Posts

Tidak Pernah Mengecewakan

Kamis, 24 April 2014

Tidak Pernah Mengecewakan

Baca: Ratapan 3:13-26

3:13 Ia menyusupkan ke dalam hatiku segala anak panah dari tabung-Nya.

3:14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari.

3:15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.

3:16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.

3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

3:19 “Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu.”

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi. —Ratapan 3:22-23

Tidak Pernah Mengecewakan

Ketika saya masih kecil, salah satu permainan favorit saya di waktu senggang adalah bermain jungkat-jungkit di sebuah taman dekat rumah. Masing-masing anak duduk saling berhadapan di tiap ujung papan dan bergantian menggerakkan papan itu naik-turun. Terkadang salah satu dari mereka yang dalam posisi turun akan menahan papan yang didudukinya dan membiarkan teman mainnya yang sedang duduk di ujung satunya terperangkap di atas yang berteriak-teriak minta diturunkan. Namun tindakan yang paling kejam di antara semuanya adalah melompat dari jungkat-jungkit dan melarikan diri ketika temanmu sedang berada di atas, karena ia akan turun dan jatuh terjerembab ke tanah dengan benturan yang menyakitkan.

Terkadang kita mungkin merasa Yesus melakukan hal yang sama terhadap kita. Kita percaya bahwa Dia ada bersama kita saat hidup berjalan naik-turun, dalam suka maupun duka. Akan tetapi, saat jalan hidup ini berbelok arah, membuat kita terjungkal hingga kita benjol dan memar, mungkin rasanya seolah-olah Yesus telah meninggalkan kita dan membiarkan hidup kita jatuh terjerembab dengan menyakitkan.

Namun Ratapan 3 mengingatkan kita bahwa “tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya” (ay.22) dan bahwa Allah tetap setia sampai akhir, bahkan ketika segala sesuatu dalam hidup ini rasanya hancur berantakan. Ini berarti bahwa di tengah-tengah kepedihan kita, walaupun kita mungkin merasa kesepian, sesungguhnya kita tidak sendirian. Walaupun kita mungkin tidak merasakan kehadiran-Nya, Dia hadir sebagai sahabat terpercaya yang tidak akan pernah meninggalkan dan mengecewakan kita! —JMS

Terima kasih, Tuhan, bahwa kami dapat mempercayai kehadiran-Mu
yang senantiasa ada, bahkan ketika kami merasa sendirian.
Tolonglah kami dengan sabar menantikan Engkau
untuk menunjukkan kehadiran-Mu yang setia dan penuh kasih.

Ketika yang lain mengecewakan, Yesuslah sahabatmu yang tepercaya.

Memandang Dari Awan-Awan

Senin, 17 Maret 2014

Memandang Dari Awan-Awan

Baca: Ayub 3:3-5; 42:5-6

3:3 “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.

3:4 Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.

3:5 Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya.

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. —Ayub 42:5

Memandang Dari Awan-Awan

Pada tahun 1927, film bisu Wings (Sayap), yang mengisahkan dua penerbang asal Amerika dalam Perang Dunia I, memenangi Academy Award yang pertama dalam kategori Film Terbaik. Proses pembuatan film itu sempat terhenti beberapa hari. Para produser yang frustrasi menanyakan alasan penghentian itu kepada sang sutradara. Jawabnya: “Yang kita lihat sekarang hanyalah hamparan langit biru. Perang di udara tidak akan terlihat jelas tanpa adanya awan. Awan akan memberikan sudut pandang yang jelas.” Sang sutradara benar. Ketika adegan pertempuran udara itu dilatarbelakangi oleh awan-awan, barulah penonton bisa menyaksikan apa yang sesungguhnya terjadi.

Mungkin kita lebih sering mengharapkan langit biru daripada awan badai. Padahal langit berawan dapat mengungkapkan kasih setia Allah. Saat kita melihat awan-awan itu, kita dapat melihat dengan jelas kesetiaan Allah kepada kita di tengah beragam pencobaan yang kita hadapi.

