Pos

Di Manakah Damai?

Kamis, 25 Oktober 2018

Di Manakah Damai?

Baca: Yeremia 8:8-15

8:8 Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong.

8:9 Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?

8:10 Sebab itu Aku akan memberikan isteri-isteri mereka kepada orang lain, ladang-ladang mereka kepada penjajah. Sesungguhnya, dari yang kecil sampai yang besar, semuanya mengejar untung; baik nabi maupun imam, semuanya melakukan tipu.

8:11 Mereka mengobati luka puteri umat-Ku dengan memandangnya ringan, katanya: Damai sejahtera! Damai sejahtera!, tetapi tidak ada damai sejahtera.

8:12 Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN.

8:13 Aku mau memungut hasil mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi tidak ada buah anggur pada pohon anggur, tidak ada buah ara pada pohon ara, dan daun-daunan sudah layu; sebab itu Aku akan menetapkan bagi mereka orang-orang yang akan melindas mereka.”

8:14 Mengapakah kita duduk-duduk saja? Berkumpullah dan marilah kita pergi ke kota-kota yang berkubu dan binasa di sana! Sebab TUHAN, Allah kita, membinasakan kita, memberi kita minum racun, sebab kita telah berdosa kepada TUHAN.

8:15 Kita mengharapkan damai, tetapi tidak datang sesuatu yang baik, mengharapkan waktu kesembuhan, tetapi yang ada hanya kengerian!

Kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. —Roma 5:1

Di Manakah Damai?

“Masihkah kamu mengharapkan damai?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi Bob Dylan pada tahun 1984.

“Takkan ada damai apa pun,” jawab Dylan. Respons itu menuai kritikan dari banyak pihak, tetapi tak bisa disangkal bahwa damai memang belum tercapai hingga saat ini.

Sekitar 600 tahun sebelum kedatangan Kristus, sebagian besar nabi meramalkan tercapainya kedamaian. Namun, tidak demikian dengan Yeremia, nabi Allah. Ia mengingatkan umat-Nya bahwa Allah telah berfirman, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku” (Yer. 7:23). Namun, mereka berulang kali mengabaikan Tuhan dan perintah-perintah-Nya. Nabi-nabi palsu berkata, “Damai sejahtera! Damai sejahtera!” (8:11), tetapi Yeremia menubuatkan tibanya bencana. Yerusalem pun jatuh pada tahun 586 sm.

Kedamaian itu langka. Namun, di antara nubuat-nubuat yang mengenaskan dalam kitab Yeremia, kita menemukan Allah yang mengasihi tanpa henti. Tuhan berkata kepada umat-Nya yang memberontak, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal. . . . Aku akan membangun engkau kembali” (31:3-4).

Allah adalah Allah sumber kasih dan damai. Konflik muncul karena kita memberontak terhadap Dia. Dosa menghancurkan kedamaian dunia dan merampas kedamaian batin dari setiap kita. Yesus datang ke bumi ini untuk mendamaikan kita dengan Allah dan memberi kita kedamaian batin itu. “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus,” tulis Rasul Paulus (Rm. 5:1). Sungguh suatu perkataan yang begitu sarat dengan pengharapan.

Baik kita tinggal di zona perang atau di lingkungan yang aman tenteram, Kristus mengundang kita untuk mengalami kedamaian-Nya. —Tim Gustafson

Allah tak bisa memberi kita sukacita dan damai di luar dari diri-Nya, karena hal itu memang tidak ada di luar sana. —C. S. Lewis

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6-8; 1 Timotius 5

Duri yang Menusuk

Kamis, 18 Oktober 2018

Duri yang Menusuk

Baca: Yesaya 53:1-6

53:1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?

53:2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.

53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, . . . dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. —Yesaya 53:5

Duri yang Menusuk

Sebuah duri menusuk jari telunjuk saya dan membuatnya berdarah. Saya berteriak dan mengaduh, lalu menarik tangan saya dengan cepat. Namun, hal itu tidak seharusnya mengejutkan saya karena saya sedang memangkas semak berduri tanpa memakai sarung tangan.

