Posts

Andrew Hui: Usiaku 32 Tahun dan Aku Menanti Ajalku

Ditulis oleh Janice, Singapura
Foto oleh Andrew Hui
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Andrew Hui: I’m 32 And I’m Dying

Di usia 32 tahun, Andrew hanya memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk hidup.

Pengobatan dengan cara radiasi telah dihentikan sebulan yang lalu setelah dianggap tak lagi efektif untuk mengendalikan penyebaran sel kanker dalam tubuhnya. Sejak saat itu, sel-sel kanker berkembang cepat dan menyerang ke hampir semua organ tubuh yang penting, juga menekan pembuluh darahnya.

Meskipun ia hanya punya waktu satu bulan atau lebih untuk tetap tersadar dan berpikir jernih, Andrew dengan antusias meluangkan waktunya untuk wawancara. Setelahnya, ia akan dipulangkan ke rumah agar merasa lebih nyaman sebelum kematiannya yang mendekat.

“Aku mau mendorong orang-orang untuk percaya kepada Tuhan di momen-momen tergelap hidup mereka,” katanya.

Penemuan yang Mengejutkan

Andrew tidak selalu melihat keadaannya dengan cara yang positif. Butuh perjuangan berbulan-bulan sampai akhirnya ia tiba di tahap ini: merasa damai dan menerima keadaan dirinya. Ini terjadi di bulan Juni lalu.

Para dokter menemukan kanker dalam tubuhnya ketika Andrew dilarikan ke UGD di suatu malam karena demam tinggi. Hasil rontgen menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan tumor di bagian atas dadanya. Tes biopsi setelahnya menunjukkan tumor itu sebagai tumor getah bening stadium-1.

Para dokter yakin bahwa ini bukanlah penyakit yang sulit disembuhkan, bahkan mengatakan kalau 90 persen orang-orang yang mengalami tumor pada tahap ini berhasil sembuh.

Jadi Andrew pun meletakkan harapannya pada perkataan dokter tersebut dan ilmu pengetahuan medis, menganggap bahwa perawatan-perawatan yang nanti dilakukannya akan seperti “liburan” beberapa bulan, lalu setelahnya pulih kembali.

Tapi, Andrew bukanlah termasuk 90 persen orang itu. Ia ada di 10 persennya.

Terapi R-EPOCH, sejenis kemoterapi yang dijalaninya ternyata tidak menolong.

Dokter lalu menggunakan jenis kemoterapi lain yang lebih kuat (RICE Therapy namanya). Kali ini, mereka mengatakan, ada kemungkinan 70-80 persen sembuh.

Andrew pun menjalani terapi ini sebanyak empat kali, tapi, lagi-lagi dia tidak termasuk dalam presentase orang yang berhasil sembuh.

Andrew harus menjalani terapi lain, immunotherapy, yang katanya cocok untuk 99 persen pasien.

Tapi, lagi-lagi Andrew tak termasuk dalam 99 persen itu. Tubuhnya tidak cocok menerima terapi ini karena efek samping yang muncul kemudian.

“Ini adalah pesan sederhana yang bisa kamu dapatkan dari Tuhan, tidakkah kamu berpikir begitu?” kata Andrew tanpa basa-basi, dengan diwarnai tawa.

“Aku telah meletakkan imanku pada ilmu pengetahuan medis dan ketika itu gagal, Tuhan menunjukkanku bahwa aku perlu mengubah cara pandangku dan berbalik kepada-Nya seutuhnya,” tambahnya.

Waktu-waktu penuh pertanyaan

Meskipun telah menjadi orang percaya sejak muda dan aktif melayani di gereja sebagai pemusik dan ketua, Andrew bergumul dengan Tuhan karena penyakitnya.

Kenapa aku?

Andrew bukanlah orang yang tidak menjaga gaya hidupnya.

Sebagai seorang bankir muda, dia tidak mabuk ataupun merokok. Malah, dia lebih memilih makan salad untuk makan siang lima hari dalam seminggu dan rutin berolahraga di gym sepulang kerja.

Kenapa sekarang?

Pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan menumpuk dengan tebal dan cepat. “Aku baru memenuhi 10 persen saja dari mimpi-mimpiku, dan kupikir Tuhan akan memakaiku untuk tujuan yang lebih besar. Aku telah melayani di gereja selama 20 tahun, dan inikah caraku pergi meninggalkan dunia? Beginikah cara Tuhan memberi tahu pada dunia bahwa Ia peduli pada hamba-Nya?”

Dalam amarah dan kekecewaannya pada Tuhan, Andrew juga mengecam orang-orang Kristen lainnya.

“Mereka berkata dan mendeklarasikan kesembuhan atasku. Mereka percaya bahwa oleh bilur-bilur-Nya, Tuhan telah menanggung segala sakit kita (Yesaya 53:5). Tapi, aku tidak bisa menerima fakta bahwa kenyataannya aku tidak disembuhkan, tapi malah semakin parah. Rasanya mereka memberiku harapan palsu. Jadi aku memarahi dan mengusir mereka,” kata Andrew.

“Caraku melihat diriku, jika Tuhan memilih untuk menyembuhkanku, maka tugas-tugasku di dunia belum selesai dan aku akan melanjutkannya. Jika aku tidak sembuh, maka inilah waktuku untuk pulang. Jadi, sembuh atau tidak, kupikir itu solusi yang sama-sama menang.”

Pergumulan berat lain yang harus Andrew hadapi adalah kesakitan fisik yang luar biasa.

Andrew harus berjuang menghadapi mual, lesu, rambut rontok, dan seringkali dia muntah sampai semua isi perutnya mengotori dinding.

Batuk kronis juga membuatnya tidur meringkuk seperti bola di atas kasurnya. Ia merasa hatinya hancur setiap kali ibunya menangis di samping tempat tidurnya.


Liburan terakhir Andrew bersama Ibunya pada Desember 2018


Andrew dan keluarganya di bulan April 2019

Sebuah titik balik

Namun, perasaan damai yang mendalam dan kepasrahan diri menghadapi kematian datang ketika pandangan Andrew tentang Tuhan berubah.

“Aku selalu melihat kedaulatan Allah atas hidupku sebagai sesuatu yang tak bisa dipertanyakan. Tuhan bisa melakukan apapun seturut yang Ia mau dan suka, dan kita tidak punya hak untuk bertanya untuk apa, meminta sesuatu, kecuali Tuhan memberinya. Aku melihat kedaulatan-Nya sebagai kebijaksanaan yang amat tinggi dan luar biasa,” kata Andrew.

“Tapi kemudian aku sadar bahwa cara Tuhan menunjukkan kedaulatan-Nya adalah melalui kasih. Apa yang terjadi padaku mungkin tidaklah baik, tetapi Tuhan itu baik dan kedaulatan-Nya terlihat dari bagaimana Ia menggendongku melewati badai kehidupan ini.”

Salah satu ayat yang menolong Andrew tiba pada pemahaman ini adalah Efesus 3:17-18 yang berkata, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.”

