Posts

Surat Hidup

Sabtu, 23 November 2013

Surat Hidup

Baca: 2 Korintus 3:1-11

Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup. —2 Korintus 3:3

Pada bulan November 1963, di hari yang sama ketika Presiden John F. Kennedy ditembak mati, ada seorang pemimpin lain juga wafat, yakni Clive Staples Lewis. Cendekiawan lulusan Oxford yang telah berpaling dari paham ateisme dan kemudian menjadi seorang Kristen ini merupakan seorang penulis yang sangat produktif. Dari goresan penanya, lahirlah karya-karya intelektual, fiksi ilmiah, dongeng anak-anak, dan tulisan-tulisan lain yang kental dengan nilai-nilai iman Kristen. Buku-buku karya C. S. Lewis telah dipakai Allah untuk membawa banyak orang kepada pertobatan, termasuk seorang politikus dan seorang ilmuwan pemenang Hadiah Nobel.

Ada sebagian orang yang merasa terpanggil untuk memberitakan kabar tentang Kristus kepada sesamanya melalui tulisan mereka, tetapi seluruh orang percaya dipanggil untuk menjadi “surat Kristus” melalui cara kita menjalani hidup. Rasul Paulus berkata, “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (2Kor. 3:3).

Tentu saja Paulus tidak bermaksud mengatakan bahwa kita sungguh-sungguh menjadi secarik kertas yang bertuliskan pesan-pesan Allah. Namun sebagai “surat-surat” yang hidup, kita dapat menyampaikan pesan tentang pengaruh yang diberikan Yesus Kristus dalam perlakuan kita terhadap sesama dan perjuangan kita untuk hidup jujur.

Mungkin hanya sedikit orang yang dapat memberikan pengaruh seperti yang telah diberikan oleh C. S. Lewis. Namun kita semua dipanggil untuk memuliakan Yesus, Pribadi yang begitu mengasihi kita dan telah menebus kita dari jerat dosa! —HDF

Ya Tuhan, Engkau telah memanggilku menjadi saksi-Mu di mana pun
Engkau menempatkan diriku. Setiap hari hidupku dilihat sesama.
Tolonglah aku untuk menjalani hidup yang mendorong orang lain
mau mengenal Engkau dan hidup limpah yang Kau tawarkan.

Kita merupakan “surat pujian” Kristus bagi semua yang membaca hidup kita.

Menjadi Saksi

Kamis, 10 Oktober 2013

Menjadi Saksi

Baca: Kisah Para Rasul 1:1-9

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku. —Kisah Para Rasul 1:8

Ketika saya masih remaja, saya pernah menyaksikan sebuah kecelakaan mobil. Pengalaman itu sendiri begitu mengejutkan, dan semakin diperburuk dengan apa yang harus saya jalani selanjutnya. Sebagai satu-satunya saksi atas kecelakaan itu, saya menghabiskan bulan-bulan berikutnya untuk berbicara dengan serentetan pengacara dan petugas asuransi tentang apa yang telah saya lihat. Saya tidak diminta untuk menjelaskan keadaan fisik dari mobil yang hancur atau rincian dari trauma medisnya. Saya diminta untuk hanya mengatakan apa yang telah saya saksikan.

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saksi atas apa yang telah Yesus lakukan di dalam kita dan bagi kita. Untuk menuntun orang kepada Kristus, kita tidak perlu dapat menjelaskan setiap persoalan teologis atau menjawab setiap pertanyaan. Yang harus kita lakukan adalah menjelaskan apa yang telah kita saksikan di dalam hidup kita sendiri melalui salib dan kebangkitan Juruselamat kita. Luar biasanya lagi, kita tidak perlu bergantung kepada diri kita sendiri untuk melakukannya. Yesus berkata, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).

