkaukah abdi Allah yang telah datang dari Yehuda?” Jawabnya: “Ya, akulah itu.”

13:15 Katanya kepadanya: “Marilah bersama-sama aku ke rumah untuk makan roti.”

13:16 Tetapi jawabnya: “Aku tidak dapat kembali bersama-sama engkau dan singgah kepadamu; aku tidak dapat makan roti atau minum air bersama-sama engkau di tempat ini,

13:17 sebab telah diperintahkan kepadaku atas firman TUHAN: Jangan makan roti atau minum air di sana. Jangan berjalan pulang melalui jalan yang telah kauambil itu.”

13:18 Lalu jawabnya kepadanya: “Akupun seorang nabi juga seperti engkau, dan atas perintah TUHAN seorang malaikat telah berkata kepadaku: Bawa dia pulang bersama-sama engkau ke rumahmu, supaya ia makan roti dan minum air.” Tetapi ia berbohong kepadanya.

13:19 Kemudian orang itu kembali bersama-sama dia, lalu makan roti dan minum air di rumahnya.

13:20 Sedang mereka duduk menghadapi meja, datanglah firman TUHAN kepada nabi yang telah membawa dia pulang.

13:21 Ia berseru kepada abdi Allah yang telah datang dari Yehuda: “Beginilah firman TUHAN: Karena engkau telah memberontak terhadap titah TUHAN dan tidak berpegang pada segala perintah yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,

13:22 tetapi kembali dan makan roti dan minum air di tempat ini walaupun Ia telah berfirman kepadamu: Jangan makan roti atau minum air, —maka mayatmu tidak akan masuk ke dalam kubur nenek moyangmu.”

“Telah diperintahkan kepadaku atas firman Tuhan.” —1 Raja-Raja 13:17

Instruksi Langsung

Putri kedua saya, Britta, sangat ingin tidur di “tempat tidur anak besar” di kamar kakaknya. Setiap malam ketika menidurkan Britta, saya memberikan instruksi tegas agar ia tidak turun dari tempat tidur, dan memperingatkan bahwa jika ia turun, saya akan mengembalikannya ke ranjang bayi. Malam demi malam, saya menemukan Britta sedang ada di lorong dan saya terpaksa harus membawanya tidur di ranjang bayinya. Bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu bahwa putri sulung saya ternyata tidak terlalu senang tidur sekamar dengan adiknya. Berulang kali ia memperdaya Britta dengan mengatakan bahwa ia mendengar saya memanggil-manggil nama adiknya. Britta percaya saja pada kata-kata kakaknya lalu pergi mencari saya. Itulah sebabnya saya sering menemukannya di lorong dan harus membuatnya tidur di ranjang bayi.

Mendengarkan suara yang salah memiliki dampak yang berbahaya bagi kita semua. Ketika Allah mengutus seorang abdi-Nya ke Betel untuk berbicara bagi-Nya, Allah memberikan instruksi yang jelas agar ia tidak makan atau minum selama berada di Betel dan tidak melalui jalan yang sama untuk pulang (1Raj. 13:9). Ketika Raja Yerobeam mengundangnya makan, abdi Allah itu menolaknya karena ia menaati perintah Allah. Ketika seorang nabi yang lebih tua mengundang abdi Allah itu untuk makan, pada awalnya ia menolak, tetapi akhirnya menerima juga undangan makan tersebut. Ia diperdaya oleh si nabi tua yang berkata bahwa seorang malaikat telah berbicara kepadanya untuk mengajak abdi Allah itu makan. Sama seperti saya sedih karena harus menghukum Britta yang tidak mendengarkan instruksi saya, saya membayangkan Allah juga sedih karena abdi-Nya tidak menuruti perintah-Nya.

Kita dapat mempercayai Allah sepenuhnya. Firman-Nya adalah jalan kita menuju kehidupan; alangkah bijaknya jika kita mendengarkan dan menaati-Nya. —Kirsten Holmberg

Tuhan, terima kasih karena Engkau berbicara kepadaku melalui firman-Mu. Tolonglah aku mengarahkan telingaku untuk mendengarkan suara-Mu dan menaatinya.

Firman Tuhan adalah perkataan yang terpenting.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 8-10; Markus 11:19-33

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Catherine Tedjasaputera