Posts

Lempeng Batu

Rabu, 18 Oktober 2017

Lempeng Batu

Baca: Yesaya 53:1-6

53:1 Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?

53:2 Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.

53:3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.

53:4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita. —Yesaya 53:5

Lempeng Batu

Kota Yerusalem yang kita kenal sekarang bisa dikatakan dibangun di atas puing-puing sebagai akibat dari peperangan dan penghancuran yang berlangsung dari abad ke abad. Suatu kali dalam liburan keluarga, kami menyusuri Via Dolorosa (Jalan Penderitaan), yang menurut tradisi merupakan rute yang dilalui Yesus dalam perjalanan-Nya menuju tempat penyaliban. Panasnya cuaca hari itu mendorong kami untuk beristirahat sejenak dan turun ke ruang bawah tanah yang sejuk dari Convent of the Sisters of Zion (Biara para Biarawati Sion). Di ruangan itu, saya terpikat oleh jalan setapak kuno dari batu yang pada saat itu baru ditemukan lewat suatu penggalian. Lempeng-lempeng batu pada jalan itu diukir dengan gambar beragam permainan yang dilakukan tentara Romawi di waktu senggang mereka.

Meski kemungkinan berasal dari periode setelah masa hidup Yesus di dunia, lempeng-lempeng batu itu membuat saya memikirkan kehidupan rohani saya dengan sungguh-sungguh. Seperti tentara yang bosan dan bermain-main di waktu senggangnya, saya telah menjadi puas akan diri saya sendiri hingga mengabaikan Allah dan sesama. Saya begitu tersentuh saat membayangkan bahwa di dekat tempat saya berdiri saat itu, Tuhan Yesus pernah dipukuli, dicemooh, dihina, dan dianiaya sembari memikul semua kesalahan dan pemberontakan saya.

“Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5).

Lempeng batu itu masih mengingatkan saya pada kasih karunia Tuhan Yesus yang lebih besar dari semua dosa saya. —David C. McCasland

Tuhan Yesus, lewat pengorbanan-Mu yang agung bagi kami, kami menerima pengampunan, pemulihan, dan pengharapan. Terima kasih karena hari ini dan untuk selamanya kami dapat hidup di dalam kasih-Mu.

Dosa kita sungguh besar, tetapi anugerah Allah jauh lebih besar.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 53-55; 2 Tesalonika 1

Damai Sejahtera yang Sempurna

Minggu, 4 Juni 2017

Damai Sejahtera yang Sempurna

Baca: Yohanes 14:25-31

14:25 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu;

14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

14:28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku.

14:29 Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi.

14:30 Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.

14:31 Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini.”

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. —Yohanes 14:27

Damai Sejahtera yang Sempurna

Seorang sahabat menceritakan kepada saya bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan suaminya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Pada saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya.

Yesus berbicara tentang damai sejahtera yang sejati itu kepada para sahabat-Nya setelah perjamuan terakhir mereka bersama (Yoh. 14). Di sanalah Dia menyiapkan mereka untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan segera terjadi: kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kedatangan Roh Kudus. Yesus menyatakan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya tidak seperti yang diberikan dunia ini. Lewat pernyataan itu, Dia ingin para murid tetap mengalami damai sejahtera sekalipun kesulitan mendera mereka.

Kemudian, ketika Yesus yang telah bangkit muncul di hadapan para murid yang ketakutan setelah kematian-Nya, Dia menyapa mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Yoh. 20:19). Pada saat itulah Yesus mengajak mereka, dan juga kita, untuk kembali mempercayai apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita semua. Dengan mempercayai-Nya, kita pun menerima kepastian yang jauh lebih meyakinkan daripada perasaan kita yang selalu berubah-ubah. —Sheridan Voysey

Bapa Surgawi, Engkau memberikan damai sejahtera kepada orang yang hatinya percaya sepenuhnya kepada-Mu. Tolong kami untuk percaya kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah Gunung Batu kami yang kekal.

Yesus datang untuk memberikan damai sejahtera ke dalam hidup dan dunia kita.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-22 dan Yohanes 14

Artikel Terkait:

Penjara Bukan Penghalang

Ingatlah Salib-Nya

Jumat, 14 April 2017

Ingatlah Salib-Nya

Baca: Markus 15:19-20, 33-39

15:19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.

15:20 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya.

15:34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

15:35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.”

15:36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.”

15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.

15:38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.

