Posts

Kulukai Orang Lain dengan Keegoisanku

Oleh Sari, Jakarta

Setiap tanggal 10 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Media sosial dipenuhi dengan twibbon untuk memperingati hari itu. Masa-masa sekarang yang dirasa sulit, ditambah dengan hadirnya pandemi, turut memberikan pengaruh besar pada kesehatan mental orang-orang di seluruh dunia.

Aku pribadi pun merasakan dampaknya. Makin hari, aku semakin menyadari bahwa bukan hanya kesehatan fisik dan rohani saja yang penting, melainkan kesehatan mental yang sering kuabaikan juga penting. Aku melihat orang-orang di sekitarku pun mulai aware. Mereka mulai melakukan konseling kepada konselor-konselor professional. Ketika aku dan kamu gagal menyadari pentingnya merawat kesehatan mental, maka saat kendala datang, bisa saja kita melakukan pengobatan atau pencegahan dengan cara yang tidak tepat. 

Saat kondisiku tidak stabil 

Pada suatu momen, aku menyadari bahwa kondisi mentalku sangat tidak stabil. Aku bekerja dengan gelisah, aku takut salah… dan ketika atasanku mendapati aku melakukan kesalahan, aku langsung panik. Tidak jarang aku menyalahkan orang lain. Aku tidak lagi menikmati apa yang aku kerjakan, fokusku saat itu adalah bagaimana pekerjaanku bisa cepat selesai, tidak ada yang salah dan berharap berakhir dengan pujian yang diberikan baik oleh rekan kerja dan atasanku. Tapi melakukan itu semua rasanya sangat melelahkan, hingga di kondisi yang ekstrem aku tidak menyukai ketika orang lain mengerjakan pekerjaan dengan baik dan dipuji oleh atasanku. Aku ingin berada di posisi yang paling baik dari semuanya, aku ingin hanya aku yang bisa diandalkan. Aku menjadi orang yang lebih suka dihargai dan dipandang lebih dari orang lain. Bukan dalam pekerjaan saja, ketika berinteraksi dengan teman sepermainan dan keluarga pun aku merasakan hal yang sama.

Di tengah kondisi itu, aku pun tidak lagi menikmati relasiku bersama Tuhan. Aku tetap bersaat teduh, namun seadanya. Aku tetap berdoa, namun tidak menikmati doa-doaku. Fokusku adalah hanya bagaimana aku bisa mendapatkan promosi di pekerjaanku. Tetapi, syukur kepada Allah yang mengaruniakan Roh Kudus yang pelan-pelan menggelisahkanku dan menolongku untuk melihat apa yang salah dengan diriku di tengah-tengah perjuangan menikmati doa, baca Alkitab dan ibadah yang kulakukan. 

Di ibadah Minggu yang aku ikuti secara daring, tema khotbah yang diangkat membahas bagaimana ambisi terhadap kedudukan merupakan musuh dan hal yang paling tidak disukai oleh Allah. 

Di awal khotbahnya, sang pendeta memulai dengan kalimat, “dosa pertama berhubungan dengan kuasa.” Allah membuang malaikat Lucifer dari kerajaan sorga karena kesombongannya (Yehezkiel 28:17-18). Kejatuhan manusia dalam dosa pun dimulai ketika Iblis menggoda Hawa, yang menyingkapkan sisi kesombongan manusia yang ingin menjadi seperti Allah dengan memakan buah pengetahuan baik dan buruk (Kejadian 3). 

Banyak orang melakukan berbagai cara agar mendapati posisi atau kedudukan yang diinginkannya, salah satunya aku. Aku melakukan banyak cara agar aku bisa dipromosi secepatnya sampai tidak menyadari bahwa aku sedang melukai diriku, sesama bahkan terlebih Tuhan. Hidupku dipenuhi dengan ketakutan-ketakutan, takut kalau posisi itu akhirnya diberikan kepada orang lain. 

Aku lantas teringat kepada sebuah kisah di Alkitab, yaitu kisah Saul dan Daud. Ketika Saul menjadi raja dan Daud yang baru saja mengalahkan Goliat. Orang-orang Israel merayakan kemenangan Daud mengalahkan Goliat dan ketika itu perempuan-perempuan yang hadir menari dan menyanyi, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa (1 Samuel 18:7).” Seketika itu juga, Saul menjadi marah dan benci kepada Daud hingga berencana untuk membunuhnya. Padahal kalau dipikir-pikir, Saul saat itu adalah raja Israel yang sah, dia telah dipilih dan diurapi, tetapi dia ketakutan bilamana suatu hari Daud merebut kedudukannya sebagai raja di Israel. Kisah ini menjadi salah satu bukti bahwa lagi-lagi manusia sangat ambisius terhadap kedudukan dan manusia berani melakukan banyak cara untuk mendapatkan serta mempertahankannya.

Di tengah dunia yang mendorong kita untuk memamerkan apa yang kita lakukan dan apa yang kita miliki, menjadi hal yang tak mudah untuk bijak memandang pencapaian dan kedudukan kita. Kita tergoda meletakkan identitas kita pada posisi, kekayaan, dan status. Ketika tidak mendapatkan apa yang orang lain punya kita menjadi minder bahkan dalam kondisi yang ekstrem menjadi depresi hingga mau mengakhiri hidup. Dalam kondisiku saat itu, satu hal yang aku sadari adalah semakin aku mengejar, semakin aku merasakan kekosongan. Dan lagi-lagi, aku diingatkan bahwa jiwa kita hanya dapat dipuaskan oleh Allah. Jika kita mengejar apa yang ada di tengah dunia ini akan tidak ada habis-habisnya dan itu sangat melelahkan.

Dan di ibadah Minggu yang kuikuti itu, aku juga diingatkan bahwa Allah selalu punya rencana buat anak-anak-Nya, bagian yang sudah ditentukan Allah untuk menjadi bagian kita akan tetap menjadi bagian kita sesusah dan semustahil apapun itu. Tetapi, kalau memang ketika kita sudah berjuang untuk mendapatkannya dan memang Allah tidak merencanakannya buat kita selelah apapun kita mengejarnya maka itu tidak akan menjadi bagian kita. Salah satu hamba Tuhan pernah mengatakan demikian, “teruslah berdoa sampai Tuhan menjawab. Asal doa itu sesuai kehendakNya, mustahil tidak dijawab.”

Teman-teman, kondisi ini bukanlah kondisi yang mudah untuk diatasi. Aku pun masih sangat bergumul hingga saat ini. Tetapi, aku jadi diingatkan kembali bahwa aku tetap berharga di mata-Nya sekalipun aku tidak memiliki apa yang sedang diperjuangkan oleh dunia. Aku merasakan lelahnya mengejar apa yang dikejar oleh dunia ini, dan aku merasakan jadi orang yang paling jahat ketika mulai melukai orang lain dengan keegoisanku. 

Kondisi apa yang sedang teman-teman alami yang membuat teman-teman merasa tidak berharga, tidak dihargai bahkan tidak dianggap oleh orang lain hingga berniat sampai mengakhiri hidup? Berdoa dan minta ampunlah kepada Tuhan, Dia tetap mengasihi kita. Kita berharga di mata-Nya dan Dia selalu mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna dalam hidup kita.

Kala kucari damai
Hanya kudapat dalam Yesus
Kala kucari ketenangan
Hanya kutemui didalam Yesus

Tak satupun dapat menghiburku
Tak seorangpun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku

Bersama Dia hatiku damai
Walau dalam lembah kekelaman
Bersama Dia hatiku tenang
Walau hidup penuh tantangan

Cerpen: Bekerja Sama dalam Perbedaan

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Di hari-hari pengujung semester ini, aku sedikit lebih sibuk dari biasanya. Pembelajaran dan ujian sudah selesai, aku tinggal menyelesaikan penilaian dan hal-hal yang perlu untuk pembagian rapor peserta didik di minggu mendatang.

Tahun ini aku dipercaya menjadi wali kelas. Ada tiga puluhan rapor yang perlu kutuntaskan, tapi belum semua terisi karena beberapa guru pelajaran belum menyerahkan penilaian akhir mereka.

Pagi itu sekolah masih sepi meski arloji di tanganku sudah menunjukkan angka sembilan. Sejak pandemi, pembelajaran dilakukan dari rumah, namun kami guru diharuskan hadir di sekolah. Hal itu karena tidak seratus persen murid kami memiliki fasilitas untuk belajar daring. Biasanya dua sampai lima murid datang menemuiku untuk belajar tatap muka atau sekadar mengumpulkan tugas. Selain itu, kebijakan ini juga kurasa baik. Bertemu langsung dengan rekan guru membuatku lebih leluasa bertukar pikiran dengan mereka.

Kuteguk secangkir kopi di mejaku. Rekan guru yang kutunggu belum juga tiba. Aku memperhatikan kolom kosong di lembar penilaian kelasku yang artinya guru yang bersangkutan belum menyerahkan nilainya. Seminggu sudah berlalu dari tanggal pengumpulan yang sudah ditentukan. Aku sulit mentolerir hal-hal seperti ini. Aku lalu mengirim pesan pada mereka.

“Halo Bapak/Ibu. Saya Anggi, Wali Kelas 9-A. Mohon kerjasamanya untuk segera mengirimkan nilai dari pelajaran yang diampu ya. Saya membutuhkannya untuk pengisian rapor. Terima kasih.”

Sembari menunggu balasan, aku berjalan keluar menghirup udara sejuk. Kulayangkan pandang pada alam dari sekeliling sekolahku yang tidak berpagar. Hamparan rumput, sawah, pegunungan serta gembala yang menuntun kawanan kerbaunya terlihat jelas. Dari jauh tampak juga kepulan asap dari pondok petani yang mungkin sedang merebus air atau sekedar membakar ubi. Aku meyakini hal itu setelah beberapa kali menyaksikan tradisi “marsiadapari” yang masih lazim bagi petani di desa ini. Bentuk gotong-royong saat musim panen yang dilakukan secara bergantian dari sawah yang satu ke yang lain. Biasanya sekitar pukul 10 pemilik sawah akan menyajikan kopi atau ubi sebagai camilan yang disantap sembari istirahat sejenak. Pemandangan estetik yang jarang ditemui di tempat pengabdianku sebelumnya. Namun jika mengingat kendala yang kualami dalam pekerjaanku seperti hari ini, tidak jarang aku ingin kembali ke kota.

“Aku tidak suka memindahkan nilai-nilai itu mendekati deadline,” aku menghempaskan nafas, melangkah kembali ke ruangan.

