Posts

Ibu, Terima Kasih untuk Teladanmu yang Luar Biasa

ibu-terima-kasih

Oleh Charlotte Diana
Artikel Asli dalam Bahasa Inggris: A Tribute To My Mother

Ibuku adalah salah satu wanita paling luar biasa yang pernah aku tahu. Setelah ayahku meninggal pada tahun 2011, ia tetap berjuang demi ketiga anaknya. Untuk membiayai kami, ia membuat dan menjual jajanan pasar berupa lapet (cemilan khas Batak dari beras atau ketan) dan es buah.

Hidup dengan keuangan yang sangat terbatas mengajarnya untuk berhati-hati dalam menggunakan uang. Sekalipun kini aku telah bekerja dan bisa mengirimkannya uang setiap bulan, ia hanya menggunakannya untuk membeli perlengkapan rumah tangga yang memang diperlukan.

Suatu hari, ia memberitahuku tentang impiannya memulai sebuah warung di rumah.

“Ibu yakin?” tanyaku kepadanya.

“Yakin. Ibu ingin bisa cari uang sendiri supaya tidak memberatkan kamu. Lagipula, waktu kamu kerja seharian, ibu kan sendirian di rumah. Kalau punya warung, ibu jadi ada kesibukan dan tidak merasa kesepian,” ia menjelaskan dengan mantap.

Selama beberapa bulan kemudian, aku dan saudara-saudaraku pun berusaha menabung dengan mengurangi pengeluaran dan menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk ibu. Tidak mudah. Uang kami tidak kunjung cukup juga. Mimpi ibu sepertinya sulit untuk diwujudkan.

Suatu hari, tanpa diduga, ibuku menerima hadiah dari pamanku. Sebuah rak kaca dengan pintu geser. Pamanku rupanya telah mendengar keinginan ibuku untuk memulai sebuah warung, dan membelikan rak itu untuk memajang barang jualannya. Ibuku sangat senang.

Awalnya ia tidak mau langsung memakainya. Ia pikir semua perlengkapan yang dibutuhkannya harus ada dulu sebelum ia bisa membuka warung. Namun, setelah kami dorong terus-menerus, ia akhirnya membeli beberapa barang untuk dipajang, dan mulai membuka warung kecilnya.

Pada hari pertama, hanya ada beberapa orang yang datang berbelanja. Ibu tidak mengeluh. Ia menyapa setiap orang yang mampir dengan senyum yang ramah.

Perlahan-lahan, ibuku mulai bisa menghasilkan sedikit uang. Ia juga belajar bagaimana menjadi seorang penjual yang baik, dan memberkati orang lain. Bila barang yang dicari pelanggannya tidak tersedia, ia selalu berusaha menawarkan alternatif agar kedatangan pelanggan itu tidak sia-sia. Sikap ibu yang selalu bersahabat dan suka menolong membuat banyak orang senang datang berbelanja kembali.

Kadang-kadang ada anak-anak yang tidak punya cukup uang untuk membeli apa yang mereka mau. Sekali waktu Ibuku bertanya kepada salah satu anak yang datang, “Di mana orangtuamu?” Anak itu menjawab dengan sedih, “Mereka sibuk kerja seharian.” Teringat dengan anak-anaknya sendiri, ibu tersenyum dan bertanya berapa banyak uang yang dipunyai anak itu. Ia lalu memutuskan untuk memberikan apa yang diinginkan anak itu. Tidak perlu dibayar.

Kadang-kadang, para satpam dan petugas kebersihan juga akan mampir untuk membeli air minum dan makanan kecil. Suatu malam, ketika warung sudah tutup, seseorang membunyikan bel pintu untuk membeli sebotol air minum. Kali lain, seorang petugas kebersihan mampir untuk membeli obat sakit kepala. Ia bekerja terlalu lama di bawah terik matahari. Ibuku tidak hanya membuka pintu untuk orang-orang ini, ia bahkan menawarkan petugas kebersihan itu untuk beristirahat sebentar di warungnya.

Para pembantu rumah tangga juga sering mampir ke warung ibuku. Sebagian tidak hanya berbelanja kebutuhan rumah tangga, tetapi juga curhat tentang pergumulan mereka. Banyak di antara mereka membeli obat-obat bebas untuk mengobati berbagai gejala penyakit karena tidak punya cukup uang untuk pergi ke rumah sakit. Karena prihatin, ibu lalu berinisiatif mengajar mereka tentang program asuransi kesehatan dari pemerintah. Ibuku sendiri sudah menggunakan fasilitas asuransi tersebut sehingga ia bisa menjelaskannya dengan baik. Ia mengambilkan formulir pendaftaran dan membantu mereka mendaftarkan diri. Makin lama, makin banyak pembantu rumah tangga di kompleks kami yang datang menanyakan tentang program asuransi kesehatan itu kepada ibuku. Kebanyakan di antara mereka mendaftar dan kini dapat menerima pengobatan yang lebih baik.

Dengan segera, warung ibuku menjadi perbincangan banyak orang. Warung itu mulai menjadi sangat ramai pada jam-jam tertentu. Penghasilan ibuku pun bertambah hingga ia bisa membeli sebuah lemari es baru yang bisa digunakannya untuk menjual makanan beku.

Kini warung ibuku sudah berusia lebih dari setahun. Ia telah membantu dan melayani banyak orang. Sepanjang tahun ini, aku melihat sendiri bagaimana Tuhan memberikannya sebuah kesempatan istimewa, bukan hanya menjadi seorang penjual, tetapi juga menjadi seorang pelayan dan mentor bagi sesama. Tuhan telah menolong dan memberi ibuku semangat untuk mewujudkan impiannya. Aku sendiri merasa dikuatkan melihat bagaimana ibuku selalu berdoa dan meletakkan pengharapannya di dalam tangan Tuhan.

Menjadi seorang janda tidak membuat ibuku menjalani hidup dalam kepahitan. Ia tidak hanya berhasil membiayai keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak anak muda, termasuk diriku sendiri. Kiranya hidup kita juga bisa bersinar bagi Yesus, supaya ketika orang lain melihat hidup kita, mereka juga akan dapat melihat betapa hebatnya Tuhan yang Mahakuasa, yang telah merancang hidup kita bagi kemuliaan-Nya.

