Pos

Mari Tetap Bersatu

Kamis, 27 Juni 2013

Mari Tetap Bersatu

Baca: 1 Korintus 12:12-27

Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. —1 Korintus 12:14

Banyak wilayah di dunia ini yang mengalami fenomena salju yang luar biasa. Kepingan salju adalah potongan kristal es yang terukir dengan unik dan indah. Satu kepingan salju bersifat rapuh dan cepat mencair jika dipegang. Namun, jika digabungkan, kepingan-kepingan salju akan membentuk suatu kekuatan yang tidak main-main. Salju dapat menghentikan kegiatan di kota-kota besar namun juga menciptakan pemandangan yang indah pada pepohonan berlapis salju yang gambarnya menghiasi kalender dan menjadi inspirasi bagi karya seni. Salju memberi kegembiraan di tempat bermain ski dan sukacita bagi anak-anak sewaktu mereka membuat orang-orangan salju dan bola salju. Semua karena kepingan-kepingan salju itu bersatu.

Demikian juga dengan kita sebagai pengikut Kristus. Masing-masing dari kita sudah dikaruniai suatu kapasitas untuk memberi kontribusi kepada pelayanan Kristus. Kita tidak pernah dimaksudkan untuk hidup sendiri, melainkan untuk bekerja sama agar menjadi satu kekuatan yang luar biasa bagi Allah dan perluasan kerajaan-Nya. Ini seperti yang diingatkan oleh Paulus kepada kita, tubuh Kristus “tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota” (1Kor. 12:14). Setiap dari kita patut menggunakan karunia-karunia yang kita miliki untuk melayani satu sama lain sehingga bersama-sama kita dapat memberikan pengaruh yang berarti di tengah dunia ini.

Gunakan karunia Anda, lalu bekerjasamalah dengan orang lain di sekitar Anda yang juga diberi karunia, dan biarkan kuasa Roh Kudus memakai Anda untuk kemuliaan-Nya! —JMS

Tuhan, ajar kami untuk bekerja sama memadukan kekuatan kami
dengan kekuatan orang lain. Tolong kami untuk melayani dalam
kesatuan sehingga kami dapat mengalami sukacita dari kuasa,
kebersamaan kami demi nama-Mu dan perluasan kerajaan-Mu.

Bersama kita dapat mencapai lebih banyak daripada yang dapat dicapai seorang diri.

Mercusuar Allah

Minggu, 24 Februari 2013

Mercusuar Allah

Baca: Matius 5:1-14

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. —Matius 5:14

Mercusuar Mission Point didirikan pada tahun 1870 di suatu semenanjung di wilayah utara negara bagian Michigan dengan maksud memperingatkan kapal-kapal akan adanya pantai yang dangkal dan berbatu di sepanjang Danau Michigan. Mercusuar tersebut mendapatkan namanya dari sejenis mercusuar yang lain, yakni suatu gereja misi yang dibangun 31 tahun sebelumnya.

Pada tahun 1839, Pdt. Peter Dougherty menjawab panggilan menjadi gembala bagi suatu gereja di wilayah Old Mission yang terdiri dari para penduduk asli Amerika yang tinggal jauh di sebelah selatan dari semenanjung yang sama. Di bawah kepemimpinan Peter, suatu komunitas yang sedang bertumbuh dan meliputi kaum petani, guru, dan pekerja di sana saling bahumembahu untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi kepentingan bersama.

Ketika orang Kristen bekerja bersama dalam kesatuan, persekutuan iman mereka memancarkan terang rohani di tengah kegelapan dunia (Flp. 2:15-16). Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi . . . Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14-16).

Mercusuar Mission Point memberikan peringatan bahaya pada semua kapal yang hendak berlabuh, tetapi Gereja Old Mission tadi memberikan arahan rohani kepada semua orang yang mau memperhatikan pesannya. Kaum percaya juga melakukan hal yang sama, baik secara pribadi maupun melalui gereja kita. Kita adalah mercusuar Allah karena Yesus hidup di dalam kita. —HDF

Engkau dipanggil dengan panggilan kudus
Untuk menjadi terang bagi dunia;
Mengangkat pelita Sang Juruselamat
Agar orang dapat melihat terang-Nya. —NN.

Orang percaya yang hidupnya bersinar terang akan menolong orang yang terhilang untuk kembali pulang.

Kesatuan Dalam Komunitas

Oleh Patrick Fuad

Baca: 1 Korintus 12:12-27

Pada waktu kecil saya suka sekali bermain puzzle. Ketika berusia tujuh tahun, sahabat mama saya memberikan hadiah ulang tahun berupa puzzle. Saya sangat antusias ingin cepat-cepat memasang puzzle tersebut. Akhirnya saya bisa menyusun potongan-potongan puzzle tersebut sampai kepada potongan yang terakhir. Ketika saya melihat puzzle yang sudah tersusun rapih, saya merasa bahagia, kagum, dan bangga karena melihat potongan-potongan berbeda itu sudah tersusun rapi dan membentuk sebuah gambar yang indah.