Kepercayaan Andrew pada kasih Tuhan dan kedaulatan-Nya telah menyingkirkan segala takut yang dulu ia hadapi ketika harus menghadapi ajalnya.

“Aku tidak takut mati sekarang. Ketika aku menutup mataku untuk terakhir kalinya, aku yakin aku pergi dan berada bersama-Nya, lebih yakin daripada aku biasanya naik pesawat meskipun aku tahu ke mana tujuan pesawat itu.”

“Inilah keyakinan yang kepada-Nya aku bersandar. Tanpa itu, jika Allah ataupun Yesus tidak ada, aku akan memilih bunuh diri karena segala harapanku hilang dan hidupku tidak ada maknanya.”

Andrew juga amat bersyukur memiliki keluarga jemaat yang berpuasa, berdoa, dan menangis bersamanya selama masa-masa sakitnya. Banyak relawan membelikan makanan atau mengantarkannya dari rumah sakit ke rumah dan sebaliknya.

Sebuah momen yang menyentuh

Meskipun Andrew dilahirkan di keluarga Kristen dan tumbuh besar di gereja, dia baru benar-benar “datang kepada iman” atau memahami betul imannya pada usia 16 tahun.

Dia ikut kelompok paduan suara lelaki di gereja dan lagu berjudul “So You Would Come” menyentuh hatinya:

Nothing you can do
Could make Him love you more
And nothing that you’ve done
Could make Him close the door

Tiada yang bisa kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya lebih mengasihimu
Dan tiada hal yang telah kamu lakukan
Yang bisa membuat-Nya menutup pintu untukmu

Kata-kata itu merobek hati Andrew seiring ia selalu berusaha melakukan hal-hal baik atau melayani di gereja untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya.

Lirik lagu itu memberikan Andrew kebebasan. Andrew sadar bahwa Tuhan mengasihi-Nya dan tidak ada yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan itu. Hanya oleh anugerah saja ia diselamatkan, bukan karena hasil usahanya. Kebenaran ini memberikan Andrew harapan, meskipun banyak dosa-dosanya, Tuhan tidak pernah berhenti mengasihinya.

Tetapi, perjalanan hidup setelahnya tidak selalu berjalan mulus.

Meskipun ia kuliah di jurusan Komunikasi dan Media Massa, ia bekerja di sektor perbankan setelah lulus karena bidang ini lebih menjanjikan secara finansial.

Angka-angka tidak membuatnya bergairah, tapi ia menggunakan uangnya untuk memenuhi dirinya dengan pengalaman. Andrew suka traveling untuk mengalami budaya ataupun makanan yang baru. Ia pun mendukung gereja dengan mendanai program misi.

Andrew bekerja berjam-jam untuk meraih karier di perusahannya. Kerja selama 12 jam menjadi normal. Jabatan terakhirnya adalah sebagai seorang manajer di perusahaan perbankan.

Tetapi, apa yang dipelajarinya pada usia 16 tahun tidak pernah luput dari hidupnya. Kedamaian yang datang dari keyakinan akan penerimaan penuh dari Tuhan dan kasih-Nya untuk dirinya, adalah kasih yang sama yang menjagai hatinya sekarang ketika Andrew harus bertarung melawan pertempuran yang lebih besar menghadapi kematiannya.


Andrew dan teman-temannya menolong pembangunan panti asuhan di Thailand

Berkat melalui iman

Di samping memiliki jaminan akan kedamaian dan kepastian bertemu Yesus di surga kelak, Andrew berkata bahwa imannya memberikan cara yang berbeda untuk mengatasi sakitnya.

“Ketika aku berseru pada Tuhan memohon pertolongan-Nya di malam hari karena sakitku, aku mendapati sakit itu berkurang ketika aku berfokus kepada-Nya dan aku pun tertidur nyenyak setelahnya,” kata Andrew.

Iman Andrew juga memampukannya melihat berkat yang timbul dari sakitnya, seperti mengetahui kapan ia akan meninggal, dan juga untuk pergi meninggalkan dunia ini dan melepaskan segala penyakit yang besertanya.

“Karena ini, aku bisa mempersiapkan kematianku, mengatakan apa yang perlu kukatakan dan melakukan apa yang perlu kulakukan.

Obat-obatan dan terapi juga menolongku untuk meninggalkan dunia dengan lebih nyaman dan tentunya dengan senyuman di wajahku.”

Belakangan ini, ia mulai mampu mengobrol dengan orang tuanya tentang apa yang akan mereka lakukan ketika ia telah pergi dan akan dijadikan apa nanti kamarnya.

“Adalah sebuah berkat untuk bisa berdiskusi tentang hal itu, karena mereka bisa bertindak dengan lebih jelas setelahnya,” kata Andrew yang sedang menyiapkan “kotak ajal” yang isinya adalah pesan selamat tinggal untuk orang-orang yang dikasihinya.

“Aku tidak percaya pemakaman yang menyedihkan. Aku mau pemakamanku nanti dipenuhi sukacita dan sekarang aku mau bertemu dengan orang-orang selagi aku bisa, untuk mengucap syukur dan menguatkan mereka yang penting buatku, juga menikmati makan bersama-sama,” ucapnya. Adrew suka memasak dan sering menggunakan hobinya ini untuk kegiatan penggalangan dana di gerejanya.

Hari-hari ini, ia mendapati dirinya tidak banyak berpikir tentang kematian, tetapi tentang hal-hal “jangka pendek” seperti kerinduannya makan sup iga.

Satu impian yang belum terlaksana bersama kedua teman dekatnya adalah membuat warung makan yang menyediakan sup untuk para pekerja migran atau orang-orang yang kekurangan.

“Jika aku diizinkan untuk menghidupi hidupku lagi, aku pikir bagian yang ingin aku ubah adalah aku ingin lebih terlibat di pelayanan sosial karena itu akan memberi dampak banyak pada kehidupan orang lain. Tapi, sekali lagi, aku tidak tahu. Aku adalah aku hari ini karena segala pengalaman di masa lalu yang telah membentukku.”

Permintaan terakhir

Keinginan terbesarnya adalah untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang pernah mewarnai hidupnya, teman-teman sekolahnya yang sudah lama hilang kontak.

Ketika ditanya mengapa ia mau memprioritaskan waktunya untuk orang-orang yang tidak dekat dengannya, Andre berkata hatinya ada buat mereka. Andrew ingin mereka tahu tentang kedamaian yang hanya bisa didapat dalam Kristus.

“Entah mereka sibuk bekerja atau bergumul dalam masalah masing-masing, aku mau membagikan bahwa kedamaian inilah yang aku miliki bersama mereka. Jadi, ketika tiba saatnya kehidupan mereka berakhir, yang tentunya bisa terjadi kapan saja, mereka mengenal sebuah kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh uang, relasi, ataupun kekayaan.”

“Aku mau mereka mendengarku bukan sebagai seseorang yang meninggal, tetapi sebagai seseorang yang menanti mereka di surga dan rindu bertemu mereka kembali di surga kelak.”