Menjadi wali kelas sebenarnya bukan pengalaman pertama untukku. Sebelum menjadi guru Aparatur Sipil Negara di sekolah ini, aku sudah mengajar di sekolah dan beberapa kali menerima tanggung jawab yang sama. Di sekolah sebelumnya, setiap bulan para guru menginput nilai di lembaran excel pada laman penilaian yang disediakan sekolah. Dengan begitu, urusan penilaian tidak menumpuk di akhir semester, kami hanya perlu menambahkan nilai terakhir. Data-data itu juga bisa diakses kapanpun dengan mudah. Di sana, kami tidak hanya memiliki fasilitas yang memadai, namun ada rekan guru yang mumpuni sebagai pendidik dan mau beradaptasi dengan perubahan untuk perbaikan yang diperlukan.

Walau masih bekerja di bidang yang sama, namun aku menemukan banyak perbedaan di sekolahku sekarang. Tidak hanya dari fasilitas yang masih minim, aku juga kesulitan menyesuaikan diri dengan kemampuan, pola pikir dan ritme kerja rekan di sini. Aku pernah kesal dengan seorang rekan guru. Saat itu kami harus mengirimkan materi les sore tambahan. Sebelumnya pengumpulan dan proses evaluasi dilakukan secara manual. Aku melihat beberapa kendala dengan cara seperti itu, aku lantas mengusulkan penggunaan fitur kolaborasi yang disediakan Google. Dengan begitu, setiap guru tinggal mengunggah file yang dimaksud dan pengevaluasian juga bisa dilakukan di sana. Usulku sempat diterima, namun pelaksanaanya tidak lancar. Meski sudah diberitahu cara pengerjaanya, masih ada guru yang kesulitan hingga merepotkan operator sekolah kami untuk melakukannya. Menganggap pengerjaannya lebih rumit, akhirnya pengumpulan materi kembali dilakukan secara manual. Aku juga mendengar ada label “carmuk” yang disematkan padaku terkait dengan ide itu. Alih-alih mendapat respons yang baik, aku disebut sedang cari perhatian ingin dipuji. Aku kesal dan menaruh penggolongan tertentu tentang mereka dalam pikiranku.

Di waktu yang berbeda, aku pernah mengajukan kepada kepala sekolah agar diadakan pelatihan penggunaan laptop yang berkelanjutan bagi guru-guru. Selama bekerja di sekolah ini, aku melihat beberapa teman guru masih terkendala khususnya dalam menggunakan fitur aplikasi yang sering diperlukan. Sebut saja ketika harus menghitung nilai menggunakan rumus otomatis atau ketika harus melakukan pengaturan ukuran dokumen. Terkesan sepele, tapi aku sendiri menyaksikan bagaimana hal itu mempengaruhi kinerja kami. Aku yakin jika pelatihan diberikan secara rutin, guru-guru akan terbiasa juga semakin paham.

“Sebelumnya sudah pernah ada pelatihan seperti itu dari Dinas Pendidikan,” respon pak kepala sekolah saat itu.

“Pelatihan tentu tidak cukup sekali atau dua kali Pak. Kita bisa karena terbiasa,” ujarku meyakinkan. “Kita bisa memberdayakan guru-guru yang lebih paham untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan Pak” lanjutku sembari menyebutkan nama beberapa guru yang menurutku bisa dilibatkan.

“Ide dari Pak Anggi akan saya pertimbangkan, nanti saya kabari lagi.”

Hari-hari terus berlalu, tapi hingga kini aku belum juga menerima kelanjutan jawaban itu. Terakhir, aku membenarkan anggapanku. Mayoritas rekan kerja di sekolah ini anti perubahan, termasuk bapak kepala sekolah. Mereka enggan mengubah kebiasaan dengan dalih tidak tahu atau rumit. Belajar hal-hal baru tentu bukan perkara gampang bagi siapapun, tapi bukankah seyogyanya belajar merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat?

“Pagi Anggi, ngapain kamu?” Sabeth tetiba datang. Kehadirannya membuyarkan lamunanku.

“Eh Kakak. Tumben lama?”

“Iya, tadi ke rumah siswa dulu diskusi sama orang tuanya.”

Kak Sabeth mengajar IPS. Aku bersyukur memiliki dia menjadi salah satu rekan kerja di tempat ini. Usia kami hanya terpaut 2 tahun, tapi aku banyak belajar darinya. Kak Sabeth sering mengingatkanku untuk memandang persoalan dari sudut berbeda. Ia juga yang mengajakku mengumpulkan buku-buku bekas dari teman-teman di kota untuk menambah koleksi di kontrakannya yang diubah mirip perpustakaan terbuka bagi anak-anak desa.

Desa tempat sekolahku sekarang berada di ujung Kabupaten Tapanuli bagian Tengah. Dengan kondisi jalan bebatuan belum beraspal, truk bak terbuka adalah satu-satunya angkutan keluar masuk desa, maka tidak heran akses yang sulit ini juga mempengaruhi tersedianya variasi koleksi bacaan yang ada. Perpustakaan hanya tersedia di sekolah dan itu pun masih terbatas.

“Aku lagi mengisi rapor kak tapi belum semua guru menyerahkan nilainya,” keluhku menunjukkan daftar nilai yang kosong.

“Sudah hubungi guru-gurunya?”

“Tidak ada respon kak.”

“Belum merespon mungkin. Coba tunggu, sebentar lagi mereka juga datang.”

“Iya datang tapi entah jam berapa. Kira-kira mereka sadar nggak ya kak sudah mengganggu pekerjaan rekannya?” Aku membela diri. “Seandainya setiap bulan nilai itu langsung dikumpulkan dalam satu sistem pasti hal-hal seperti ini tidak terjadi. Malas berubah ya begini. Diingatkan nggak mau terima,” aku mengoceh kesal

Kak Sabeth tidak menanggapiku. Aku kembali bekerja dengan laptop sembari berharap agar nilai yang kuperlukan segera diserahkan.

“Siang Pak Anggi, Bu Sabeth,” sapa Ibu Dina berjalan menuju meja kerjaku.

“Pak Anggi. Ini nilai yang diminta, maaf melewati waktu pengumpulannya. Rumus di lembar kerja excel-nya error entah apa sebabnya. Jadi saya hitung manual pakai kalkulator.” Terangnya menyerahkan dokumen yang membuatku kesal sedari pagi.

“Bah, kok bisa begitu bu?” tanya kak Sabeth mengambil jeda dari kegiatannya.

“Semua nilai Ibu kalkulasi manual?” Aku mengernyitkan kening membayangkan waktu yang dihabiskan untuk menghitungnya.

“Iya Pak. Saya kurang mengerti masalahnya. Selesai memasukkan semua nilai, saya coba gunakan rumusnya tapi tidak berhasil, daripada bengong ya saya hitung pakai kalkulator saja.”

Kami bertiga memeriksa permasalahannya. Ternyata Bu Dina menginput beberapa tanda baca yang tidak diperlukan jadi rumus yang dimaksud tidak bekerja semestinya.

“Wah, hanya perlu diganti yang itu ya,” Bu Dina mengangguk, menyadari kesalahannya ternyata sangat sepele.

Darahku berdesir cepat mengingat isi pikiranku sebelumnya. Beberapa kali aku kesal dengan teman-teman guru yang kurang mahir menggunakan laptop. Tidak jarang aku menganggap mereka enggan atau malas mempelajarinya. Pikiranku yang lebih sering terfokus pada kekurangan mereka, membuatku lupa kalau aku punya kesempatan untuk membantu mereka secara langsung. Meski beberapa usulku ditolak, aku merasa justru dengan begini, aku lebih leluasa membagikan hal-hal yang belum mereka ketahui.

“Ah, andai aku menyadari lebih awal,” gumamku.

Aku tersenyum menyadari kekeliruanku. Situasi dan rekan kerja yang kumiliki sekarang memang berbeda. Tapi tidak seharusnya hal itu menjadi pembenaran untuk bertindak laksana hakim dengan pikiran-pikiranku yang jahat (Yakobus 2:4). Mereka mungkin tidak mahir menggunakan beberapa fitur di laptop, namun membuat penggolongan tertentu dalam pikiranku bukanlah hal yang benar. Sama seperti mereka, aku juga pasti memiliki keterbatasan dalam bidang lain. Aku hanya perlu menyampingkan ego agar perbedaan yang ada tidak berujung konflik. Menggunakan sudut pandang yang benar memberi kita kesempatan untuk menjadi rekan kerja yang mau menolong kesukaran mereka (Amsal 17:17). Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tapi bekerja sama tidak selalu harus sama. Meski masih harus terus belajar, biarlah kiranya ini menjadi komitmen untuk kita. Terkhusus sebagai pendidik, hal ini menjadi bagian dari tanggung jawab moral untuk menjadi teladan, mengikut Bapa yang mengasihi semua orang—tanpa pilih kasih ( Yakobus 2:1-10, 14-17).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Duta Pengampunan di Tengah Budaya Pengenyahan

Belakangan ini kita tidak asing dengan fenomena para pelanggar yang viral, lalu diangkat menjadi duta. Ada hal menarik yang bisa kita jelajahi dari fenomena ini.

Berhadapan dengan Rekan Kerja yang Menyebalkan

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Dalam kehidupan pekerjaan profesional, tantangan tentu menjadi hal yang tidak mungkin kita hindari. Pergumulan terkait kecukupan gaji, nyaman-tidaknya lingkungan bekerja, tinggi-rendahnya tingkat stres dari pekerjaan yang kita lakukan, hingga apakah pekerjaan tersebut membawa pertumbuhan dan perkembangan pada diri kita tentu selalu ada. Dari beberapa tempat kerja yang memberiku banyak sekali pengalaman dan pelajaran, ada satu hal lainnya juga yang pasti akan kita temui ketika bekerja di manapun: berhadapan dengan karakter orang lain.

Ketika bekerja, kita pasti akan berurusan dengan orang lain. Entah banyak, atau sedikit. Entah dengan usia yang lebih tua, atau lebih muda. Entah dengan perempuan, atau laki-laki. Senyaman apapun lingkungan kerja kita, sebesar apapun nominal gaji kita, semudah apapun jobdesc kita, kita tidak bisa menghindar dari urusan relasi ini.

