Posts

Belajar Memaknai Kasih dari Sudut Pandang yang Berbeda

Oleh Bagaskara Wijaya

Sepuluh tahun lalu, aku pernah mengeluh dalam doaku kepada Tuhan:

“Seandainya aku punya ayah yang benar-benar mencintaiku, pasti hidupku tidak akan begini,” ucapku.

Dilahirkan di keluarga broken-home bukanlah sebuah kehidupan yang aku inginkan. Tapi, di sinilah Tuhan menempatkanku, di sebuah keluarga yang terkoyak dalam konflik dan perceraian. Menurutku, sebenarnya sumber konflik utama dalam keluargaku adalah ayahku. Sebagai seorang yang dibesarkan di tanah rantau dan dalam keluarga broken-home juga, karakter ayahku sangat keras. Dia sering berkata kasar, membentak, bahkan tak segan untuk menggunakan kekerasan. Karena perangainya yang demikian, ibuku sempat melarikan diri darinya dan aku pun merasa bahwa ayahku bukanlah ayah yang terbaik untukku.

Setiap kali aku berkunjung ke rumah temanku, ataupun saat aku berjalan-jalan dan melihat ada seorang anak yang begitu akrab dengan ayahnya, di situ hatiku merasa sedih dan tertusuk. Imajiku berandai-andai bilamana aku bisa menikmati kemesraan seperti itu dengan ayahku. Ah, tapi itu hanya sekadar imaji, hiburku pada diri sendiri. Tapi, tak jarang aku pun menangis karena mendambakan seorang ayah yang bisa hadir secara nyata, memberi kata-kata semangat, dan memelukku kala aku merasa lemah.

Bertahun-tahun, setiap kali berdoa, isi doaku selalu sama, yaitu mengeluh dan memohon. Aku mengeluh karena perangai buruk ayahku yang dilakukannya kepadaku dan ibuku. Dan, aku memohon supaya Tuhan berkenan mengubahkan ayahku supaya kelak keluargaku pun dipulihkan seutuhnya.

Syukurlah, karena sekalipun isi doaku selalu sama, nyata-nyatanya Tuhan tidak pernah lelah mendengarkan doaku. Telinga-Nya selalu dengar-dengaran terhadap setiap rintihanku. Juga, kasih-Nya selalu mendekapku. Hanya, jawaban doa yang Tuhan berikan, tidak melulu senada dengan apa yang kuinginkan.

Sewaktu aku memohon supaya Tuhan mengubahkan ayahku, Dia tidak segera mengubahkan ayahku saat itu juga seperti adegan sulap.

Singkat cerita, di tahun 2016, perjalanan studiku di perguruan tinggi pun usai. Aku dinyatakan lulus sebagai seorang sarjana dengan IPK 3,71. Cum Laude! Saat pelaksanaan wisuda mendekat, aku mencoba menelepon ayahku. Aku mengundangnya untuk hadir dalam pelaksanaan wisudaku. Sebelumnya, ibuku sudah mengatakan bahwa ayah tidak mungkin mau menghadiri wisudaku. Tapi, entah mengapa, aku tetap ingin mengundangnya walau sebenarnya aku tidak berharap banyak apabila ayahku akan datang, karena saat itu ayah dan ibuku sudah tidak tinggal bersama lagi.

Namun, aku cukup terkejut saat ayahku mengatakan bahwa dia akan menghadiri wisudaku. Dan, yang lebih mengherankan lagi, katanya dia akan mengajak ibuku juga untuk hadir! Aku tercengang, tapi tidak mau berpikir jauh-jauh. Yang ada dalam imajiku adalah nanti orangtuaku datang wisuda, berfoto bersama, lalu selesai, pikirku seperti itu.

Setelah upacara wisuda selesai, sambil memakai toga dan mengalungi piagam, aku menghampiri ayahku. Aku tidak tahu hendak berkata apa, demikian juga dengan ayahku. Dia tidak banyak berkata. Hanya menatapku dengan ekspresi datar. Kemudian, dia menepuk pundakku, dan senyumnya pun merekah.

Peristiwa ini sebenarnya sangatlah sederhana. Namun, buatku peristiwa ini begitu luar biasa. Bukan karena gelar cum laude yang aku raih. Bukan karena saat wisuda aku sudah diterima bekerja. Tapi, senyuman ayahku itulah yang menggetarkan hatiku. Senyuman itu adalah senyum paling tulus yang pernah ayahku berikan. Senyuman itu menumbangkan segala imaji negatif tentang ayahku yang selama bertahun-tahun kupelihara tumbuh di dalam hatiku.

Memang benar bahwa ayahku adalah ayah yang sering berkata kasar dan ringan tangan. Memang benar bahwa ayahku bukanlah ayah yang romantis, yang tak pernah mengucapkan kata “aku mengasihimu” kepadaku. Memang benar bahwa ayahku tidak seperti ayah-ayah lain yang bisa bersenda gurau dan bercengkrama dengan anaknya. Tapi, di balik semuanya itu, aku lupa bahwa Tuhan sejatinya tidak pernah menciptakan kesalahan di dalam dunia ini, termasuk ketika dia mengizinkanku untuk menjadi seorang putra dari ayahku.

Hari itu, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah memandang ayahku. Aku tahu bahwa sikap dan perbuatan ayahku adalah salah dan tidak terpuji. Aku boleh membenci dosa-dosa yang dilakukan ayahku, tetapi tidak seharusnya aku membenci pribadinya. Di balik perangainya tersebut, ada satu kebenaran yang baru saat ini aku pahami. Aku sempat menyesal, seandainya saja aku memahami kebenaran ini sedari awal, mungkin aku tidak akan memelihara rasa pahit dalam hatiku lama-lama.

Setiap orang, termasuk ayah, memiliki bahasa kasihnya masing-masing. Ada seorang yang mengungkapkan bahasa kasihnya dengan ucapan yang menyejukkan hati. Ada seorang yang mengungkapkan ekspresi kasihnya dengan sentuhan dan dekapan hangat. Ada seorang yang mengungkapkan empati terdalamnya dengan pemberian. Tapi, bahasa dan ekspresi kasih terdalam ayahku sejatinya telah dia wujudkan dalam rupa kerja keras.

Kerja kerasnya siang malam berjualan makanan di atas gerobak adalah wujud kasih paling tinggi yang bisa dia berikan kepadaku hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan studiku. Dia sudah terlalu lelah setiap harinya hingga tak punya lagi waktu luang untuk berjalan dan bercengkrama bersamaku. Tubuhnya sudah dipenuhi peluh hingga dia sungkan untuk mendekapku. Di balik perangainya yang buruk, tersimpan sebuah niatan tulus yang tak mampu terlihat olehku kala itu.

Momen wisuda ini mengajariku untuk belajar memaknai kasih dari sudut pandang yang berbeda, tak hanya kepada ayahku, juga kepada orang-orang lain. Selama ini aku selalu melihat kasih dari sudut pandang “aku” saja. Jika ayahku mengasihiku, maka dia harus berbuat ini dan itu untukku. Jika ayahku mengasihiku, maka dia harus mengatakan ini dan itu kepadaku. Sudut pandang ini pada akhirnya membuatku hanya mampu melihat kasih secara dangkal tanpa pernah memahami lebih jauh tentang bagaimana kasih itu diproses. Ketika apa yang diperbuat oleh seseorang tidak memenuhi ekspektasiku, atau ketika caranya berbeda dari apa yang kuinginkan, aku pun jadi kecewa dan tak jarang segera melabeli bahwa orang itu tidak mengasihiku. Padahal hal ini hanyalah prasangkaku saja. Kenyataannya mungkin berbeda.

Tapi, bagaimana jika aku belajar memaknai kasih dari sudut pandang “dia”? Sudut pandang ini dapat menolongku untuk mengikis rasa egosiku, juga menghidarkanku dari prasangka negatif. Jika sebelumnya fokusku lebih ke diri sendiri, aku mencoba untuk melihat dari sudut pandang orang itu, mencoba memahami seandainya akulah yang berada di posisinya. Alih-alih tersinggung karena ucapan ayahku, aku belajar memahami bahwa di balik kata-katanya itu mungkin saja ayahku lelah dan ada beban pikiran yang tak mampu dia utarakan.

