Posts

Arti Sebuah Keluarga

Setiap orang menginginkan relasi dalam keluarga yang harmonis dan ideal. Tetapi pada kenyataannya, keluarga terbentuk dari pribadi-pribadi yang tidak sempurna. Kadang ada konflik, salah paham, dan emosi yang tidak terkontrol. Dalam relasi-relasi yang sulit itulah, kita belajar menjadi seperti Yesus yang sabar, pengertian, pemaaf, dan berinisiatif untuk memperbaiki hubungan. Tuhan, terima kasih untuk keluarga yang Kau berikan padaku. Biarlah melalui keluargaku, aku belajar untuk mengenal dan meneladani-Mu setiap hari.

Tuhan Tidak Pernah Ingkar Janji, Dia Memelihara Keluargaku

Oleh Elleta Terti Gianina, Yogyakarta

Delapan tahun lalu keluargaku mengalami kesulitan ekonomi. Masalah demi masalah datang menghampiri kami, dan kami merasa berada di titik terendah dalam hidup. Ayahku kehilangan pekerjaan, kakakku tidak bekerja, sedangkan aku masih kuliah. Sampai akhirnya pada tahun 2014 kami mengalami situasi di mana kami tidak memiliki rumah. Kami menjual rumah tinggal kami yang berada di Bogor untuk menyambung hidup.

Setelah rumah itu laku terjual, keluargaku memutuskan pindah ke Yogya. Mereka menyusulku yang saat itu sedang menyelesaikan skripsi. Puji Tuhan karena saat itu saudara kami yang memiliki rumah yang sudah tidak dipakai memperbolehkan kami tinggal sementara di sana. Tapi, keluargaku merasa masalah belum selesai. Mereka ketakutan. Kalau suatu saat saudaraku tidak lagi mengizinkan kami tinggal di rumahnya, lalu kami harus tinggal di mana? Sebenarnya kami memiliki alternatif solusi lain yaitu pembagian warisan dari pihak keluarga ibuku yang berupa tanah di Bojonegoro, Jawa Timur. Tapi, sudah 8 tahun tanah itu tak laku terjual. Seandainya tanah itu laku, uangnya dapat kami gunakan kembali untuk membeli rumah.

Di dalam keluargaku, aku adalah anak yang tidak terbuka dengan orang tuaku. Kalau ada masalah, biasanya aku akan menghindar. Aku tidak mau ambil pusing. Tapi, setelah keluargaku pindah ke Yogya, mau tidak mau aku pun jadi dekat dengan mereka dan aku merasa tidak nyaman dengan ketakutan-ketakutan yang mereka ungkapkan. Aku jadi ikut merasa takut kalau-kalau kami tak lagi memiliki tempat tinggal. Aku pun berpikir untuk mendapatkan pekerjaan supaya tidak menambah beban keluarga dan puji Tuhan aku pun mendapatkannya.

Setelah bekerja beberapa waktu, aku merasa kalau penghasilan dari pekerjaanku tidak cukup,. Aku pun dipenuhi pikiran untuk berusaha dengan tenagaku sendiri. Aku berpikir untuk bekerja di dua tempat, dari pagi sampai tengah malam supaya aku bisa mencicil rumah buat orang tuaku. Setelah selesai bekerja kantoran dari jam 8 sampai 5 sore, kupikir aku harus mencari pekerjaan part-time sampai malam hari.

Namun sejujurnya, aku merasa lelah dan tak sanggup. Aku merasa kecewa dengan orang tuaku dan juga dengan Tuhan, mengapa Dia mengizinkanku mengalami hal ini. Di samping bekerja siang malam, aku pun masih harus menyelesaikan skripsiku. Saat aku pulang, aku sering mendengar ayah dan ibuku berdoa bersama. Seharusnya aku merasa tertegur karena selama ini rasanya aku belum pernah benar-benar berdoa. Tapi, aku tidak mau terlalu memusingkannya. Aku bersikukuh kalau yang kubutuhkan adalah uang, dan untuk mendapatkannya aku perlu kerja gila-gilaan.

Sampai suatu ketika, Tuhan menegurku saat aku sedang saat teduh. Ada satu ayat yang menyentakku. “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN” (Yeremia 17:5). Saat itu aku menangis sendiri di kamar. Aku ingin menyerahkan beban berat di pundakku kepada Tuhan. Aku meminta ampun kepada-Nya lalu mendengarkan dan menyanyikan lagu yang berjudul “Walau Ku Tak Dapat Melihat”. Kemudian aku pun berdoa:

“Tuhan, entah kenapa aku percaya banget Tuhan bilang di hati aku kalo Tuhan sudah sediakan rumah. Walaupun aku gak lihat sekarang dan kayak gak ada tanda-tandanya, tapi aku percaya tanah yang di Bojonegoro akan segera terjual dan kita bisa beli rumah untuk tinggal. Tuhan gak akan biarin keluargaku kesusahan karena sebelumnya aku tahu Tuhan selalu melindungi kami bahkan saat masa tersulit.”

Saat itu aku merasakan kenyamanan seperti seorang anak yang sedang dipeluk oleh Bapanya. Aku sadar jika selama ini aku berjalan dengan kekuatanku sendiri. Aku terlalu mengkhawatirkan masalah-masalah di depanku hingga aku tidak bisa melihat betapa Tuhan memelihara keluargaku di tengah permasalahan ini. Kemudian aku pun merasa diingatkan akan pemeliharaan Tuhan di masa-masa sulit ini. Meski tak lagi memiliki rumah, namun Tuhan tetap sediakan rumah tinggal untuk kami di Yogya. Hanya, aku saja yang tidak menyadari ini sebagai berkat dan pertolongan dari-Nya.

Saat itu aku memutuskan untuk berdoa puasa. Dalam hatiku aku mau belajar percaya bahwa Tuhan akan menyediakan tempat tinggal buat kami sekeluarga. Walaupun aku belum melihat wujud nyatanya, tapi aku tetap percaya. Hingga akhirnya, di awal tahun 2018 ini ibuku memberitahuku bahwa tanah di Bojonegoro itu sudah terjual dengan harga yang diinginkan. Dalam hatiku, aku tak henti mengucap syukur. Ayahku mengingatkan kami untuk terus berdoa hingga proses penjualan tanah itu selesai dan kami dapat membeli rumah yang baru. Di waktu yang tepat, Tuhan menepati janji-Nya, bahwa Dia tahu apa yang keluargaku perlukan (Matius 6:8). Keluarga kami akhirnya dapat membeli rumah kembali di Bogor. Namun, karya Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Melalui pergumulan ini, aku jadi lebih peduli keluargaku. Padahal, dulu aku adalah orang yang tidak mau tahu dengan urusan keluarga.