Tidak ada yang mengesankan dengan puzzle ketika potongan-potongan itu tercerai-berai. Namun, puzzle menjadi sesuatu yang indah ketika potongan-potongan disusun dan membentuk sebuah gambar.  Begitu pula kita di dalam sebuah komunitas–mau itu dalam komunitas gereja atau komunitas pemuda. Setiap individu bagaikan potongan-potongan puzzle, yang jika tercerai-berai tidak dapat membentuk sebuah gambar yang indah.

Saudara, kesatuan dalam sebuah komunitas merupakan hal yang Tuhan inginkan. Tentu, dalam sebuah komunitas tidak mudah untuk menciptakan sebuah kesatuan. Mungkin sulitnya menciptakan kesatuan ini karena adanya penghambat-penghambat. Ada dua hal yang menjadi penghambat terjadinya kesatuan dalam sebuah komunitas.

1. Menjadi terlalu bangga terhadap diri sendiri

Dalam sebuah komunitas, godaan untuk menjadi populer sangat besar, ketika kita yang diberikan Tuhan karunia-karunia yang “lebih”, mungkin ingin menunjukkan bahwa diri kita “hebat”. Kita ingin banyak “tampil di depan layar”. Kita bangga dengan kemampuan kita. Itu adalah sesuatu yang harus diwaspadai oleh setiap orang yang berada dalam sebuah komunitas.

2. Merasa tidak berguna dalam sebuah komunitas

Hal kedua adalah merasa diri tidak berguna. Kita merasa diri kita banyak kekurangan.  Kita suka membanding-bandingkan diri kita dengan teman-teman. Hal ini membuat kita minder, memiliki banyak ketakutan, dan pada akhirnya kita menarik diri dari komunitas. Kita mempunyai pikiran bahwa orang-orang dalam komunitas tidak mau menerima diri kita.

Kita adalah anak-anak Tuhan. Setiap dari kita pasti diberi karunia oleh Tuhan dan karunia yang Tuhan beri harus digunakan untuk memuliakan Tuhan. Dan ketika kita di dalam sebuah komunitas, kita harus menyadari panggilan untuk bersatu demi kerajaan dan pekerjaan Allah yang mulia. Sehingga seperti potongan-potongan puzzle, kita dapat menjadi suatu gambar pancaran kasih Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Kebersamaan Keluarga

Jumat, 14 September 2012

Kebersamaan Keluarga

Baca: Efesus 4:1-16

Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Saya, suami, dan anak-anak memiliki kebiasaan keluarga yang mengasyikkan. Ini terjadi ketika kami berada di rumah dan salah seorang dari kami berteriak, “Berpelukan!” Mendengar itu, biasanya kami segera berkumpul di dapur, lalu saya memeluk anak-anak dan suami saya melingkarkan lengannya di sekeliling kami. Inilah cara kami menunjukkan kasih sayang dan menikmati suatu momen singkat dalam kebersamaan keluarga.

Walaupun kami menikmati momen berpelukan bersama yang sesekali waktu tersebut, tidaklah selalu mudah untuk mempertahankan kesatuan tersebut di antara kami. Bagaimanapun, setiap pribadi di dalam keluarga kami itu unik. Masing-masing dari kami memiliki kebutuhan, kemampuan, dan sudut pandang yang berbeda—demikian juga dalam keluarga Allah (Ef. 4:11-12).

Meski ada perbedaan yang tak terelakkan dengan saudara seiman lainnya, Paulus mendorong kita untuk berusaha “memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera” (ay.3). Keselarasan dengan orang Kristen lainnya itu penting karena hal tersebut mencerminkan kesatuan antara Yesus dengan Bapa-Nya di surga. Yesus mendoakan pengikut-pengikut-Nya: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau” (Yoh. 17:21).

Ketika masalah muncul di tengah keluarga Allah, Alkitab berkata bahwa kita harus menanggapinya dengan “rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Ef. 4:2). Inilah cara untuk mengalami kebersamaan keluarga dengan saudara seiman kita. —JBS

Aku berdoa, ya Allah, singkapkanlah
Apabila aku telah membawa perpecahan,
Karena Kau menghendaki anak-anak-Mu bersatu
Dalam pujian dan kasih kepada Putra-Mu. —Branon

Hati kita semua diikat dalam kesatuan oleh kasih Kristus.