Seperti relasi antar manusia pada umumnya (dengan keluarga, teman dekat, dan lain-lain), relasi dengan rekan kerja pun tentu akan mengalami dinamika. Ada masa di mana kita kompak dengan mereka ketika mengerjakan suatu pekerjaan, namun ada juga masa di mana kita harus berhadapan dengan karakter atau tingkah mereka yang menyebalkan dan tidak kita sukai. Meskipun indikator ‘menyebalkan’ dan ‘tidak suka’ antara satu orang dengan yang lain akan berbeda, namun fase ini tentu tidak terhindarkan. Ini hal yang wajar, karena pada dasarnya Allah menciptakan manusia unik dan berbeda satu sama lain (Efesus 4:7). Juga tidak boleh dilupakan bahwa kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Lalu apa yang harus kita lakukan jika tengah berhadapan dengan rekan kerja yang menyebalkan, atau bahkan sampai muncul konflik yang tak terhindarkan?

1. Akui emosi hatimu pertama-tama pada Tuhan

Aku pernah memiliki rekan kerja yang tidak mau berbicara padaku gara-gara kami berdebat soal konten media sosial apa yang harus diprioritaskan untuk publikasi hari itu. Aku sedih karena dia mendiamkanku selama beberapa hari dan itu sangat mengganggu jalannya kinerja harian kami (kebetulan pekerjaan harianku selalu berkorelasi dengannya). Mudah bagiku untuk terus larut dalam emosi, berpikiran negatif, hingga berpengaruh pada pekerjaan. Namun, masih ada pilihan untuk berdoa dan mengakui apa yang kurasakan pada Tuhan. Awalnya aku gengsi, ingin berada di posisi yang paling benar, tapi lama-lama Tuhan tolong aku untuk melihat situasi dengan hati dan pikiran yang lebih jernih. Dengan keberanian yang Tuhan anugerahkan, aku akhirnya meminta maaf duluan padanya meskipun dia tetap tidak membalas pesanku. Sedih dan sedikit kecewa, tapi setidaknya itu hal terbaik yang bisa kulakukan.

Mengakui keadaan hati kita pada Tuhan mungkin tidak menolong konflik mereda seketika, tetapi itu akan memberikan damai sejahtera pada hati kita. Ketika hati kita lebih damai, kita lebih mampu untuk melihat lebih jelas dan luas konflik yang sedang kita alami.

2. Bicarakan pada pimpinan atau atasan jika sudah mengganggu profesionalitas kerja

Masih lanjutan dari cerita di atas, karena dia masih mendiamkanku, sedangkan urusan publikasi masih harus terus berlangsung setiap harinya, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan atasan kami. Menjadi suatu berkat yang harus disyukuri ketika memiliki pimpinan yang mau peduli dengan masalah yang dialami anak buahnya. Singkat cerita, ia mengajak ngobrol rekan yang mendiamkanku itu, lalu tak berapa lama kemudian ia akhirnya membuka komunikasi denganku dan relasi kami kembali baik seperti semula.

Namun bagaimana jika atasan kita malah tidak mau ikut campur dengan konflik antar rekan kerja yang sedang terjadi?

Tetap tenangkan diri dan pikiran, lalu coba sampaikan pada atasan bahwa kita butuh pertolongan atau masukan atas pekerjaan yang terhambat akibat konflik tersebut. Usahakan kita tidak perlu fokus pada perilaku rekan kerja yang membuat kita marah, kesal hingga berkonflik, namun fokus pada mencari solusi dari masalah pekerjaan yang sedang dilakukan.

3. Belajar rendah hati untuk terus perbaiki diri

Meski rasanya kesal dan seringkali tidak mau berada di posisi salah, namun kita juga tetap rendah hati untuk terus belajar dalam memperbaiki diri sendiri. Seperti yang ditulis oleh Suzanne Stabile dalam bukunya yang berjudul The Path Between Us: “Sangatlah bagus jika Anda menghabiskan energi untuk mengobservasi dan memperbaiki diri sendiri ketimbang mengobservasi serta memperbaiki orang lain.”

Kesal dengan tingkah laku si rekan kerja tentu bukan berarti kita menjadi pihak yang paling berdosa. Bukan juga artinya dia yang paling berdosa. Namun, Firman dalam Efesus 4:2 mengatakan perintah yang jelas: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.” Sulit? Tentu. Keberdosaan kita membuat kita ingin menjadi pihak yang selalu benar dan tidak ingin salah. Pada akhirnya, meminta tolong kerendahan hati untuk mau belajar pada Allah adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan.

4. Komunikasikan dengan baik ketidaksukaan kita dengan cara yang tidak menghakimi

Ada kalanya kita kesal dengan rekan kerja kita hanya karena tingkahnya yang memang tidak kita sukai, misalkan: si dia terlalu banyak bicara, si dia sok tahu, si dia memiliki kebiasaan menghentak-hentakkan kaki sehingga ruangan kantor jadi berisik, si dia tidak sabaran, si dia pemalas, si dia suka datang terlambat, dan lain-lain. Jika hal itu tidak mengganggu pekerjaan kita, tentu harusnya tidak ada masalah. Namun, jika sudah mengganggu, membuka komunikasi secara baik-baik menjadi cara yang layak dicoba.

Sewaktu bekerja di perusahaan media, salah satu rekanku sering sekali berbicara dengan nada menuntut dan cukup tinggi kepadaku. Konteksnya seperti ini: alur kerja kami memang dimulai dari aku dulu yang membuat konsep, kemudian dia yang membuatkan desain. Aku selalu berupaya untuk memberikan konsep tepat waktu, namun dalam beberapa kesempatan ia tetap marah-marah padaku. Emosinya membuatku merasa di posisi serba salah. Aku jadi kesal. Hingga pada suatu hari aku mencoba iseng mengungkapkan rasa kesal itu. Dimulai dengan berdoa singkat dalam hati meminta ketenangan, aku bertanya, “Woy, kamu kenapa sih? Lagi dikejar kereta api? Ngomong sama aku kok ngegas mulu gitu lho.” Lalu dia menjawab, “Hah? Aduh aku emang ngegas ya? Maaf, maaf.” Responnya dia ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan. Dia bahkan meminta maaf dan setelah itu menceritakan bahwa ada masalah yang tengah mengganggunya sehingga di saat itu ia sebenarnya tidak sedang berkonsentrasi bekerja.

Singkat cerita, hubungan kami malah jadi semakin dekat, dan ketika dia mulai berbicara dengan nada yang sama, aku tidak masukkan ke dalam perasaan lagi, selama memang pekerjaan kami sudah pada alur dan waktu yang tepat.

Jadi, belum tentu tingkah menyebalkan seseorang selalu tanpa alasan. Kadang mungkin saja ada permasalahan atau beban berat yang sedang mereka pikul namun enggan membicarakannya pada siapapun, sehingga membuat tingkahnya jadi menyebalkan untuk orang sekitar. Di sini, kita bisa meminta hikmat pada Tuhan untuk menjadi pendengar yang baik, atau bahkan kita bisa membantu dan menolongnya sesuai kapasitas yang Tuhan anugerahkan untuk kita.

5. Hindari membicarakan kelemahan atau keburukannya kepada orang lain

Aku menuliskan ini bukan berarti aku berhasil menghindarinya. Tidak. Membicarakan keanehan atau kelemahan orang lain yang tidak kita senangi rasanya menjadi makanan sehari-hari dan kita sadar-tidak sadar senang melakukannya. Aku pribadi mengakui bahwa masih sangat sulit untuk mengekang lidah dan sulit untuk menjaga hati agar tidak bergunjing, apalagi jika itu menyangkut orang yang menyebalkan bagiku.

Sayangnya, Tuhan tidak menghendaki demikian. Yakobus 1:26 secara jelas menyampaikan: “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” Ketika ‘terjebak’ pada situasi bergosip yang sungguh menggoda, kita bisa minta tolong pada Allah dalam doa untuk menahan motivasi hati kita yang ingin ikut-ikutan membicarakannya. Aku sendiri beberapa kali lebih memilih diam atau bermain ponsel ketika topik tentang si orang-yang-menyebalkan mulai muncul dalam percakapanku bersama rekan-rekan kerjaku yang lain. Ada kalanya aku juga jatuh dan ikut tergoda membicarakannya. Minta tolong pada Allah menjadi cara terbaik yang bisa kita lakukan.

* * *

Beberapa pengalaman bekerja di ranah profesional sebelumnya mengajariku bahwa meskipun kita bisa memilih perusahaan, ladang, gaji, hingga jenis pekerjaan dan jabatan yang kita mau, kita tidak bisa memilih pemimpin, tim, serta rekan kerja yang akan bekerja bersama kita. Aku belajar bahwa jika pun aku memperoleh semua yang aku mau dalam pekerjaan tersebut, aku tidak bisa mengelak dari dinamika relasi yang terjadi antara aku dan rekan sekerjaku. Talenta yang kumiliki untuk berkontribusi dalam pekerjaan tersebut ternyata satu paket dengan bayar harga dan penderitaan di dalamnya, termasuk juga ketika menghadapi konflik dan masalah dengan sesama.

Pertanyaannya: apakah kita mau untuk selalu mengandalkan kekuatan Tuhan dalam pekerjaan hari ke hari, atau lebih memilih untuk mengandalkan kekuatan sendiri?

Baca Juga:

7 Langkah Berdamai Saat Berkonflik dengan Teman Dekat

Berteman lama dan sangat dekat tidak jadi jaminan kalau pertemanan itu akan bebas dari konflik. Lalu, bagaimana caranya kita berekonsiliasi kala konflik terjadi dengan kawan dekat?

Menikmati Allah di Segala Musim

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Aku sempat merasakan kekosongan di masa-masa menjelang Natal beberapa tahun terakhir ini. Aku terlibat di berbagai acara gereja, tetapi yang kurasa bukan sukacita. Aku bosan menjadi panitia, pemusik, mengiringi paduan suara dan segudang aktivitas lainnya. Momen Natal yang seharusnya menjadi saat-saat reflektif malah jadi terasa hambar.

Pada Natal tahun 2020 kemarin, ada hal lain yang juga menyita kesibukanku, yaitu pekerjaan. Saat ini aku bekerja di perusahaan start-up yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Menapaki pekerjaan di bidang start-up tentu banyak tantangannya: belum ada sistem yang terbentuk, struktur sumber daya manusia (SDM) pun belum kokoh, dan kami yang bekerja di dalamnya masih seperti berjalan di hutan rimba; menerka-nerka apa yang baik untuk keberlangsungan bisnis ini juga untuk setiap pegawai yang bekerja di dalamnya. Bahkan masing-masing kami masih harus melakoni dua hingga tiga jabatan sekaligus untuk beberapa proyek pekerjaan.

Di Desember kemarin aku dan rekan-rekan kerjaku memiliki beberapa proyek pekerjaan besar, mulai dari pembukaan outlet kafe baru, hingga mengirim parsel Natal ke berbagai pihak yang mendukung keberlangsungan perusahaan ini. Di suatu pagi ketika aku sedang menempuh perjalanan ke kantor, aku mengeluh di dalam doaku pada Tuhan.