Aku menulis kesaksian ini bukan tentang bagaimana aku berdoa, meminta, dan Tuhan mengabulkan. Tapi, tentang hubunganku dengan Tuhan ketika aku ada di titik tersulit dalam kehidupan. Aku tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Bapa yang selalu memberikan yang terbaik. Tapi, ketika masalah terjadi, aku seringkali menutup mataku dan memilih mengandalkan kekuatanku sendiri. Aku menjadi buta akan penyertaan Tuhan hingga akhirnya aku pun merasa kecewa dan menyalahkan Tuhan. Padahal, firman-Nya berkata bahwa pencobaan yang kualami adalah pencobaan biasa, yang tidak akan melebihi kekuatanku. Tuhan selalu memberikan jalan keluar untuk setiap masalah yang kualami (1 Korintus 10:13).

Tuhan mengajarkanku tentang apa arti iman percaya. Mungkin dunia menebarkan ketakutan kepadaku. Tapi, ketika aku tahu bahwa aku punya Tuhan yang penuh kasih, sekali-kali Dia tidak akan pernah meninggalkanku karena Dialah yang memelihara hidupku dan keluargaku. Melalui kesaksian ini, kiranya kita dapat percaya bahwa Tuhan Yesus itu selalu bersama dengan kita. Dia menyertai kita dan keluarga kita, sebab kita adalah anak-Nya dan Dialah Bapa kita yang baik.

“Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Matius 10:31).

Baca Juga:

Ketika Aku Merasa Tidak Puas dengan Keluargaku

Aku iri melihat kehidupan keluarga lain yang tampaknya lebih hebat. Ingin rasanya aku mengganti keluargaku yang sekarang dengan keluarga yang lain. Hingga suatu hari, aku bertemu dengan teman-temanku, dan di sinilah Tuhan menegurku.

Ketika Aku Merasa Tidak Puas dengan Keluargaku

Oleh Sharon Audry, Bandung

Pernahkah kamu merasa tidak puas dengan keluargamu sekarang? Mungkin kamu merasa bahwa keluarga yang kamu miliki sekarang bukanlah suatu berkat. Mungkin kamu berandai-andai kalau saja kamu dilahirkan di keluarga yang lebih baik daripada keluargamu yang sekarang. Aku pun pernah merasakan yang sama. Aku pernah merasa tidak puas dengan keluargaku.

Aku tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya, artis terkenal, keluarga pejabat, ataupun konglomerat. Aku lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Semakin aku beranjak dewasa dan semakin mengenal dunia luar, aku melihat kalau ada banyak keluarga lain yang kelihatannya jauh lebih baik. Saat aku menonton acara infotainment yang menayangkan seorang anak artis yang baru lahir, aku pun berpikir: “Ah, sepertinya enak sekali ya kalau terlahir dari keluarga artis terkenal. Baru lahir saja followers di Instagramnya sudah jutaan. Hidupnya pasti mewah banget!”

Jujur aku iri melihat kehidupan artis-artis itu. Mereka tampak begitu hebat dan dikagumi masyarakat. Kehidupan mereka pun seolah begitu menyenangkan; bisa jalan-jalan ke luar negeri, juga beli sepatu mahal dan tas branded. Ah, seandainya saja aku dilahirkan di keluarga seperti itu, pasti kalau ingin apa pun akan dibelikan.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan teman-temanku. Seorang temanku memulai obrolan dengan menceritakan masalah keluarga yang dia alami. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak dia kecil dan sekarang dia tinggal bersama neneknya. Tapi, sang nenek sering berlaku kasar kepadanya. Dia pun akhirnya benci kepada keluarganya. Jujur, aku terkejut mendengarnya. Aku tak pernah tahu kalau ada masalah seperti itu.

Sesi curhat pun berlanjut, temanku yang lain gantian bercerita. Kali ini dia bertutur kalau keluarganya broken-home. Aku tak pernah tahu bagaimana menjadi anak yang hidup di keluarga broken-home dan bagaimana rasanya kurang kasih sayang dari orang tua karena memang aku tak pernah mengalaminya dan jangan sampai mengalaminya. Cerita pun dilanjutkan oleh temanku yang lain, yang menceritakan masalah yang berbeda.

Sesi curhat itu membuatku berpikir. Ternyata di luar sana ada banyak temanku yang memiliki masalah yang berat di keluarganya, sedangkan aku bahkan tak pernah merasakan punya masalah berat di keluargaku seperti yang mereka alami. Aku jadi malu pada diriku sendiri yang pernah meminta pada Tuhan untuk menggantikan keluargaku yang sekarang dengan keluarga yang baru.

Singkat cerita, giliranku untuk bercerita tentang masalah keluarga apa yang kupunya. Tapi, jujur aku tak tahu mau bercerita apa karena menurutku aku tak punya masalah keluarga. Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku memang tak tahu masalah keluarga apa yang harus kuceritakan. Hubungan komunikasiku dengan kedua orang tuaku berjalan baik. Mereka selalu meluangkan waktunya untukku sehingga aku tidak kekurangan kasih sayang. Aku tak pernah melihat mereka berantem sampai melempar perabotan rumah tangga seperti yang sering terlihat di tayangan-tayangan televisi.

Meski begitu, masalah-masalah kecil tetaplah ada. Orang tuaku sudah biasa berbeda pendapat, tapi mereka tidak pernah berantem lama-lama. Mereka selalu rukun dan terlihat romantis lagi setelah beberapa waktu. Hubunganku dengan adik-adikku pun baik-baik saja.

Dan, di sinilah akhirnya aku sadar bahwa sebenarnya satu-satunya yang bermasalah dalam keluargaku adalah diriku sendiri. Aku marah pada Tuhan dan meminta keluarga yang sempurna, padahal Tuhan sudah memberikanku keluarga yang terbaik.

