Posts

Apakah Kesepian itu Dosa?

Oleh Neri Morris
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is Loneliness A Sin?

Suatu hari aku berangkat kerja. Buku yang baru kuedit di malam sebelumnya muncul di pikiranku, aku berusaha memastikan lagi kalau apa yang kutulis di sana sudah benar secara biblikal. Jadi, kepada dua orang pendeta di ruanganku, aku mengajukan dua pertanyaan:

“Jika Taman Eden itu adalah representasi dari surga-”

“Iya, kah?” pendeta senior balik bertanya.

“Bukankah begitu?” jawabku.

“Apakah Taman Eden itu sungguh nyata?”

“Pertanyaan bagus, tapi mungkin ini lebih baik dijawab di sesi diskusi lain…dan untuk jawaban dari pertanyaan yang terakhir kuajukan, anggap saja Taman Eden itu nyata. Pertanyaanku ialah: jika Taman Eden sungguh nyata dan itu menjadi representasi dari surga, menjadi satu dengan Allah—apakah kesepian akan ada pula di surga karena itu ada di Taman Eden?”

Anak dari pendeta itu ikut menimpali, “Tidak, kesepian itu dosa.”

Aku terkejut, dan kutanya kembali, “Kok bisa?”

“Kesepian datang dari tempat di mana kamu mengalihkan pandanganmu dari Allah. Kamu tidak lagi bersandar pada-Nya,” jawab pendeta senior itu. “Pertanyaan sebenarnya adalah—apakah ada perbedaan antara menjadi sendiri dan merasa kesepian?” tambahnya lagi.

Pertanyaan ini membuatku berpikir.

Aku pernah menulis buku tentang masa lajang, dan di dalamnya aku meluangkan banyak waktu untuk bicara tentang kesepian, mengakui bahwa itu salah satu hal yang sering dialami oleh para lajang.

Tapi pemikiran baru yang menyatakan kesepian adalah dosa sungguh menggangguku. Aku bisa mengerti kenapa anak pendeta itu berkata demikian: apa pun yang menjauhkan kita dari Allah, yang menyebabkan kita meragukan Dia dan mencari kenyamanan di tempat lain, adalah dosa.

Tapi apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

Kubukalah tab-tab di Google, dan kuketik, “Apakah kesepian itu dosa?”, dan kudapati kebanyakan artikel mengatakan kesepian bukanlah dosa. Aku sependapat dengan itu. Kesepian sejatinya adalah perasaan yang punya daya yang kuat. Kesepian adalah emosi yang bisa mendorong kita untuk mengambil aksi secara fisik. Kesepian itu tidak nyaman, menyakitkan, yang membuat kita melakukan sesuatu. Kupikir apa yang kita lakukanlah yang akan jadi titik penentunya.

Jika kesepian muncul dan menyelubungiku, aku punya banyak tempat untuk kupergi. Aku bisa pergi ke kafe, bioskop, rumah teman, nonton TV, dan sederet tempat lainnya. Di tempat-tempat itu aku akan menemukan sesuatu, seseorang, atau hal-hal lainnya yang bisa meringankan rasa sakit dari kesepian, dan untuk sementara waktu, aku tidak akan merasa sendirian.

Ada satu kata yang menjadi akar: sendirian.

Apakah kesepian dan menjadi sendiri itu dua hal berbeda?

Yesus sering memilih untuk sendiri. Dalam Matius 26:36-44, di malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus pergi sendirian untuk berdoa, memohon pada Allah agar “kiranya cawan ini lalu daripada-Ku”. Ada pula momen-momen lain yang tertulis di Alkitab bahwa Yesus pergi untuk menyendiri, mencari pertolongan dan ketenangan dalam waktu-waktu teduh bersama Allah.

Tapi, apakah Yesus pernah merasa kesepian?

Mungkin tidak pada saat Dia melayani, tapi aku pikir satu momen ketika Dia merasakan pedihnya kesepian adalah ketika Dia tergantung di kayu salib, Allah memalingkan wajah-Nya. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru (Matius 27:45-46). Namun, meskipun dilanda kesepian hebat, Yesus tetap memenuhi kehendak Bapa.

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru. Di momen ini kita melihat Allah meninggalkan Yesus supaya kita tidak pernah lagi mengalami bagaimana pedihnya terpisah dari Allah.

Tapi sekarang, kita masih saja merasa kesepian.

Aku tinggal sendirian. Hari-hariku menyenangkan, tapi ada malam-malam ketika aku pulang setelah hari yang melelahkan dan aku hanya ingin ada seseorang duduk di sebelahku dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.” Hidup sendirian berarti aku tidak mungkin pulang ke rumah dan mendapati ada seseorang yang akan memperlakukanku demikian ketika aku membutuhkan penguatan.

Apa yang kulakukan dengan kesepianku di momen-momen seperti itu?

Jawabanku, apa yang kulakukan akan menentukan apakah kesepian itu dosa atau tidak.

Jika kamu memikirkan tentang kesepian, itu adalah perasaan yang sama dengan perasaan lainnya yang juga kita rasakan. Contohnya, “Apa yang aku lakukan dengan marah/cemburu/frustrasi/sedih/penolakan di saat perasaan itu terasa sungguh menusuk?” Bagaimana kamu menjawab pertanyaan itu akan menentukan apakah hasilnya dosa atau tidak.

Merasa marah pada dasarnya tidaklah buruk, Allah menunjukkan kemarahan-Nya dalam Alkitab pada beberapa momen. Marah versi Allah adalah marah yang benar, dan Dia pun menciptakan kita untuk dapat merasakan marah. Allah mengizinkan kita untuk merasa marah, sebagaimana Dia juga mengizinkan kita untuk merasakan kasih.

Intinya adalah, emosi apa pun yang kita rasakan dapat mendorong kita kepada Kristus, yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita (Ulangan 31:6, Ibrani 13:5). Apa yang kita lakukan dalam merespons emosi itulah yang menentukan apakah itu akan menjadi dosa atau tidak.

Ketika aku merasakan sejumput kesepian, aku melakukan sesuatu yang kusuka. Aku pergi ke teman-temanku atau menikmati alam. Opsi pergi ke alam menolongku terhubung dengan Allah dan mengingatkanku akan kebaikan dan kebesaran-Nya, bahwa aku tidak pernah sendirian. Allah hadir dalam rupa Roh, tapi juga dalam keindahan-keindahan yang Dia izinkan mengelilingiku.