Ketika kita bergantung kepada kuasa Roh Kudus, kita dapat membawa orang-orang yang terluka di tengah dunia ini kepada Kristus yang sanggup menebus mereka. Dengan pertolongan-Nya, kita bisa bersaksi tentang kuasa kehadiran-Nya dalam diri kita yang sanggup mengubahkan hidup! —WEC

‘Ku suka menuturkan cerita mulia,
Cerita Tuhan Yesus dan cinta kasih-Nya
‘Ku suka menuturkan cerita yang benar,
Penawar hati rindu, pelipur terbesar. —Hankey
(Kidung Jemaat, No. 427)

Kesaksian kita merupakan pernyataan dari apa yang telah Allah perbuat bagi kita.

Yang Baik Dan Yang Jahat

Minggu, 22 September 2013

Yang Baik Dan Yang Jahat

Baca: 1 Raja-Raja 14:7-16

Hamba-Ku Daud . . . mengikuti Aku dengan segenap hatinya. —1 Raja-Raja 14:8

Baru-baru ini, saya dan beberapa teman mulai mempelajari tokoh raja-raja dalam Perjanjian Lama. Ketika saya mencermati tabel yang kami gunakan, ternyata hanya sedikit pemimpin kerajaan Israel dan Yehuda yang diberi label baik, dan kebanyakan dari mereka diberi label jahat, lumayan jahat, sangat jahat, dan paling jahat.

Raja Daud digambarkan sebagai seorang raja yang baik, yang “mengikuti [Allah] dengan segenap hatinya” (1Raj. 14:8) dan sebagai teladan yang patut dicontoh (3:14; 11:38). Para raja yang jahat dicatat karena mereka dengan sengaja menolak Allah dan memimpin rakyatnya ke dalam penyembahan berhala. Raja Yerobeam, raja pertama yang memimpin Israel setelah kerajaan itu terbagi dua, dikenang sebagai salah seorang raja yang paling jahat—“karena Yerobeam telah berdosa dan menyebabkan orang Israel pun berdosa juga” (14:16 BIS). Karena teladan Yerobeam yang buruk, banyak raja yang meneruskan takhtanya kemudian dibandingkan dengannya dan digambarkan sebagai sama jahatnya dengan dirinya (16:2,19,26,31; 22:53).

Masing-masing dari kita mempunyai pengaruh yang unik terhadap orang-orang di sekitar kita, dan pengaruh tersebut dapat digunakan untuk kepentingan yang jahat atau kepentingan yang baik. Kesetiaan yang sungguh-sungguh kepada Allah akan menjadi sinar yang bercahaya terang dan meneruskan warisan yang baik kepada penerus kita.

Kita diberi hak istimewa untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kiranya orang lain melihat terang Tuhan bercahaya melalui diri kita dan terpikat oleh kebaikan-Nya. —CHK

Ya Tuhan, jadikan aku seperti Engkau,
Hidupku dipimpin oleh kuasa ilahi,
Kiranya aku jadi terang yang bercahaya
Selalu pancarkan anugerah-Mu yang bersinar. —Robertson

Terang sekecil apa pun tetap akan bersinar di malam yang paling gelap.

Hidup Yang Bersinar

Minggu, 15 September 2013

Hidup Yang Bersinar

Baca: Matius 5:3-16

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Menurut Federasi Bola Basket Internasional, bola basket merupakan olahraga terpopuler kedua di dunia, dengan sekitar 450 juta orang penggemar dari berbagai negara di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, di tengah semarak turnamen bola basket antarkampus tahunan pada bulan Maret, orang-orang sering teringat pada pelatih legendaris John Wooden. Selama 27 tahun melatih di UCLA, tim besutan Wooden berhasil meraih gelar Juara Nasional sebanyak 10 kali, suatu rekor yang tidak pernah dicapai tim lain. Namun saat ini, John Wooden yang telah wafat pada tahun 2010 itu tidak hanya dikenang oleh karena prestasi yang dicapainya, tetapi juga karena kepribadian dirinya.