Dulu aku marah pada Tuhan karena ingin punya keluarga yang selalu menuruti keinginanku, yang mengizinkanku pulang malam. Sekarang, aku sadar. Keluarga yang seperti itu justru hanya akan menjerumuskanku dan menjadikanku anak yang manja. Mana mungkin ada orang tua yang mengizinkan anaknya pulang larut malam tanpa alasan yang jelas? Orang tua pasti ingin memastikan anak-anaknya selalu aman.

Aku pun mencabut pemikiran-pemikiranku dahulu yang ingin mengganti keluargaku dengan keluarga yang baru. Kupikir, tak ada keluarga yang sempurna di dunia ini. Aku yakin bahwa keluarga yang Tuhan berikan pada kita saat ini adalah keluarga yang terbaik. Mungkin kita merasa tidak puas dengan orang tua kita ataupun saudara-saudari kita, tapi satu hal yang perlu kita tahu adalah mereka pun sama dengan kita, sama-sama manusia yang tidak luput dari kesalahan. Aku percaya bahwa ketika Tuhan mengizinkan masalah-masalah terjadi dalam keluarga kita, itu bisa dipakai-Nya untuk mendewasakan dan memurnikan karakter kita. Tuhan ingin kita menjadi anak-Nya yang setia.

Aku jadi ingat sebuah kutipan berbahasa Inggris yang isinya demikian:

Fri(end)
Girlfri(end)
Boyfri(end)
Bestfri(end)

Everything has an end, except family,

Fam(ily) has 3 letters that says I Love You.

Teman, pacar, sahabat, suatu saat bisa saja tidak lagi menjadi teman, pacar, atau sahabat buatku. Tapi, tidak dengan keluarga. Tidak pernah ada istilah bahwa “dia dulu ayah/ibuku”, atau “mereka mantan orang tuaku”.

Keluarga adalah rumahku
Keluarga adalah tempatku berbagi suka dan duka.
Keluarga adalah saksi perjalanan hidupku dari aku bayi hingga aku dewasa.
Keluarga adalah orang pertama yang akan senang ketika aku berhasil, dan orang yang akan mendekapku erat ketika aku gagal.
Keluarga adalah orang yang tetap bersamaku ketika seluruh dunia membenciku.
Keluarga adalah orang yang berdiri paling depan ketika ada orang yang menyakitiku, dan keluarga adalah segalanya.

Menutup tulisan ini, aku berdoa untukmu supaya kamu pun dimampukan Tuhan untuk mengasihi keluargamu. Kiranya kehadiranmu menjadi berkat untuk keluargamu.

“Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Baca Juga:

Sebuah Pulang yang Mengubahkanku

Pulang bukanlah pilihan yang mudah buatku karena keluargaku yang broken-home. Namun melalui sebuah peristiwa yang aku sendiri tidak menduganya, Tuhan menolongku untuk memaknai keluargaku dari cara pandang yang baru.

Sebuah Pulang yang Mengubahkanku

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Sudah enam tahun terakhir aku tinggal jauh dari rumah karena merantau. Seringkali aku merasa homesick. Tapi, karena latar belakang keluargaku yang broken, pulang bukanlah pilihan yang mudah setiap kali aku merasa homesick.

Sejak aku memutuskan studi dan bekerja di luar kota, hubungan antara ayah dan ibuku berguncang. Ayah yang belum mengenal Tuhan menduakan ibuku. Dia menikahi perempuan lain. Ketika ibuku memberitahuku hal ini, dia menangis, sebab dia bukan hanya kehilangan Ayah, melainkan juga harta benda hasil jerih lelah yang dia upayakan bersama ayahku sejak awal menikah dulu.

Aku tidak tahu harus merespons apa terhadap permasalahan ini. Yang kutahu adalah aku kecewa pada ayahku. Aku harus kuliah sebaik mungkin supaya bisa segera bekerja dan tidak lagi bergantung secara finansial kepadanya. Singkat cerita, Tuhan mengabulkan keinginanku. Aku lulus tepat empat tahun dan diterima bekerja sebelum aku diwisuda.

Setelah bekerja, jarak antara kota tempat perantauanku dengan rumah sebenarnya tidak begitu jauh. Tapi, aku tidak bersemangat untuk pulang. Aku malas jika harus bertemu muka dengan ayahku. Kalaupun aku pulang, motivasi utamaku hanyalah untuk bertemu dengan teman-teman sekolahku dulu.

Sebuah pulang yang tidak terduga

Menjelang libur Imlek yang jatuh di hari Jumat bulan Februari lalu, kantorku memberi kebijakan kepada stafnya untuk pulang kerja lebih cepat di hari Kamis, supaya beberapa staf yang merayakan Imlek bisa bersiap-siap.

“Wah, lumayan, long-weekend nih,” aku bergumam. Aku sudah beride kalau di libur panjang akhir pekan itu aku tidak akan pulang ke rumah. Aku mau beristirahat saja di kos.

Tapi, entah mengapa, aku merasa hatiku tidak tenang. Hati kecilku seolah berbisik, “Ayo, pulang, sebentar saja. Mumpung masih ada kesempatan pulang, pulanglah.”

Jujur, aku enggan untuk pulang. Kutengok tiket kereta api, semuanya ludes. Kulihat tiket travel juga hasilnya sama.

“Masih ada bus kok, ayo pulanglah naik itu,” hati kecilku berbisik lagi.

Aku masih enggan, tapi setelah kupikir-pikir lagi, tidak ada salahnya dengan pulang. Kalaupun nanti aku tidak mau bertemu dengan ayahku, aku bisa pergi ke rumah temanku. Yang penting aku pulang dulu untuk bertegur sapa dengan ibuku, pikirku.

Di hari Kamis, selepas tengah hari, aku pun bergegas ke terminal bus. Setelah sembilan jam perjalanan, aku pun tiba di rumah.

Obrolan yang mengubahkanku

Karena hari itu adalah Imlek, ayahku pun pulang ke rumah. Menjelang tengah malam, saat aku sudah berbaring di kasur, aku mendengar langkah kaki ayahku. Dia berjalan menuju dapur dan bersiap memasak. Selama 25 tahun ini, keluargaku bertahan hidup dengan berjualan makanan yang kami olah sendiri. Ayahkulah yang bertindak sebagai koki utamanya.

Malam itu dia hendak menyiapkan bahan masakan untuk esok. Kutengok dari jendela, lalu aku berjalan menghampirinya. Aku tak tahu apa yang menggerakkanku untuk mendekatinya, karena biasanya aku selalu menghindar untuk mengobrol dengan ayahku.