Rasa sakit yang menjalar di jari saya—dan darah yang menetes—menandakan bahwa saya harus segera mencari pertolongan pertama. Sambil mencari perban, saya tiba-tiba teringat tentang Tuhan Yesus, Juruselamat saya. Para prajurit memaksa Yesus mengenakan mahkota duri di atas kepala-Nya (Yoh. 19:1-3). Jika satu duri saja sudah begitu menyakitkan seperti ini, entah sehebat apa penderitaan yang ditimbulkan oleh mahkota yang penuh duri itu? Itu pun hanya sebagian kecil dari penderitaan fisik yang dialami-Nya. Cambuk mencabik punggung-Nya. Paku menembus pergelangan tangan dan kaki-Nya. Tombak menusuk lambung-Nya.

Selain itu, Yesus juga menanggung penderitaan rohani. Yesaya 53:5 berkata, “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya.” Kata “keselamatan” yang disebutkan oleh Yesaya itu berbicara tentang pengampunan. Yesus memberi diri-Nya ditikam—dengan tombak, paku, dan mahkota duri—demi mendamaikan kita kepada Allah. Pengorbanan-Nya, yakni kerelaan-Nya untuk mati menggantikan kita, membuka jalan bagi kita untuk berhubungan kembali dengan Allah Bapa. Yesus melakukannya, seperti yang tertulis di Alkitab, bagimu, bagi saya. —Adam Holz

Bapa, aku tak bisa membayangkan besarnya derita yang harus dialami Anak-Mu demi menghapus dosaku. Terima kasih karena Engkau telah mengutus-Nya bagiku, untuk ditikam karena dosaku sehingga aku bisa menjalin kembali hubungan dengan-Mu.

Yesus memberi diri-Nya ditikam—dengan tombak, paku, dan mahkota duri—demi mendamaikan kita kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 53-55; 2 Tesalonika 1

Dia Memikul Beban Kita

Sabtu, 13 Oktober 2018

Dia Memikul Beban Kita

Baca: 1 Petrus 1:18-25

1:18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,

1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

1:20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

1:21 Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

1:24 Sebab: “Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur,

1:25 tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu.

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. —1 Petrus 2:24

Dia Memikul Beban Kita

Bukanlah hal yang luar biasa apabila kita menerima tagihan air atau listrik dalam jumlah besar. Namun, Kieran Healy dari Carolina Utara, Amerika Serikat, menerima tagihan pemakaian air yang sangat mengejutkan. Pemberitahuan tersebut menyebutkan bahwa ia berhutang 100 juta dolar! Karena yakin bahwa ia tidak menggunakan air sebanyak itu pada bulan sebelumnya, dengan setengah bercanda Healy menanyakan kepada pihak pengelola apakah ia boleh menyicil pembayarannya.

Berhutang 100 juta dolar memang bisa menjadi beban yang sangat berat, tetapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan beban yang harus kita pikul akibat dosa—beban yang nyata dan tak terukur besarnya. Jika kita mencoba untuk memikul beban dan konsekuensi dari dosa-dosa kita, pada akhirnya kita akan merasa kewalahan dan dipenuhi perasaan malu dan bersalah. Sesungguhnya kita tidak akan pernah sanggup memikul beban tersebut.

Kita memang tidak perlu memikul beban itu. Perkataan Petrus mengingatkan orang percaya bahwa hanya Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, yang dapat memikul beban dosa kita dan konsekuensinya yang berat (1Ptr. 2:24). Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus sendirilah yang memikul semua kesalahan kita dan memberi kita pengampunan. Karena Yesus memikul seluruh beban dosa kita, kita tidak perlu menderita hukuman yang seharusnya kita terima.

Alih-alih hidup dalam ketakutan atau rasa bersalah, yaitu “cara hidup [kita] yang sia-sia yang [kita] warisi dari nenek moyang” kita (1:18 bis), kita dapat menikmati cara hidup yang baru dalam kasih dan kemerdekaan (1:22-23). —Marvin Williams

Tuhan, kadang beban rasa bersalah dan malu kami terasa begitu berat. Tolong kami menyerahkan masa lalu dan kepedihannya kepada Engkau agar kami merasakan damai-Mu, karena Engkau telah memikul semuanya dan memerdekakan kami.

