Posts

Menulis Obituari di Masa Muda: Bagaimana Kamu Akan Dikenang Nanti?

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Beberapa minggu terakhir ini, aku dikejutkan dengan kabar kepergian figur yang aku tahu. Kabar pertama datang dari seorang pendeta di gerejaku tempatku berjemaat dahulu, dan juga kepergian seorang musisi Indonesia.

Ucapan belasungkawa dan testimoni singkat mengenai betapa baik hatinya orang-orang tersebut membanjiri timeline media sosialku. Aku membacanya dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. “Tidak ada yang tahu tentang hari besok. Semua menjadi misteri.” Kata seorang temanku ketika aku berdiskusi dengannya mengenai kisah ini. Ya benar, Seperti dalam Yakobus 4:14 berkata “kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”

Kisah tersebut, mengingatkan aku pada pertanyaan, “Seperti apakah kamu ingin dikenang saat kamu telah tiada?”

Pertanyaan ini pertama kali ditanyakan ketika aku masih orientasi mahasiswa baru. Saat itu, kami dibagi per kelompok 10-15 orang dan dibimbing oleh 2 orang kakak pembimbing. Materi orientasi saat itu bertemakan “tujuan hidup”, dan aku terkejut ketika kakak pembimbing memberikan sebuah lembaran kertas bergambarkan sebuah batu nisan kosong. Tak hanya itu, aku semakin terkejut ketika dia menyuruh kami menuliskan nama kami masing-masing di gambar batu nisan tersebut, diiringi tanggal lahir dan tanggal kematian. Tanggal kematian ditulis dengan tanggal yang sama dengan hari itu, tetapi 2 tahun dari sekarang. Hatiku bertanya-tanya, “Untuk apa sih? Ini terlihat sangat menyeramkan. Aku baru saja jadi mahasiswa baru, kok malah disuruh merancang kematianku sendiri.” Tapi, aku tetap mengikuti arahannya.

Saat itu kami diminta untuk menuliskan obituari kami sendiri. Yang kutuliskan adalah: “Aku ingin dikenang sebagai seorang Kristen yang taat. Pribadi yang ceria dan menghormati orang tua. Pribadi yang selalu membawa sukacita bagi orang lain. Pribadi yang membuat orang tua bangga karena kegigihan dan semangatnya.” Setelah menuliskan ini, kami disuruh untuk memikirkan langkah-langkah konkrit untuk mewujudkannya. Sebuah hal kecil yang selalu kuingat hingga hari ini.

Sekarang, ketika aku flashback ke masa-masa itu, aku menyadari bahwa setelah hari aku “dipaksa” memikirkan kematianku, aku jadi hidup dengan sebuah tujuan. Tujuan untuk hidup sebagai seorang Kristen yang taat, menjadi pribadi yang baik dan membanggakan bagi orang tua. Perlahan-lahan kugapai semua angan-angan tersebut. Walau belum sempurna, kisah mahasiswa baru itu membuatku untuk tetap berada pada track yang benar.

Pernahkah kamu berpikir hal ini? Warisan rohani apa yang ingin kamu tinggalkan bagi keluarga dan kerabatmu?

Jika aku ingin dikenang menjadi seorang pribadi yang cinta Yesus dengan segenap hati dan jiwa, maka dalam hidupku saat ini ku juga harus sejalan dengan isi hati-Nya. Membaca Firman Tuhan untuk mengetahui isi hati-Nya dan terus berkomunikasi dengan Dia melalui doa. Aku belajar membuat list pokok-pokok doa mingguan untuk menolongku berdoa bagi sesama, bukan saja berdoa tentang pribadiku. Hari Senin, aku mendoakan keluarga besarku. Hari selasa, aku mendoakan komunitas di mana aku bergereja dan bertumbuh. Aku bahkan menyebut nama mereka satu per satu dalam doaku. Dilanjutkan dii Rabu, aku mendoakan bangsa dan negara. Begitu seterusnya. Aku pun mengatur reminder di HP untuk saat teduh. Konsisten melakukan ini tidak mudah, seringkali aku pun gagal. Adakalanya aku melewatkan itu berhari-hari. Namun ketika gagal, aku diingatkan kembali oleh Roh Kudus untuk bangkit dan bahwa tujuan hidupku adalah untuk memuliakan Dia.

