Pos

Bertolak Belakang

Minggu, 26 Maret 2017

Bertolak Belakang

Baca: Roma 14:1-12

14:1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya.

14:2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.

14:3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu.

14:4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

14:5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.

14:6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.

14:7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri.

14:8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

14:9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

14:10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.

14:11 Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.”

14:12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? —Roma 14:4

Bertolak Belakang

Seorang guru tamu dari Amerika Utara mendapat pelajaran berharga saat mengajar para mahasiswa dari Asia Tenggara. Setelah memberikan ujian yang berisi soal-soal pilihan ganda kepada mahasiswanya, ia merasa heran melihat banyaknya pertanyaan yang tidak dijawab. Saat mengembalikan lembar-lembar jawaban yang telah dikoreksi, ia menyarankan agar lain kali sebaiknya mereka menebak saja apa yang kira-kira menjadi jawabannya, daripada tidak menjawab sama sekali. Seorang mahasiswa yang terkejut mengangkat tangan dan bertanya, “Bagaimana jika saya secara kebetulan memberikan jawaban yang benar? Itu berarti saya memberikan kesan bahwa saya tahu jawabannya, padahal sebenarnya tidak.” Mahasiswa dan guru itu mempunyai sudut pandang dan penerapan yang berbeda.

Di masa Perjanjian Baru, para petobat dari latar belakang Yahudi dan bukan Yahudi mengenal Kristus dengan membawa sudut pandang masing-masing yang sangat bertolak belakang. Karena itulah mereka kemudian berbeda pendapat tentang hal-hal tertentu, seperti hari-hari ibadah dan apa saja yang boleh atau tidak boleh dimakan atau diminum oleh seorang pengikut Kristus. Rasul Paulus mendorong mereka untuk mengingat satu fakta yang penting: Tidak seorang pun dapat mengetahui atau menghakimi keyakinan hati orang lain.

Untuk menjaga keharmonisan dengan saudara-saudari seiman, Allah mendorong kita untuk menyadari bahwa kita semua bertanggung jawab kepada Tuhan, dan harus bertindak sesuai dengan firman-Nya dan hati nurani kita. Namun demikian, hanya Dia yang berhak menghakimi sikap hati kita (Rm. 14:4-7). —Mart DeHaan

Bapa di surga, ampunilah kami karena kami cenderung menghakimi keyakinan hati orang lain yang berbeda sudut pandang dengan kami.

Hendaklah kamu lebih dahulu mengintrospeksi diri sendiri sebelum menghakimi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 22-24; Lukas 3

Artikel Terkait:

5 Tips Menghentikan Kebiasaan Bergosip

Bergosip mungkin adalah hal yang sangat menyenangkan bagi kita. Bahkan ada perkataan yang mengatakan, “makin digosok, makin sip!” Namun, tentunya kita tahu bahwa kebiasaan bergosip ini tidaklah baik.

Berikut 5 tips yang akan membantumu menghentikan kebiasaan bergosip.

Kesatuan yang Indah

Rabu, 7 Desember 2016

Kesatuan yang Indah

Baca: Efesus 4:1-6

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Kesatuan yang Indah

Kesempatan melihat tiga ekor binatang predator besar bermain dan bercengkerama memang sangat tidak lazim. Namun itulah yang berlangsung sehari-hari dalam suaka margasatwa di Georgia, Amerika Serikat. Pada tahun 2001, setelah berbulan-bulan ditelantarkan dan diperlakukan semena-mena, seekor singa, seekor harimau Bengal, dan seekor beruang hitam diselamatkan oleh Noah’s Ark Animal Sanctuary (Suaka Margasatwa Bahtera Nuh). “Kami bisa saja memisahkan ketiganya,” ujar asisten direktur suaka itu. “Namun karena mereka sudah seperti sebuah keluarga saat dibawa ke sini, kami memutuskan untuk tetap menyatukan mereka di satu tempat yang sama.” Ketiganya telah merasa nyaman bersama-sama selama pengalaman buruk yang pernah mereka jalani, sehingga meskipun berbeda, ketiganya hidup bersama dengan damai.

