Posts

The Drinking Gourd

Selasa, 11 November 2014

The Drinking Gourd

Baca: Filipi 2:12-18

2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.

2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.

2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.

2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Sehingga kamu bercahaya . . . seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan. —Filipi 2:15-16

The Drinking Gourd

Sebelum meletusnya Perang Saudara Amerika Serikat (1861-1865), para budak pelarian dapat menemukan kebebasan mereka dengan cara menelusuri “jalur kereta bawah tanah”, suatu istilah yang digunakan untuk menyebut rute-rute rahasia yang terbentang dari wilayah Selatan ke Utara serta kaum penentang perbudakan yang menolong mereka di sepanjang perjalanan. Para budak itu biasanya bepergian pada malam hari hingga berkilo-kilometer, dan mereka bertahan pada jalur tersebut dengan mengikuti cahaya yang terpancar dari “The Drinking Gourd”. Itulah nama sandi untuk suatu rasi bintang yang dikenal sebagai The Big Dipper, yang dapat menuntun kita kepada Bintang Utara. Sejumlah kalangan percaya bahwa para pelarian itu juga menggunakan petunjuk yang telah disandikan dalam lirik lagu Follow the Drinking Gourd (Ikuti The Drinking Gourd) supaya mereka tidak tersesat dalam perjalanan.

Para penentang perbudakan dan rasi bintang “The Drinking Gourd” sama-sama berfungsi sebagai titik terang yang membawa para budak tersebut menuju kebebasan. Rasul Paulus berkata bahwa orang percaya hendaknya bercahaya “seperti bintang-bintang di dunia” guna menunjukkan jalan bagi mereka yang sedang mencari kebenaran, penebusan, dan kebebasan rohani dari Allah (Flp. 2:15).

Kita tinggal di tengah kegelapan dunia yang sangat butuh untuk melihat terang Yesus Kristus. Kita dipanggil untuk memancarkan cahaya kebenaran Allah agar orang lain dapat diarahkan kepada satu Pribadi yang menebus manusia dan menjadi jalan menuju kebebasan dan kehidupan sejati. Kita menuntun mereka kepada Yesus yang merupakan jalan, kebenaran, dan hidup (Yoh. 14:6). —HDF

Ya Tuhanku, terima kasih Engkau telah menebusku dan memberikan
hidup baru bagiku. Beriku belas kasihan bagi mereka yang jiwanya
masih terhilang dalam kegelapan. Pakailah aku untuk menjadi terang
yang mengarahkan orang lain kepada-Mu, Sang Terang Dunia.

Terangi duniamu dengan memancarkan terang Yesus.

Warisan Nenek Penjual Pecel

Oleh: Yonatan

nenek-penjual-pecel

Monggo, sami nderek Gusti, Monggo, sami nderek Gusti. Gusti Yesus Juru Wilujeng, Monggo, monggo sami nderek Gusti”. [Mari kita ikut Tuhan. Mari kita ikut Tuhan. Tuhan Yesus Juruselamat, mari mari kita ikut Tuhan…]

Setiap senandung itu terdengar, aku tahu siapa yang lewat di depan rumah. Seorang nenek yang menjajakan pecel untuk menyambung hidup. Ia miskin, sebatang kara, hidup di sebuah rumah kontrakan yang super sederhana, dan menderita rabun senja. Namun, seulas senyum selalu tersungging di wajahnya yang keriput, seolah ia adalah orang paling bahagia sedunia.

Sungguh aku tak pernah menyangka nenek itu akan menjadi seseorang yang memberi warisan terbesar bagi hidupku dan keluargaku.

Ceritanya, suatu hari ayahku ditimpa masalah tak terduga. Ada maling di kampung kami. Dengan semangat heroik sebagai seorang kepala sekolah dan tokoh agama setempat, ayahku pun segera keluar rumah dan mengejar si maling yang sedang dikejar warga. Sayangnya, si maling berlari terlalu cepat. Dalam sekejap sosoknya lenyap dari pandangan mata. Tinggallah ayahku berlari paling depan, hingga banyak orang justru mengira ia adalah si maling yang dikejar. Hari itu, bukan saja ayahku digebuk hingga babak belur. Ia pun harus mendekam di tahanan selama beberapa hari.