Wooden menjalani kehidupan sesuai iman Kristennya dan memberikan perhatian yang tulus terhadap sesamanya di tengah suatu lingkungan yang sering mendewa-dewakan kemenangan. Dalam otobiografinya, They Call Me Coach (Mereka Menyebutku Pelatih), ia menulis, “Saya selalu mencoba untuk menegaskan bahwa bola basket bukanlah segala-galanya. Olahraga merupakan bagian yang tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan seluruh hidup yang kita jalani. Hanya ada satu hidup yang benar-benar bisa disebut kemenangan, dan itulah hidup yang beriman penuh kepada Sang Juruselamat. Sebelum hal itu terjadi, kita berada di suatu jalan yang berputar-putar tanpa tujuan yang jelas.”

John Wooden memuliakan Allah dalam segala hal yang ia lakukan, dan teladannya menantang kita untuk melakukan hal yang sama. Yesus mengatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). —DCM

Tunjukkan jalan-Mu, Tuhan, biar terangku bercahaya
Sebagai teladan yang baik bagi sesamaku;
Tolong mereka untuk melihat karya-Mu,
Terpancar indah dari sikap hidupku. —Neuer

Biarlah terangmu bercahaya—baik laksana lilin di sudut ruangan atau bagaikan mercusuar di atas bukit.

Menerangi Malam Gelap

Minggu, 8 September 2013

Menerangi Malam Gelap

Baca: Daniel 12:1-3

Orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. —Daniel 12:3

Pada satu malam yang sejuk di musim gugur ketika langit sudah gelap dan bulan bersinar penuh, ribuan orang di kota kelahiran saya berkumpul bersama di sepanjang tepi sungai untuk menyalakan lampion udara. Mereka melepaskan lampion-lampion udara itu kepada kegelapan malam dan terus menyaksikannya sementara lampion-lampion yang bercahaya itu membubung ke atas dan berpadu dengan cahaya bulan untuk menciptakan suatu pertunjukan mempesona yang mengubah langit gelap menjadi suatu karya seni yang gemerlap.

Waktu melihat rekaman lensa dari peristiwa itu, saya merasa kecewa karena saat itu saya sedang berada di luar kota dan tidak dapat melihat langsung kejadiannya. Namun beberapa hari kemudian saya menyadari bahwa apa yang terjadi di Grand Rapids dapat dipandang sebagai lambang dari suatu pertemuan yang saya hadiri di kota New York. Lebih dari 1.000 orang dari 100 kota di seluruh penjuru dunia datang berkumpul di sana untuk merancang suatu “karya seni”, yakni memikirkan cara-cara untuk menerangi kegelapan yang melingkupi kota mereka masing-masing melalui pendirian gereja dan penjangkauan kepada ribuan orang dengan Injil Kristus, Sang Terang dunia.

Nabi Daniel menulis tentang suatu masa ketika orang-orang yang telah menuntun sesamanya kepada Tuhan akan bersinar seperti bintang-bintang untuk selamanya (Dan. 12:3). Kita semua dapat ikut serta dalam peristiwa besar itu. Ketika kita memancarkan terang Kristus di tempat-tempat gelap di mana kita tinggal dan bekerja, Dia akan menerangi langit malam yang gelap dengan bintang-bintang yang tidak akan berhenti bersinar. —JAL

Aku ingin bersinar bagi-Mu di tengah duniaku, Tuhan. Tunjukkan
kepadaku bagaimana aku bisa meninggikan-Mu, Sang Terang dunia.
Aku menantikan harinya aku akan berkumpul bersama orang-orang
dari segala bangsa untuk bersujud di kaki-Mu dan menyembah-Mu.

Ketika Sang Terang dunia menyinari bumi, keindahan-Nya akan memikat orang dari segala bangsa.

Saksi Hidup

Rabu, 13 Maret 2013

Saksi Hidup

Baca: 2 Timotius 2:1-10

Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. —2 Timotius 2:8

Watchman Nee ditangkap karena imannya kepada Kristus pada tahun 1952, dan ia menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara. Ia meninggal di dalam sel penjaranya pada tanggal 30 Mei 1972. Ketika keponakannya datang untuk mengambil beberapa barang milik Nee, ia menerima secarik kertas yang ditemukan oleh penjaga penjara di ranjang pamannya. Pada kertas tersebut tertulis kesaksian hidup Nee:

“Kristus adalah Anak Allah yang mati untuk menebus manusia berdosa dan dibangkitkan kembali pada hari ketiga. Inilah kebenaran yang teragung di seluruh alam semesta. Aku mati karena imanku kepada Kristus—Watchman Nee.”