Paduan Suara Yang Unik

Sabtu, 1 September 2012

Paduan Suara Yang Unik

Baca: Roma 15:5-13

Sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. —Roma 15:6

Ketika Mitch Miller meninggal pada bulan Juli 2010, banyak yang mengenangnya sebagai orang yang mengajak setiap orang ikut bernyanyi bersama. Dalam program televisinya yang populer tahun 1960-an, Sing Along with Mitch (Bernyanyi Bersama Mitch), suatu paduan suara pria akan menyanyikan lagu-lagu populer sementara liriknya muncul di layar sehingga para penonton dapat ikut bernyanyi bersama. Berita kematian di surat kabar Los Angeles Times menuliskan bahwa Miller yakin salah satu alasan programnya sukses adalah karena daya tarik dari paduan suara itu: “Saya sengaja memilih penyanyi yang tinggi, pendek, botak, bulat, gemuk—siapa saja, tanpa melihat bentuk tubuhnya. Mereka adalah orang-orang biasa.” Dari keanekaragaman yang disatukan itulah muncul musik indah yang mengundang setiap orang untuk ikut bernyanyi bersama.

Dalam Roma 15, Paulus mendorong terjadinya kesatuan di antara para pengikut Kristus—“sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (ay.6). Dengan mengutip beberapa bagian Perjanjian Lama, Paulus berbicara tentang bagaimana bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi bersama-sama memuji Tuhan (ay.9-12). Kesatuan yang tadinya dianggap mustahil terjadi telah menjadi kenyataan ketika orang-orang yang sebelumnya jauh terpisah mulai bersama bersyukur kepada Allah atas kasih karunia-Nya yang nyata dalam Kristus. Sama seperti mereka, kita semua juga dipenuhi oleh sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan “oleh kekuatan Roh Kudus” (ay.13).

Kini kita tergabung dalam “paduan suara” yang unik dan merupakan suatu hak istimewa bagi kita untuk dapat bernyanyi bersama. —DCM

Tuhan, kami bersyukur dapat menjadi bagian dari keluarga-Mu.
Tolong kami untuk dapat hidup dalam kesatuan dengan saudara
seiman di dalam Kristus sehingga orang lain dapat melihat betapa
besar kasih-Mu dan ingin mengenal-Mu juga. Amin.

Kesatuan di antara orang percaya datang dari kesatuan kita dengan Kristus.

Lagu: Satu Di Dalam Kristus

Lagu diciptakan dan dinyanyikan oleh Desy Cobena

Shalom. Mau sharing sebuah lagu yang terinspirasi dari Saat Teduh pagi ini yang terambil dari 1 Korintus 12:18-27. Semoga bisa menjadi berkat buat kita semua.


Mata tak dapat berkata, “Aku tak butuh kau, tangan.”
Kepala tak dapat berkata, “Aku tak butuh kau, kaki.”

Aku dan kamu satu di dalam Kristus
Saling mengasihi dan saling peduli
Kita semua satu di dalam Kristus
Saling menopang dalam mengikut Dia

Mata, mulut, kaki, tangan semua satu
Batak, Padang, Jawa, Manado semua satu
Sehati dan sepikir di dalam Kristus
Satu, satu dalam Kristus

Ayo Bersatu!

Sabtu, 14 April 2012

Ayo Bersatu!

Baca: Efesus 4:1-16

Dari pada-Nyalah seluruh tubuh—yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu . . . —menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih. —Efesus 4:16

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan bertanya-tanya bagaimana mungkin semut api, yang massa tubuhnya lebih padat dari air, dapat bertahan hidup dari banjir yang seharusnya menghancurkan mereka. Bagaimana caranya seluruh anggota koloni semut itu bergabung dan menyusun semacam rakit penyelamat yang dapat mengapung selama berminggu-minggu? Sebuah artikel di Los Angeles Times memaparkan bahwa para ilmuwan dari Institut Teknologi Georgia menemukan adanya rambut-rambut mungil pada tubuh semut yang dapat menahan gelembung udara. Hal ini memampukan ribuan serangga, “yang akan menggelepar dan bergulat di dalam air jika sendirian”, untuk bisa mengatasi banjir dengan cara saling bergandengan.

Perjanjian Baru sering kali berbicara mengenai kebutuhan kita untuk saling terhubung dengan pengikut Kristus lainnya agar kita mampu bertahan dan bertumbuh secara rohani. Dalam Efesus 4, Paulus menulis, “Kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran,” Ia menambahkan, “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh,—yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (ay.14-16).

Jika kita sendirian, kita akan tenggelam; tetapi ketika kita berpadu dan bertumbuh bersama di dalam Tuhan, kita bisa mengatasi setiap badai yang menghadang. Ayo bersatu! —DCM

Kita tak bisa lari dari badai kehidupan,
Walau digoncang kita akan selamat;
Asal kita bersatu hadapi pergolakan,
Dalam kuasa Allah alami kemenangan. —Hess

Umat Kristen teguh berdiri ketika mereka bersatu.