Di awal penderitaannya yang besar, Ayub meratap: “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku . . . . awan-gemawan menudunginya” (Ayb. 3:3-5). Keputusasaannya terus berlanjut untuk suatu masa yang panjang, hingga kemudian Allah berbicara. Saat itulah Ayub berseru, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (42:5). Ayub telah berjumpa dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa, dan perjumpaan itu mengubah pandangannya terhadap maksud-maksud Allah.

Apakah awan kesulitan sedang menghiasi langit hidupmu hari ini? Bisa jadi Allah akan memakai awan-awan itu untuk menolongmu melihat kasih setia-Nya dengan jelas. —HDF

Allah, beri kami sayap untuk terbang tinggi
Mengatasi awan ujian yang menghalangi mentari,
Melayang tinggi di angkasa kelabu
Dan melihat kasih dan kebaikan Putra-Mu. —Sper

Sering kali di balik awan dukacita tersingkap sinar wajah Allah yang cemerlang. —Jasper

Baa!

Kamis, 6 Maret 2014

Baa!

Baca: Yesaya 30:1-5,18-19

30:1 Celakalah anak-anak pemberontak, demikianlah firman TUHAN, yang melaksanakan suatu rancangan yang bukan dari pada-Ku, yang memasuki suatu persekutuan, yang bukan oleh dorongan Roh-Ku, sehingga dosa mereka bertambah-tambah,

30:2 yang berangkat ke Mesir dengan tidak meminta keputusan-Ku, untuk berlindung pada Firaun dan untuk berteduh di bawah naungan Mesir.

30:3 Tetapi perlindungan Firaun akan memalukan kamu, dan perteduhan di bawah naungan Mesir akan menodai kamu.

30:4 Sebab sekalipun pembesar-pembesar Yerusalem sudah ada di Zoan, dan utusan-utusannya sudah sampai ke Hanes,

30:5 sekaliannya akan mendapat malu karena bangsa itu tidak dapat memberi faedah kepada mereka, dan tidak dapat memberi pertolongan atau faedah; melainkan hanya memalukan, bahkan mengaibkan mereka.

30:18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!

30:19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab.

Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. —Yesaya 30:19

Baa!

Salah satu permainan yang mula-mula dimainkan oleh banyak orangtua bersama anak adalah berpura-pura menakuti mereka. Ayah menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan dan tiba-tiba memunculkan wajahnya sambil berkata, “Baa!” Si anak pun tertawa geli melihat kekonyolan ini.

Ditakut-takuti adalah permainan yang menyenangkan bagi si anak, tetapi suatu hari ia akan mengalami ketakutan sebenarnya yang tidak lagi bersifat main-main. Ketakutan pertama biasanya dialami saat ia merasa terpisah dari orangtua. Bisa saja si anak berjalan ke sana kemari karena terpikat pada hal-hal yang menarik hatinya. Namun segera setelah menyadari ia telah tersesat, ia mulai panik dan menangis dengan keras. Orangtuanya pun segera datang untuk meyakinkan anaknya itu bahwa ia tidak sendirian.

Setelah dewasa, ketakutan pura-pura kita berkembang menjadi lebih canggih—lewat cerita, film horor, atau wahana di taman hiburan. Rupanya merasakan ketakutan memberikan sensasi yang begitu menantang sehingga kita mulai mengambil risiko yang lebih besar demi sensasi yang lebih hebat.

Namun saat ketakutan yang sesungguhnya datang, kita mungkin tersadar bahwa kita, seperti bangsa Israel di zaman dahulu (Yes. 30), telah menyimpang dari Allah yang mengasihi dan memelihara kita. Saat menyadari bahwa kita dalam bahaya, kita pun panik. Seruan kita minta tolong tidak keluar dalam bentuk kata-kata yang rumit atau pembelaan diri yang tertata rapi; yang ada hanyalah seruan putus asa.