Tradisi menyebutkan bahwa Rasul Paulus juga mati sebagai martir karena imannya kepada Kristus. Dalam sebuah surat yang ditulis hanya beberapa saat sebelum kematiannya, Paulus mendorong para pembacanya demikian: “Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku. Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, . . . tetapi firman Allah tidak terbelenggu” (2Tim. 2:8-9).

Kita mungkin tidak dipanggil menjadi seorang martir karena kesaksian akan Kristus yang hidup—seperti yang sudah dialami oleh jutaan pengikut-Nya di sepanjang abad—tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi saksi hidup atas karya Yesus dalam diri kita. Dengan hati yang penuh syukur atas kasih karunia Allah, kita bisa menceritakan kepada orang lain apa yang telah Yesus lakukan bagi kita, bagaimana pun hasil akhirnya. —HDF

Memuliakan nama Kristus Tuhan,
Mengagungkan anugerah-Nya di dalam kita;
Memberitakan firman-Nya yang hidup—
Biarlah ini saja karya hidup kita. —Whittle

Biarlah hidup dan bibir kita bersaksi untuk Kristus.

Mereka Memperhatikan

Senin, 4 Maret 2013

Mereka Memperhatikan

Baca: Titus 3:1-8

Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. —Titus 3:2

Beberapa dekade telah berlalu sejak terjadinya peristiwa semasa SMA yang mengecewakan saya. Pada saat itu, bermain olahraga sangatlah penting bagi saya. Saya mencurahkan perhatian untuk bermain basket dan berlatih selama ratusan jam. Meski selalu menjadi anggota tim basket sejak SMP, saya gagal masuk ke tim basket SMA di tahun terakhir saya. Saya benar-benar kecewa.

Meski kecewa dan bingung, saya tetap berada dalam tim. Saya menonton, merekam statistik pertandingan, dan mencatat jumlah tembakan yang gagal atau yang berhasil dimasukkan teman-teman saya. Meski saya tak ikut bermain, tim kami berhasil mencapai semifinal dari kejuaraan di negara bagian kami. Terus terang, tak pernah terpikir tentang pendapat mereka ketika melihat sikap saya. Saya hanya berusaha menyibukkan diri. Oleh karena itu, saya terkejut baru-baru ini ketika mendengar beberapa teman sekelas saya berkata kepada saudara saya bahwa ketika melihat sikap saya, mereka belajar sesuatu tentang iman Kristen, yaitu gambaran tentang Kristus. Saya tak bermaksud meminta Anda untuk meniru sikap saya, karena saya sendiri tidak yakin dengan yang telah saya lakukan. Maksud saya adalah: Orang lain memperhatikan diri kita, baik kita sadari atau tidak.

Dalam Titus 3:1-8, Paulus menerangkan tentang kehidupan yang dimampukan Allah untuk kita jalani—suatu kehidupan yang saling menghormati, taat, dan penuh kebaikan. Semua itu merupakan dampak dari kelahiran baru melalui Yesus dan pembaruan oleh Roh Kudus yang telah dicurahkan kepada kita.

Saat menjalani kehidupan yang dipimpin Roh, Allah akan menyatakan realitas kehadiran-Nya kepada orang lain melalui kita. —JDB

Bapa yang baik, Engkau tahu betapa tidak sempurnanya aku.
Perlengkapi aku melalui Roh-Mu agar aku menunjukkan kasih
dan hormat di dalam hidupku sehingga orang lain
akan melihat-Mu melalui diriku.

Seorang Kristen merupakan khotbah yang hidup, baik ia pernah berkhotbah ataupun tidak.

