Posts

Demi Perubahan Hidup, Aku Berani Ambil Keputusan Besar

Oleh Sarah Callen
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How A Month With God Changed My Life

Beberapa bulan terakhir rasanya seperti penuh badai bagiku. Di bulan Agustus, aku merasa Tuhan memintaku untuk menjadikan bulan Septemberku sebagai momen Sabat–waktu khusus untuk berhenti dan beristirahat. Aku terpikir untuk berhenti kerja, berhenti menyusun planning, agar aku bisa meluangkan waktu berkualitas dengan Tuhan tanpa gangguan apa pun.

Di pekerjaanku, aku bisa bekerja sampai 14 jam sehari. Keputusan berhenti ini mengubah jam kerjaku menjadi 0 jam sehari. Buatku yang workaholic, perubahan drastis ini akan menyulitkan dan mengejutkanku. Aku terus meminta petunjuk supaya aku yakin, seperti ketika Allah meyakinkan Sarah.

Di dalam Alkitab, ada pola tentang bagaimana Tuhan memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk “keluar” agar mereka fokus pada-Nya. Bangsa Israel berjalan di padang gurun selama 40 tahun, menjumpai Tuhan dan belajar menanggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa membahayakan mereka. Yesus pun secara teratur meluangkan waktunya dalam kesunyian dan berdoa bersama Bapa. Sepanjang waktu yang kutentukan sebagai Sabat, aku terpaku pada beberapa ayat di Yeremia 29, yang ditulis untuk umat Tuhan yang sedang ditawan.

“Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN” (Yeremia 29:12-14a)

Ungkapan “dengan segenap hati” itu selalu menyentakku setiap kali aku membacanya. Aku sungguh ahli jika mencari Tuhan dengan ‘sebagian’ hatiku, tetapi jika seluruhnya kuserahkan, itu jadi cerita yang berbeda. Aku tahu Tuhan memanggilku ‘keluar’ dari rutinitasku supaya aku bisa mencari Dia sepenuh hati, dan aku tahu aku harus membuat beberapa perubahan.

Memangkas Kebisingan

Salah satu perubahan yang kulakukan adalah: aku memutuskan berhenti jadi subscribers sejumlah podcast. Aku perlu mengendalikan suara-suara manakah yang kuizinkan masuk ke dalam pikiranku dan membentuk hidupku.

Selama bertahun-tahun, aku mendengar berbagai podcast soal politik dan aku sangat menikmatinya, tapi di sisi lain aku pun merasa muak. Seiring waktu, podcast yang awalnya seru dan mendidik berubah menjadi ajang saling menuding dan menjatuhkan pihak lain, sehingga jika kudengarkan lebih lanjut bisa berdampak negatif buatku.

Meskipun aku tahu podcast itu memberiku dampak negatif, berhenti jadi subscribersnya ternyata sulit. Sebagian diriku masih ingin terikat pada rutinitasku. Aku juga tidak ingin kehilangan suara-suara yang sudah akrab kudengar. Loyalitasku pada acara podcast ini mungkin jadi penyebab, tapi kusadari ada yang lebih dari itu:

Aku tidak ingin melepaskan sesuatu yang sudah kugenggam erat. Aku tidak ingin berkorban. Aku ingin lebih mengenal Tuhan lebih erat dan akrab, mendengar-Nya lebih jelas daripada sebelumnya. Tapi, aku tidak mau menciptakan ruang untuk mendengar suara-Nya. Aku ingin Dia bekerja, sedangkan aku cuma menerima.

Menjumpai yang Lebih Baik

Di bulan September, aku melakukan yang terbaik untuk bulan yang kuanggap Sabat. Aku belajar lebih bijak menggunakan uangku, tidak lagi boros untuk sekadar jajan. Aku memilih untuk percaya pada pemeliharaan-Nya daripada mengkhawatirkan diriku sendiri.

Kutunda dulu pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktuku supaya aku bisa bersandar pada firman-Nya. Aku belajar merasa cukup dengan kehadiran Tuhan saja, bukan semata mencari berkat-berkat-Nya. Aku harus menguji, apakah aku beriman dengan murni atau transaksional alias mengharapkan imbalan. Kusadari aku terlalu egois, yang kupikirkan cuma diriku sendiri.

Tuhan seperti memberiku cermin. Dia menunjukkanku area-area mana di hidupku di mana aku membiarkan rasa malu dan gila kerja menguasaiku, menaruh percayaku pada zona nyaman yang kubuat sendiri, yang kuyakini itulah yang berkenan buat Tuhan.

Sekarang, aku sadar bahwa tugasku adalah aku perlu percaya pada Tuhan melebihi aku percaya pada diriku sendiri. Aku memilih untuk berserah.

Bagi seorang workaholic yang terlalu berlebihan dalam bekerja, keputusan menikmati Sabat akhirnya menunjukkanku bahwa Tuhan jauh lebih hebat dari diriku sendiri. Segala upayaku dalam bekerja tidak memiliki makna jika aku tidak memiliki relasi dengan-Nya. Momen-momen ketika aku melepaskan diri dari apa yang menjeratku, jadi pembelajaran yang meneguhkanku bahwa identitasku datang dari apa yang Tuhan katakan tentangku, bukan dari apa yang aku lakukan. Tuhan telah menyingkap dan menyembuhkan bagian-bagian hatiku yang terluka, yang tidak percaya, yang keras. Aku telah mencari Dia, dan Dia pun selalu hadir.

Tuhan selalu bisa kita jumpai saat kita ingin berelasi dengan-Nya.

Apa yang Tuhan katakan padamu dalam situasimu yang sekarang? Apa yang telah Dia bisikkan ke hatimu? Aku berdoa agar kita bijak mengelola waktu kita, memangkas hal-hal apa yang membisingkan telinga dan hati kita, serta memberi ruang bagi-Nya untuk berbicara kepada kita.

Apa pun langkahmu selanjutnya, aku berdoa agar Dia memenuhimu dengan keteguhan hati dan kamu memutuskan untuk selalu mengikut dan taat pada rencana-Nya.

Imanku Bertumbuh dari Balik Kegagalan

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Aku bersyukur terlahir sebagai seorang anak petani yang kerap merasakan pasang surut kehidupan yang tak mudah tetapi terus dilakoni agar tetap menjadi harapan demi keberlangsungan hidup itu sendiri. Ketika musim menanam padi hendak dimulai, aku menyaksikan langsung bagaimana proses yang dilakukan oleh para petani yang dimulai dari pesemaian bibit hingga memperoleh hasil akhir yakni tuaian padi.

Terlepas dari serangkaian proses sampai padi siap dituai, ada satu hal yang menarik perhatianku hingga menjadi sebuah perenungan bagiku ketika aku memaknai kegagalan dalam perspektif iman. Aku memperhatikan terkadang benih padi yang disemaikan ayahku serta para petani lainnya, ada yang bertumbuh dengan sempurna, bertumbuh sebagian, hingga ada pula yang gagal tumbuh sama sekali. Padahal, semua padi itu berasal dari benih yang sama dan melalui proses persemaian yang sama. Namun, ternyata tidak sedikit benih yang tidak layak dijadikan bibit padi siap tanam.

Seperti benih padi yang gagal tumbuh, kegagalan juga menghampiri hidupku. Akan tetapi, jika benih padi yang gagal tumbuh itu tidak ada lagi artinya sebab tidak akan pernah menghasilkan tuaian baru, maka lain halnya dengan kegagalanku. Kegagalanku justru sungguh berarti dan memberiku harapan baru.

Bagaimana aku memaknai kegagalanku, sehingga menjadi pondasi yang kuat untuk menjalani hari-hariku baik sekarang pun di masa menjelang? Iman seperti apa yang membuatku teguh di tengah kesukaran hidup untuk berjuang mendapatkan pekerjaan yang baru? Melalui tulisan ini, Aku berharap kiranya kita semua tetap teguh beriman dan tidak hilang harapan untuk setiap perjuangan yang sedang berlangsung.

Awal September kemarin, menjadi perjuangan pertamaku untuk mendapatkan pekerjaan baru pasca resign dari tempat kerja sebelumnya. Dengan semangat yang membara, aku membulatkan tekad untuk mengikuti serangkaian proses seleksi pegawai yayasan pada salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup jauh dari tempat tinggalku. Aku sungguh bersemangat mempersiapkan sejumlah berkas. Demi pekerjaan ini, aku menempuh perjalanan lintas kabupaten agar bisa memenuhi persyaratan administratif.

Aku bersemangat dan melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan karena satu hal. Jika aku bisa mendapat pekerjaan ini, aku bisa tetap menunaikan tanggung jawab pelayananku di gereja tempatku berjemaat. Aku yakin motivasiku ini selaras dengan firman Tuhan, karena aku tahu bahwa bekerja juga adalah wujud pelayanan. Aku sungguh ingin melayani Tuhan di tempat kerjaku, juga di gereja, agar hidupku bisa berbuah seperti yang diserukan oleh rasul Paulus: “Tetapi jika aku harus hidup di dunia, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:22b).