Tangkapan layar dari status Facebook Andrew pada 16 Agustus 2019

Catatan:
Andrew telah meninggal dunia dengan tenang pada pukul 23:25 di tanggal 31 Agustus 2019.

Baca Juga:

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

Dalam Yesus, Ada Harapan bagi Keluargaku

Oleh Judah Koh, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Do You Need Hope For Your Family?

Sudah 11 tahun aku menjadi orang Kristen, dan aku adalah orang pertama di keluargaku yang datang pada Kristus. Oleh anugerah-Nya, ibu dan kakak perempuanku menerima Tuhan setahun setelahnya, diikuti oleh kakak lelakiku yang dimenangkan lewat upaya dan doa-doa dari rekan sekerjanya. Sungguh mukjizat keluargaku bisa menerima penebusan dari Tuhan Yesus.

Namun, masih tersisa ayahku. Aku tumbuh jadi seorang anak yang takut padanya karena ibuku sering menceritakan hal-hal buruk tentang ayahku. Teriakan, umpatan, dan gertakan adalah hal biasa di rumah kami, dan di suatu hari, ayahku pernah memberiku sebilah pisau dan menantangku untuk berkelahi dengannya. Buatku, dia adalah pria pemarah yang jauh dariku dan tak segan melakukan kekerasan. Meskipun akhirnya aku bisa menyingkirkan rasa takutku terhadapnya, takut itu telah melenyapkan semua rasa kasih yang seharusnya ada di antara ayah dan anak.

Kira-kira lima tahun yang lalu, di hari-hari yang biasa saja, aku melihat ayahku telah bertambah tua. Tak hanya tua, dia pun renta. Dia jadi pendiam. Dia tak lagi mengumpat sumpah serapah. Dia tampak tenang. Dan, dia pun terasing dari kehidupan sosialnya.

Meskipun kami sekeluarga tinggal di rumah yang sama, tidak ada seorang pun yang mau berhubungan dengannya. Dia kesepian, dan aku merasa Tuhan memberiku rasa sakit dalam hatiku—rasa sakit yang bermula dari simpati, bertumbuh menjadi kasih, pengampunan, dan kerinduan agar ayahku diselamatkan.

Di dalam budaya kami, banyak hal tidak kami bicarakan. Tapi entah mengapa, relasiku dengan ayahku mulai membaik. Kami hampir tidak pernah bertengkar lagi, tetapi semakin ramah satu sama lain. Seiring relasi kami yang mulai pulih, aku lebih dan lebih ingin lagi membagikan imanku pada ayahku.

Adalah perjalanan yang panjang sampai ayahku mau menerima Tuhan. Seorang teman dari luar negeri pernah mengunjungi kami dan kami mulai berbicara tentang iman. Obrolan itu berubah menjadi debat yang memantik emosi. Tiba-tiba aku sadar, kami terlalu memaksa meyakinkan ayah. Aku harus menyudahi obrolan itu sebelum berubah jadi pertengkaran. Di saat aku merindukan keselamatan buat ayah, aku sadar seharusnya aku tidak mengandalkan usahaku sendiri (Efesus 2:8-9).

2018 adalah tahun terakhir aku menerima angpao. Aku dan ayahku, bersama tunanganku merayakan Tahun Baru Imlek bersama. Meski ayahku sangat totok akan tradisi Tionghoanya, dia bersemangat menceritakan tentang pernikahanku nanti—pernikahan yang akan diberkati di gereja.

Rasanya menyenangkan melihat ayahku, yang bukan seorang percaya, menjelaskan dan mengerti tentang pernikahan gerejawi. Seiring obrolan berlanjut, aku mendengar ayahku berkata “Allah” dan “10 Perintah Allah”. Ternyata, ayahku pernah ke gereja waktu dia masih kecil, meskipun itu cuma saat Natal demi mendapatkan hadiah dan makanan. Dia tidak pernah tertantang untuk mengambil keputusan percaya. Tapi, Tuhan menyimpan kenangan masa kecilnya itu dalam hatinya, hingga setengah abad kemudian, ayahku masih bisa mengingat detail-detailnya.

Sebagai orang percaya yang pertama di keluargaku, aku merasa punya tanggung jawab untuk membawa Kabar Baik itu kepada keluargaku. Tetapi, aku perlu ingat bahwa Tuhan mengasihi ayahku lebih daripada apa yang bisa kulakukan, dan Tuhan punya rencana untuk menjangkau ayahku, bahkan sebelum aku dilahirkan. Tuhan bekerja dalam rancangan keselamatan buah ayahku. Tugasku adalah percaya, berdoa, dan tetap setia (Amsal 3:5-6).

Tapi, proses selanjutnya tidak selancar yang dikira. Setelah aku menikah, aku berdiskusi untuk membawa ayahku ke gereja istriku. Kebaktian di sana menggunakan dua bahasa, dan ada banyak lansia juga. Ayahku tidak terlalu menolak seperti biasanya, dan dia lebih tenang. Inilah kali pertama kami membawa ayahku ke gereja, dan aku berharap kalau ayahku menunjukkan semangatnya, atau mungkin memutuskan jadi orang percaya. Harapan itu tidak terjadi dan aku kecewa, tapi istriku mengingatkanku untuk tidak tawar hati, Tuhan sedang melembutkan hati ayah.

Di awal tahun ini, aku dan istriku mengajak ayahku untuk ikut kebaktian antar-denominasi di kota kami. Ayahku sudah 71 tahun, dan dia perlu segera mendengar Injil dan mengertinya. Kami mengajaknya, dan setelah banyak pertanyaan diajukannya, dia bersedia ikut. Di sana kami mendengar kesaksian, dan khotbah tentang kebenaran; ayahku duduk di sepanjang acara, kadang berkomentar tentang bahasa yang salah. Tapi, dia mendengarkan apa yang dia perlu dengar. Ketika panggilan altar dilangsungkan, aku dan istriku meyakinkannya.

Dia mengakui kalau dia sudah mengerti, segera atau nanti dia akan percaya pada Yesus karena semua keluarganya sudah percaya lebih dulu. Tapi, ayahku masih ragu akan beberapa hal yang kupikir keraguan itu bisa dijawab nanti setelah dia dimuridkan lebih jauh. Akhirnya, ayahku bersedia untuk maju ke depan, dan kami menemaninya menjawab panggilan altar.

Aku begitu bersemangat dan senang, akhirnya ayahku percaya pada Kristus. Tapi, dalam diskusinya dengan pejabat gereja, dia mengakui belum percaya. Aku merasa ini adalah kegagalan, tapi kemudian aku melihatnya sebagai kemenangan ketika dia berdoa dan bersedia untuk menggali lebih dalam tentang iman yang dibawa oleh “misionaris-misionaris dari Barat” ini. Pejabat gereja itu lalu memberinya Alkitab Perjanjian Baru. Keselamatan pada ayahku semakin dekat!