Tahukah kamu siapa yang paling rajin membesuk ayahku? Si nenek penjual pecel. Dengan setia ia datang, tidak hanya membawakan beberapa patah kata penghiburan, tetapi juga pecel dagangannya, lengkap dengan beberapa potong gorengan, untuk dimakan ayahku. Setelah lepas dari tahanan, ayahku tidak langsung pulang ke rumah. Ia malu karena sebagian warga sudah menganggapnya sebagai maling yang sebenarnya. Ia lalu diajak tinggal di rumah nenek penjual pecel untuk sementara waktu. Betapa senangnya ayahku! Ia pun bertanya apa ada yang dapat ia lakukan untuk membantu nenek selama ia tinggal di rumahnya. Nenek itu berkata, ayahku bisa membantunya membacakan Alkitab setiap malam, karena matanya kesulitan melihat di malam hari.

Benar bahwa Firman Allah itu “tidak pernah kembali dengan sia-sia” (Yesaya 55:11). Apa yang dibacakan ayahku untuk si nenek penjual pecel itu berbicara juga dengan kuat kepada ayahku. Memang ayahku tak langsung menjadi pengikut Kristus. Ia dibesarkan dalam kepercayaan yang sama sekali berbeda. Butuh waktu sekitar 8 tahun sebelum ia kemudian menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dengan segenap pikiran dan hatinya. Namun, tanpa kesaksian nenek itu, bukan tak mungkin ayahku akan tetap menjadi seorang yang anti dengan kekristenan.

Iman ayahku menjadi warisan yang sangat berharga bagi anak-anaknya, termasuk diriku. Aku diajarnya untuk memaknai hidup sebagai anugerah Tuhan semata. Semua manusia telah berdosa, dan tak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri dengan semua amal baiknya. Sebab itulah Tuhan menyediakan jalan keselamatan bagi umat manusia melalui Kristus yang tak berdosa. Rumah tempat aku tinggal sekarang menjadi saksi yang terus mengingatkanku akan komitmen kami sekeluarga mengikut Kristus. Rumah ini sempat dilempari batu dan aneka kotoran oleh para tetangga, saat mereka tahu keluarga kami menjadi Kristen. Namun, ayah terus mendorong kami untuk teguh dalam iman. Tak hanya kepada istri dan anak-anaknya, ayahku juga memperkenalkan Sang Juruselamat kepada saudara-saudaranya. Dua saudaranya beserta pasangan hidup dan anak-menantunya kini sudah menjadi pengikut Kristus. Demikian juga halnya dengan tujuh saudara ibuku, beserta pasangan hidup dan anak-menantu mereka. Kesaksian ayahku juga membawa ibunya (nenekku) mengenal dan percaya kepada Kristus.

Hingga hari ini kami semua tak pernah tahu siapa nama nenek penjual pecel yang telah menaburkan benih Firman Tuhan kepada ayahku, dan mengubah kehidupan tiga generasi dalam keluarga kami. Ketika ayah kembali berkunjung ke kontrakan nenek itu, ia tidak ada lagi di sana. Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Senandungnya tak pernah terdengar lagi. Mungkin ia adalah malaikat yang diutus membuka jalan bagi kami untuk mengenal Sang Juruselamat.

Dalam kondisinya yang serba terbatas, nenek penjual pecel itu telah mewariskan hal terbesar bagiku dan keluargaku, yaitu pengenalan akan anugerah keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Darinya aku belajar, bahwa kemiskinan, sakit-penyakit, dan semua keterbatasan manusiawi kita, bukanlah halangan untuk hidup mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan membagikan kasih-Nya kepada sesama. Suatu saat kelak, aku akan memeluknya di surga, mengucapkan terima kasih atas apa yang telah ia wariskan bagi kami sekeluarga. Kiranya Tuhan juga memampukanku (dan kamu) untuk mewariskan hal yang sama kepada generasi ini dan generasi yang akan datang.

Pulau Kecil

Jumat, 24 Oktober 2014

Pulau Kecil

Baca: Titus 3:1-7

3:1 Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.

3:2 Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.

3:3 Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.

3:4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

3:5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,

3:7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.

Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. —Titus 3:2

Pulau Kecil

Singapura adalah sebuah negara pulau yang kecil. Begitu kecilnya sehingga orang pun sulit menemukannya di peta dunia. (Cobalah mencarinya di peta, jika kamu belum mengetahui di mana letak Singapura). Karena kepadatan penduduknya, sikap tenggang rasa terhadap orang lain menjadi sangat penting. Seorang pria pernah menulis pesan kepada tunangannya yang akan berkunjung ke Singapura untuk pertama kalinya, demikian: “Di sini ruang sangat terbatas. Oleh karena itu . . . kau harus selalu peka terhadap ruang di sekelilingmu. Kau harus selalu siap untuk menepi agar kau tidak menghalangi jalan orang lain. Kuncinya, milikilah sikap tenggang rasa.”