Perubahan sudut pandang ini mungkin tidak mengubahkan ayahku secara langsung, tetapi secara nyata perubahan ini mengubahku. Aku mampu memandang ayahku dengan lebih positif. Tiada lagi prasangka dan kepahitan yang tumbuh subur di dalam hatiku. Dan, kupikir, sejatinya inilah jawaban doa yang Tuhan berikan kepadaku.

Tuhan tidak mengubahkan ayahku dan keluargaku secara sekejap. Melainkan, melalui perjalanan selama bertahun-tahun, Dia mengizinkanku untuk mengecap sebuah proses dan memahami bahwa Dia tidak sedang menempatkanku dalam kesalahan. Dia hanya ingin supaya aku bisa memiliki kasih yang tulus. Bukankah Rasul Paulus dalam suratnya pernah berkata bahwa kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:13-14).

Saat ini, dua tahun hampir berlalu sejak peristiwa itu. Lambat-laun, ada relasi yang mulai pulih. Jika dahulu aku menjadi seorang yang menuntut kasih dari ayahku, sekarang aku menjadi seorang yang proaktif mewujudkan kasih untuk ayahku. Jika dahulu aku ingin supaya dia mengajakku pergi dan bercengkrama, sekarang akulah yang mengajaknya. Jika dahulu aku ingin supaya dia berkata-kata yang baik, akulah yang memulai pembicaraan yang berisi kata-kata yang membangun kepadanya.

Pada akhirnya, kasih itu tidak selalu bicara tentang bagaimana kita diberi, melainkan tentang bagaimana kita memberi. Kristus telah memberikan kasih dan pengampunan-Nya terlebih dahulu kepada kita, bahkan saat kita masih tidak menyadari akan betapa butuhnya kita akan kasih-Nya. Oleh karena itu, hari ini, maukah kita meneruskan kasih-Nya dengan komitmen untuk mengasihi sesama kita? Mulailah dari orang yang paling dekat dengan kita.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Baca Juga:

Sebuah Kisah Tentang Gula

Suatu ketika, seorang ibu yang anaknya sangat suka makan gula datang menghampiri Mahatma Gandhi. Ibu itu meminta Gandhi supaya menasihati anaknya agar berhenti makan gula. Kemudian, kisah yang terjadi setelahnya pun menjadi sebuah teguran buatku.

Selamat Hari Ibu, Ayah!

Oleh Queenza Tivani, Jakarta

Timeline media sosialku hari ini penuh dengan foto ibu dan anak yang disertai kalimat-kalimat nan indah dan romantis. Wajar saja, karena hari ini adalah tanggal 22 Desember, hari ibu nasional di Indonesia. Aku menatap sekilas wajah-wajah yang tampak bahagia di foto mereka. Perasaanku pun jadi campur aduk.

Selama bertahun-tahun, aku selalu ingin menghindari tanggal 22 Desember. Rasa senang dan bahagia yang kurasakan hari itu bisa tiba-tiba menguap, berganti menjadi rasa hampa. Aku tidak pernah bisa memberi hadiah ataupun ucapan “selamat hari ibu” pada ibuku, karena sejak aku berusia 5 tahun, ibuku telah tiada. Aku pun akhirnya dibesarkan oleh ayahku, yang selama 17 tahun lebih selalu bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanku secara material.

Tapi, mungkin karena dia terlalu sibuk, ayahku jadi lupa bahwa sebenarnya aku tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga kasih sayang dan perhatiannya. Setiap harinya, setelah mengantarkanku ke sekolah, dia mulai bekerja dari pagi hingga malam hari. Jika hari libur tiba, aku tidak bisa bertemu dengannya walaupun kami tinggal dalam rumah yang sama. Ayah sangat sibuk bekerja. Akhirnya, aku pun tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang penuh kepahitan karena kehilangan kasih sayang, kasih dari seorang ibu dan ayah.

Setiap kali ada orang yang dengan bangganya bercerita tentang ayah atau ibu mereka, aku merasa sedih sekaligus marah. Aku jadi bertanya-tanya: mengapa hidupku seperti ini? Mengapa aku tidak punya orang tua yang melimpahiku dengan kasih sayang? Mengapa Tuhan mengambil ibuku begitu cepat? Mengapa harus ibuku? Lalu, mengapa Ayah lebih memilih sangat sibuk bekerja? Kehausan akan kasih sayang tersebut membuatku mencari jalan sendiri untuk menemukannya di luar Tuhan, dan tentunya juga di luar rumah. Di usiaku yang beranjak remaja, aku pun terseret pada pergaulan yang salah dan pornografi.

Aku merahasiakan pergumulanku dalam-dalam. Tak ada seorang pun yang tahu. Akibatnya, aku menjadi orang yang berbeda antara di dalam rumah ataupun di luar. Sekilas, orang mengenalku sebagai anak perempuan yang baik, rajin ke gereja, dan cukup aktif melayani Tuhan. Mereka tidak tahu bahwa di balik aktivitas itu, imanku rapuh, semua aktivitas itu kumaknai sebagai sekadar rutinitas yang kulakukan semata-mata karena aku tinggal di tengah lingkungan orang Kristen.

Ketika mengikuti sekolah Minggu, guru sekolah Mingguku selalu berkata bahwa Allah adalah Bapa yang baik, Bapa yang mengasihi manusia, hingga melalui Yesus, Dia rela mati di kayu salib demi menebus dosa kita semua.

Namun, dengan semua pengalaman yang kualami, hal tersebut sangat tidak masuk akal buatku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu baik. Yang aku tahu itu memang Yesus adalah Tuhan, tapi sulit sekali untuk memanggil-Nya sebagai Bapa yang baik. Bagaimana mungkin Yesus bisa menjadi Bapa yang baik ketika Dia mengambil Ibu dari hidupku? Bagaimana mungkin Yesus menjadi Bapa yang baik ketika dia memberikanku ayah yang tak bisa memberi perhatian dan kasih sayang padaku. Bukankah katanya orang tua adalah wakil Allah di dunia?

Hingga aku beranjak dewasa, aku masih tetap ragu bahwa Tuhan adalah Bapa yang baik. Segala kepahitan yang tak terselesaikan di hatiku pun perlahan berubah menjadi dendam kepada ayahku. Aku membencinya karena dia tidak bisa memberikanku kasih sayang, juga tidak bisa menjadi pengganti ibu yang baik buatku.

Namun, Tuhan tidak membiarkanku larut terus menerus dalam kepahitan ini. Melalui sebuah peristiwa di tahun pertama kuliahku, titik terang perubahan hidupku mulai terlihat. Dalam sebuah doa di acara KKR yang diselenggarakan oleh kampusku, aku mendengar suara-Nya berbisik lembut dalam hatiku. “Hai anakku, aku mengasihimu.” Aku coba menepis suara itu dan menganggapnya hanya halusinasiku saja. Tapi, suara itu terus memanggil dan memanggil, hingga di dalam pikiranku tiba-tiba terlintas sebuah ayat, “Hai anak-Ku yang Kukasihi, datanglah kepadaku, Aku akan memberikan kelegaan padamu.” Dengan gentar, aku berdoa dalam hati. Aku menangis dan dalam doaku aku memohon ampun karena selama ini, di balik aktivitas rohani yang kulakukan, aku enggan menerima Tuhan dalam hatiku. Kemudian, aku pun berkomitmen untuk sungguh-sungguh mengikut-Nya. Saat itu juga, aku merasakan ada kedamaian di dalam hatiku.

Sejak peristiwa itu, perlahan-lahan hidupku mulai berubah. Aku ditolong oleh kakak seniorku sebagai bagian dari pembinaan pasca KKR. Dia rutin menanyai keadaanku, juga mengajakku untuk berdoa bersama. Perlahan-lahan, aku jadi semakin tertarik dan haus akan firman Tuhan. Setiap hari aku menyirami jiwaku dengan firman-Nya melalui doa dan saat teduh. Saat imanku menjadi teguh di dalam Tuhan, aku pun dipulihkan dari pergaulanku yang salah dan juga dosa pornografi. Tapi, aku sadar bahwa iman dan semangatku pada Tuhan juga harus kuwujudkan dalam tindakan. Aku belajar untuk menerima kenyataan dan mengampuni masa laluku. Aku sadar bahwa kepergian ibuku saat aku masih kecil adalah bagian dari rencana Tuhan yang baik. Dan, tugasku adalah mengimani dan mengamini bahwa ada rancangan indah yang Tuhan sediakan untukku di masa depan (Yeremia 29:11).

