Posts

Keagungan Terbesar

Minggu, 6 Januari 2019

Keagungan Terbesar

Baca: Yohanes 17:1-5, 20-24

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. —Lukas 2:1

Keagungan Terbesar

Kaisar Agustus dikenang sebagai kaisar Romawi yang pertama dan terbesar. Dengan kelihaian politik dan kekuatan militernya, ia mengalahkan musuh, memperluas wilayah kekaisaran, dan mengubah kota Roma dari lingkungan kumuh menjadi penuh kemewahan dengan patung-patung dan kuil-kuil dari marmer. Warga Romawi memuja Agustus sebagai dewa agung dan penyelamat umat manusia. Menjelang akhir pemerintahannya pada tahun ke-40, kata-kata terakhirnya yang dikenal secara resmi adalah, “Aku membangun Roma dari kota bertanah liat menjadi kota penuh marmer.” Namun, menurut sang istri, kata-kata terakhir Agustus yang sebenarnya adalah, “Sudahkah aku menjadi kaisar yang baik? Jika ya, rayakanlah saat aku mangkat.”

Agustus tidak sadar bahwa ia telah menjadi pemeran pendukung dalam cerita yang lebih besar. Pada masa pemerintahannya, lahirlah seorang anak tukang kayu yang menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih agung daripada kemenangan militer, bangunan kuil, arena, maupun istana Romawi (Luk. 2:1).

Namun, siapa yang dapat memahami kemuliaan yang Yesus doakan pada malam ketika orang sebangsa-Nya menuntut Dia disalibkan oleh para algojo Romawi? (Yoh. 17:4-5). Adakah yang dapat memperkirakan keajaiban tersembunyi di balik pengorbanan yang akan selamanya dipuja di dalam surga dan di atas bumi?

Itulah kisah yang benar-benar menakjubkan. Mulanya, kita adalah manusia malang yang saling mencelakakan demi mengejar mimpi-mimpi bodoh, tetapi Dia telah mengubahkan dan menyatukan kita untuk mengenal serta memuja keagungan salib-Nya. —Mart DeHaan

Bapa di surga, kemegahan segala sesuatu akan berlalu, tetapi tolonglah kami untuk melihat kasih-Mu yang bertahan selamanya.

Keagungan salib adalah keagungan yang dibutuhkan oleh semua orang.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-17; Matius 5:27-48

Natal yang Sepi

Kamis, 6 Desember 2018

Natal yang Sepi

Baca: Mazmur 25:14-22

25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

25:15 Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.

25:16 Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.

25:17 Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!

25:18 Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku.

25:19 Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam.

25:20 Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu.

25:21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.

25:22 Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya!

Mataku tetap terarah kepada Tuhan. —Mazmur 25:15

Natal yang Sepi

Natal paling sepi yang pernah saya alami adalah ketika berada di pondok milik kakek saya di dekat Sakogu, wilayah utara Ghana. Saat itu, saya baru berusia lima belas tahun, sementara orangtua dan saudara-saudara saya tinggal seribu kilometer jauhnya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika tinggal bersama mereka dan teman-teman sekampung, Natal selalu terasa ramai dan mengesankan. Namun, Natal kali ini begitu sunyi dan sepi. Sembari berbaring di atas tikar pada pagi harinya, saya teringat lagu daerah: Tahun telah berakhir; Natal telah tiba; Anak Allah lahir; damai dan sukacita bagi semua. Dengan sedih, saya menyanyikan lagu itu berulang-ulang.

Nenek saya datang dan bertanya, “Lagu apa itu?” Kakek dan nenek saya tidak tahu apa-apa tentang Natal, apalagi tentang Kristus. Jadi, saya pun menceritakan apa yang saya ketahui tentang Natal kepada mereka. Saat itulah kesepian saya terasa sirna.

Sendirian di padang, dengan hanya ditemani domba dan hewan liar yang sesekali muncul, Daud sang gembala muda mengalami kesepian. Bukan kali itu saja ia mengalaminya. Di kemudian hari, ia menulis, “Aku kesepian dan sengsara” (mzm. 25:16 BIS). Namun, Daud tak membiarkan dirinya putus asa ditelan rasa sepi. Sebaliknya, ia bernyanyi: “Aku berharap kepada-Mu” (ay.21 BIS).

