Posts

Terhindar dari Jerat

Senin, 15 Juli 2019

Terhindar dari Jerat

Baca: 1 Timotius 6:6-10

6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Saya sudah mengenal rahasianya untuk menghadapi keadaan yang bagaimanapun juga. —Filipi 4:12 BIS

Terhindar dari Jerat

Tumbuhan Venus flytrap pertama kali ditemukan di rawa berpasir tidak jauh dari rumah kami di Carolina Utara. Tumbuhan tersebut menarik untuk diamati karena termasuk tumbuhan karnivora atau pemakan daging. Venus flytrap mengeluarkan sari bunga berbau manis yang menjadi jerat warna-warni dengan tampilan menyerupai kelopak bunga yang terbuka. Ketika seekor serangga merayap masuk, sensor-sensor yang terletak di tepi bunga akan bereaksi dan kelopaknya akan langsung menutup serta menjerat serangga itu dalam waktu kurang dari satu detik. Perangkapnya menutup semakin rapat dan mengeluarkan enzim yang menghabisi korban perlahan-lahan, sehingga tumbuhan itu memperoleh nutrisi yang tidak didapatkan dari tanah berpasir tempatnya bertumbuh.

Firman Allah berbicara tentang perangkap lain yang dapat menjerat tanpa terduga. Rasul Paulus memperingatkan Timotius, anak didiknya: “Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. . . . Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim. 6:9-10).

Uang dan harta dapat menjanjikan kebahagiaan, tetapi ketika hal-hal itu menjadi utama dalam hidup kita, kita pun terancam bahaya. Kita dapat menghindari jerat itu dengan menjalani hidup dalam kerendahan hati yang penuh syukur dan terpusat pada kebaikan Allah yang kita terima melalui Yesus Kristus: “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1Tim. 6:6).

Segala kekayaan yang fana di dunia ini tidak akan pernah dapat memuaskan kita seperti Allah. Kepuasan yang kekal dan sejati hanya diperoleh melalui hubungan kita dengan Dia. —James Banks

WAWASAN
Paulus banyak mencurahkan hidupnya untuk mendidik para pemuda dalam pelayanan, salah satunya Timotius. Ibu Timotius bernama Eunike, seorang perempuan Yahudi, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Neneknya, Lois, juga seorang pengikut Kristus (Kisah Para Rasul 16:1; 2 Timotius 1:5). Tidak diceritakan bagaimana Timotius menjadi orang percaya, tetapi tampaknya karena pengaruh ibu dan neneknya, sebab dalam 2 Timotius 3:14-15 diceritakan bahwa sejak kecil ia telah diajar tentang Kitab Suci “yang dapat memberi hikmat . . . dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” Paulus mengganggap Timotius sebagai anak, menyebutnya “anakku yang sah di dalam iman” (1 Timotius 1:2). Paulus juga sangat peduli dengan Timotius sehingga walaupun ia sedang berada di penjara Romawi menunggu kematian (2 Timotius 4:6), Paulus menyediakan waktu untuk menulis surat kepada Timotius untuk memberinya semangat dalam pelayanannya di Efesus. —Bill Crowder

Mana yang lebih sering kamu pikirkan: uang atau hubunganmu dengan Allah? Bagaimana kamu dapat memberikan prioritas tertinggi bagi Allah hari ini?

Ya Tuhan, Engkaulah karunia terbesar dalam hidupku! Tolonglah aku untuk hidup dengan rasa puas atas kehadiran-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 13-15; Kisah Para Rasul 19:21-41

Intervensi yang Berdaulat

Senin, 8 Juli 2019

Intervensi yang Berdaulat

Baca: Keluaran 3:1-9

3:1 Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

3:2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api.

3:3 Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?”

3:4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.”

3:5 Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

3:6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.

3:7 Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka.

3:8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

3:9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.

Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka. —Keluaran 2:25

Intervensi yang Berdaulat

Barbara tumbuh besar di bawah tanggungan pemerintah Inggris pada dekade 1960-an, tetapi saat menginjak usia 16 tahun, ia dan bayinya yang baru lahir kehilangan tempat berteduh serta menjadi gelandangan. Negara tidak lagi wajib memelihara hidupnya karena usianya yang sudah beranjak dewasa. Barbara pun menulis surat kepada Ratu Inggris untuk meminta bantuan dan ternyata dijawab! Ratu berbelas kasihan kepadanya dan mengatur agar Barbara bisa memiliki rumah sendiri.

Ratu Inggris memiliki sumber daya yang tepat untuk menolong Barbara, dan bantuan yang keluar dari rasa belas kasihan itu bisa kita lihat sebagai gambaran kecil dari pertolongan Allah sendiri. Sebagai Raja Surgawi, Dia mengetahui segala kebutuhan kita dan dengan penuh kedaulatan berkarya mewujudkan rencana-Nya dalam hidup kita. Namun, sembari berkarya, Allah rindu kita datang kepada-Nya—untuk menyampaikan segala kebutuhan dan keluh kesah kita—sebagai bagian dari hubungan kasih kita dengan-Nya.

Bangsa Israel menyampaikan kebutuhan mereka akan pembebasan ke hadapan Allah. Mereka sedang menderita di bawah perbudakan orang Mesir dan berseru memohon pertolongan Allah. Allah mendengar mereka dan mengingat janji-Nya: “Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka” (Kel. 2:25). Allah memerintahkan Musa untuk membebaskan bangsa Israel dan menyatakan bahwa Dia sekali lagi akan membawa mereka “ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (3:8).

Raja Surgawi kita senang jika kita datang kepada-Nya! Dengan hikmat-Nya yang sempurna, Dia menyediakan apa yang kita butuhkan, bukan semata-mata yang kita inginkan. Percayalah kepada kedaulatan dan pemeliharaan Allah yang penuh kasih. —Ruth O’reilly-Smith

WAWASAN
Ketika Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dari semak duri yang menyala, semak duri itu tidak terbakar (Keluaran 3:2). Belakangan, Musa menyebut Allah sebagai api yang menghanguskan (Ulangan 4:24). Melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah Abraham, Ishak, Yakub, dan Yesus memakai api sebagai kiasan untuk menggambarkan penghancuran atas yang tidak berguna dan perlindungan serta pemurnian atas apa yang baik (1 Korintus 3:11-15). —Mart DeHaan

Mengapa penting untuk mendoakan segala kebutuhan kita kepada Allah? Bagaimana kamu belajar mempercayai pemeliharaan Allah dengan apa saja yang disediakan-Nya?

Allah terkasih, aku bersyukur dapat membawa setiap kebutuhanku ke hadapan-Mu. Ajarlah aku merasa puas pada jalan dan pemeliharaan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 36-37; Kisah Para Rasul 15:22-41

Allah Jauh Lebih Besar

Minggu, 7 Juli 2019

Allah Jauh Lebih Besar

Baca: 1 Samuel 17:41-50

17:41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya.

17:42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya.

17:43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud.

17:44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.”

17:45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

17:46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,

17:47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

17:48 Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;

17:49 lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

17:50 Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan orang Filistin itu dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan.

Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam. —1 Samuel 17:45

Allah Jauh Lebih Besar

Giles Kelmanson, seorang penjaga wilayah perburuan di Afrika Selatan menggambarkan peristiwa luar biasa: dua ekor musang madu bertarung melawan enam ekor singa. Walau kalah dari segi jumlah, musang madu pantang mundur melawan predator ganas yang besarnya 10 kali ukuran tubuh mereka. Singa-singa itu mengira akan menang mudah, tetapi rekaman video menunjukkan justru musang madu yang meninggalkan kawanan singa dengan kepala tegak.