Akan tetapi, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.

Lagi, namaku tidak tertera dalam daftar pengumuman hasil akhir tes. Padahal, aku dan beberapa temanku berpendapat bahwa soal yang diujikan tidaklah sesulit soal-soal setingkat rekruitmen BUMN atau seleksi CPNS. Lagipula, beberapa materi yang telah kupelajari selama 2 minggu sangat membantuku dalam menjawab sejumlah soal yang diujikan. Bahkan, sesi wawancara pun berjalan dengan lancar.

Kuakui, perjuangan yang berawal dengan penuh semangat tetapi berujung pada kegagalan ini, membuatku berkecil hati. Aku telah kehilangan pekerjaan saat memutuskan untuk memilih resign karena SK kontrak kerjaku tak lagi diperpanjang, juga agar aku bisa mencari pekerjaan baru dengan upah kerja yang jauh lebih baik.

Perasaan khawatir juga melintas di benakku. Aku takut tidak punya penghasilan, sementara hidup menuntut banyak kebutuhan. Aku takut kesehatan mentalku terganggu, bila aku terlalu lama menganggur.

Aku teringat pada kisah kegagalan serupa yang telah menerpaku setahun lalu bahkan pada tahun-tahun sebelumnya. Sejujurnya, secara fisik aku lelah tak berdaya tatkala meratapi kegagalan-kegagalan tersebut. Aku berpikir, mungkinkah kegagalan kali ini adalah kesalahanku atau mungkin nasibku selalu sial? Kendati demikian, ada satu hal yang memampukanku berdiri teguh sejauh ini yakni iman.

Bagi Tuhan, tak ada yang mustahil. Hati kecilku menyerukan dengan lantang kata-kata ini. Seruan iman dan pengharapan ini seakan menyulap hatiku yang dingin menjadi hangat merekah. Seperti judul tulisanku “Imanku Bertumbuh dari Balik Kegagalan, aku bertanya pada diriku: andaikata iman itu bisa dihitung atau bisa berwujud benda, apakah imanku hanya sebiji benih padi saja? Tidak sebulir, apalagi segenggam? Jika benar ia hanya sebiji benih padi saja, apakah ia benar-benar bertumbuh dengan baik sehingga olehnya kelak terbit harapan baru yakni tuaian benih-benih padi bernas?

Kitab Ibrani 11:1 menuliskan dengan jelas bahwa: Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Aku belajar lebih dalam tentang iman dan kegagalan yang kualami ini. Aku yakin sepenuhnya bahwa saat kita hidup beriman, tidak berarti kita tidak lagi mengalami kegagalan dan bila kita mengalami kegagalan, bukan berarti kita tidak beriman. Iman menjadi dasar dari setiap pengharapan kita. Andaikata aku tahu sebelumnya bahwa aku tidak lolos, untuk apa aku rela berlelah-lelah mengikuti serangkaian seleksi itu? Aku menyadari bahwa meski hatiku gundah gulana karena gagal mendapatkan pekerjaan, Tuhan tetap mengasihiku dengan membangkitkan dan menyegarkan kembali imanku.

Kegagalan ini sungguh membuat imanku bertumbuh.

Betapa tidak, aku belajar bahwa bukan soal besar kecilnya iman yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menghidupi iman itu; apakah kita tetap percaya dan taat. Aku percaya bahwa rancangan-Nya jauh lebih baik daripada keinginanku. Aku yakin bahwa Ia tetap setia pada janji-Nya tentang rancangan masa depan yang penuh damai sejahtera. Aku perlu taat sepenuhnya kepada-Nya ke mana saja Ia membawaku dan memberiku pekerjaan baru kelak.

Kini, dengan sukacita aku mau mengatakan bahwa bukan perkara lolos atau tidak melainkan bagaimana iman yang kumiliki itu—bahkan bila hanya sebiji benih padi—makin bertumbuh dengan baik, makin membawaku pada rancangan dan tujuan-Nya semata sehingga aku tidak harus meratapi kegagalanku dan tidak perlu berkecil hati. Senada dengan iman, aku teringat akan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya tentang Iman sebesar biji sesawi.

“…Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana,-maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Matius 17:20).

Ketika gagal, aku bersyukur bahwa Tuhan tidak hanya membangkitkan dan menyegarkan kembali imanku, tetapi juga Ia menerbitkan harapan baru bagiku untuk terus berjuang dan tidak menyerah hingga suatu waktu aku mendapatkan pekerjaan baru. Harapan itu diteguhkan oleh firman-Nya: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yesaya 49 : 16)

Sekarang, aku sungguh mengimani bahwa pengharapan dan iman percaya kita, pun ketaatan kita kepada-Nya, akan memandu dan membuat kita sampai pada tujuan, tidak hanya kesuksesan tetapi juga kemuliaan kekal. Aku pun mengerti bahwa kegagalan bukanlah kesalahan melainkan sebuah momen yang menolong kita untuk bersyukur dalam segala hal, sekaligus menumbuhkan iman dan pengharapan kita jauh melebihi dari semua hal yang kasat mata. Kiranya, hari demi hari iman kita terus bertumbuh dari Firman-Nya.

Kepada semua teman-temanku yang mengalami kegagalan sepertiku, aku mau berkata bahwa janganlah terlalu larut dalam kesedihan dan kekecewaan sebab ketika kita hidup di dunia, pencapaian kesuksesan bukanlah prioritas utama. Lebih daripada kesuksesan duniawi, sejatinya aku dan kamu sedang berjuang menghidupi iman di dalam Kristus untuk mencapai tujuan akhir yaitu hidup kekal bersama-Nya selamanya di sorga kelak.

Terpujilah Tuhan

Di Mana Tuhan Ketika Aku Terpuruk Karena Menganggur?

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Where Was God in My Job-Hunting Struggles?

Tahun pertama setelah lulus kuliah, aku pernah magang dan mengambil pekerjaan sementara di kampus almamaterku. Pekerjaan ini memang sesuai rencanaku. Kupikir sebelum aku benar-benar memasuki dunia kerja, aku perlu menyesuaikan diri. Setelah kontrakku berakhir, aku makin tertantang untuk menemukan pekerjaan tetap. Saat itulah aku mulai sungguh-sungguh berdoa agar Tuhan membantuku menemukan pekerjaan tetap yang tepat.

Namun, setelah berbulan-bulan, aku masih menganggur, dan akhirnya pulang ke rumah orang tuaku—sesuatu yang aku janjikan tidak akan pernah kulakukan. Setiap hari aku mengirim lamaran tak peduli apa pun posisinya. Ketika ada perusahaan yang mengundangku wawancara, kebanyakan prosesnya tidak berjalan baik. Ada yang lebih memilih kandidat lain, atau tiba-tiba malah posisi yang kulamar hilang.

Akhirnya, aku mengambil langkah besar. Kutarik tabunganku dan pindah ke kota lain yang kuyakin di sana kesempatanku untuk mendapat kerja lebih besar.

Bulan demi bulan berlalu, saldo rekeningku kian menyusut… dan tidak ada tawaran pekerjaan yang datang. Aku kehilangan harapan untuk percaya kalau Tuhan akan memberikan apa yang sangat kubutuhkan—pekerjaan. Akhirnya, ketika tabunganku makin menipis, aku tenggelam dalam depresi. Di mana Tuhanku sekarang? Tidak bisakah Dia melihat aku menderita dan memanggil-Nya setiap jam?

Sebisa mungkin aku ingin mengatakan bahwa titik terendah ini membawaku lebih dekat kepada Tuhan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Aku marah kepada Tuhan mulai dari aku bangun sampai kembali tidur. Aku berharap Dia menjagaku, atau setidaknya mendengarkanku… namun, setiap hari yang kudengar hanyalah jawaban “tidak”, atau keheningan yang lebih memekakkan telinga.

Berjalan dengan Tuhan dalam Kemarahan

Gereja dan imanku adalah satu-satunya yang tetap dalam hidupku. Sesulit apa pun kondisiku, terkadang dengan pergi ke gereja—terutama ketika khotbah tentang “panggilan” membuatku berjuang melawan air mata dan kekecewaan—aku masih dapat belajar sesuatu tentang Tuhan dan diriku sendiri di setiap ibadah Minggu.