Dari waktu ke waktu, kita semua pasti mengalami kesepian. Di mana pun kamu berada pada Natal tahun ini, baik dalam kesepian maupun kehangatan, Kristus senantiasa menemanimu. —Lawrence Darmani

Tuhan, terima kasih karena bersama-Mu aku tidak sendirian meski didera kesepian. Natal kali ini, tolonglah aku untuk menikmati persekutuan dengan Engkau dan juga melayani orang lain yang membutuhkan kasih-Mu.

Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 3-4; 1 Yohanes 5

Artikel Terkait:

Natalku yang Berpohon

Tak Ada yang Peduli Padaku

Sabtu, 26 Mei 2018

Tak Ada yang Peduli Padaku

Baca: Mazmur 142

142:1 Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua: suatu doa.

142:2 Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN.

142:3 Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.

142:4 Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.

142:5 Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorangpun yang mencari aku.

142:6 Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: “Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!”

142:7 Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku.

142:8 Keluarkanlah aku dari dalam penjara untuk memuji nama-Mu. Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku.

Waktu aku menoleh ke samping, kulihat tak ada bantuan bagiku. Tak ada yang melindungi aku, atau yang peduli akan diriku. —Mazmur 142:5 BIS

Tak Ada yang Peduli Padaku

Ketika masih anak-anak, saat saya merasa kesepian, tertolak, atau mengasihani diri sendiri, adakalanya ibu berusaha menghibur saya dengan menyanyikan lagu-lagu lucu. Lalu, saat senyum mulai terlihat di wajah saya yang murung, ibu akan menolong saya untuk melihat banyaknya hubungan yang indah dan berbagai hal yang sepatutnya saya syukuri.

Ketika saya membaca di Alkitab bagaimana Daud merasa tak ada orang yang mempedulikan dirinya, lagu-lagu lucu dari ibu saya terngiang kembali di telinga saya. Namun, penderitaan Daud bukanlah hal yang dibesar-besarkannya. Saya hanya merasakan kesepian yang biasa dialami anak-anak, tetapi Daud benar-benar memiliki alasan kuat untuk merasa tidak dipedulikan. Ia menulis kata-kata tersebut dari dalam sebuah gua gelap yang menjadi tempat persembunyiannya dari Raja Saul yang mengejarnya dan hendak membunuhnya (1Sam. 22:1; 24:3-10). Daud telah diurapi untuk menjadi raja Israel di masa mendatang (16:13) dan telah melayani Saul selama bertahun-tahun, tetapi sekarang ia hidup dalam pelarian dengan selalu merasa bahwa nyawanya terancam. Di tengah kesepian yang dirasakannya, Daud berseru kepada Allah yang menjadi “tempat perlindungan . . . yang [ia] perlukan dalam hidup ini” (Mzm. 142:6 bis).

Ketika kita merasa kesepian, seperti Daud, kita dapat berseru kepada Allah dan mencurahkan perasaan kita kepada-Nya karena kita yakin akan kasih-Nya kepada kita. Allah tidak pernah menyepelekan kesepian yang kita rasakan. Dia ingin menemani kita di dalam kekelaman yang menyelimuti kehidupan kita. Sekalipun kita merasa tidak ada orang yang mempedulikan kita, Allah peduli! —Kirsten Holmberg

Tuhan, Engkaulah sahabatku saat aku merasa kesepian. Terima kasih karena Engkau selalu menyertaiku di dalam kekelaman yang menyelimuti hidupku.

Allah adalah sahabat terbaik kita di tengah kesepian.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 28-29; Yohanes 9:24-41

Sukacita Berlimpah dari Allah

Minggu, 4 Maret 2018

Sukacita Berlimpah dari Allah

Baca: Mazmur 16:5-11

16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

16:6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku.

16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa. —Mazmur 16:11

Sukacita Berlimpah dari Allah

“Entah apa yang telah kulakukan?” Masa itu seharusnya menjadi salah satu masa yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Namun, saya justru merasa begitu kesepian. Waktu itu, saya baru lulus kuliah dan memperoleh pekerjaan “sungguhan” pertama saya di sebuah kota yang berjarak ratusan kilometer dari tempat asal saya. Namun, sensasi dari langkah besar tersebut tidak bertahan lama. Yang saya punya hanya sebuah apartemen mungil tanpa perabot. Saya tidak mengenal kota itu. Saya tidak mengenal siapa pun. Pekerjaan saya menarik, tetapi rasa sepi membuat saya merana.