Rasul Paulus menulis kepada Titus, seorang gembala jemaat yang masih muda: “Ingatkanlah mereka supaya . . . taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Tit. 3:1-2). Ada yang mengatakan, “Hidup kita mungkin satu-satunya Alkitab yang pernah dibaca oleh sebagian orang.” Dunia tahu bahwa orang Kristen seharusnya berbeda. Apabila kita suka bersungut-sungut, hanya memikirkan diri sendiri, dan berlaku kasar, apakah yang akan dipikirkan orang lain tentang Kristus dan kabar baik yang kita bagikan?

Bertenggang rasa dapat menjadi semboyan hidup yang baik dan mungkin dilakukan ketika kita bergantung kepada Allah. Sikap itu juga menjadi salah satu cara untuk meneladan Kristus dan menunjukkan pada dunia bahwa Yesus sanggup menyelamatkan dan mengubahkan hidup manusia. —PFC

Ya Tuhan, tolonglah kami agar bermurah hati, berlaku baik, dan
bertenggang rasa, di gereja dan juga di tengah masyarakat. Kiranya
dunia yang menyaksikannya dapat melihat hidup umat-Mu yang telah
diubahkan dan percaya pada kuasa-Mu yang mengubahkan hidup.

Karaktermu mendukung kesaksianmu.

Mengangguk Pun Tidak

Selasa, 2 September 2014

Mengangguk Pun Tidak

Baca: Lukas 17:11-19

17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

17:13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!"

17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring. —Lukas 17:15

Mengangguk Pun Tidak

Namun saat pengemudi yang “baik” itu tak diberi anggukan atau lambaian sebagai ucapan terima kasih, ia mengamuk. Awalnya ia membuka jendela mobil dan meneriaki pengemudi yang dibiarkannya lewat tadi. Lalu ia memacu mobilnya seperti ingin menubruk mobil di depannya, menekan klakson, dan terus berteriak untuk meluapkan amarahnya.

Jalanan sedang macet-macetnya, dan orang-orang mudah terpancing untuk marah pada siang yang terik itu. Saat itu saya melihat sebuah mobil berisi dua pemuda yang tengah antre untuk dapat masuk ke jalan dari parkiran suatu restoran. Saya merasa pengemudi di depan saya telah berbaik hati dengan membiarkan mereka lewat terlebih dahulu.

Siapa yang “lebih salah”? Apakah sikap tak tahu berterima kasih dari pengemudi muda itu membenarkan sikap marah si pengemudi yang “baik” tadi? Apakah pengemudi muda itu berutang ucapan terima kasih?

Tentu ke-10 orang kusta yang disembuhkan Yesus berutang ucapan terima kasih kepada-Nya. Bagaimana mungkin hanya satu orang yang kembali untuk berterima kasih? Saya dikejutkan oleh jawaban Yesus, “Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (Luk. 17:18). Apabila sang Raja atas segala raja saja hanya mendapatkan satu ucapan terima kasih dari sepuluh orang yang disembuhkan, patutkah kita berharap dapat menerima sikap yang lebih baik dari sesama kita? Yang lebih baik kita perbuat adalah melakukan perbuatan baik demi memuliakan Allah dan melayani sesama, daripada kita melakukannya hanya untuk menerima ucapan terima kasih. Kiranya kita tetap memperlihatkan kasih Allah sekalipun perbuatan baik kita tidak dihargai. —RKK

Tuhan, kami ingin dihargai atas semua yang kami lakukan. Tolong
kami mengingat bahwa orang lain tak berutang ucapan terima kasih
kepada kami, melainkan kami yang berutang ucapan syukur kepada-
Mu seumur hidup karena keselamatan dari-Mu di dalam Yesus.

Begitu juga terangmu harus bersinar di hadapan orang, supaya mereka . . . memuji Bapamu di surga. —Matius 5:16

Perumpamaan Sengat Lebah

Kamis, 14 Agustus 2014

Perumpamaan Sengat Lebah

Baca: 1 Petrus 2:9-12

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.