Yesus memikul beban dosa kita supaya dapat memberi kita hidup baru.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 41-42; 1 Tesalonika 1

Seruan Minta Tolong

Jumat, 31 Agustus 2018

Seruan Minta Tolong

Baca: Kisah Para Rasul 2:14-21

2:14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.

2:15 Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan,

2:16 tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoel:

2:17 Akan terjadi pada hari-hari terakhir—demikianlah firman Allah—bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.

2:18 Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.

2:19 Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.

2:20 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.

2:21 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan. —Kisah Para Rasul 2:21

Seruan Minta Tolong

Setelah terjadinya kecelakaan pada sejumlah lift yang merenggut lima nyawa dan melukai 51 orang pada tahun 2016, pemerintah kota New York meluncurkan kampanye untuk mendidik warga agar tetap bersikap tenang dan mengutamakan keselamatan. Pengalaman buruk terjadi ketika orang berusaha menyelamatkan diri sendiri di saat terjadi masalah. Menurut pihak berwenang, tindakan terbaik yang bisa dilakukan hanyalah, “Kabari, tetap tenang, dan tunggu.” Otoritas pengawas bangunan di New York berkomitmen untuk bergerak cepat demi melindungi orang dari cedera dan membawa mereka keluar dari lokasi bencana.

Di kitab Kisah Para Rasul, Rasul Petrus menyampaikan khotbah yang menegur kesalahan manusia yang berusaha menyelamatkan diri mereka sendiri. Lukas, penulis kitab tersebut, mencatat sejumlah peristiwa luar biasa ketika orang-orang percaya berbicara dalam berbagai bahasa yang tidak mereka ketahui sebelumnya (Kis. 2:1-12). Petrus pun menjelaskan kepada orang-orang Yahudi di sana bahwa apa yang mereka saksikan merupakan penggenapan nubuat kuno (Yl. 2:28-32), yakni pencurahan Roh Allah dan tibanya hari keselamatan. Karunia Roh Kudus sekarang dapat dilihat dalam diri orang-orang yang berseru kepada Yesus untuk diselamatkan dari dosa mereka dan segala pengaruhnya. Petrus lalu mengatakan kepada mereka bahwa keselamatan itu tersedia bagi semua orang (Kis. 2:21). Kita dapat datang kepada Allah bukan karena kita menaati Hukum Taurat, melainkan karena kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Jika kita masih terbelenggu oleh dosa, tidak mungkin kita dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Satu-satunya pengharapan kita untuk diselamatkan adalah dengan mengakui dan mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. —Marvin Williams

Sudahkah kamu berseru kepada Yesus untuk menyelamatkanmu dari dosamu?

Keselamatan diberikan kepada mereka yang berseru kepada Yesus untuk menolong mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 132-134; 1 Korintus 11:17-34

Artikel Terkait:

4 Mitos Cinta yang Membuai

Pemulihan yang Besar

Kamis, 2 Agustus 2018

Pemulihan yang Besar

Baca: Mazmur 107:1-16, 35-36

107:1 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

107:2 Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan,

107:3 yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan.

107:4 Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan;

107:5 mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka.

107:6 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.

107:7 Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.

107:8 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

107:9 sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan.

107:10 Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam, terkurung dalam sengsara dan besi.

107:11 Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi,

107:12 maka ditundukkan-Nya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir, dan tidak ada yang menolong.

107:13 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka,

107:14 dibawa-Nya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskan-Nya belenggu-belenggu mereka.

107:15 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia,

107:16 sebab dipecahkan-Nya pintu-pintu tembaga, dan dihancurkan-Nya palang-palang pintu besi.

107:35 Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air.

107:36 Ditempatkan-Nya di sana orang-orang lapar, dan mereka mendirikan kota tempat kediaman;

Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air. —Mazmur 107:35

Pemulihan yang Besar

Saya sangat menyukai hujan lebat. Waktu masih kanak-kanak, manakala hujan lebat datang—dengan guntur yang menggelegar dan air yang turun menghunjam ke bumi—saya dan saudara-saudara saya langsung lari keluar rumah untuk bermain air dan meluncur di bawah guyuran hujan. Setelah beberapa saat lamanya, kami pun masuk kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup.