Pertarungan Daud melawan Goliat jauh lebih mustahil. Daud, anak muda yang tidak berpengalaman, menantang Goliat, raksasa Filistin yang ganas. Goliat yang gagah perkasa memiliki kekuatan dan persenjataan yang tidak tertandingi—baju zirah tembaga dan lembing tajam yang mematikan (1Sam. 17:5-6). Daud, seorang gembala yang masih ingusan, hanya membawa sebuah ketapel ketika ia datang membawakan roti dan keju untuk saudara-saudaranya di medan perang.

Goliat menantang orang Israel bertarung tetapi tidak ada yang berani menerima tantangannya. Raja Saul dan “segenap orang Israel . . . sangat ketakutan” (ay.11). Bayangkan betapa terkejutnya orang-orang ketika Daud mengajukan dirinya. Dari mana ia mendapatkan keberanian yang tidak dimiliki oleh para prajurit Israel yang lebih berpengalaman? Bagi sebagian besar orang, mereka hanya bisa melihat Goliat, tetapi Daud melihat Allah. “Tuhan akan menyerahkan [Goliat] ke dalam tanganku,” tegas Daud (ay.46). Meskipun semua orang meyakini Goliat berada di atas angin, Daud percaya Allah jauh lebih besar. Lalu, hanya dengan sebutir batu yang dilontarkannya ke kening raksasa itu, iman Daud terbukti benar.

Kita sering tergoda untuk mempercayai bahwa “Goliat” (kesulitan-kesulitan kita) mengendalikan hidup kita. Namun, Allah jauh lebih besar. Dialah yang mengendalikan jalan hidup kita. —Winn Collier

WAWASAN
Bangsa Filistin memainkan peranan besar dalam sejarah Israel. Abraham dan Ishak sama-sama pernah mengadakan perjanjian dengan raja-raja Filistin (lihat Kejadian 21 dan 26). Filistin juga pernah menindas bangsa Israel di tanah perjanjian, lalu Simson melepaskan mereka (Hakim-hakim 13-16). Kemenangan Daud atas Goliat (1 Samuel 17) yang menjadi awal kebebasan total orang Israel dari penindasan Filistin. —J.R. Hudberg

Kecemasan apa yang menguasai hidupmu saat ini? Bagaimana kenyataan bahwa Allah jauh lebih besar daripada segalanya dapat mengubah perspektifmu?

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 34-35; Kisah Para Rasul 15:1-21

Handlettering oleh Febronia

Karya Pengalihan Allah

Jumat, 28 Juni 2019

Karya Pengalihan Allah

Baca: Kisah Para Rasul 16:6-10

16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.

16:7 Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.

16:8 Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas.

16:9 Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: “Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!”

16:10 Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.

Mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. —Kisah Para Rasul 16:7

Karya Pengalihan Allah

Sulit rasanya menerima jawaban “tidak” atau “belum”, terlebih ketika kita merasa Allah telah membukakan pintu pelayanan bagi kita. Di awal masa pelayanan saya, ada dua kesempatan yang saya pikir sesuai dengan karunia dan kemampuan saya, tetapi ternyata tertutup bagi saya. Setelah kekecewaan tersebut, timbul panggilan pelayanan lain, dan saya pun dipilih untuk mengisinya. Di sanalah saya menjalani tiga belas tahun pelayanan penggembalaan yang memberkati banyak jiwa.

Dalam Kisah Para Rasul 16, langkah Paulus dan rekan-rekannya dua kali dialihkan oleh Allah. Pertama, “Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia” (ay.6). Kemudian, “setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka” (ay.7). Tanpa sepengetahuan mereka, Allah mempunyai rencana lain yang tepat bagi pekerjaan dan para hamba-Nya. Kata “tidak” yang diberikan Allah atas rencana sebelumnya menempatkan para hamba-Nya dalam kesiapan untuk mendengarkan dan mempercayai penuh pimpinan Allah (ay.9-10).