Masa-masa prapaskah yang jatuh di bulan Februari (periode dalam kalender Kristen yang kusukai) secara istimewa sungguh membuka mataku. Momen-momen refleksi selama masa prapaskah memberiku ruang di tengah kemarahanku untuk berjalan bersama Tuhan. Aku menulis jurnal, mengikuti ibadah-ibadah, dan merenung. Aku mulai melihat betapa Tuhan telah memberkatiku. Mungkin aku memang belum mendapat pekerjaan, tapi Dia memeliharaku dengan memberiku support-system yang baik. Tuhan memberiku rumah untuk ditinggali, dan sebenarnya aku pun diberi-Nya rencana cadangan. Meski aku masih belum dapat kerja, orang tuaku tetap akan dengan senang hati menyambutku jika aku memutuskan untuk pulang.

Selama masa prapaskah ini aku terus memproses amarahku, hingga aku menemukan kisah Alkitab yang memberiku perspektif baru tentang pemeliharaan Tuhan.

Dalam Yohanes 11:1-16, Yesus tahu bahwa sahabat-Nya, Lazarus, sedang sakit parah. Dari interaksi mereka sebelumnya, kita tahu bahwa Yesus, Maria, Marta, dan Lazarus adalah teman. Tetapi ketika Maria dan Marta memanggil-Nya, Yesus malah menetap di tempat Dia berada dua hari lagi sebelum kembali ke Yudea. Dua hari lagi? Apa yang Yesus pikirkan? Teman baiknya sangat membutuhkan kuasa penyembuhan-Nya, namun Dia memilih untuk tinggal di Yudea sementara penyakit Lazarus berakhir fatal.

Melihat Kemuliaan Tuhan

Kisah itu selalu membuatku bingung. Mengapa Yesus tidak segera datang menemui sahabat-sahabat-Nya? Tetapi setelah membaca buku Waiting: A Bible Study on Patience, Hope, and Trust dari Sharla Fritz, aku mendapatkan perspektif yang lebih jelas tentang mengapa Yesus melakukan apa yang Dia lakukan.

Dalam Yohanes 11:5-6, kita membaca:

“Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada.”

Jadi, satu kata itu mengubah segalanya. Karena Yesus mengasihi orang-orang ini, Dia tinggal di tempat Dia berada.

Kemudian pada bagian berikutnya, kita membaca:

“Jawab Yesus: ”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” … berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” (Yohanes 11:40-44)

Mengapa Yesus tetap tinggal di tempat Dia berada? Untuk menunjukkan kebesaran kemuliaan-Nya dalam situasi ini, dengan membangkitkan Lazarus setelah empat hari dari kematiannya. Untuk menunjukkan bahwa meskipun semua tampak hilang, Dia dapat melakukan hal yang mustahil, dan Dia adalah pribadi yang layak kita percayai. Untuk mengingatkan kita bahwa Dia bertindak menurut gambaran besar yang tidak dapat kita lihat, atau bahkan bayangkan.

Bahkan Jika Kita Tidak Mengerti

Ketika aku terus memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa Tuhan tidak berutang pekerjaan kepadaku. Alih-alih menuntut-Nya memberiku satu hal menurut rencana yang telah kubuat, aku bisa berbagi keinginan, frustrasi, dan doa-doa dengan-Nya, dan menyerahkan jawabannya pada rencana gambaran-Nya yang besar. Syukurlah, rencana besar-Nya buatku mencakup bagaimana dan di mana aku akan meraih pekerjaan tetap. Tuhan memberiku pekerjaan luar biasa pada sebuah lembaga pelayanan yang memberiku kesempatan untuk menumbuhkan skill profesional, juga imanku, lebih daripada apa yang kubayangkan.

Tuhan layak mendapatkan kepercayaan kita karena Dia selalu melakukan yang terbaik. Dalam situasi Maria dan Marta, yang terbaik yang Yesus lakukan adalah saudara laki-laki mereka dibangkitkan dari kematian dan tindakan ini menunjukkan dahsyatnya apa yang dapat Tuhan lakukan. Pada titik ini, aku belum mengerti mengapa menganggur dan susah payah mencari kerja adalah yang terbaik buatku. Meskipun pada akhirnya masa-masa penantian itu membangun imanku pada Tuhan dan rencana-Nya, aku masih tidak yakin bagaimana hal itu akan menunjukkan kemuliaan-Nya di masa depan. Tetapi meskipun aku tidak mengerti, aku tahu sekarang bahwa aku selalu dapat mempercayai Dia untuk memeliharaku—meskipun itu mungkin tidak terlihat seperti yang kuinginkan.

Meskipun aku masih merasa bahwa pengalamanku itu sedikit getir, aku tahu Yesus akan menyambutku. Dia akan merengkuhku, juga seluruh rasa bingung dan kecewaku, sebagaimana Dia menangis bersama Maria dan Marta karena kehilangan Lazarus, meskipun Dia tahu bahwa Lazarus kelak akan dibangkitkan-Nya.

Menjadi Produktif Tidak Berarti Mengabaikan Waktu-waktu Beristirahat

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Rest Without Feeling Guilty

Teman-temanku mengenalku sebagai seorang yang sangat produktif. Aku tumbuh besar di keluarga yang selalu mengingatkan anggotanya untuk “jangan cuma diam saja.” Alhasil, beristirahat menjadi aktivitas yang tak kusuka karena kuanggap sebagai “nggak ngapa-ngapain”. Dalam kamus hidupku, setiap hari pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan.

Terlepas dari budaya keluarga yang menghargai produktivitas setiap waktu, hal lain yang membuatku enggan menikmati momen-momen jeda atau istirahat adalah media sosial. Kita melihat teman kita memposting hobi atau prestasi (naik jabatan, menikah, punya anak), dan kita lantas membandingkan diri kita dengan mereka. Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam perangkap membanding-bandingkan.

Kita juga sulit mengendalikan diri kita sendiri. Kita merasa lebih berpengalaman dan bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik. Akhirnya, alih-alih mendelegasikan tanggung jawab ke orang lain, kita malah menanggungnya sendirian.

Ketika hari yang kita jalani terasa kurang produktif menurut pandangan kita, kita pun merasa bersalah dan berpikir: “harusnya aku bisa melakukan lebih”, “duh, aku gak fokus lagi”. Belum cukup sampai di situ, kita lalu khawatir akan hari esok: “Mending aku kelarin semua sekarang, atau besok malah numpuk.” Jadi, bagaimana kita bisa menikmati momen istirahat yang tenang tanpa khawatir?

Allah menghendaki kita untuk beristirahat, dan pemahaman ini membawaku merenung tentang Yesus, tentang bagaimana Dia menjalani hidup-Nya semasa di bumi. Juruselamat kita tahu batasan-batasan dalam tubuh manusia. Dia berfokus pada misi-Nya, tapi Dia tahu Siapa yang sungguh memegang kendali. Itulah mengapa Yesus mengerti bagaimana cara beristirahat.

Inilah 3 poin yang kupelajari:

1. Fokuslah pada misi utama hidup dan karuniamu supaya kamu tidak mengiyakan segala sesuatu

Ketika Yesus melayani di bumi, Dia tidak memaksa diri-Nya untuk menyembuhkan semua orang sakit dan memberitakan Injil ke semua orang yang ada di wilayah-Nya. Yang Yesus lakukan adalah memperlengkapi para murid dan menunjukkan tanda-tanda mukjizat untuk menegaskan kebenaran Injil. Yesus tahu bagaimana membangun batasan dan mempercayakan Allah untuk meneruskan misi-Nya melalui para murid yang dimampukan oleh Roh Kudus (Kis 1:8).

Belajar dari teladan Yesus untuk menemukan apa misi Tuhan buat hidupku telah membebaskanku dari godaan untuk melakukan segala sesuatu sendirian.

Belakangan ini aku mengenali karunia rohani dan panggilan hidupku melalui sebuah kelas pelatihan yang kuambil (tentang The Significant Woman). Karuniaku adalah memberi dorongan semangat, mentoring, mengajar, dan menulis. Semua ini menolongku untuk sadar bahwa misi utamaku adalah untuk membimbing orang-orang dewasa muda dan menolong mereka menemukan tujuan hidup dalam Kristus.

Ketika misi utama itu tampak jelas bagiku, aku mulai berfokus dalam menulis dan mentoring. Hal-hal lain yang tak selaras dapat kukesampingkan lebih dulu. Saat aku mengerti bagaimana Tuhan membentukku untuk melayani-Nya, aku bisa dengan yakin berkata “tidak” tanpa merasa bersalah pada hal-hal yang memang tak bisa kulakukan. Hasilnya, aku punya waktu-waktu berharga untuk mengerjakan tugas kerajaan-Nya dan menikmati waktu istirahatku.

Kalau kamu belum menemukan apa yang jadi karunia rohani dan misi hidupmu, aku sangat mendorongmu untuk mencarinya dengan bimbingan seorang mentor atau kelompok komselmu.