Pengalaman beberapa menit itu sangat seru karena kami begitu terhanyut dalam sesuatu yang luar biasa, sampai-sampai kami tak bisa membedakan apakah kami sebenarnya bersenang-senang atau justru ketakutan.

Gambaran tersebut muncul di benak saya ketika membaca dalam Mazmur 107 bagaimana pemulihan dari Allah disamakan dengan padang gurun yang diubah menjadi “kolam air” (ay.35). Hujan yang bisa mengubah padang gurun menjadi mata air tentu bukan hujan yang ringan, melainkan hujan deras yang airnya membanjiri setiap retakan tanah kering dan mengalirinya dengan kehidupan baru.

Bukankah pemulihan seperti itu yang selama ini kita nanti-nantikan? Ketika kehidupan kita terasa berjalan tanpa arah dan kita “lapar dan haus” akan pemulihan yang tampaknya tak kunjung tiba (ay.4-5), yang kita butuhkan bukanlah pengharapan yang secuil saja. Ketika pola-pola dosa telah berakar dalam diri kita dan menjerat kita “di dalam gelap dan kelam” (ay.10-11), yang dibutuhkan hati kita bukanlah perubahan yang sekadarnya.

Yang kita butuhkan adalah pemulihan yang besar, dan itulah yang sanggup dikerjakan Allah (ay.20). Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk membawa ketakutan dan cela kita kepada-Nya. Allah lebih dari sanggup untuk memutuskan belenggu dosa kita dan menghalau kekelaman dari hidup kita dengan terang-Nya (ay.13-14). —Monica Brands

Bapa, tolonglah kami untuk datang kepada-Mu dengan beban-beban kami, karena kami mempercayai kasih dan kuasa-Mu yang sanggup mengubah dan memulihkan.

Kuasa Allah sanggup membawa perubahan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 60-62; Roma 5

Pendosa seperti Kita

Selasa, 31 Juli 2018

Pendosa seperti Kita

Baca: Lukas 15:1-7

15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. —Lukas 15:2

Pendosa seperti Kita

Saya punya seorang teman bernama Edith yang menceritakan kepada saya pengalamannya yang menarik ketika ia memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus.

Dahulu Edith tidak mempedulikan agama. Namun, pada suatu Minggu pagi, ia pergi ke sebuah gereja di dekat apartemennya untuk mencari sesuatu yang dapat memuaskan jiwanya yang hampa. Khotbah pada hari itu terambil dari Lukas 15, dan ayat 2 berbunyi: “[Yesus] menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

Sang pengkhotbah membaca dari Alkitab versi King James dalam bahasa Inggris, dan di sana kata “makan” tertulis “eateth”. Bagi Edith, ayat itu terdengar demikian: “Ia menerima orang-orang berdosa dan Edith bersama-sama dengan mereka.” Edith pun terhenyak! Meskipun akhirnya ia sadar telah salah dengar, tetapi pemikiran bahwa Yesus menerima orang berdosa—dan itu termasuk Edith—terus diingatnya. Sore itu, ia memutuskan untuk datang kepada Yesus dan mendengarkan Dia. Edith mulai membaca kitab-kitab Injil dan tidak lama setelah itu memutuskan untuk beriman kepada Yesus.

Para pemuka agama pada zaman Yesus tidak menerima kenyataan bahwa Dia makan-minum bersama orang-orang yang berdosa dan tidak benar. Aturan-aturan yang mereka buat melarang mereka untuk berhubungan dengan orang-orang seperti itu. Namun, Yesus tidak mempedulikan aturan-aturan itu. Dia menerima siapa saja yang telah jatuh dalam dosa dan membawa mereka mendekat kepada-Nya, tanpa memandang sedalam apa kejatuhan mereka.