Adakah dari kita yang tidak bersedih atas sesuatu yang awalnya kita anggap sebagai kehilangan yang menyakitkan? Kita merasa sangat kecewa ketika tidak mendapatkan pekerjaan yang didambakan, ketika kesempatan untuk melayani tidak terwujud, atau ketika gagal pindah ke suatu tempat yang kita tuju. Kekecewaan tersebut terasa sangat berat, tetapi seiring berjalannya waktu, kita pun sering tersadar bahwa pengalihan tersebut merupakan karya kasih Allah yang dipakai-Nya untuk membawa kita ke tempat yang Dia inginkan. Untuk itu kita bersyukur kepada-Nya. —Arthur Jackson

WAWASAN
Dalam perjalanan misinya yang kedua (Kisah Para Rasul 16:1-18:22), Paulus ingin memberitakan Injil ke daerah-daerah Asia Kecil (sekarang Turki Barat) dan Bitinia (sekarang Turki Utara); tetapi Tuhan mengarahkan Paulus ke arah Barat Laut ke Troas. Melalui penglihatan tentang seorang Makedonia, Allah memanggil Paulus untuk membawa Injil masuk ke Eropa (16:8-9). Identitas “seorang Makedonia” ini banyak diperdebatkan.
Penulis Kisah Para Rasul adalah Lukas, dan karena pemakaian kata “mereka” dalam ayat 8 berubah menjadi “kami” dalam ayat 10, maka diperkirakan bahwa sang penulis sendiri sekarang ikut dalam perjalanan ini. Lukas adalah seorang dokter dari bangsa non-Yahudi (Kolose 4:14), ia menjadi rekan seperjalanan dan penolong Paulus (Kisah Para Rasul 16:10-40; 20:4-17; Filemon 1:24). Ia juga merawat Paulus pada hari-hari terakhir hidupnya di penjara (2 Timotius 4:11). —K.T. Sim

Kehilangan apa yang awalnya kamu sesali, tetapi kemudian kamu syukuri karena tidak mendapatkannya? Bagaimana situasi itu menguatkan imanmu kepada Tuhan?

Ya Bapa, aku memuji-Mu karena dalam hikmat-Mu Engkau tahu rancangan yang terbaik untuk hidupku. Terima kasih atas perlindungan-Mu dalam setiap pengalihan yang Kau adakan.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 11-13; Kisah Para Rasul 9:1-21

Handlettering oleh Kath Melisa

Hadir dalam Badai

Kamis, 20 Juni 2019

Hadir dalam Badai

Baca: Mazmur 46

46:1 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

46:3 Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;

46:4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela

46:5 Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

46:6 Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.

46:7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.

46:8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

46:9 Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi,

46:10 yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!

46:11 “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

46:12 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. —Mazmur 46:8

Hadir dalam Badai

Api melahap habis rumah sebuah keluarga yang beranggotakan enam orang jemaat gereja kami. Walaupun ayah dan anak laki-lakinya selamat, sang ayah masih dirawat di rumah sakit ketika istri, ibu, dan dua anaknya yang masih kecil dimakamkan. Sayangnya, peristiwa-peristiwa memilukan hati seperti itu masih terus terjadi, lagi dan lagi. Ketika hal seperti itu terjadi, muncul pula pertanyaan yang terus-menerus ditanyakan manusia: Mengapa hal-hal buruk terjadi kepada orang-orang baik? Kita pun tidak lagi heran saat mendapati bahwa jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu memuaskan.

Namun, kebenaran yang dinyatakan oleh pemazmur di Mazmur 46 juga sudah disampaikan, dinyanyikan, dan diyakini berulang kali. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ay.2). Kondisi-kondisi yang digambarkan di ayat 3-4 merupakan bencana-bencana besar—bumi dan gunung berguncang serta air laut mengamuk. Kita bergidik saat membayangkan berada di tengah badai yang digambarkan dalam mazmur ini. Namun, terkadang kita memang terhisap dalam pusaran kesulitan—diguncang oleh penyakit mematikan, babak belur dihajar krisis keuangan, atau tenggelam dalam rasa duka yang mendalam karena kepergian orang yang dicintai.