15:39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” —Markus 15:39

Ingatlah Salib-Nya

Di gereja tempat saya beribadah, sebuah salib besar berdiri di bagian depan dari ruang kebaktian. Salib itu menggambarkan salib tempat Yesus mati—tempat dosa kita bersinggungan dengan kekudusan-Nya. Di salib itu, Allah mengizinkan Anak-Nya yang sempurna untuk mati demi setiap kesalahan dan dosa yang kita lakukan, katakan, atau pikirkan. Di salib itu, Tuhan Yesus menyelesaikan karya yang diperlukan untuk menyelamatkan kita dari kematian yang selayaknya kita terima (Rm. 6:23).

Melihat sebuah salib mengingatkan saya pada apa yang telah Yesus tanggung bagi kita. Sebelum disalibkan, Dia dicambuk dan diludahi. Para prajurit memukul kepala-Nya dengan tongkat dan berlutut sambil berpura-pura menyembah-Nya. Mereka memaksa Yesus untuk memikul sendiri salib-Nya ke tempat penyaliban, tetapi tubuh-Nya terlalu lemah setelah dicambuk habis-habisan. Di Golgota, mereka menancapkan paku yang menembus daging-Nya agar Yesus dapat tetap tergantung di kayu salib saat mereka menegakkan salib itu. Tangan dan kaki-Nya yang penuh luka itu menahan berat tubuh-Nya selama Dia tergantung di sana. Enam jam kemudian, Yesus menghembuskan napas-Nya yang terakhir (Mrk. 15:37). Seorang kepala pasukan yang menyaksikan kematian Yesus pun berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (ay.39).

Ketika kamu melihat simbol salib, pikirkanlah arti salib bagimu. Anak Allah telah menderita dan mati disalib untuk kemudian bangkit kembali demi menyediakan hidup yang kekal. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan Yesus, tidak habis-habisnya aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menanggung dosaku saat Engkau mati di kayu salib. Aku menerima pengorbanan-Mu dan aku percaya pada kuasa kebangkitan-Mu.

Salib Kristus menyingkapkan keburukan dosa kita sekaligus keagungan kasih Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25-26; Lukas 12:32-59

Ditinggalkan Demi Kita

Kamis, 13 April 2017

Ditinggalkan Demi Kita

Baca: Matius 26:36-46

26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”

26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,

26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?

26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

26:43 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.

26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” —Ibrani 13:5

Ditinggalkan Demi Kita

Apakah kehadiran seorang teman dapat membuat rasa sakit lebih tertahankan? Para peneliti di Universitas Virginia mengadakan penelitian yang menarik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka ingin melihat bagaimana otak manusia bereaksi terhadap kemungkinan adanya rasa sakit, dan reaksi apa yang diberikan oleh otak ketika seseorang menghadapi rasa sakitnya seorang diri, ketika memegang tangan orang yang tak dikenalnya, atau ketika memegang tangan seorang sahabat dekatnya.

Para peneliti menguji puluhan pasangan dan menemukan hasil yang konsisten. Ketika seseorang sendirian atau memegang tangan orang yang tak dikenalnya pada saat ia akan menghadapi rasa sakit, bagian otak yang memproses tanda bahaya pun bereaksi. Namun, saat ia memegang tangan seseorang yang dapat dipercaya, otaknya pun rileks. Rasa tenang karena kehadiran seorang teman membuat rasa sakit lebih tertahankan.

Yesus membutuhkan penghiburan saat Dia berdoa di Taman Getsemani. Yesus tahu apa yang akan Dia hadapi: pengkhianatan, penangkapan, dan kematian. Dia meminta sahabat-sahabat-Nya untuk tinggal dan berdoa bersama-Nya, dengan mengatakan bahwa hati-Nya “sangat sedih” (Mat. 26:38). Namun, Petrus, Yakobus, dan Yohanes terus saja tertidur.

Yesus menghadapi kepedihan di taman itu dan tak ada kawan yang menghibur-Nya. Namun, karena Dia menanggung penderitaan itu, kini kita dapat meyakini sepenuhnya bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Yesus menderita agar kita tidak perlu lagi terpisah dari kasih Allah (Rm. 8:39). Penyertaan-Nya membuat kita sanggup menanggung segalanya. —Amy Peterson

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau telah menanggung penderitaan dan kesendirian di Taman Getsemani dan di atas salib demi kami. Terima kasih arena Engkau memberi kami jalan untuk kembali bersekutu dengan Bapa.