Baca Juga:

Aku Menutup Akun Media Sosialku, dan Inilah yang Terjadi

Dahulu, Albert adalah orang yang mempunyai banyak sekali media sosial. Suatu hari, sebuah kata-kata temannya membuatnya merenungkan mengapa dia menggunakan semua media sosial tersebut.

Mendambakan Kasih Seorang Ayah

Oleh: J. Leng, Malaysia,
(Artikel asli dalam Simplified Chinese: 从无到有的父爱)

Craving a Father's Love

Setiap kali melihat ada ayah dan anak yang bisa mengobrol dan bercanda dengan akrabnya, aku selalu merasa agak iri. Aku tidak pernah punya kenangan seindah itu. Ketika aku berusia 11 tahun, kedua orangtuaku bercerai karena ayahku berselingkuh. Menurut ibuku, ayah tidak menginginkan hak pengasuhan atas kami karena ia tidak suka anak-anak. Ketika ayah menikah lagi, ia pun tidak memiliki anak samasekali.

Aku dan kakak perempuanku dibesarkan oleh ibu. Hubungan kami dengan ayah sangat minimal, kebanyakan hanya untuk meminta uang saku. Kadang-kadang saja ia berbasa-basi menanyakan kabar kami. Ia sangat jarang mengajak kami keluar untuk makan malam atau meluangkan waktu bersama kami. Yang namanya “kasih ayah” tidak pernah benar-benar bisa kami alami di sepanjang tahun-tahun pertumbuhan kami.

Aku bisa merasakan bahwa ibu sinis dan benci kepada ayah setelah perceraian itu, terutama dari cara bicaranya setiap kali menyebut ayah. Ia kerap mengingatkan aku dan kakakku untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang seperti ayah.

Apa yang ia katakan tahun demi tahun, ditambah pengalamanku sendiri dalam berinteraksi dengan ayah, membuat aku kemudian merasakan hal serupa. Aku merasa ayah menghindari tanggung jawabnya terhadap keluarga. Ia hanya menunjukkan tanggung jawabnya hanya bila sudah tidak ada pilihan lain.

Perlahan-lahan, aku juga mulai percaya bahwa semua laki-laki pada umumnya tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya. Sama seperti ibu, aku memandang rendah ayahku.

Aku ingat suatu kali saat liburan SMA, aku minta tolong ayah untuk membantuku pindah dari asrama. Ia tidak muncul. Akhirnya, aku terpaksa mengangkut semuanya sendirian dengan pertolongan beberapa teman.

Ketika aku masuk universitas, ayah berkata bahwa ia tidak sanggup membayari biaya kuliahku secara penuh, dan memintaku untuk mencari jalan keluar sendiri. Aku sangat kecewa kepadanya. Itu adalah masa-masa yang paling sulit dalam hidupku—aku sendirian di tempat asing, dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa.

Tertekan karena tidak bisa membayar uang sekolah, aku mengalami depresi. Pada saat itu aku merasa tidak ada bedanya aku punya ayah atau tidak. Aku harus menjalankan beberapa pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Dan aku merasa semua kesulitan yang kuhadapi itu disebabkan oleh ayah.

Namun, pada masa-masa itu jugalah aku mengenal Yesus dan menerima anugerah keselamatan-Nya.

Dalam Matius 11:28 aku membaca, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Selain itu, Ulangan 31:8 berkata, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Kedua ayat ini sangat menghiburku. Allah menyadarkanku bahwa aku tidak perlu menanggung semua beban sendirian. Aku dapat mempercayakan semua kekhawatiran dan ketakutanku kepada Tuhan, yang dapat diandalkan. Mungkin aku bahkan perlu berterima kasih kepada ayahku karena situasi yang disebabkannya membuatku aku akhirnya percaya kepada Tuhan.

Setelah aku menjadi seorang Kristen, aku mulai belajar bagaimana membangun hubungan dengan Allah, dan secara bertahap mulai memahami kasih Bapa di surga yang luar biasa. Salah satu kekecewaan terbesar dalam hidupku adalah tidak bisa mengalami kasih seorang ayah, namun kini aku mendapatkan kasih terbesar yang bisa diberikan seorang ayah, yaitu kasih dari Bapaku yang di surga.

Melalui doa dan pembacaan Alkitab, aku juga mulai memahami kehendak Allah bagiku dalam Matius 6:15, “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Jujur saja, mengampuni ayah yang telah menggoreskan luka dalam hidupku, bukanlah hal yang mudah. Tetapi setiap hari, aku memohon agar Allah memampukanku untuk memahami dan memaafkan ayahku. Meski tidak mudah, Allah menghendaki kita tidak hanya berdamai dengan-Nya, tetapi juga dengan sesama kita.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 3 – tamat)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu3

Perlahan namun pasti, aku mulai menata kehidupanku lagi. Aku menyadari betul itu bukan karena kekuatanku sendiri, namun karena kasih karunia Tuhan. Pak Yudi dan teman-teman gereja membantuku untuk bangkit lagi. Dengan kemampuan lukisku, aku mulai bekerja untuk menyambung hidup. Aku juga mulai aktif melayani di gereja. Sungguh aku sangat bersyukur bisa kembali menjalani hidup dengan pikiran yang jernih.

Meski begitu, ada satu hal yang masih terus menghantui hidupku. Aku masih sulit sekali melepaskan pengampunan bagi orangtuaku. Setiap kali ada pembicaraan yang menyinggung tentang mereka, nada suaraku berubah menjadi ketus. Pak Yudi pernah menegurku, mengingatkanku pada firman Tuhan.

Neng, dalam Matius 6:14-15 Tuhan mengatakan ‘jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’ Bapak dulu juga susah mengampuni orang yang menabrak istri dan anak Bapak, tapi percayalah Neng, hidup Neng gak akan tenang kalau Neng tidak mau mengampuni. Kalau orangtua Neng tetap keras hati dan tidak mau hidup bersama lagi itu urusan mereka dengan Tuhan. Bagian Neng adalah mengampuni dan menghormati mereka. Bukankah Tuhan juga sudah mengampuni Neng?”