Mungkin kita sempat berpikir bahwa masalah yang datang bertubi-tubi menjadi bukti Allah tidak hadir. Namun, kebenaran Alkitab menyanggah pemikiran itu. “Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub” (ay.8,12). Dia hadir pada saat kita tidak lagi sanggup menanggung beban yang ada, dan penghiburan pun kita terima dengan mempercayai sifat-sifat-Nya, yakni bahwa Dia sungguh baik, penuh kasih, dan dapat dipercaya. —Arthur Jackson

WAWASAN
Mazmur 46 berbicara tentang keamanan dan keteguhan yang disediakan Allah di tengah masa sulit. Bencana alam (ay.3-4) dan konflik peperangan (ay.7-8) akan selalu ada di dunia ini. Gempa, badai, taifun, dan konflik militer telah menyebabkan kehancuran dan kerusakan yang tak terperi. Namun, betapa pun ngerinya, orang yang menjadikan Allah sebagai “tempat perlindungan dan kekuatan” (ay.1) “tidak akan takut” (ay.3). Dasar dari keyakinan ini diutarakan dalam ayat 8 dan 12: “TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Berdasarkan mazmur ini, Martin Luther sang reformator menulis salah satu himnenya yang paling terkenal: “Allah Bentengku yang Teguh.” Seperti sang pemazmur yang tinggal di dunia yang penuh ketidakpastian dan berbahaya, kita pun diajak untuk berdiam tenang dan mengetahui bahwa Dialah Allah (ay.11). Dengan kepercayaan teguh, kita menghayati kata-kata Luther, “Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku.” —K.T. Sim
[referensi: KPPK 387 Allah Bentengku yang Teguh]

Kapan tantangan dalam hidup ini membuat kamu mempertanyakan kehadiran Allah? Apa yang telah menolongmu berbalik dari situasi tersebut?

Bapa, tolonglah aku untuk mempercayai kebenaran firman-Mu di saat aku sulit merasakan pemeliharaan dan kehadiran-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 1-2; Kisah Para Rasul 5:1-21

Handlettering oleh Julio Mesak Nangkoda

Bisakah Kita Tenang?

Selasa, 4 Juni 2019

Bisakah Kita Tenang?

Baca: Yohanes 14:25-31

14:25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;

14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

14:28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

14:29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

14:30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.

14:31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Janganlah gelisah dan gentar hatimu. —Yohanes 14:27

Bisakah Kita Tenang?

Darnell memasuki ruang fisioterapi dengan kesadaran bahwa ia akan mengalami rasa sakit yang amat sangat. Terapis merentangkan dan menekuk lengan Darnell, lalu menahannya dalam posisi yang sudah berbulan-bulan tidak dialaminya sejak cedera. Setelah menahan setiap posisi yang tidak nyaman itu selama beberapa detik, sang terapis akan berkata kepada Darnell dengan lembut: “Ok, sekarang bisa rileks.” Belakangan, Darnell berkata, “Rasanya aku mendengar kalimat itu setidaknya lima puluh kali setiap sesi: ‘Ok, sekarang bisa rileks.’”

Saat merenungkan kata-kata tersebut, Darnell menyadari bahwa kalimat tersebut juga dapat diterapkan dalam sisi kehidupannya yang lain. Ia bisa rileks dan menjadi tenang dalam kebaikan dan kesetiaan Allah serta tidak terus-terusan khawatir.

Menjelang kematian-Nya, Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya perlu mempelajari hal tersebut. Tak lama lagi mereka akan menghadapi masa-masa sukar dan penganiayaan. Untuk membesarkan hati mereka, Yesus berkata bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus untuk tinggal bersama mereka dan mengingatkan mereka akan semua yang telah diajarkan oleh-Nya (Yoh. 14:26). Dengan demikian, Dia dapat berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. . . . Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