“Tuhan, aku capek banget! Masa Desember gini kerjanya abis-abisan sih? Aku ingin menikmati momen Natal tanpa diganggu pekerjaan-pekerjaan yang super banyak ini! Aku ingin liburan.”

Aku mengeluh. Di samping memang tubuh dan pikiranku sedang letih, aku merasa seperti menolak kondisi dan tidak menikmati pekerjaan yang tengah kujalani di kantor. Namun ketika aku mendoakan keluhan itu, aku teringat akan doaku di tahun 2019 yang lalu: bahwa aku ingin menikmati Natal dengan cara tidak sekadar ritual dan pelayanan. Aku lantas merenung: pekerjaan yang kulakukan sekarang sesungguhnya adalah pemberian dari Tuhan. Aku pernah menuliskan proses perjalanan berkarierku dan menemukan bahwa ini adalah tempat terbaik untukku bekerja, setidaknya hingga saat ini. Mengingat proses bagaimana Tuhan tempatkan aku di perusahaan start-up, aku pun kembali mengingat-ingat ternyata banyak sekali hal baik yang Tuhan lakukan buatku, tapi aku sering tidak menyadarinya. Dan parahnya, aku masih saja sering mengeluh, mengasihani diri, dan kurang bersyukur.

Menyadari keberdosaanku, aku meminta ampun pada Tuhan karena tidak sadar akan hadirnya Pribadi yang selalu memimpin langkahku—si manusia yang sesat seperti domba dan mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6). Dalam anugerah Tuhan, aku akhirnya menyadari dan menemukan sebuah jawaban dari rasa bosanku mengerjakan kegiatan atau aktivitas Natal selama bertahun-tahun: aku fokus pada aktivitas dan kegiatannya, bukan pada Kristusnya. Aku fokus pada berbagai macam pelayanan, kegiatan, perayaan, ritual, tradisi, tapi lupa pada Satu Pribadi yang merupakan fokus utama dari keberadaan Natal sesungguhnya. Aku tidak menikmati berbagai kegiatan yang berlangsung di penghujung tahun karena aku sulit menyadari kehadiran Kristus yang senantiasa memimpin hari-hariku.

Menikmati Allah Ketika Sibuk dan Tidak Sibuk

Lalu apakah salah jika dalam momen Natal kemarin yang seharusnya dilalui dengan refleksi aku malah sibuk bekerja di kantor? Pertanyaan refleksi ini aku tanyakan pada diri sendiri, dan mungkin bisa berlaku juga untuk kita semua. Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Judah Smith dalam bukunya yang berjudul “How’s Your Soul? – Why Everything That Matters Starts with The Inside You” menuliskan ada empat lingkungan kondusif yang Tuhan sediakan bagi kesehatan jiwa kita, salah satunya adalah Responsibility atau tanggung jawab. Tuhan menciptakan manusia untuk bekerja bukan sebagai bentuk hukuman. Konsep bekerja bahkan sudah ada sejak zaman Adam di taman Eden (Kejadian 2:15). “God created humans to bear responsibility. (Tuhan menciptakan manusia untuk memikul tanggung jawab.)”—dan ini adalah kondisi yang sehat yang Tuhan ciptakan untuk kita.

Bagian dari buku yang tengah kubaca tersebut mengingatkanku kembali bahwa pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita juga merupakan pelayanan bagi Tuhan, meskipun kelihatannya sulit meluangkan waktu untuk melakukan refleksi Natal secara pribadi. Apalagi jika kembali mengingat bagaimana cara Tuhan menempatkanku di kantor ini, aku kembali mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi keluhan yang menghambat ucapan syukur. Sambil terus belajar bahwa segala sesuatu yang dikerjakan harusnya kulakukan dengan sekuat tenaga dan dengan segenap hatiku seperti untuk Tuhan (Pengkhotbah 9:10; Kolose 3:23).

Sibuk bekerja dengan penuh tanggung jawab tentu bukan berarti tidak ada istirahat. Masih berasal dari buku yang sama, elemen berikutnya yang menyehatkan jiwa kita adalah Rest atau beristirahat. Terus menjaga dan menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati langit biru sambil diterpa angin sepoi-sepoi merupakan bentuk istirahat jiwa kita. Menikmati makanan, waktu bersama teman dan orang tersayang, dan hal-hal yang disediakan Tuhan untuk kita merupakan bentuk istirahat bagi jiwa kita. Fokus pada kesibukan seringkali malah membuat kita lelah luar dalam; lelah bagi tubuh, lelah bagi jiwa. Akhirnya, momen yang kupilih menjadi waktu terbaik untuk merefleksikan makna Natal secara pribadi adalah ketika aku tengah menempuh perjalanan pergi dan pulang kantor menggunakan ojek daring, sambil mendengarkan lagu-lagu Natal dan diterpa angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

“A restless soul is a soul that thinks it is in control and needs to take care of everything. If we do not rest, we are trying to be our own God. (Jiwa yang gelisah adalah jiwa yang berpikir bahwa dirinyalah yang mengatur dan perlu mengendalikan segalanya. Jika kita tidak beristirahat, kita sedang mencoba menjadi tuhan atas diri kita sendiri)”.–Judah Smith dalam buku “How’s Your Soul?”

Imanuel: Natal yang Sesungguhnya Setiap Hari

Dari perenungan pribadiku, aku belajar bahwa menikmati hadirat dan pimpinan Tuhan dalam segala aktivitas, kegiatan, dan kesibukan merupakan hal terbaik yang bisa kunikmati. Sebuah sukacita bagi jiwa ketika bisa menikmati dan merasakan pimpinan Tuhan baik ketika sedang bekerja, maupun ketika sedang beristirahat sambil menghirup wanginya air hujan yang jatuh ke tanah.

Natal tahun 2020 telah berlalu dan kini aku belajar bahwa makna Natal yang sesungguhnya tidak berfokus pada jenis kegiatan atau aktivitas yang kita lakukan pada bulan Desember, melainkan pada: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yesaya 9:5). Dan Anak yang telah lahir itu ada bersama-sama dengan kita setiap hari, terlepas dari sibuk atau tidaknya kita. Mengapa? Karena Ia adalah Imanuel: Allah menyertai kita (Matius 1:23). Kelahiran-Nya ke dunia membawa kabar sukacita terbaik yang pernah ada, yaitu menyelamatkan umat manusia dari belenggu hukuman dosa dan memberikan kehidupan sejati karena kasih Allah yang begitu besar buat teman-teman dan juga aku; supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Natal selalu berbicara tentang tentang Tuhan Yesus Kristus yang lahir dan berkenan untuk dikenal (Yesaya 55:6). Dia menyertai kita di sepanjang tahun 2021 ini, dan kita bisa minta tolong pada-Nya supaya bisa menikmati Dia setiap hari, dalam setiap kegiatan apapun yang kita kerjakan.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Pahamilah Arti Kasih yang Sejati

Sedikit tindakan kasih yang kita lakukan tentulah tidak sebanding dengan apa yang Allah telah berikan pada kita, tetapi tindakan kasih itulah yang menunjukkan pada dunia bahwa kita telah dikasihi lebih dulu oleh Allah.

Ketika Pekerjaan Tak Hanya Sebatas Cari Uang dan Kerja Kantoran

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Bagiku sukacita adalah ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan; semua keinginanku terpenuhi, semua ekspektasiku terjadi. Aku pikir, sukacita itu hanya identik dengan perasaan senang saja. Nyata, tidak selalu demikian. Termasuk dalam hal pekerjaan.

Aku memulai karierku sebagai marketing di sebuah bisnis restoran. Restoran tersebut merupakan tempat favoritku untuk nongkrong bersama teman-teman semasa kuliah. Ketika mengetahui bahwa aku diterima bekerja di sana, rasanya senang dan sangat bersyukur. Selain karena tempat itu adalah restoran favoritku, aku juga senang karena bisa merasakan bagaimana sensasi menjadi seorang pekerja setelah lulus dari universitas.

Awalnya semua terlihat menyenangkan. Aku juga berpikir bahwa aku akan bertahan sangat lama bekerja di bisnis restoran favoritku. Nyatanya, setelah melewati banyak pembelajaran, baik tentang tanggung jawab pekerjaanku, maupun tentang bagaimana menjalin kerjasama tim yang baik dengan orang-orang di sana, aku mengakhiri petualanganku dalam jangka waktu 2,5 tahun. Aku memutuskan resign karena aku takut terlalu nyaman. Aku takut kemampuanku tidak berkembang lebih banyak kalau terlalu lama bekerja di tempat itu. Ditambah lagi, sebagai lulusan dari ranah Ilmu Komunikasi, rasanya ada yang kurang jika aku tidak mencoba terjun ke dunia media. Akhirnya aku melamar ke salah satu perusahaan media besar di Indonesia, dan Tuhan menjawab doaku.

Lagi-lagi merasa sangat senang, bahagia, dan bersyukur bisa diterima di perusahaan media yang aku incar tersebut. Bahkan aku sempat merasa pekerjaan itu adalah panggilan hidupku di dunia berkarir. Di masa-masa awal bekerja, aku berekspektasi bahwa karierku akan sangat bagus di tempat ini. Dengan gaji yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari, nama baik perusahaan yang berpotensi meningkatkan harga diriku di mata orang lain, memiliki teman-teman yang seru, dan beberapa faktor menyenangkan lainnya membuatku sempat merasa bahwa ini adalah pekerjaan terbaikku. Aku yakin bisa bertahan lama di sini.

Namun, 7 bulan bekerja adalah realita yang terjadi. Aku kembali memutuskan untuk resign karena aku tidak suka dengan konten media yang harus aku produksi setiap harinya. Ada idealisme di dalam diriku yang memberontak ketika aku mengerjakan bagianku. Aku bertanya-tanya: apakah ini salahku? Atau salah tempat kerjaku? Ekspektasiku hancur. Aku kecewa. Waktu itu aku sangat bingung karena kekecewaan yang kualami campur aduk; antara aku kecewa dengan tempat kerja yang tidak memenuhi ekspektasi, atau aku kecewa dengan diriku sendiri karena memiliki ekspektasi yang berlebihan. Aku sedih sekali harus berpisah dengan teman-teman yang seru dan tidak bisa bertahan lama bekerja di sana. Aku merasa tidak berguna dan gagal. Dengan kondisi ekspektasi yang hancur ini, aku memutuskan tidak melamar pekerjaan dulu selama 3 bulan.