Aku terdiam, memilih untuk tidak mendebat Pak Yudi yang sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Namun, hatiku masih protes. Mengampuni dan menghormati kedua orangtuaku? Apakah mereka masih merasa menjadi orangtua dari seorang Ellea? Mungkin saja mereka sudah tidak ingat kalau mereka pernah punya seorang anak perempuan yang mereka sia-siakan. Meski firman Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa aku harus mengampuni, praktiknya bagiku tidak semudah itu.

Ellea, kami sangat menyesal…..” sosok di depanku mengulangi pernyataannya dengan wajah penuh air mata.

Maafkan kami karena kami begitu egois dan tidak memikirkan masa depanmu. Kamu pasti sangat menderita…”

Badanku terasa kaku, tanganku bergetar memegangi pinggir sofa yang mulai mengelupas. Aku tidak mengerti keajaiban apa gerangan yang telah membawa papa dan mamaku ke tempat ini. Aku melihat mamaku terisak-isak dalam pelukan papaku. Bertahun-tahun aku ingin melihat mereka berangkulan seperti itu. Wajah mereka tampak letih dan makin tua, meski sebenarnya baru dua tahun kami berpisah.

Ada banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi dari rumah, Ellea…” papaku angkat bicara dengan suaranya yang berat. Desahannya juga terdengar sangat berat.

Kami tidak jadi bercerai. Memang belum semua masalah kami bisa dibereskan, tetapi satu hal yang pasti, kami tidak ingin kehilangan kamu. Kalau kamu bersedia Ellea, kembalilah pulang. Kita mulai kembali lembaran baru untuk keluarga kita…”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Air mataku tak terbendung. Seharusnya aku bahagia. Namun, entah kenapa aku masih ragu. Apa jaminannya mereka tidak akan bertengkar dan menyakitiku lagi? Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Ayat-ayat firman Tuhan yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir bermunculan di kepalaku. Aku tertegun menyadari Roh Kudus tengah mengingatkanku tentang apa yang Tuhan ingin aku lakukan sebagai anak-Nya.

“ … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

“… hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:4)

… ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…” (Matius 6:12)

Aku tahu ini bukan masalah orangtuaku lagi. Ini masalah hatiku sendiri di hadapan Tuhan. Aku ingat begitu seringnya aku berdoa “jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku.” Dan kini, aku diperhadapkan pada pilihan, apakah aku akan membiarkan kehendak Tuhan itu dinyatakan dalam tindakanku atau tidak. Aku menarik napas dalam-dalam. Saatnya mengambil keputusan. Sekarang atau tidak sama sekali. Mengikuti kehendak Tuhan, atau kehendak hatiku sendiri.

Papa tahu, kamu mungkin butuh waktu untuk memaafkan papa dan mama…” sosok gagah di hadapanku berujar pelan sambil menundukkan kepala seperti seorang prajurit kalah perang.

Papa…mama… aku…. memaafkan kalian,” kalimat itu akhirnya terucap mantap meski banjir air mata kembali tidak terhindarkan membasahi wajahku. Aku menghambur memeluk mama, lalu papa, dengan kelegaan yang luar biasa.

Terima kasih Ellea…” mama berbisik lirih. Papa menggenggam tanganku erat-erat.

***

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Aku melompat dari tempat tidurku dengan penuh semangat, membuka jendela lebar-lebar. Tidak ada sawah. Yang ada hanya pekarangan luas penuh pepohonan rindang dan bunga-bunga. Aku kembali berada di kamarku sendiri, asyik membayangkan memindahkan lukisan alam yang indah itu ke dalam salah satu kanvasku. Ah, indahnya!

Sudah bangun? Ayo turun sini, ikut papa potong rumput!” Aku tertawa lepas. Belum pernah merasa sebahagia ini. Dulu, hampir mustahil melihat papa ada di rumah pada hari Sabtu.

“Papa belum cerita, bagaimana caranya bisa menemukanku di rumah itu,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Papa tersenyum lebar, “Ada teman papa yang bekerja di panti rehabilitasi asuhan gereja itu.” Aku terpana. Wow! Tuhan punya cara yang tak terduga dalam mempertemukan kami kembali. Bayangan Pak Yudi dan teman-teman gereja yang pernah membantuku, melintas di pikiranku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya,” kata-kata Pak Yudi kembali terngiang di telingaku.

Ayo turun! Tunggu apa lagi?” aku tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolku. Sembari menuruni tangga, hatiku spontan bersenandung.

Bersama-Mu Bapa, kulewati semua…
PerkenananMu yang teguhkan hatiku…
Engkau yang bertindak memb’ri pertolongan…
AnugerahMu besar melimpah bagiku…

Aku tidak tahu apa yang akan kami hadapi sebagai keluarga ke depan. Namun, aku tahu bersama Tuhan, kami akan melewati semua dan bertumbuh di dalamnya. Bagian kami adalah belajar menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan mengikuti kehendak kami sendiri, karena kehendak-Nya jelas yang terbaik bagi kami semua.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 2)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu2

Suara itu lagi. Teriakan itu lagi. Bunyi keras itu lagi. Hampir setiap hari hanya itu yang dapat ku dengar. Papa dan mamaku selalu bertengkar setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Umpatan kasar sering terlontar dari mulut mamaku, menuduh papa tidak lagi memperhatikan keluarganya. Bantahan papa tidak kalah kasarnya, terutama bila ia kelihatan sangat lelah sepulang kantor. Kadang ia sampai menggebrak meja atau membanting barang. Aku yang mendengarkan mereka, merasa lebih lelah lagi. Tidak ada yang menemaniku belajar. Tidak ada yang mendengarkan ceritaku, apalagi keluh kesahku.

Kedua orangtuaku sebenarnya adalah orang Kristen, namun menurutku, kehidupan mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal Tuhan. Mereka jarang berdoa, apalagi ke gereja dan membaca Alkitab. Sepertinya mereka tidak pernah berpikir panjang, apalagi mempertimbangkan apa kata firman Tuhan, dalam mengambil keputusan-keputusan. Termasuk keputusan untuk bercerai.