Di minggu-minggu selanjutnya, ayahku datang ke gereja dengan keinginannya sendiri. Dia ditemani oleh ayah mertuaku, dan inilah momen yang spesial. Ayahku mungkin cuma pernah ke gereja sebanyak enam atau tujuh kali di masa mudahnya, dan lima kali dalam satu bulan belakangan.

Aku ingin mendengar dari ayah mertuaku tentang apa yang terjadi. Ayah mertuaku bercerita kalau ayahku menangis dan hatinya tergerak oleh iman yang dibagikan oleh aku, istriku, dan ibuku.

30 Juni 2019, aku, istriku, dan para pemimpin di gereja kami menerima sebuah video yang direkam oleh ayah mertuaku. Ayahku sedang berdoa dan mengakui imannya kepada Tuhan Yesus.

Tuhan bekerja. Tuhan mengasihi. Tuhan menyelesaikan.

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Efesus 2:8-9).

Baca Juga:

Divonis Tumor Payudara, Pertolongan Tuhan Nyata Bagiku

Divonis menderita tumor payudara di usia muda membuatku kalut dan sedih. Aku pun harus dioperasi dan sempat mencari alternatif lain. Namun, ketika akhirnya aku harus tetap dioperasi, aku mengalami penyertaan Tuhan yang nyata bagiku.

Keluargaku, Ladang Pelayananku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Apa yang biasanya kita pikirkan atau lakukan menjelang liburan: langsung menyusun jadwal untuk bepergian ke destinasi wisata hits atau pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga?

Meskipun aku seorang perantau yang mencari rezeki di kota orang, dilema ini kerap aku alami setiap liburan semakin dekat. Aku rindu untuk bertemu dengan mama, kakak, abang, dan keponakanku di kampung halaman. Tetapi, kadangkala aku juga tergoda untuk tidak pulang kampung dengan berbagai alasan. Misalnya, harga tiket yang mahal yang membuat tabunganku menipis, padahal aku masih harus memberi sedikit berkat untuk keluarga. Aku pernah berpikir untuk hanya mengirimkan uang saja kepada keluargaku karena tergoda pada tawaran teman untuk bepergian ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi.

Beberapa waktu yang lalu sebelum aku kembali ke kampung halaman, aku berdiskusi dengan teman sekantorku. Kami berdua memiliki kampung halaman yang sangat jauh, bahkan kampungnya lebih jauh daripada kampungku. Sudah kurang lebih lima tahun dia bekerja di kantor kami, dan ia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya sekali dalam setahun. Di tengah kegalauanku, dialah yang mengingatkanku untuk pulang. Waktu bersama keluarga sangatlah berarti, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa kita harus mengorbankan uang yang tidak sedikit.

Perkataannya membuatku kembali merenung. Bukankah salah satu alasanku untuk merantau adalah untuk menghasilkan uang untuk berbagi berkat dengan keluarga? Kalau begitu, aku merasa cukup dengan mengirimkan uangnya saja. Namun, lagi-lagi aku diingatkan bahwa pertemuan tatap muka jauh lebih berharga dari uang yang kuberikan. Aku harus datang langsung untuk melihat kondisi keluargaku. Selama bekerja, adalah hal yang baik jika aku selalu mendoakan mereka dari kejauhan. Tetapi, jika keuanganku memadai, alangkah lebih baik jika aku datang untuk mengunjungi mereka secara langsung.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku. Aku begitu bersyukur dapat kembali berkumpul bersama keluargaku. Hal yang kami lakukan bersama sangatlah sederhana: makan bersama, jalan-jalan bersama, tertawa bersama, dan mendokumentasikan kegiatan kami dengan berfoto bersama. Selain itu, karena mamaku bekerja sebagai pedagang, aku mengantar jemputnya ke pasar. Aku juga menjaga keponakanku, membantu merapikan rumah, hingga mengunjungi anggota keluarga lainnya. Kegiatan yang sederhana sekalipun mampu mendatangkan sukacita yang luar biasa untuk kami semua, yang terpancar dari wajah setiap kami.

Kembali kurenungkan, saat-saat seperti ini tidak selamanya dapat kunikmati. Mengingat usia orang tuaku yang terus bertambah, dan masa pertumbuhan keponakanku yang banyak kulewatkan. Aku teringat akan sebuah pujian dari Pelengkap Kidung Jemaat 289:

Keluarga hidup indah
bila Tuhan di dalamnya.
Dengan kasih yang sempurna
Tuhan pimpin langkahnya.
T’rima kasih padaMu, Tuhan,
Kau bimbing kami selamanya.
Segala hormat, puji dan syukur
kami panjatkan kepadaMu.

Keluarga adalah ladang pelayananku—tempat bagiku untuk menyatakan kasih Tuhan. Aku harus menyatakan ungkapan syukurku atas penyertaan Tuhan bagi keluargaku dalam melewati musim demi musim kehidupan dengan mengasihi keluargaku. Untuk dapat berkumpul dan berbagi sukacita bersama keluargaku juga merupakan bentuk kasih dan penyertaan-Nya atas kami.

Aku pribadi sungguh ditegur dengan kondisi ini. Banyak hal di luar sana yang bisa membuatku tidak memilih untuk kembali ke kampung halamanku, walaupun sebentar saja. Namun aku bersyukur Tuhan meneguhkanku kembali di tengah-tengah dilema yang kualami, sehingga aku dimampukan untuk membuat keputusan yang tepat: memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada untuk melayani keluargaku yang sudah terlebih dahulu melayaniku sejak kecil.

Kiranya perenunganku dapat memberkati kita semua yang membacanya. Tuhan memberkati.

Baca Juga:

Yang Terlupakan dari Pelayanan: Kasih Yang Semula

Aku yakin hampir semua sobat muda pernah atau bahkan sedang menjadi bagian di dalam suatu kegiatan pelayanan. Namun, pernahkah kita coba menilik diri kita masing-masing, apakah kita memiliki motivasi yang benar dalam melayani?

Tuhan Merangkai Cerita yang Indah dalam Keluargaku

Oleh Gina*, Yogyakarta

Aku mempunyai keluarga yang utuh. Kami tinggal di bawah satu atap—ayah, ibu, dua kakak perempuan yang sudah berumah tangga, dan aku. Kami sering berkumpul dan makan bersama, bahkan saling bercerita satu sama lain. Melihat kebersamaan keluarga kami, aku berpikir bahwa ini adalah waktu di mana ayah dan ibuku dapat menikmati masa tua mereka bersama anak cucunya.

Namun, keluargaku mengalami pergumulan hebat di akhir tahun 2018. Ayah dan ibuku hampir setiap hari bertengkar. Hal kecil menjadi besar dan hal besar semakin menjadi-jadi. Aku seperti dibawa ke dalam ingatan masa lalu. Ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, seringkali aku melihat orang tuaku bertengkar sampai ibuku menangis. Tidak ada yang bisa kulakukan, hingga aku harus kembali menyaksikan kejadian serupa setelah sekian waktu lamanya mereka tidak bertengkar. Aku mengira bahwa ketika usia mereka semakin tua, mereka akan semakin rukun. Nyatanya, bukan itu yang terjadi. Keadaan ini hampir membuatku membenci ayah dan ibuku.