Suatu malam di rumah, saya duduk termenung dan membuka Alkitab. Saya pun membaca Mazmur 16, dan ayat 11 menjanjikan sukacita berlimpah-limpah yang disediakan Allah. Saya pun berdoa, “Tuhan, rasanya pekerjaanku tepat untukku, tetapi sekarang aku merasa sangat kesepian. Tolonglah ya Tuhan, penuhi aku dengan kehadiran-Mu.” Saya menaikkan rintihan permohonan seperti itu berminggu-minggu lamanya. Adakalanya kesepian itu terasa lebih ringan, dan saya begitu kuat merasakan kehadiran Allah. Namun di malam-malam tertentu, saya merasa begitu tersiksa oleh rasa sepi.

Saat saya kembali kepada ayat itu dan menambatkan hati saya pada firman Allah malam demi malam, Dia perlahan-lahan memperdalam iman saya. Saya mengalami kesetiaan-Nya melalui cara-cara yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Saya pun belajar bahwa saya hanya perlu mencurahkan isi hati saya kepada-Nya . . . dan dengan rendah hati menantikan jawaban yang pasti diberikan-Nya, sambil mempercayai janji-Nya untuk memenuhi saya dengan Roh-Nya. —Adam Holz

Tuhan, terkadang kami merasa begitu hampa. Namun, Engkau menunjukkan jalan kehidupan dan menghendaki kami untuk mempercayai-Mu. Tolonglah kami untuk memegang janji-Mu yang akan melimpahkan sukacita di saat kami berputus asa.

Tambatkanlah hatimu pada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 31-33; Markus 9:1-29

Dibimbing Allah

Jumat, 8 September 2017

Dibimbing Allah

Baca: Mazmur 30:1-13

30:1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud.30:2 Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.

30:3 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

30:4 TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.

30:5 Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

30:6 Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

30:7 Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!”

30:8 TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.

30:9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:

30:10 “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?

30:11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!”

30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

30:13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai. —Mazmur 30:6

Dibimbing Allah

Baru-baru ini tanpa sengaja saya menemukan beberapa jurnal yang saya tulis semasa kuliah. Setelah membacanya lagi, saya menyadari bahwa perasaan saya terhadap diri sendiri saat itu sangat jauh berbeda dengan perasaan saya saat ini. Pergumulan saya dalam menghadapi kesepian dan keraguan atas iman saya terasa begitu berat untuk dihadapi saat itu. Namun ketika melihat ke belakang, saya dapat melihat dengan jelas bagaimana Allah telah membimbing saya ke tempat yang lebih baik. Melihat bagaimana Allah dengan lembut membimbing saya melewati masa-masa itu mengingatkan saya bahwa apa yang begitu membebani kita hari ini kelak akan menjadi bagian dari kisah yang lebih besar tentang kasih-Nya yang memulihkan kita.

Mazmur 30 adalah mazmur perayaan yang juga melihat ke masa lalu dengan rasa kagum dan syukur atas pemulihan Allah yang luar biasa: yang sakit telah disembuhkan, yang terancam nyawanya telah diselamatkan, yang merasakan hukuman Allah telah menikmati kemurahan-Nya, yang berdukacita telah bersukacita (ay.3-4,12).

Mazmur itu ditulis oleh Daud, seorang yang menuliskan sejumlah ratapan paling memilukan di dalam Alkitab. Namun demikian, Daud juga mengalami pemulihan yang begitu luar biasa hingga ia dapat menyatakan, “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6). Di balik semua penderitaan yang dialaminya, Daud menemukan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu tangan pemulihan Allah yang penuh kuasa.

Jika hari ini kamu terluka dan sedang membutuhkan penguatan, ingatlah kembali pada masa lalu ketika Allah membimbing dan memulihkanmu. Berdoalah agar kamu kembali beriman bahwa Dia akan melakukannya lagi. —Monica Brands

Tuhan, saat pergumulan kami terlalu berat untuk kami tanggung, tolonglah kami menemukan penghiburan dan kekuatan saat mengingat bimbingan-Mu di masa lalu.