“Loh, belum tidur kamu?” tanya Ayahku.

“Belum. Aku belum ngantuk.”

Gimana kerjaanmu sekarang?”

Aku terdiam. Pertanyaan ini aneh buatku. Selama enam tahun sejak aku merantau, Ayah tak pernah sekalipun datang menengokku atau sekadar bertanya bagaimana kabarku lewat telepon. Mengapa hari ini dia bertanya begitu padaku, aku jadi bertanya-tanya.

“Ya gitu aja. Senang sih. Tapi sedih karena kalau pulang kerja sepi, gak ada teman.”

“Tahun ini tahun kamu, shiomu kan anjing. Perhitungannya lagi bagus. Kalau kamu mau bikin bisnis sendiri, kamu bisa hoki. Kalau kamu kerja ikut orang, kamu bisa dapet tanggung jawab gede.”

Aku mengangguk meski aku tidak percaya pada hitung-hitungan shio semacam itu.

Bermula dari sekadar basa-basi, tanpa terasa, obrolan itu berlanjut. Aku dan Ayah berbicara tentang banyak hal. Selama enam tahun tak menjalin komunikasi dengannya, Ayah bertutur tentang perjalanan hidupnya, tentang usaha makanannya yang kini merosot, dan bagaimana dia kini terlilit utang karena dia belum bisa terlepas dari dosa judinya.

Setelah dia selesai bertutur, gilirankulah yang bercerita tentang bagaimana perjalanan hidupku di perantauan selama enam tahun. Malam itu, kami berdua untuk pertama kalinya saling berbagi kisah hidup. Saat jam sudah menyentuh angka dua dini hari, aku pamit kepada ayahku untuk tidur duluan.

Di atas kasur, aku tidak langsung tidur. Aku melipat tanganku. Aku tidak percaya bahwa aku bisa duduk berdua dan mengobrol dengan ayahku. Bahkan, dia dululah yang memulai pembicaraan denganku. Melalui obrolan malam itu, aku merasa Tuhan sepertinya menegurku.

Jujur, sejak aku mendengar kabar tentang ayahku yang menikah lagi, aku tidak lagi mendoakan keluargaku pada Tuhan. Kupikir sudah jalan takdirnya keluargaku broken, dan biarlah itu broken sampai akhirnya. Tapi, hari itu ada lilin harapan kembali yang menyala dalamku. Ayahku belum mengenal Tuhan Yesus, dan mungkin inilah yang membuatnya gegabah dalam mengambil langkah kehidupan.

Aku mungkin kecewa dan memutuskan tidak ingin menjalin relasi lagi dengan Ayah. Tapi, aku sadar bahwa bagaimanapun juga, dia adalah ayahku. Terlepas dari status pernikahannya sekarang, yang kutahu tidak pernah ada istilah mantan ayah ataupun mantan anak. Ikatan keluarga itu bersifat permanen. Dan, jika bukan aku yang mulai membuka hati untuk mendekati Ayah, dengan apakah Ayah akan mengenal Tuhan dan diselamatkan? Aku mengimani firman Tuhan yang berkata: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Para Rasul 16:31).

Sekarang aku selalu mendoakan ayahku dan beriman bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Ayah dan ibuku. Aku percaya bahwa meski keluargaku broken, Tuhan bisa menggunakannya untuk kebaikan, seperti ada tertulis bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dan, imanku perlu diwujudkan dalam perbuatan-perbuatanku sebagaimana firman-Nya berkata: “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). .

Jika dulu aku pernah mengeluh bahwa Ayah bukanlah ayah yang baik karena tidak pernah mau menjalin komunikasi denganku, kini aku belajar untuk inisiatif duluan berkomunikasi dengannya. Aku mengiriminya SMS, menanyakan kabarnya. Walau dia kadang lama membalasnya dan tidak mengangkat teleponku, kucoba terus lakukan itu. Hingga akhirnya dia pun mau meluangkan sedikit waktunya untuk menjalin komunikasi denganku. Dan, jika dulu aku selalu enggan untuk pulang, kini aku belajar meluangkan waktuku untuk pulang barang sekali dalam beberapa bulan.

Kalau aku mengingat kembali masa di mana aku enggan pulang dulu, aku tak menyangka bahwa kepulanganku di hari Imlek itu dipakai Tuhan untuk mengubahkanku terlebih dulu. Lewat obrolan hangat dengan Ayah, aku jadi mengerti bahwa sesungguhnya peluang komunikasi itu masih terbuka dan harus dirajut. Aku percaya bahwa sebelum keluargaku diubahkan, Tuhan mau akulah yang berubah terlebih dulu. Dia ingin aku tidak lagi memandang ayahku sebagai sesosok yang membuatku kecewa, tapi sebagai seorang di mana aku harus menyatakan kasih Kristus kepadanya.

Kawan, aku tahu kisahku ini belum selesai. Tapi aku percaya bahwa Tuhan masih terus berkarya dalam keluargaku.

Apabila ada di antara kamu yang mengalami keretakan keluarga dan pergi menjauh, aku berdoa kiranya Tuhan memberimu kedamaian hati supaya kamu pun dimampukan untuk pulang barang sejenak dan menjangkau keluargamu dengan kasih.

Baca Juga:

Pelajaran Berharga dari Penyelamatan 13 Pemain Bola di Thailand

Penyelamatan 13 orang yang terperangkap di dalam gua di Thailand adalah misi yang dramatis dan berbahaya. Ketika misi ini berakhir sukses, ada satu hal yang membuatku terperangah dan mengingatkanku akan sebuah pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan untuk umat manusia.

Papa Mama, Terima Kasih untuk Teladan Kalian

Oleh Jonathan Marshell Kevin, Jakarta

“Mam, aku lulus mam!”

Aku menelepon Mama setelah aku dinyatakan lulus sidang akhir. Saat itu Mama sedang berdoa. Setelah dia mengangkat teleponku, aku mendengar suara Mama dengan nada terharu. Dia menangis.

Saat aku sampai di rumah, Mama terlihat bahagia. Pandangannya seakan berkata: “Kita sudah melewati satu tahap perjuangan iman bersama, Nak.” Mama memelukku dan kami pun berdoa.