Aku menjadi seperti orang yang yang kehilangan separuh nyawa. Sebelum sidang perceraian itu dilakukan, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa seluruh tabunganku, menghilang dari kehidupan kedua orangtuaku. Dalam keadaan depresi, aku mulai terjerumus pergaulan bebas karena pengaruh seorang teman kos. Aku ikut menggunakan narkoba dan minuman keras sebagai pelampiasan rasa kecewa atas keluargaku. Singkat cerita, hidupku berantakan, gara-gara kedua orangtuaku!

Ellea, kami sangat menyesal….” sosok di hadapanku kini ikut bersimbah air mata melihatku melangkah mundur di belakang sofa, menjaga jarak dengan mereka.

Menyesal! Aku tertegun. Momen-momen tertentu dalam hidupku seolah berulang.

Hari itu aku juga merasakan penyesalan yang luar biasa. Hidupku terasa kosong dan sia-sia. Duduk sendiri di teras kos, aku bertanya-tanya apakah masih ada harapan bagiku. Tadi malam aku baru saja menggadaikan handphone kesayanganku demi bisa membeli sepaket shabu. Kedengarannya mungkin konyol, namun apa daya, sekujur tubuhku sudah meronta dan menyiksaku sepanjang hari. Air mataku meleleh. Aku merasa sangat lemah. Aku menyesal, tetapi tidak tahu harus mulai darimana memperbaiki hidupku.

Tuhan, jika Engkau ada, tunjukkan jalan-Mu untuk aku bisa bangkit lagi…” bisikku lirih dalam hati.

Pagi, Neng!”

Aku buru-buru mengeringkan pipiku yang basah. Seorang bapak tua berkemeja batik tersenyum lebar sembari berjalan tertatih-tatih melintasi jalan di depan kosku. Pak Yudi. Pengusaha tahu berdarah Sunda yang juga membuka warung di ujung gang. Ia tinggal sendirian. Anak dan isterinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Entah apa yang membuat bapak itu begitu tegar. Ia sangat ramah kepada anak-anak kos sepertiku.

Ada apa Neng?” Pak Yudi tampak khawatir melihatku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekati pagar. Tangannya yang sudah mulai keriput memegang sebuah tas Alkitab dari kulit. Aku tahu ia baru pulang dari gereja yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumahnya. Sebuah perjalanan yang terbilang jauh, apalagi untuk orang seusianya. Setiap yang melihatnya bisa merasakan betapa berartinya Tuhan dalam kehidupan Pak Yudi. Biasanya ia mengikuti kebaktian paling pagi, sehingga pukul 10 seperti sekarang ia sudah dalam perjalanan pulang.

Aku tidak bisa menahan tangis. Sosok Pak Yudi mengingatkanku pada papaku sendiri. Papa yang aku rindukan sekaligus kubenci setengah mati.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Pak.. aku merasa hidupku sangat kosong dan sia-sia.” ujarku lirih di sela derai tangisku, ketika Pak Yudi duduk di sebelahku. Entah bagaimana, cerita hidupku mengalir begitu saja. Ketika selesai, aku merasa tak percaya baru saja membuka segala kebobrokanku dan keluargaku di depan seorang yang tidak terlalu kukenal. Aku merasa sangat malu. Namun, sorot mata Pak Yudi sama sekali tidak melecehkanku. Ia menepuk pundakku dengan lembut.

Tidak ada jalan keluar selain datang pada Tuhan, Neng. Jangan ditunda lagi,” katanya pelan namun tegas.

Tapi Pak, apa Tuhan masih mau menerimaku yang seperti ini?” aku masih terisak-isak.

Pak Yudi mengangguk sambil tersenyum. Tangannya yang keriput membuka Alkitab di pangkuannya.

Tuhan berkata kepada umat-Nya: ‘…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’” Lalu ia kembali menatapku dalam-dalam.

Dosa memang membuat hidup kita berantakan Neng. Tetapi, bagaimanapun keadaan kita, Tuhan mau menerima kita. Dia mengasihi kita dan memandang kita berharga. Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, dan Dia ingin memulihkan hidup kita untuk dapat kembali mencerminkan kemuliaan-Nya.”

Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Pak Yudi. Namun, kata-katanya menyejukkan hatiku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya.”

Dan dalam firman-Nya, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, Neng. Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.’”

Aku mengangguk pelan dan tidak menolak ketika kemudian diajak Pak Yudi berdoa.

Minggu itu sangat berat untuk kulalui, namun aku akhirnya membulatkan tekad untuk pergi ke gereja. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku. Pak Yudi menunjukkan informasi tentang sebuah panti rehabilitasi yang ada di bawah asuhan gereja. Mereka juga menyediakan bantuan dana bagi yang benar-benar membutuhkan. Dengan yakin aku segera mendaftarkan diri. Aku tahu bila aku tetap tinggal di kos, akan sulit bagiku untuk menghindari pengaruh narkoba. Mereka yang telah menjerumuskanku jelas tidak akan melepaskanku dengan mudah. Aku juga meminta bantuan pak Yudi untuk mencarikan aku tempat kontrakan yang baru setelah rehabilitasiku berakhir.

 
Bersambung …

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 1)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Jadilah-KehendakMu1

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Kicauan burung sudah ramai terdengar. Sesuatu yang paling kusenangi sejak tinggal di kontrakan mungil di pinggir sawah ini. Memang untuk mencapai halte angkutan umum terdekat aku harus berjalan sekitar 1 km, tetapi aku lebih rela untuk jalan kaki agak jauh demi menikmati pagi sepi polusi di tempat ini.

Pagi mbak Ellea,” seorang ibu berbaju biru menyapaku begitu aku membuka jendela. Balita yang digendongnya tertawa-tawa riang.

Pagi Bu Jum,” balasku tersenyum lebar.

Mawarnya sudah mekar, cantik sekali…,” katanya menunjuk sebuah pot yang berada persis di depan jendela kamarku. Aku mengangguk gembira. Menghirup wanginya dalam-dalam.

Pagi-pagi mau ke mana, Bu?”

Ke posyandu, Mbak. Tanggal 15, Intan jadwalnya imunisasi nih,” balas si ibu menunjuk balita dalam gendongannya sembari terus berjalan.