Relasiku dengan ayahku yang retak selama bertahun-tahun pun mulai kuobati walaupun rasanya sangat sulit. Aku butuh waktu hampir satu tahun untuk benar-benar bisa memaafkan ayahku. Selama masa itu, minimal satu minggu sekali, aku coba untuk menelponnya dan mengobrol minimal satu menit. Awalnya sulit, tapi lama-lama aku jadi terbiasa. Lambat laun, obrolan singkat tersebut menjadi lebih panjang dan akrab, hingga akhirnya aku sadar bahwa selama ini cara pandangku terhadap ayah telah salah. Ayah punya cara tersendiri untuk menyayangiku. Mungkin Ayah adalah ayah jarang menyapaku, ataupun membelai rambutku. Tapi, dalam kerja kerasnya yang menyita waktu, dia bahkan selalu mengingatku dalam doa-doanya. Ayah tidak benar-benar meninggalkanku. Ayah mengutarakan bahasa kasihnya melalui peluh keringat dan perjuangan untuk memenuhi kebutuhanku. Ayah adalah ayah yang baik dan setia.

Ketika aku sadar akan peranan Ayah dalam hidupku, aku juga mulai belajar untuk menyebut Tuhan sebagai “Bapa yang baik” dalam doa-doaku. Tuhan adalah Bapa yang selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk memelukku yang dulu adalah anak terhilang. Bapa begitu menyayangiku, bahkan ketika aku memberontak terhadap-Nya.

Sekarang, ketika perayaan hari ibu nasional, aku tidak lagi berkecil hati. Tanggal 22 Desember tidak lagi menjadi hari yang ingin kuhindari. Di hari ibu ini, aku bukan saja ingin mengucapkan selamat kepada ibuku yang telah berada di surga, tetapi juga kepada ayahku.

“Selamat hari ibu, ayah terhebat! Ayah yang tidak malu untuk menjalankan peran seorang Ibu bagi anaknya. Ayah yang bekerja keras, berpeluh keringat, demi melihat anakmu berbahagia. Ayah yang terkadang harus pulang larut malam karena mencari pekerjaan tambahan. Anakmu ini pernah membencimu karena berpikir kalau Ayah terlalu menyayangi pekerjaan. Tapi, aku tidak sadar kalau Ayah selalu menyebut namaku dalam doamu. Aku mengasihimu Ayah. Terima kasih untuk kasihmu bagiku.”

Jika hari ini kamu masih bisa berkata “I love you” kepada ayah dan ibumu, lakukanlah itu sekarang, karena kita tidak pernah tahu sampai kapan kita bisa terus hadir dan bersama-sama dengan mereka. Lakukanlah apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang menyenangkan hati mereka sebelum kesempatan itu hilang.

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:7-8).

Baca Juga:

Aku, Ambisiku, dan Rencana Tuhan

Aku adalah seseorang dengan ambisi selangit. Sejak SMA aku sudah menyusun setiap rencana kehidupanku di masa depan dengan detail. Namun, ketika ambisiku untuk meraih kesuksesan dijawab Tuhan dengan banyak kegagalan, di sinilah aku belajar bahwa ada satu hal yang kulupakan ketika aku begitu terobsesi untuk mengejar ambisi.

Catatan Natal di Tanah Rantau

Oleh Aloysius Germia Dinora, Yogyakarta

Tahun ini adalah kali ketiga aku tidak merayakan Natal bersama keluarga. Sebagai anak rantau yang tinggal dan bekerja jauh dari rumah, kadang ada rasa rindu dan sepi ketika harus merayakan Natal tanpa kehadiran orang-orang terkasih. Jika biasanya di rumah aku selalu menyambut Natal dengan melayani di gereja, mendekorasi rumah, dan bersilaturahmi dengan kerabat, di tanah rantau aktivitas ini menjadi sesuatu yang kurindukan.

Namun, walau jauh dari kehangatan keluarga, pengalaman melewatkan Natal di tanah rantau ternyata mengajariku untuk memandang Natal dari sudut pandang yang berbeda. Natal bukanlah tentang perayaan yang gemerlap, melainkan Natal adalah sebuah peristiwa tentang penyertaan Allah atas kita umat manusia.

Natal tahun 2014 adalah kali pertama ketika aku tidak merayakan Natal bersama dengan keluarga. Waktu itu, aku dan seorang temanku tinggal selama tiga hari di sebuah biara novisiat, sebuah tempat awal pendidikan bagi para calon pastor. Senada denganku, rupanya para calon pastor yang usianya rata-rata di bawah 20 tahun itu pun baru pertama kali merayakan Natal tanpa kehadiran keluarga. Mereka tidak mungkin pulang, karena saat-saat Natal adalah masa di mana mereka menjadi sangat sibuk untuk melayani umat. Tapi, alih-alih mengeluh, mereka berusaha menguatkan satu sama lain untuk tetap memberi makna bahwa keluarga itu tidak harus sebatas hubungan darah. Dalam sebuah ibadah penutup, mereka turut menyanyikan lagu “Keluarga Cemara”, sebagai buah nyata penghayatan mereka akan kebersamaan.

Pengalaman kedua tentang Natal di tanah rantau terjadi pada tahun 2015. Waktu itu aku sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama satu bulan di pedalaman Kalimantan Barat. Selain mendapatkan pengalaman merayakan Natal bersama penduduk lokal yang ramah, pengalaman Natal kali ini juga ternyata mendebarkan. Tepat saat malam Natal pukul 23:00, ketika misa Natal usai dilaksanakan, teman sekelompokku mendapatkan musibah. Kakak kandungnya meninggal dunia. Kabar duka ini baru saja kami dapatkan karena sinyal ponsel yang tidak stabil saat itu.

Sebagai rekan satu kelompok, aku dan temanku yang lain berusaha untuk mencarikan transportasi ke Pontianak supaya kemudian dia bisa terbang ke Jawa untuk menemui almarhum kakaknya. Tapi, tidak ada transportasi yang tersedia, baik itu mobil ataupun speed boat yang bisa mengantar temanku, karena saat itu semua orang sedang merayakan Natal.

Kami berpacu dengan waktu. Berhubung jenazah kakak temanku itu akan segera dikebumikan, maka tak ada pilihan lain selain segera mengantarkan temanku ke bandara menggunakan sepeda motor. Itu pun kami tidak yakin apakah tiket pesawat masih tersedia atau tidak. Tapi, kami memutuskan untuk tetap mencoba berangkat. Akhirnya, jam tiga subuh pun kami berangkat supaya temanku bisa mendapatkan tiket penerbangan di pagi hari.

Jika sebelumnya aku melalui Natal dalam suasana damai, kali ini berbeda sama sekali. Suasana begitu menantang. Tanpa pengetahuan jalan yang cukup, plus tanpa Google Maps, di hari Natal kami malah mengendarai sepeda motor tua dan menembus belantara Kalimantan. Namun, puji syukur karena Tuhan tidak meninggalkan kami. Dia mendengar doa-doa yang kami gumamkan dalam hati. Dia menyertai perjalanan kami hingga akhirnya kami bisa tiba di bandara dengan selamat dan temanku pun akhirnya mendapatkan tiket untuk pulang ke rumahnya.

Perjalanan menantang hari itu pada akhirnya menjadi sebuah momen yang mengakrabkan kami. Padahal, sebelumnya sebagai teman satu kelompok, kami sering berbeda pendapat dan merasa tidak cocok satu sama lain. Tapi, perjalanan selama lima jam itu membuat kami banyak membagikan cerita pengalaman hidup kami masing-masing. Dan, melalui cerita inilah akhirnya kami menjadi saling mengenal satu sama lain.

Dua peristiwa yang pernah kualami di hari Natal inilah yang mengingatkanku kembali untuk tetap bersukacita meski harus melewatkan Natal tidak bersama dengan keluarga. Melalui para calon pastor yang tak dapat merayakan Natal bersama keluarga terkasih, aku belajar bahwa Natal adalah momen untuk mengasihi semua orang, bukan hanya keluarga sedarah. Seperti para calon pastor yang saling mengasihi rekan sekerjanya, di Natal kali ini pun aku mau membagikan sukacita dan kasih itu kepada orang-orang di sekitarku.