Setelah 3 bulan, aku kembali membuka hati dan diriku untuk melamar bekerja. Kali ini, pilihanku kembali ke bisnis restoran karena aku merasa sepertinya aku memiliki minat di industri tersebut. Singkat cerita, aku kembali diterima di sebuah bisnis restoran sebagai Staf Media Sosial (Social Media Officer). Lagi-lagi merasa senang, bahagia, dan bersyukur, TAPI kali ini aku tidak merancang ekspektasi apapun. Aku belajar untuk menyerahkan karirku ke dalam tangan Tuhan dan belajar menikmati segala proses di pekerjaanku. Bisnis restoran kali ini cukup asing, karena aku belum mengetahui apa-apa tentang merek restoran ini sebelumnya. Sempat ada rasa takut gagal lagi, takut kecewa lagi, tapi aku mau belajar untuk selalu percaya bahwa Tuhan menyertai hari-hariku bekerja di sana.

Ketidaknyamanan mulai terasa kembali ketika aku mengenal karakter dari bosku yang, dalam pandanganku, memiliki karakter yang kurang baik dan kurang menjadi teladan, khususnya dalam hal bertutur kata. Ketakutanku saat itu adalah aku bisa terpengaruh, meskipun sebenarnya beliau memperlakukanku dengan baik dan profesional. Beliau juga mendukungku ketika aku bertanya-tanya soal job description yang menjadi tanggung jawabku. Hanya terkait tutur katanya saja yang membuatku tidak nyaman.

Sempat terpikir kembali untuk resign namun aku sudah terlalu lelah untuk menyerah. Akhirnya aku mencoba untuk menuangkan unek-unekku dengan cara bertemu salah satu abang seniorku yang adalah hamba Tuhan, Bang Alex Nanlohy. Meski sempat ragu, karena aku paham beliau pasti sibuk sekali, aku beranikan diri saja untuk mengontak dan puji Tuhan beliau mau menyempatkan waktu bertemu denganku sehabis membawakan khotbah di sebuah ibadah persekutuan mahasiswa.

Dari percakapan kami, aku belajar bahwa kita tidak akan pernah menemukan tempat kerja se-sempurna yang kita inginkan. Bahkan seorang petani pun harus turun menjejakkan kakinya di lumpur agar bisa bertani. Yang harus diperhatikan dalam aspek pekerjaan kita seharusnya adalah: Allah dimuliakan, pekerjaan tersebut tidak mengikat kita dalam dosa, orang lain terberkati, kebutuhan diri sendiri terpenuhi. Seusai pertemuan tersebut, aku merenungkan nasihat beliau, dan singkat cerita aku mengambil komitmen untuk bertahan sampai Tuhan sendiri yang benar-benar memberi sinyal bahwa aku harus berhenti bekerja di sana.

Dua minggu setelah pertemuanku dengan Bang Alex, bisnis restoran tempatku bekerja bangkrut. Restoran pun tutup, dan di situ aku sangat sedih. Sedih karena aku mulai menikmati apa yang kukerjakan, mulai belajar menerima karakter bosku yang sempat tidak membuatku nyaman, kembali berpisah dengan teman-teman baru, dan sedih karena aku hanya bertahan lebih singkat yaitu 6 bulan. Aku bertanya-tanya: Tuhan, Meista harus melamar ke mana lagi? Dengan kondisiku yang masih sedih, aku berniat melamar pekerjaan kembali di awal tahun 2020 (peristiwa tempat kerjaku bangkrut terjadi di awal Desember 2019).

Pertengahan Desember, mantan senior di tempat kerja lama menghubungiku. Beliau bertanya apakah aku memiliki teman yang bisa membantu timnya di bagian marketing dan media sosial untuk bantu promosikan sebuah perusahaan minuman teh. Berhubung aku sedang tidak bekerja, jadilah aku yang menawarkan diri untuk mengisi posisi tersebut. Singkat cerita, beberapa hari setelahnya aku diwawancara dan langsung diminta bekerja per 6 Januari 2020. Hingga tulisan ini dipublikasikan, aku masih bertahan bekerja di sana.

Jujur, akhirnya aku menemukan apa yang menjadi sukacitaku dalam bekerja: aku senang menolong orang lain. Aku tidak hanya senang dengan jenis perusahaan yang lagi-lagi di bidang kuliner, tidak hanya senang dengan jenis pekerjaanku yang kembali menekuni bidang pemasaran dan komunikasi, tapi aku juga senang membantu bosku memajukan produktivitas bisnisnya yang terbilang masih ada di tahap awal (startup). Tantangan, resiko, konflik antar pribadi tentu menjadi hal yang tak terhindarkan, karena aku bekerja di dalam sebuah tim, bukan seorang diri. Aku belajar bahwa berkarir tidak hanya tentang: uang, pengalaman, kebanggaan diri, atau status tidak menganggur, melainkan juga tentang kerjasama tim dan bagaimana berhadapan dengan karakter orang lain.

Aku juga belajar bahwa ternyata sukacita identik dengan rasa syukur. Rasa cukup. Aku tidak perlu lagi berekspektasi ini dan itu secara berlebihan karena aku yakin Tuhan menyediakan dan berikan yang terbaik buatku. Ini bukan berarti aku bisa bermalas-malasan dan tidak bijak dalam menggunakan waktu yang ada. Aku justru belajar bahwa melakukan bagianku dalam pekerjaan adalah hal terbaik yang bisa kulakukan. Membuat perencanaan dan memasang target itu sangat diperlukan, tapi melibatkan Tuhan di dalamnya itu jauh lebih penting. Ketika menyadari bahwa Tuhan terlibat dan Tuhan menyediakan, sukacita itu pun juga tersedia meskipun yang terjadi tidak selalu sama dengan yang kita harapkan atau inginkan.

Maukah kita selalu percaya pada-Nya? Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Kala Instagram Merenggut Sukacitaku

Gara-gara asyik main Instagram, aku jadi minder. Aku meletakkan kebahagiaanku pada apa yang tak kupunya.

Mengupas Mitos Work-Life Balance: Di Manakah Tempat Pekerjaan dalam Kehidupan?

Oleh Jefferson, Singapura

Tidak terasa kita sudah memasuki paruh kedua tahun 2020. Terhitung bulan ini, oleh karena pandemi COVID-19, aku sudah menghabiskan lebih banyak waktu bekerja dari rumah (~4 bulan) daripada di kantor (3 bulan) tahun ini. Walaupun aku nyaman-nyaman saja dengan pengaturan kerja yang baru, aku merasa jauh lebih sibuk dibandingkan dengan sebelum bekerja dari rumah. Dari segi pekerjaan, waktuku jadi banyak dipakai untuk berdiskusi dengan timku untuk memastikan bahwa kami masih memenuhi tenggat waktu dari berbagai proposal dan proyek yang kami kerjakan. Pelayanan pun padat; aku memimpin kelompok pemuridan atau grup baca setiap minggu, menghadiri dan mengajar di ibadah remaja yang diadakan lewat Zoom, dan mengkoordinasi Bulan Pemuridan di gerejaku. Ada juga proyek pribadi seperti membaca buku dan menulis untuk WarungSaTeKaMu dan blog.

Ketika aku membagikan berbagai kesibukanku ini dengan kelompok pemuridanku, seorang anggota berkomentar, “Santailah Jeff, rasanya kamu terlalu memaksakan diri.”

Mendengar tanggapannya, aku jadi sempat cemas kalau-kalau aku jatuh lagi ke dalam sisi gelap pelayanan seperti yang kualami di bulan September tahun lalu. Namun setelah benar-benar mengevaluasi kondisiku saat ini, aku menemukan diriku baik-baik saja. Perihal disiplin rohani, saat teduh dan doaku berjalan lancar setiap hari. Secara emosi aku cukup diletihkan oleh beberapa pertikaian baik dengan kolega maupun rekan pelayanan, tetapi Allah dalam kasih karunia-Nya selalu menyelesaikan konflik-konflik yang kuhadapi dengan damai dan memberikanku kekuatan untuk melaluinya dengan kasih dan kerendahan hati. Secara fisik terkadang aku merasa sangat lelah, tapi aku selalu bisa tidur nyenyak selama 6–7 jam setiap malam dan menyisihkan waktu untuk berolahraga. Dan, yang paling penting, aku menikmati hadirat Tuhan dalam mengerjakan semuanya itu.

Evaluasi ini menuntunku untuk memikirkan ulang satu konsep yang digaungkan keras di dunia masa kini: work-life balance. Secara singkat, konsep ini mengajarkan perlunya suatu keseimbangan antara kesibukan pekerjaan dengan kehidupan di luar karier agar kita dapat menikmati kehidupan sebagaimana mestinya. Betapa menariknya konsep ini, apalagi untuk konteksku di Singapura yang terkenal sibuk! Meskipun begitu, aku mengamati ada suatu kejanggalan dalam premis dasarnya. Apakah kamu melihatnya juga?

Memikirkan ulang ”keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan”

Pertama-tama kita perlu memperhatikan penggunaan kata “keseimbangan”. Kata-kata apa saja yang biasanya kamu asosiasikan dengan “keseimbangan”? Aku langsung terpikir: gelap dan terang, panas dan dingin, berlimpah dan langka. Bisa kamu amati polanya? Kata ini umumnya kita gunakan untuk mengilustrasikan pasangan kata yang berlawanan. Dan apa saja yang sedang diseimbangkan, atau yang digambarkan sebagai bertentangan satu sama lain, dalam konsep work-life balance? “[P]ekerjaan dan kehidupan”.

Setelah membaca paragraf di atas, kuharap kamu jadi mempertanyakan hal-hal yang sama denganku: ‭‭Bukankah pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, sama seperti tidur, olahraga, istirahat, hubungan dengan keluarga dan teman, dan hal-hal lainnya? Mengapa pekerjaan perlu dibedakan dari dan diadu dengan kehidupan? Apakah ketika kita sedang bekerja, kita tidak sedang hidup, dan begitu juga sebaliknya, seolah-olah yang satu adalah “baik” sehingga patut kita sukai dan yang lain adalah “jahat” sehingga patut kita benci?

Begitu menyadari kejanggalan ini, aku jadi teringat Firman Tuhan dalam 1 Korintus 10:31 dan Kolose 3:23–24. Ayat-ayat ini memberikan sudut pandang yang jauh berbeda dari konsep work-life balance, di mana Tuhan mengajarkan kita untuk, dalam kata-kata terakhir almarhum J. I. Packer kepada gereja, “glorify Christ every way” (“muliakan Kristus dalam segala sesuatu”; 1 Kor. 10:31), termasuk dalam karier dan pekerjaan kita (Kol. 3:23) dengan kesadaran penuh bahwa kita sedang melayani Tuhan Yesus (Kol. 3:24).