Kesatuan adalah hal yang sungguh indah. Namun kesatuan yang ditulis Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus bersifat khusus. Paulus mendorong umat Tuhan di Efesus untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka sebagai anggota dari satu tubuh dalam Kristus (Ef. 4:4-5). Dengan kuasa Roh Kudus, mereka akan dapat hidup dalam kesatuan sembari mengembangkan sikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Sikap-sikap itu juga menolong kita untuk “saling membantu” dalamkasih melalui kesamaan yang kita miliki dalam Kristus Yesus (4:2).

Meskipun kita berbeda-beda, sebagai anggota keluarga Allah kita telah diperdamaikan dengan Dia melalui kematian Juruselamat kita, dan diperdamaikan dengan satu sama lain melalui karya Roh Kudus yang terus berlangsung dalam hidup kita. —Marvin Williams

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk mengembangkan sikap lemah lembut dan sabar terhadap sesama. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana seharusnya mengasihi orang lain, walaupun ada perbedaan di antara kami.

Kita memelihara kesatuan dengan terus bersatu di dalam Roh.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5-7; 2 Yohanes

Artikel Terkait:

4 Pelajaran Penting Dalam Pernikahan

Berikut ini beberapa pelajaran penting yang Henry dapatkan selama delapan tahun berumah tangga. Semoga bermanfaat bagi kamu yang sedang memikirkan untuk berumah tangga atau yang sedang menjalaninya.

Dipersatukan

Minggu, 1 Februari 2015

Dipersatukan

Baca: Efesus 4:5-16

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

4:8 Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia."

4:9 Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah?

4:10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik. —Efesus 2:10

Dipersatukan

Janet, istri saya, memberikan hadiah gitar baru tipe Dreadnought D-35 untuk ulang tahun saya yang ke-65. Gitar Dreadnought yang diproduksi pertama kalinya pada awal abad ke-20 itu berukuran lebih besar daripada gitar-gitar yang umumnya diproduksi pada masa itu. Gitar Dreadnought juga terkenal karena bunyi dentingnya yang mantap dan keras. Nama gitar tersebut diambil dari nama kapal perang utama milik Kerajaan Inggris pada Perang Dunia I, yaitu HMS Dreadnought. Ada yang unik pada sisi belakang gitar D-35 itu. Karena langkanya kayu rosewood berkualitas tinggi yang berukuran lebar, para pengrajin secara inovatif menggabungkan tiga potongan kecil kayu menjadi satu, sehingga dihasilkan suatu bunyi yang terdengar lebih kaya.

Karya ciptaan Allah ternyata banyak memiliki kesamaan dengan rancangan gitar yang inovatif itu. Yesus mengambil beragam potongan kecil dan mempersatukan semua itu dengan maksud untuk memuliakan-Nya. Yesus merekrut para pemungut cukai, pejuang Yahudi garis keras, nelayan, dan yang lain untuk menjadi pengikut-Nya. Bahkan, dari abad ke abad, Kristus terus memanggil orang-orang dari beragam latar belakang kehidupan. Rasul Paulus mengatakan, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh,—yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota—menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef. 4:16).

Di tangan Sang Ahli, banyak orang dipersatukan dan dibentuk menjadi karya-Nya yang pasti akan membawa kemuliaan kepada Allah dan berguna dalam pelayanan bagi sesama. —HDF

Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah menempatkan kami
dalam keluarga-Mu—bahwa Engkau memakai kami
masing-masing dan bersama-sama untuk memuliakan-Mu.
Tolonglah kami untuk hidup dalam kuasa-Mu.