Pengaruh Dari Peragaan

Senin, 18 Februari 2013

Pengaruh Dari Peragaan

Baca: 1 Korintus 2:1-5

Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa. —1 Korintus 4:20

Selama dua dekade, ahli ekologi Mike Hands telah bekerja untuk membantu para petani di Amerika Tengah dalam menggunakan metode-metode pertanian yang lebih efektif untuk tanaman mereka. Namun sulit bagi mereka untuk meninggalkan tradisi bertani yang lama dengan memakai cara “babat dan bakar”, meski mereka tahu cara itu merusak tanah dan mencemari udara.

Oleh karena itu, Mike tak hanya sekadar berbicara kepada mereka, ia juga menunjukkan kepada mereka cara bertani yang lebih baik. Dalam film dokumenter Up in Smoke (Terbakar Habis) ia berkata, “Hal itu harus diperagakan. Anda tak bisa sekadar menyampaikannya. Anda tak bisa hanya menggambarkannya. Mereka harus bisa melihat langsung dan melakukannya sendiri.”

Paulus menggunakan pendekatan yang sama untuk membagikan Injil Yesus Kristus. Ia menulis kepada jemaat di Korintus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan katakata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 Kor. 2:4-5). Selanjutnya dalam suratnya, Paulus memberitahukan kembali kepada mereka, “Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa” (4:20).

Seiring Anda menjalani hidup setiap hari, mintalah kepada Allah agar Dia menolong Anda untuk mewujudkan perkataan Anda dalam tindakan. Ketika kita mengizinkan Allah menyatakan diri-Nya melalui hidup kita, hal itu menjadi suatu peragaan anugerah dan kasih-Nya yang berpengaruh besar. —DCM

Perkenankan kami, Tuhan, untuk mewujudkan
Iman kami melalui apa yang kami perbuat,
Sehingga Injil dapat dilihat dengan jelas
Oleh mereka yang mencari Engkau. —Sper

Perkataan kita perlu diwujudkan lewat tindakan.

Waktu Bercerita

Sabtu, 26 Januari 2013

Waktu Bercerita

Baca: 2 Korintus 3:1-11

. . . bahwa kamu adalah surat Kristus . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. —2 Korintus 3:3

Waktu kecil, saya suka sekali ketika ibu membacakan cerita buat saya. Saya akan duduk di pangkuannya dan menyimak setiap kata yang ibu ucapkan. Ketika ibu membaca, saya akan memperhatikan dengan saksama setiap gambar dan dengan semangat ingin mendengar apa yang akan terjadi pada halaman berikutnya.

Apakah pernah terlintas dalam benak Anda bahwa hidup kita juga menceritakan suatu kisah? Dalam setiap situasi—yang baik, buruk, atau biasa saja—orang-orang di sekitar kita memperhatikan dan mendengar kisah yang kita sampaikan. Kisah kita disampaikan tidak saja melalui perkataan kita, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan kita dalam menghadapi berbagai badai atau berkat yang dialami dalam hidup ini. Anak-anak, cucu, pasangan, tetangga dan rekan kerja kita dapat mengamati kisah yang kita sampaikan.

Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai pengikut Yesus, hidup kita adalah seperti surat-surat yang “dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang; . . . surat Kristus . . . ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (2 Kor. 3:2-3).

Kisah apakah yang sedang dibaca oleh orang-orang di sekitar kita melalui hidup kita? Kisah tentang pengampunan? Belas kasihan? Kemurahan hati? Kesabaran? Kasih?

Bila Anda mengalami sukacita dari hidup penuh anugerah yang datang dari Roh Allah yang tinggal di dalam Anda, selamat menikmati sukacita menjadi salah satu pencerita Allah yang luar biasa! —JMS

Tuhan, kami mengasihi-Mu. Kami ingin hidup kami menceritakan
tentang kebaikan dan anugerah-Mu. Kiranya kami dapat menjadi
saksi-Mu yang pemberani. Pakai kami dalam cara-cara
yang tak pernah terpikirkan oleh kami sebelumnya.

Kiranya hidup Anda menceritakan tentang kasih dan kemurahan Kristus kepada siapa saja di sekitar Anda.