Suatu hari, ayah dan ibuku kembali bertengkar. Meskipun aku termasuk anak yang cuek di mata mereka, namun percayalah, hatiku hancur melihatnya. Mereka bertengkar tentang hal yang sama, yang bagiku terkesan konyol. Ayahku menuduh Ibu berselingkuh, meski pada kenyataannya Ibu tidak berselingkuh. Ketika mereka bertengkar, aku berdiam diri dan memilih masuk ke dalam kamar sambil mencoba mendengarkan perdebatan mereka. Pertengkaran itu berlangsung cukup lama, sampai ayahku jatuh sakit karena memikirkan hal tersebut. Aku juga sering melihat raut wajah Ibu yang sedih dan enggan untuk makan.

Awalnya aku berpikir bahwa ini hanyalah pertengkaran biasa. Namun, perkiraanku salah. Ayah mengumpulkan kami, ketiga anaknya, lalu bercerita tentang kegelisahan hatinya—demikian juga Ibu. Mereka menyalahkan satu sama lain, bahkan sampai menggunakan ayat Alkitab dalam perdebatannya.

Tibalah di satu titik di mana Ayah mengatakan bahwa ia ingin berpisah dengan Ibu. Seketika itu juga, aku ingin menangis dan marah karena aku tidak menyangka Ayah akan memikirkan dan mengatakan hal itu. Namun, aku menahan tangisku dan memilih untuk memberanikan diri berbicara dengan mereka. Hati kecilku tidak tahan memendam perasaan kecewa hingga aku berkata kepada Ayah, “Jika Ayah mengenal soal kasih, seharusnya Ayah tidak melakukan perpisahan. Kasih itu tidak pendendam, tidak pencemburu, tidak egois. Sama seperti yang Tuhan Yesus katakan.”

Setelah itu, aku pergi dan masuk ke dalam kamar. Aku menangis dan berbicara kepada Tuhan, “Mengapa hal ini terjadi dengan keluargaku? Padahal, Tuhan sedang menempatkan aku di pelayanan keluarga, dimana aku harus melayani keluarga lain. Bagaimana bisa aku melayani keluarga lain jika keluargaku saja hancur? Apa yang Tuhan mau?”

Mungkin aku terdengar seperti sedang marah. Tetapi, di saat aku hancur dan sedih, aku merasa Tuhan mengingatkanku akan suatu hal. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi dalam keluargaku bukan sekedar untuk pertumbuhan keluargaku, tetapi Ia juga memiliki tujuan besar untuk memulihkan keluarga lain melalui apa yang keluargaku alami. Saat itu juga hati kecilku tahu, bahwa Tuhan berjanji ayah dan ibuku tidak akan berpisah. Keyakinanku diperkuat melalui firman Tuhan dalam Roma 8:28 yang berkata:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Saat mendapatkan ayat tersebut, Tuhan mengingatkanku bahwa melalui setiap badai kehidupan yang datang, Tuhan tidak hanya ingin membuat kita belajar untuk mengenal kasih Allah. Lebih dari itu, Tuhan memiliki tujuan besar, yaitu untuk keselamatan orang banyak. Tuhan dapat memakai masalah yang kita alami untuk memberkati orang lain yang mengalami pergumulan yang sama. Nyatanya, melalui kejadian ini aku semakin mengerti tentang pergumulan dalam keluarga yang memampukanku untuk melayani keluarga lain sesuai yang Tuhan inginkan.

Ketika mendapatkan jawaban itu, aku berdoa pada Tuhan dan berserah sepenuhnya pada rencana Tuhan. Aku selalu percaya pada janji-Nya, walaupun aku harus terlebih dahulu mengalami musim yang menyakitkan. Ketika aku terus bergumul, Tuhan melepaskan kedamaian bagi keluargaku. Kata “pisah” yang pernah dikatakan Ayah tidak pernah terdengar lagi. Lebih dari itu, kedua orang tuaku saling meminta maaf satu dengan yang lain.

Tuhan Yesus hebat! Pesanku untuk teman-teman semua adalah, biarkan Tuhan merangkai cerita melalui setiap musim kehidupan yang ada. Ketika kita mengalami pergumulan, saat itulah Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk dipakai dalam pelayanan bagi-Nya. Tuhan rindu untuk memakai kita menjadi saluran berkat-Nya bagi orang lain yang butuh lawatan kasih-Nya. Tuhan memampukan kita untuk melakukan panggilan-Nya. Amin.

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” Ayub 42:2.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Dia adalah sesosok istimewa di hidupku, yang melalui kehadirannya aku dapat melihat pantulan kasih Bapa Surgawi.

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13)

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Ia adalah pria berkulit terang yang suka memancing dan bernyanyi, pribadi yang sederhana dan penuh kasih. Dia begitu mengasihiku, adik-adikku, dan penolongnya yang sepadan yaitu Mama.

Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai yang paling utama. Suatu pagi, langit tiba-tiba mendung ketika aku sedang diantar Bapak ke sekolah. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Sayangnya, kami tidak membawa jas hujan. Bapak segera memberikan jaket yang dipakainya kepadaku, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena jam masuk sekolah sudah hampir tiba. Bapak bertanya apakah keadaanku baik-baik saja, padahal kondisi Bapaklah yang perlu dikhawatirkan karena ia mengendarai motor di tengah hujan tanpa jaket. Tetapi, ia lebih mementingkan kesehatanku daripada dirinya sendiri.

Bapak selalu memberikanku dukungan dan penghiburan di saat aku membutuhkannya. Saat aku ujian masuk perguruan tinggi, Bapak yang mengantarkanku. Bapak pula yang memberikan pelukan hangat untuk menenangkanku di malam pengumuman saat aku dinyatakan tidak diterima di pilihan pertamaku.

Bapak menunjukkan kasihnya dengan cara yang sederhana. Biasanya, Bapak akan mampir ke pasar sepulang kerja untuk membeli buah. Sesampainya di rumah, dari ambang pintu ia berkata, “Bapak pulang. Ini ada buah, ayo kupas dan kita makan”. Selain bekerja sebagai seorang karyawan swasta, Bapak juga menjual tas. Bapak telah mengusahakan banyak hal untuk aku dan adik-adikku agar kami dapat menikmati pendidikan dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Bertemu dengan Bapak dan berbicara dengannya pada sore hari sepulang kerja adalah hal yang kunantikan setiap hari. Aku senang jika suara motornya sudah terdengar dari dalam rumah. Kami dapat berbincang tentang apapun. Aku merasa bebas lepas saat berbicara dengan Bapak. Kedekatan ini membuatku semakin mengenal dan memahami Bapak. Aku sudah tahu Bapak sedang memikirkan sesuatu sebelum Bapak menceritakannya. Bapak juga tahu apa yang kualami sebelum aku menceritakannya. Meski begitu, tidak jarang kami berbeda pendapat. Aku sering membuatnya kecewa, begitupun sebaliknya. Kadang kebijakan-kebijakan Bapak dapat membuatku bersedih hati. Namun aku tahu, keputusan yang dibuat Bapak adalah untuk kebaikanku.