Ada banyak hal yang dapat membuat kita gelisah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kepercayaan kita kepada Allah dapat semakin bertumbuh dengan senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus tinggal di dalam kita—dan Dia memberikan kita damai sejahtera-Nya. Ketika kita mengandalkan kuasa-Nya, kita dapat mendengar-Nya berkata dengan lembut: “Jangan gelisah, dan tenanglah.” —Anne Cetas

WAWASAN
Yohanes 13-17 dikenal sebagai Pengajaran di Ruang Atas atau Pesan Terakhir. Setelah pelayanan-Nya selama tiga tahun, tibalah waktunya Kristus pergi (13:1). Dalam 24 jam selanjutnya, Dia akan disalib, dan dalam beberapa minggu Dia akan kembali kepada Bapa di surga (14:3-4). Karena itu, Yesus memakai waktu yang istimewa ini untuk menghibur, mengajar, dan menguatkan orang-orang yang telah Dia pilih untuk melanjutkan pelayanan-Nya. Selain memberitahukan bahwa Roh Kudus akan diutus (14:16-17, 26; 15:26; 16:7-11) sebagai Penolong (yang akan menyertai untuk menolong dan membantu mereka), Yesus juga membagikan kebenaran-kebenaran lain yang menguatkan para murid sebagai wakil-Nya. Kebenaran tentang melayani dan mengasihi sesama (13:1-15,34-35; 15:12-17), tinggal di dalam-Nya dan berbuah banyak (15:1-11), dan tentang kebencian serta aniaya dunia (15:18-16:4). —Arthur Jackson

Apa yang membuat kamu gelisah? Manakah sifat Allah yang dapat menolongmu untuk belajar lebih mempercayai-Nya?

Tuhan Yesus, ajarlah aku menjadi tenang dengan mempercayai kesetiaan-Mu, menyadari kehadiran-Mu, dan mengalami damai sejahtera-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-22; Yohanes 14

Handlettering oleh Kent Nath

Terjaga Sepanjang Malam

Senin, 3 Juni 2019

Terjaga Sepanjang Malam

Baca: Mazmur 63:1-9

63:1 Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.63:2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

63:3 Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

63:4 Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

63:5 Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

63:6 Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

63:7 Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, —

63:8 sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

63:9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam. —Mazmur 63:7

Terjaga Sepanjang Malam

Saat masih kuliah, libur musim panas saya lalui dengan bekerja di sebuah resor di pegunungan Colorado yang sangat indah. Para karyawan diberi tugas jaga malam secara bergiliran—untuk mengawasi situasi kalau-kalau terjadi kebakaran hutan yang dapat membahayakan tamu-tamu saat tidur. Tugas yang awalnya tampak melelahkan dan tidak dihargai menjadi kesempatan unik bagi saya untuk berdiam diri, merenung, dan menemukan penghiburan dalam hadirat Allah yang kudus.

Raja Daud dengan sungguh-sungguh mencari Allah dan haus akan hadirat-Nya (MZM. 63:2), bahkan dari atas tempat tidurnya di “sepanjang kawal malam” (ay.7). Mazmur tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa Daud sedang gelisah. Lewat kata-katanya, mungkin Daud sedang merasakan kesedihan yang mendalam terhadap pemberontakan Absalom, anaknya. Namun, malam hari menjadi waktu bagi Daud untuk menemukan pertolongan dan pemulihan dalam “naungan sayap [Allah]” (ay.8)—dalam kuasa dan hadirat-Nya.

Mungkin kamu juga sedang menghadapi krisis atau kesulitan dalam hidupmu, dan malam hari terasa begitu menggelisahkan. Mungkin ada “Absalom” yang membebani hati dan jiwamu. Atau mungkin, beban-beban lain seperti masalah keluarga, pekerjaan, atau keuangan sering mengusik jam istirahatmu. Kalau itu yang terjadi, anggaplah masa-masa kamu sulit tidur tersebut sebagai kesempatan untuk berseru dan bergantung kepada Allah. Izinkanlah tangan kasih-Nya menopangmu (ay.9). —Evan Morgan, penulis tamu