Melalui perjalanan membelah belantara Kalimantan yang mendebarkan, aku pun belajar bahwa Natal sejatinya adalah tentang penyertaan Allah. Seperti Dia menyertai perjalanan aku dan teman-temanku melalui jalan yang gelap dan menakutkan, demikianlah juga Allah menyertai kehidupan kita. Ketika kita terjatuh dalam dosa, Dia tidak serta merta meninggalkan kita, malahan Dia merancangkan rencana keselamatan yang agung dengan cara Dia sendiri yang datang ke dunia, mengambil rupa manusia, untuk menyelamatkan kita (Yohanes 3:16).

Apapun keadaan kita hari ini, entah kita merayakan Natal bersama dengan keluarga ataupun seorang diri, kiranya refleksi Natal sederhana ini boleh mengingatkan kita kembali untuk mengucap syukur atas kebaikan Allah dan meneruskan kebaikan itu kepada orang lain.

Selamat Natal!

Baca Juga:

Natal—Saatnya Memilih untuk Mengasihi

Bicara tentang Natal tidak bisa lepas dari yang namanya “kasih”. Natal selalu identik dengan pernyataan kasih Allah bagi dunia melalui kelahiran Sang Juruselamat. Sebagai para pengikut Kristus, kita tahu bahwa kita dipanggil untuk hidup serupa dengan-Nya. Namun, masing-masing kita mungkin memiliki pergumulan tersendiri tentang hidup di dalam kasih.

Ketika Tuhan Memulihkan Keluargaku yang Hancur

ketika-tuhan-memulihkan-keluargaku-yang-hancur

Aku dibesarkan di keluarga broken-home. Sejak aku masih kecil, aku sudah sering menyaksikan kebencian, kecemburuan, amarah, dan emosi-emosi negatif yang memperburuk keadaan keluargaku. Ayahku sering mengancam ibuku untuk bercerai, tapi karena usiaku dan saudara-saudaraku yang masih kecil, ibuku tidak setuju.

Ketika aku berusia 11 tahun, kakak lelaki dan perempuanku melarikan diri dari rumah karena tidak tahan lagi dengan masalah-masalah yang harus dihadapi. Waktu itu, keluargaku tidak tergabung ke dalam kelompok agama atau kepercayaan apapun, dan aku juga bukan orang percaya. Sekalipun aku memiliki banyak teman-teman yang Kristen, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang Yesus.

Ketika aku duduk di bangku SMP, kedua orangtuaku kembali ingin bercerai. Aku begitu marah dan kecewa karena adik lelaki dan perempuanku menjadi korban dari kemarahan orangtuaku. Keadaan keluarga kami pun memburuk, sehingga adik perempuanku harus tinggal di rumah bibiku selama beberapa bulan. Bahkan, adik lelakiku hampir saja diadopsi oleh orang lain, tapi ibuku menolak. Akhirnya, pamanku memutuskan untuk mengasuh adikku untuk sementara supaya menghidarkannya dari hal-hal yang tak diinginkan. Tatkala kedua orangtuaku bertengkar, sesudahnya ibuku akan pergi menginap di rumah saudaranya selama beberapa hari. Di usiaku yang ke-13 tahun, aku pindah ke sebuah asrama yang jauh dari rumah. Tapi, aku selalu merasa pedih tiap kali berpikir tentang keluargaku. Aku merasa terjebak di dalam situasi tanpa harapan.

Suatu hari, aku pergi ke kamar temanku yang Kristen dan meminjam ponselnya untuk mendengarkan musik. Karena dia seorang Kristen dan melayani sebagai pemusik di gereja, jadi hampir seluruh lagu di ponselnya adalah lagu rohani. Ketika aku mendengar lagu Hillsong yang berjudul “Shout to the Lord”, aku merasa tenang dan nyaman. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang saat itu terjadi kepadaku, tapi aku merasa hatiku tersentuh dan air mataku mulai menetes. Sejak saat itu, aku sering meminjam ponsel temanku hanya untuk mendengarkan lagu-lagu rohani. Setiap kali aku mendengarnya, hatiku merasa terhibur dan tenang.

Di usiaku yang ke-14 tahun, untuk pertama kalinya aku pergi ke gereja. Waktu itu, pendeta di sana menyampaikan khotbah tentang harapan untuk umat manusia. Ketika dia berkata bahwa dia mau berdoa untuk orang-orang yang membutuhkan harapan, aku pun berdiri. Aku mencoba meniru temanku. Aku menutup mataku, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan karena aku tidak pernah berdoa dan tidak tahu caranya berdoa. Tatkala pendeta itu berdoa, tangisanku tak dapat kubendung lagi dan sesudahnya aku malah merasa lebih baik. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi kepadaku, tapi aku tidak tahu itu apa.

Sejak saat itu, aku mulai rutin datang ke gereja untuk belajar lebih banyak tentang Yesus. Aku juga mengikuti sekolah Minggu untuk mendengarkan cerita-cerita tentang Yesus. Semakin aku belajar tentang Yesus, semakin aku yakin bahwa Dialah pengharapan yang aku cari selama bertahun-tahun ini. Aku menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan yang bisa mengubahkan hidupku hingga akhirnya aku memberi diriku dibaptis pada usia 15 tahun.

Sebagai orang percaya yang baru, ada tantangan yang harus kuhadapi. Ketika aku memberitahu kedua orangtuaku bahwa aku ingin dibaptis dan meminta ibuku menjadi saksinya, ayahku marah besar. Bahkan, dia tidak segan untuk mengusirku dari rumah jika aku menjadi orang Kristen. Aku coba menjelaskan pada mereka bahwa satu-satunya yang bisa memulihkan keluarga kami hanyalah nama Yesus, tapi ayahku malah menamparku. Aku tidak menyerah. Aku terus datang ke gereja secara rutin dan berdoa supaya keluargaku mau membuka hati mereka untuk menerima kebenaran firman Tuhan.

Suatu hari, aku bertanya pada ayahku tentang mana yang lebih dia pilih; Aku yang dahulu (mengonsumsi alkohol, suka merusak barang-barang, mencemarkan nama baik Ayah, dan selalu membalas perkataan orangtuaku), atau aku yang baru (rajin datang ke persekutuan doa, menanggalkan tabiat burukku, juga berhenti merokok dan minum alkohol). Aku berkata pada Ayah bahwa aku menghormatinya sebagai ayahku seperti Yesus telah mengajarkan kita untuk menghormati orangtua kita. Aku mengucap syukur karena akhirnya ayahku mau menerima imanku kepada Yesus dan mengizinkan ibuku menjadi saksi di hari aku dibaptiskan. Bermula sejak itu, aku terus membagikan harapan tentang Yesus kepada Ibu dan saudaraku. Aku berkata pada mereka bahwa keluarga kami bisa dipulihkan jika kami percaya dan berharap kepada-Nya. Saudara-saudaraku mulai datang ke gereja dan ibuku menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya tatkala dia melihat perubahan-perubahan terjadi di keluarga kami. Kami terus saling menguatkan dan mendoakan satu sama lain. Aku melihat perubahan besar terjadi dalam kehidupan keluargaku.

Sekarang, delapan tahun telah berlalu dan aku dapat dengan yakin mengatakan bahwa keluargaku telah sepenuhnya dipulihkan oleh anugerah dan belas kasihan dari Tuhan Yesus. Ibuku sering berkata, “masa lalu sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayahku mulai datang ke gereja dan ibuku selalu mendoakannya. Ibuku sekarang melayani sebagai majelis di gereja, dan saudara-saudara perempuanku melayani di bidang musik dan kaum muda. Aku sendiri melayani sebagai pemimpin pujian, pemain musik, dan pernah juga menjabat sebagai ketua kelompok penjangkauan kaum muda.

Dulu, aku adalah seorang yang tak memiliki pengharapan, tapi telah kutemukan harapan itu di dalam Yesus yang menguatkanku. Kisah pertobatanku dimulai dari sebuah lagu “Shout to the Lord”; sekarang aku yakin sepenuhnya bahwa Yesus adalah kekuatanku, Tuhanku, Juruselamatku, dan harapanku yang kekal. Aku berharap kisah yang kubagikan ini boleh menjadi bukti akan betapa besarnya kuasa Tuhan. Tuhan mampu memulihkan kita terlepas dari apapun keadaan kita; Dia adalah harapan untuk mereka yang kehilangan pengharapan.

Jika saat ini kamu sedang menghadapi masalah atau merasa bahwa tidak ada harapan, percaya dan bersandarlah pada Yesus! Kamu akan menemukan bahwa Dialah harapan yang kamu cari.