Kemudian Mama bercerita tentang apa yang dia rasakan saat kali pertama mengantarkanku ke universitas yang menjadi tempat studiku. Saat Mama menungguku di student-lounge, dia sempat berpikir: “Gimana bayarnya kalau kuliah di sini?” Kampus yang kupilih saat itu adalah kampus swasta yang terkenal mahal.

Sejak kelas 2 SMA dulu, aku tertarik untuk kuliah di bidang teknik dan sempat juga ingin masuk kedokteran. Saat penjurusan, aku pun memilih IPA. Tapi, karena aku takut melihat jenazah, aku mengurungkan niatku masuk kuliah kedokteran. Pilihan hatiku jatuh pada Mechatronics Engineering, fakultas yang saat itu hanya ada di kampus swasta yang kupilih sekarang. Fakultas ini sangat menarik untukku karena di sana aku akan belajar tentang automation system, robotic, dan lain-lain. Teknologi-teknologi itulah yang banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan sekarang. Saat itu aku tidak memikirkan masalah biaya.

Hasil seleksi masuk pertama di universitas swasta itu keluar, dan ternyata aku gagal. Aku sedih dan kecewa. Sampai suatu ketika, seorang temanku yang kuliah di Korea memberitahuku kalau di sana juga ada Mechatronics Engineering. Aku berdiskusi dengan Mama mengenai kesempatan ini. Meski ragu karena jarak yang jauh, Mama setuju. Aku coba mendaftarkan diri.

Setelah melalui tes tertulis dan wawancara, aku diterima. Tentu aku senang karena bisa diterima dan ditambah lagi dapat beasiswa 40%. Beasiswa itu akan ditingkatkan hingga 100% jika aku berprestasi di sana. Tapi, kesenangan itu tidak lama karena tuition fee yang harus dibayarkan sebelum berangkat melampaui kemampuan keluargaku. Jujur aku kecewa. Namun, aku tahu bahwa Papa dan Mama sudah mencoba memberikan yang terbaik buatku. Mereka menguatkanku bahwa aku harus terus berjuang. “Kalau memang itu sejalan dengan rencana Tuhan, pasti Tuhan buka jalan,” kata mereka.

Akhirnya, aku pun mencoba kembali mendaftar ke kampus swasta yang awalnya aku gagal. Di tes kedua ini aku diterima. Tapi, keraguan yang Mama pikirkan waktu mengantarku ujian itu benar terjadi. Keluargaku cukup sulit untuk membayar uang semesteran. Aku mendapat surat peringatan beberapa kali, didenda, dan diancam tidak ikut ujian akhir.

Salah satu kejadian yang tak terlupakan adalah saat aku duduk di semester 3. Aku bilang ke Mama, “Mam, aku pindah aja ya? Kuliah di sini terlalu mahal.”

Kami pun menangis waktu itu. Tapi, Mama akhirnya menanggapiku dengan bijak. Dia memberikan argumen dan pertimbangan tentang pilihan yang ada, apakah itu aku tetap bertahan atau pindah ke universitas lain yang lebih terjangkau biayanya. Setelah mempertimbangkannya dalam suasana yang lebih tenang, aku memutuskan tetap lanjut kuliah di sini. Yang bisa kami lakukan hanyalah berdoa seraya tetap berusaha.

Untuk mencukupi kebutuhan kuliahku, orang tuaku berjuang ekstra. Papa menjajal usaha-usaha lain seperti berjualan bahan kimia untuk semen, mesin fotokopi dan lainnya. Aku pun belajar untuk menjalani kuliahku dengan sungguh-sungguh. Aku bukanlah anak yang pintar. Aku membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai sebuah mata kuliah. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan mengaruniakanku kerajinan sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan beasiswa hingga semester 7 karena indeks prestasiku masuk dalam kategori 3 terbesar di kelas.

Sekarang, puji Tuhan karena studiku telah selesai. Aku lulus dari sidang akhir dan mendapatkan nilai A. Semuanya karena anugerah Tuhan.

Kalau aku melihat kembali kisahku ke belakang, ada satu hal yang ingin aku sharing-kan kepadamu. Hidup itu tidak pernah mudah. Banyak kejadian yang membuatku ragu, apakah aku bisa menyelesaikan kuliahku di sini? Orang bilang kalau hidup itu kadang di atas, kadang di bawah. Tapi, dari apa yang kulewati, aku merasa mengapa aku selalu di bawah? Kapan aku naik ke atas?

Tapi, papa dan mamaku selalu mengingatkanku bahwa jangan pernah lupa kalau Tuhan selalu ada untuk mengawasi kita. Mereka mengajariku untuk sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Ketika studiku mengalami kendala, mereka berdoa untukku. Mereka menguatkanku untuk tidak minder dan larut dalam kesedihan.

Aku bersyukur karena Tuhan menempatkanku dalam keluarga ini. Keluarga yang mungkin tidak seberuntung keluarga yang lain, tapi aku tahu bahwa papa dan mamaku adalah orang yang sangat taat dan selalu mengandalkan Tuhan. Aku belajar banyak dari cara mereka melihat masalah, menyikapi masalah, beriman, dan menyerahkan hidup untuk melayani Tuhan.

Memang Tuhan tidak menjanjikan hidup yang mudah untuk dijalani, tapi Dia menjanjikan penyertaan-Nya yang selalu ada, saat melalui situasi tersulit sekalipun. Tuhan telah membuktikan penyertaan-Nya kepadaku dan keluargaku sampai aku bisa menyelesaikan kuliahku. Aku percaya bahwa Tuhan yang sama juga akan menyertai hidupmu.

Baca Juga:

Jawaban Mengejutkan dari Temanku Ketika Aku Curhat tentang Kekecewaanku pada Tuhan

Jauh dari Tuhan membuat hidupku semakin hancur dan membuatku semakin mudah marah dan stres. Sampai suatu kali, aku curhat via LINE dengan seorang temanku. Aku berkata padanya bahwa aku kecewa pada Tuhan. Namun, satu jawaban dari temanku itu mengubah pemikiranku.

Pelajaran Berharga di Balik Perceraian Kedua Orang Tuaku

Oleh Andrew Koay
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Glory Of My Parents’ Divorce

Ada dua memori dari masa kecilku yang menentukan apa makna sebuah keluarga buatku. Memori pertama adalah aku sebagai balita tengah berlari ke bangsal rumah sakit bersama dengan ayahku. Ibuku baru saja melahirkan adik lelakiku, dan aku berteriak penuh semangat, “Di mana adikku?” Lalu aku melihatnya terbuai dalam pelukan ibuku.