WAWASAN
Catatan pendahuluan dalam Mazmur 63 berbunyi, “Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.” Mazmur 61-63 kemungkinan ditulis Daud ketika ia mencari tempat perlindungan semasa pemberontakan putranya, Absalom (2 Samuel 15-18). Apa yang kita ketahui tentang Absalom? Mengapa ia memberontak terhadap ayahnya? Absalom, anak Daud dari Maakha (3:3), adalah pria rupawan yang terkenal dengan rambutnya yang panjang dan tebal (14:25-26). Ketika adiknya yang cantik, Tamar, diperkosa dengan kejam oleh saudara sebapa mereka, Amnon, Absalom melindungi adiknya dan menunggu ayah mereka untuk menghukum Amnon. Dua tahun kemudian, setelah kemarahan Absalom mendidih sementara Daud belum juga turun tangan, Absalom memerintahkan untuk membunuh Amnon, kemudian melarikan diri. Belakangan, ayah dan anak itu berkumpul kembali, tetapi semuanya sudah sangat terlambat. Sikap diam Daud memicu Absalom untuk berusaha merebut takhta. —Alyson Kieda

Bagaimana janji-janji Allah dapat menguatkan kamu di saat menghadapi tantangan yang membuat kamu terjaga pada malam hari? Bagaimana caramu mendekatkan diri kepada Allah pada malam-malam yang sulit seperti itu?

Ya Allah, terima kasih Engkau selalu terjaga dan menemani saya di sepanjang malam.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 19-20; Yohanes 13:21-38

Handlettering oleh Mesulam Esther

Background photo credit: Dennis Agusdianto

Masuk dalam Peristirahatan

Jumat, 15 Februari 2019

Masuk dalam Peristirahatan

Baca: Mazmur 127:1-2

127:1 Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.

127:2 Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Sebab [Allah] memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. —Mazmur 127:2

Masuk dalam Peristirahatan

Akhirnya, pada 8 Januari 1964, Randy Gardner yang berusia 17 tahun melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama sebelas hari dan dua puluh lima menit: ia tertidur. Ia ingin mengalahkan rekor berapa lama manusia dapat bertahan tanpa tidur dalam Guinness Book World Record. Ditemani minuman ringan, bermain basket, dan boling, Gardner berhasil bertahan tidak tidur selama 1,5 minggu. Ketika menyerah, indera pengecap, penciuman, dan pendengarannya sudah terganggu. Ternyata, beberapa puluh tahun kemudian, Gardner mengidap insomnia akut. Ia menciptakan rekor, tetapi juga membuktikan sesuatu yang pasti: tidur itu penting.

Banyak dari kita bergumul untuk dapat tidur cukup di malam hari. Tak seperti Gardner yang sengaja tidak mau beristirahat, kita mungkin sulit tidur karena sejumlah alasan—antara lain kegelisahan yang menumpuk, khawatir dikejar tenggat, tuntutan orang lain, tekanan dari kehidupan yang serba cepat. Kadangkala sulit bagi kita untuk meredam segala ketakutan itu dan beristirahat.

Pemazmur mengajarkan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm. 127:1). Kerja keras dan upaya kita yang tanpa henti akan berakhir sia-sia jika Allah tidak menyediakan keperluan kita. Syukurlah, Allah setia menyediakan apa yang kita perlukan. Dia “memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (ay.2). Kasih Allah menjangkau kita semua. Dia mengundang kita untuk menyerahkan kegelisahan kita kepada-Nya dan masuk dalam peristirahatan-Nya, ke dalam anugerah-Nya. —Winn Collier

Tuhan, aku sangat gelisah. Hatiku bergolak. Tolonglah aku mempercayakan hari-hariku, siang dan malam, serta seluruh hidupku kepada-Mu.