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan untuk merespons perasaan kesepianmu?


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Sulit Tidur Mengingatkanku akan Kesetiaan Tuhan

3 minggu berkutat dengan insomnia membuatku bergumul. Aku baru bisa tidur pulas sekitar jam 3 atau 5 subuh meskipun aku sudah mendengar musik, membaca, atau melupakan kepenatan sepanjang hari yang kualami.

5 Hal yang Kupelajari dari Yesus Ketika Dia Ditinggalkan

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Kebanyakan orang tidak suka dengan kesendirian. Apalagi di masa-masa pembatasan sosial seperti sekarang ini, banyak dari kita membatasi aktivitas di rumah saja, bergumul dengan hidup kita masing-masing, dan mungkin relasi kita dengan kawan yang tadinya karib menjadi renggang. Itulah kesan yang aku alami. Ketiadaan pertemuan dan kesibukan di masa pandemi membuatku merasa kesepian.

Tidak boleh pergi berkerumun, dan aku pun sempat harus melakukan pekerjaan dari rumah saja. Biasanya aku melakukan koordinasi di luar kota selama tiga bulan sekali, dan mengikuti beberapa retret untuk penyegaran rohani namun selama tujuh bulan sudah semua itu tidak bisa terlaksana. Aku merindukan persekutuan dengan saudara-saudara seiman di mana kami dapat beribadah bersama-sama. Semua temanku mulai sibuk untuk mengadaptasikan diri dengan ritme baru, yakni bekerja di rumah saja. Kami menjadi jarang untuk berkomunikasi. Lantas aku pun bergumul dengan rasa bosan dan kesepian.

Pada suatu malam ketika aku berada di puncak kesepian, aku membaca salah satu bagian di Alkitab. Aku menemukan fakta bahwa Yesus pernah merasa ditinggalkan. Lebih tepatnya, Dia tahu bahwa Dirinya akan ditinggalkan.

“Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaian masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:32-33).

Perkataan Yesus ketika menjelang waktu penyaliban-Nya ini memberi penghiburan bagiku. Bagaimana Dia menjalani semua hukuman yang ditimpakan kepada-Nya, sendirian. Yesus sadar bahwa Dia akan ditinggalkan, fakta ini mengingatkanku pada situasi yang aku alami yang kesepian meski tidak dengan sengaja ‘ditinggalkan’ hanya terpisah karena keadaan.

Berikut 5 hal yang aku pelajari dari Yesus ketika Dia ditinggalkan:

1. Yesus tahu bahwa Dia akan ditinggalkan

“Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai-beraikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri” (Yohanes 16:32).

Yesus mengetahui bahwa murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia. Yesus akan mengalami kesendirian. Tetapi, kendati Dia tahu bahwa murid-murid-Nya akan berlaku tidak setia terhadapnya, Dia tetap memilih berada bersama dengan mereka. Fakta ini sungguh menyentuhku. Betapa besar kasih Yesus terhadap para murid.

Dari hal ini, kita dapat belajar untuk mengasihi seseorang dengan tulus, meskipun mereka mungkin akan mengecewakan kita.

2. Yesus tahu bahwa meskipun Dia sendirian, Bapa menyertai-Nya

“Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku” (Yohanes 16:32b).

Kendati Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan meninggalkan Dia, tetapi Yesus sadar bahwa Allah Bapa tidak akan pernah meninggalkan-Nya seorang diri.

Yesus tahu siapa diri-Nya, bahwa Dia disertai Bapa. Penyertaan Bapalah yang membuat Kristus menghadapi masa-masa kelam-Nya. Yesus tidak mendasari keyakinan-Nya pada situasi atau keadaan, melainkan kepada kebenaran akan Bapa yang tak pernah meninggalkan-Nya.

Apa pun yang terjadi pada kita, mari kita terus mengingat hal ini:Bapa selalu menyertai kita.

3. Damai sejahtera hanya di dalam Yesus

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku” (Yohanes 16:33a).

Meskipun Yesus menghadapi kondisi kesepian dan ditinggalkan, tetapi Dia tetap menjanjikan bahwa di balik segala penderitaan itu tersedia damai sejahtera. Konsep dunia mungkin mengajarkan kita bahwa damai sejahtera hanya dapat diperoleh dalam keadaan yang baik dan menyenangkan saja, tetapi Kristus menawarkan damai sejahtera yang berbeda dari dunia. Suatu damai yang tak bergantung pada keadaan, suatu kedamaian yang memberi penghiburan bahkan di tengah penderitaan. Kita tidak bisa memperoleh kedamaian tersebut di luar Kristus (Yohanes 14:7).

4. Tidak menyangkal akan adanya penderitaan

“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan…” Inilah hal yang unik dari mengikuti Yesus, tidak seperti ketika politikus menawarkan banyak janji ketika kita mendukung partainya, Yesus justru memberitahukan risiko ketika kita mengikut Dia: penderitaan (Matius 10:22).

Mungkin kita tidak tahu alasan di balik penderitaan yang kita alami. Mungkin kita menganggap Tuhan seolah tidak peduli, tetapi Dia sungguh peduli akan penderitaan kita hingga Dia memberi diri-Nya mengalami penderitaan di kayu salib agar kita mendapatkan pengampunan dan pemulihan.

Ketika kita merasa ditinggalkan, ingatlah bahwa Yesus juga pernah mengalaminya. Yesus telah menanggung hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada kita, hal ini menjadi penghiburan bagi setiap kita yang saat ini mengalami penderitaan.

5. Memilih untuk tetap taat

“…tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33b).

Ketaatan Yesus di kayu salib membuat Dia menang atas dunia ini. Kebangkitan Yesus dari antara orang mati menyatakan bahwa Dia tidak berada di bawah kuasa dunia. Hal inilah yang membuat kita yakin untuk mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.