2. Temukan aktivitas yang menolongmu recharge secara rohani dan fisik

Yesus tahu cara terbaik untuk menghindari rasa kewalahan dan beristirahat dengan benar. Caranya adalah dengan terhubung dan berserah kepada Allah secara teratur (Lukas 5:16). Yesus secara intensional mencari tempat-tempat tenang untuk berdoa dan meluangkan waktu dengan Bapa Surgawi. Dia juga mendorong para murid untuk melakukan yang sama (Markus 6:31).

Aku merasa recharge ketika aku merenungkan kebaikan Tuhan dan melihat ciptaan-Nya dari dekat. Aku suka bertemu para sahabat dan mengobrol deep-talk, berdoa bersama sebelum makan, jalan-jalan di alam, mempelajari lagu baru, atau menulis puisi tentang ciptaan-Nya. Sebagai seorang yang melakukan perencanaan, aku menjadwalkan waktu-waktu itu semua di kalenderku. Kalau tidak terjadwal, maka tidak akan kesampaian.

Beristirahat tidak selalu tentang tidak melakukan apa pun. Beristirahat bisa berupa memprioritaskan apa yang akan menolongmu untuk memulihkan kembali jiwa dan ragamu.

3. Ganti kritik atas dirimu sendiri dengan menerima karya-Nya di kayu salib

Dalam tahun-tahunku tumbuh besar, aku suka mengkritik. Aku menaruh ekspektasi tinggi buat diriku sendiri karena aku memegang prinsip “selalu ada ruang untuk meningkatkan kualitas diri” dan aku bisa melakukan yang lebih baik. Pelatih basketku juga pernah bilang, kalau aku tidak kerja keras hari ini, maka orang lainlah yang akan mendapat kesempatan.

Tanpa kusadari, pemikiran ini kuterapkan dalam caraku beriman. Aku melihat diriku dan orang lain sebagai sosok yang kurang berharga di mata Tuhan, dan Tuhan menjadi sosok yang susah disenangkan.

Barulah saat aku ikut konferensi Father Heart, cara pandangku berubah dan aku mengerti apa artinya menjadi anak Allah (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 3:1). Allah bergirang karena aku (Zefanya 3:17), Dia menyediakan apa yang tak pernah kupikirkan (1 Korintus 2:9). Semuanya diberikan karena karya Kristus di kayu salib.

Kita cenderung mengukur diri kita dengan standar orang lain atau standar kita sendiri yang kita tetapkan lebih tinggi, lalu merasa bersalah ketika kita tidak sanggup mencapainya.

Untuk menjaga hati kita dari jebakan membanding-bandingkan diri yang tiada akhirnya, kita harus ingat bahwa yang paling penting dalam sejarah telah dituntaskan-Nya (Yohanes 19:30, Ibrani 9:12). Kita tidak perlu membuktikan diri berharga melalui kerja keras kita karena Allah telah membuat kita berharga lebih dulu (Roma 8:28-39). Kita dapat bersandar pada pekerjaan-Nya yang telah tuntas dan melayani dalam kasih setia-Nya yang berlimpah.

Artinya, kita dapat berdoa memohon hikmat untuk mengetahui kapan harus bersusah payah dan menuntaskan pekerjaan dan kapan harus membangun batasan serta mempercayakan pada Allah pekerjaan-pekerjaan kita yang belum dapat kita selesaikan. Dalam kedua situasi itu, kita mengakui Yesus adalah Tuan (Kolose 3:23) sehingga apa pun yang kita lakukan bukanlah supaya kita diterima atau menyenangkan orang lain, tapi sebagai persembahan bagi Tuan yang kita layani.

Teruntuk saudara dan saudariku, kalau kamu hari ini ingin beristirahat tapi dilanda rasa bersalah, kuingatkan kamu akan janji dari Yesaya 26:3, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya”.Fokuskan pikiranmu pada Tuhan hari ini, percaya sepenuhnya, supaya kamu mengalami damai dan momen istirahat yang sejati ketika kamu tahu bahwa Dia sungguh peduli.

3 Teladan Produktivitas dari Tokoh Alkitab

Oleh Philip Roa
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Productivity Tips From 3 Bible Characters

Dunia digital membuat pekerjaan kita seolah tiada habisnya. Artikel dari American Psychological Association tahun 2022 mencatat statistik yang menyoroti tingkat kelelahan dan stres yang tinggi di semua industri.

Dari 1.500 orang yang disurvey, hasilnya:

  • Sekitar 19% mencatat kurangnya usaha dalam pekerjaan mereka.
  • Sekitar 26% merasa kurang berenergi.
  • Hampir 40% merasa kelelahan kognitif (lelah berpikir).
  • Lebih dari 30% berjuang dalam kelelahan emosional.
  • 44% merasa lelah secara fisik–meningkat hampir 40% dibandingkan tahun 2019.

Produktivitas, kelelahan, dan kejenuhan menjadi kata-kata yang tak asing dalam perbendaharaan bahasa di otak kita. Aku pun berpikir, inilah saatnya untuk menilai cara dan prinsip kerja kita berdasarkan kebenaran Alkitab. Kutemukan tiga tokoh yang menyelesaikan tugasnya sembari tetap mengupayakan kewarasan di dalam proses kerja yang berat.

1. Musa: Belajar untuk mendelegasikan tugas/meminta pertolongan

Kalau kamu merasa habis tenaga setelah ikut Zoom berjam-jam (meskipun pesertanya kurang dari 10 orang), coba bayangkan bagaimana Musa setiap hari berbicara kepada ribuan orang. Konteksnya, saat itu populasi bangsa Israel diperkirakan mencapai 2 juta jiwa, dan Musa menangani semua persilisihan mereka sendirian.

Mertua Musa, Yitro, melihat bahwa Musa pasti akan kewalahan (ayat 17-18), maka dia mengusulkan agar Musa memilih para pemimpin yang kepada mereka Musa dapat mendelegasikan tugas-tugasnya. Tujuan utamanya agar Musa dapat fokus pada perannya sebagai nabi dan pemimpin Israel.

Aku mengelola kelompok PA kecil yang terdiri dari delapan orang dan menurutku nasihat Yitro amat menolong. Dulu aku selalu memimpin setiap sesi dan mengoordinasikan segalanya sendirian, tapi aku telah belajar untuk membagi tugasku kepada mereka yang kulatih untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Ketika aku memiliki orang lain yang mendukungku, itu tak hanya mengurangi stres, tapi juga melengkapi timku untuk bertumbuh. Sekarang aku punya dua murid yang juga memimpin kelompok komsel mereka sendiri, dan dua lainnya sedang belajar untuk mulai merintis.

Nasihat Yitro tidak cuma berlaku bagi para manajer atau kelompok komsel, tapi kepada setiap kita! Kalau kamu merasa kewalahan, bolehkah aku menyarankan beberapa tips di bawah ini?

  •  Jika kamu sudah bekerja, bicarakan pada atasanmu tentang beban kerjamu. Kamu bisa berikan usulan pribadimu tentang bagaimana kamu dapat bekerja lebih baik, atau mengatur ulang prioritas kerjamu. Cara ini lebih baik daripada kamu bersungut-sungut setiap hari tanpa mengomunikasikan permasalahan utamanya pada atasanmu.
  • Kalau kamu dapat kesempatan atau tanggung jawab baru, pertimbangkan juga untuk bertanya pada atasan/pemimpinmu apakah mungkin untuk berbagi tugas dengan anggota tim yang lain.
  • Kalau kamu merasa terjebak/stagnan dalam pekerjaanmu, mintalah nasihat dari anggotamu tentang bagaimana mengerjakan suatu tanggung jawab… terkhusus dari mereka yang sudah pernah menyelesaikannya.

Ingatlah, meminta tolong bukanlah tanda kelemahan (Pengkhotbah 4:9-10).

2. Paulus: Mengatasi kecemasan dengan menyerahkannya pada Yesus

Kamu butuh pola pikir yang benar untuk mengalahkan kebiasaan buruk yang mengarahkanmu pada bekerja berlebihan… atau sebaliknya: kurang berusaha! Riset-riset menunjukkan bahwa kecemasan bisa menurunkan performa kerja, tapi bisa juga mendorong seseorang untuk bekerja secara over. Kamu mungkin bekerja mati-matian, tapi tetap saja tidak maksimal kalau kamu mengerjakannya dengan cemas.

Kecemasan bicara tentang ketidaktahuan akan masa depan—di mana kita akan kerja dan apakah penghasilannya cukup, dan sebagainya. Alkitab mendorong kita untuk tidak khawatir akan apa pun juga, tetapi menyerahkannya dalam doa dan permohonan pada Allah (Filipi 4:6-7).

