Pos

Menemukan Harta Karun

Rabu, 5 Juni 2019

Menemukan Harta Karun

Baca: Matius 13:44-46

13:44 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang. —Matius 13:44

Menemukan Harta Karun

Ketika John dan Mary sedang mengajak anjing mereka berjalan-jalan di halaman rumah, tanpa sengaja mereka menemukan sebuah kaleng berkarat yang menyembul keluar karena tanahnya tergerus oleh hujan. Mereka membawa kaleng itu pulang, membukanya, dan mendapati di dalamnya simpanan koin emas yang berusia lebih dari satu abad! Pasangan tersebut kembali ke tempat kaleng tadi dan menemukan tujuh kaleng lagi yang seluruhnya berisi 1.427 koin. Kemudian, mereka melindungi harta karun itu dengan memendamnya kembali di tempat lain.

Simpanan koin bernilai 10 juta dolar itu merupakan penemuan koin kuno terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Kisah ini sangat mirip dengan perumpamaan yang diceritakan Yesus: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu” (Mat. 13:44).

Kisah tentang harta terpendam telah menarik imajinasi orang dari abad ke abad, meski penemuannya sangat jarang terjadi. Namun, Yesus berbicara tentang suatu harta yang akan diperoleh oleh semua orang yang mengakui dosa, lalu menerima dan mengikuti Dia (Yoh. 1:12).

Harta istimewa itu takkan pernah habis. Ketika kita meninggalkan kehidupan kita yang lama untuk mencari Allah dan kehendak-Nya, kita akan menemukan kemuliaan-Nya. Melalui “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus” (Ef. 2:7), Allah menawarkan kepada kita harta yang tak ternilai—kehidupan baru sebagai anak-Nya, tujuan hidup yang baru, dan sukacita kekal yang tak terbayangkan bersama-Nya. —James Banks

WAWASAN
Yesus membandingkan hal Kerajaan Surga dengan harta terpendam dan upaya yang akan dilakukan seseorang untuk memperolehnya (Matius 13:44). Perumpamaan itu mungkin membuat kita berfokus pada perihal hartanya, tetapi yang ditekankan Yesus adalah unsur pengorbanannya. Orang yang menemukan harta terpendam tadi “menjual seluruh miliknya” hanya untuk mendapatkan harta itu. Pada kesempatan lain, Yesus menegaskan, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (16:26). Hidup dengan nilai-nilai Kristus berarti segala sesuatu yang lain tidak bernilai lagi bagi kita. Kerajaan Surga menuntut komitmen total kepada Yesus. —Tim Gustafson

Bagaimana kamu menghargai hubungan kamu dengan Allah? Bagaimana kamu dapat membagikan harta tersebut dengan orang lain?

Engkaulah harta terbesarku, ya Yesus. Aku memuji-Mu karena Engkau telah menyerahkan hidup-Mu bagiku di kayu salib, sehingga aku dapat memperoleh pengampunan dan hidup yang baru di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 23-24; Yohanes 15

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Melihat Cahaya Terang

Selasa, 23 April 2019

Melihat Cahaya Terang

Baca: Matius 4:12-25

4:12 Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea.

4:13 Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali,

4:14 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:

4:15 “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, —

4:16 bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.”

4:17 Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

4:18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.

4:19 Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

4:20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

4:21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka

4:22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

4:23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

4:24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.

4:25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. —Yesaya 9:1

Melihat Cahaya Terang

Di kota Los Angeles, Brian, seorang tunawisma yang sedang berjuang mengatasi kecanduannya, datang ke suatu lembaga pelayanan tunawisma bernama The Midnight Mission. Itulah awal perjalanan panjang Brian menuju pemulihan.

Dalam proses pemulihan itu, Brian menemukan kembali kecintaannya kepada musik. Ia pun bergabung dengan Street Symphony—sekelompok musisi profesional yang memiliki hati untuk melayani para tunawisma. Mereka meminta Brian tampil solo membawakan karya Handel dari oratorio Messiah yang berjudul “The People that Walked in Darkness (Mereka yang Berjalan dalam Kekelaman).” Dengan menggunakan kata-kata yang ditulis oleh Nabi Yesaya pada masa kekelaman bangsa Israel, ia bernyanyi, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). Seorang kritikus musik dari majalah The New Yorker menulis bahwa Brian “membuat lirik lagu tersebut seolah-olah berasal dari kehidupannya sendiri.”