Cinta yang Bapak berikan mengingatkanku akan cinta kasih Bapa surgawi. Bapa begitu mencintai anak-anak-Nya sehingga Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi dunia. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, dan rela mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Kedekatan dengan Bapak membuatku rindu untuk lebih dekat dengan Bapa yang mengenalku lebih dari siapapun dan telah mengasihiku lebih dulu. Kini saatnya aku belajar semakin mengenal dan mengasihi-Nya melalui hubungan yang dibangun setiap hari lewat doa dan saat teduh. Bercermin dari hubunganku dengan Bapak, aku percaya bahwa setelah mengenal dan mengasihi Bapa Surgawi, aku akan semakin memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku belajar untuk menghayati bahwa semua yang terjadi di dalam hidup ini juga seturut dengan kehendak-Nya dan bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, sekalipun dalam kedukaan.

Setiap kali aku menghabiskan waktu dengan Bapak, aku selalu teringat untuk meluangkan waktu berbincang dengan Bapa Surgawi—Pribadi yang menerimaku sepenuhnya, mengenalku sampai ke bagian yang terdalam, dan mengasihiku lebih dari siapapun.

Baca Juga:

Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa.

Ketika Orang Tuaku Tidak Menyetujui Hubungan Kami

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Satu tahun lalu, aku dan pacarku memutuskan untuk menjalin relasi pacaran. Namun, perjalanan hubungan kami di masa-masa awal tidaklah mudah. Kedua orang tuaku menolak pacarku karena dia berasal dari suku yang berbeda dengan keluargaku.

Bagi orang tuaku, juga mungkin bagi banyak orang tua lainnya, melihat anaknya mendapatkan pasangan yang satu suku adalah hal yang diinginkan, atau bahkan didamba-dambakan. Bagi mereka, jika anaknya berpasangan dengan yang tidak satu suku, pasti terasa ada yang kurang. Bahkan, ada pula yang tidak mengizinkannya sama sekali.

Sebagai anak, aku belajar mengerti keinginan orang tuaku. Memiliki pasangan yang satu suku memang baik. Jika sedang kumpul keluarga tidaklah sulit untuk akrab karena sudah tahu bagaimana cara beradat dan berbahasa. Namun, apakah pasangan hidupku harus selalu satu suku? Apakah ini yang memang Tuhan Yesus ajarkan atau hanyalah stereotip belaka? Dua pertanyaan yang mungkin sulit untuk dijawab.

Namun, saat aku mencari tahu dari Alkitab, Tuhan Allah berfirman dalam Kejadian 2:18, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Apakah kata sepadan di sini berarti dia yang berasal dari satu suku? Berdasarkan terjemahan Alkitab versi New English Translation, kata “sepadan” di sini merujuk kepada kesesuaian atau cocok. Lebih rinci lagi, sepadan adalah pasangan yang saling mengisi dan bertumbuh untuk memenuhi tujuan Allah dalam pernikahan. Di sini terlihat jelas bahwa sepadan tidaklah mutlak harus satu suku.

Sebagai seseorang yang pernah bergumul dengan hal ini, aku ingin membagikan pesan untuk teman-teman, terkhusus apabila kamu juga mengalami pergumulan sepertiku.

1. Serahkanlah hubungan kalian kepada Tuhan melalui doa. Lebih dalam lagi, terus doakan hati keluarga yang menolak pasanganmu.

2. Cobalah jelaskan dan buka pola pikir keluargamu bahwasannya pasangan satu suku itu tidak menjamin segalanya. Jaminan utama adalah kedekatan pasangan kita kepada Sang Pencipta serta karakter yang dimilikinya. Karena pada dasarnya “Allah melihat apa yang ada di kedalaman hati sebagai ukuran sejati diri kita” (dikutip dari buku The End of Me, Kyle Idleman). Selain itu, menikah bukan saja tentang bagaimana bisa membahagiakan keluarga secara kasat mata, tapi lebih dari itu adalah tentang bagaimana kamu dan pasanganmu bisa melakukan visi Allah dalam keluargamu nantinya. Dan, hal yang sifatnya esensial ini tidak dibatasi oleh perbedaan suku semata. Lebih lagi, ceritakan juga apa saja kelebihan yang dimiliki pasanganmu, di mana kelebihan itu tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Serta, bukakan juga keuntungan jikalau kita memiliki pasangan yang berbeda suku, seperti halnya keluarga akan jadi lebih indah karena ada keberagaman suku di dalamnya.

3. Ajaklah pasanganmu itu ke rumah. Izinkanlah keluarga menilai sendiri kepribadian pasanganmu tersebut. Memang ini kelihatannya tidak manjur, apalagi jika keluargamu memilki “trauma” tersendiri terhadap kasus perbedaan suku sebelumnya. Namun, lagi-lagi tidak ada yang sia-sia selagi kita mau berusaha.

4. Jika langkah 1-3 belum juga membuat keluargamu “luluh”, buatlah strategi di mana keluargamu bisa secara nyata “hidup” bersama dengan pasanganmu. Pengalamanku sebelumnya, aku mengajak bapak dan ibuku untuk menjemputku secara langsung ke negara di mana aku menempuh pendidikanku. Walau aku bisa saja menginapkan bapak ibuku di penginapan, namun aku tidak mau. Aku membiarkan bapakku untuk mengalami hidup bersama pasanganku di asramanya, dan ibuku di asramaku. Pasanganku pun menyetujui pemikiranku itu. Walau ada beberapa temanku yang tidak setuju, namun aku terus menyakini bahwa Tuhan pasti menyertai setiap niat baik.

* * *

Dua hari pertama, bapakku masih belum “luluh”. Namun, puji Tuhan di hari ketiga sampai hari terakhir bapakku berada di sana, akhirnya beliau pun mulai “luluh”. Lebih dari itu, bapakku yang awalnya adalah orang yang paling menentang hubunganku pun akhirnya bersedia dipotong rambutnya oleh pasanganku. Itu terjadi di luar ekspektasiku. Bapakku yang memiliki kebiasaan memotong rambut sendiri, tiba-tiba ingat akan ceritaku sebelumnya bahwa pasanganku punya keterampilan memotong rambut. Bahkan, uang tambahannya di negeri perantauan pun dihasilkannya dari keterampilan tersebut. Sampai akhirnya, bapakku pun menyatakan pujiannya kepada pasanganku dan mengakui bahwa dia adalah seorang yang hebat. Itu semua dapat terjadi karena ada beberapa hal lain yang bapakku telah saksikan dan rasakan secara nyata selama mereka tinggal bersama.