Kebenaran tersebut masih berlaku hingga saat ini: Yesus menerima orang-orang berdosa dan juga (nama kamu). —David H. Roper

Bapa Surgawi, tiada kata yang cukup melukiskan rasa syukur kami atas kedahsyatan kasih Anak-Mu, yang menarik orang-orang terbuang dan berdosa kepada-Nya, dan membuka jalan bagi kami untuk berani datang kepada-Mu dengan penuh sukacita.

Allah mencari kita saat kita gelisah, menerima kita saat kita berdosa, dan menopang kita saat kita gagal. —Scotty Smith

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 54-56; Roma 3

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Ferren Manuela

Nenekku dan Seorang Perempuan Nepal

Oleh Eugene Seah, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Nepali Lady And My Grandmother

Ketika kami duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di Nepal, temanku yang adalah seorang Nepal membagikan kabar Injil kepada seorang perempuan yang menyiapkan sarapan kami.

Perempuan itu menjawab, “Kalau dengan percaya kepada Tuhanmu aku bisa tidak bekerja, aku akan percaya!”

Bagaimana kamu merespons jawaban itu? Secara pribadi, waktu itu aku tidak bisa meresponsnya dengan jawaban yang tepat. Tapi sekarang, seiring aku mengingat kembali kesaksian nenekku, aku menemukan jawabannya.

Di dekade 1960-an, banyak orang Tionghoa di Singapura lebih memilih untuk punya anak lelaki daripada perempuan. Hasilnya, nenekku sering mendapat perlakuan kejam—secara fisik dan verbal—oleh ayah mertuanya karena dia tidak melahirkan anak laki-laki. Nenekku dikaruniai tiga anak perempuan. Mertuanya pernah meminta suami nenekku untuk mengambil istri lain. Untungnya dia menolak usulan itu. Saat nenekku mengandung anak keempat dan masih terus mengalami penyiksaan fisik, dia didesak oleh tetangganya untuk bunuh diri saja. Namun, dia menolak, dia tidak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Suatu ketika, saat dia sedang dalam perjalanan ke toko daging di mana suaminya bekerja, dia berpapasan dengan kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang Kristen. Dia bergumam, “Kalau Engkau Tuhan yang bisa menyelamatkanku dari segala sakit hatiku dan menjagai anak-anakku, aku akan percaya kepada-Mu!”

Sekarang, nenekku adalah ibu yang luar biasa dari enam anak (tiga anak perempuan dan kemudian dia dikaruniai tiga anak lelaki), dan sangat dicintai oleh hampir selusin cucunya.

Tuhan telah menempatkan harapan di dalam hatinya dan menopangnya melalui tahun-tahun penuh badai. Tuhan kita yang Mahabesar mendengar tangisnya dari surga dan menjawab (Mazmur 55:17)!

Sebagai tanggapan, nenekku menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Dia menceritakan pada Tuhan tentang perjuangannya dan bersyukur kepada Tuhan atas segalanya. Selain itu, dia juga melaksanakan Amanat Agung untuk mencari domba-domba yang hilang dengan membagikan Injil kepada saudara-saudarinya dan orang-orang lain yang belum percaya. Nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Kristus! Meskipun Nenek tidak bisa membaca, tapi Tuhan memakai dirinya untuk membawa banyak orang kepada keselamatan.

Nenekku sungguh-sungguh ingin memahami Alkitab lebih baik. Dia pun belajar bagaimana membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin dan mengikuti seminar-seminar rohani untuk belajar semakin mengenal Tuhan. Semangat nenekku itu membuatku merasa malu, sebab kurasa aku belum pernah sesemangat itu.

Tahun lalu, dia didiagnosis menderita kanker. Seharusnya dia merasa kecewa dan khawatir karena kabar itu. Tapi, keluargaku bisa melihat bahwa saat-saat sedih itu berlalu dengan cepat dan nenekku pun kembali bersukacita.

Seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Injil, kesetiaan Tuhan, dan kebaikan Tuhan, bahkan saat dia bergumul dengan kanker! Memang, Tuhan adalah Tuhan atas segala musim kehidupan kita, kita pun seharusnya menyembah-Nya dalam setiap musim kehidupan kita.

Kembali ke pertanyaan yang diberikan oleh seorang perempuan Nepal tadi, bagaimana aku menjawabnya sekarang?