Penulis kitab Injil Matius mengutip bagian Alkitab yang sama. Sebagai murid yang dipanggil Yesus keluar dari kehidupan lamanya yang menipu kaum sebangsanya, Matius menggambarkan bagaimana Yesus menggenapi nubuatan Yesaya dengan membawa misi penyelamatan-Nya hingga ke “seberang sungai Yordan” sampai ke “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain” (Mat. 4:13-15).

Siapa yang mengira salah seorang pemungut cukai Romawi yang kejam (lihat Mat. 9:9), seorang pecandu yang menggelandang di jalanan seperti Brian, atau orang-orang seperti kita akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan perbedaan hidup dalam terang dan gelap melalui kehidupan kita? —Mart DeHaan

WAWASAN

Kerajaan Allah adalah sebuah jalan hidup yang berbeda dari jalan yang diterapkan oleh “kerajaan dunia,” di mana kekuatan budaya dominan ditentukan oleh pihak yang berkuasa. Ketika Kekaisaran Romawi menyatakan bahwa pemerintahan mereka adalah kabar baik, Kristus menekankan bahwa hanya pemerintahan Allah sajalah kabar baik yang sejati.—Monica Brands

Bagaimana terang Kristus telah mempengaruhi Anda? Dalam hal apakah Anda memantulkan terang itu kepada orang lain?

Bapa, dalam gelapnya kehidupan kami, tolonglah kami melihat terang Anak-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 16–18; Lukas 17:20-37

Handlettering oleh Priska Sitepu

Butuh Hati yang Baru?

Jumat, 5 April 2019

Butuh Hati yang Baru?

Baca: Yehezkiel 36:24-27

36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.

36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

36:27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu. —Yehezkiel 36:26

Butuh Hati yang Baru?

Kabar itu begitu suram. Belakangan, ayah saya mengalami sakit di bagian dadanya. Pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pada tiga titik di pembuluh darah arterinya. Ayah saya dijadwalkan menjalani operasi triple-bypass pada tanggal 14 Februari. Meskipun cemas, Ayah merasa tanggal tersebut membawa pengharapan baginya: “Saya akan dapat jantung baru sebagai hadiah Valentine!” Operasi berjalan lancar, sehingga pembuluh darah kembali mengalirkan kehidupan kepada jantung yang selama ini bekerja susah payah—jantungnya yang “baru”.

Operasi itu mengingatkan saya bahwa Tuhan juga menawarkan hidup baru kepada kita. Karena dosa telah menyumbat “arteri” rohani kita—kapasitas untuk berhubungan dengan Allah—kita memerlukan “operasi” rohani untuk membersihkan sumbatan itu.

Itulah janji Allah kepada umat-Nya di Yehezkiel 36. Dia meyakinkan mereka, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru. . . . Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (ay.26). Dia juga berjanji, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu” (ay.25) dan “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu” (ay.27). Bagi yang putus asa, Allah menjanjikan awal yang baru karena hanya Dia yang dapat memperbarui kita.

Janji itu pun digenapi melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Ketika percaya kepada-Nya, kita menerima hati baru yang telah bersih dari dosa dan keputusasaan. Hati kita yang baru dipenuhi Roh Kristus untuk mengalirkan darah kehidupan spiritual yang diberikan Allah, supaya kita juga “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4). —Adam Holz

WAWASAN

Para nabi Perjanjian Lama kerap menuliskan nubuatan mereka dalam beberapa bagian. Saat membacanya pada zaman ini, kita seperti sedang berusaha merangkai berbagai bagian dari sebuah teka-teki. Bacaan kitab Yehezkiel hari ini berkesinambungan dengan bagian sebelumnya. Pada pasal 18, Yehezkiel berkata, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!” (ay.31). Namun, bangsa Yehuda tidak sanggup melakukannya dengan kekuatan mereka sendiri (demikian juga kita). Itulah sebabnya Yehezkiel menulis, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru” (36:26).
Pesan bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan diri sendiri itu kembali bergema dalam Perjanjian Baru. Paulus berkata, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1), kemudian ia menyampaikan bahwa kita diselamatkan “karena kasih karunia” dan “oleh iman” (ay.8). Ia juga menyimpulkan, “Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (ay.10). —Tim Gustafson

Bagaimana janji Tuhan tentang hidup baru membawa harapan saat Anda berjuang mengatasi rasa bersalah dan malu? Bagaimana hari ini Anda dapat lebih bergantung kepada kuasa Roh Kudus daripada bergantung kepada kekuatan sendiri?