Tidak seorang pun kelak bisa menghindar dari kematian. Namun, ketika kita sudah menerima Kristus, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Aku ingin mengajakmu yang membaca cerita ini untuk mulai berpikir akan akhir hidup kita di dunia. Kita perlu memikirkan sesuatu yang lebih jauh, tentang hari depan. Ketika kita memahami bahwa kita akan diperhadapkan dengan kematian, sudah seharusnya kita tidak menjalani hidup dengan cara yang sia-sia. Kita bisa menjadikan hidup kita berkat bagi orang lain. Kita harus menghidupi kehidupan saat ini dengan sesuatu yang baik, berguna dan memenuhi apa yang menjadi panggilan Tuhan dalam hidup kita.

Bulan ini kita telah merayakan Jumat Agung dan Paskah, kematian dan kebangkitan Yesus Krisus. Ketika Dia telah menyerahkan seluruh hidupnya bahkan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia, maka apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa menolong sesama kita hari ini. Mulai dari hal sederhana, bertanya kabar dan mendoakannya. Juga jika hari ini kita diberikan pekerjaan dan tanggung jawab, lakukanlah itu dengan sepenuh hati.

Aku teringat akan Paulus, rasul yang pelayanannya memberkati banyak orang. Paulus yang dulunya penganiaya orang-orang percaya diubahkan Tuhan menjadi seorang Kristen yang taat dan berapi-api. Dia tak cuma mengabarkan Injil, tapi juga memberikan hidupnya bagi Injil. Satu hal yang aku pelajari dari hidup Paulus adalah ketika dia menerima Kristus, hidupnya mengalami perubahan. Pandangannya mengarah kepada rancangan Tuhan. Hidupnya hari demi hari berfokus pada bagaimana dia harus menjadi berkat bagi banyak orang.

Yuk ambil waktu sejenak untuk menuliskan obituari kamu sendiri. Jadikan apa yang akan kamu tulis di sana, sebagai sebuah komitmen bagaimana kamu akan menghidupi hari-harimu hari ini dan besok.

Baca Juga:

Surat untuk Sahabatku yang Sedang Berduka

Yang terkasih, sahabatku,

Tahun telah berganti, tetapi kamu tidak ingin melangkah sebab orang yang paling kamu kasihi, telah meninggalkanmu di tahun sebelumnya. Semarak pesta pergantian tahun tidak membuatmu terpesona. Kamu mungkin merasa lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar. Dan, mungkin pula kamu berharap ada mesin waktu yang dapat membawamu kembali ke masa-masa dulu.

Hidup Ini Adalah Kesempatan, Sudahkah Aku Memanfaatkannya dengan Bijak?

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Di suatu malam aku menjelajahi timeline Instagramku. Aku melihat beberapa temanku memposting sebuah screenshot dari akun Kitabisa.com, sebuah akun untuk penggalangan dana. Aku tidak membaca jelas postingan itu dan melewatkannya begitu saja. Tapi, semakin lama aku melihat lebih banyak teman-teman sekampusku mulai memposting screenshot itu.

Ting, nada pesan WhatsAppku berbunyi. Di dalam pesan itu tertulis cerita dan link menuju website penggalangan dana tersebut. Aku penasaran, lalu kubukalah link itu. Aku terkejut dan tidak percaya. Seorang teman yang dulu pernah bersama denganku di bangku kuliah sekarang terbaring sakit. Dia sudah mengalami koma selama kurang lebih delapan bulan. Temanku itu menderita penyakit yang jarang sekali didengar, Moyamoya Disease namanya. Penyakit ini menyerang sistem saraf otak dengan memperkecil pembuluh darah yang menuju otak. Akibatnya suplai darah menjadi terhambat. Tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobatinya adalah dengan operasi. Tapi, pasca operasi itu dia kehilangan kesadaran.