Karena kasih Allah, kita tidak pernah ditinggalkan sendirian.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 22-24; Lukas 12:1-31

Apa Adanya

Rabu, 12 April 2017

Apa Adanya

Baca: Yohanes 12:1-8

12:1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.

12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:

12:5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

12:7 Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

12:8 Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”

Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya. —Yohanes 12:3

Apa Adanya

Beberapa saat sebelum Yesus disalibkan, seorang wanita bernama Maria menuangkan sebotol minyak wangi yang mahal di kaki-Nya. Kemudian ia menyeka kaki Yesus dengan rambutnya—suatu tindakan yang bisa dibilang sangat berani (Yoh. 12:3). Mungkin dengan itu Maria mengorbankan seluruh tabungannya, tetapi ia juga telah mempertaruhkan reputasinya. Dalam budaya Timur Tengah abad pertama, para perempuan terhormat tidak pernah membiarkan rambut mereka terurai di depan umum. Namun, ibadah yang sejati tidak mementingkan apa pendapat orang lain tentang sikap kita (2Sam. 6:21- 22). Demi menyembah Yesus, Maria rela dianggap sebagai seorang wanita yang tidak sopan, bahkan mungkin tidak bermoral.

Mungkin ada di antara kita yang merasakan tekanan untuk tampil sempurna di gereja agar orang lain berpikir yang baik-baik tentang kita. Ibaratnya, kita berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap helai rambut kita tertata dengan rapi. Namun, gereja yang sehat adalah suatu tempat di mana kita dapat datang apa adanya tanpa perlu menyembunyikan kekurangan kita di balik topeng kesempurnaan yang pura-pura. Di dalam gerejalah sepatutnya kita dapat membuka diri terhadap kelemahan-kelemahan kita agar kita beroleh kekuatan, daripada menutup-nutupi segala kegagalan kita hanya supaya kita terlihat kuat di mata orang lain.

Beribadah tidak berarti kita bersikap seolah-olah tidak ada yang salah; beribadah berarti memastikan bahwa segala sesuatunya benar, yakni kita berada dalam hubungan yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Jika kita begitu takut untuk bersikap apa adanya di hadapan Allah, mungkin saja kita telah berdosa besar dengan berpura-pura tampil sempurna. —Julie Ackerman Link

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku. . . . Lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal! —Mazmur 139:23-24

Ibadah kita benar apabila kita telah dibenarkan Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 19-21; Lukas 11:29-54

Dua Foto

Jumat, 3 Maret 2017

Dua Foto

Baca: Yohanes 16:19-24

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Sekarang kalian bersusah hati, tetapi Aku akan bertemu lagi dengan kalian, maka hatimu akan bergembira; dan tidak seorang pun dapat mengambil kegembiraan itu dari hatimu. —Yohanes 16:22 BIS

Dua Foto

Seorang nenek dengan bangga menunjukkan dua buah foto kepada teman-temannya. Yang pertama adalah foto putrinya di kampung halamannya di Burundi. Yang kedua adalah foto cucu lelakinya, yang baru-baru ini dilahirkan putrinya. Namun putrinya tidak menggendong bayi itu. Sang putri meninggal saat melahirkan anaknya.

Seorang teman mendekat dan melihat kedua foto itu. Ia segera memeluk sang nenek. Sambil berlinang air mata, ia hanya berkata kepada nenek itu, “Aku tahu perasaanmu.”

Teman itu memang tahu apa perasaan nenek tersebut karena putranya baru saja meninggal dua bulan sebelumnya.

Ada yang istimewa dari penghiburan orang lain yang pernah mengalami penderitaan kita. Mereka tahu perasaan kita. Sesaat sebelum Yesus ditangkap, Dia memperingatkan murid-murid-Nya, “Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira.” Namun, Dia menghibur mereka: “Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh. 16:20). Beberapa jam kemudian, hati para murid hancur karena Yesus ditangkap lalu disalibkan. Namun, dukacita mereka yang mendalam segera berubah menjadi sukacita yang tak terbayangkan saat melihat Dia bangkit.

Yesaya pernah bernubuat tentang Mesias, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (Yes. 53:4). Juruselamat kita tidak hanya tahu tentang penderitaan kita, tetapi Dia pernah mengalaminya sendiri. Dia tahu dan peduli. Kelak dukacita kita akan diubahkan menjadi sukacita. —Tim Gustafson

Tuhan, terima kasih untuk salib-Mu. Kami pasti menghadapi kesusahan di dunia ini, tetapi Engkau telah mengalahkan dunia dan menanggung dosa serta derita kami. Kami menantikan harinya kelak saat dukacita kami diubahkan menjadi sukacita dan kami akan bertatap muka dengan-Mu.

Ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, Dia akan memberikan damai sejahtera-Nya di dalam hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 28-30; Markus 8:22-38

Artikel Terkait:

Tuhan Tahu Aku Butuh Penyakit Ini Agar Aku Berbalik Kepada-Nya

Dahulu, Mary adalah seorang yang amat berambisi. Mary ingin menjadi mahasiswi terbaik sehingga semua orang melihatnya. Namun kemudian keadaannya menjadi berbalik ketika dia mulai kehilangan semua hal yang dia miliki: pekerjaan impiannya, pacarnya, dan kesehatannya. Bagaimana kisah selengkapnya? Baca kesaksiannya di dalam artikel ini.

Seluruh Diriku

Rabu, 1 Maret 2017

Seluruh Diriku

Baca: Matius 27:45-54

27:45 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.

27:46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?”* Artinya: /Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

27:47 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.”

27:48 Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

27:49 Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”

27:50 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

27:51 Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,

27:52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

27:53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

27:54 Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”

[Persembahkan] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1

Seluruh Diriku

Saat masih muda, Isaac Watts menemukan banyak kekurangan dalam puji-pujian yang dinyanyikan di gerejanya. Lalu ayah Watts mendorongnya untuk menciptakan lagu-lagu yang lebih baik. Ia pun melakukannya. Himne karya Watts, When I Survey the Wondrous Cross (Bila Kuingat Salib-Nya), disebut banyak pihak sebagai himne terbaik dalam bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.

Bait ketiga dari himne penyembahan karya Watts itu membawa kita seakan-akan berada di hadapan Kristus pada saat penyaliban-Nya.
Lihatlah pada dahi-Nya
Duka dan kasih tercurah
Dahsyat mahkota duri-Nya
Yang hina jadi yang mulia

(Nyanyian Pujian, No. 189)

Peristiwa penyaliban yang digambarkan Watts dengan sangat elegan itu merupakan momen paling mengerikan dalam sejarah. Patutlah kita berdiam dan berdiri bersama orang-orang yang ada di sekeliling salib itu. Sang Anak Allah meregang nyawa, terpancang oleh paku-paku yang menembus tubuh-Nya. Setelah jam-jam yang mengerikan itu, kegelapan yang supernatural pun meliputi suasana di sana. Akhirnya, Tuhan atas alam semesta itu menyerahkan nyawa-Nya. Gempa bumi mengguncang tempat itu. Demikian juga di Yerusalem, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang yang telah meninggal bangkit, lalu masuk ke kota (Mat. 27:51-53). Semua peristiwa itu mendorong kepala pasukan yang menyalibkan Yesus untuk berkata, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (ay.54).

“Salib merombak semua nilai dan menghancurkan semua keangkuhan,’’ demikianlah komentar Poetry Foundation tentang sajak pujian Watts itu. Hanya satu respons yang pantas, dan himne tersebut menyatakan respons itu demikian: “Kar’na kasih-Mu yang murni, kupersembahkan diriku.” —Tim Gustafson

Sungguh istimewa kita dipanggil untuk menyerahkan seluruh milik kita
kepada Pribadi yang telah menyerahkan segalanya bagi kita di kayu salib.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 23-25; Markus 7:14-37

Artikel Terkait:

Buat Apa Susah?

Bukan hanya orang-orang pada zaman sekarang saja yang punya banyak masalah. Kehidupan para tokoh dalam Alkitab pada ribuan tahun lalu pun sudah sarat dengan masalah. Menjadi umat pilihan Tuhan atau murid-murid Tuhan Yesus tidak lantas membuat hidup mereka berjalan mulus. Lalu, bagaimana kita harus menghapi masalah tersebut? Apa yang dapat kita pelajari dari setiap masalah yang menimpa kita? Baca selengkapnya di dalam artikel berikut.

Wajah Kristus

Minggu, 22 Januari 2017

Wajah Kristus

Baca: 2 Korintus 4:4-15

4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

4:6 Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!”, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;

4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.

4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.

4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.

4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya.