Dengan penuh kasih, Allah bekerja membawa pemulihan dan sukacita di dalam dan melalui penderitaan hidup kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 3-5 dan 2 Korintus 1

5 Ayat Alkitab yang Menguatkanmu Saat Kamu Merasa “Kesepian”

Kehidupan memang tidak selalu berjalan dengan mulus. Kadang kita menghadapi tantangan dan badai hidup yang dapat menggoyahkan iman kita. Tetapi semua itu dapat menjadi sebuah jalan agar kita makin berakar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Saat melewati hari-hari yang sulit itu, membaca firman Tuhan dapat menguatkan kita untuk terus berjuang di dalam Dia. Mari terus berharap pada kekuatan dan penghiburan dari-Nya.

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-01

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-02

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-03

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-04

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-05

2-5 Ayat Alkitab-kesepian-06

Jadilah yang pertama menemukan artikel terbaru dari WarungSaTeKaMu.org. Add akun LINE kami dengan klik di sini atau cari melalui ID @warungsatekamu

Add Friend

Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

jangan-melompat-masih-ada-harapan

Oleh Leslie Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Please Don’t Jump, There’s Hope

Hari itu, aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika seorang polisi datang dan mengetuk pintu kamar apartemenku. “Permisi, apakah kamu mengenal seorang wanita tua yang tinggal di lantai ini?”

Di belakang tempat polisi itu berdiri, ada sebuah kursi yang berada persis di sebelah pagar pembatas apartemen. Setahuku, kursi itu bukanlah kursi milik tetanggaku. Saat aku mengamati keadaan, aku melihat beberapa polisi telah hadir dan mereka membentangkan garis pembatas di sepanjang koridor lantai apartemenku. Melihat peristiwa itu, rasanya tidak sulit bagiku untuk menebak apa yang sedang terjadi. Di tahun-tahun yang lalu, apartemen tempat tinggalku adalah tempat yang populer untuk orang-orang bunuh diri karena dulu jarang ada gedung lain yang setinggi apartemenku.

“Sebenarnya, kebanyakan penghuni apartemen di sini sudah lansia,” jawabku kepada polisi. Kemudian aku teringat akan tetangga di sebelahku. Kulirikkan mataku ke arah jendelanya yang hanya berjarak 60 sentimeter dari tempatku berdiri. Melihat mataku terarah ke jendela, polisi itu pun mengikuti apa yang kulakukan, kemudian dia mengangguk dan berkata, “Tetanggamu ada di dalam kamarnya.” Aku pun merasa lega.

Kemudian, aku jadi teringat lagi tentang tetanggaku yang lain. Seorang yang tinggal beberapa kamar dari tempatku sebenarnya sedang mengalami depresi berat karena cacat yang dialaminya. Aku melirik ke arah kamarnya dan melihat pintu telah terbuka. Polisi-polisi yang datang terus menyusuri koridor dan mengetuk setiap pintu-pintu kamar. Aku melihat bayangan tangan tetanggaku itu, dan hatiku pun lega karena aku tahu dia sedang baik-baik saja.

Polisi yang berbicara denganku tadi kemudian bertanya kepadaku apakah aku keberatan untuk melihat foto wajah wanita tua itu. Dia ingin mengetahui apakah aku mengenal wanita itu atau tidak, namun setelah aku melihat fotonya, ternyata aku tidak mengenalnya sama sekali.

Wanita tua itu mungkin tidak tinggal di apartemen ini. Mungkin saja dia tinggal di apartemen lain, dan sepertinya dia sudah merencanakan tindakan bunuh diri. Kursi yang kulihat itu mungkin saja adalah kursi yang dia bawa sendiri ke lantai 10 di gedung apartemenku, kemudian, di ujung koridor yang sepi ini dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat. Apartemenku adalah wilayah yang paling sepi di daerah ini, sehingga aksi bunuh diri yang dilakukan wanita itu tidak terelakkan karena tidak ada orang lain yang melihatnya.

Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk membantu polisi itu. Aku pun melangkah keluar kamar dan pergi bekerja. Tapi, aku sempat melirik sejenak pagar pembatas itu. Tepat 10 lantai di bawah pagar, aku dapat melihat jenazah sang wanita tua itu tergeletak dan telah dibungkus dengan kain.