Bapa, terima kasih untuk pengharapan dan hidup baru yang telah Engkau berikan melalui Yesus. Tolonglah kami mempercayai-Mu setiap hari di saat Roh-Mu menuntun kami dalam jalan hidup kami yang baru.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 1–3; Lukas 8:26-56

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Memilih Menggelandang

Rabu, 13 Maret 2019

Memilih Menggelandang

Baca: Ibrani 2:9-18

2:9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

2:10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah—yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan—,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

2:11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

2:12 kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

2:13 dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

2:14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

2:15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

2:16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

2:17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

2:18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. —Ibrani 2:18

Daily Quotes ODB

Keith Wasserman memilih hidup menggelandang di jalanan selama beberapa hari setiap tahunnya sejak tahun 1989 agar ia bisa belajar lebih mengasihi dan berbelaskasihan kepada orang lain. “Saya pergi menggelandang di jalanan untuk memperluas sudut pandang dan pemahaman” tentang kaum tunawisma, kata Keith, direktur eksekutif dari Good Works, Inc.

Saya berpikir, mungkinkah cara Keith menjadi seperti orang-orang yang ia layani itu merupakan sekilas gambaran tentang apa yang pernah Yesus lakukan bagi kita. Allah sendiri, Pencipta alam semesta, memilih membatasi diri-Nya dalam keadaan yang rapuh sebagai seorang bayi, menjalani hidup sebagai manusia, merasakan apa yang kita semua rasakan, dan akhirnya mengalami kematian di tangan manusia—semua itu agar kita dapat menikmati suatu hubungan pribadi dengan Allah.

Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Yesus “menjadi sama dengan [manusia] dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (2:14). Yesus dibuat menjadi lebih rendah daripada malaikat, meskipun Dialah yang menciptakan mereka (ay.9). Dia menjadi manusia dan mati, meskipun Dia abadi. Dia pun menderita bagi kita, meskipun Dia Allah yang Mahakuasa. Mengapa Dia melakukan semua itu? Supaya Dia dapat menolong kita ketika kita menghadapi berbagai pencobaan dan memulihkan hubungan kita dengan Allah (ay.17-18).

Kiranya kita mengalami kasih-Nya hari ini, dengan menyadari bahwa Dia memahami sisi kemanusiaan kita dan telah menyediakan jalan bagi penghapusan dosa-dosa kita. —Estera Pirosca Escobar

Sudahkah kamu datang kepada Yesus untuk mengalami kasih dan pengampunan-Nya? Jika sudah, bagaimana realitas itu berdampak dalam kehidupan kamu hari ini? Jika belum, maukah kamu menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat hari ini?

Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 20-22; Markus 13:21-37

Misi Penyelamatan Terbesar

Minggu, 10 Maret 2019

Misi Penyelamatan Terbesar

Baca: Lukas 19:1-10

Prayer Maret

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10

Daily Quotes ODB

Pada 18 Februari 1952, sebuah badai besar menghantam kapal tanker SS Pendleton hingga patah menjadi dua bagian sekitar 16 kilometer dari tepi pantai Massachusetts. Lebih dari 40 orang pelayar terjebak di buritan kapal yang perlahan tenggelam di tengah tiupan angin kencang dan terjangan ombak ganas.

Saat kabar tentang musibah itu sampai ke kantor Penjaga Pantai AS di Chatham, Massachusetts, Kepala Kelasi Bernie Webber pun menurunkan perahu penyelamat dengan 3 orang awak. Mereka berusaha menyelamatkan para anak buah kapal yang terjebak itu dalam keadaan yang hampir mustahil. Usaha mereka akhirnya berhasil menyelamatkan tiga puluh dua ABK. Tindakan mereka yang berani itu tercatat sebagai salah satu aksi penyelamatan terbesar sepanjang sejarah Penjaga Pantai AS, dan kisah mereka telah diangkat ke layar lebar dengan judul The Finest Hours yang rilis pada tahun 2016.