Aku terdiam dan merenung. Aku mungkin tidak begitu dekat dengan temanku itu. Tapi kami sempat duduk di satu kelas yang sama ketika kuliah dulu. Dia adalah orang yang easygoing, loyal, lucu, dan selalu terlihat ceria. Seingatku dia juga dari keluarga yang berkecukupan. Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan terbaring sakit tak berdaya.

Malam itu aku mengambil waktu untuk mendoakannya dan melihat kembali hidupku akhir-akhir ini. “Apakah aku sudah melakukan yang terbaik selama aku hidup? Bagaimana jika aku yang berada di posisi temanku itu? Apa yang bisa kulakukan untuk temanku selain donasi dan doa?” tanyaku dalam hati. Lalu aku teringat akan sebuah lagu “Hidup ini Adalah Kesempatan” yang liriknya berkata:

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

Lirik lagu itu terdengar sederhana, tetapi maknanya begitu dalam dan menegurku. Sudah dua bulan terakhir aku bolos dari pelayanan menari di gereja. Malas, itulah alasanku. Padahal dulu ketika awal-awal aku berkomitmen pelayanan, aku dipenuhi kerinduan untuk mempersembahkan talentaku buat Tuhan. Tapi, sekarang aku malas untuk datang latihan. Aku malas mencari outfit pelayanan, dan aku pun malas pergi ke gereja karena jaraknya dengan tempat tinggalku yang jauh. Bahkan di hari Minggu aku tidak menggunakan waktu itu untuk beribadah ke gereja. Aku malah tidur seharian. Selain itu, aku pun banyak menyia-nyiakan waktuku. Daripada bersaat teduh, aku lebih suka meluangkan waktuku untuk menjelajahi media sosialku, menonton YouTube, dan melakukan hal-hal lain yang kusuka.

Aku lupa bersyukur. Aku lupa untuk menggunakan waktu-waktu yang sudah Tuhan berikan kepadaku untuk melayani-Nya. Bukankah tujuan hidup manusia sejatinya adalah untuk memuliakan Allah? Seperti yang tertulis dalam Katekismus Westminster pertanyaan 1, apa tujuan umat manusia? Tujuan utama manusia ialah memuliakan Allah dan bersukacita di dalam Dia selama-lamanya.

Kuakui bahwa aku menggunakan waktuku dengan sembrono. Pemazmur dalam Mazmur 90:12 (BIS) berkata: “Sadarkanlah kami akan singkatnya hidup ini supaya kami menjadi orang yang berbudi.” Waktuku di dunia begitu singkat, seharusnya aku dapat lebih bijak memanfaatkan setiap momen yang Tuhan berikan padaku.

Mungkin ada banyak hal tak terduga yang terjadi dalam kehidupan kita, tetapi satu hal yang perlu kita ingat adalah bahwa Tuhan selalu memegang kendali kehidupan ini. Kesakitan, kehilangan, kematian, atau apapun itu adalah hal yang tak terelakkan. Kita harus siap menghadapinya. Namun, yang menjadi penting bukanlah kapan atau bagaimana waktu-waktu kemalangan itu akan terjadi dalam kehidupan kita, melainkan bagaimana kita memanfaatkan waktu-waktu yang ada sekarang. Selagi kita memiliki waktu dan kesempatan untuk berkarya melayani-Nya, pakailah itu.

Aku berdoa dan berharap kiranya Tuhan memberikan kekuatan buat keluarga temanku, juga memberikan yang terbaik untuknya. Aku percaya akan kuasa Tuhan yang besar, dan tugas kita adalah percaya sepenuh-Nya kepada-Nya dan memanfaatkan waktu-waktu kita sebijak mungkin hingga kelak ketika tiba saatnya, Tuhan akan berkata kepada kita: “Well done, anakku terkasih.”

Baca Juga:

3 Respons untuk Menyikapi Musibah

Sebagai orang Kristen, ada tiga hal yang perlu kita pikirkan sebelum memposting sesuatu di media sosial sebagai wujud respons kita terhadap suatu musibah.