Selama beberapa waktu aku mendoakan Tuhan mencukupi kebutuhan finansialku agar aku dan pacarku bisa menikah. Kami tidak ingin meminta bantuan uang dari keluarga. Di masa ketika inflasi dan biaya hidup meningkat, aku butuh Tuhan untuk mengatasi kekhawatiranku akan tak punya cukup uang untuk biaya menikah nanti (juga untuk kehidupan berkeluarga kelak).

Syukurlah, doaku dijawab Tuhan. Aku naik jabatan setelah disahkan menjadi karyawan tetap. Ini meneguhkanku bahwa Tuhan selalu menjawab doa kita ketika kita sungguh menyerahkan beban dan kekhawatiran kita pada-Nya.

Mudah bagi kita untuk menganggap klise apa yang tertulis di Filipi 4:6-7, tetapi coba membacanya dengan seksama dan perlahan. Ayat itu bicara tentang damai sejahtera Allah memelihara “hati dan pikiran” (ayat 7).

Damai-Nya melindungi kita dari pikiran-pikiran yang penuh kekhawatiran. Ketika kita tahu kita memiliki Bapa yang mengasihi, yang peduli dan mengasihi, kekhawatiran kita akan berkurang. Kita pun akan terbebas dari kecenderungan untuk bekerja terlalu keras dalam upaya untuk menjaga diri kita sendiri.

3. Yesus: Ketahui kapan harus beristirahat atau berhenti

Tahukah kamu bahwa Tuhan Yesus sendiri mempraktikkan kebiasaan kerja yang sehat dengan menolak orang di akhir hari kerja-Nya yang panjang? (Matius 14:22-23). Yesus memberi waktu agar diri-Nya dan murid-Nya beristirahat. Dalam keilahian-Nya, Yesus juga manusia seratus persen sehingga tubuh-Nya masih merasakan lelah, lapar, dan haus seperti kita.

Tanpa beristirahat, kita takkan bisa sungguh produktif. Artinya, istirahat berupa mengesampingkan sejenak tugas dan tanggung jawab untuk kegiatan yang sehat seperti tidur, rekreasi, dan waktu bersama Tuhan adalah bagian dari produktivitas juga.

Kita perlu mengatur batasan waktu kerja, terlebih bagi kita yang bekerja secara remote. Sudahi pekerjaanmu setelah jam kerja berakhir. Bagi mereka yang ada di posisi pimpinan juga dapat menginisiasi budaya kerja yang sehat dengan meneladankan jam masuk dan pulang yang tepat, agar tim kita pun mengikutinya. Bahkan untuk kelompok komsel, kita juga bisa menerapkannya.

Hal lain yang kupelajari ialah, jika sesuatu tidak sangat-sangat mendesak, aku bisa mengerjakannya di besok paginya. Selama bertahun-tahun aku kerja, aku juga belajar untuk mengatur waktu-waktuku dengan bijak, tidak mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam.

Saat kita bekerja untuk Tuhan, kita harus produktif dalam cara yang menunjukkan kesetiaan pada apa yang kita punya seperti talenta dan waktu. Tunjukkan juga bahwa dalam upaya kita, kita tidak melupakan istirahat dan menikmati buah dari usaha tersebut. Pengkotbah 3:13 berkata, adalah baik untuk makan, minum, dan menemukan kepuasan dalam pekerjaan kita—tak sekadar menghabiskan seluruh waktu kita buat kerja. Kepuasan adalah karunia Tuhan, dan marilah kita dengan senang hati menerimanya supaya hadir sukacita yang mendorong kita hidup lebih produktif.

Berhenti Mencari Tahu Apa yang Jadi “Panggilan” Hidupmu dan Mulailah Menghidupi Hidup itu Sendiri

Artikel ini ditulis oleh YMI

Momen ketika kamu berhasil menemukan panggilan hidupmu sering digambarkan sebagai momentum besar yang akan mengubah hidupmu selamanya. Jadi, kita pun terus mencarinya, menanti, dan berharap momen itu datang. Kita membayangkan kelak kita melakukan pekerjaan yang mengubah hidup–menulis cerita-cerita tentang kaum marjinal, membuka rumah singgah atau yayasan buat anak-anak yang rentan, atau pergi melakukan perjalanan misi.

Pengejaran kita yang tanpa henti untuk menemukan panggilan hidup sedikit banyak dipengaruhi juga oleh media yang kita konsumsi, yang bilang mimpi harus dikejar, dan suara hati yang berbisik harus didengar supaya kita tahu tujuan hidup kita yang lebih besar.

Lantas kita meminta kelompok komsel untuk mendoakan kita, membaca apa pun yang membuat kita tahu mana yang kehendak Tuhan supaya kita menemui panggilan-Nya… atau bisa juga ikut kuis-kuis tentang kepribadian supaya tahu apa sih yang sebenarnya jadi ‘panggilan’ kita.

Tapi…hari-hari berlalu… ‘panggilan’ itu masih entah di mana. Bos kita di tempat kerja masih saja toxic, teman kita sudah dipromosikan jabatannya… dan kita sendiri dengan tak sabar menanti kapan weekend karena sudah capek kerja.

Setiap hari kita terus memberi tahu diri kita kalau hidup akan berubah—perjalanan kita akan lebih mulus, minim masalah, pokoknya yang baik-baik—itulah yang kita deskripsikan sebagai menemukan ‘panggilan’.

Tapi… gimana kalau panggilan itu sebenarnya sudah ada di depan kita? Gimana kalau Tuhan sudah menunjukkanya dengan jelas? Gimana kalau kita coba menikmati hidup di tempat di mana Tuhan sudah letakkan kita, dengan rendah hati melayani orang-orang di sekitar kita, serta melakukan segala sesuatunya tanpa mengharap balasan?

Maukah kamu menghidupi panggilan semacam itu?

1. “Panggilan” kita adalah tentang melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, meskipun itu tidak menyenangkan

Kita bermimpi pekerjaan kita membuat suatu proyek yang mengubah dunia, tapi kenyataannya kita berdiri dua jam di depan mesin fotokopi, mencetak ratusan lembar laporan untuk rapat besok. “Hadeh, gak seharusnya aku kerja gini…” kita menggerutu sembari menendang mesin printer yang macet.

Dalam Alkitab, Yusuf dipanggil untuk menjadi pemimpin di Mesir, tetapi ada momen ketika dia harus melewatkan hari-harinya di penjara—yang ditafsirkan oleh para ahli sejarah selama 12 tahun!—atas tindakan yang tidak dia lakukan. Namun, Yusuf setia pada tempat di mana Tuhan menempatkan dia (Kej 39,40), dan pada waktu-Nya, dia menjadi orang kedua di Mesir setelah Firaun (Kej 41:37-43). Pada akhirnya, Yusuf bisa membawa keluarganya ke Mesir dan menyelamatkan mereka dari kelaparan (Kej 46).

Seperti Yusuf, apa yang kita lakukan sekarang mungkin terasa kurang berkesan dan seolah tidak mengubah dunia, tapi Tuhan telah menempatkan kita pada suatu peran untuk sebuah tujuan. Bisa jadi yang kita lakukan sekarang adalah batu loncatan untuk rencana-Nya kelak, dan masa-masa sekarang adalah momen terbaik untuk melatih diri kita.

Setialah pada tempat di mana kamu berada dan lakukan yang terbaik—meskipun tugasmu cuma sekadar memfotokopi ratusan lembar dokumen laporan untuk suatu rapat yang membosankan—dan izinkan Tuhan memimpinmu pada tahap selanjutnya sesuai waktu-Nya.

2. Panggilan kita adalah untuk menaati apa yang Tuhan telah perintahkan untuk kita lakukan

Rasanya keren membayangkan kelak ada begitu banyak orang yang terinspirasi oleh kita saat kita menghidupi ‘panggilan’ kita. “Bukan, itu bukan aku, itu Tuhan”, kata kita di depan ribuan orang yang mendengarkan cerita kesaksian kita.

Namun, dalam pencarian akbar kita akan panggilan, apakah kita telah melewatkan satu panggilan terbesar? Bagaimana jika pada akhirnya “panggilan” kita adalah untuk hidup menjadi serupa dengan Kristus dan menghidupi hidup yang membawa orang lain kepada-Nya.

Efesus 5:1 berkata kita adalah ‘penurut Allah’, dan kita dipanggil untuk hidup sebagai umat Allah yang kudus (Ef 5:3). Ssemua itu dimulai dengan melakukan apa yang Dia telah perintahkan kita untuk lakukan—saling mengasihi (1 Yoh 4:7), mengampuni yang telah menyakiti (Ef 4:32), peduli pada yang lemah dan terpinggirkan (Yak 1:27)—semua inilah panggilan-Nya bagi kita.

Jadi, bagaimana kita mau mengasihi teman kerja yang menyebalkan? Apakah kita menjauhinya, menyumpahi supaya semua yang menyakiti kita kena sial? Atau, apakah kita dengan murah hati memberi pada orang yang butuh?