Dalam ketaatan-Nya bukan berarti Yesus tidak sedih sama sekali, pada kitab Injil yang lain setelah Yesus berkata demikian kepada para murid, Dia pergi untuk berdoa di taman Getsemani. “Hati-Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku” (Matius 26:38). Yesus yang adalah Tuhan, mau mengakui kesedihan-Nya. Maka, penting bagi kita untuk tidak berpura-pura baik-baik saja. Mengakui kesedihan adalah merupakan proses ketaatan.

Lukas 22:44 lebih memperjelas rasa takut yang Yesus alami “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Kita tahu, akhir dari kisah ini. Yesus taat hingga mati di kayu salib. Selain mau mengakui perasaan yang kita alami, kita juga perlu terus berdoa kepada Allah karena dari sanalah kita memperoleh kekuatan untuk taat.

Setelah menyadari kelima hal tersebut, aku menjadi dikuatkan untuk menjalani masa-masa kesepian karena bekerja dari rumah sendirian. Aku berdamai dengan keadaan meski Tuhan tidak mengubah situasi di sekitarku, tetapi Dia telah mengubah hatiku sehingga mampu melewatinya.

Semoga kelima hal yang kita pelajari tentang Yesus melalui penggalan ayat Alkitab di atas dapat memampukan kita menghadapi perasaan ketika ditinggalkan. Tidak ada pribadi yang dapat mengerti perasaan ini selain Yesus. Mari kita terus berpegang kepada setiap janji-Nya.

Tuhan Yesus berserta!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

4 Kebohongan yang Harus Dipatahkan Saat Kamu Merasa Kesepian

Pindah ke luar kota untuk studi atau bekerja, membiasakan diri kembali setelah putus dari pacar, beradu pendapat dengan anggota keluarga sendiri, atau karena alasan-alasan lain yang kita sendiri pun bingung—kita semua pernah merasakan kesepian.

Perasaan kesepian bisa hadir selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dan dengan mudah kita pun jadi kecewa dan kesal. Selama masa-masa tersebut, kebohongan yang kita ketahui tentang kesepian bisa melumpuhkan kita, dan seringkali membuat kita semakin sulit dijangkau. Kita semakin larut dalam kesepian kita sendiri tanpa menyadari bahwa ada jalan keluar dari permasalahan kita.

Inilah beberapa kebohongan yang bisa kita patahkan:

Yesus Kawan yang Sejati bagi Kita yang Lemah

Oleh Riski Winner Lorenzo

Jarum jam terus berputar dan berdetak keras. Pandanganku gelap gulita. Malam yang sunyi sepi, pukul dua dini hari, dengan pikiran yang masih berkecamuk. Aku khawatir pada hal-hal yang seharusnya tidak perlu kukhawatirkan. Pikiran-pikiran itu berhasil membuat tubuhku menjadi lelah, dan tubuh yang lelah juga berhasil mengundang sakit penyakit untuk datang. Kedatangan penyakit itu semakin menambah kekhawatiranku.

Ingin sekali aku menceritakan bebanku kepada orang-orang yang selama ini menjadi alat Tuhan untuk menolongku bertumbuh. Namun, sulit sekali rasanya bercerita karena untuk menyapa sahabat-sahabatku saja, aku merasa khawatir. Aku kesepian dan membutuhkan sahabat-sahabatku untuk mendengarkan ceritaku, namun pikiranku menahanku dan membuatku terjaga sepanjang malam.

Apakah kamu pernah mengalami kondisi seperti itu? Aku pernah mengalaminya.

Akhir-akhir ini aku sangat menikmati lagu himne berjudul “Yesus Kawan yang Sejati”. Ketika aku mendengar lagu ini sambil memejamkan mata, sepenggal liriknya membuat mataku terbuka dan bibirku tersenyum sambil mengingat masa-masa kekhawatiran yang kuceritakan di atas. Liriknya berkata:

“Yesus kawan yang setia, tidak ada tara-Nya. Ia tahu kelemahanmu; naikkan doa pada-Nya!”

Yesus kawan yang setia, tidak ada tara-Nya

Saat kita berpikir bahwa kesepian kita adalah kesepian yang paling berat di dunia, kita mungkin lupa bahwa Yesus juga pernah mengalami kesepian luar biasa dalam hidup-Nya. Saat Yesus berdoa di taman Getsemani, Ia menyatakan kesedihan-Nya kepada murid-murid-Nya dan meminta mereka untuk berjaga-jaga dengan Dia. Namun, para murid malah tertidur dan tidak mengindahkan isi hati Yesus (Matius 26:36-46). Saat Yesus ditangkap, murid-murid-Nya kabur meninggalkan Dia dan melarikan diri (Matius 26:-47-56). Saat Yesus terpaku di kayu salib, Ia bahkan sampai berkata “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Yesus harus mengalami kesepian yang paling menyakitkan dan merasakan ditinggalkan oleh Bapa-Nya sendiri. Kitalah yang seharusnya ditinggalkan dan juga yang seharusnya mengatakan perkataan itu, namun Yesus yang malahan mengalami hal tersebut untuk kita.

Tidak ada satu pun manusia yang mampu mengerti betapa dalamnya kesepian yang dialami oleh Yesus. Jika dibandingkan dengan kesepian yang kita alami, rasanya tidak akan sanggup untuk kita mengatakan kesepian kita ini terlalu berat ketika kita melihat pada apa yang dialami oleh Yesus. Namun, sekalipun Yesus mengalami kesepian ‘kekal’ tersebut, Ia mengalaminya demi kita untuk tidak mengalami kesepian ‘kekal’ itu. Yesus mengalami ini semua sebagai bukti kasih-Nya yaitu dengan memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya (Yohanes 15:13). Saat kita merasa tidak ada seorang pun yang menetap di dalam hidup kita, ada Yesus, Sang Sahabat Sejati, yang tidak akan pernah meninggalkan kita dan Ia bahkan mengerti bagaimana rasanya ada dalam kesepian. Ia tidak hanya mengerti kesepian kita, namun Ia juga mengalahkannya.

Ia tahu kelemahanmu; naikkan doa pada-Nya!