Aku berpamitan dengan polisi itu, berjalan melewati garis pembatas dan bergegas menuju lift. Sambil melangkah keluar, aku merasakan kesedihan di hati. Aku tidak mengenal siapa wanita tua itu, namun aku merasakan kesedihan mendalam. Tidaklah sulit untuk menebak alasan mengapa di apartemen yang banyak dihuni lansia ini ada seorang wanita tua memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan melompat.

Mungkin dia hidup sebatang kara dan tak memiliki keluarga. Atau, jika dia memiliki keluarga, mungkin saja tidak tidak akrab dan merasa terbuang. Mungkin dia mengidap penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Mungkin dia merasa bahwa tidak ada lagi alasan baginya untuk terus hidup. Hidup tanpa kasih, tanpa tujuan, hanya ada rasa kesepian dan hidup yang hampa. Tidak ada lagi yang tersisa selain dari rasa putus asa.

Tidak ada lagi alasan untuk terus hidup. Tidak ada harapan.

Memilih kematian seolah menjadi satu-satunya jalan keluar. Satu-satunya sumber kelegaan.

Kalau saja aku dan istriku ada di luar kamar saat wanita tua itu hendak bunuh diri, maka bisa saja kami menghentikan aksi nekatnya itu. Jika saja ada seseorang yang memiliki kesempatan untuk memberitahu wanita itu: Jangan melompat! Harapan masih ada.

Harapan. Terkadang hanya harapanlah yang menjadi satu-satunya alasan bagi seseorang untuk terus melanjutkan hidupnya.

Ketika kamu kehilangan segalanya, dan seolah tidak ada masa depan lagi dalam hidupmu. Ketika semua hal tidak berjalan baik, dan juga seakan tidak mungkin membaik.

Apakah yang akan menghentikan kita untuk memilih jalan pintas? Apakah yang akan menghentikan kita untuk pergi ke lantai tertinggi sebuah gedung atau meminum obat sampai over dosis?

Harapan. Harapan bahwa suatu saat, entah bagaimana caranya, sesuatu akan membaik. Ada harapan di tengah rasa kesepian, ada seseorang di luar sana yang masih peduli kepada kita dan berkata, “Kamu sangat berarti bagiku. Jangan pergi, aku membutuhkanmu di dalam hidupku.” Masih ada harapan, sekalipun itu di tengah rasa keputusasaan. Seseorang akan datang mengulurkan tangannya, memberikan sebuah pelukan dan ia berkata, “Jangan khawatir, karena aku ada bersamamu. Aku akan berjalan bersamamu.”

Hanya ada satu Pribadi yang dapat memberikan kita harapan. Hanya ada satu Pribadi yang berjanji kepada kita bahwa Dia akan selalu ada di setiap langkah kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat memegang janji itu, karena Dia selalu bersedia mendengarkan kita. Hanya ada satu Pribadi yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Hanya ada satu Pribadi yang dapat berkata kepada kita dengan penuh kepastian, “Jangan khawatir, Aku memiliki kuasa. Aku tahu bagaimana keadaanmu, dan Aku tahu apa yang harus diperbuat. Aku tahu apa yang kamu butuhkan.”

Pribadi itu adalah Yesus. Dia pernah hidup sebagai manusia biasa, Dia sangat tahu apa yang sesungguhnya kita rasakan. Kesedihan, kesepian, keputusasaan yang kita rasakan. Sebagai Anak Allah, Dia memiliki kuasa ilahi untuk mengatasi tiap situasi yang kita hadapi. Dia mengetahui bagaimana cara mendukung dan menghibur kita, dan Dia dapat memberikannya bagi kita.

Sebagian dari kita mungkin masih tetap harus menghadapi situasi yang sulit, namun kita memiliki sebuah jaminan pasti bahwa Dia akan berjalan bersama kita setiap hari, setiap jam, setiap menit. Dan yang paling penting di atas semuanya adalah, kita dapat terus melanjutkan hidup ini karena kita tahu Yesus mengasihi kita. Bagi Yesus, aku begitu berharga hingga Dia rela mati untuk menyelamatkanku. Dia memiliki tujuan untukku. Dia menempatkanku di dunia untuk suatu alasan. Dia mau aku hidup bagi-Nya.