Di Lukas 19:10, Yesus menggambarkan misi penyelamatan-Nya demikian: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Salib dan kebangkitan menjadi ungkapan penyelamatan terbesar yang pernah ada, lewat penyerahan diri Yesus demi menanggung dosa kita dan memulihkan kembali hubungan semua orang yang percaya kepada-Nya dengan Allah Bapa. Selama 2.000 tahun, begitu banyak orang telah menerima tawaran hidup berkelimpahan di dunia dan hidup kekal bersama-Nya di surga. Mereka semua selamat!

Sebagai pengikut Yesus, kita mempunyai hak istimewa, dengan pertolongan Roh Kudus, untuk mengikuti Juruselamat kita dalam misi penyelamatan-Nya. Siapa orang dalam hidupmu yang membutuhkan kasih-Nya yang menyelamatkan? —Bill Crowder

Bagaimana cara Allah menyelamatkan kamu meninggalkan pengaruhnya bagimu? Apa yang dapat menolong kamu secara efektif membagikan rencana keselamatan-Nya kepada sesamamu?

Bapa, mampukan aku melihat dunia seperti cara-Mu melihat dunia dan terlibat dalam misi penyelamatan-Mu. Jadikan aku alat kasih karunia-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 11-13; Markus 12:1-27

Kasih Kristus Mengubah Kita

Rabu, 6 Februari 2019

Kasih Kristus Mengubah Kita

Baca: Kisah Para Rasul 9:1-22

9:1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10 Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”

9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”

9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

9:19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

9:20 Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

9:21 Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?”

9:22 Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.

Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. —Kisah Para Rasul 9:20

Kasih Kristus Mengubah Kita

Sebelum mengenal Yesus, hati saya pernah begitu terluka hingga saya enggan menjalin hubungan akrab karena takut terluka lebih dalam. Ibu menjadi sahabat terdekat saya, sampai kemudian saya menikah dengan Alan. Tujuh tahun kemudian, di ambang perceraian, saya pergi ke sebuah kebaktian bersama anak kami yang masih TK, Xavier. Saya duduk di dekat pintu, enggan untuk percaya, meski sebenarnya sangat mengharapkan pertolongan.

Syukurlah, jemaat di sana menyambut kami, mendoakan keluarga kami, dan mengajari saya cara menjalin hubungan dengan Allah melalui doa dan pembacaan Alkitab. Seiring waktu, kasih Kristus dan para pengikut-Nya mengubah saya.

Dua tahun setelah pertama kalinya menghadiri kebaktian itu, saya, Alan, dan Xavier meminta untuk dibaptis. Beberapa waktu kemudian, dalam perbincangan yang biasa kami lakukan tiap minggu, ibu saya berkata, “Sekarang kamu lain. Ceritakan lebih banyak tentang Yesus.” Beberapa bulan kemudian, ia pun menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Yesus mengubah kehidupan . . . seperti kehidupan Saulus, salah satu penganiaya yang paling ditakuti oleh gereja pada zamannya sebelum ia bertemu dengan Kristus (Kis. 9:1-5). Orang percaya lainnya menolong Saulus belajar lebih banyak tentang Yesus (ay.17-19). Perubahan hidupnya yang drastis telah meneguhkan kredibilitas pengajarannya yang penuh dengan kuasa Roh Kudus (ay.20-22).

Perjumpaan pertama kita secara pribadi dengan Yesus mungkin tidak sedramatis pengalaman Saulus. Perubahan hidup kita mungkin tidak terjadi begitu cepat atau drastis. Namun, karena orang-orang memperhatikan bagaimana kasih Kristus mengubah kita dari waktu ke waktu, akan datang kesempatan bagi kita untuk menceritakan kepada orang lain tentang karya Allah dalam diri kita. —Xochitl Dixon

Kehidupan yang diubahkan oleh kasih Kristus layak untuk diceritakan.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 39-40; Matius 23:23-39

Artikel Terkait:

Apakah Kita Mencari Tuhan?

Yesus Selalu Dekat

Sabtu, 12 Januari 2019

Yesus Selalu Dekat

Baca: Matius 25:37-40

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Yesus Selalu Dekat

Putri saya sudah siap berangkat ke sekolah lebih cepat daripada biasanya. Ia pun bertanya apakah kami bisa mampir ke kedai kopi dalam perjalanan ke sekolah. Saya setuju. Ketika mendekati jalur “lantatur” (layanan tanpa turun), saya berkata, “Kamu mau membagikan sedikit sukacita pagi ini?” “Mau, Pa,” jawabnya.