Saat kita berpikir bahwa pikiran kita yang berlebihan ini sulit untuk dikalahkan karena terlalu banyak kekhawatiran di dalamnya, kita mungkin lupa bahwa Yesus juga pernah mengalami hal itu. Kita mungkin berpikir bahwa begitu mudah untuk Yesus mengatakan, “jangan khawatir tentang hari esok” (Matius 6:34) tapi mungkin kita lupa bahwa Yesus adalah Allah sejati dan juga manusia sejati. Yesus tahu diri-Nya akan dihukum mati, dan pastinya, Ia tahu bahwa jalan menuju kematian-Nya itu penuh dengan siksaan yang mengerikan. Ia tahu siksaan fisik yang akan diterima-Nya, ketidaksetiaan murid-murid-Nya, bahkan harus mengalami kesepian ‘kekal’ tersebut di kayu salib. Yesus mengalami rasa gentar yang luar biasa bahkan sampai berkeringat darah (Lukas 22:44), namun Yesus tetap menghadapi-Nya sekalipun Ia tahu segala sesuatu yang akan Ia alami.

Setiap manusia pasti akan merasakan ketakutan yang luar biasa ketika ia mengetahui hal buruk akan menimpanya. Yesus turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa seperti kita (Ibrani 4:15). Kristus pernah mengalami hal-hal yang lebih mengerikan, Ia mengalami pergumulan-pergumulan yang juga kita lalui. Ia mengerti setiap kelemahan kita, namun Ia juga telah mengalahkannya. Ia berdiri bersama kita bahkan saat kita harus melewati kesulitan-kesulitan dan titik-titik terendah dalam hidup kita.

Jika kita mulai mengalami pikiran yang berlebihan dan mulai merasakan kesepian yang mencekam, ingatlah kebenaran ini: Yesus Kristus adalah Raja Damai yang sanggup memberikan ketenangan pada pikiran kita yang penuh rasa cemas ini. Yesus Kristus juga adalah Sahabat Sejati yang selalu menetap di dalam hidup kita saat sahabat-sahabat kita di dunia ini tidak menetap bersama kita. Ia tidak akan membiarkan kita kehilangan harapan saat kita datang, berserah, dan berpegang teguh kepada-Nya.

Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.
O, betapa kita susah dan percuma berlelah,
Bila kurang pasrah diri dalam doa pada-Nya.
Jika oleh pencobaan kacau-balau hidupmu,
jangan kau berputus asa; pada Tuhan berseru!
Yesus Kawan yang setia, tidak ada tara-Nya.
Ia tahu kelemahanmu; naikkan doa pada-Nya!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Suka dan Luka Mengenal Diri Sendiri

Terluka secara emosi bukanlah proses yang menyenangkan, tetapi lewat cara inilah Tuhan membentuk dan menyingkapkan hal-hal baru tentang diriku sendiri.

4 Kebohongan yang Harus Dipatahkan Saat Kamu Merasa Kesepian

Karya seni ini dibuat oleh YMI.Today

Pindah ke luar kota untuk studi atau bekerja, membiasakan diri kembali setelah putus dari pacar, beradu pendapat dengan anggota keluarga sendiri, atau karena alasan-alasan lain yang kita sendiri pun bingung—kita semua pernah merasakan kesepian.

Perasaan kesepian bisa hadir selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dan dengan mudah kita pun jadi kecewa dan kesal. Selama masa-masa tersebut, kebohongan yang kita ketahui tentang kesepian bisa melumpuhkan kita, dan seringkali membuat kita semakin sulit dijangkau. Kita semakin larut dalam kesepian kita sendiri tanpa menyadari bahwa ada jalan keluar dari permasalahan kita.

Inilah beberapa kebohongan yang bisa kita patahkan:

Kebohongan #1: Tidak ada gunanya menghubungi orang lain

Teman kita tak pernah membalas chat atau mengangkat telepon kita. Agenda ngopi bersama selalu batal dan batal. Apakah kita melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa? Haruskah kita berhenti menghubungi mereka? Seringkali, sikap menghindar atau apatis dari teman-teman kita bukanlah buah dari kesalahan kita sendiri.

Kita bisa mencoba lebih lugas dan dengan jujur bicara mengapa kita ingin tetap terhubung dengan mereka. Kita juga bisa berdoa agar Tuhan memimpin kita untuk berjumpa orang baru—meskipun kita mungkin tidak kenal dekat dengan orang tersebut.

Tuhan tahu kita semua mengalami masa-masa ketika kita sungguh butuh pertolongan orang lain (Galatia 6:2). Kita tak perlu merasa malu untuk menghubungi orang lain, karena dengan melakukannya, kita menghidupi rancangan Allah dalam hidup berkomunitas.

Kebohongan #2: Kamu berbeda, tidak cocok dengan mereka!

Rasanya sungguh tak nyaman ketika orang-orang di gereja bersikap seolah mereka ada di tempat yang berbeda. Kita mungkin bertemu dengan para mahasiswa, atau kelompok orang-orang yang sudah menikah. Lalu, kita mendapati sepertinya kita sangat sulit untuk ‘nyambung’ dengan mereka.

Berada dalam situasi seperti itu bisa membuat kita tawar hati, tapi Paulus mengingatkan bahwa sebagai anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:17), tahapan kehidupan yang berbeda yang kita jalani bisa memperlengkapi kita. Mungkin kita tidak nyambung dengan satu kelompok tertentu karena berbeda pengalaman, tapi kita tentu bisa menjadi berkat bagi kelompok lain. Pernahkah kamu mencari waktu untuk mengenal siapa seorang janda senior di gerejamu? Atau mengajak makan siang seorang mahasiswa yang super rajin sampai punya sedikit teman?

Seiring kita menginvestasikan waktu kita, kita juga bisa mendapati teman-teman baru dan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tengah menjalani fase kehidupan yang sama dengan kita. Atau, bisa juga menjadi relawan di kegiatan yang kita bersemangat menjalaninya.

Kebohongan #3: Tidak ada yang mengerti pergumulanmu.

Tantangan yang kita hadapi bisa membuat kita merasa sendirian. Mungkin kita sedang menghadapi pencobaan yang rasanya mudah dihadapi oleh orang Kristen lainnya, putus dari pacar membuat kita menjadi getir terhadap relasi, atau kita bergumul dengan beban kerja yang terlalu banyak dan rekan sekerja kita tidak peduli.

Meskipun orang lain mungkin tak mengalami tantangan yang sama persis dengan kita, tetapi mereka bisa bersimpati dengan apa yang kita hadapi. Tuhan dapat memakai orang-orang seperti ini untuk menolong dan menguatkan kita.