Kita dapat mencapai lebih banyak dengan bergotong-royong daripada melakukannya sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 27-28; Matius 21:1-22

Perisai Baru

Oleh: Tini Telnoni
perisai-baru

ku langkahkan kaki ini
tegap bersama perisai keangkuhan
menatap ke depan dengan penuh keyakinan
tak peduli yang terlibas di sana sini
aku terus melangkah
melangkah
dan melangkah
perisai ini pelindungku

hingga akhirnya aku tersandung
jatuh di atas duri dan batu-batu
pecah perisaiku
tak dapat lagi lindungiku
aku menjerit perih
sakitnya tak tertahankan
inikah aku?
mana hebatku?

namun hari itu juga
dunia kecil yang di sekelilingku terlihat jelas
mereka yang merawat lukaku dengan perhatian
yang melantunkan namaku dalam doa
yang mewarnai hariku dengan senyuman
ambisiku yang pernah melibas mereka
dibalas dengan kasih yang menghangatkan jiwa

bukan tanpa alasan aku tersandung
dan pecah perisai andalanku
Dia yang menyayangiku telah menyelamatkanku
dari keangkuhan yang membuat hati beku
kasih-Nya kini jadi perisaiku
perisai yang akan selalu melindungiku
dan orang-orang di sekelilingku
selamanya

Tidak Ada Gereja yang Sempurna

Oleh: Gracea Elyda S Sembiring

tidak-ada-gereja-sempurna

Masih teringat jelas dalam memori bagaimana aku pertama kali dimuridkan dalam sebuah PMK. Saat itu aku baru pertama kali merantau. Senang rasanya bisa jadi bagian dalam persekutuan itu. Sikap-sikapku banyak yang diubahkan melaluinya.

Namun, mungkin karena melihat banyak hal yang baik dalam persekutuan di kampus itu, aku mulai tidak puas dengan gerejaku sendiri. Aku tidak lagi tertarik beribadah di sana. Aku mulai mempermasalahkan sistem pelayanan di gereja, dan berdebat dengan orangtuaku yang melayani di sana.

Awalnya, aku semangat ingin membawa perubahan. Aku suka menanyakan bagaimana saat teduh teman-teman di gereja, apakah ada hal yang bisa kudoakan untuk mereka. Tapi, aku malah dianggap sok suci. Pernah aku coba menawarkan bahan saat teduh yang dapat mereka gunakan, tanpa dikenakan biaya, tapi ditolak. Aku kecewa berat. Apalagi saat kemudian aku melihat bagaimana kehidupan para pengurus di gereja. Mulailah aku menghakimi mereka. Aku mengkritik cara rapat mereka, ketidaktepatan waktu mereka, pergaulan mereka, studi mereka, dan sebagainya.

Tuhan menegurku melalui sebuah buku yang ditulis oleh Rick Warren, The Purpose Driven Life. Dalam bab yang ke-21 dari buku itu, sebuah kalimat menyentakku: “Adalah tanggung jawabmu untuk melindungi kesatuan gerejamu”. Kesatuan adalah jiwa persekutuan. Dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum ditangkap, inilah yang menjadi doa Yesus bagi murid-murid-Nya. Kasih dan kesatuan dalam tubuh Kristus adalah suatu kesaksian yang sangat kuat bagi dunia. Jika aku meninggalkan gereja hanya karena perbedaan yang kulihat, bukankah itu tindakan yang sangat bodoh dan tidak dewasa? Aku memang masih bertahan di gereja itu, namun sikapku sinis dan penuh kritik. Dalam hati aku berkata, “Aku akan tetap beribadah di sini, tapi tidak akan terlibat dalam pelayanan.” Tuhan menyadarkanku, betapa mengerikannya sikapku saat itu. Sombong, dan sangat tidak dewasa. Betapa aku perlu belajar tentang makna persekutuan yang sejati.