Baca Juga:

Kematian Chester Bennington: Mengabaikan Rasa Sakit Bukanlah Cara untuk Pulih

Kasus ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus bunuh diri yang menimpa kalangan selebriti. Tapi, kematian Chester Bennington, seorang vokalis grup band Linkin Park tentunya amat mengejutkan bagi banyak penggemarnya.

Ketika Aku Memahami Arti dari Didikan Orangtuaku

ketika-aku-memahami-arti-didikan-orangtuaku

Oleh Yesi Tamara Sitohang, Semarang

Dulu, aku berpikir masa-masa remajaku adalah fase yang paling buruk dalam hidupku. Aku tinggal dengan orangtua kandungku, tapi hidupku tidak bahagia. Aku menolak ungkapan yang mengatakan “Rumahku, Istanaku”. Bagiku, rumahku adalah tempat yang buruk karena orangtuaku tidak menganggapku sebagai seorang anak, melainkan seorang pekerja yang bisa diperas tenaganya setiap waktu.

Kehidupan ekonomi keluarga kami tidak begitu baik, sehingga kedua orangtuaku harus bekerja banting tulang setiap harinya. Sebagai anak sulung, aku menggantikan peran ibu untuk melakukan segala pekerjaan rumah dan menjaga adik-adikku. Selama sekitar enam tahun, aku nyaris tidak pernah keluar rumah selain pergi ke sekolah dan ke gereja. Setiap hari aku harus mencuci pakaian keluarga, mencuci piring, membersihkan rumah, memasak untuk adik-adikku, dan juga menjaga warung kecil yang kami buka di depan rumah. Terkadang aku jadi merasa iri dengan teman-teman sebayaku yang bisa pergi bergaul, jalan-jalan ke mal, atau menonton film di bioskop.

Aku merasa jenuh dengan rutinitas yang kulakukan. Jadi, sepulang sekolah aku selalu mencari-cari alasan supaya bisa pulang terlambat ke rumah. Kadang, aku juga secara sembunyi-sembunyi pergi untuk bertemu temanku. Ketika ‘kenakalanku’ itu diketahui oleh orangtuaku, mereka marah. Mereka ingin aku bisa hidup disiplin.

Kehidupan yang kujalani seperti itu membuatku menaruh rasa benci kepada kedua orangtuaku. Aku tidak terima karena mereka membuat masa-masa remajaku berlalu dengan hambar. Bahkan, aku sempat bernazar, jika kelak aku memiliki anak, aku akan memberi kebebasan kepada anak-anakku supaya mereka bisa menikmati masa-masa remajanya.

Ketika aku merasa beban yang kutanggung itu terlalu berat, aku selalu menceritakan segala keluh kesahku kepada gembala sidang dan seorang majelis di gerejaku. Hubungan kami sangat akrab dan aku senang berbagi cerita dengan mereka. Gembala sidang dan majelis yang selalu menjadi tempatku mencurahkan keluh kesah sungguh menjadi alat Tuhan untuk menguatkan imanku. Ketika aku curhat kepada mereka, mereka tidak hanya memberiku nasihat, tapi selalu mendukung dan mendoakanku dan meluruskan kembali pandanganku yang salah. Setiap kali bersama mereka, aku merasa tenang dan aman. Teladan yang mereka berikan kepadaku lambat laun membuatku tertarik untuk bisa menjadi seperti mereka. Kelak, aku ingin menjadi seorang yang bijak dan setia menolong orang lain seperti gembala sidangku. Teladan yang mereka berikan itulah yang pada akhirnya membuatku merasa terpanggil untuk membaktikan diriku kelak sebagai seorang hamba Tuhan.

Setamat SMA, tekadku sudah bulat untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Sebelum melanjutkan studiku ke jenjang sekolah teologi, aku bergumul hebat. Setiap kali aku merenungkan firman Tuhan, firman itu selalu menegurku supaya aku bisa mengampuni orangtuaku.

Ketika aku telah berstatus sebagai mahasiswa di sekolah teologi, aku dididik dengan amat disiplin. Setiap pagi harus bangun pukul 04:00 dan mengawali hari dengan bersaat teduh. Kemudian, ada kerja bakti membersihkan kebun dan area kampus. Lalu, aku juga dituntut untuk bisa terampil melakukan pekerjaan dapur. Saat itulah aku baru menyadari bahwa apa yang dahulu aku benci melakukannya, ternyata berguna untuk diriku. Orangtuaku mendidikku sedemikian keras supaya kelak didikan itu bisa berguna bagi hidupku. Hatiku terasa pedih ketika aku mengingat perlakuan burukku kepada mereka dulu. Aku baru menyadari betapa berartinya didikan kedua orangtuaku bagi masa depanku. Tuhan tidak salah menempatkan kedua orangtuaku dalam hidupku.

Lewat kejadian itu, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah memandang kedua orangtuaku. Betapa hinanya aku karena telah menaruh dendam kepada mereka yang jelas-jelas mengasihiku. Aku pun menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orangtuaku di Bandung dan meminta maaf secara langsung kepada mereka dan mereka memaafkanku. Tidak ada rasa sakit hati lagi di antara kami.

Ketika aku membuka hatiku untuk mengampuni dan meminta maaf kepada orangtuaku, Tuhan memulihkan relasiku dengan mereka. Di sela-sela liburan semester, aku menyempatkan diri untuk pulang ke rumah. Aku membantu orangtuaku mengerjakan segala sesuatu tanpa perlu disuruh-suruh lagi. Ketika relasi itu pulih, kami menjadi amat dekat. Orangtuaku juga sekarang menjadi sahabatku. Kepada mereka aku bisa menceritakan segala sesuatunya, sesuatu yang dulu mustahil aku lakukan. Di setiap waktu luangku, aku selalu menelepon mereka. Oleh karena merekalah, aku menjadi seorang pribadi yang disiplin.

Aku tahu kalau kasihku kepada mereka tidaklah sebanding dengan kasih yang mereka berikan kepadaku. Sekalipun cara mengasihi mereka mungkin berbeda, tetapi mereka tetap mengasihiku. Lewat kedua orangtuaku, aku mengerti bahwa disiplin juga adalah bagian dari kasih.

“Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah, dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.” (Amsal 4:1-2).

Baca Juga:

Haruskah Aku Keluar dari Pekerjaan Ini, Tuhan?

Tekanan ekonomi memaksaku untuk bekerja sembari berkuliah. Jadilah aku bekerja sebagai seorang copywriter di sebuah agensi iklan di Yogyakarta. Awalnya, aku nyaman dengan pekerjaan ini. Tapi, keadaan berubah setelah tiga bulan aku bekerja hingga aku bergumul, haruskah aku keluar dari pekerjaan ini, Tuhan?

Tantangan Mengasihi Keluargaku yang Berbeda Denganku

Tantangan-Mengasihi-Keluargaku-yang-Berbeda-Denganku

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta

Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa dan dari keturunan apa. Aku pun demikian. Aku tidak pernah memilih untuk lahir dari kedua orangtua yang memiliki keyakinan iman berbeda. Awalnya, kehidupan keluarga kami baik-baik saja hingga terjadilah sebuah peristiwa yang mengubahkan kehidupan kami.

Waktu itu, dalam keadaan pas-pasan kami tinggal di sebuah rumah kecil yang berukuran 3×3 meter. Ayahku bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibuku bekerja sebagai staf HRD di perusahaan tekstil. Setiap sore aku selalu menyambut mereka dengan riang dan bertanya, “Bawa oleh-oleh, ngga?” Kemudian mereka memberiku roti isi coklat pisang, atau kadang mereka hanya pulang membawa senyuman.

Kehidupan keluarga kami yang baik-baik saja itu mulai terguncang ketika ayahku terkena PHK. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ayah mencoba merintis berbagai jenis usaha, mulai dari berjualan tanaman hias, membuka tempat fotokopi, hingga membuka warnet. Tapi, semuanya gagal dan justru membuat keluarga kami terlilit utang dan makin kekurangan. Akhirnya, untuk tetap mendapatkan uang, kami menyewakan rumah tinggal kami kepada orang lain. Kami terpaksa pindah dan menumpang di rumah orangtua ibuku.

Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP. Melihat ibuku yang harus membanting tulang bekerja dan ayahku yang hanya diam di rumah, hatiku menjadi sedih. Ayah memang bukan tipe seorang yang ulet. Ketika bisnis yang dirintisnya semuanya gagal, ia mudah menyerah. Lama-kelamaan, utang-utang yang tidak segera dilunasi itu semakin menumpuk karena ayah sampai saat itu tidak bekerja apapun. Aku jadi tidak respek terhadap ayahku dan sering melontarkan kata-kata kasar kepadanya sebagai ungkapan kemarahanku.