Aku melambai. Perasaanku tiba-tiba terasa campur aduk.

Di satu sisi aku sangat bersyukur. Untuk kemilau pagi, untuk semerbak bunga, untuk kicau burung, untuk keramahan warga di lingkungan baruku ini. Di sisi lain, kehangatan keluarga-keluarga di sekitarku membongkar kembali rindu yang tadinya telah terkubur dalam kalbu, menyodorkan kenyataan bahwa kini aku hidup seorang diri, tanpa ada yang menemani. Tak bisa disangkal, aku kerap merasa kesepian.

Dua tahun yang lalu, aku masih tinggal di kamar pribadi yang lebih seperti istana dibanding kamarku sekarang. Luasnya mungkin tiga kali kontrakanku ini. Bebas nyamuk, semut, dan kecoak. Setiap kali kenangan itu datang, rasa syukurku sangat cepat menguap. Berganti dengan rasa ingin menyerah dari kehidupan yang kini kujalani.

Aku beranjak keluar kamar, meraih handuk di gantungan sebelah pintu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Langkahku terhenti sebentar saat melewati kanvas di ruang tengah yang juga berfungsi sebagai ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Aku tersenyum lega melihat lukisan yang akhirnya selesai kukerjakan tadi malam. Pesanan Pak Yudi. Pengusaha tahu yang baik hati. Lukisan itu akan menjadi hadiah Pak Yudi dan teman-teman kelompok kecilnya untuk ulang tahun pernikahan pendeta mereka. Lukisan itu juga menjadi hadiah untukku, karena dengan menyelesaikannya, aku akan bisa membayar uang kontrakanku untuk bulan ini. Lagi-lagi perasaanku jadi campur aduk. Dua tahun lalu, uang jajanku sebulan bisa membayar uang kontrakan ini selama lima bulan. Mengandalkan bakat melukis untuk hidup bukanlah jalan yang mudah. Kalau aku lulusan jurusan seni rupa dari universitas ternama mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bahkan tidak sempat menyelesaikan SMA-ku. Jika bukan karena Pak Yudi dan kenalan-kenalannya, entah dari mana aku bisa mendapat pesanan lukisan setiap bulan.

***

Jam dinding menunjukkan pukul setengah dua siang ketika aku kembali dari mengantar lukisan ke rumah Pak Yudi dan singgah sebentar di warung makan. Matahari sangat terik di sepanjang perjalanan, membuatku merasa sangat gerah dan lelah. Begitu masuk rumah, aku segera menyalakan kipas angin lalu menyandarkan tubuh di sofa. Ahhh enaknya…. Entah sudah berapa lama usia sofa kusam ini, tetapi menurutku masih cukup nyaman untuk dipakai. Saatnya untuk bersantai, pikirku sambil merogoh tas, mencari-cari alat pemutar MP3 kesayanganku. Sepanjang pagi tadi aku sibuk membuat tiga sketsa lukisan baru. Sabtu pagi memang hari yang paling nyaman untuk menyelesaikan pesanan lukisan atau menggarap ide-ide baru. Sudah seminggu ini, dari hari Senin sampai Jumat aku sibuk menjadi asisten guru di sebuah taman bermain—pekerjaan yang baru kuperoleh, lagi-lagi atas rekomendasi Pak Yudi.

Banyak perkara yang tak dapat kumengerti
Mengapakah harus terjadi di dalam kehidupan ini
Satu perkara yang kusimpan dalam hati
Tiada sesuatu ‘kan terjadi tanpa Allah peduli

Ternyata tidak mudah bagiku untuk bersantai sepenuhnya. Baru satu bait lagu itu mengalun, lelehan kristal bening sudah berlomba membasahi pipiku. Tuhan, berapa lama lagi aku harus hidup seperti ini?

Allah mengerti Allah peduli
Segala persoalan yang kita hadapi
Tak akan pernah dibiarkannya
Kubergumul sendiri
S’bab Allah peduli

Ya, Tuhan, aku tahu Engkau peduli dan mendengar doa-doaku, aku tidak akan menyerah … jadilah kehendak-Mu dalam hidupku,” gumanku dalam hati, berusaha menepis bayangan-bayangan masa lalu dan impian-impian masa depan yang membanjiri pikiranku. Memangnya kamu sudah siap bila Tuhan menjawab doamu sekarang? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul, menggantung di ambang pikiranku. Namun, aku sudah terlalu lelah untuk menanggapinya. Pipiku yang basah mulai mengering oleh semilir kipas angin. Bersamaan dengan itu, aku pun terlelap.

Ellea …” Sebuah tangan yang halus terasa membelai wajahku. Aku tersentak bangun. Mataku terbelalak mendapati orang yang selama ini kurindukan berada di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku memeluknya. Ia balas memelukku. Lalu tiba-tiba sebuah bayangan masa lalu yang sangat kuat menghampiri pikiranku. Seperti tersadar dari mimpi, aku segera melepaskan pelukanku dan mendorong orang itu dengan kasar.

Bagaimana kalian bisa ada di sini? Mau apa kalian datang?” Aku berteriak-teriak seperti orang gila sambil mengusap air mata yang mengalir tanpa bisa kukendalikan. Semua peristiwa yang tadinya sudah kusimpan rapat-rapat seolah diputar kembali di hadapanku.

 
Bersambung …

Menghormati Orangtuaku Dari Jauh

Oleh: Jacob Wu, China
(Artikel asli ditulis dalam Simplified Chinese: 离家在外)

Processed with VSCOcam with kk2 preset

Processed with VSCOcam with kk2 preset

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” (Keluaran 20:12)

Selama delapan tahun terakhir, aku tinggal jauh dari keluargaku. Pada tahun 2007, aku meninggalkan Fuzhou, China, untuk melanjutkan studi. Saat ini, aku sudah meraih gelar pascasarjana dan memiliki pekerjaan di Shanghai. Aku memang sempat pulang sebentar menengok orangtua dan adik perempuanku setiap libur musim dingin dan musim panas, tetapi lebih sering aku tidak melewatkan waktu bersama dengan mereka.