Mempercayai Allah melenyapkan kegelisahan dan memberikan kita kelegaan.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 17-18; Matius 27:27-50

Perubahan Hati

Selasa, 5 Februari 2019

Perubahan Hati

Baca: Bilangan 9:15-23

9:15 Pada hari didirikan Kemah Suci, maka awan itu menutupi Kemah Suci, kemah hukum Allah; dan pada waktu malam sampai pagi awan itu ada di atas Kemah Suci, kelihatan seperti api.

9:16 Demikianlah selalu terjadi: awan itu menutupi Kemah, dan pada waktu malam kelihatan seperti api.

9:17 Dan setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah.

9:18 Atas titah TUHAN orang Israel berangkat dan atas titah TUHAN juga mereka berkemah; selama awan itu diam di atas Kemah Suci, mereka tetap berkemah.

9:19 Apabila awan itu lama tinggal di atas Kemah Suci, maka orang Israel memelihara kewajibannya kepada TUHAN, dan tidaklah mereka berangkat.

9:20 Ada kalanya awan itu hanya tinggal beberapa hari di atas Kemah Suci; maka atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat.

9:21 Ada kalanya awan itu tinggal dari petang sampai pagi; ketika awan itu naik pada waktu pagi, merekapun berangkatlah; baik pada waktu siang baik pada waktu malam, apabila awan itu naik, merekapun berangkatlah.

9:22 Berapa lamapun juga awan itu diam di atas Kemah Suci, baik dua hari, baik sebulan atau lebih lama, maka orang Israel tetap berkemah dan tidak berangkat; tetapi apabila awan itu naik, barulah mereka berangkat.

9:23 Atas titah TUHAN mereka berkemah dan atas titah TUHAN juga mereka berangkat; mereka memelihara kewajibannya kepada TUHAN, menurut titah TUHAN dengan perantaraan Musa.

Setiap kali awan itu naik dari atas Kemah, maka orang Israelpun berangkatlah, dan di tempat awan itu diam, di sanalah orang Israel berkemah. —Bilangan 9:17

Perubahan Hati

Menurut Lembaga Sensus AS, orang Amerika pindah rumah rata-rata 11 sampai 12 kali sepanjang hidup mereka. Dalam setahun terakhir, 28 juta orang berkemas, pindah, dan menempati rumah mereka yang baru.

Sepanjang 40 tahun perjalanan Israel di padang gurun, tiang awan tanda kehadiran Allah memimpin seluruh bangsa itu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain menuju negeri baru yang telah dijanjikan. Perpindahan itu terjadi begitu seringnya hingga tampak lucu. Keluarga demi keluarga dalam jumlah besar berulang kali mengemas dan membongkar barang-barang mereka, serta kemah dan perabotan tabernakel, tempat Allah bertemu dengan Musa dalam tiang awan (lihat Kel. 25:22).

Berabad-abad kemudian, Tuhan Yesus menyatakan makna sejati dari riwayat Israel yang sering berpindah-pindah. Yesus tidak datang dalam bentuk tiang awan, melainkan sebagai pribadi. Ketika berkata, “Mari, ikutlah Aku” (Mat. 4:19), Yesus mulai menunjukkan bahwa yang terpenting dari perpindahan tempat adalah terjadinya perubahan hati. Di hadapan kawan dan lawan yang berkumpul di bawah kaki salib-Nya, Yesus menunjukkan sejauh mana Allah—yang dahulu hadir dalam bentuk tiang awan dan di dalam tabernakel—rela bertindak untuk menyelamatkan kita.

Seperti pindah rumah, perubahan hati juga tidak mudah. Namun, suatu hari nanti, saat kita sudah berdiam di rumah Bapa, kita akan menyadari bahwa Yesus telah memimpin kita di sepanjang jalan hidup ini. —Mart DeHaan

Dalam hal apa saja kamu kesulitan untuk mengikut Tuhan? Bagaimana doa dapat menguatkan iman dan keyakinanmu kepada-Nya?

Tuhan, Engkau tahu kami tidak suka berpindah-pindah, tetapi kami ingin mengikuti Engkau. Tolong kami untuk menaati tuntunan kasih-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 36-38; Matius 23:1-22