Menjadi seorang pengikut Kristus tidak berarti bahwa kita bisa berhenti bekerja. Malah, akan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Namun, yang jadi pembedanya adalah sekarang kita bekerja dengan jaminan penuh bahwa semua ada dalam kendali Tuhan dan segala jerih payah kita tidak sia-sia.

Melalui kehidupan nenekku, aku melihat kebesaran dan kesetiaan Tuhan. Dia memberikan sukacita yang nyata kepada semua anak-anak-Nya. Kita juga bisa mendapatkan penghiburan dalam pengetahuan bahwa anak-anak-Nya akan menerima upah yang kekal, yang tidak akan rusak ataupun hilang (Wahyu 22:12).

Memang, penyakit dan kesulitan dapat membuat tubuh kita lelah. Namun sebagai anak-anak Tuhan, meskipun dari luar kita terlihat rapuh, tapi di dalam batin kita dibaharui dari hari ke hari. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Jika Tuhan berkehendak, aku berharap bisa kembali ke Nepal dan memberi tahu perempuan itu tentang kebaikan Tuhan kita. Kiranya kasih-Nya yang teguh dalam kehidupan nenekku, yang sedang berjuang untuk pulih, menjadi dorongan yang nyata untuk perempuan itu! Aku akan berbicara tentang kebaikan Tuhan di mana pun Dia menempatkanku. Ayo, kita bersama-sama menyatakan pujian kepada Tuhan ke manapun kita pergi.

Baca Juga:

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” firman ini menegurku yang merasa kecewa karena impianku masuk ke SMA favorit tidak terwujud. Melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi, aku belajar untuk memahami bahwa rancangan yang Tuhan beri padaku adalah yang terbaik.

Pelajaran Berharga dari Penyelamatan 13 Pemain Bola di Thailand

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I Was Captivated By The Thai Cave Rescue
Foto diambil dari Facebook Video

Seperti banyak orang lain di seluruh dunia, kemarin malam aku bersorak ketika membaca berita bahwa 12 anak lelaki Thailand dan pelatih sepak bola mereka yang berusia 25 tahun akhirnya bisa diselamatkan dari dalam gua di utara Thailand. Mereka sudah terperangkap di dalam sana selama dua minggu!

Sejak membaca berita tentang bagaimana mereka menghilang pada 23 Juni lalu, aku terpaku pada layar ponselku. Aku mencari tahu berita-berita lanjutan tentang penyelamatan mereka.

Hatiku tertuju kepada keluarga dan teman-teman mereka saat aku membaca kalau mereka sudah menghilang selama lebih dari seminggu. Padahal seharusnya perjalanan mereka ke Gua Tham Luang itu hanya berlangsung setengah hari. Dan, hatiku tergerak saat membaca kalau 1.000 orang (dari seluruh dunia, termasuk Australia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, dan Tiongkok) turut memberikan pertolongan dalam pencarian besar-besaran untuk menemukan mereka.

Ketika mereka ditemukan sembilan hari kemudian (3 Juli) di lokasi yang berjarak 4 kilometer dari mulut gua oleh sepasang penyelam Inggris, aku pun gembira. Tapi, sukacita itu dengan cepat berubah jadi kepedihan saat muncul berita tentang Saman Gunan, mantan Angkatan Laut Thailand yang berusia 38 tahun kehilangan kesadaran dan meninggal dunia Jumat lalu setelah menempatkan tangki-tangki cadangan di sepanjang rute evakuasi.

Misi penyelamatan yang dramatis dan berbahaya ini, yang dimulai pada Minggu pagi, membuatku duduk di kursi sambil merasa was-was, dan setiap notifikasi berita yang aku terima tentang anak lelaki lain yang bisa diselamatkan dari gua yang penuh air itu membuatku merasa lega dan bersukacita.

Aku tidak mengenal anak-anak lelaki itu, pun juga para penyelamat secara pribadi, tapi perasaanku tersentuh sejak dari awal berita ini muncul. Aku pernah mengunjungi sebuah gua di Korea Selatan beberapa bulan lalu. Kunjungan ke gua itu menolongku untuk berempati dan membayangkan seperti apa rasanya berada di dalam lingkungan yang dingin, basah, gelap, berbatu, dan suram seperti yang anak-anak Thailand itu rasakan.