Permasalahan tidak berhenti di situ. Kedua orangtuaku menganut iman yang berbeda. Ayah adalah seorang Katolik, sedangkan ibuku Muslim. Kakek dan nenek dari ibuku seringkali menyakiti aku karena aku seorang Kristen. Karena aku bertumbuh di lingkungan yang demikian, aku jadi tidak terlalu peduli dengan segala hal yang berkaitan dengan agama. Sejak kecil, aku tidak mendapatkan teladan rohani dari ayah, apalagi dari ibuku. Aku hanya mengenal Tuhan sedikit-sedikit dari pelajaran agama di sekolah.

Sebenarnya, pada mulanya aku tidak memilih untuk menjadi orang Kristen. Waktu itu, syarat kedua orangtuaku yang menikah beda agama adalah anak pertama mereka harus langsung dibaptis. Sampai aku beranjak SMA, aku tidak memedulikan siapa Tuhan yang aku sembah. Hingga di tahun 2012, Tuhan menjamah hatiku. (Kisah sebelumnya sudah kutuliskan di sini). Dia memulihkan setiap luka di hatiku dengan cara-Nya yang ajaib dan saat itu aku berkomitmen untuk mau mengenal-Nya lebih dalam lagi. Namun, belum sempat aku memperbaiki hubungan dengan ayahku, Tuhan sudah terlebih dahulu memanggilnya. Ayahku meninggal dunia karena serangan jantung. Sejak saat itu, aku berjanji untuk belajar mengasihi siapapun di dalam hidupku, sekalipun mereka memperlakukanku dengan buruk. Sejujurnya aku menyesal karena belum sempat meminta maaf kepada ayahku. Bahkan, yang membuatku teramat sedih adalah di hari lebaran terakhir, ketika semua anggota keluarga saling bermaaf-maafan, aku malah tidak mau menjabat tangan ayahku.

Tahun-tahun berlalu, sembari melanjutkan kuliah di Yogyakarta, aku bekerja sekaligus melayani Tuhan dengan mengajar anak-anak di desa di kawasan Gunungkidul. Suatu hari, aku pulang ke rumah. Dengan wajah bahagia, aku bercerita pada ibuku tentang pelayanan yang kulakukan di tengah tanggung jawabku untuk kuliah dan bekerja. Tapi, respons yang kudapat ternyata di luar ekspektasiku. Bukan dukungan atau ungkapan rasa bangga, ibu malah memarahiku dan perbincangan kami menjadi debat sengit yang membuat ibu menangis. Bagiku, membantu anak-anak yang kekurangan itu adalah pekerjaan mulia, tapi bagi keluargaku itu kebodohan. Bagi mereka, tidak seharusnya aku meluangkan waktuku untuk melakukan pelayanan seperti itu karena keadaan keluarga kami tidak berkelimpahan.

Aku mengerti kalau ibu sudah berjuang keras menghidupi aku dan adikku. Aku juga paham akan kekhawatirannya apabila keluarga kami kekurangan. Tapi, lebih daripada itu aku juga tahu bahwa aku tidak perlu khawatir karena Tuhan setia memelihara aku sebagaimana firman-Nya berkata, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:26).

Aku mengamini dan mengimani firman itu, tetapi keluargaku tidak. Berkali-kali Tuhan menolongku ketika aku kekurangan di tempat perantauan. Di tengah kepadatan waktuku antara kuliah dan bekerja, Tuhan menuntunku senantiasa dan dia mengajariku untuk tidak menyerah. Aku bisa membuktikan pada ibuku bahwa aku bisa membiayai sendiri hidupku dan tetap menolong orang lain yang kekurangan. Aku juga bisa buktikan kepadanya bahwa aku bisa lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan dan tetap konsisten melakukan pelayanan. Semuanya itu kulakukan bukan supaya aku menyombongkan diri, tapi aku ingin supaya keluarga boleh melihat bahwa Tuhan sesungguhnya tidak pernah meninggalkanku.

Sekarang, aku telah menyelesaikan studiku dan aku amat bersyukur karena Tuhan memberiku pekerjaan dengan pendapatan yang lebih daripada cukup. Tapi, tugasku belum selesai sampai di situ. Aku masih belajar untuk mencintai keluarga dengan tulus. Di sela-sela pekerjaanku, aku menyempatkan diriku untuk pulang ke kampung halaman. Meskipun aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan di keluarga ini, tapi aku percaya bahwa mereka adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Pengalaman demi pengalaman yang terjadi inilah yang melatih diriku untuk menjadi pribadi yang kuat.

Dari apa yang aku alami, aku belajar untuk tetap mengasihi siapapun. Ketika pilihan iman yang kuambil membuatku berbeda dari keluargaku, mengasihi mereka adalah teladan yang Tuhan Yesus ajarkan kepadaku. Memang, mengasihi itu mudah diucapkan tapi sulit dipraktikkan. Tapi, aku mau belajar dan terus belajar. Maukah kamu mengasihi keluargamu hari ini?

Baca Juga:

Alasanku Berhenti Berbuat Curang

Pernahkah kamu berbuat curang? Aku pernah. Sebagai siswa SMA, Waktu itu aku sering mencontek, hingga suatu ketika seorang guru memergokiku. Aku merasa amat malu karena ketahuan mencontek dan setelahnya berjanji untuk menjaga diriku dari berbuat curang.

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dengan 2 Buah Kentang

Ketika-Tuhan-Menjawab-Doaku-dengan-2-Buah-Kentang

Oleh Diana Yemima

Aku dan keluargaku bergumul dengan permasalahan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Gaji ayahku yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga. Melihat kondisi keluarga yang kekurangan, ibu berjualan kue di sekitar kompleks perumahan.

Kue yang dijual oleh ibu itu sangat sederhana, yaitu donat yang dibuat dari kentang dan ditaburi gula halus. Ibu memiliki masalah fisik sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan setiap hari, jadi dalam satu minggu ia hanya berjualan tiga kali. Keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat ibu, malahan ia mengatakan kalau strateginya menjual donat tiga kali seminggu itu bagus karena membuat pelanggannya dilanda “rindu” terlebih dahulu.

Apa yang ibu lakukan itu ada benarnya juga. Setiap kali ia berjualan keliling komplek perumahan, para pelanggan membeli donat dalam jumlah banyak, ada yang membeli lima donat sekaligus bahkan lebih. Mungkin mereka membeli banyak karena tahu kalau tidak setiap hari bisa menyantap donat kentang buatan ibuku.

Tuhan Yesus memberkati usaha berjualan donat yang ibu kerjakan. Setiap kali ia berjualan, semua donat selalu habis terjual sehingga uang hasil penjualan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga kami.

Suatu hari tagihan listrik di rumah kami telah jatuh tempo, tapi kami tak punya cukup uang untuk melunasinya. Uang yang kami miliki saat itu seharusnya digunakan untuk berbelanja kebutuhan bahan-bahan membuat donat kentang.

Ayah berusaha mencari pinjaman uang untuk membayar tagihan listrik itu. Aku teringat kalau masih ada tabungan yang kusimpan di celengan. Kubongkar celengan itu dan kukumpulkan setiap keping uang logam. Setelah digabung dengan sisa uang yang ada, ternyata itu cukup untuk membayar tagihan listrik kami.

Aku teringat satu ayat yang tertulis dalam Lukas 3:14 tentang perkataan Yohanes Pembaptis kepada prajurit-prajurit yang bertanya kepadanya, “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Ayat ini menguatkanku kalau Tuhan mencukupi kebutuhan keluargaku sehingga kami tidak harus berhutang kepada orang lain.

Aku berdoa sembari tanganku menggenggam uang. “Ya Bapa, Engkau tahu bahwa uang ini adalah uang terakhir yang ada di keluarga kami. Dan uang ini akan digunakan untuk membayar listrik. Aku menyerahkan uang ini ke dalam tangan kuasa-Mu. Biarlah dengan uang ini, kami dapat memenuhi setiap kebutuhan kami hingga akhir bulan nanti. Dalam nama Tuhan Yesus, amin,” ucapku pada-Nya.