Layaknya orangtua yang penuh kasih, Allah akan menjawab kita dengan segera karena Dia rindu agar kita hidup dalam lindungan kasih-Nya. Dalam kasih-Nya, kita tidak perlu lagi merasa takut. —JAL

Aku tak pernah berjalan sendiri, Kristus besertaku;
Dialah Sahabat terbaik yang pernah kukenal;
Dengan Sahabat yang selalu menghibur dan menuntunku,
Aku tak pernah, tidak akan pernah, berjalan sendiri. —Ackley

Mempercayai kesetiaan Allah akan menolong kita menghalau ketakutan.

Garis Beban

Kamis, 23 Januari 2014

Garis Beban

Baca: 1 Petrus 5:5-9

5:5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

5:6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada- Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. —1 Petrus 5:6-7

Garis Beban

Pada abad ke-19, kapal-kapal laut sering dimuati beban yang terlalu berat dengan sembrono, sehingga kapal-kapal tersebut tenggelam dan awak kapalnya hilang di laut. Pada tahun 1875, untuk memperbaiki kondisi yang buruk ini, seorang politisi Inggris bernama Samuel Plimsoll mendesak disahkannya undang-undang untuk membuat sebuah garis pada dinding kapal sebagai penanda apakah kapal tersebut telah membawa muatan yang terlalu banyak. “Garis beban” tersebut dinamakan Garis Plimsoll, dan cara itu masih digunakan untuk menandai lambung kapal sampai saat ini.

Sering kali, sama dengan kapal-kapal tersebut, hidup kita terasa begitu dibebani oleh ketakutan, pergumulan, dan perasaan sakit hati. Kita bahkan dapat merasa terancam akan jatuh tenggelam. Meskipun demikian, di tengah masa-masa sulit tersebut, alangkah melegakannya ketika kita mengingat bahwa kita memiliki sumber pertolongan yang luar biasa. Kita mempunyai Bapa surgawi yang siap menolong kita untuk menanggung beban itu. Rasul Petrus berkata, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr. 5:6-7). Dia sanggup menangani segala masalah yang membebani hidup kita.

Meskipun beragam pencobaan hidup bisa terasa bagaikan beban yang terlalu berat untuk ditanggung, kita dapat memiliki keyakinan penuh bahwa Bapa kita di surga sangat mengasihi kita dan Dia tahu batas kemampuan kita. Apa pun yang kita hadapi, Dia akan menolong kita menanggungnya. —WEC

Bapa Surgawi, terkadang aku merasa tak mampu melangkah lagi.
Aku lelah, lemah, dan tak berdaya. Terima kasih Tuhan karena
Engkau tahu batas kemampuanku. Dengan kekuatan-Mu,
aku bisa menerima kesanggupan untuk menanggungnya.

Allah memperkenankan kita mengalami masalah berat untuk memperkuat keyakinan kita kepada-Nya.

Kemarin, Hari Ini, Dan Esok

Sabtu, 11 Mei 2013

Kemarin, Hari Ini, Dan Esok

Baca: Yosua 4:1-6,20-24

Supaya semua bangsa di bumi tahu, bahwa kuat tangan TUHAN. —Yosua 4:24

Baru-baru ini saya menyadari bahwa semua benda kenangan yang ada di kantor saya mewakili masa lalu. Saya terpikir untuk menyingkirkannya, tetapi saya bertanya-tanya apakah benda yang mengingatkan saya akan masa lalu itu bermanfaat lebih dari sekadar nostalgia. Supaya tidak terpaku pada masa lalu, saya perlu menemukan kembali nilainya untuk masa kini dan hari esok.

Ketika umat Allah menyeberangi sungai Yordan menuju Tanah Perjanjian, Allah berfirman kepada pemimpin mereka, Yosua, untuk memilih 12 orang yang akan mengangkat sebongkah batu dari tengah-tengah sungai Yordan. Mereka harus membawa dan meletakkan batu-batu itu di tempat mereka berkemah malam itu (Yos. 4:1-5). Yosua menegakkan batu-batu tersebut sebagai suatu tanda peringatan, sehingga ketika generasi berikutnya bertanya, “Apakah artinya batu-batu ini bagi kamu?” mereka dapat menceritakan tentang kesetiaan Allah yang telah menahan aliran air ketika mereka menyeberangi sungai itu (ay.6-7).