Paulus juga mengingatkan kita bahwa saat kita menerima penghiburan dari Tuhan, kita pun “dimampukan untuk menghibur orang lain” (2 Korintus 1:4). Kesusahan yang kita alami akan memperlengkapi kita untuk suatu hari kelak kita menghibur orang lain yang juga mengalami pergumulan serupa.

Kebohongan #4: Bahkan Tuhan pun meninggalkanmu

Di masa yang amat sulit dan sendiri, amat mungkin jika kita merasa Tuhan tak mendengar seruan kita. Atau, jikalau pun Dia mendengar, Dia tidak menjawab.

Tapi, itu bukanlah kebenarannya. Kita tahu bahwa Kristus pernah amat menderita dan kesakitan (Yesaya 53:3). Kita dapat meraih penghiburan dengan mengetahui bahwa Yesus pun mengalami kesepian yang kita hadapi. Yesus tahu kesulitan dan tantangan kita, di saat orang lain tak mampu memahaminya.

Kita juga dapat mengingatkan diri kita bahwa tidak ada satu hal pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Tuhan (Roma 8:38-39). Meskipun kesepian yang kita alami membuat kita tak berdaya, ingatlah Dia berjalan bersama kita. Bagaimana caranya kita menyadari penghiburan dan penyertaan-Nya?

Marilah kita mengakui bahwa kesepian itu memang sulit. Kita bisa meratap, tapi janganlah percaya kepada kebohongan-kebohongan yang kesepian coba berikan pada kita. Kendati langit di atas kita kelabu, ingatlah untuk terus berjuang dan berpegang pada kebenaran!

Menang Mengatasi Kesepian

Oleh Riski Winner Lorenzo, Jakarta

Aku bersyukur Tuhan membawaku menikmati kampus yang dipakai-Nya untuk menolongku bertumbuh dan aku percaya tidak ada satu pun yang kebetulan di muka bumi ini. Aku bersyukur Tuhan memberikan anggota tubuh Kristus yang giat menjangkau, bahkan menjangkauku sejak SMA. Aku bertemu dengan komunitas yang sangat menolongku. Aku dikelilingi oleh kakak-kakak rohani yang membimbingku agar setiap harinya aku berjuang untuk hidup kudus dan menjadi bagian dalam anggota tubuh Kristus yang menolong dan menguatkan satu dengan yang lain.

Namun, sesuatu yang berbeda terjadi ketika aku menapaki kehidupan perkuliahanku. Aku bertemu dengan banyak wajah baru dari berbagai latar belakang dan ideologi yang berbeda. Awalnya, aku merasa asyik karena lingkungan baru yang beragam ini memperkaya cara pandangku akan orang-orang di sekelilingku. Namun lama kelamaan, semua terasa asing dan mereka mulai menawariku untuk memiliki cara hidup yang melupakan Tuhan dan meninggalkan kekudusan. Tawaran tersebut semakin kuat, sehingga aku merasa ada di garis yang membatasi kedua pilihan yang kualami saat itu. Tawaran-tawaran yang membuatku harus menghancurkan keimananku seperti merokok, minum-minum, dan lainnya.

Aku ketakutan dan dilema sejadi-jadinya. Aku sangat membutuhkan anggota tubuh Kristus lain untuk menolongku di saat-saat ini, seperti yang mereka telah lakukan untukku di masa-masa sebelumnya. Aku membutuhkan saudara-saudara rohaniku yang lain yang selalu bersamaku di saat aku merasa terpuruk dan bergumul atas kehidupanku, tapi mereka semua menghilang. Dunia kampus membuat kami melupakan satu dengan yang lainnya sepertinya. Mereka memiliki kesibukan sendiri dan aku merasa tidak enak untuk menghubungi mereka duluan. Aku merasa pergumulanku terlalu remeh di hadapan mereka.

Semua perasaan berkumpul jadi satu: keinginan untuk ditolong namun aku ketakutan untuk meminta tolong. Keseharianku saat itu dipenuhi perasaan tertekan karena aku merasa tidak memiliki seorang pun yang bersama denganku. Aku menjadi sangat takut dan perasaan campur aduk ini membuatku semakin terjatuh pada kecemasan akan hal-hal yang seharusnya tidak perlu aku khawatirkan. Aku sangat kesepian bahkan sekalipun aku tahu aku memiliki keluarga, tetapi kedengarannya mereka bahkan tidak bisa mengerti aku.

Tetapi karena kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah, pada hari Minggu saat aku bergereja, Tuhan menjawab semuanya. Ada satu lagu yang Tuhan pakai untuk menyentuhku yang berjudul ‘Yesus Kekuatan’. Di dalam lagu tersebut sepenggal liriknya menyatakan, “Kau yang pedulikan seluruh hidupku, walau lewati lembah aku tak ditinggalkan, Yesus kekuatan di hidupku.”

Aku menangis sejadi-jadinya saat menyanyikan lagu ini. Bahkan saat tidak ada seorang pun bersama denganku, aku lupa kalau aku punya Yesus, Sahabat yang sejati. Aku bahkan diingatkan, bukankah Yesus Kristus bahkan mengalami kesepian yang lebih parah jika dibandingkan dengan apa yang aku alami? Bukankah Dia bahkan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya sepanjang jalan salib-Nya? Bukankah Kristus adalah Gembala yang sejati yang selalu besertaku sekalipun aku berada di lembah kekelaman (Mazmur 23:4)? Bagaimana bisa aku lupa akan hal ini? Tuhan menjawab segalanya tepat pada waktu-Nya dan aku tahu Tuhan bahkan memakai tetesan air mata untuk mengajariku memandang kepada-Nya.

Aku belajar bahwa Yesus Kristus bukan hanya selalu ada buatku dan mengerti kondisiku, namun Yesus Kristus bahkan sudah mengalahkan sesuatu yang kita sebut sebagai ‘kesepian’ lewat karya-Nya di kayu salib. Dia memberikan diri-Nya untuk menanggung dosa-dosa kita sehingga kita tidak mengalami ‘kesepian’ kekal. Bukankah hal ini, keindahan Kristus ini yang seharusnya kuingat? Kenapa aku bisa lupa?