Aku pikir masalah hari itu sudah selesai, tapi masih ada yang terjadi. Aku tidak melihat ibu menyiapkan bahan membuat donat kentang, padahal besok adalah hari Selasa yang semestinya ibu berjualan. Karena seluruh uang yang kami miliki, termasuk uang hasil penjualan donat ibu telah digunakan untuk melunasi tagihan listrik, maka kami tidak punya sisa uang lagi untuk membeli bahan-bahan membuat donat.

“Apakah tidak ada stok bahan yang tersisa di dapur?” tanyaku. Ibu menjawab kalau ia hanya memiliki dua buah kentang, padahal untuk satu kali adonan donat membutuhkan empat buah kentang.

Jika besok ibu tidak berjualan, kami tidak akan memiliki uang untuk makan karena penghasilan ibulah yang menjadi penyangga kehidupan sehari-hari kami. Aku masih tidak percaya kalau hanya tersisa dua kentang saja. Aku bergegas menuju dapur yang diterangi cahaya redup. Ternyata apa yang ibu katakan itu benar, hanya tersisa dua kentang saja di sana.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan berdoa. “Tuhan terimakasih atas berkat-Mu karena akhirnya kami dapat membayar listrik tanpa meminjam uang. Tapi, Tuhan, ibu kehabisan kentang untuk membuat donat, sedangkan besok kami membutuhkan uang untuk makan. Bapa, aku yakin bahwa Engkau tak pernah membiarkan anak-Mu terlantar dan kelaparan. Engkau pasti memberi jalan keluar untuk segala permasalahan kami. Kami serahkan segalanya ke dalam tangan kuasa-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.”

Seusai berdoa aku keluar dari kamar dan tiba-tiba ibu menghampiriku dengan raut wajah penuh syukur. Ia mengatakan kalau ayah menemukan dua buah kentang lagi yang tersembunyi di bawah tangga. Tangan ayah mampu merogoh hingga ke ujung dan ternyata ada dua buah kentang yang tersimpan di bawah sana. Awalnya ibu berpikir kalau kentang yang ditemukan itu pastilah sudah busuk karena itu kentang sisa dari minggu sebelumnya. Tapi, kentang itu masih dalam kondisi baik, tidak busuk.

Aku terharu melihat pertolongan Tuhan karena aku tahu kentang itu tidak datang tiba-tiba dari langit. Tuhan menjawab doaku dan membuatku menangis penuh ucapan syukur. Aku menyadari kalau pertolongan Tuhan itu selalu tepat waktu. Tidak lebih cepat, tapi juga tidak terlambat.

Ketika kita dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatunya seolah buntu, Tuhan tahu jalan keluar terbaik untuk setiap persoalan anak-anak-Nya. Kisahku bersama Tuhan menjadi suatu bukti kalau Dia tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya kelaparan.

Firman Tuhan dalam Lukas 12:22-24 menguatkanku karena Tuhan berjanji selalu memelihara anak-anak-Nya, bahkan menyediakan setiap detail kebutuhan kita. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang burung-burung di udara yang tidak menabur atau menuai, tetapi tetap dipelihara oleh-Nya. Jika Tuhan sanggup memelihara burung-burung itu, terlebih lagi Ia juga memelihara kita. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, namun yang perlu kita lakukan adalah setia melakukan bagian kita dengan baik.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” (1 Petrus 5:7). Seberat apapun pergumulan yang kamu alami, kamu tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan Yesus menemani langkah perjalananmu, bahkan Ia juga akan menggendongmu ketika kamu lemah. Ketika kita mengakui kelemahan kita dan merendahkan diri di hadapan-Nya, di situlah kita akan merasakan penyertaan-Nya.

Menutup kesaksianku, ada satu ayat yang diambil dari 1 Korintus 10:13b, “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Jadi, seberat apapun pergumulan yang kamu alami, janganlah menyerah pada keadaan, tetapi berserahlah kepada Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Berkata Pria Itu Bukan Untukku

Sakit. Sedih. Kecewa. Itulah yang kurasakan ketika aku akhirnya putus dari pacarku setelah kami menjalin hubungan selama 3 tahun 7 bulan. Di saat aku telah mendoakan hubungan ini dan membayangkan akan menikah dengannya, ternyata hubungan kami harus kandas di tengah jalan.

Rencana Tuhan di Balik Retaknya Keluargaku

rencana-tuhan-di-balik-retaknya-keluargaku

Oleh Felicia

Aku dan adikku lahir di tengah keluarga yang dulunya lengkap: ada papa, mama, aku, dan adik laki-lakiku. Saat aku kelas 1 SD dan adikku masih berumur 3 tahun, kami sudah sering mendengar mama dan papa bertengkar setiap hari. Mereka berteriak, saling memaki, dan tenggalam dalam tangisan. Terkadang aku menangis saat mendengarkan semua teriakan itu, adikku yang masih kecil malah menangis lebih keras lagi.

Aku dan adikku bersekolah di sekolah Kristen, di mana gedung sekolah kami bergabung dengan gedung gereja, sehingga aku tahu tentang Sekolah Minggu yang diadakan di sana. Aku sebenarnya ingin sekali pergi ke Sekolah Minggu bersama teman-temanku. Namun, karena mama dan papa bukan orang percaya, aku tahu mereka tidak akan mau mengantarkanku ke gereja. Tapi aku terus berdoa setiap hari Minggu pagi agar Tuhan menggerakkan mama dan papa. Bukan doa yang ribet, hanya doa singkat seperti, “Tuhan, aku mau Sekolah Minggu. Tolong, Tuhan, supaya mama dan papa mau membawaku ke gereja.”

Doaku lalu dijawab oleh Tuhan ketika mama akhirnya membawa papa dan aku ke gereja, karena mama ingin mencoba segala sesuatu agar papa dapat berubah menjadi lebih baik. Membawa papa ke gereja adalah salah satu yang mama lakukan. Aku tidak mungkin ditinggalkan di rumah, makanya, aku juga ikut dibawa ke gereja. Bagiku yang waktu itu masih kecil, ini merupakan kesempatan yang aku tunggu-tunggu, yaitu ikut Sekolah Minggu.

Sejalan dengan waktu, mama dan papa memutuskan untuk berpisah saat aku kelas 3 SD dan adikku masih duduk di kelas TK-B. Untuk adikku yang masih kecil, masalah terbesarnya adalah tumbuh besar tanpa dampingan seorang ayah. Aku pun mengalami hal yang sama. Namun, karena aku sewaktu itu sudah lebih memahami situasi, aku pun mengalami trauma dan dilema yang cukup besar.

Semuanya terjadi begitu saja. Nilaiku mulai merosot, aku mulai malas belajar, teman-teman dan guru-guru bilang aku jadi muram. Seringkali aku menemukan diriku menangis sendiri tanpa sebab, terutama ketika orang-orang di sekelilingku menanyakan tentang papaku. Aku juga menjadi takut berteman dan lebih suka sendiri. Aku merasa tidak bisa dekat dengan seseorang karena aku takut disakiti dalam sebuah relasi.

Waktu pun terus berjalan. Dari saat aku kelas 3 SD dan dibawa ke Sekolah Minggu, aku tidak pernah lagi lepas dari semua kegiatan gereja. Awalnya hanya untuk mengisi kekosongan hati, hingga akhirnya aku menemukan Tuhan. Hal itu dimulai oleh seorang guru agama yang datang ke sekolahku dan mengajariku sejak aku SMP. Dialah yang membawaku ke dalam dunia pelayanan. Di tengah kekosonganku akan rasa kasih sayang, guru agamaku itu benar-benar memperhatikan dan mengenalkanku kepada kasih Kristus. Berangsur-angsur, setelah melewati proses yang panjang, aku jadi benar-benar ingin mengenal Kristus, dan tanpa sadar aku jadi suka sekali berdoa. Aku pun belajar mengadalkan Kristus dalam keseharianku dan belajar untuk mulai terbuka kepada orang-orang terdekatku. Aku akhirnya menyadari, hal pertama yang harus kulakukan untuk dapat menjadi pribadi yang lebih terbuka adalah dengan membuka diriku kepada Tuhan.

Hari ini, saat aku melihat lagi ke belakang, aku melihat seorang anak yang sejak kecil mendengarkan pertengkaran di antara orang tuanya. Aku melihat seorang anak yang tumbuh besar tanpa sosok seorang ayah. Aku melihat seorang anak yang dulunya ingin ke Sekolah Minggu karena teman. Aku melihat anak yang aktif dalam pelayanan hanya karena membutuhkan pelampiasan. Aku pun melihat seorang anak yang akhirnya bertemu dengan Yesus, menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, menjadi sahabat-Nya, dan hidup di dalam Dia.