Ketika kita membandingkan konsep work-life balance dengan pandangan Alkitab terhadap pekerjaan dan kehidupan, kita bisa melihat bahwa konsep ini, mengasumsikan intensi yang terbaik, adalah sebuah pengingat tentang pentingnya istirahat untuk orang-orang yang gila kerja (baca: aku). Di sisi lain, mengasumsikan yang terburuk, konsep work-life balance memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang jahat dan harus diimbangi sebanyak mungkin dengan “kehidupan”, entah apapun bentuknya. Interpretasi terburuk ini tentunya tidak Alkitabiah karena Allah sendiri melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang baik, buktinya selama penciptaan Ia bekerja selama enam hari, baru beristirahat (Kej. 1).

Walaupun secara niat konsep ini baik karena mengingatkan perlunya istirahat dari pekerjaan, kita telah melihat bagaimana presumsi dasar dari konsep work-life balance tidak sejalan dengan pandangan Alkitab. Kalau begitu, bagaimanakah pengikut-pengikut Kristus seharusnya memandang pekerjaan dan istirahat?

Integrasi yang dilandasi bulir-bulir gandum

Istilah “integrasi pekerjaan dalam kehidupan” yang kupinjam dari dunia bisnis adalah jawabanku terhadap pertanyaan terakhir. Mendengar “dunia bisnis”, kamu mungkin jadi khawatir kalau-kalau tulisan ini tidak berlandaskan Alkitab sama sekali. Tenang saja, aku hanya meminjam tidak lebih dari istilahnya. Konsep yang kuusulkan sendiri dilandasi oleh satu perikop Alkitab yang akan kita pelajari lebih lanjut.

Kamu tentunya akrab dengan konsep Sabat, di mana Tuhan memerintahkan kita untuk mengkhususkan satu hari untuk beribadah kepada-Nya dan “tidak melakukan sesuatu pekerjaan” apapun (Kel. 20:8, Ima. 23:3, Ula. 5:12–15). Di zaman Perjanjian Lama dan bahkan hingga saat ini, orang-orang Yahudi menginterpretasikan perintah ini secara harfiah: mereka benar-benar tidak melakukan hal-hal yang mereka anggap sebagai “pekerjaan” pada hari Sabat mereka (pernah dengar anekdot lift di Israel yang berhenti di setiap lantai pada hari Sabat?). Sementara itu, kita sebagai pengikut Kristus yang menerima Perjanjian Baru menghidupi Sabat dalam iman bahwa Ia adalah “Tuhan atas hari Sabat” (Mat. 12:8, Mrk. 2:28, Luk. 6:5). Apakah maksudnya?

Mari kita menilik asal muasal gelar ini sebagaimana diceritakan oleh Markus. Pada suatu hari Sabat, “Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum” (Mrk. 2:23) untuk dimakan (Mat. 12:1, Luk. 6:1). Apa yang para murid lakukan sebenarnya tidak melanggar hukum Taurat sama sekali (Ul. 23:24–25), namun orang-orang Farisi menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum Sabat (ay. 24). Tuhan Yesus menanggapi mereka dengan mengutip kisah Daud (ay. 25–26) yang melanggar Taurat (Im. 24:5–9) dengan memakan roti sajian (1 Sam. 21:1–6). Perhatikan bahwa Tuhan Yesus menekankan kepada orang-orang Farisi bahwa saat itu Daud dan rombongannya sedang “kekurangan dan kelaparan” (ay. 25). Atas dasar peristiwa ini, Tuhan Yesus kemudian mengingatkan bahwa “”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (ay. 27) sebelum mengajarkan bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat (ay. 28).

Perikop di atas mengajarkanku bahwa kita memang perlu membedakan antara waktu bekerja dan beristirahat, tetapi dalam praktiknya kita harus memahami apakah kita memang sedang melakukan apa yang perlu dilakukan saat itu. Dalam kasus Daud dan murid-murid, Tuhan Yesus melihat bahwa mereka memang sedang membutuhkan makanan, maka Ia tidak melihat adanya pelanggaran terhadap hukum Taurat sama sekali. Justru Tuhan Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang menginterpretasikan hukum Taurat dengan terlalu keras dan mengabaikan kebutuhan mereka yang membutuhkan. Terlebih lagi, Ia mengundang kita semua yang letih lesu dan berbeban berat untuk memikul kuk yang Ia pasang dan belajar dari-Nya (Mat. 11:28–29), sebab kuk-Nya itu enak dan beban-Nya pun ringan (ay. 30).

Mendalami “integrasi pekerjaan dalam kehidupan”

Sama halnya dengan pekerjaan dan istirahat dan kehidupan. Pemahaman work-life balance menggambar satu garis pemisah tebal antara ketiganya dan menuntut suatu keseimbangan mutlak nan abstrak tanpa memperhatikan kebutuhan tiap orang yang berbeda-beda. Di sisi lain, konsep work-life integration yang kuusulkan melihat bahwa Tuhan menciptakan pekerjaan untuk kemuliaan-Nya dan sukacita kita (Pkh. 3:12–13) sehingga kita patut mengintegrasikan pekerjaan dalam kehidupan. Sampai di sini kamu mungkin berpikir, “Kalau memang pekerjaan adalah bagian dari kehidupan, mengapa ia masih perlu diintegrasikan?” Karena ada dosa dalam dunia ini yang kadang membuat pekerjaan kita, dalam kata-kata Tim Keller dalam bukunya Every Good Endeavour, menjadi tanpa hasil (bdk. Kej. 3:17–19), sia-sia (bdk. Pkh. 2:17–20), egois (Tim Keller membahas bagian ini dari kitab Ester), dan menyingkapkan berhala-berhala yang kita sembah (bdk. 1 Tim. 5:10). Menghadapi realita pekerjaan yang Tuhan kutuk dalam dosa (Kej. 3:17), kata “integrasi” dipilih dan dipakai untuk mengingatkan bahwa realita itu bukanlah rancangan awal Tuhan dan bahwa Tuhan Yesus telah memulihkan rancangan awal itu kembali lewat karya keselamatan di atas kayu.

Lebih lagi, dalam konsep ini kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus dalam Matius 11:28–30 dengan menanyakan satu pertanyaan kunci, “Apakah yang sedang aku lakukan saat ini adalah tindakan yang paling memuliakan Tuhan dan memberikanku sukacita-Nya?” Perhatikan implikasi dari pertanyaan itu, yang memberikan kepada kita keluwesan dalam bekerja dan beristirahat:

  1. Memberikan yang terbaik untuk kemuliaan Tuhan dan sukacita-Nya dalam pekerjaan dan aktivitas sehari-hari;
  2. Berserah kepada dan beristirahat di dalam Tuhan ketika sedang kelelahan; dan
  3. Ketika sudah disegarkan kembali oleh Tuhan, melakukan kembali poin 1.

Sejauh ini kita telah belajar bahwa hal pekerjaan dan istirahat bukan tentang keseimbangan tetapi bagaimana memaksimalkan waktu kita untuk memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya dalam segala aspek kehidupan, termasuk pekerjaan (bdk. Ef. 5:15-16); bukan tentang mengikuti peraturan atau mengambil waktu istirahat, melainkan apakah kita benar-benar sedang melakukan apa yang perlu dilakukan saat itu.

Kamu jadi mungkin bertanya-tanya adakah aplikasi praktis dari konsep work-life integration yang bisa langsung kamu terapkan dalam kehidupanmu sehari-hari? Seperti yang telah kusebutkan, kebutuhan setiap orang berbeda-beda dan hanya kamu yang paling paham jadwal dan kebutuhanmu sendiri. Yang bisa kubagikan hanyalah prinsip-prinsip panduan dalam mengintegrasikan pekerjaan dalam kehidupan yang kuterapkan sendiri pada diriku, sebagai berikut.

Menghidupi integrasi pekerjaan dalam kehidupan

Yang pertama adalah mengkhususkan satu “hari” Sabat dalam satu minggu, biasanya hari Sabtu, di mana aku benar-benar tidak bekerja dan bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah untuk mencukupkan dan menghidupiku sepanjang hari itu. Kusebut “hari” karena dalam pelaksanaannya lebih mirip satu periode 24 jam yang bisa lebih atau kurang. Ingatlah bahwa “Hari Sabat dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27), jadi jangan terlalu kaku mendefinisikan durasi “hari Sabat”-mu. Pada hari Sabatku, aku hanya akan melakukan aktivitas-aktivitas yang menyegarkanku – tentunya setelah bersaat teduh dan berdoa sebangunnya dari tidur malam – seperti berolahraga, memimpin kelompok pemuridan, menulis, membaca, mengikuti ibadah gereja kalau hari Sabat minggu itu adalah hari Minggu, dan bersekutu dengan teman.

Pada hari Sabat, usahakan untuk tidak memikirkan pekerjaan atau pelayanan; kalau perlu, kurangi frekuensi mengecek notifikasi di ponsel dan alihkan semua urusan yang mendesak untuk dibicarakan langsung lewat panggilan telepon. Perhatikan bahwa prinsip ini bukannya menganjurkan kita untuk tidak memikirkan pekerjaan dan pelayanan sama sekali; justru keduanya harus kita bawa kepada Tuhan di momen-momen doa dan saat teduh dan ibadah pribadi pada hari Sabat. Maksudku adalah karena fokus hari Sabat kita adalah bersekutu dengan Tuhan, jangan sampai karena kepikiran tentang keduanya kita malah jadi tidak menikmati Tuhan dan beristirahat dengan maksimal. Kesusahan sehari biarlah untuk sehari saja, dan kesusahan pekerjaan dan pelayanan biarlah untuk waktu bekerja dan melayani saja. Pekerjaan dan pelayanan tidak akan ada habisnya, tetapi kapasitas kita untuk bekerja dan melayani ada batasnya. Justru ketika kita sudah disegarkan kembali oleh Allah, kita akan jadi lebih efektif dalam pekerjaan dan pelayanan di hari/minggu berikutnya.

Yang kedua, aku mengadakan “Sabat mini” selama yang aku bisa setiap malam seusai kerja. Selain kegiatan-kegiatan di atas, waktu-waktu seperti ini juga kupakai untuk membaca perikop harian dari rencana baca Alkitab tahunanku. Masak dan makan malam bersama teman-teman sekos menjadi sorotanku untuk aktivitas dari prinsip kedua ini.