4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Sebab Allah . . . membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. —2 Korintus 4:6

Wajah Kristus

Sebagai penulis, sebagian besar masalah yang saya bahas adalah seputar penderitaan. Saya terus-menerus kembali ke pertanyaan-pertanyaan yang sama, seolah mengorek kembali luka lama yang tidak kunjung sembuh. Saya menerima kabar dari para pembaca buku saya dan kisah-kisah penderitaan yang mereka hadapi menunjukkan bahwa apa yang saya pertanyakan itu benar-benar terjadi. Saya teringat kepada seorang pembina kaum muda yang menelepon saya setelah istri dan bayinya terjangkit penyakit AIDS dari transfusi darah. Ia bertanya, “Bagaimana mungkin aku berkhotbah kepada pemuda-pemudi yang kulayani tentang Allah yang Mahakasih?”

Saya telah belajar untuk tidak lagi berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan “mengapa”, seperti: Mengapa harus istri pembina itu yang menerima sekantong darah yang telah terkontaminasi? Mengapa angin topan menghantam satu kota dan meluputkan kota lainnya? Mengapa ada doa memohon kesembuhan jasmani yang tidak dijawab?

Namun demikian, ada satu pertanyaan yang dahulu pernah mengusik saya tetapi kini tidak lagi, yaitu “Apakah Allah peduli?” Saya hanya tahu satu jawaban atas pertanyaan itu, dan jawabannya adalah Yesus. Kita melihat Allah pada wajah Yesus Kristus. Jika kamu bertanya-tanya bagaimana perasaan Allah terhadap penderitaan manusia di atas planet ini, pandanglah wajah Yesus Kristus.

“Apakah Allah peduli?” Kematian Anak-Nya untuk menggantikan kita telah menjawab pertanyaan tersebut. Kelak segala kesakitan, duka, penderitaan, dan kematian akan ditaklukkan untuk selama-lamanya. “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!‘, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). —Philip Yancey

Selebar tangan Yesus yang terentang di kayu salib, demikianlah besarnya kasih Allah kepada kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4-6; Matius 14:22-36

Artikel Terkait:

Tugasku: Menangis dengan Orang yang Menangis

Mewawancarai keluarga yang sedang berduka untuk menuliskan kisah tentang mereka adalah tugas Michele sebagai seorang jurnalis. Mendengar tugas itu saja sudah membuat kaki dan tangannya gemetar. Bagaimana kelanjutan kisahnya? Baca kesaksian Michelle selengkapnya di dalam artikel ini.

Penutup Kita

Sabtu, 17 Desember 2016

Penutup Kita

Baca: Roma 3:21-26

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,

3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

3:24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! —Mazmur 32:1

Penutup Kita

Ketika berbicara tentang iman kepada Yesus, terkadang kita menggunakan kata-kata tanpa memahami atau menjelaskannya. Salah satunya adalah kata kebenaran. Kita mengatakan bahwa Allah mempunyai kebenaran dan Dia membenarkan umat-Nya, tetapi hal itu bisa menjadi konsep yang sulit dipahami.

Penggambaran kata kebenaran dalam aksara Tionghoa bisa menolong kita. Kata kebenaran tersebut terdiri dari dua karakter. Karakter di bagian atas adalah kata domba, sedangkan karakter di bagian bawah adalah kata saya. Domba itu menutupi atau berada di atas orangnya.

Ketika Yesus Kristus datang ke dunia, Yohanes Pembaptis menyebut-Nya sebagai “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Dosa kita perlu dibereskan karena dosa membuat kita terpisah dari Allah, yang selalu sempurna dan benar dalam sifat dan kehendak-Nya. Karena Allah begitu mengasihi kita, Anak-Nya Yesus, “yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor. 5:21). Yesus Kristus, Anak domba Allah, mencurahkan darah dan menyerahkan nyawa-Nya. Dia menjadi “penutup” kita. Dia membenarkan kita, sehingga kita kembali dalam hubungan yang benar dengan Allah.

Hubungan yang benar dengan Allah semata-mata adalah karunia-Nya. Yesus Kristus, Sang Anak Domba, diberikan Allah untuk menutupi dosa kita. —Anne Cetas

Ya Tuhan, terima kasih Engkau telah mati bagiku di atas kayu salib dan menutupi dosa-dosaku sehingga aku dapat menjalin hubungan dengan-Mu.

Darah Kristus adalah satu-satunya penutup dosa yang tetap dan kekal.

Bacaan Alkitab Setahun: Amos 7-9; Wahyu 8

Artikel Terkait:

Pergumulanku Sebagai Seorang yang Disebut Munafik

Menjadi seorang munafik bukanlah sebuah hal yang baik. Namun aku rasa Tuhan tidak ingin aku meninggalkan-Nya karena aku disebut sebagai seorang munafik. Baca kesaksian Kezia selengkapnya di dalam artikel ini.