Aku dan adikku masih beranjak dewasa tanpa bimbingan seorang ayah, tapi kami merasakan Tuhan begitu memberkati kehidupan kami. Orang tuaku memang masih belum percaya kepada Tuhan, namun aku dan adikku masih terus mendoakan mereka. Kami melihat Tuhan mulai melembutkan hati mereka dengan mengizinkan kami melayani Tuhan, padahal sebelumnya mereka tidak memperbolehkan kami melayani. Kami sekarang melayani bersama di sebuah gereja kecil di kota Medan. Kami juga sudah mulai aktif menjadi guru Sekolah Minggu.

Bukankah ajaib bagaimana Tuhan membimbing kehidupan kami? Sekarang setelah kukenang segalanya kembali, aku mulai berpikir, jikalau saja keadaan keluargaku dulu masih baik-baik saja, kalau saja mama dan papa tidak bertengkar, mungkin kami masih belum menemukan Tuhan hingga hari ini. Mungkin kami akan berlari-lari di tempat-tempat ibadah lain di kota kami, tidak mengenal Kristus.

Sekarang kami mengerti mengapa Tuhan menempatkan kami di lingkungan seperti ini dan kami yakin Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk kami.

Bagi siapa pun yang membaca tulisan ini, bagaimana pun beratnya masa lalumu, atau sekelam apa pun keluargamu, ingatlah bahwa Tuhan punya rencana untuk hidupmu dan Dia bekerja dengan cara yang mungkin tidak kamu mengerti. Tapi satu yang pasti, Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3:11)

Baca Juga:

Pacarku Tidak Seiman, dan Tuhan Mengingatkanku dengan Cara yang Tidak Terduga Ini

Baca kesaksian Noni selengkapnya dalam artikel ini.

Ibu, Terima Kasih untuk Teladanmu yang Luar Biasa

ibu-terima-kasih

Oleh Charlotte Diana
Artikel Asli dalam Bahasa Inggris: A Tribute To My Mother

Ibuku adalah salah satu wanita paling luar biasa yang pernah aku tahu. Setelah ayahku meninggal pada tahun 2011, ia tetap berjuang demi ketiga anaknya. Untuk membiayai kami, ia membuat dan menjual jajanan pasar berupa lapet (cemilan khas Batak dari beras atau ketan) dan es buah.

Hidup dengan keuangan yang sangat terbatas mengajarnya untuk berhati-hati dalam menggunakan uang. Sekalipun kini aku telah bekerja dan bisa mengirimkannya uang setiap bulan, ia hanya menggunakannya untuk membeli perlengkapan rumah tangga yang memang diperlukan.

Suatu hari, ia memberitahuku tentang impiannya memulai sebuah warung di rumah.

“Ibu yakin?” tanyaku kepadanya.

“Yakin. Ibu ingin bisa cari uang sendiri supaya tidak memberatkan kamu. Lagipula, waktu kamu kerja seharian, ibu kan sendirian di rumah. Kalau punya warung, ibu jadi ada kesibukan dan tidak merasa kesepian,” ia menjelaskan dengan mantap.

Selama beberapa bulan kemudian, aku dan saudara-saudaraku pun berusaha menabung dengan mengurangi pengeluaran dan menyisihkan sebagian penghasilan kami untuk ibu. Tidak mudah. Uang kami tidak kunjung cukup juga. Mimpi ibu sepertinya sulit untuk diwujudkan.

Suatu hari, tanpa diduga, ibuku menerima hadiah dari pamanku. Sebuah rak kaca dengan pintu geser. Pamanku rupanya telah mendengar keinginan ibuku untuk memulai sebuah warung, dan membelikan rak itu untuk memajang barang jualannya. Ibuku sangat senang.

Awalnya ia tidak mau langsung memakainya. Ia pikir semua perlengkapan yang dibutuhkannya harus ada dulu sebelum ia bisa membuka warung. Namun, setelah kami dorong terus-menerus, ia akhirnya membeli beberapa barang untuk dipajang, dan mulai membuka warung kecilnya.

Pada hari pertama, hanya ada beberapa orang yang datang berbelanja. Ibu tidak mengeluh. Ia menyapa setiap orang yang mampir dengan senyum yang ramah.

Perlahan-lahan, ibuku mulai bisa menghasilkan sedikit uang. Ia juga belajar bagaimana menjadi seorang penjual yang baik, dan memberkati orang lain. Bila barang yang dicari pelanggannya tidak tersedia, ia selalu berusaha menawarkan alternatif agar kedatangan pelanggan itu tidak sia-sia. Sikap ibu yang selalu bersahabat dan suka menolong membuat banyak orang senang datang berbelanja kembali.

Kadang-kadang ada anak-anak yang tidak punya cukup uang untuk membeli apa yang mereka mau. Sekali waktu Ibuku bertanya kepada salah satu anak yang datang, “Di mana orangtuamu?” Anak itu menjawab dengan sedih, “Mereka sibuk kerja seharian.” Teringat dengan anak-anaknya sendiri, ibu tersenyum dan bertanya berapa banyak uang yang dipunyai anak itu. Ia lalu memutuskan untuk memberikan apa yang diinginkan anak itu. Tidak perlu dibayar.

Kadang-kadang, para satpam dan petugas kebersihan juga akan mampir untuk membeli air minum dan makanan kecil. Suatu malam, ketika warung sudah tutup, seseorang membunyikan bel pintu untuk membeli sebotol air minum. Kali lain, seorang petugas kebersihan mampir untuk membeli obat sakit kepala. Ia bekerja terlalu lama di bawah terik matahari. Ibuku tidak hanya membuka pintu untuk orang-orang ini, ia bahkan menawarkan petugas kebersihan itu untuk beristirahat sebentar di warungnya.

Para pembantu rumah tangga juga sering mampir ke warung ibuku. Sebagian tidak hanya berbelanja kebutuhan rumah tangga, tetapi juga curhat tentang pergumulan mereka. Banyak di antara mereka membeli obat-obat bebas untuk mengobati berbagai gejala penyakit karena tidak punya cukup uang untuk pergi ke rumah sakit. Karena prihatin, ibu lalu berinisiatif mengajar mereka tentang program asuransi kesehatan dari pemerintah. Ibuku sendiri sudah menggunakan fasilitas asuransi tersebut sehingga ia bisa menjelaskannya dengan baik. Ia mengambilkan formulir pendaftaran dan membantu mereka mendaftarkan diri. Makin lama, makin banyak pembantu rumah tangga di kompleks kami yang datang menanyakan tentang program asuransi kesehatan itu kepada ibuku. Kebanyakan di antara mereka mendaftar dan kini dapat menerima pengobatan yang lebih baik.

Dengan segera, warung ibuku menjadi perbincangan banyak orang. Warung itu mulai menjadi sangat ramai pada jam-jam tertentu. Penghasilan ibuku pun bertambah hingga ia bisa membeli sebuah lemari es baru yang bisa digunakannya untuk menjual makanan beku.

Kini warung ibuku sudah berusia lebih dari setahun. Ia telah membantu dan melayani banyak orang. Sepanjang tahun ini, aku melihat sendiri bagaimana Tuhan memberikannya sebuah kesempatan istimewa, bukan hanya menjadi seorang penjual, tetapi juga menjadi seorang pelayan dan mentor bagi sesama. Tuhan telah menolong dan memberi ibuku semangat untuk mewujudkan impiannya. Aku sendiri merasa dikuatkan melihat bagaimana ibuku selalu berdoa dan meletakkan pengharapannya di dalam tangan Tuhan.

Menjadi seorang janda tidak membuat ibuku menjalani hidup dalam kepahitan. Ia tidak hanya berhasil membiayai keluarganya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak anak muda, termasuk diriku sendiri. Kiranya hidup kita juga bisa bersinar bagi Yesus, supaya ketika orang lain melihat hidup kita, mereka juga akan dapat melihat betapa hebatnya Tuhan yang Mahakuasa, yang telah merancang hidup kita bagi kemuliaan-Nya.

Baca Juga:

Aku Menutup Akun Media Sosialku, dan Inilah yang Terjadi

Dahulu, Albert adalah orang yang mempunyai banyak sekali media sosial. Suatu hari, sebuah kata-kata temannya membuatnya merenungkan mengapa dia menggunakan semua media sosial tersebut.