Berbagi Ruang

Minggu, 25 Maret 2012

Baca: 1 Korintus 12:12-27

Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. —1 Korintus 12:22

Ada jutaan orang yang menjalankan usaha mandiri di luar rumah mereka. Namun ada di antara mereka yang merasa bahwa bekerja sendirian membuat mereka kesepian. Untuk menyediakan komunitas bagi mereka yang kesepian ini, maka dirancang gedung kantor bersama. Gedung-gedung besar disewakan kepada umum di mana orang yang bekerja sendirian bisa berbagi ruang dengan orang lain. Mereka punya ruang kerja masing-masing, tetapi mereka juga dapat saling bertukar gagasan dengan rekan usaha mandiri yang lain. Fasilitas ini ditujukan bagi mereka yang merasa bisa bekerja lebih baik ketika mereka bersama-sama daripada sendirian.

Terkadang orang Kristen berpikir bahwa mereka bisa bekerja lebih baik dengan mengerjakannya sendiri. Namun kita memang dimaksudkan untuk bekerja sama dengan sesama kita di gereja. Orang Kristen telah ditempatkan dalam “tubuh Kristus” (1 Kor. 12:27), dan Tuhan menghendaki agar kita mengambil bagian dalam persekutuan orang percaya di mana kita ditempatkan—menggunakan karunia rohani kita dan bekerja sama dalam pelayanan-Nya.

Namun karena beragam alasan, ada yang tak bisa melibatkan diri. Karena masalah kesehatan, mereka terkungkung di rumah atau tidak tahu bagaimana bisa memberi diri melayani di gereja. Namun mereka adalah bagian yang dibutuhkan dari tubuh Kristus (ay. 22-25). Itulah saatnya kita bisa memenuhi kebutuhan mereka akan kebersamaan. Mari kerjakan bagian kita sehingga orang lain bisa merasakan bahwa mereka adalah bagian yang tak terpisahkan dari persekutuan orang percaya. Bekerja bersama lebih baik daripada bekerja sendiri. —AMC

UNTUK DIRENUNGKAN
Apa yang bisa Anda lakukan untuk menolong orang lain merasa
sebagai bagian dari persekutuan gereja Anda? Kunjungi mereka,
berdoa dengan mereka, membaca Alkitab bersama, kirimi surat, atau
mengundang mereka untuk melayani orang lain bersama Anda.

Persekutuan membangun dan mengikat kita bersama.

Membuat Musik

Minggu, 5 Februari 2012

Baca: 1 Korintus 3:1-17

Tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh . . . . Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. —Efesus 5:18-19

Pada suatu malam yang indah di musim panas, sejumlah orang berkumpul di tempat terbuka yang indah untuk menghadiri konser musik dari salah seorang teman kuliah saya. Hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya, jadi si pembawa acara memberikan isyarat tersembunyi supaya hadirin menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuknya. Satu per satu, orang-orang mulai bernyanyi, setiap orang dengan kunci nada dan tempo yang berbeda. Tidak heran, paduan kata dan nada yang serba acak-acakan itu terdengar tidak harmonis, bahkan sumbang. Hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Ketika teman saya naik ke panggung, ia memberi kami kesempatan sekali lagi untuk menyanyi. Ia memang tidak memberi kami aba-aba, tetapi ia memberikan nada dasarnya, jadi setidaknya kami dapat bernyanyi dengan serempak. Sepanjang lagu itu, hampir semua dari kami kurang lebih menyanyikannya dengan kunci nada yang sama.

Kekacauan dalam upaya bernyanyi bersama itu mengingatkan saya tentang masalah di gereja pada abad pertama. Mereka berselisih tentang pemimpin mereka. Sebagian mengikut Paulus; yang lainnya mengikut Apolos (1 Kor. 3:4). Akibatnya, terjadi konflik dan perpecahan (ay.3). Alih-alih menciptakan musik, mereka justru membuat kekacauan. Ketika orang-orang tidak dapat bersepakat tentang pemimpin mereka, mereka semua “bernyanyi” (saya katakan dengan kiasan) dengan kecepatan dan tinggi nada semau mereka sendiri.

Untuk menciptakan musik indah yang akan menarik orang yang belum percaya kepada Yesus, semua orang percaya harus mengikuti pemimpin yang sama, dan pemimpin itu haruslah Kristus. —JAL

Tuhan, beri kami hikmat. Kami tahu memang baik kami mengikuti
teladan par
a pemimpin kami yang saleh, tetapi tolong kami untuk
tidak memandang mereka terlalu tinggi sehingga kami memuja mereka
dan bukan memuja Engkau. Amin.

Keselarasan dengan Kristus akan menjaga keharmonisan di dalam gereja.