Orang-orang di sekitar kita mengamati apa yang kita bicarakan, lakukan, cara kita menghadapi cobaan, stres, juga kepahitan hidup. Hal-hal yang kita lakukan (atau tidak) menunjukkan pada orang-orang siapa Tuhan yang kita sembah dan layani.

Kita mungkin gak akan pernah mendapat standing ovation dari melakukan semua hal di atas, tapi dalam banyak cara, mungkin apa yang kita perbuat menjadi cara-Nya untuk mengubah hidup seseorang. Kelak saat kita tiba di surga, kita mendengar Tuhan berbicara, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat 25:23).

3. “Panggilan” kita adalah menggunakan setiap kesempatan yang ada sebaik mungkin

Kita pernah mendengar kesaksian tentang orang-orang yang merasa mendapat ‘beban yang luar biasa’ yang Tuhan tanamkan di hati untuk melakukan ini dan itu. Dari situlah mereka tahu kalau itu panggilan mereka. Jadi, kita pun menanti ‘panggilan’ itu datang dengan cara yang sama.

Tapi di saat yang sama, kita menolak ikut serta jadi relawan. Kita bilang “aku doain dulu ya” pada orang yang telah mengajak.

Seiring Tuhan mengarahkan langkah kita (Amsal 16:9), kita akan menjumpai sesuatu yang menggugah hati ketika kita memberi diri untuk mengamil kesempatan yang ada. Contohnya, peduli pada hewan-hewan yang ditelantarkan bisa mendorong kita untuk kelak jadi aktivis yang menyuarakan tanggung jawab pada setiap orang yang berkeputusan memelihara hewan. Peduli yuang dimaksud itu tak cuma banyak cerita di medsos, tapi misalnya kamu ikut aktif merawat seekor anjing berkutu yang terlantar lama.

Panggilan kita mungkin tidak muncul dengan segera, tiba-tiba nongol setelah kita berdoa, atau setelah kita ikut tes kepribadian yang ke-100 kali… bisa jadi panggilan itu tersembunyi di pojokan jika kita memutuskan untuk menjelajahi setiap kesempatan yang datang pada kita.

Arti dari semua ini bukannya kita harus menyerah atas impian dan hasrat yang kita ingin raih (Tuhan menempatkan dua hal itu tentu dengan alasan), tapi kita bisa berhenti mencarinya dengan cara yang serampangan. Kita bisa menemukan panggilan dengan mulai hidup di sini, di saat ini dan melakukan apa yang Tuhan telah berikan pada kita. Saat kita sungguh merenungkan apa yang Tuhan mau kita lakukan, inilah sebenarnya panggilan-Nya juga.

Cintaku yang “Profesional”

Oleh Edwin Petrus, Medan

Aku teringat dengan wejangan-wejangan yang pernah kuterima beberapa tahun yang lalu ketika aku memulai karier pertamaku. Dosen-dosenku, teman-teman kuliahku, bahkan sampai atasan di tempat kerjaku pernah menyuarakan tentang pentingnya profesionalitas di dalam pekerjaan. Nasihat-nasihat dari para senior ini tentunya menjadi masukan yang berarti.

Tanggal 18 Desember 2011, aku pun memulai hari pertamaku sebagai seorang karyawan orientasi di sebuah resort tepi pantai di pulau Bintan, Kepulauan Riau. Aku bersyukur bisa langsung diterima bekerja di tempat ini pasca menyelesaikan penulisan skripsi. Dengan berpakaian atasan putih dan bawahan hitam, aku diajak oleh bagian personalia untuk berkeliling dari satu departemen ke departemen lainnya di resort berbintang empat tersebut.

Dalam waktu lebih kurang satu jam, aku melihat profesionalitas dari rekan-rekan kerjaku di dalam melayani para tamu yang sedang berlibur di situ. Usai perkenalan singkat tentang kondisi lingkungan kerja, aku pun dititipkan di departemen pelayanan tamu untuk memulai masa orientasi. Dari sinilah perjalananku sebagai seorang pekerja hotel yang profesional berawal.

Aku mempelajari banyak kiat untuk meningkatkan kompetensi di dalam melayani para wisatawan, mulai dari penampilan hingga tutur kata. Aku juga berguru kepada rekan-rekanku tentang trik-trik di dalam menghadapi sejumlah karakteristik tamu. Demi meningkatkan kapabilitas di dalam memberikan pelayanan yang terbaik, aku belajar dengan sekuat tenaga. Aku pun tidak keberatan untuk menambah jam kerjaku ketika okupansi hotel cukup tinggi, sehingga aku bisa memiliki lebih banyak pengalaman berinteraksi dengan para tamu hotel. Aku bersyukur kerja kerasku tidak sia-sia. Profesionalitasku teruji ketika aku dua secara kali berturut-turut terpilih sebagai karyawan terbaik.

Senyuman yang merekah dari wajah para wisatawan saat aku melambaikan salam perpisahan adalah momen yang paling aku nantikan. Apalagi, jika mereka memberikan ucapan terima kasih yang tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga berupa tip. Sayangnya, aku salah memaknai bentuk apresiasi itu. Tambahan pemasukan yang menggemukkan pundi-pundiku ini mulai memutar otakku.

Cinta yang terdistorsi

Aku menyenangi dunia perhotelan sejak kecil. Aku selalu kagum melihat profesionalisme dari para karyawan hotel. Berkarier di bidang perhotelan memang adalah salah satu cita-citaku di masa kanak-kanak. Namun, cintaku terhadap pekerjaan sebagai karyawan hotel terdistorsi oleh uang. Aku memanipulasi cinta itu dengan berpura-pura menjadi seorang karyawan hotel yang profesional hanya demi memperoleh masa depan yang cerah secara finansial.

Aku menghabiskan hari-hariku di tempat kerja bukan lagi karena ingin melayani para wisatawan, tetapi bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Jam kerjaku yang tinggi bukan lagi karena wujud loyalitasku, tetapi aku dimotivasi oleh hasrat untuk memperoleh sejumlah privilese yang diberikan kepada karyawan yang lembur. Selain itu, aku berpikir kalau si bos menatapku yang sering bekerja ekstra, aku berharap akan mendapatkan bonus tahunan yang lebih besar dan termasuk juga peluang untuk naik jabatan. Jam-jam kerjaku dilewati hanya dengan fokus untuk menambah jumlah nol di rekeningku.

Sejak aku meniti karierku sebagai pekerja hotel, aku hidup jauh dari persekutuan orang percaya. Aku tidak bisa beribadah ke gereja pada hari Minggu karena aku memang harus masuk kerja pada akhir pekan. Namun, aku bersyukur kalau Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak yang dikasihi-Nya. Suatu hari, ketika aku merasa mumet dengan sejumlah hal yang harus diselesaikan dengan segera, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke tepi pantai sebentar sambil mencari inspirasi.

Di depan mataku, terpampang laut yang sedikit bergelombang dengan langit biru dan sejumlah gumpalan awan putih. “Pemandangan yang sempurna!,” sahutku dalam hati. Aku mengambil ponselku dan ingin mengabadikan momen ini. Ketika aku sedang mencari sudut yang pas, hatiku tergerak untuk memuji Tuhan, Sang Pencipta dari indahnya alam yang terbentang di hadapanku. Aku teringat dengan pemazmur yang menyanyikan bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” (Mzm. 19:2).

Momen ini sungguh menggelisahkan hatiku dan aku mulai berefleksi daripadanya. Aku mempertanyakan makna dari pekerjaanku. Kemudian, aku menemukan bahwa ternyata selama ini aku telah salah menaruh orientasi di dalam berkarier. Aku hanya bekerja untuk memperkaya diriku. Perjuanganku untuk menjadi pelayan hotel yang profesional dikarenakan aku mencintai uang. Aku menilai profesionalisme itu hanya secara finansial. Padahal, uang bukan merupakan alat ukur utama di dalam menentukan profesionalitas kerja seseorang.

Setiap karier memang menuntut pekerjanya untuk dapat berkarya secara profesional. Konsep ini bukan hanya sekadar pandangan dunia sekuler, melainkan juga adalah kehendak Allah. Allah mendesain manusia sebagai pribadi-pribadi yang akan bekerja bersama-Nya untuk mengembangkan dunia ciptaan-Nya. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, Allah berfirman: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28).

Manusia pertama, yang menerima mandat ini secara langsung dari Allah, menjalankan pekerjaannya secara profesional. Salah satunya, Adam memberi nama kepada binatang-binatang (Kejadian 1:20). Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah perspektif manusia di dalam bekerja. Profesionalitas manusia berdosa telah dicemarkan oleh kejahatan yang terus membawanya untuk hanya fokus pada mengejar kepentingan pribadi, tanpa lagi mempedulikan nasib rekan kerja, perusahaan, alam sekitar, apalagi mengurusi rancangan Allah.