Dalam buku yang sama, Warren menasihati setiap orang Kristen untuk bersikap realistis dengan harapan-harapan yang kita miliki. Kita harus mengingat bahwa gereja dibentuk dari orang-orang berdosa, termasuk diri kita sendiri. Sebab itu, bisa saja kita saling melukai, entah itu secara sengaja maupun tidak. Wajar jika kita kecewa, mengalami konflik, atau merasa tidak puas. Namun, meninggalkan gereja bukanlah solusi untuk kekecewaan atau ketidakpuasan kita. Saat kita pindah ke gereja lain, kita mungkin akan kecewa lagi, karena memang tidak ada gereja yang sempurna. Akan lebih menolong jika kita tidak “lari” dari masalah, tetapi justru menghadapi masalah tersebut. Bila ada konflik, bereskan hingga tuntas. Jika sebuah gereja harus sempurna untuk memuaskan kita, kesempurnaan itu akan melarang kita untuk menjadi anggotanya, karena kita sendiripun tidak sempurna.

Saat ini aku melanjutkan studi di Surabaya dan aktif di salah satu gereja. Bersyukur bahwa aku bisa menikmati hubungan persahabatan yang baik dengan orang-orang di gereja ini. Aku mendapat kesempatan melayani, dan bahkan membagikan pengalaman pelayananku di PMK dulu. Dengan kasih, bukan penghakiman, orang-orang ternyata lebih terbuka untuk bertumbuh. Beberapa rekan kini bahkan menyatakan kerinduan mereka untuk memulai pemuridan di gereja, dan mulai membawa hal itu sebagai wacana dalam rapat-rapat pengurus!

Mungkin banyak di antara kita yang ingin berbuat sesuatu di gereja kita, tapi terhalang oleh perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. Mari ambil satu langkah untuk masuk di tengah gereja. Bukan untuk menghakimi dan menunjukkan bahwa kita lebih baik dari orang lain, tetapi untuk menjadi garam di sana, bertumbuh bersama. Mari bersyukur atas persekutuan yang kita miliki. Tuhan sudah menempatkan kita di sana, Dia juga yang akan berkarya di tengah persekutuan anak-anak-Nya.

Dietrich Bonhoeffer pernah menulis: “orang yang lebih menyukai impiannya akan sebuah komunitas Kristen daripada komunitas Kristen itu sendiri menjadi para perusak komunitas Kristen… mungkin yang kita dapatkan dalam persekutuan dengan sesama orang Kristen bukanlah pengalaman yang hebat atau hal-hal yang memperkaya hidup kita, tetapi justru banyak kekurangan, iman yang lemah, dan kesulitan. Namun, bila kita tidak mengucap syukur setiap hari atas persekutuan yang kita miliki, dan sebaliknya terus mengeluh kepada Tuhan betapa picik dan tidak bergunanya segala hal dalam persekutuan itu, kita sebenarnya sedang menghalangi Tuhan untuk membuat persekutuan kita bertumbuh …”

Kiranya Tuhan menolong kita untuk makin mencintai gereja-Nya.

Adakah Yang Bernyanyi?

Minggu, 17 Agustus 2014

Adakah Yang Bernyanyi?

Baca: Yohanes 17:20-26

17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."

Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:2-3

Adakah Yang Bernyanyi?

Dari sekitar 320 km di atas bumi, Chris Hadfield, seorang astronot asal Kanada dan komandan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, ikut bernyanyi bersama sekelompok murid yang berada dalam sebuah studio di bumi. Bersama-sama mereka menyanyikan lagu Is Somebody Singing (Adakah Yang Bernyanyi), yang ditulis oleh Hadfield dan Ed Robertson.

Salah satu frasa dari lagu itu menarik perhatian saya, “Tak ada pembatas yang terlihat dari luar angkasa ini.” Meskipun sebagai manusia kita membuat banyak pembatas untuk memisahkan diri kita dari satu sama lain—menurut kebangsaan, suku, ideologi—lagu itu mengingatkan saya bahwa Allah tidak melihat batasan-batasan tersebut. Yang penting bagi Allah adalah bahwa kita mengasihi Dia dan sesama (Mrk. 12:30-31).

Bagaikan seorang bapa yang penuh kasih, Allah menginginkan umat-Nya bersatu. Kita tidak dapat menggenapi apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan apabila kita enggan hidup dalam perdamaian. Dalam doa-Nya yang amat mendalam, pada malam sebelum Dia disalibkan, Yesus memohon kepada Bapa demi kesatuan dari para pengikut-Nya, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita” (Yoh. 17:21).