Ketika seolah tidak ada lagi alasan untuk tetap hidup, ketika kita telah kehilangan segalanya, kita masih memiliki satu hal. Yesus memberi kita harapan. Harapan untuk hidup. Harapan untuk tetap percaya.

Jika saat ini kamu merasa putus asa, jika kamu ingin menyerah di dalam hidup ini, jika kamu telah mengambil sebuah kursi dan berjalan menuju lantai tertinggi, berhentilah. Aku mohon, berhentilah. Masih ada satu Pribadi yang mengasihimu. Yesus teramat sangat mengasihimu.

Baca Juga:

Mengapa Mission Trip Tidak Selalu jadi Program yang Tepat?

Pernahkah kamu mengikuti mission trip yang diadakan oleh gerejamu? Pada kenyataannya, kegiatan perjalanan misi yang nampak menyenangkan ini tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa demikian?

Begitu Dikasihi

Rabu, 16 Maret 2016

Begitu Dikasihi

Baca: Matius 6:25-34

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

6:34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Burung-burung di langit . . . diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? —Matius 6:26

Begitu Dikasihi

Bertahun-tahun lalu, saya pernah memiliki kantor di Boston. Dari kantor itu, saya dapat memandang ke arah Taman Makam Granary, tempat banyak pahlawan Amerika yang penting dimakamkan. Di sana terdapat nisan dari John Hancock dan Samuel Adams, dua tokoh penanda tangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Tidak jauh dari nisan mereka, terdapat nisan Paul Revere, pahlawan perang revolusi Amerika.

Namun tidak ada yang tahu pasti lokasi dari setiap jenazah itu sebenarnya, karena batu-batu nisan itu telah dipindahkan berkali-kali, baik agar taman makam itu terlihat lebih indah ataupun agar mesin pemotong rumput dapat lewat di antaranya. Walaupun dalam Taman Makam Granary terdapat sekitar 2.300 batu nisan, tetapi sesungguhnya hampir 5.000 orang yang dimakamkan di sana! Ada sejumlah orang yang tetap tidak dikenal bahkan setelah mereka meninggal dunia.

Adakalanya kita mungkin merasa seolah-olah bagaikan para penghuni makam tanpa nisan di Granary—tidak dikenal dan tidak terlihat. Perasaan kesepian dapat membuat kita merasa tidak terlihat oleh orang lain—dan mungkin juga oleh Allah. Namun, kita harus mengingatkan diri sendiri, bahwa sekalipun kita merasa demikian, sesungguhnya kita tidak pernah dilupakan oleh Allah Pencipta kita. Allah tidak saja menciptakan kita segambar dan serupa dengan-Nya (Kej. 1:26-27), tetapi Dia juga menilai setiap dari kita berharga di mata-Nya, dan mengaruniakan Anak-Nya untuk menyelamatkan kita (Yoh. 3:16)

Di tengah masa-masa tersulit sekalipun, kita dapat meyakini dengan teguh bahwa kita tidak pernah ditinggalkan sendirian, karena Allah Mahakasih selalu menyertai kita. —Randy Kilgore

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tak pernah meninggalkanku sendirian dan Engkau mengenal diriku sepenuhnya. Sadarkanlah aku akan kehadiran-Mu agar aku juga membagikan penghiburan ini kepada orang-orang yang merasa kesepian.

Hidup kita berarti karena Allah mengasihi kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 28-29; Markus 14:54-72

Kepada Semua Pemuda Kristen yang Masih Lajang

Oleh Jeffrey Siauw

Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang pemuda lajang. Ya, kamu tidak salah baca: Tidak ada yang salah bila kamu tidak menikah, belum punya pacar, atau bahkan bila kamu belum pernah berpacaran sama sekali.

Benar bahwa Allah menciptakan kita dengan kebutuhan akan relasi dan kemampuan untuk tertarik pada lawan jenis. Sebab itu, sangatlah wajar kalau di samping relasi keluarga dan pertemanan, kita juga menginginkan relasi pernikahan (dan pacaran yang menuju ke pernikahan). Tetapi, nilai hidup kita sama sekali tidak berkurang atau bertambah dengan status hubungan yang kita miliki!