2:12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Supaya . . . mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. —1 Petrus 2:12

Perumpamaan Sengat Lebah

Saya masih ingat betapa terkejutnya Jay Elliott saat hampir 50 tahun lalu saya mendobrak masuk ke rumahnya dengan membawa “sekawanan” lebah yang tengah mengerubungi saya. Saat berlari keluar lewat pintu belakang rumahnya, saya menyadari lebah-lebah itu telah pergi. Sebenarnya yang terjadi adalah saya meninggalkan lebah-lebah itu di dalam rumah Jay. Tak lama kemudian, Jay pun berlari keluar dengan dikejar lebah yang saya bawa masuk tadi.

Saya terkena lebih dari selusin sengatan yang tidak terlalu parah. Lain halnya dengan Jay. Meski hanya disengat satu atau dua kali, mata dan tenggorokan Jay membengkak oleh reaksi alergi yang amat menyakitkan. Perbuatan saya menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi sahabat saya.

Itulah yang juga terjadi dalam hubungan kita dengan sesama. Kita menyakiti orang lain lewat perbuatan kita yang tidak meneladani Kristus. Meski telah meminta maaf, “sengatan” itu tetap menyakitkan.

Memang wajar jika orang mengharapkan para pengikut Kristus untuk mempunyai sifat yang sabar dan tidak kasar. Terkadang kita lupa bahwa orang-orang yang tengah bergumul dalam soal iman atau kehidupan ini sebenarnya memperhatikan orang Kristen dengan suatu harapan. Mereka mengharapkan adanya orang-orang percaya yang tidak lekas marah dan rela mengampuni, tidak suka menghakimi dan lebih berbelas kasih, tidak cepat mengecam dan lebih giat memberi semangat. Yesus dan Petrus memerintahkan kita untuk memiliki cara hidup yang baik agar Allah dimuliakan (Mat. 5:16; 1Ptr. 2:12). Kiranya perbuatan dan tanggapan kita akan menuntun sesama kita kepada Bapa yang penuh kasih. —RKK

Kami telah mengalami sendiri betapa mudahnya kami melukai orang
lain lewat perkataan atau perbuatan kami. Ajarkan kepada kami,
Bapa, untuk berhenti sejenak dan berpikir sebelum kami berbicara
atau bertindak. Penuhi kami dengan sifat yang baik dan peduli.

Kiranya orang lain melihat Yesus jauh lebih besar daripada diri saya.

Jempol Tangan Ke Atas

Jumat, 8 Agustus 2014

Jempol Tangan Ke Atas

Baca: Kejadian 6:11-22

6:11 Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.

6:12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

6:13 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

6:14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.

6:15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.

6:16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

6:17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.

6:18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.

6:19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.

6:20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya.

6:21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka."

6:22 Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN. —Kejadian 6:8

Jempol Tangan Ke Atas

Alkisah menurut sebuah dongeng dari Afrika, keempat jari dan satu jempol dahulu hidup bersama pada sebuah tangan. Mereka adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Suatu hari, mereka melihat sebuah cincin emas tergeletak di sebelah mereka dan mereka pun bersepakat untuk mengambilnya. Si jempol mengatakan bahwa mencuri cincin itu adalah perbuatan yang salah, tetapi keempat jari lainnya menyebut si jempol sebagai pengecut yang munafik dan mereka tidak lagi mau berteman dengannya. Si jempol tidak merasa keberatan, karena ia tidak ingin terlibat dalam kejahatan mereka. Itulah mengapa, menurut legenda tersebut, jempol kini terpisah dari keempat jari lainnya.

Dongeng itu mengingatkan saya bahwa ada saatnya kita mungkin merasa begitu sendirian di tengah kejahatan yang merebak di sekitar kita. Pada masa hidup Nuh, bumi telah dipenuhi dengan kekerasan; setiap pikiran dalam hati manusia “selalu membuahkan kejahatan semata-mata” (Kej. 6:5,11). Namun “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN” (ay.8). Dalam pengabdian yang sepenuh hati, Nuh menaati Allah dan membangun bahtera yang diperintahkan-Nya. Oleh kasih karunia-Nya, Tuhan pun menyelamatkan Nuh dan keluarganya.