Memori kedua adalah aku sebagai anak berusia 9 tahun sedang berjalan ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur kedua orang tuaku. Sebelum berangkat sekolah aku memang terbiasa mandi di sana. Tapi, saat itu aku mendengar ibuku mengatakan pada ayahku kalau dia ingin pindah dan bercerai.

Kedua memori itu saling berlawanan dalam hidupku. Memori pertama menggambarkan suatu waktu di mana keluargaku sedang bersama, ketika kedua orang tuaku berbahagia, ketika adikku sedang lucu-lucunya dan belum menyebalkan. Tapi, paling utama, semua itu menggambarkan suatu waktu ketika segalanya tampak sempurna. Memori kedua menggambarkan suatu waktu ketika kehidupanku seolah dibalik, ketika waktu-waktu kebersamaan kami ditandai dengan teriakan, dan ketika aku merasa semakin terisolasi dari keluargaku.

Perceraian di hari-hari ini seringkali dianggap biasa; kita sering melihat bagaimana para selebriti bergonta-ganti pasangan seperti layaknya tren pakaian. Statistik menunjukkan bahwa satu dari tiga pernikahan di Australia berakhir dengan perceraian. Kita sepertinya semakin terbiasa melihat pernikahan yang gagal.

Namun, pada kenyataannya, bagi keluarga yang terlibat di dalamnya, perceraian adalah proses yang panjang dan penuh penderitaan.

Sebagai seorang anak, salah satu hal terberat yang harus kuhadapi dengan perceraian kedua orang tuaku adalah bagaimana aku harus bersikap dalam keluarga. Aku jadi orang yang suka melihat ke bawah dan berjalan lunglai di momen-momen canggung saat kedua orang tuaku berada di tempat yang sama. Aku belajar untuk menghilangkan komentar-komentar negatif yang mereka buat tentang satu sama lain. Dan ketika masing-masing mereka menikah kembali, aku belajar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan tentang ibu tiri atau ayah tiri baruku. Singkatnya, aku benci hal ini.

Selama periode waktu yang panjang dalam hidupku, aku benci berada dekat dengan keluargaku, karena itu selalu mengingatkanku akan segala sesuatu yang tidak berjalan semestinya. Aku akhirnya meninggalkan rumah dan tinggal bersama kakek dan nenekku, sementara adikku tinggal bersama ibuku. Kami jarang saling bertemu kecuali di masa-masa liburan. Dan, kalaupun bertemu, yang paling teringat dalam memoriku hanyalah perkelahian dan adu pendapat. Di luar rumah, perilakuku memburuk ketika aku mulai bolos sekolah dan membuat frustrasi orang-orang di sekelilingku.

Perceraian kedua orang tuaku adalah salah satu hal tersulit yang harus kulalui. Perceraian itu jadi masa-masa yang menentukan dalam hidupku dan juga memberiku banyak kenangan pahit. Lima belas tahun setelahnya, peristiwa itu masih dapat kurasakan, seakan itu semua baru saja terjadi.

Namun, belakangan ini sebuah studi Alkitab tentang Kitab Roma yang aku lakukan di kampusku membuka pikiranku kepada fakta yang mengejutkan. Ada suatu kebenaran: bahwa tidak ada apa pun dalam kehidupan ini yang berjalan sebagaimana mestinya. Rasul Paulus dalam Roma 1:18 menjelaskan bahwa kita hidup dalam dunia di mana setiap kita bersalah karena kita menindas kebenaran dengan kelaliman. Hasilnya adalah dunia yang rusak, putus asa, dan berdosa. Terlepas dari gambaran ideal kita akan keluarga, sesungguhnya keluarga kita pun adalah bagian dari dunia ini. Setiap keluarga, entah itu bercerai atau tidak, dibentuk dari orang-orang yang rusak dan berdosa. Kerusakan inilah yang berlanjut ke segala hal lainnya yang kita alami di dunia. Kehidupan di luar kekekalan itu penuh dengan kekecewaan dan kepedihan.

Jadi, bagaimana selanjutnya? Untuk satu hal, cara pandangku tentang suatu relasi telah berubah. Aku memandang relasi dengan lebih realistis tapi juga lebih memaafkan kegagalan orang lain. Ini juga mendorongku untuk lebih berfokus kepada Injil dalam setiap interaksiku dengan orang lain karena aku tahu bahwa satu-satunya solusi dari kehidupan kita yang berdosa hanya ditemukan dalam Yesus. Semua hal ini menolongku untuk menumbuhkan kasihku kepada keluargaku. Terlepas dari segala kekurangan keluargaku, sekarang aku bisa menghargai waktu-waktu bersama yang kami miliki. Keluargaku masihlah jauh dari sempurna, tapi interaksi-interaksi yang dulu membuatku tertekan sekarang jadi satu dorongan buatku berdoa untuk keselamatan keluargaku.

Pada akhirnya, kebenaran ini membuatku merindukan akan bumi yang baru, janji yang Allah telah beri di mana tidak ada rasa sakit atau pun kesedihan di sana. Janji inilah yang mengingatkan kita akan pengajaran Paulus dalam Roma 5:3-5 untuk bermegah dalam penderitaan kita, karena itulah yang menuntun kita kepada harapan; kepedihan hidup ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada dunia ini, melainkan untuk membuat kita bersiap akan hari di mana Tuhan akan membawa kita kepada bumi yang baru.

Kita dapat yakin bahwa Allah akan melakukan ini, seperti yang dikatakan dalam Roma 5:6-10, karena Kristus. Kematian-Nya bagi kita di kayu salib telah membenarkan kita dan memberi kita kepastian akan keselamatan.

Jadi, jika dulu aku selalu menghindari kenyataan bahwa sesungguhnya segala sesuatu tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, hari ini aku belajar untuk menerima kenyataan itu. Sesulit apapun, pengalaman karena perceraian kedua orang tuaku adalah satu hal di mana aku bermegah sembari aku menanti bumi yang baru. Inilah yang memberiku kesempatan untuk berbicara tentang Injil dan janji kehidupan kekal. Sekarang, aku berusaha hidup untuk menyiapkan kehidupan selanjutnya dan mengingatkan yang lain untuk melakukan yang sama, karena kehidupan di kekekalan itulah yang penting. Aku belajar lebih menghargai salib Kristus, sebab itulah yang memberiku kepastian bahwa kelak aku akan berada di bumi yang baru. Lima belas tahun telah berlalu, firman-Nya dari Wahyu 21:1-4 terus tumbuh dalam hatiku:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.