Yang ketiga, kalau benar-benar sedang sibuk, aku akan menukar beberapa slot Sabat mini ke slot-slot berikutnya. Intinya adalah menjadi sefleksibel mungkin dalam memberikan kadar yang secukupnya kepada waktu bekerja dan beristirahat sehingga dalam semuanya itu kita benar-benar memuliakan dan menikmati Allah semaksimal kita. Artikel ini seharusnya sudah selesai kutulis bulan Juni kemarin, namun karena kelelahan setelah mengalami beberapa minggu yang sangat sibuk di kantor dan di pelayanan, aku menunda tulisan ini ke bulan Juli. Pada akhirnya, aku butuh sekitar 4 minggu penuh istirahat untuk bisa kembali ke level semangat dan energi yang biasanya.

Melihat kembali 4 minggu yang kesannya tak menghasilkan buah apapun, aku bisa bilang bahwa masa itu termasuk “produktif” karena aku benar-benar fokus memulihkan kesehatan rohani, mental, dan fisikku. Kalau aku tidak benar-benar beristirahat, rasanya tulisan ini pun tidak akan selesai dengan kualitas yang kuinginkan. Menurutku istirahat tidak selalu berarti waktu untuk diriku sendiri, walaupun aku sering berolahraga ke taman sendirian, membaca buku dan komik, dan menonton serial TV kesukaanku sewaktu istirahat. Yang kumaksud dengan “istirahat” adalah segala kegiatan yang menyegarkan diri dan memberikan kita sukacita di dalam Tuhan, menyadari penuh bahwa kasih karunia-Nya terus menopang kita bahkan ketika kita tidak sedang bekerja, dan mengingat bahwa Tuhan Yesuslah yang mendefinisikan diri kita, bukan pekerjaan, pelayanan, ataupun istirahat. Buatku, ini berarti main games bersama teman-teman sekos, masak untuk tamu yang datang ke rumah, dan memimpin orang-orang di sekelilingku satu langkah lebih dekat menyerupai Tuhan Yesus lewat percakapan dan diskusi kami. Dengan definisi “istirahat” seperti itu, kita membuka ruang untuk tetap melayani orang-orang di sekitar kita di waktu istirahat.

Mungkin prinsip-prinsip yang kubagikan ini sudah terkesan baik dan bisa segera diterapkan dalam kehidupanmu, tetapi marilah kita mengarahkan hati untuk belajar kepada sang Teladan yang sempurna, Tuhan Yesus sendiri.

“Berlomba dengan tekun dengan mata yang tertuju kepada Yesus”

Dalam Matius 11:28–30, Tuhan Yesus mengklaim bahwa undangan-Nya dapat dipercaya karena Ia “lemah lembut dan rendah hati” dan Ia sendirilah yang akan mengajarkan kepada kita bagaimana cara membajak ladang dengan-Nya. Dengan mempertimbangkan klaim ini, dan karena konsep usulanku didasarkan pada identitas Yesus Kristus sebagai Tuhan (atas hari Sabat), ketahanan uji konsep ini hanya bisa dilakukan dengan menerima undangan-Nya dan belajar dari-Nya. Untuk melakukannya, tidak ada cara lain selain menerima Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita dan membaca Alkitab, terutama kitab-kitab Injil, dengan tekun.

Kubagikan sedikit contoh dari kitab-kitab Injil yang menunjukkan betapa integralnya pekerjaan dan pelayanan Tuhan Yesus dalam kehidupan-Nya:

  • Di tengah-tengah kesibukan-Nya, Ia tetap meluangkan waktu pagi-pagi buta untuk bersekutu dengan pribadi Tritunggal yang lain (Mrk. 1:35) agar dapat menjalani hari-Nya sesuai dengan kehendak Bapa (Mrk. 1:36–39).
  • Pada hari Sabat yang lain, Ia menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya di rumah ibadat (Luk. 6:6–11), mengajarkan kepada kita bahwa pada hari Sabat pun kita harus tetap memperhatikan kebutuhan orang lain di sekeliling kita.
  • Ia tahu pasti kapan harus melintasi daerah Samaria sehingga dalam istirahat perjalanan-Nya di kota Sikhar Ia dapat bercakap-cakap dengan perempuan Samaria dan memimpin orang-orang di sana kepada pertobatan (Yoh. 4:1–42).
  • Ia dengan “lemah lembut dan rendah hati” membasuh kaki murid-murid-Nya pada malam sebelum penyaliban-Nya, memberikan teladan bagi kita untuk memuliakan Tuhan, bersukacita dalam-Nya, dan mengasihi sesama, bahkan dalam tugas-tugas tersepele sekalipun (Yoh. 13:1–20).

Melihat kehidupan dan teladan Tuhan Yesus “yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, … yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa” (Ibr. 12:2–3), tidaklah mengherankan bahwa penulis kitab Ibrani mendorong kita untuk “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita … dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:1–2). Ya, mengintegrasikan pekerjaan dalam kehidupan “dengan mata yang tertuju kepada Yesus”; inilah yang kuharap terutama kamu pelajari dan terapkan melalui perenunganku.

Selamat mengintegrasikan pekerjaan dalam kehidupanmu dengan mengikuti teladan Tuhan Yesus!

Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo gloria.

Pertanyaan refleksi dan aplikasi:

  1. Bagaimanakah kamu melihat pekerjaan atau studimu selama ini, apakah sebagai sesuatu yang “baik” atau “buruk”, terutama ketika dibandingkan dengan pelayanan?
  2. Cara-cara apa saja yang bisa kamu terapkan untuk bisa memuliakan dan menikmati Allah dalam konteksmu saat ini, baik itu pekerjaan ataupun studi?
  3. Bagaimanakah pandanganmu terhadap “hari Sabat” selama ini? Sudahkah kamu memberikan diri sepenuhnya bergantung kepada Allah dan kasih karunia-Nya pada hari Sabatmu?
  4. Aktivitas apa saja yang bisa kamu lakukan di luar waktu-waktu pekerjaan/studi dan pelayanan untuk bisa “disegarkan kembali oleh Allah” sehingga jadi lebih efektif dalam pekerjaan/studi dan pelayanan di hari/minggu berikutnya?

Baca Juga:

Gwan-hee Lee: Melalui Kanker, Kristus Nyata Hidup di Tubuhku

Bagi Gwan-hee, hidupnya berjalan amat baik. Lulusan dari kampus ternama, kerja di perusahaan besar, dan menikah dengan istri yang baik. Tapi, tak sampai 100 hari setelah kelahiran anak pertamanya, Gwan-hee divonis menderita kanker usus besar stadium empat.

Jatuh Bangun Mencari Pekerjaan, Ada Rencana Tuhan Di Balik Setiap Kegagalan

Oleh Josua Martua Sitorus, Palembang

Siang itu, aku tengah menunggu giliran wawancara user di salah satu perusahaan ritel swasta terkemuka. Di saat yang sama jiwaku bergejolak karena sudah tidak sabar menunggu pengumuman akhir di sebuah perusahaan BUMN besar di negeri ini, untuk menempati posisi staf akuntansi dan keuangan. Aku sibuk mengecek kotak masuk emailku melalui HP sambil berdoa di dalam hati. Aku sangat berharap bisa masuk ke perusahaan itu, apalagi setelah melalui delapan tahap seleksi masuk yang cukup berat. Orang tuaku juga sangat mendukungku, bahkan memiliki firasat bahwa aku akan lolos ke perusahaan itu.

Sekitar pukul sebelas, email yang kutunggu-tunggu pun masuk. Jantungku berdegup kencang dan jari-jariku dengan segera membuka lampiran email yang tercantum. Aku melihat satu per satu nama yang berhak lolos untuk tanda tangan kontrak. Halaman demi halaman terlewati, tetapi aku tak kunjung menemukan namaku. Aku mulai gusar, lalu mencoba memeriksa kembali dari awal. Namun, hasilnya tetap sama. Namaku tidak tercantum dalam daftar tersebut.

Mataku sontak berair, tetapi berusaha kututupi karena malu dengan pelamar lain yang ada bersama denganku saat itu. Aku diam sejenak, pandanganku gelap seketika. Hatiku meronta-ronta, tidak percaya akan hasil yang baru saja kuterima. Serangkaian tahapan rekrutmen yang kulalui dengan usaha keras seakan terbuang sia-sia. Namun, di saat yang sama, aku teringat pada Tuhan dan kebaikan-Nya padaku dalam setiap langkah kecil di kehidupanku. Beberapa kali Tuhan tidak mengabulkan apa yang aku harapkan dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya, tetapi Tuhan selalu memberi apa yang sesuai dengan porsiku. Aku merasakan Tuhan sedang memelukku saat itu dan berusaha menghilangkan kedukaanku. “God is good all the time, God is good all the time”, bisikku dalam hati.

Sepuluh menit kemudian, namaku dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara. Aku sudah tidak fokus, langkahku sedikit goyah. Ingin rasanya aku pulang dan meninggalkan proses wawancara. Tetapi, hati kecilku bicara agar aku tetap maju karena sesungguhnya tidak ada usaha yang sia-sia. Aku melewati proses wawancara dengan tidak lupa untuk berdoa sebelumnya. Sepanjang perjalanan kembali ke koss, aku terus dihinggapi pikiran tentang kegagalan yang harus kuhadapi.

Di kamar, aku langsung berdoa pada Tuhan sambil menangis. Aku menceritakan seluruh isi hatiku pada-Nya dan berusaha meneguhkan hatiku bahwa kegagalanku untuk lolos ke perusahaan itu tidak luput dari rancangan Tuhan. Aku meminta Tuhan untuk memberikanku jalan yang terbaik dan menguatkanku agar tidak patah semangat. Setelah itu, aku langsung menelepon orang tuaku. Mereka memberiku semangat agar pantang menyerah dalam mencari pekerjaan. Puji Tuhan!

Aku bersyukur Tuhan langsung memulihkan semangatku. Malam itu juga, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke beberapa perusahaan BUMN yang masih membuka kesempatan. Ada yang sudah mencapai hari terakhir pendaftaran, sehingga aku segera melengkapi seluruh berkas yang diminta.

“Ku tak akan menyerah
Pada apapun juga
Sebelum ku coba
Semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah
Kepada kehendakMu
Hatiku percaya
Tuhan punya rencana”

Lagu Angel Pieters dan Jeffry S. Tjandra ini menjadi backsound-ku malam itu yang memberiku kekuatan untuk menantikan janji Tuhan yang sempurna.