Tapi, seperti yang lain, apa yang kemudian membuatku terperangah adalah cerita-cerita tentang pengorbanan dan tidak mementingkan diri sendiri yang dilakukan oleh banyak orang yang menolong proses evakuasi—mereka menolong atas kemauan dan biaya sendiri. Dari para tentara, insinyur, paramedis, penyelam, koki, dan bahkan relawan-relawan yang mencuci seragam para tim penyelamat itu, jelaslah bahwa penderitaan anak-anak itu tidak hanya menyita perhatian dunia, tapi menggugah komunitas internasional untuk bertindak.

Bahkan di dalam gua, kisah tidak mementingkan diri sendiri itu berlanjut. Asisten pelatih dilaporkan memberikan beberapa bagian dari pasokan makanannya yang sangat sedikit kepada anak-anak itu selama 10 hari. Ketika ditemukan oleh penyelam Inggris, anak-anak itu berada dalam kondisi yang sangat lemah. Juga terungkap bahwa seorang dokter dan tiga Angkatan Laut Thailand telah tinggal bersama anak-anak itu sejak kali pertama mereka ditemukan lebih dari seminggu lalu.

Tapi, mungkin pengorbanan terbesar yang memberi dampak terkuat adalah berita bahwa mantan penyelam Angkatan Laut Thailand, Saman Gunan yang meninggal dunia dalam usahanya menyelamatkan 12 anak dan pelatihnya.

Meskipun tahu bahwa operasi penyelamatan ini sangat berbahaya dan berisiko, itu tidak menghalangi Gunan untuk mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anak itu. Beberapa hari sebelum kematiannya, dia bahkan merekam video mengharukan yang menunjukkan kalau dia sedang berdiri di dekat anak tangga pesawat dan bersumpah untuk “membawa anak-anak pulang”. Pola pikirnya mungkin mencerminkan apa yang juga dikatakan oleh seorang penyelam Belgia dalam cuplikan berita lain. “Jika kamu adalah seorang angkatan laut, ya, kamu akan mengorbankan dirimu.” Sebuah laporan dari BBC kemudian menyimpulkan kematian Gunan dengan pedih, “Dia mati supaya mereka mungkin hidup.”

Apa yang dikatakan itu terbukti jadi nyata. Tiga belas orang yang terperangkap itu akhirnya berhasil diselamatkan dalam upaya evakuasi yang melelahkan selama tiga hari dan melibatkan 13 penyelam internasional dan 5 Angkatan Laut Thailand. Kematian Gunan tidak hanya menyingkap betapa berbahayanya evakuasi ini, tapi pada akhirnya berkontribusi besar untuk memastikan tindakan keselamatan apa yang perlu diambil supaya tidak ada lagi nyawa yang hilang.

Pengorbanan seperti inilah yang membuat air mata kita menetes, karena melalui inilah kita dapat melihat dua hal: nilai kehidupan dan kemanusiaan yang terbaik—ditunjukkan dalam bentuk cinta dan pengorbanan. Seperti yang Alkitab katakan dalam Yohanes 15:13, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Aku tidak bisa memungkiri bahwa ada banyak kesamaan antara penyelamatan anak-anak di gua Thailand ini dengan rencana keselamatan Tuhan untuk umat manusia. Seperti 12 anak lelaki dan pelatihnya yang terperangkap dalam gua, tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari keadaan yang sulit, kita juga terjerembap dalam dosa-dosa kita, tidak berdaya sama sekali dan tidak mampu untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dalam kedua kasus ini, satu-satunya hasil yang menanti kita adalah kematian.

Bantuan harus datang dari luar. Bantuan itu datang melalui penyelam-penyelam ahli yang sudah siap mengambil risiko nyawa dan menyelam ke dalam gua yang dipenuhi air di mana jarak pandang hampir mendekati nol demi menyelamatkan 13 orang. Sama seperti itu, Yesus Kristus harus masuk ke dalam dunia kita yang telah jatuh, tinggal di antara kita, kemudian mati untuk kita di kayu salib. Meski Dia tahu bahwa Dia harus mengorbankan segalanya, itu tidak menghentikannya, karena itulah satu-satunya cara supaya kita dapat hidup.