Allah juga telah menunjukkan kasih karunia-Nya kepada kita melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, Anak-Nya. Kita mendapat kehormatan untuk memuliakan Allah dan teguh mengabdi kepada-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Allah selalu dekat, bahkan tinggal di dalam kita, sehingga sesungguhnya kita tidak pernah sendirian. “Ia mendengar bila [kita] berteriak minta tolong” (Mzm. 34:15 BIS). —JBS

Pendirian seseorang akan nyata ketika ia berteguh
Demi membela nilai yang benar dan sejati;
Dan yang mempertaruhkan segalanya dalam Allah
Sungguh berkenan di mata-Nya. —D. DeHaan

Tidaklah sulit untuk hidup mengikuti arus; butuh keberanian untuk berjuang melawan arus.

Membuatnya Menarik

Sabtu, 28 Juni 2014

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140628-Jus-Apel

Baca: Kolose 4:2-6

4:2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.

4:3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.

4:4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya.

4:5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.

4:6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Di dalam hubungan kalian dengan orang-orang yang tidak percaya, hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya. —Kolose 4:5 (BIS)

Membuatnya Menarik

Alkisah pada zaman lampau, ada seorang bocah laki-laki yang berusaha mencari nafkah dengan cara menjual apel di atas kereta api berpenumpang. Ia menyusuri gerbong demi gerbong, sambil berseru, “Apel! Apel! Adakah yang mau membeli apel?” Sesampainya di gerbong terakhir, si bocah masih memiliki apel sekantong penuh, tetapi tidak ada uang.

Seorang pria yang memperhatikan kesulitan bocah itu pun memanggilnya dan meminta sebiji apel untuk dilihatnya. Pria itu beranjak ke bagian depan kereta, menggosok-gosok apelnya sampai mengkilap dengan selembar kain di depan umum, lalu berjalan menyusuri lorong kereta dengan menggigiti apel itu sembari berkomentar tentang kelezatan dan kesegaran apel yang sedang dimakannya. Kemudian ia menyuruh si bocah menjajakan apelnya lagi. Kali ini, bocah itu berhasil menjual setiap butir apelnya. Apa bedanya? Apel itu dibuat menarik sehingga memikat calon pembeli.

Cerita ini dapat mengingatkan kita akan satu cara yang dapat kita gunakan untuk membuat orang lain tertarik pada Injil Yesus Kristus: Buatlah menarik untuk mereka—yaitu dengan memperlihatkan pengaruh Injil itu dalam hidup kita sendiri. Cara yang terbaik adalah dengan mengikuti perkataan Paulus dalam Kolose 4:5 (bis), “Di dalam hubungan kalian dengan orang-orang yang tidak percaya,” katanya, “hendaklah kalian hidup bijaksana dan memakai setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.” Apabila kita menunjukkan kebaikan, kasih, dan belas kasihan terhadap sesama, orang-orang yang memperhatikan kita akan bertanya-tanya, dan mungkin itulah kesempatan kita untuk menceritakan tentang keindahan kasih Allah kepada mereka. —JDB

Ya Allah, Engkau telah memberi kami begitu banyak dengan menganugerahkan
kami keselamatan kekal. Tolonglah kami untuk membuat
Injil-Mu menarik bagi orang lain lewat cara hidup kami yang
memancarkan terang Yesus kepada orang di sekitar kami setiap hari.

Indahnya perubahan hidup dapat membuat orang lain mau mengenal Pribadi yang menjadikan kita indah itu.

Siapakah Pahlawannya?

Jumat, 7 Februari 2014

Baca: Hakim-Hakim 3:7-11

3:7 Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera.

3:8 Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, sehingga Ia menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia dan orang Israel menjadi takluk kepada Kusyan-Risyataim delapan tahun lamanya.

3:9 Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan seorang penyelamat bagi orang Israel, yakni Otniel, anak Kenas adik Kaleb.

3:10 Roh TUHAN menghinggapi dia dan ia menghakimi orang Israel. Ia maju berperang, lalu TUHAN menyerahkan Kusyan-Risyataim, raja Aram, ke dalam tangannya, sehingga ia mengalahkan Kusyan-Risyataim.

3:11 Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Kemudian matilah Otniel anak Kenas.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. —Matius 5:16

Siapakah Pahlawannya?

Ketika membaca kitab Hakim-Hakim dengan segala pertempuran dan tokohnya yang perkasa, bisa jadi kita merasa seperti sedang membaca komik tentang pahlawan super. Kita membaca tentang Debora, Barak, Gideon, dan Simson. Meskipun demikian, pada jajaran hakim-hakim (atau penyelamat) itu, kita juga menemukan nama Otniel.