Bernyanyi merupakan suatu bentuk kesatuan karena kita menaikkan lirik, nada, dan irama lagu yang sama. Bernyanyi juga mempererat kesatuan karena nyanyian itu menyatukan kita bersama dalam perdamaian, mengumandangkan kuasa Allah melalui pujian, dan menunjukkan kemuliaan Allah kepada dunia ini. —JAL

Beribu lidah patutlah
Memuji Tuhanku,
Dan mewartakan kuasa-Nya,
Dengan kidung merdu. —Wesley
(Kidung Jemaat, No. 294)

Menyanyikan pujian bagi Allah takkan pernah ketinggalan zaman.

Ikatan Bersama

Minggu, 3 Agustus 2014

Ikatan Bersama

Baca: Efesus 2:11-18

2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —

2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.

2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat",

2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

Kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. —Galatia 3:28

Ikatan Bersama

Saat membutuhkan seorang tukang kunci untuk membuka mobil saya, saya mendapatkan sebuah kejutan yang menyenangkan. Setelah si tukang datang dan mulai membuka pintu mobil Ford mungil milik saya, kami mulai berbincang-bincang dan saya mengenali logatnya yang khas dan tidak asing di telinga saya.

Ternyata orang yang telah menolong saya itu berasal dari Jamaika—sebuah negeri yang sering saya kunjungi dan saya cintai. Hal itu mengubah sebuah peristiwa yang negatif menjadi pengalaman yang positif. Kami dapat menikmati kebersamaan tersebut sedikit banyak karena kecintaan kami yang sama terhadap negeri pulau yang indah itu.

Peristiwa tersebut mengingatkan saya akan suatu kebersamaan yang lebih indah, yaitu sukacita yang dialami saat berkenalan dengan seseorang dan mendapati bahwa ia juga beriman kepada Kristus.

Peristiwa itu mungkin umum terjadi di tempat-tempat dengan jumlah orang Kristen yang cukup banyak. Namun di wilayah-wilayah tertentu di mana orang percaya tidak begitu banyak, bertemu dengan seseorang yang juga mengasihi Yesus tentu membawa sukacita yang lebih besar. Alangkah indahnya mengalami bersama suatu kenyataan yang luar biasa bahwa kita telah dimerdekakan dari dosa oleh Kristus!

Semua orang yang mengenal Yesus masuk dalam suatu ikatan bersama, suatu kesatuan dalam Kristus (Gal. 3:28), suatu persekutuan penuh sukacita yang dapat menerangi masa-masa hidup kita yang paling gelap sekalipun. Syukur kepada Allah karena Dia telah mengumpulkan semua orang yang mengenal-Nya sebagai Juruselamat dalam satu ikatan yang indah. —JDB

Betapa ajaibnya, Tuhan, karena Engkau dapat mengumpulkan
orang-orang dari segala suku, bahasa, dan bangsa
untuk bersatu dalam Kristus—untuk saling berbagi
dalam ikatan cinta dan kasih kepada Yesus.

Persekutuan iman membangun dan menyatukan kita.

Mendorong Kesatuan

Minggu, 23 Maret 2014

Mendorong Kesatuan

Baca: Amsal 6:16-19

6:16 Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:

6:17 mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

6:18 hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,

6:19 seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Yang dibenci TUHAN . . . seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara. —Amsal 6:16,19

Mendorong Kesatuan

Nada ucapan yang digunakan dalam Amsal 6:16-19 sungguh tegas. Termasuk dalam daftar tujuh hal yang dibenci Tuhan adalah seseorang yang “menimbulkan pertengkaran saudara”. Alasan hal tersebut dicantumkan adalah karena dosa itu merusak kesatuan yang dikehendaki Kristus dari para pengikut-Nya (Yoh. 17:21-22).