Memang memiliki suatu benda sebagai bukti nyata dari pertolongan Allah di masa lalu itu baik bagi kita sebagai pengikut Kristus. Benda-benda kenangan tersebut mengingatkan kita bahwa kesetiaan-Nya terus berlanjut sampai saat ini, dan kita dapat terus mengikut Dia dengan penuh keyakinan di masa mendatang. “Batu peringatan” milik kita mungkin juga dapat menolong orang lain mengetahui kuatnya tangan Allah, dan mendorong kita supaya selalu takut kepada Tuhan, Allah kita selamanya (ay.24).

Ingatan akan perbuatan Allah bagi kita di masa lalu dapat menjadi batu pijakan yang kokoh untuk hari ini dan hari esok. —DCM

Untuk Dipikirkan Kembali
Bagaimana cara Allah menunjukkan kesetiaan-Nya bagi Anda dan
keluarga Anda? Apa yang dapat menolong Anda untuk mengingat itu
semua? Dapatkah Anda bagikan hal itu kepada seseorang hari ini?

Kenangan masa lalu yang berharga dapat meneguhkan iman kita hari ini dan esok.

Semua Yang Berharga

Rabu, 1 Mei 2013

Semua Yang Berharga

Baca: 1 Petrus 2:1-10

Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. —1 Petrus 2:4

Di sepanjang hidup saya, saya telah mengumpulkan banyak barang. Ada berkardus-kardus barang yang dahulu begitu penting, tetapi yang sekarang tidak menarik lagi. Sebagai seorang kolektor yang tidak pernah kapok, saya menyadari bahwa kesenangan itu saya alami pada saat mencari dan berhasil menambah barang baru untuk koleksi saya. Setelah itu, perhatian saya akan beralih lagi untuk berburu benda berikutnya.

Walaupun kita menumpuk banyak barang yang penting bagi kita, hanya sedikit dari barang-barang tersebut yang memang berharga. Bahkan, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa yang paling berharga di dalam hidup saya bukanlah barang-barang yang bersifat materi, melainkan orang-orang yang telah mengasihi dan membentuk hidup saya. Ketika hati saya berkata, “Aku tak bisa hidup tanpa mereka,” saya tahu bahwa mereka benar-benar berharga bagi saya.

Jadi ketika Petrus menyebut Yesus sebagai “sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal” (1Ptr. 2:6), kita pun seharusnya mengakui bahwa Dialah yang sungguh paling berharga—Dialah milik kita yang paling bernilai melebihi semua orang dan segala sesuatu. Apa jadinya hidup kita tanpa penyertaan-Nya yang setia, kehadiran-Nya yang terus-menerus, pimpinan-Nya yang sempurna dan bijaksana, kesabaran-Nya yang penuh belas kasih, penghiburan-Nya, dan teguran-Nya yang mengubah hidup? Apa jadinya kita tanpa diri- Nya? Benar-benar tak terbayangkan! —JMS

Tuhan, tolong kami untuk tidak memusatkan perhatian kami pada
harta benda yang fana, tetapi kepada-Mu, harta paling berharga
yang kami miliki. Ajarlah kami bersukacita hidup di dalam-Mu
dan dalam setiap berkat dan penyertaan-Mu yang penuh kasih.

Dari semua yang berharga, Yesuslah yang terutama.

Tidak Ditinggalkan

Selasa, 20 November 2012

Tidak Ditinggalkan

Baca: Mazmur 13

Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terusmenerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? —Mazmur 13:2

Ketika Karrisa Smith sedang melihat-lihat buku di sebuah perpustakaan setempat sambil membawa putrinya yang berusia 4 bulan dan suka berceloteh tanpa henti, seorang pria tua dengan kasar menyuruh Smith untuk membuat putrinya diam atau pria itu sendiri yang akan melakukannya. Smith menjawabnya, “Saya turut menyesal atas apa pun yang telah terjadi dalam hidup Anda sehingga Anda begitu terganggu oleh bayi yang sedang bergembira. Namun saya takkan meminta bayi saya untuk berhenti mengoceh, dan saya pun takkan membiarkan Anda melakukannya.” Pria itu menundukkan kepala dan meminta maaf, lalu bercerita tentang putranya yang meninggal lebih dari 50 tahun yang lalu karena Sindrom Kematian Bayi Mendadak. Selama itulah pria tua itu telah memendam rasa duka dan amarahnya.