Baca Juga:

Saat Aku Tak Merasa Puas dengan Kehidupanku

Sejujurnya aku malu untuk mengakui kalau aku masih bergumul dengan ketidakpuasan. Terlepas dari segala hal baik yang mengisi hidupku, ada masa-masa ketika semuanya itu terasa tidak cukup dan pikiran-pikiran penuh kekhawatiran memenuhi benakku.

Sharing: Apa yang Paling Kamu Syukuri dari Keluargamu?


Sobat muda, apa yang paling kamu syukuri dari keluargamu?
Bagikan cerita kamu di kolom komentar. Kiranya sharing kamu dapat memberkati sobat muda lainnya.

Ketika Orangtuaku Melarangku untuk Ikut Kelompok Pendalaman Alkitab

Oleh Ricky Eben Ezer, Depok

Aku bersyukur karena Tuhan menyayangiku dan menyelamatkanku dari dosa. Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, pemimpin kelompok Pendalaman Alkitab (PA) di kampusku menantangku untuk berkomitmen mengikuti PA. Dengan yakin dan bersemangat, aku menerima tantangan itu.

Kebanyakan teman-teman PA-ku tinggal di kos di sekitar kampus, sedangkan aku setiap hari harus pulang-pergi dari rumah ke kampus yang jaraknya cukup jauh. Supaya tidak mengganggu waktu kuliah, kami sepakat melakukan PA di malam hari dan selesai agak larut. Setelah beberapa kali mengikuti PA, orangtuaku memintaku untuk berhenti mengikuti kelompok ini. Mereka khawatir akan keselamatan diriku kalau aku pulang malam-malam.

Aku sedih dan kecewa. Aku tahu kalau PA yang kuikuti ini adalah aktivitas yang baik, tapi mengapa oangtuaku melarangku. Malam itu aku tidak bisa tidur. Hatiku gusar karena tidak tahu apa yang harus kulakukan supaya tetap bisa belajar Alkitab dan menumbuhkan imanku. Namun, kemudian aku teringat pesan yang kudapat dari PA, bahwa alih-alih menggerutu, berpikiran negatif tentang orangtuaku, dan khawatir karena tidak bisa ikut PA lagi, aku bisa berdoa. Dalam doaku, aku menyatakan kegusaranku kepada Tuhan.

Meski aku tidak mengikuti PA, namun Tuhan tetap menganugerahiku dengan pertumbuhan iman. Lewat doa-doa yang kunaikkan setiap hari, aku semakin rindu untuk berelasi intim dengan-Nya. Tak ada yang kusembunyikan dalam doaku. Kuceritakan segalanya kepada Tuhan, entah itu hal yang menyenangkan, menyedihkan, ataupun memalukan. Dan, dalam relasiku dengan Tuhan itulah aku diingatkan kembali bahwa hendaknya pertumbuhan imanku dapat dinikmati juga oleh orang-orang di sekitarku.

Sebelum aku mengenal Kristus, aku suka berbohong kepada orangtuaku karena buatku mereka itu terlalu protektif. Kupikir tidak ada anak lelaki yang suka kalau hidupnya terlalu banyak diatur. Kebohongan demi kebohongan yang kulakukan itu semata-mata supaya aku bisa lebih bebas. Aku tidak ingin hidup dengan terlalu banyak aturan.

Belakangan, aku sadar bahwa kegemaranku berbohong itu bukanlah solusi atas ketidaksukaanku atas protektifnya orangtuaku. Masakan aku berdoa tetapi terus menerus berbohong? Tidak mungkin imanku dapat bertumbuh baik apabila aku terus memelihara dosa. Hari itu aku berkomitmen untuk hidup jujur.

Mungkin aku bisa membohongi orangtuaku supaya aku bisa ikut PA. Tapi, aku tahu betul bahwa bohong itu dosa, dan dosa tidak berkenan di hati Tuhan. Setelah beberapa waktu berselang, aku kembali meminta izin kepada mereka untuk kembali mengikuti PA. Mereka menolak dengan alasan yang sama. Seminggu kemudian, aku memberanikan diriku untuk meminta izin kembali. Dengan lembut, aku menjelaskan pada mereka bahwa mengikuti kelompok PA bukanlah sesuatu yang buruk, tapi mereka masih bersikukuh. Katanya, mereka khawatir kalau PA yang dilakukan malam hari itu akan mengganggu jadwal kuliahku dan mengganggu kesehatan tubuhku.

Aku mencoba menjelaskan sehalus mungkin pada mereka bahwa aku membutuhkan dukungan dari rekan-rekan PA sebagai komunitas orang percaya. Hingga akhirnya, saat aku mengajak mereka untuk berefleksi mengenai perubahan apa yang terjadi kepadaku setelah aku menerima Kristus, mereka menyadari bahwa sifatku telah banyak berubah, dari yang buruk menjadi lebih baik. Aku mengakui pada mereka kalau dulu aku suka membohongi mereka, tapi sekarang tidak lagi. Tuhan melembutkan hati kedua orangtuaku. Hari itu mereka mengizinkanku untuk kembali mengikuti PA. Aku bersyukur kepada Tuhan karena bisa kembali bertumbuh bersama dengan kelompok PA-ku. Sekarang, aku dan orangtuaku memiliki waktu bersaat teduh dan doa pribadi, juga bersama-sama memuji Tuhan dalam ibadah keluarga.

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kolose 4:2).

Baca Juga:

Saat Pikiranku Terjerat Fantasi Seksual

Pikiranku begitu mudah tertuju kepada hal-hal yang berbau seksual. Saat aku sedang sendirian, atau ketika ada temanku datang dan mereka menyinggung sedikit saja tentang seks, imajinasiku langsung berkembang. Aku memohon pada Tuhan dan berjuang untuk keluar dari jeratan dosa ini.