Aku sangat bersyukur akan hal tersebut. Aku percaya ini boleh terjadi bukan karena pandainya aku membuat strategi, namun ini terjadi karena hebatnya Tuhan yang memberiku hikmat. Walau aku tak tahu bagaimana hubungan kami ke depannya, tapi kami berkomitmen untuk menyerahkan selalu hubungan ini kepada Tuhan. Satu firman Tuhan yang membuatku terkesan adalah, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Roma 8:31). Inilah yang membuat aku dan pasanganku dapat melangkah dengan tegap. Kalau memang Tuhan berkehendak pasti Dia akan menyertai hubungan kami sampai waktu yang telah Dia tentukan untuk kami bisa hidup bersama selamanya.

Satu bagian dasar terpenting ialah pergumulan kita dengan pasangan kita untuk selalu mencari kehendak Tuhan. Bila semakin yakin akan kehendak Tuhan, maka kita berjuang untuk penerimaan orang tua akan perbedaan suku tersebut. Kiranya ini bisa menjadi semangat dan langkah praktis untukmu yang memiliki pergumulan sama denganku.

Tuhan memberkati kita.

Baca Juga:

4 Tanda Bahwa Tuhan Bukanlah Fokus Pertamamu

Meski aku tahu bahwa Tuhan mengasihiku, setiap hari aku bergumul untuk menempatkan-Nya di posisi pertama di hidupku. Dan, dari pengalaman inilah aku ingin membagikan empat hal kepadamu.

Momen Natal yang Membuatku Mengenang Perjumpaan Pertamaku dengan Kristus

Oleh Putra, Jakarta

Memasuki bulan Desember, memoriku mengingat kembali kenangan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD dan salah satu hal yang paling kusukai tentang Natal adalah hari liburnya. Di pagi hari aku bisa duduk di depan televisi dan menonton film Home Alone. Film itu membuatku jadi ingin ikut merayakan Natal. Tapi, aku bukanlah orang Kristen, demikian juga kedua orang tuaku.

Keluargaku tidak mengenal siapa itu Tuhan Yesus. Kami sangat memegang tradisi leluhur. Keluargaku percaya bahwa berbakti kepada leluhur—dengan cara sembahyang kepada arwah mereka—adalah cara untuk mendapatkan berkat semasa hidup dan juga keselamatan kelak setelah kehidupan ini berakhir.

Perkenalan pertamaku dengan sosok Juruselamat

Aku bersekolah di sekolah negeri. Saat duduk di kelas 6, untuk pelajaran agama, aku mengikuti kelas agama Kristen sebab di sekolahku tidak ada guru yang mengajar kepercayaanku. Guruku menerangkan tentang apa itu iman Kristen. Dia mengatakan bahwa sembahyang kepada leluhur itu tidak dapat menyelamatkan kita dari kematian kekal. Aku tidak setuju dengannya. Tapi, kembali dia menegaskan pernyataannya: leluhur tidak bisa menyelamatkan, hanya Tuhan Yesus yang bisa.

Empat tahun setelahnya, saat aku duduk di bangku SMK, aku ikut kelompok persekutuan Kristen. Meski bukan orang Kristen, aku tidak merasa asing dengan Kekristenan. Sejak SD aku sudah mengikuti pelajaran agama ini dan aku juga berteman dengan teman-teman yang Kristen. Pertemuan awal di kelompok itu adalah acara ulang tahun temanku dan kami mengisinya dengan makan-makan.

Suatu ketika, saat sedang berada di rumah, aku mendengar satu lagu rohani Kristen. Aku merasa hatiku tergerak dan aku menangis sendirian. Tanpa kusadari, aku pun mengucap, “Tuhan, tolong selamatkan aku.” Aku sendiri masih tidak paham betul mengapa hari itu aku menangis tiba-tiba. Sebelumnya aku memang sudah ikut komunitas rohani, tapi itu cuma buat nilai. Namun, setelah hari itu, aku tertarik untuk lebih tahu siapa itu Tuhan Yesus dan bagaimana cara hidup orang Kristen. Teman-temanku menyambut baik ketertarikanku ini, hingga lambat laun aku menjadi yakin bahwa apa yang dikatakan guru SDku dulu adalah benar.

Di kelas I SMK, aku memutuskan untuk menjadi orang Kristen dan ingin terlibat aktif dalam pelayanan. Aku pergi ke gereja temanku dan dilayani oleh hamba Tuhan di sana. Aku memberitahukan hal ini kepada orang tuaku. Mereka tidak menyetujui keiginanku. Namun, aku tidak dapat membendung kerinduanku untuk mengikut Tuhan Yesus. Aku tetap pergi ke gereja. Ketika hal ini ketahuan oleh ayahku, dia datang menghampiriku di gereja dan memaksaku pulang. Sampai di rumah, dia memukulku. Puncaknya, ketika aku bersikukuh untuk pergi ke gereja, ayah dan ibu hendak mengusirku dari rumah.

“Kamu ngapain sih ke gereja? Memangnya kamu dapat apa di gereja?” kata ibuku dengan nada tinggi.

Aku membalasnya, “Saudara kita yang lain aja boleh ke gereja, kenapa aku nggak?”

“Leluhur kita semuanya sembahyang!”

Dia pun lalu mengeluarkan semua kekesalannya kepadaku. Jika aku bersikukuh tetap pergi ke gereja dan kelak mengganti imanku, dia akan menyesal menjadikanku sebagai anaknya. Kekhawatiran terbesar ayah dan ibuku adalah jika aku menjadi orang Kristen dan meninggalkan tradisi yang selama ini selalu mereka junjung.

Peristiwa itu mengguncangku. Namun, entah mengapa aku tidak menyimpan perasaan benci kepada orang tuaku. Malah, aku merasa sedih karena mereka belum mengenal Tuhan Yesus. Waktu itu, aku mendengar siaran radio Kristen yang mengajak pendengarnya untuk berdoa. Aku ikut berdoa, aku mendoakan supaya kedua orang tuaku mau membuka hati mereka buat Tuhan Yesus. Sejak saat itu, aku selalu berdoa untuk mereka. Namun, masalah terus saja datang, sampai akhirnya aku hampir merasa putus asa dan tidak lagi berdoa. “Terserah Tuhan saja!”

Meski demikian, aku masih rutin datang ke gereja setiap minggunya. Dalam hatiku, masih tersimpan setitik kerinduan agar kedua orang tuaku juga mengenal Tuhan, aku tidak ingin hanya menikmati keselamatan yang sudah Tuhan berikan sendirian. Hanya, aku merasa itu semua rasanya seperti mustahil.