Inilah fakta yang diungkapkan oleh Timothy Keller, dalam bukunya Apakah Pekerjaan Anda Bagian dari Pekerjaan Allah? Ia memperlihatkan bahwa banyak orang yang menganggap bahwa profesionalitas lahir dari perjuangan keras yang telah diupayakan oleh seorang pekerja, tanpa pernah memikirkan bahwa status profesional juga adalah sebuah anugerah Allah. Padahal, untuk dapat menjadi seorang yang bekerja secara profesional, setiap orang membutuhkan talenta-talenta yang dianugerahkan oleh Allah.

Oleh karena itu, Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk mempresentasikan bentuk cinta-Nya yang murni bagi menyelamatkan manusia berdosa. Di atas kayu salib, Ia menebus dan memperbarui manusia dari kuasa dosa. Relasi manusia dan Allah yang telah terputus akibat kejatuhan ke dalam dosa, kembali tersambung. Di dalam Kristus, setiap orang percaya memperoleh kuasa Injil yang memampukannya untuk menerima undangan Allah bagi manusia untuk menjadi rekan sekerja-Nya.

Dengan menempatkan Kristus sebagai yang terutama di dalam hidup, kita pun akan mendapatkan sudut pandang yang baru tentang menjadi seorang pekerja yang profesional. Aku bersyukur untuk pengalaman iman ini sebelum aku mengakhiri karier sebagai seorang karyawan hotel. Tidak ada yang berubah dari rutinitas pekerjaanku, malahan aku dibebankan lagi dengan tanggung jawab yang lebih banyak. Namun, motivasiku untuk bekerja secara profesional bukan lagi karena ingin dibayar dengan upah yang lebih besar. Cinta yang dianugerahkan Kristus bagiku menjadi pendorong yang menyemangatiku untuk bisa melayani Tuhan melalui vokasiku, di mana aku bisa mengajak para wisatawan untuk mengagumi alam ciptaan Tuhan. Aku bersukacita karena lewat pekerjaanku, aku bisa memperkenalkan kasih Kristus kepada mereka yang belum percaya.

Kisah baru dari orang-orang Kristen di dalam berkarier adalah menyelaraskan Injil dengan profesionalitas. Dengan demikian, kita tidak lagi memisahkan Kristus hanya pada hari Minggu dan beban pekerjaan pada hari kerja. Dengan membawa Kristus serta di dalam karier, apa pun bidang yang sedang kita tekuni, kita dapat mencintainya dan mengerjakannya secara profesional karena ketika kita sedang bekerja sama dengan Allah.

Jadi, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Gimana Kalau Kamu Gak Pernah Menemukan Passionmu?

Oleh Jiaming Zeng
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What If I Can’t Find My Passion?

“Gimana cara menemukan passion?”

Pertanyaan itu kuketik di Google, di tahun pertama kuliah pasca-sarjana. Kutanya dosenku, teman sebayaku. Kata mereka, passion itu sesuatu yang membuat kita antusias di pagi hari; sesuatu yang saat kita mau tidur pun, masih terbayang di pikiran; atau, sesuatu yang ingin sekali kamu lakukan sepanjang hidupmu. Itu semua kata mereka, bukan kataku.

Ada satu hal yang selalu kupikirkan tentang passion. Inilah yang dulu kuceritakan ke orang tuaku ketika aku masih kecil. Ini jugalah yang kucari tahu di Google, saat aku berdebat tentang keputusan-keputusan hidupku di tahun pertama kuliah doktoral. Aku selalu ingin jadi penulis. Aku membayangkan diriku menulis novel fiksi seperti J.K Rowling atau Jane Austen.

Namun, bagi orang tua Asia, menulis bukanlah pilihan karier yang gemilang. Lagipula, aku suka matematika, memecahkan masalah, dan mengerjakan proyek-proyek riset. Tapi, aku tidak memikirkan angka-angka sebelum tidur. Pun rumus-rumus matematika tidak muncul di pagi hari saat aku bangun. Faktanya, aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika bekerja di bidang matematika sepanjang usiaku.

Dilema ini menyiksaku selama setahun pertama. Apakah artinya hidup jika aku tidak mengerjakan apa yang kusuka? Apa jadinya jika aku dapat gelar Ph.D tapi di bidang yang bukan minatku?

Kebenarannya: tak peduli seberapa besar passion menggerakkan kita, seberapa cinta kita pada pekerjaan… kita selalu bertanya pada diri kita sendiri seperti yang dikatakan Pengkhotbah: untuk apakah kita berjerih lelah? Apakah artinya? (Pengkotbah 2:20-23). Bahkan Raja Salomo, dengan kesuksesan dan kebijaksanaannya, tak mampu menemukan makna dari perbuatan tangannya.

Pekerjaan—atau status, relasi, hobi—bukanlah tempat di mana kita harus menemukan makna. Makna datang dari relasi kita dengan Allah. Pengejaran kita akan passion, atau hal lain takkan pernah sungguh-sungguh memuaskan kita. Namun, kita bisa menemukan sukacita dan kepuasan dalam pekerjaan, seperti yang Salomo amati: “setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Menemukan sukacita dalam berjerih lelah

Bagiku, krisis menemukan passion tidak hilang dalam semalam. Aku tetap melanjutkan studi doktoral. Aku mengambil kelas-kelas wajib, menyelesaikan tiap tugas, dan berusaha mencari topik untuk disertasi. Aku bisa bertahan di sana karena itu adalah pekerjaanku.

Seiring dengan fokusku yang bergeser dari ambisi pribadi, sikapku terhadap penelitianku juga mulai berubah. Aku mulai melihat langkah potensial dan aplikatif dari model matematikaku. Alih-alih mengembangkan algoritma, aku lebih tertarik untuk mencari penerapan praktis agar bisa diterapkan di dunia nyata.

Area penelitian yang kupilih adalah pelayanan kesehatan. Usul ini diberikan dari pembimbingku, tapi awalnya aku menolak. Memikirkan pertumbuhan sel kanker atau menganalisa efek dari kemoterapi pada kematian pasien terasa mengerikan buatku. Namun, seiring aku bekerja dan belajar, aku sadar kalau hari-hariku yang membosankan di depan komputer bisa menjadi penjelajahan menantang, yang memberikan dampak pada hidup para pasien.

Pekerjaanku bukanlah tentangku atau tentang pengejaranku akan passion. Hasil dari kerjaku bisa menolong orang-orang dalam mengambil keputusan tentang kesehatan mereka. Dan, di sinilah aku menemukan sukacitanya. Tuhan selalu menempatkanku di tempat yang tepat. Tapi sebelumnya, aku tidak bisa melihatnya. Barulah saat aku mengalihkan fokusku dari diriku sendiri kepada Tuhan, aku sadar bahwa Dia memberiku sesuatu yang tidak hanya kunikmati sendiri, tapi juga bisa menolong orang lain.

Tujuan utama dalam bekerja bukanlah untuk memuaskan kita, tapi untuk kita menjadi penatalayan dari apa yang Tuhan telah berikan pada kita di dunia ini. Dalam pengejaran kita mencari passion, kita seringkali menjadi buta dari apa yang Tuhan telah siapkan buat kita. C.S Lewis berkata:

“Give up yourself, and you’ll find your real self. Lose your life and you will save it. […] Nothing that you have not given awal will ever be really yours.”

Lepaskan dirimu, maka akan kau temukan dirimu yang sesungguhnya. Lepaskan hidupmu, maka kau akan mendapatkannya. Sesungguhnya tidak ada yang tidak kau lepaskan yang pernah benar-benar menjadi milikmu.

Untuk menemukan passion, kita harus melepaskan ambisi kita, dan bukalah diri untuk menerima apa yang Tuhan telah tetapkan buat kita.

Membarui konsep kita tentang passion

Sikap melepaskan mengubah hati dan pikiran kita. Kita akhirnya dapat melihat lebih banyak daripada sebelumnya. Seiring aku belajar melepas berhala dalam diriku, Tuhan menunjukkanku bahwa ada lebih banyak kebebasan ketika aku berfokus pada-Nya. Caraku dulu untuk menemukan passion adalah salah dan terlalu menyederhanakan. Hidup dan impian jauh lebih rumit dan dipenuhi banyak kemungkinan lebih dari yang bisa kubayangkan. Dan…ketika Tuhan adalah penulis hidupku, Dia memberiku kebebasan untuk percaya dan taat pada suara-Nya lebih dari pada suara hatiku sendiri.