Kami pun memesan, kemudian beranjak ke loket pembayaran. Saya berkata kepada si pramuniaga, “Kami juga mau membayar pesanan wanita di mobil belakang.” Putri saya terlihat sangat senang dengan senyumnya yang lebar.

Di antara banyak hal besar, secangkir kopi kelihatannya sepele, bukan? Namun, saya bertanya-tanya, mungkinkah itu salah satu cara untuk mewujudkan kehendak Yesus bagi kita, yakni untuk memperhatikan orang-orang yang Dia sebut “salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina”? (Mat. 25:40). Cobalah melihat orang yang antri di belakang atau di depan kita sebagai pribadi yang dimaksudkan oleh Yesus itu. Kemudian lakukan “segala sesuatu” yang kamu bisa—mungkin membelikan secangkir kopi atau melakukan yang lain, bisa lebih besar atau lebih sederhana dari itu. Ungkapan “segala sesuatu yang kamu lakukan” (ay.40) itu memberi kita keleluasaan yang sangat besar untuk melayani Dia sekaligus melayani orang lain.

Ketika meninggalkan tempat itu, kami melihat wajah wanita muda di belakang kami dan juga wajah pramuniaga yang memberikan kopi kepadanya. Mereka berdua tersenyum lebar. —John Blase

Tuhan, tolong aku untuk tidak memikirkan pelayanan sebagai sesuatu yang sulit. Terkadang hal-hal kecil dan sederhana memberi dampak lebih daripada yang dapat kubayangkan. Tolong aku juga untuk selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kulakukan bagi orang lain, aku melakukannya bagi-Mu.

Saat melayani sesama, kita sedang melayani Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30; Matius 9:1-17

Resep Hidup

Rabu, 12 Desember 2018

Resep Hidup

Baca: Roma 7:14-25

7:14 Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa.

7:15 Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.

7:16 Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik.

7:17 Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

7:18 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.

7:19 Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

7:20 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

7:21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.

7:22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,

7:23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

7:24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?

7:25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. (7-26) Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. —Roma 7:15

Resep Hidup

Seorang rekan kerja mengaku bahwa ia tidak merasa dirinya layak diselamatkan oleh Tuhan. Saya mendengarkan penuturannya tentang bagaimana ia hidup selama ini dengan begitu nyaman dan bersenang-senang, tetapi hal-hal itu ternyata tak memuaskannya. “Masalahnya, saya sudah berusaha menjadi orang baik, bahkan peduli kepada orang lain, tetapi rasanya semua itu percuma. Hal baik yang ingin saya lakukan justru tidak mampu saya lakukan, tetapi hal buruk yang kubenci, itulah yang terus kulakukan.”

“Apa resep hidupmu?” tanyanya dengan penuh kesungguhan. “Resepnya . . .” jawab saya, “sebenarnya tidak ada. Seperti kamu, saya juga tidak mampu hidup menurut standar Allah. Karena itu, kita memerlukan Yesus.”

Saya menunjukkan kepadanya perkataan Rasul Paulus dalam Roma 7:15. Ungkapan frustrasi Paulus sering mengena baik kepada orang belum percaya maupun orang Kristen yang merasa harus berusaha membuat diri layak di hadapan Allah tetapi tetap gagal juga. Mungkin kamu pun merasakannya. Jika demikian, pernyataan Paulus bahwa Kristuslah sumber keselamatan dan perubahan hidup kita seharusnya menggetarkan jiwamu (7:25-8:2). Yesus sendiri telah menyelesaikan karya penyelamatan agar kita terbebas dari hal-hal yang membuat kita frustrasi!

Dosa yang menjadi penghalang antara kita dan Allah telah disingkirkan tanpa usaha kita sama sekali. Keselamatan—dan perubahan hidup yang dikerjakan Roh Kudus dalam proses pertumbuhan kita—adalah kehendak Allah bagi semua orang. Dia mengetuk pintu hati kita. Izinkanlah Dia masuk. Dialah “resep” hidup kita. —Randy Kilgore

Tanpa Yesus, takkan ada keselamatan dan pertumbuhan rohani.

Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 9-11; Wahyu 3

Momen Natal yang Membuatku Mengenang Perjumpaan Pertamaku dengan Kristus

Oleh Putra, Jakarta

Memasuki bulan Desember, memoriku mengingat kembali kenangan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD dan salah satu hal yang paling kusukai tentang Natal adalah hari liburnya. Di pagi hari aku bisa duduk di depan televisi dan menonton film Home Alone. Film itu membuatku jadi ingin ikut merayakan Natal. Tapi, aku bukanlah orang Kristen, demikian juga kedua orang tuaku.

Keluargaku tidak mengenal siapa itu Tuhan Yesus. Kami sangat memegang tradisi leluhur. Keluargaku percaya bahwa berbakti kepada leluhur—dengan cara sembahyang kepada arwah mereka—adalah cara untuk mendapatkan berkat semasa hidup dan juga keselamatan kelak setelah kehidupan ini berakhir.

Perkenalan pertamaku dengan sosok Juruselamat

Aku bersekolah di sekolah negeri. Saat duduk di kelas 6, untuk pelajaran agama, aku mengikuti kelas agama Kristen sebab di sekolahku tidak ada guru yang mengajar kepercayaanku. Guruku menerangkan tentang apa itu iman Kristen. Dia mengatakan bahwa sembahyang kepada leluhur itu tidak dapat menyelamatkan kita dari kematian kekal. Aku tidak setuju dengannya. Tapi, kembali dia menegaskan pernyataannya: leluhur tidak bisa menyelamatkan, hanya Tuhan Yesus yang bisa.

Empat tahun setelahnya, saat aku duduk di bangku SMK, aku ikut kelompok persekutuan Kristen. Meski bukan orang Kristen, aku tidak merasa asing dengan Kekristenan. Sejak SD aku sudah mengikuti pelajaran agama ini dan aku juga berteman dengan teman-teman yang Kristen. Pertemuan awal di kelompok itu adalah acara ulang tahun temanku dan kami mengisinya dengan makan-makan.

Suatu ketika, saat sedang berada di rumah, aku mendengar satu lagu rohani Kristen. Aku merasa hatiku tergerak dan aku menangis sendirian. Tanpa kusadari, aku pun mengucap, “Tuhan, tolong selamatkan aku.” Aku sendiri masih tidak paham betul mengapa hari itu aku menangis tiba-tiba. Sebelumnya aku memang sudah ikut komunitas rohani, tapi itu cuma buat nilai. Namun, setelah hari itu, aku tertarik untuk lebih tahu siapa itu Tuhan Yesus dan bagaimana cara hidup orang Kristen. Teman-temanku menyambut baik ketertarikanku ini, hingga lambat laun aku menjadi yakin bahwa apa yang dikatakan guru SDku dulu adalah benar.

Di kelas I SMK, aku memutuskan untuk menjadi orang Kristen dan ingin terlibat aktif dalam pelayanan. Aku pergi ke gereja temanku dan dilayani oleh hamba Tuhan di sana. Aku memberitahukan hal ini kepada orang tuaku. Mereka tidak menyetujui keiginanku. Namun, aku tidak dapat membendung kerinduanku untuk mengikut Tuhan Yesus. Aku tetap pergi ke gereja. Ketika hal ini ketahuan oleh ayahku, dia datang menghampiriku di gereja dan memaksaku pulang. Sampai di rumah, dia memukulku. Puncaknya, ketika aku bersikukuh untuk pergi ke gereja, ayah dan ibu hendak mengusirku dari rumah.

“Kamu ngapain sih ke gereja? Memangnya kamu dapat apa di gereja?” kata ibuku dengan nada tinggi.

Aku membalasnya, “Saudara kita yang lain aja boleh ke gereja, kenapa aku nggak?”

“Leluhur kita semuanya sembahyang!”

Dia pun lalu mengeluarkan semua kekesalannya kepadaku. Jika aku bersikukuh tetap pergi ke gereja dan kelak mengganti imanku, dia akan menyesal menjadikanku sebagai anaknya. Kekhawatiran terbesar ayah dan ibuku adalah jika aku menjadi orang Kristen dan meninggalkan tradisi yang selama ini selalu mereka junjung.