Telepon menjadi sangat penting bagiku sebagai sarana komunikasi dengan orangtua. Setiap panggilan telepon dari ayah dan ibuku terasa sangat berharga. Perhatian dan kasih sayang yang mereka curahkan kepadaku selama tahun-tahun tersebut sungguh luar biasa.

Awalnya, aku sempat merasa bersalah karena tidak bisa menemani orangtuaku di rumah, dan tidak mampu membantu mereka secara finansial. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, aku mulai mengerti bahwa aku dapat menunjukkan rasa hormat dan sayangku kepada mereka dalam berbagai hal lainnya.

Salah satu hal yang paling jelas dapat kulakukan adalah menjaga diriku sendiri dengan baik, terutama dalam hal kesehatan, kegiatan sehari-hari, dan keuangan. Aku perlu meyakinkan orangtuaku agar mereka tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Orang tua mana sih yang tidak peduli dengan kesejahteraan anak-anaknya? Jika aku bisa menata kehidupanku sendiri dengan baik, orangtuaku bisa merasa tenang sekalipun aku jauh dari mereka. Mereka sering berkata bahwa asal mereka tahu aku baik-baik saja, itu cukup bagi mereka. Aku rasa kebanyakan orangtua mengutamakan kebutuhan anak-anaknya di atas kepentingan mereka sendiri. Ketika kita makin dewasa dan makin mandiri, orangtua kita otomatis akan menjadi lebih tenang dan bisa melepas kita untuk hidup sendiri.

Di sisi lain, aku perlu mulai mengambil tanggung jawab lebih dalam keluarga seiring dengan bertambahnya usia orangtuaku, agar mereka tidak khawatir dengan masa tua mereka.

Pada awal tahun ini, ketika aku pulang untuk perayaan musim dingin, aku memperhatikan sejumlah ketegangan yang terjadi antara orangtuaku dengan beberapa kerabat kami. Situasi tersebut menyadarkanku bahwa aku dapat menerapkan prinsip-prinsip Alkitab untuk mengatasi konflik dan kesalahpahaman yang terjadi dalam keluarga. Sama seperti Tuhan menggunakan Ratu Ester untuk menyelamatkan bangsa Yahudi, mungkin Tuhan telah menempatkanku dalam posisi di mana iman, pendidikan, dan pengalamanku dapat berperan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menghadang keluargaku. Sama seperti Ester, aku harus dengan berani mengambil sikap.

Matius 5:9 adalah bagian Alkitab yang selalu menguatkan aku: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Ayat tersebut mengingatkanku bahwa seorang anak Tuhan yang sejati adalah seorang yang selalu berusaha membawa damai.

Sekalipun aku akan terus tinggal jauh dari keluargaku, aku tidak merasa kesepian. Aku tahu bahwa di mana pun aku berada, aku dapat selalu menemukan sebuah keluarga di dalam tubuh Kristus. Aku tentu saja akan terus memenuhi tanggung jawabku terhadap orangtua dan adik perempuanku, namun aku yakin aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka secara berlebihan, karena aku tahu Bapa yang di surga selalu menjaga dan memelihara kami semua.

Bagaimana Aku Akhirnya Memahami Orangtuaku

Oleh: Lim Chien Chong
(artikel asli dalam Bahasa Inggris: How I Came To Understand My Parents)

memahami-orangtuaku

Itu tidak adil!”

Kenapa aku selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain? Aku tidak sama dengan mereka!”

Sebagai seorang anak yang beranjak remaja, aku tidak pernah suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tak jarang aku protes kepada kedua orangtuaku, karena aku merasa ditempatkan pada posisi yang tidak adil dan merugikan. Aku selalu merasa mereka membuat standar tertentu dan mengharuskan aku mencapainya.

Saat masih kecil (mungkin juga sampai sekarang), aku selalu lebih banyak dan lebih lantang bicara daripada kakak laki-lakiku. Aku tidak mengerti mengapa aku selalu mendapat mainan yang lebih cepat rusak, mengapa aku selalu lebih berantakan dari kakakku dan lebih sering dinasihati bahkan dimarahi ibuku. Aku merasa orangtuaku secara tidak langsung memberitahuku bahwa kakakku itu lebih baik, dan aku seharusnya berusaha menjadi seperti dia.

Lebih menyakitkan lagi, aku sepertinya selalu menjadi penerima “barang bekas” dari kakakku. Dia selalu mendapatkan baju baru, sementara aku harus puas memakai baju bekasnya. Memang orangtuaku membelikan juga barang-barang yang aku butuhkan, tetapi aku lebih banyak mengingat apa yang tidak mereka belikan dibanding apa yang mereka belikan untukku.

Sebenarnya ini sebuah ironi. Aku minta orangtuaku untuk tidak membanding-bandingkan aku dengan orang lain, tetapi di alam bawah sadar aku sendiri membanding-bandingkan diriku dengan kakakku, membanding-bandingkan orangtuaku dengan orangtua teman-temanku. Pernahkah kamu juga mengalami situasi serupa?

 
Ketika Situasinya Berbalik
Hari ini, aku sudah menjadi seorang ayah dari dua anak laki-laki. Bisa kamu bayangkan, aku sekarang merasakan sendiri apa yang dulu kulakukan terhadap orangtuaku. Setiap kali salah satu anakku berteriak, “Ayah, itu tidak adil!” aku merasa situasi itu adalah akibat kelakuanku di masa lalu. Sepanjang tahun-tahun yang telah kulewati, Tuhan terus menggunakan berbagai cara untuk mengajarku bahwa Dia adalah Allah yang benar dan adil.

Sisi baiknya, aku sangat memahami perasaan anak-anakku, karena itu persis apa yang kurasakan saat aku seusia dengan mereka. Dan aku menemukan diriku berusaha mengajak mereka melihat situasi itu dari posisi kami sebagai orangtua, sebelum mereka mulai mengeluh bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Bersyukur bahwa mereka sepertinya mengerti. Seingatku pada usia mereka aku tidak punya pengertian sebesar itu.

Akan tetapi, sekalipun aku pikir caraku ada benarnya—ketika kita mengajak orang melihat sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda, orang itu akan bisa lebih memahami dan menghargai pendapat kita—aku pun menemukan bahwa pendekatan ini kadang sulit diterapkan dan bisa bersifat subjektif.