Di Mazmur 13, Daud mengungkapkan rasa dukanya. Ia dengan jujur dan blak-blakan meratap kepada Allah, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (ay.2). Pertanyaan ini mencerminkan rasa takut akan ditinggalkan. Seruan kesedihan Daud tergantikan dengan permohonan minta tolong dan penegasan kembali imannya dalam kasih Allah baginya (ay.4-6). Keyakinan dan keteguhan tekad muncul seiring dengan seruan kesedihan.

Kita semua pernah mengalami suatu masa kekelaman jiwa dimana kita bertanya apakah Allah telah meninggalkan kita. Namun seperti Daud, rasa sakit kita bisa tergantikan dengan sukacita ketika kita menghampiri Allah dengan jujur, memohon pertolongan-Nya, dan menegaskan kembali kepercayaan kita dalam Allah yang kasih-Nya bagi kita takkan pernah goyah atau berubah. —MLW

Kristuslah jawaban bagi hati yang luka,
Kristuslah jawaban bagi penderitaan;
Meski orang lain meninggalkanmu,
Dia akan senantiasa berada di sisimu. —Elwell

Allah tidak pernah membiarkan kita dan meninggalkan kita.

Merasa Ditinggalkan?

Kamis, 1 November 2012

Merasa Ditinggalkan?

Baca: Mazmur 22:1-9; 20-27

Orang yang mencari Tuhan akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya! —Mazmur 22:27

Tahukah Anda, mazmur mana yang paling sering dikutip dalam Perjanjian Baru? Mungkin tebakan Anda adalah Mazmur 23 yang paling favorit dan terkenal, tetapi sebenarnya yang paling sering dikutip adalah Mazmur 22. Mazmur ini diawali dengan perkataan Daud yang emosional dan menyedihkan, yang dikutip Yesus ketika tergantung di kayu salib, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46; Mrk. 15:34).

Bayangkan situasi yang telah dialami Daud yang menyebabkannya sampai berseru kepada Allah dengan cara seperti itu. Perhatikan bagaimana ia merasa ditinggalkan dan dicampakkan: “Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:2). Ia juga merasa diabaikan: “Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab” (ay.3).

Apakah Anda pernah mengalami situasi yang sama seperti yang dialami Daud? Apakah Anda pernah menatap ke langit dan bertanya-tanya mengapa sepertinya Allah telah meninggalkan atau mengabaikan Anda? Itulah yang dirasakan Daud. Namun untuk setiap tangisan sedih yang diungkapkan Daud, tersebut sifat Allah yang telah menyelamatkannya dari keputusasaan. Ketika Daud mengalaminya, ia menyadari bahwa Allah itu kudus (ay.4), dapat dipercaya (ay.5-6), penolong dan penyelamat (ay.9, 21-22), dan kuat (ay.20).

Apakah Anda merasa ditinggalkan? Carilah Tuhan. Pelajari karakter-Nya. Dan “biarlah hatimu hidup untuk selamanya!” (ay.27). —JDB

Tuhan, terkadang aku merasa seolah Kau tak mempedulikan hidupku.
Ketika aku mengalami perasaan itu, tolong ingatkan aku tentang
sifat-Mu seperti yang Kau lakukan kepada Daud. Tolong aku untuk
bersandar kepada-Mu lagi dan tahu bahwa Kau menyertaiku.

Sekalipun kita tidak merasakan kehadiran Allah, kasih pemeliharaan-Nya ada terus bersama kita.

Komik Strip Mr. Bilbo: Pencil

Ilustrasi oleh Rizky Prima

Pensil dapat habis dipakai namun kasih Allah tidak berkesudahan.

Klik gambar untuk lihat ukuran yang lebih besar