Peristiwa itu mengguncangku. Namun, entah mengapa aku tidak menyimpan perasaan benci kepada orang tuaku. Malah, aku merasa sedih karena mereka belum mengenal Tuhan Yesus. Waktu itu, aku mendengar siaran radio Kristen yang mengajak pendengarnya untuk berdoa. Aku ikut berdoa, aku mendoakan supaya kedua orang tuaku mau membuka hati mereka buat Tuhan Yesus. Sejak saat itu, aku selalu berdoa untuk mereka. Namun, masalah terus saja datang, sampai akhirnya aku hampir merasa putus asa dan tidak lagi berdoa. “Terserah Tuhan saja!”

Meski demikian, aku masih rutin datang ke gereja setiap minggunya. Dalam hatiku, masih tersimpan setitik kerinduan agar kedua orang tuaku juga mengenal Tuhan, aku tidak ingin hanya menikmati keselamatan yang sudah Tuhan berikan sendirian. Hanya, aku merasa itu semua rasanya seperti mustahil.

Satu orang diselamatkan, seisi rumah diselamatkan

Hingga akhirnya, di tahun 2010, ayahku didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening. Ketika berita itu datang, aku tersentak. Aku teringat lagi doa yang dulu pernah rutin kunaikkan. Hatiku lalu berbisik, “Mana kerinduanmu buat ngenalin Tuhan ke orang tua?” Aku berusaha untuk mendoakan mereka lagi. Tapi, semakin hari kondisi ayahku semakin drop. Segala pengobatan alternatif telah dijalani, namun tak membuahkan hasil sampai suatu ketika, pamanku yang adalah orang Kristen datang ke rumah. Dia mengajak ayahku datang ke gereja untuk memohon mukjizat dari Tuhan. Ayahku mengelak, tapi ibuku yang hampir putus asa merawat ayah mengiyakan ajakan itu. “Apapun, yang penting sembuh.” katanya.

Keesokan harinya setelah ke gereja, ibuku bertanya pada Ayah, “Bisa tidur gak?”

“Iya,” ayahku mengangguk.

“Nanti mau ke gereja lagi?”

“Mau.”

Sejak saat itu, ayah dan ibuku datang ke gereja setiap minggu. Ada satu momen yang bagiku dulu terasa sangat mustahil. Saat tengah berada di rumah, ayahku memutar lagu rohani. Dia mengangkat tangannya, menyembah Tuhan, lalu memintaku untuk mengajarinya berdoa. Aku mengajarkan doa-doa sederhana kepadanya, seperti: “Tuhan, berkati makanan ini, minuman ini, obat-obatan ini, supaya bisa menjadi kesembuhan.”

Proses itu berlangsung beberapa waktu, sampai akhirnya Ayah memutuskan untuk percaya sungguh-sungguh pada Tuhan Yesus. Ayah menanggalkan segala kepercayaan lama yang dianutnya dan kemudian dibaptis. Kondisi fisik Ayah tidak banyak berubah, dia tetap berjuang melawan kankernya. Kurang dari setahun setelah ayah menyerahkan dirinya pada Kristus, Ayah meninggal dunia.

Satu kesedihanku ketika Ayah berpulang adalah kami tidak sempat merayakan Natal bersama-sama, sekali saja. Namun, aku tidak kecewa kepada Tuhan, karena aku percaya ayahku sudah mendapatkan yang terbaik dan sudah bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Ayahku sudah sembuh secara total dari penyakit kankernya. Aku bersyukur, peristiwa sakitnya Ayah menjadi momen yang membawa seisi keluargaku mengenal Tuhan Yesus. Sekarang, ibuku tidak lagi menutup diri dari Kekristenan. Aku masih mendoakannya untuk menjadi orang percaya yang mengimani imannya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh.

Momen Natal tahun ini mengingatkanku kembali bahwa kedatangan Kristus ke dunia memberikan kita sebuah jaminan yang pasti, yaitu jaminan akan keselamatan. Dan, aku pun mengimani apa yang Alkitab katakan dalam Kisah Para Rasul 16:31: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Adakah nama seseorang yang kamu rindukan agar dia dapat mengenal Tuhan Yesus? Marilah kita berdoa bagi mereka. Kiranya di Natal tahun ini, Kristus dapat hadir di dalam hati mereka.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Baca Juga:

Natal Bukanlah Sekadar Perayaan

Seorang temanku mengatakan bahwa mengadakan Christmas Dinner menjelang tanggal 25 Desember itu membuat suasana Natal lebih seru dan lebih bersama. Tapi, apakah benar demikian? Apakah Natal dimaknai hanya dengan perayaan, kumpul, dan makan bersama?