Salah satu pergumulan terbesar yang dihadapi para lajang adalah masalah kesepian (ini juga pergumulan saya saat masih lajang). Sebagian orang mencoba menghadapi kesepian dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan—berpikir bahwa dengan begitu ia bisa melupakan kesepiannya. Sebagian lainnya menghadapi kesepian dengan berbelanja banyak barang dan mencari banyak hiburan—berpikir bahwa ia bisa menemukan kepuasan hidup di dalamnya. Sebagian lagi membiarkan diri jatuh dalam dosa seksual, dari pornografi sampai pelacuran, dan berpikir bahwa keintiman palsu itu akan mengobati kesepiannya.

Banyak pemuda yang masih lajang memilih hidup dengan pola pikir “kalau saja”. Kalau saja saya punya pacar … Kalau saja saya menikah … pasti saya tidak akan kesepian! Atau, pola pikir “sudah seharusnya”. Sudah seharusnya setiap orang (paling tidak saya) punya pacar, menikah, punya anak, dan seterusnya. Sungguh tidak adil bila saya tidak mendapatkan semua itu!

Memelihara pola pikir yang demikian hanya akan menghasilkan kepahitan. Mengapa? Karena ketika kita hanya berfokus pada apa yang tidak kita miliki, kita tidak lagi bisa melihat kebaikan Tuhan di dalam hidup kita. Yang kita lihat hanyalah apa yang kurang dalam hidup kita, bukan apa yang menjadi tujuan Tuhan di dalam hidup kita. Kita menutup mata pada pekerjaan Tuhan yang justru bisa dilakukan karena status lajang kita. Padahal, Rasul Paulus sendiri menuliskan tentang sisi positif tidak menikah, mengingatkan jemaat bahwa orang-orang yang tidak menikah dapat dengan bebas memberi diri sepenuhnya untuk Tuhan dan pekerjaan-pekerjaan-Nya (1 Korintus 7:32-35). Kita menunda untuk bahagia karena merasa bahwa kita hanya bisa bahagia kalau punya pacar dan menikah. Yang paling celaka adalah jika kita membiarkan dosa akhirnya menguasai hidup kita. Dosa bukan saja akan menghancurkan hidup kita sekarang, tetapi juga akan ikut menghancurkan relasi dengan pasangan kita kelak, jikalau suatu saat Tuhan memberikannya.

Saya ingin berseru kepada semua pemuda Kristen yang masih lajang: mari isi masa lajangmu dengan cara yang berbeda. Jangan biarkan kesepian menguasai hidupmu dan kepahitan mengakar di dalam hatimu. Ingatlah bahwa kesepian itu bukan akibat kamu tidak punya pacar atau istri. Kesepian adalah masalah yang dihadapi semua orang, baik menikah atau tidak. Bahkan Yesus pun mengalami kesepian ketika murid-murid-Nya tidak berjaga-jaga dengan Dia di saat paling genting (Matius 26:36-40). Tetapi, kesepian adalah pencobaan, bukan dosa. Kesepian hanya akan menjadi dosa ketika kita membiarkan hidup kita dikuasai olehnya.

Ketika kesepian datang kembali, jadikanlah perasaan itu sebagai “pengingat” untuk membangun relasi dengan keluarga dan teman-teman. Pergunakanlah masa lajangmu untuk mengejar kekudusan. Kekudusan bukan sekadar menjauhi dosa (itu pasti salah satunya), tetapi juga membangun kehidupan yang diinginkan Tuhan. Belajarlah untuk percaya bahwa anugerah Tuhan itu selalu cukup bagimu dengan atau tanpa pasangan. Mintalah Tuhan mengubahmu menjadi seorang pria yang sepenuh hati mengasihi Dia dan mengasihi sesama.

Bila kelak kamu punya pasangan, kamu akan melihat dengan jelas bahwa belajar mengasihi Tuhan dan sesama semasa lajang akan menolongmu untuk mengasihi pasanganmu setelah kamu menikah. Saya sendiri menemukan bahwa ketika saya belajar mengasihi sesama sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, saya bisa lebih mengasihi istri saya apa adanya, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya.

Bila kamu tidak punya pasangan pun, ingatlah bahwa hidupmu dapat tetap indah dan berarti di mata Tuhan dan semua orang yang melihatmu.

Baca juga: Kepada Semua Pemudi Kristen yang Masih Lajang