Jadi, saat kita bertepuk tangan dan mengenali para pahlawan yang telah mengorbankan waktu, usaha, sumber daya, dan bahkan hidup mereka, kiranya ini juga mengingatkan kita sekali lagi tentang pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan untuk umat manusia: Yesus memberikan hidup-Nya bagi kita bukan hanya ketika masih menjadi orang asing, tapi ketika kita masih jadi seteru-Nya (Roma 5:8-10).

Marilah kita tidak berhenti hanya di ucapan syukur dan perasaan kagum. Seperti yang dikatakan oleh penulis CNN, Jay Parini, “Dan semua orang berutang budi pada Saman Gunan, penyelam Thailand yang kehilangan nyawanya beberapa hari lalu saat keluar dari kompleks Gua Tham Luang.” Sama seperti anak-anak lelaki yang akan selamanya berutang budi kepada Gunan dan yang hidupnya akan berubah selamanya setelah kejadian ini, demikianlah hidup kita pun harus berubah karena apa yang Kristus telah lakukan untuk kita.

“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:15).

Baca Juga:

Papa Mama, Terima Kasih untuk Teladan Kalian

Kalau aku melihat kembali kisahku ke belakang, kusadari hidup itu tidak mudah. Tapi, aku bersyukur karena papa dan mamaku memberikan teladan yang baik, yang karenanya aku dapat percaya sepenuh hati kepada Tuhan.

Terang Dunia

Sabtu, 30 Juni 2018

Terang Dunia

Baca: Wahyu 3:14-22

3:14 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:

3:15 Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!

3:16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

3:17 Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,

3:18 maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

3:19 Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!

3:20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

3:21 Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.

3:22 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya. —Wahyu 3:20

Terang Dunia

Salah satu karya seni favorit saya tergantung di ruang kapel Keble College di Oxford, Inggris. Lukisan The Light of the World (Terang Dunia) karya William Holman Hunt asal Inggris itu menunjukkan Yesus yang memegang lentera dan sedang mengetuk pintu sebuah rumah.

Salah satu aspek menarik dari lukisan itu adalah pintunya tidak memiliki pegangan. Ketika ditanya tentang tidak adanya cara untuk membuka pintu itu, Hunt menjelaskan bahwa ia ingin memberikan gambaran yang sesuai dengan Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya.”

Tulisan Rasul Yohanes dan lukisan itu menggambarkan kebaikan hati Yesus. Dengan lembut Dia mengetuk pintu hati kita untuk menawarkan damai sejahtera-Nya. Yesus berdiri dengan sabar sambil menantikan respons kita. Dia tidak akan membuka sendiri pintu hati kita dan memaksakan diri-Nya masuk ke dalam hidup kita. Dia tidak memaksakan kehendak-Nya atas kita. Alih-alih, Yesus menawarkan anugerah keselamatan kepada tiap orang dan terang-Nya untuk menuntun kita.

Kepada tiap orang yang membuka pintu hatinya, Yesus berjanji akan masuk dan mendapatkannya. Tak ada syarat dan ketentuan lainnya.

Apabila kamu mendengar suara Tuhan Yesus dan ketukan lembut-Nya pada pintu hati kamu, yakinlah bahwa Yesus sedang menantimu dengan sabar dan Dia akan masuk ke dalam hatimu jika kamu mempersilakan-Nya. —Lisa Samra

Tuhan, terima kasih atas anugerah keselamatan dan janji-Mu untuk masuk mendapatkan kami di saat kami membuka pintu hati kami. Tolonglah kami untuk merespons anugerah itu dan membuka pintu hati kami bagi-Mu hari ini.

Bukalah pintu hatimu untuk Yesus; Dia dengan sabar menanti kamu membukanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 17-19; Kisah Para Rasul 10:1-23

Artikel Terkait:

Menemukan Kasih Sejati