Saat Tuhan Mengajarku untuk Mengasihi Keluarga yang Berbeda Iman Dariku

Oleh Stephanie*, Sidoarjo

Kasih. Sepertinya kata ini bukanlah kata yang asing di telinga kita sebagai orang Kristen. Di Alkitab, dalam khotbah-khotbah, persekutuan, dan juga di dalam buku-buku seringkali kata kasih dan perintah untuk mengasihi ini disebutkan. Tapi, mempraktikkan kasih tentu tidak semudah membacanya. Inilah yang kualami ketika Tuhan mengajarku untuk mengasihi keluarga besar dari ayahku yang berbeda iman dari kami.

Melalui tulisan ini, izinkanlah aku untuk menceritakan sedikit tentang perjalanan dan teladan hidup ayahku.

Ayahku dilahirkan bukan di keluarga Kristen di mana seluruh keluarganya tidak mengenal Tuhan Yesus. Namun, tanpa sepengetahuan keluarga, waktu itu kakak pertama ayahku diam-diam menerima Tuhan Yesus dan setelah beberapa lama barulah kakaknya itu berani berkata jujur kepada keluarganya tentang identitas barunya. Reaksi yang didapatkannya waktu itu adalah penolakan.

Suatu ketika, ayahku secara tidak sengaja menyukai seorang perempuan Kristen yang ternyata adalah teman satu gereja dari kakak ayahku. Kepada kakaknya, ayahku minta supaya dia dikenalkan dengan perempuan itu. Akhirnya, untuk pertama kalinya ayahku pergi ke gereja bersama kakaknya untuk melihat perempuan yang dia sukai. Sejak saat itu, ayahku jadi rajin ke gereja secara diam-diam walaupun dengan motivasi yang sebenarnya tidak rohani.

Dalam sebuah ibadah, gembala sidang di gereja itu menawarkan baptisan bagi siapapun yang rindu untuk mengenal Tuhan lebih lagi. Entah mengapa, ayahku yang waktu itu ke gereja hanya karena motivasi untuk mendekati seorang perempuan pun menerima tawaran itu. Singkat cerita, ayahku pun dibaptis dan dia bertutur bahwa setelah dibaptis, dia merasakan ada kedamaian yang luar biasa. Kedamaian itu didapat bukan semata-mata karena dia telah menerima baptisan, tetapi karena Tuhan Yesus sekarang hadir dalam kehidupannya.

Keputusan ayahku untuk menjadi seorang pengikut Yesus pun menimbulkan penolakan dari keluarga besarnya. Ayahku pun meninggalkan rumahnya dan pergi menuju kota lain. Di sana dia belajar dan dibimbing oleh seorang hamba Tuhan yang kemudian menjadi ayah rohaninya. Seiring waktu berlalu, iman ayahku semakin mantap dan enam bulan setelahnya ayahku memutuskan menyerahkan hidupnya menjadi seorang hamba Tuhan dan masuk ke sekolah Theologia.

Meski keputusan ayahku untuk menjadi pengikut Yesus membuatnya tertolak dari keluarganya, tapi ada satu hal yang membuat keluarganya menjadi bertanya-tanya. Ayahku tidak pernah patah semangat untuk terus mengasihi keluarganya. Waktu itu, walaupun keluarganya tetap menolak kehadirannya, ayahku tetap menyempatkan diri untuk bisa hadir di tengah keluarganya.

Lambat laun, penolakan tersebut melunak tatkala keluarganya melihat ada perubahan hidup yang dialami oleh ayahku. Ayahku yang dulunya adalah perokok berat ternyata bisa berhenti merokok. Ketika berkata-kata pun, kata-kata yang dilontarkan oleh ayahku adalah kata-kata yang penuh kasih. Ketika ayahku diejek oleh orang-orang yang menolaknya, ayahku tidak pernah membalasnya.

Melihat teladan inilah beberapa anggota keluarga ayahku pun menjadi penasaran dan mulai mengajak ayahku berdiskusi. Puji Tuhan, karena kemurahan-Nya, Ibu dan kedua kakak ayahku lainnya memberi diri mereka untuk mengikut Tuhan Yesus.

Sekarang, dari lima orang bersaudara, hanya dua orang yang belum menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus. Ayahku masih terus mendoakan kedua kakakknya dan tak lupa mengajak kami, istri dan anaknya untuk juga berdoa bagi mereka.

Aku mengucap syukur karena walaupun mengasihi orang yang tidak sepaham denganku itu adalah praktik yang sulit, tapi ayahku telah memberikan teladan yang nyata buatku. Mengasihi itu bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah tindakan. Dan, ayahku mampu mengasihi karena dia sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Tuhan Yesus dan Dia sendirilah yang memampukan ayahku untuk meneruskan kasih itu kepada keluarganya.

Walaupun di keluarga besar ayahku saat ini masih ada yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, namun aku bersyukur karena kasih yang dipupuk oleh ayahku itu boleh merekatkan keluarga besarnya. Saat hari Natal tiba, biasanya keluarga besar ayahku akan berkunjung ke rumahku dan kami pun bersukacita bersama.

Aku teringat akan sebuah ayat Alkitab yang ditulis dalam Efesus 2:8-9 yang berbunyi demikian:

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Bila sampai hari ini kita bisa percaya dan mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan, itu bukanlah karena keinginan kita pribadi, melainkan karena iman yang diberikan oleh Allah di dalam hati kita. Keselamatan yang kita dapatkan saat ini adalah karya Allah sendiri untuk kita, bukan karena usaha kita semata.

Sampai saat ini, ayahku tidak pernah kenal lelah untuk terus mendoakan, mengasihi, dan menciptakan peluang untuk menceritakan tentang Yesus kepada anggota keluarganya yang lain yang belum mengenal Tuhan Yesus.

Melalui kesaksian hidup ayahku, Tuhan Yesus mengajarku untuk mengasihi semua orang tanpa memandang bulu. Dan, salah satu langkah sederhana yang bisa kulakukan untuk mulai mengasihi mereka adalah dengan berdoa untuk mereka. Aku bisa mendoakan supaya hal-hal baik boleh terjadi atas mereka, dan tentunya supaya hati mereka juga dilembutkan untuk bisa mengenal dan merasakan kasih Tuhan.

*bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Kapan Terakhir Kali Kamu Menikmati Waktu Luangmu?

Aku dan suamiku sangat sibuk. Tapi, suatu ketika, kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan menikmati coffee-break. Sedikit waktu yang kami luangkan ini pada kenyataannya mampu menghangatkan relasi kami yang sempat renggang karena kesibukan masing-masing.