Mereka yang menimbulkan pertengkaran mungkin pada awalnya tidak bermaksud untuk menciptakan perpecahan. Perhatian mereka mungkin tersita untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau kepentingan kelompok mereka sendiri (Yak. 4:1-10). Contohnya ketika para gembala Lot berselisih dengan para gembala Abraham (Kej. 13:1-18); para murid Kristus berselisih mengenai siapa yang terbesar di antara mereka (Luk. 9:46); dan golongan-golongan dalam jemaat Korintus yang menonjolkan diri mereka masing-masing di atas kesatuan dalam Roh (1Kor. 3:1-7).

Jadi apakah cara yang terbaik untuk mendorong kesatuan? Semua itu harus dimulai dengan perubahan hati. Ketika kita memiliki pikiran Kristus, kita akan mengembangkan sikap rendah hati dan mengutamakan kepentingan sesama (Flp. 2:5-11). Hanya dalam Dia, kita akan dimampukan untuk tidak “hanya memperhatikan kepentingan [kita] sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (ay.4). Barulah kemudian kebutuhan dan harapan orang lain menjadi lebih penting daripada kebutuhan dan harapan kita sendiri.

Seiring bertambah eratnya ikatan kasih, kita akan mengalami bagaimana pertengkaran tergantikan oleh sukacita dan kesatuan (lihat Mzm. 133:1). —HDF

Bagai laskar jaya G’reja maju t’rus
Di jejak teladan saksi yang kudus.
Kita satu tubuh yang kudus dan am;
Satu pengharapan, satu pun iman. —Baring-Gould
(Kidung Jemaat, No. 339)

Bersama kita bisa mencapai lebih daripada kita sendirian.

Memelihara Kesatuan

Minggu, 9 Februari 2014

Memelihara Kesatuan

Baca: Efesus 4:1-6

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. —Efesus 4:3

Memelihara Kesatuan

Alkisah, seorang pria yang sudah lama terdampar sendirian di sebuah pulau akhirnya ditemukan. Regu penyelamat bertanya kepada pria itu tentang tiga pondok yang mereka lihat di pulau tersebut. Pria itu menunjuk masing-masing pondok itu dan berkata, “Yang itu rumah saya dan yang itu gereja saya.” Ia kemudian menunjuk ke arah pondok yang ketiga: “Kalau itu gereja saya yang sebelumnya.” Meskipun kita mungkin menertawakan kekonyolan cerita ini, tetapi cerita ini memang menyoroti suatu masalah tentang kesatuan di antara orang percaya.

Jemaat di Efesus pada masa pelayanan Rasul Paulus terdiri dari orang kaya dan orang miskin, kaum Yahudi dan non-Yahudi, pria dan wanita, para tuan dan budak. Seperti pada umumnya, di mana ada perbedaan, di sana pula ada pergesekan. Salah satu permasalahan yang disebutkan Paulus dalam tulisannya adalah perihal kesatuan. Namun, cermatilah perkataan Paulus tentang masalah ini dalam Efesus 4:3. Ia tidak mendorong mereka untuk “giat menciptakan atau membangun kesatuan.” Ia memerintahkan mereka untuk berusaha “memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” Kesatuan itu telah ada karena umat percaya diikat bersama oleh satu tubuh, satu Roh, satu pengharapan, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, dan satu Allah dan Bapa dari semua (ay.4-6).

Bagaimana caranya kita “memelihara kesatuan”? Dengan cara mengemukakan pendapat dan keyakinan kita yang berbeda-beda dengan sikap rendah hati, lemah lembut, dan sabar (ay.2). Roh Kudus akan memberikan kepada kita kuasa untuk bertindak penuh kasih saat menghadapi orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita. —AL

Tuhan, kiranya perilaku dan pelayanan kami menggambarkan
kesatuan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus di surga.
Penuhilah kami dengan buah Roh agar kami dapat mengasihi
sesama kami sebagaimana Engkau menghendakinya.

Kesatuan di antara umat Tuhan didasari oleh kesatuan kita dengan Kristus.