Aku sangat belajar kalau relasiku tidak akan pernah membuatku puas, hanya Kristus yang sanggup. Sebaik apapun orang lain berusaha untuk mengerti aku, tidak akan ada yang seperti Yesus. Di saat aku berada pada titik hidup yang paling rendah, di saat semua orang meninggalkanku, hanya satu yang menetap yaitu Yesus Kristus.

Tuhan benar-benar menolongku mengatasi perasaanku. Lewat setiap firman-Nya yang hidup, Dia hadir menjawab pergumulanku. Bahkan lewat lagu, Dia juga berbicara. Dia menunjukkan betapa rapuhnya aku dan hanya Dia yang selalu ada di sana.

Sekarang aku terus menerus belajar untuk memandang pada Kristus. Terkadang perasaan kesepian itu bisa saja muncul, tapi Kristus selalu menang atas setiap kesepian yang datang kepadaku itu. Aku sadar saudara-saudara seimanku adalah orang-orang yang terbatas dan tidak bisa selalu bersama denganku, namun Kristus tidak terbatas dan Dia selalu ada di sana. Bahkan dari pergumulan ini, aku juga belajar untuk menceritakannya pada saudara seiman lain. Aku belajar untuk terbuka dan membuka diri untuk ditolong. Aku juga belajar untuk memberikan diriku dengan mengusahakan segala cara agar bisa menolong anggota tubuh Kristus lain yang saat ini mungkin sedang mengalami pergumulan. Aku belajar untuk mendengarkan mereka dan berdoa dengan mereka. Ini semua hanya karena Allah, yang mengambil rupa manusia, menjadi Sahabat untuk kita.

“Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:1-4 TB).

Baca Juga:

Mengupas Mitos Femininitas

Sebagai wanita, dari kecil kita akrab dengan teguran “Anak perempuan nggak boleh…” lalu beranjak remaja, “Eh kamu sudah gadis, nggak boleh….” Kita hidup dalam sebuah konstruksi realitas, apapun gender dan jenis kelamin kita

Ditelantarkan… Tapi Tidak Dilupakan

Oleh Ryan Zies
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Abandoned But Not Forgotten

Bagaimana jika… seseorang tidak memedulikanmu lagi?

Bagaimana jika seseorang meninggalkanmu?

Bagaimana jika seseorang tidak mengakuimu?

Bagaimana jika ibu yang melahirkanmu menghilang tanpa jejak dari hidupmu?

Ditelantarkan.

Aku berkata jujur, aku pernah amat bergumul dengan kata di atas. Itu adalah kata yang tertulis dengan jelas di akta kelahirkanku. Kata “ditelantarkan” itu didefinisikan sebagai, “Dibiarkan tanpa perlindungan, perawatan, atau dukukungan yang diperlukan. Ditinggal oleh pemilik, tidak lagi diingat.”

Kisah ini sungguh terjadi dalam hidupku, tapi kupikir bagian yang paling berat kuterima adalah di tulisan “tidak lagi diingat”… Tidak lagi diingat? Aduh! Itu meninggalkan luka mendalam di hidupku.

Dapatkah kamu membayangkan, seorang ibu yang mengandung bayi selama sembilan bulan, melahirkan bayi itu dengan operasi sesar, lalu tidak pernah terpikirkan lagi akan bayinya? Sulit bagiku untuk percaya bahwa ibuku tidak pernah lagi memikirkanku sejak 13 November 1984. Tetapi, aku yakin bahwa ibuku sebenarnya memikirkanku, juga keputusan yang dia buat.

Namun, kisah hidupku dimulai dari “ditelantarkan”. Inilah bagian dari hidupku, tetapi itu bukanlah akhir hidupku. Aku ditinggalkan di sebuah klinik di kota Seoul, Korea Selatan pada 13 November 1984 hanyalah setitik dari keseluruhan cerita yang Tuhan telah rancangkan bahkan sebelum aku mulai bernafas.

Akta kelahiran asli Ryan Zei (Foto oleh Ryan Zei)

Pilihan yang sulit untuk hidup

Di Seoul, Korea Selatan waktu itu, aborsi secara budaya dapat diterima. Ada lebih dari 500 ribu praktik aborsi dan 650 ribu kelahiran. Artinya, setiap kali seorang anak dikandung, anak itu haya punya 57 persen kemungkinan dilahirkan. Aku selamat dari 43 persen yang malang.

13 November 1984, ibuku melahirkanku di sebuah klinik di luar kota Seoul. Dia menelantarkanku di sana tanpa meninggalkan rekam jejak apapun akan siapa dirinya. Dokumen resmi dari rumah sakit menatakan, “Setelah ibu kandung melahirkan di klinik yang disebutkan di atas (Klinik Dongin), dia menutupi jejaknya. Pihak klinik mencoba mengontaknya, tetapi dia menghilang tanpa jejak.”

Aku pun kemudian menanti untuk diadopsi.

Perjalanan pulang yang panjang

Tetapi, sebelum kisahku dimulai, di belahan bumi yang lain, di sebuah kota kecil di pinggiran Chicago, Tuhan telah merenda kisah hidupku.

Jeff dan Sally menikah di usia 18 dan 20. Bertahun-tahun mereka menanti kehadiran buah hati, tetapi tidak berhasil. Suatu ketika, Sally mendengar seorang rekan kerjanya berbicara tentang adopsi, mereka lalu menemukan Bethany Christian Services di kota Chicago. Keluarga mereka menyarankan untuk tidak mengadopsi bayi dari ras yang berbeda, tapi mereka tetap bersedia jika nantinya mendapatkan bayi yang berbeda ras. Ketika mereka mengajukan surat-surat dan melengkapi dokumen permohonan adopsi, di belahan bumi yang lain, aku dikandung dalam rahim ibu kandungku. Tuhan tahu aku kelak akan menjadi putra dari Jeff dan Sally, dan Dia merenda jalan hidupku.

Di hari Valentine, 14 Februari 1985, aku terbang dari Korea Selatan ke Amerika Serikat. Usiaku waktu itu baru 3 bulan. Proses selanjutnya tidaklah sulit. Yayasan Bethany Christian Services dan Holt International menempatkanku dan bayi-bayi lainnya di pesawat dan menandai kami dengan dua gelang—satu gelang berisi informasi rumah sakit, satunya lagi nama orang tua angkat. Kami terbang selama kurang lebih 13 jam dan dirawat oleh pramugari.