 
Pola Alkitabiah yang dapat Kita Terapkan
Bersyukur bahwa Allah memiliki pola keluarga yang jauh lebih baik, aturan emas tentang bagaimana seharusnya orangtua dan anak saling berelasi satu sama lain. Efesus 6:1-4 mengajarkan kepada anak-anak, “taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Bagian firman Tuhan ini juga mengajarkan kepada orangtua (terutama para ayah): “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Dalam bagian Alkitab yang sejajar dengan itu, Kolose 3:21, Rasul Paulus mengingatkan para orangtua: “janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Sebagai pengikut Kristus yang kini mengemban peran seorang ayah, aku berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan Allah. Aku juga belajar bahwa anak-anak dapat menolong kami para ayah untuk bisa menyemangati dan membimbing mereka dengan lebih baik. Bagaimana hal ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin berbeda-beda untuk setiap keluarga. Dalam keluargaku, aku membuka diri untuk menerima masukan dari anak-anakku, terutama jika mereka menyampaikannya dengan kasih pada waktu yang tepat, dengan penuh hormat dan kepedulian terhadapku sebagai ayah sekaligus saudara seiman mereka di dalam Kristus. Kedengarannya mungkin agak aneh, tetapi seperti itulah Alkitab menggambarkan hubungan kita. Sebaliknya, jika anak-anakku membuka diri untuk menerima masukan dariku tentang bagaimana mereka dapat menaati dan menghormatiku, aku akan sangat senang memberitahu mereka caranya (tentu saja aku akan melakukannya pada waktu yang tepat, dengan cara yang menunjukkan bahwa aku mengasihi dan menghargai mereka).

Sebagaimana halnya semua keluarga yang lain, interaksi dan dinamika dalam keluarga kita bisa dibilang kompleks. Kita tidak selalu mendengarkan dengan baik dan tidak selalu berbicara dengan sikap yang menghormati satu sama lain. Bahkan meski kita sudah berusaha melakukannya, kita bisa saja menggunakan kata-kata yang tidak tepat sehingga menyinggung orang yang kita ajak bicara. Entah kita menyadarinya atau tidak, kita sungguh sangat membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Dalam segala sesuatu, aku harus berdoa mohon hikmat untuk menjadi seorang ayah yang lebih baik dalam membimbing dan menyemangati anak-anakku, terlepas dari apakah sikap mereka mendukung hal itu atau tidak. Aku berdoa agar sekalipun aku tidak sempurna di mata anak-anakku, Allah akan menolong mereka untuk mempraktikkan firman-Nya, untuk menaati dan menghormati orangtua mereka.

Hari ini aku bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan untuk belajar apa artinya menjadi seorang ayah yang mencerminkan karakter Tuhan. Aku juga bersyukur diberi kesempatan untuk belajar menjadi seorang anak yang mencerminkan karakter Tuhan bagi orangtuaku yang sudah lanjut usia. Aku sadar bahwa aku pun perlu terus bertumbuh, sama seperti anak-anakku perlu bertumbuh.

 
Mencerminkan hubungan dalam Tritunggal
Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:9-10).

Alkitab dengan jelas menunjukkan bagaimana Yesus taat kepada Bapa, dan bagaimana Bapa mengasihi Dia. Hubungan yang indah dalam Allah Tritunggal ini memberikan makna yang lebih dalam ketika aku menjalankan peranku sebagai anak bagi ayahku sekaligus sebagai ayah bagi anak-anakku. Motivasiku tidak hanya untuk mempertahankan keluargaku, tetapi untuk menjadi makin serupa dengan Tuhan, untuk menghidupi prinsip-prinsip hubungan yang ada di antara ketiga pribadi Allah Tritunggal. Pengalaman ini juga menolongku untuk lebih memahami hubungan yang dimiliki Yesus dengan Allah Bapa-Nya.

Susahnya Mencintai Ayahku

Oleh: Shawn Quah

(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: The Struggle To Love My Dad)

The-Struggle-To-Love-My-Dad

Tidak ada satu momen pun dalam ingatanku yang menunjukkan bahwa ayahku memiliki peran penting dalam hidupku. Tidak dalam tahun-tahun pertumbuhanku, dan jelas tidak pada saat aku menjadi seorang remaja pemberontak. Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya, berjuang mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami. Pada saat itu, aku tidak bisa memahami mengapa beliau terlalu sibuk untuk menemaniku. Aku menghormatinya, tetapi aku tidak mencintainya.

Tentu saja itu tidak berarti aku selalu bertengkar dengan ayahku. Sebenarnya, ada juga waktu-waktu menyenangkan yang kami lewatkan bersama, misalnya saat kami sekeluarga keluar makan malam atau berkumpul dengan kerabat saat ada yang mengadakan pesta perayaan.
Akan tetapi, di balik semua itu tersimpan rasa tidak suka, yang keluar setiap kali kami bertengkar. Kami bertengkar tentang nilai ujianku yang jelek, tentang ketidakmampuanku mengerjakan hal paling sederhana yang dimintanya, tentang betapa ayah tidak memahamiku, dan tentang kata-katanya yang menyakitkan. Akibatnya, hubungan kami jadi makin berjarak.

Ketika ayahku mencapai usia 50 tahun, kami mendapati bahwa beliau menderita kanker stadium lanjut. Selama dua tahun, ayahku mencoba segala macam pengobatan, baik dari kedokteran Barat maupun Timur, namun sia-sia. Ayah akhirnya menyerah, namun dalam kondisi itu pun aku tidak ambil pusing. Aku terus memendam kepahitan dalam hati dan hampir tidak memiliki rasa simpati terhadapnya.

Beberapa bulan setelah memutuskan untuk tidak menjalani pengobatan apa pun, ayahku pun meninggal. Aku tidak menangis sama sekali pada saat menjaga jenazahnya maupun saat pemakaman berlangsung.