Ketika aku belajar percaya dan taat bimbingan-Nya, aku melihat Tuhan pun sebenarnya peduli akan mimpi-mimpiku di masa kecil. Ketika aku siap, Dia akan menuntunku kembali pada impian itu pada cara yang tak terduga. Contohnya, Tuhan memberiku kesempatan untuk menulis bagi-Nya lewat majalan kampus. Memang bukan novel fiksi yang kubayangkan, tapi tulisan tentang kasih dan penyertaan-Nya. Dan… di sinilah aku sekarang, menulis buatmu. Hidupku saat ini memang tidak seperti impianku dulu, tetapi aku yakin apa yang Tuhan berikan selalu lebih masuk akal daripada pikiranku.

Di tahun pertamaku aku tak pernah menemukan apa yang jadi passion-ku, tapi aku belajar bahwa ada cerita yang lebih besar. Melalui prosesnya, aku menemukan kebebasan, penghiburan, dan sukacita dari pekerjaanku. Tak ada yang tahu bagaimana kelak aku akan menulis atau tetap bekerja di riset. Yang kutahu adalah perjalanan ini masih berlangsung. Aku percaya Tuhan selalu ada untuk membimbing dan menunjukkanku jalan. Lagipula, Tuhanlah yang menenun hal-hal kecil yang kita lakukan menjadi sebuah kisah yang jauh lebih besar dan hebat dari apa pun yang kita bayangkan.

Kulukai Orang Lain dengan Keegoisanku

Oleh Sari, Jakarta

Setiap tanggal 10 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Media sosial dipenuhi dengan twibbon untuk memperingati hari itu. Masa-masa sekarang yang dirasa sulit, ditambah dengan hadirnya pandemi, turut memberikan pengaruh besar pada kesehatan mental orang-orang di seluruh dunia.

Aku pribadi pun merasakan dampaknya. Makin hari, aku semakin menyadari bahwa bukan hanya kesehatan fisik dan rohani saja yang penting, melainkan kesehatan mental yang sering kuabaikan juga penting. Aku melihat orang-orang di sekitarku pun mulai aware. Mereka mulai melakukan konseling kepada konselor-konselor professional. Ketika aku dan kamu gagal menyadari pentingnya merawat kesehatan mental, maka saat kendala datang, bisa saja kita melakukan pengobatan atau pencegahan dengan cara yang tidak tepat. 

Saat kondisiku tidak stabil 

Pada suatu momen, aku menyadari bahwa kondisi mentalku sangat tidak stabil. Aku bekerja dengan gelisah, aku takut salah… dan ketika atasanku mendapati aku melakukan kesalahan, aku langsung panik. Tidak jarang aku menyalahkan orang lain. Aku tidak lagi menikmati apa yang aku kerjakan, fokusku saat itu adalah bagaimana pekerjaanku bisa cepat selesai, tidak ada yang salah dan berharap berakhir dengan pujian yang diberikan baik oleh rekan kerja dan atasanku. Tapi melakukan itu semua rasanya sangat melelahkan, hingga di kondisi yang ekstrem aku tidak menyukai ketika orang lain mengerjakan pekerjaan dengan baik dan dipuji oleh atasanku. Aku ingin berada di posisi yang paling baik dari semuanya, aku ingin hanya aku yang bisa diandalkan. Aku menjadi orang yang lebih suka dihargai dan dipandang lebih dari orang lain. Bukan dalam pekerjaan saja, ketika berinteraksi dengan teman sepermainan dan keluarga pun aku merasakan hal yang sama.

Di tengah kondisi itu, aku pun tidak lagi menikmati relasiku bersama Tuhan. Aku tetap bersaat teduh, namun seadanya. Aku tetap berdoa, namun tidak menikmati doa-doaku. Fokusku adalah hanya bagaimana aku bisa mendapatkan promosi di pekerjaanku. Tetapi, syukur kepada Allah yang mengaruniakan Roh Kudus yang pelan-pelan menggelisahkanku dan menolongku untuk melihat apa yang salah dengan diriku di tengah-tengah perjuangan menikmati doa, baca Alkitab dan ibadah yang kulakukan. 

Di ibadah Minggu yang aku ikuti secara daring, tema khotbah yang diangkat membahas bagaimana ambisi terhadap kedudukan merupakan musuh dan hal yang paling tidak disukai oleh Allah. 

Di awal khotbahnya, sang pendeta memulai dengan kalimat, “dosa pertama berhubungan dengan kuasa.” Allah membuang malaikat Lucifer dari kerajaan sorga karena kesombongannya (Yehezkiel 28:17-18). Kejatuhan manusia dalam dosa pun dimulai ketika Iblis menggoda Hawa, yang menyingkapkan sisi kesombongan manusia yang ingin menjadi seperti Allah dengan memakan buah pengetahuan baik dan buruk (Kejadian 3). 

Banyak orang melakukan berbagai cara agar mendapati posisi atau kedudukan yang diinginkannya, salah satunya aku. Aku melakukan banyak cara agar aku bisa dipromosi secepatnya sampai tidak menyadari bahwa aku sedang melukai diriku, sesama bahkan terlebih Tuhan. Hidupku dipenuhi dengan ketakutan-ketakutan, takut kalau posisi itu akhirnya diberikan kepada orang lain. 

Aku lantas teringat kepada sebuah kisah di Alkitab, yaitu kisah Saul dan Daud. Ketika Saul menjadi raja dan Daud yang baru saja mengalahkan Goliat. Orang-orang Israel merayakan kemenangan Daud mengalahkan Goliat dan ketika itu perempuan-perempuan yang hadir menari dan menyanyi, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa (1 Samuel 18:7).” Seketika itu juga, Saul menjadi marah dan benci kepada Daud hingga berencana untuk membunuhnya. Padahal kalau dipikir-pikir, Saul saat itu adalah raja Israel yang sah, dia telah dipilih dan diurapi, tetapi dia ketakutan bilamana suatu hari Daud merebut kedudukannya sebagai raja di Israel. Kisah ini menjadi salah satu bukti bahwa lagi-lagi manusia sangat ambisius terhadap kedudukan dan manusia berani melakukan banyak cara untuk mendapatkan serta mempertahankannya.

Di tengah dunia yang mendorong kita untuk memamerkan apa yang kita lakukan dan apa yang kita miliki, menjadi hal yang tak mudah untuk bijak memandang pencapaian dan kedudukan kita. Kita tergoda meletakkan identitas kita pada posisi, kekayaan, dan status. Ketika tidak mendapatkan apa yang orang lain punya kita menjadi minder bahkan dalam kondisi yang ekstrem menjadi depresi hingga mau mengakhiri hidup. Dalam kondisiku saat itu, satu hal yang aku sadari adalah semakin aku mengejar, semakin aku merasakan kekosongan. Dan lagi-lagi, aku diingatkan bahwa jiwa kita hanya dapat dipuaskan oleh Allah. Jika kita mengejar apa yang ada di tengah dunia ini akan tidak ada habis-habisnya dan itu sangat melelahkan.

Dan di ibadah Minggu yang kuikuti itu, aku juga diingatkan bahwa Allah selalu punya rencana buat anak-anak-Nya, bagian yang sudah ditentukan Allah untuk menjadi bagian kita akan tetap menjadi bagian kita sesusah dan semustahil apapun itu. Tetapi, kalau memang ketika kita sudah berjuang untuk mendapatkannya dan memang Allah tidak merencanakannya buat kita selelah apapun kita mengejarnya maka itu tidak akan menjadi bagian kita. Salah satu hamba Tuhan pernah mengatakan demikian, “teruslah berdoa sampai Tuhan menjawab. Asal doa itu sesuai kehendakNya, mustahil tidak dijawab.”

Teman-teman, kondisi ini bukanlah kondisi yang mudah untuk diatasi. Aku pun masih sangat bergumul hingga saat ini. Tetapi, aku jadi diingatkan kembali bahwa aku tetap berharga di mata-Nya sekalipun aku tidak memiliki apa yang sedang diperjuangkan oleh dunia. Aku merasakan lelahnya mengejar apa yang dikejar oleh dunia ini, dan aku merasakan jadi orang yang paling jahat ketika mulai melukai orang lain dengan keegoisanku. 

Kondisi apa yang sedang teman-teman alami yang membuat teman-teman merasa tidak berharga, tidak dihargai bahkan tidak dianggap oleh orang lain hingga berniat sampai mengakhiri hidup? Berdoa dan minta ampunlah kepada Tuhan, Dia tetap mengasihi kita. Kita berharga di mata-Nya dan Dia selalu mengerjakan bagian-Nya dengan sempurna dalam hidup kita.

Kala kucari damai
Hanya kudapat dalam Yesus
Kala kucari ketenangan
Hanya kutemui didalam Yesus

Tak satupun dapat menghiburku
Tak seorangpun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku

Bersama Dia hatiku damai
Walau dalam lembah kekelaman
Bersama Dia hatiku tenang
Walau hidup penuh tantangan