Ketika pesawat mendarat di Chicago, ibu angkatku dan empat ibu lainnya naik ke pesawat untuk menemukan bayi mana yang di gelangnya tertulis nama mereka dan mereka pun bertemu anak-anak mereka untuk pertama kalinya.

Ibuku selalu berkata bahwa akulah kado valentine terbesar yang pernah dia terima. Setiap tahun dia masih menuliskan surat buatku dan mengirimiku hadiah untuk merayakan “Hari Kepulanganku”. Kisah adopsiku sungguh luar biasa dan indah, tetapi itu mengarahkanku pada kisah yang jauh lebih besar—kisah tentang kasih dan tujuan yang lebih besar.

Jeff dan Sally bersama Ryan yang masih bayi (Foto oleh Ryan Zies)

Tangan yang menopang kita semua

Aku menyadari bahwa di dalam hidup ini, Tuhan kita memiliki tujuan untuk tiap anak-anak-Nya. Tuhan melindungiku ketika aku dikandung dan bertumbuh dalam rahim ibuku.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagin bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Kisah di balik mengapa dan bagaimana ibuku mengandungku mungkin tak akan pernah kuketahui. Tetapi, apa yang akan selalu diketahui adalah bagaimana Tuhan menopang hidupku. Tuhan mengaruniakan keberanian pada ibu kandungku untuk melindungi dan menyelamatkanku di saat aku bisa saja diaborsi. Di dalam kedaulatan Allah, ibuku berjuang mengandungku sembilan bulan, merasakan sakit, gejolak emosi, kepedihan psikologis, hingga pertengkaran fisik untuk membiarkanku tetap lahir ke dunia. Ketidakmampuannya untuk merawatku kelak setelah aku lahir mendorongnya untuk menyerahkanku pada pilihan adopsi.

Ibu kandungku memberiku kesempatan untuk mengecap kehidupan yang lebih baik.

Singkat cerita, kisah hidupku bisa saja hanya berkutat tentang ditelantarkan di sebuah klinik di Korea Selatan. Tetapi, aku ditelantarkan untuk alasan yang lebih besar. Aku ditelantarkan untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupku. Matius 22:37 menunjukkan apa yang menjadi tujuan kita, di mana Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Keadaan hidup kita mungkin penuh dengan harapan yang tidak terwujud, duka, perjuangan, dan kesakitan. Tetapi, Tuhan mampu mengendalikannya dan merangkai cerita yang indah darinya. Tuhan merangkai kisah tentang aku dipilih-Nya dan menjadi kepunyaan-Nya. Tuhan mengizinkanku hidup dalam kemerdekaan karena mengetahui Dia dapat menggunakan segala keadaan sebagai cara untuk membawa kehidupan dan menunjukkan tujuan-Nya. Seiring aku menjalani hidupku sekarang, aku ingat bahwa aku dibentuk dengan “unik dan ajaib” untuk tujuan yang jelas di bumi ini. Setiap hal yang kualami hanyalah bagian dari perjalanan untuk mencapai tujuan itu, dan aku percaya Tuhan akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini, kumohon ketahuilah kebenaran ini: Dunia ini akan mencoba memberitahumu siapakah dirimu. Kamu mungkin tergoda untuk melihat keadaanmu dan pengalaman-pengalamanmu untuk mencari tahu apa yang harus kamu percayai atau bagaimana seharusnya kamu hidup.

Tapi, aku mau kamu tahu bahwa Tuhan melihatmu. Kamu tidak sendirian. Dia telah mengenalmu jauh sebelum kehidupanmu dimulai. Keadaan yang kamu alami akan mengarahkanmu untuk meletakkan pandanganmu pada Dia yang menopangmu dalam tangan-Nya. Ketika kamu sungguh percaya pada Bapa Surgawi, tidak ada yang bisa menanggalkan identitas sejatimu. Kamu dikasihi. Kamu berharga. Kamu anak-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Dia ada di sisimu di setiap saat hidupmu, dan itulah dirimu.

Tonton kisah adopsi Ryan secara lengkap di sini.

Lihat juga website pribadi Ryan, “Destined & Purposeful”, untuk mengetahui kisah-kisah lanjutan tentang ditelantarkan dan adopsi.

Baca Juga:

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Ketika kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku stres dan khawatir. Bagaimana aku bisa mencukupi kebutuhkan keluargaku? Tapi, lewat momen ini Tuhan mengajariku untuk memaknai pekerjaan dengan cara pandang yang lain.

Diciptakan untuk Hubungan

Sabtu, 17 Agustus 2019

Diciptakan untuk Hubungan

Baca: Kejadian 2:15-25

2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,

2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

2:23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”

2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

2:25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” —Kejadian 2:18

Diciptakan untuk Hubungan

Belakangan mulai marak bisnis “penyewaan keluarga” di banyak negara untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang kesepian. Ada yang menggunakan jasa itu untuk menjaga gengsi, supaya saat menghadiri suatu acara, mereka terlihat seperti memiliki keluarga yang bahagia. Ada juga yang menyewa aktor untuk berperan sebagai anggota keluarga yang sudah jauh, agar mereka dapat merasakan, walaupun sebentar, hubungan keluarga yang masih didambakan.

Tren tersebut mencerminkan kebenaran dasar bahwa manusia diciptakan untuk saling berhubungan. Dalam kisah penciptaan di kitab Kejadian, “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (1:31). Namun ketika melihat Adam, Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (2:18). Manusia memerlukan kehadiran manusia lain.

Alkitab tidak sekadar menjelaskan tentang kebutuhan kita untuk berhubungan, tetapi juga di mana kita bisa menemukan hubungan yang baik, yaitu di antara para pengikut Yesus. Menjelang kematian-Nya, Yesus berkata kepada sahabat-Nya, Yohanes, untuk menerima ibu Kristus sebagai ibunya sendiri. Mereka akan menjadi keluarga setelah Yesus pergi (Yoh. 19:26-27). Paulus juga memerintahkan orang percaya untuk memperlakukan orang lain layaknya orangtua dan saudara sendiri (1Tim. 5:1-2). Pemazmur menceritakan kepada kita bahwa salah satu maksud karya penebusan Allah adalah untuk “memberi tempat tinggal kepada orang yang kesepian” (mzm. 68:7 bis), dan Allah merancang gereja sebagai salah satu tempat terbaik untuk melakukannya.