Seminggu setelah pemakamannya, aku naik bis dan melihat para penumpang yang ramai bercakap-cakap dengan rekan yang duduk di sebelahnya. Sembari mengambil tempat duduk, aku teringat akan ayah yang biasanya duduk di sebelahku—tawanya, candanya, kata-katanya, senyumnya, dan waktu-waktu yang aku lewatkan bersamanya saat makan malam. Pipiku tiba-tiba terasa hangat dan basah. Aku buru-buru turun dari bis, duduk di tepi jalan, dan untuk pertama kalinya setelah ayahku meninggal, tangisku pecah. Aku menangisi kepergian ayahku, hancur hati mengingat bahwa beliau tidak akan pernah kembali lagi.

Malam itu, aku memberitahu ibuku tentang apa yang terjadi dalam perjalananku pulang. Ibu kemudian memberitahukan bagaimana dengan cara-caranya yang kadang konyol, ayahku telah berusaha sedemikian rupa untuk menebus waktu yang hilang saat aku remaja. Beliau berusaha sebaik mungkin untuk terlibat dengan hal-hal yang menarik hatiku, namun aku malah menganggapnya hendak mencampuri urusanku. Aku tidak dapat melihat apa yang sebenarnya—cinta seorang ayah kepada anak laki-lakinya.

Hingga hari ini, kenangan akan ayahku masih melekat di benakku, termasuk ucapan-ucapannya yang dulu tidak kupahami atau kuanggap “sampah”. Aku kini menyadari betapa kemarahanku telah menjadi penghalang dalam hubunganku dengan orang yang telah mengusahakan yang terbaik untukku. Aku terlalu angkuh untuk menanggapinya. Aku gagal menerapkan nasihat Rasul Paulus dalam Efesus 4:26, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.”

Mungkin aku tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan ayahku, karena hingga akhir hidupnya beliau tidak memercayai Kristus. Namun, jika kelak Tuhan memberiku kesempatan untuk melihatnya lagi, aku akan mengatakan kepadanya apa yang tidak pernah bisa aku katakan semasa beliau hidup: “Aku menyayangimu, Ayah.”

Keluarga Idamanku

Oleh: Michelle O
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: What My Ideal Family Looks Like)

What-My-Ideal-Family-Looks-Like

Aku selalu berharap terlahir sebagai orang Eropa, sehingga aku bisa memiliki mata yang besar dan indah, serta rambut berwarna coklat terang. Idealnya aku ingin menjadi anak bungsu yang punya dua kakak laki-laki, tercatat sebagai siswa salah satu sekolah internasional di sebuah negara di wilayah Asia, tempat ayahku bekerja sebagai seorang diplomat. Aku ingin memiliki nama barat yang terdengar anggun, seperti “Ella Rosewood”. Aku akan menghabiskan liburan musim panasku di luar negeri, dan kembali ke Asia hanya pada saat sekolah dimulai. Aku berharap keluargaku tinggal di sebuah rumah yang indah, dengan pekarangan hijau yang luas, sebuah kolam renang yang ukurannya sama dengan kolam renang untuk pertandingan Olimpiade, serta punya banyak asisten rumah tangga, mulai dari supir hingga tukang kebun.

Dalam kehidupan nyata, aku adalah seorang Asia tulen. Rambutku hitam legam, dan mataku tidak sebesar yang kuharapkan. Marga Tionghoa-ku berarti “raja” atau “King” dalam bahasa Inggris, tetapi bila aku mengubah namaku menjadi Michelle King, aku pasti dianggap tidak menghormati leluhurku. Aku memiliki seorang adik perempuan, dan kami sangat dekat satu sama lain. Aku menghabiskan sebagian masa kecilku di Malaysia sebelum kami sekeluarga kemudian pindah ke luar negeri. Dan aku melakukan berbagai pekerjaan di rumah sendiri, alias tidak memakai jasa asisten rumah tangga.

Kebanyakan di antara kita memiliki impian tentang seperti apa keluarga ideal yang ingin kita miliki. Ada yang mendambakan sebuah keluarga tradisional—suami mencari nafkah sementara isteri di rumah menjaga anak-anak—sementara yang lain menginginkan keluarga modern yang punya sumber pendapatan ganda (suami dan isteri sama-sama bekerja). Ada yang tidak ingin direpotkan dengan urusan anak, tetapi ada pula yang justru berharap punya banyak anak agar dapat mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

Sayangnya, kita hidup dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa. Bukannya memiliki keluarga yang ideal, kita menemukan diri kita bergumul menghadapi dampak dari rusaknya hubungan-hubungan kita, kenyataan bahwa pasangan kita tidak setia, pertengkaran dengan saudara gara-gara harta warisan, atau kabar buruk yang memberitahu bahwa kita tidak bisa punya keturunan.

Kita semua rindu menjadi bagian dari sebuah keluarga, dikasihi dan diterima. Kerinduan yang sangat wajar, karena kita memang diciptakan untuk memiliki hubungan satu sama lain. Allah membentuk kita untuk dapat memiliki hubungan dengan-Nya, dan kapasitas ini tercermin dalam kecenderungan kita mencari pasangan yang sempurna, sahabat yang terbaik, atau kelompok minat tertentu. Kita ingin bisa diterima seutuhnya, lengkap dengan segala kelemahan kita.

Betapa Firman Allah menghibur kita dengan memberitahukan bahwa Allah telah memanggil kita sebagai anak-anak-Nya, dan Dia menantikan kita datang untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya.

Ketika kita menerima undangan Allah untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya, kita menerima Roh yang baru: “…kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’” (Roma 8:15).

Bayangkan betapa luar biasanya bisa memanggil Pencipta jagat raya ini dengan sebutan “Bapa”. Dan sebagai anak-anak-Nya, kita dipelihara seperti biji mata-Nya (Mazmur 17:8)!

Ketika kita memiliki hubungan pribadi dengan Allah, kita dapat tenang mengetahui bahwa Bapa kita di surga mengasihi kita lebih dari orangtua kita di dunia mengasihi kita. Dia akan selalu menyertai kita, bahkan dalam saat-saat yang paling sulit.

Keluarga seperti apa yang kamu idamkan? Allah memanggilmu hari ini, apa pun latar belakang ras, agama, status sosial dan finansialmu, untuk menjadi bagian dari keluarga-Nya. Dia mengasihimu dengan kasih yang kekal, dan ingin agar kamu menjalani hidup bersama-Nya selalu. Maukah kamu datang kepada-Nya?