Catatan tentang kehidupan Otniel amat singkat dan begitu terus terang (Hak. 3:7-11). Tidak ada drama. Tidak ada pula unjuk kekuatan. Namun yang kita lihat adalah perbuatan yang Allah lakukan melalui Otniel: “TUHAN membangkitkan seorang penyelamat” (ay.9), “Roh TUHAN menghinggapi dia” (ay.10), dan “TUHAN menyerahkan Kusyan- Risyataim, raja Aram, ke dalam tangan [Otniel]” (ay.10).

Catatan tentang Otniel membantu kita berfokus pada hal yang terpenting, yakni pekerjaan Allah. Kisah-kisah yang menarik dan para tokoh yang mengagumkan dapat mengaburkan nilai penting tersebut. Jika kita terlalu memusatkan perhatian pada hal-hal tersebut, bisa saja kita gagal untuk melihat apa yang sedang dilakukan Tuhan.

Ketika masih muda, saya pernah membayangkan andai saja saya lebih berbakat dalam banyak hal, saya akan dapat menuntun lebih banyak orang mengenal Kristus. Namun saya telah berfokus pada hal yang salah. Allah sering menggunakan orang-orang biasa untuk mengerjakan karya-karya-Nya yang luar biasa. Terang Allah yang bersinar melalui hidup kitalah yang memuliakan nama-Nya dan yang membuat orang-orang mau datang kepada-Nya (Mat. 5:16).

Ketika orang lain melihat hidup kita, adalah lebih penting mereka melihat Tuhan—bukan kita. —PFC

Kiranya firman Allah berdiam melimpah
Di dalam hatiku dari waktu ke waktu,
Sehingga semua bisa melihat kemenanganku
Yang didapat hanya oleh kuasa-Nya. —Wilkinson

Kemampuan kita yang terbatas menegaskan kuasa Allah yang tak terbatas.

Lampu-Lampu Natal

Sabtu, 7 Desember 2013

Lampu-Lampu Natal

Baca: Matius 5:13-16

Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.—Matius 4:16

Setiap bulan Desember tiba, ada 13 keluarga yang tinggal di dekat tempat tinggal kami yang akan memasang 300.000 lampu Natal untuk menampilkan suatu pertunjukan cahaya yang memukau. Orang-orang yang tinggal di tempat yang jauh rela datang dan mengantri berjam-jam untuk menyaksikan pertunjukan dari serangkaian lampu berwarna-warni dan mendengar musik yang telah diatur sesuai dengan kelap-kelip lampu-lampu tersebut. Paduan sinar dan musik tersebut begitu rumit sampai-sampai dibutuhkan 64 unit komputer untuk mengatur seluruh pertunjukan tersebut.

Ketika saya memikirkan tentang lampu-lampu Natal tersebut, saya teringat pada Sang Terang yang membuat Natal menjadi hari raya bagi banyak orang—satu-satunya Terang yang bersinar sedemikian cemerlang sehingga seluruh dunia disinari-Nya dengan kebenaran, keadilan, dan kasih. Terang ini—Yesus—adalah Pribadi yang selama ini telah dinanti dan dicari oleh dunia (Yes. 9:2,6-7). Dan Dia telah memerintahkan kepada para pengikut-Nya untuk memancarkan terang- Nya supaya orang lain melihatnya dan memuliakan Allah (Mat. 5:16).

Bayangkan seandainya orang Kristen berusaha dengan sungguh-sungguh memancarkan dan menunjukkan terang kasih Allah seperti halnya keluarga-keluarga tadi berusaha menerangi lingkungan mereka dengan pertunjukan lampu-lampu Natal. Mungkin usaha kita dapat mendorong jiwa-jiwa yang masih hidup dalam kegelapan untuk mau melihat Yesus, Terang yang besar itu. Ketika orang percaya bekerja bersama untuk memancarkan kasih Allah, kabar baik akan bersinar lebih terang dan menarik lebih banyak orang untuk datang kepada Yesus, Sang Terang dunia. —JAL

Kiranya aku dipenuhi dengan hidup ilahi-Nya;
Kiranya aku mengenakan kuasa dan kemuliaan-Nya;
Kiranya aku mencerminkan keagungan Juruselamatku—
Dengan senantiasa bersinar sebagai terang dunia! —NN.

Kesaksian kita tentang Kristus adalah terang di tengah dunia yang gelap.