Syukur kepada Allah, yang telah menciptakan kita untuk berhubungan dengan sesama dan memberikan umat-Nya untuk menjadi keluarga kita! —Amy Peterson

WAWASAN
Kitab Kejadian secara luar biasa menggambarkan perempuan dan laki-laki sebagai rekan yang setara, saling membutuhkan satu sama lain untuk dapat berkembang. Kejadian 2:18-22 bahkan merupakan satu-satunya catatan tentang penciptaan perempuan yang paling lengkap dibandingkan seluruh literatur/naskah dari Timur Dekat kuno. Kata Ibrani ezer (“penolong”) yang dipakai untuk menggambarkan perempuan (2:18,20) memiliki nilai yang luhur, kata ini kerap dipakai dalam Alkitab untuk menggambarkan Allah sebagai penolong umat-Nya. —Monica Brands

Adakah orang-orang yang kesepian yang memerlukanmu sebagai keluarga mereka? Bagaimana hubunganmu dengan sesama orang percaya telah menguatkanmu melewati masa-masa kesepian?

Ya, Allah, tolonglah aku agar mau bergantung kepada orang lain, sekaligus menjadi sahabat yang dapat mereka andalkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 97-99; Roma 16

Handlettering oleh Novia Jonatan

Background photo credit: Blake Wisz

Memberi Penghormatan

Senin, 11 Februari 2019

Memberi Penghormatan

Baca: Yeremia 9:23-26

9:23 Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

9:25 “Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya:

9:26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya.”

Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. —1 Korintus 1:31

Memberi Penghormatan

Pada awal dekade 1960-an, beberapa lukisan dengan gaya tidak lazim yang menampilkan orang atau binatang bermata besar dan memelas menjadi terkenal. Ada yang menganggapnya norak, ada pula yang menyukainya. Suami sang pelukis mempromosikan karya istrinya ke mana-mana hingga kehidupan pasangan itu bertambah makmur. Namun, tanda tangan sang seniman, Margaret Keane, tidak tampak pada hasil karyanya. Suami Margaret justru mengakui lukisan itu sebagai karyanya sendiri. Karena takut, Margaret tutup mulut tentang penipuan tersebut selama 20 tahun hingga perceraian mereka. Di dalam persidangan, mereka berdua harus adu lukis untuk membuktikan siapa pelukis aslinya.

Penipuan itu memang jelas salah, tetapi sebagai pengikut Yesus, kita sendiri juga bisa dengan mudahnya terlena dengan segala pujian yang kita terima karena bakat kita, kecakapan memimpin yang kita tunjukkan, dan bahkan perbuatan baik kita kepada sesama. Namun, kita perlu menyadari bahwa kualitas-kualitas tersebut kita miliki hanya karena anugerah Allah. Dalam Yeremia 9, sang nabi meratapi umat Israel yang tinggi hati dan tak mau bertobat. Ia menuliskan firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita tidak patut bermegah dalam hikmat, kekuatan, maupun kekayaan kita, melainkan hanya dalam pengenalan dan pemahaman bahwa Dialah Tuhan “yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi” (ay.24).

Hati kita dipenuhi ucapan syukur ketika mengetahui siapa Seniman yang sejati. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, . . . diturunkan dari Bapa segala terang” (Yak. 1:17). Seluruh penghormatan dan pujian layak diberikan kepada Allah, Sang Pemberi segala karunia yang baik. —Cindy Hess Kasper

Bapa, terima kasih atas semua karunia yang Engkau berikan dengan murah hati.

Kita diciptakan untuk memuliakan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 11-12; Matius 26:1-25

Keagungan Terbesar

Minggu, 6 Januari 2019

Keagungan Terbesar

Baca: Yohanes 17:1-5, 20-24

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. —Lukas 2:1

Keagungan Terbesar

Kaisar Agustus dikenang sebagai kaisar Romawi yang pertama dan terbesar. Dengan kelihaian politik dan kekuatan militernya, ia mengalahkan musuh, memperluas wilayah kekaisaran, dan mengubah kota Roma dari lingkungan kumuh menjadi penuh kemewahan dengan patung-patung dan kuil-kuil dari marmer. Warga Romawi memuja Agustus sebagai dewa agung dan penyelamat umat manusia. Menjelang akhir pemerintahannya pada tahun ke-40, kata-kata terakhirnya yang dikenal secara resmi adalah, “Aku membangun Roma dari kota bertanah liat menjadi kota penuh marmer.” Namun, menurut sang istri, kata-kata terakhir Agustus yang sebenarnya adalah, “Sudahkah aku menjadi kaisar yang baik? Jika ya, rayakanlah saat aku mangkat.”

Agustus tidak sadar bahwa ia telah menjadi pemeran pendukung dalam cerita yang lebih besar. Pada masa pemerintahannya, lahirlah seorang anak tukang kayu yang menyingkapkan sesuatu yang jauh lebih agung daripada kemenangan militer, bangunan kuil, arena, maupun istana Romawi (Luk. 2:1).

Namun, siapa yang dapat memahami kemuliaan yang Yesus doakan pada malam ketika orang sebangsa-Nya menuntut Dia disalibkan oleh para algojo Romawi? (Yoh. 17:4-5). Adakah yang dapat memperkirakan keajaiban tersembunyi di balik pengorbanan yang akan selamanya dipuja di dalam surga dan di atas bumi?

Itulah kisah yang benar-benar menakjubkan. Mulanya, kita adalah manusia malang yang saling mencelakakan demi mengejar mimpi-mimpi bodoh, tetapi Dia telah mengubahkan dan menyatukan kita untuk mengenal serta memuja keagungan salib-Nya. —Mart DeHaan

Bapa di surga, kemegahan segala sesuatu akan berlalu, tetapi tolonglah kami untuk melihat kasih-Mu yang bertahan selamanya.

Keagungan salib adalah keagungan yang dibutuhkan oleh semua orang.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-17; Matius 5:27-48