Hari-hari selanjutnya kuhabiskan dengan melamar ke berbagai perusahaan serta mengikuti rangkaian demi rangkaian tahap rekrutmen. Puji Tuhan, hampir semua perusahaan yang kulamar memberikanku kesempatan untuk mengikuti proses rekrutmen. Tak kusangka, perusahaan BUMN yang kulamar tepat di hari terakhirnya juga memanggilku untuk tes di Jakarta. Aku menumpang di kos temanku selama proses rekrutmen.

Doa dan usaha mengiringi langkahku dalam melewati tahapan demi tahapan di perusahaan tersebut selama tujuh hari berturut-turut. Aku berhasil lolos hingga tahap ketujuh, dan pelamar-pelamar yang lolos sampai tahap ini akan dikabari dalam waktu satu minggu lolos atau tidaknya ke tahap akhir, yakni wawancara dengan direktur.

Sesuai waktu yang dijanjikan, aku mendapatkan telepon yang menyatakan bahwa aku lolos ke tahap akhir. Tuhan memberikanku kesempatan lagi. Peluang di depan mata tentu tidak akan kusia-siakan. Aku mempelajari mata kuliah akuntansi dengan lebih sungguh serta mempelajari sikap wawancara yang baik. Kucoba untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sebelumnya. Aku juga berdoa puasa dua hari sebelum tes dan meminta dukungan doa dari orang tua.

Ketika tiba saatnya untuk wawancara, aku berusaha sedapatnya untuk menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan oleh Bapak Direktur di hadapanku. Setelah selesai, aku masih kurang puas karena ada pertanyaan yang tidak kujawab dengan tepat karena sesungguhnya aku tidak tahu jawabannya. Aku merasa terpuruk dan berpikir bahwa aku akan kembali gagal masuk ke perusahaan BUMN impianku.

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, aku mendengarkan lagu-lagu rohani sembari terus berdoa dalam hati agar diberikan ketenangan dan damai sejahtera dari Tuhan. Aku sudah mengerahkan usaha yang terbaik dari diriku, aku hanya perlu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik, tidak pernah tidak.

Dua hari setelahnya, aku dinyatakan lolos menjadi pegawai di BUMN tersebut. Aku amat bersyukur kepada Tuhan! Aku sampai berteriak kegirangan dan langsung mengabari orang tuaku untuk menyampaikan kabar baik ini.

Tuhan memperhitungkan setiap perjuangan dan jerih lelah yang kulakukan dan menganugerahiku buah yang manis tepat satu bulan setelah kegagalan yang kualami. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas kasih setia-Nya yang tak henti-hentinya dalam hidupku. Sejak saat itu, aku berjanji untuk menjadi pegawai yang berkinerja baik dan disiplin, serta senantiasa rindu untuk dipakai Tuhan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku.

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Matius 7:7-11).

Baca Juga:

Keluargaku, Ladang Pelayananku

Memiliki kampung halaman yang jauh sering menggodaku untuk tidak pulang. “Kirimkan saja uang untuk orang tua di rumah, itu cukup,” begitu pikirku. Tapi, apakah itu sungguh-sungguh pelayanan yang bisa kuberikan buat keluargaku?

Tuhan Membentukku Lewat Pekerjaan yang Tak Sesuai dengan Passionku

Oleh Gracea Elyda Safaret Sembiring, Yogyakarta

Bulan Mei 2017, aku menulis sharing mengenai panggilan dan pekerjaanku di WarungSaTeKaMu dengan judul “Pekerjaanku Bukanlah Passionku, Tapi Inilah Cara Tuhan Membentukku”. Tidak pernah terpikir olehku bahwa cerita tersebut akan bersambung, karena awalnya aku berencana untuk resign dari kantorku. Ternyata, aku masih bertahan hingga sekarang. Aku membuka lembaran baru di kantor ini pada 11 April 2016, bertahan hingga 11 April 2019, dan kini melanjutkan perjalananku. Artikel ini kutulis dalam rangka 3 tahun aku bekerja di kantor ini.

Selayang pandang, tiga tahun yang lalu aku masuk ke kantor ini—sebuah perusahaan desain interior—sebagai staf bagian keuangan. Beberapa kali aku bergumul antara bertahan atau resign karena merasa tidak bekerja sesuai passion. Pernah mencoba untuk setia, namun goyah juga. Akhirnya, aku memutuskan untuk resign setelah 1,5 tahun bekerja.

Aku masih ingat persis kapan aku mengajukan resign kepada atasanku, yaitu akhir November 2017. Permohonanku saat itu diterima. Namun, di awal Desember salah seorang rekan kerjaku tertangkap melakukan kecurangan dan dipecat di minggu yang sama. Dengan begitu, proyek yang seharusnya ia tangani menjadi sangat terbengkalai dan kacau. Saat itu pula atasanku memintaku untuk menunda resign untuk ikut membantu proyek yang ditinggalkan itu terlebih dahulu. Melihat situasi yang ada, aku pun menyetujui permintaan atasanku. Ini adalah pengalaman pertamaku terjun ke dalam sebuah proyek dengan porsi yang sebanyak ini. Sesuai permintaan, aku terlibat dalam proyek tersebut hingga akhir, yaitu di bulan Februari.

Terlibat dalam proyek tersebut selama 3 bulan membuatku belajar banyak hal dan memberiku kesempatan untuk menggali potensi diriku lebih lagi. Bahkan, aku merasa lebih menyukai dunia proyek daripada dunia finance. Menjelang akhir proyek, aku pun memberanikan diri untuk berbicara dengan manajer proyek tersebut. Aku mengatakan bahwa aku merasa tertantang untuk pindah divisi, dari finance ke proyek. Sang manajer pun menantangku kembali untuk bertahan di perusahaan ini dan pindah ke divisi yang kuinginkan, serta memberiku waktu untuk berpikir selama beberapa hari.

Setelah mendoakan pertimbangan ini dengan sungguh-sungguh dan memikirkannya matang-matang, akhirnya aku memutuskan untuk bertahan di kantorku dan mengajukan pindah divisi. Permintaanku diterima! Selama kurang lebih 4 bulan, aku masih tetap bekerja sebagai staf keuangan sambil mengerjakan proyek sampai ada yang menggantikanku di posisi ini. Setelah itu, barulah aku sepenuhnya pindah ke divisi proyek.

Pekerjaanku di divisi project tidaklah semudah menjadi staf bagian keuangan. Aku berada di posisi tengah antara klien dan supplier. Posisi ini menuntutku untuk dapat berkomunikasi dengan supplier yang karakternya berbeda-beda. Aku juga harus menguasai segala hal tentang furnitur—dari jenis-jenis kayu, jenis-jenis kain, jenis-jenis foam, jenis-jenis finishing yang digunakan, dan lain sebagainya. Hal ini tidaklah mudah, terutama ketika deadline yang diberikan klien seringkali tidak masuk akal. Secara bertahap aku belajar untuk menjalani pekerjaanku di divisi yang dinamis ini. Demi mendapatkan ilmu, aku tidak malu-malu bertanya dari supplier dan rekan kerja yang sudah lebih berpengalaman. Bahkan sampai saat ini, masih banyak yang harus aku pelajari.

Bulan ke-4, aku benar-benar lepas dari pekerjaanku di divisi keuangan. Pemilik perusahaan memberikan aku kepercayaan untuk memegang proyek all furniture sebuah vila 5 lantai di Bali. Ini adalah proyek pertamaku yang kujalani sebagai project leader. Aku sangat bersemangat sekaligus bersyukur. Aku sadar betul semua itu terjadi karena kasih karunia Tuhan. Tetapi, aku juga sadar bahwa dengan menjadi project leader, beban yang kutanggung akan lebih berat. Benar saja, proses mengerjakan proyek ini sungguh menyita pikiran dan waktu, bahkan sampai terbawa mimpi!

Dalam keadaan yang terasa sulit, untuk kesekian kalinya aku melihat bagaimana Allah menolongku. Allah mampu mengubah hal-hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Ketika ada kesalahan, ada kalanya atasanku bersungut-sungut kepadaku. Tetapi, Allah menghiburku dan menolongku untuk tidak merasa sakit hati. Lebih dari itu, Roh Kudus bahkan memberikan aku dorongan untuk belajar lebih lagi di bidang ini. Yang selalu menjadi peganganku adalah firman Tuhan—setia dalam perkara kecil, bertekun, dan berpengharapan hanya kepada Allah.

Tuhan sungguh baik. Di luar dugaanku, saat evaluasi di akhir tahun 2018 aku mendapatkan masukan positif dan pujian dari atasanku. Tak ada satu pun hal negatif yang beliau katakan. Setelah itu, aku dipercayakan untuk terlibat dalam proyek hotel dan resort di luar negeri. Semua ini terjadi bukan karena hasil usahaku, tetapi karena kasih karunia Tuhan semata.

Dalam tulisanku sebelumnya, aku bercerita bahwa panggilanku cenderung mengarah pada mengajar di pedalaman. Namun, kini aku menyadari bahwa bagian itu belum waktunya untuk kujalani. Bagian yang Tuhan percayakan padaku sekarang adalah pekerjaan yang kujalani saat ini.

Dalam buku Visioneering, Andy Stanley mengatakan bahwa untuk sampai di sebuah tujuan (visi), kita akan melewati beberapa tujuan (visi kecil). Visi kecil diibaratkan sebagai potongan-potongan puzzle kecil yang dikumpulkan dan disusun, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah gambaran besar yang nyata dan utuh. Andy memberi contoh tokoh Alkitab, yaitu Nehemia. Nehemia tidak pernah tahu bahwa Allah memanggilnya untuk membangun kembali tembok Yerusalem (Nehemia 1). Yang ia tahu saat itu adalah pekerjaannya sebagai juru minuman raja, dan dia bekerja dengan sebaik-baiknya. Integritasnya sebagai juru minuman raja membawanya kembali ke Yerusalem dengan bantuan raja (Nehemia 2).

Sekalipun kita memiliki profesi yang berbeda-beda, sebagai pengikut Kristus kita memiliki visi yang sama, yakni menyatakan Injil di manapun kita berada dan menjadi rekan sekerja Allah di dunia ini. Sebagai penutup, aku ingin membagikan dua ayat Alkitab yang dapat menguatkan kita dalam bekerja:

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya.” (Kolose 3:23-24)

Selamat bermisi di profesi kita masing-masing, kawan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Tetap Mengasihi Sahabat, Meskipun Dia Berlaku Buruk Padaku

Sahabat yang awalnya begitu karib denganku berubah jadi seseorang yang menyakiti hatiku. Meski aku kecewa, tapi aku belajar untuk tetap mengasihi sahabatku.