Satu orang diselamatkan, seisi rumah diselamatkan

Hingga akhirnya, di tahun 2010, ayahku didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening. Ketika berita itu datang, aku tersentak. Aku teringat lagi doa yang dulu pernah rutin kunaikkan. Hatiku lalu berbisik, “Mana kerinduanmu buat ngenalin Tuhan ke orang tua?” Aku berusaha untuk mendoakan mereka lagi. Tapi, semakin hari kondisi ayahku semakin drop. Segala pengobatan alternatif telah dijalani, namun tak membuahkan hasil sampai suatu ketika, pamanku yang adalah orang Kristen datang ke rumah. Dia mengajak ayahku datang ke gereja untuk memohon mukjizat dari Tuhan. Ayahku mengelak, tapi ibuku yang hampir putus asa merawat ayah mengiyakan ajakan itu. “Apapun, yang penting sembuh.” katanya.

Keesokan harinya setelah ke gereja, ibuku bertanya pada Ayah, “Bisa tidur gak?”

“Iya,” ayahku mengangguk.

“Nanti mau ke gereja lagi?”

“Mau.”

Sejak saat itu, ayah dan ibuku datang ke gereja setiap minggu. Ada satu momen yang bagiku dulu terasa sangat mustahil. Saat tengah berada di rumah, ayahku memutar lagu rohani. Dia mengangkat tangannya, menyembah Tuhan, lalu memintaku untuk mengajarinya berdoa. Aku mengajarkan doa-doa sederhana kepadanya, seperti: “Tuhan, berkati makanan ini, minuman ini, obat-obatan ini, supaya bisa menjadi kesembuhan.”

Proses itu berlangsung beberapa waktu, sampai akhirnya Ayah memutuskan untuk percaya sungguh-sungguh pada Tuhan Yesus. Ayah menanggalkan segala kepercayaan lama yang dianutnya dan kemudian dibaptis. Kondisi fisik Ayah tidak banyak berubah, dia tetap berjuang melawan kankernya. Kurang dari setahun setelah ayah menyerahkan dirinya pada Kristus, Ayah meninggal dunia.

Satu kesedihanku ketika Ayah berpulang adalah kami tidak sempat merayakan Natal bersama-sama, sekali saja. Namun, aku tidak kecewa kepada Tuhan, karena aku percaya ayahku sudah mendapatkan yang terbaik dan sudah bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Ayahku sudah sembuh secara total dari penyakit kankernya. Aku bersyukur, peristiwa sakitnya Ayah menjadi momen yang membawa seisi keluargaku mengenal Tuhan Yesus. Sekarang, ibuku tidak lagi menutup diri dari Kekristenan. Aku masih mendoakannya untuk menjadi orang percaya yang mengimani imannya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh.

Momen Natal tahun ini mengingatkanku kembali bahwa kedatangan Kristus ke dunia memberikan kita sebuah jaminan yang pasti, yaitu jaminan akan keselamatan. Dan, aku pun mengimani apa yang Alkitab katakan dalam Kisah Para Rasul 16:31: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Adakah nama seseorang yang kamu rindukan agar dia dapat mengenal Tuhan Yesus? Marilah kita berdoa bagi mereka. Kiranya di Natal tahun ini, Kristus dapat hadir di dalam hati mereka.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Baca Juga:

Natal Bukanlah Sekadar Perayaan

Seorang temanku mengatakan bahwa mengadakan Christmas Dinner menjelang tanggal 25 Desember itu membuat suasana Natal lebih seru dan lebih bersama. Tapi, apakah benar demikian? Apakah Natal dimaknai hanya dengan perayaan, kumpul, dan makan bersama?

Masa Depanmu Tidak Ditentukan oleh Keadaanmu

Oleh Timothy Lee, Taiwan
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 输在起跑线!那又如何?(有声中文)

Banyak orang percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan, seseorang harus lebih unggul sebelum pertandingan dimulai. Artinya, peluangmu untuk “sukses” itu ditentukan oleh latar belakang keluargamu. Kalau kamu berasal dari keluarga yang beruntung, kamu punya peluang lebih besar untuk mencapai kesuksesan.

Aku berasal dari keluarga yang rumit. Ayahku adalah generasi ketiga dari sebuah kelompok kriminal, dan ibuku adalah seorang pecandu narkoba. Usia mereka masih sangat muda, dan segera setelah aku lahir, mereka memberikanku kepada orang lain untuk diadopsi.

Narkoba yang dikonsumsi ibuku selama dia hamil membuatku menderita banyak masalah kesehatan sejak aku lahir, salah satunya adalah ginjalku yang meradang saat aku baru berusia setahun. Karena itu, aku menghabiskan banyak waktuku di rumah sakit.

Di titik ini, mungkin kamu berpikir bahwa hidup anak ini memang ditakdirkan penuh tragedi. Namun, oleh kasih karunia Allah, mukjizat terjadi padaku. Sebuah keluarga Kristen yang mengetahui keadaanku memutuskan untuk mengadopsiku. Mereka memberi kesempatan kepada anak yang lemah dan sakit ini untuk menikmati masa kecil yang baik.

Bermula dari ketidakberuntungan

Aku pun memulai lembaran baru dalam hidupku. Tapi, aku segera menyadari bahwa “titik awal”ku bukanlah saat aku dilahirkan, tapi ketika aku masih berada dalam kandungan ibuku. Sekalipun lingkungan baruku menolongku bertumbuh secara pribadi, sesungguhnya masalah kesehatanku tidak berkurang. Sejak usia mudaku, aku bergantung pada penggunaan steroid (hormon untuk menjaga keseimbangan air dan mineral dalam tubuh) secara teratur untuk menangani penyakit ginjalku.

Selain itu, aku pun termasuk anak yang hiperaktif. Aku sering berlari-lari dan mendapat masalah. Walaupun keluargaku menghabiskan banyak uang dan waktu untuk menolongku, aku tidak bisa duduk diam dan belajar. Orang-orang dewasa di keluargaku jadi frustrasi. Tidak ada seorang pun yang berharap banyak untuk masa depanku.

Sebuah titik balik

Ketika aku berumur 13 tahun, aku mengalami masalah lain dengan ginjalku, dan ini adalah kondisi paling buruk yang pernah kualami. Perutku bengkak dan aku tidak bisa buang air kecil. Tubuhku pun terus kehilangan protein. Bahkan setelah sebulan aku dirawat di rumah sakit, para dokter tidak dapat menyembuhkanku. Mereka hanya merawatku dengan meningkatkan dosis steroidku. Dan, karena terus kehilangan protein, aku harus menjalani perawatan lain untuk mempertahankan kadar protein dalam tubuhku.

Ketika keadaanku sepertinya tidak ada harapan lagi, keluargaku membawa seorang pendeta dari gereja kami untuk mendoakanku. Keesokan harinya, aku mulai sembuh secara ajaib. Aku bisa buang air kecil secara natural, dan seminggu kemudian aku bisa keluar dari rumah sakit.

Setelah menjalani masa pemulihan selama dua tahun, dokter memberitahuku bahwa aku tidak perlu lagi menggunakan steorid, dan risiko penyakitku untuk kambuh kembali sangatlah rendah. Para dokter itu tidak pernah menemukan apa alasan di balik kesembuhanku yang tiba-tiba dan cepat, tapi aku ingat seorang perawat berkata kepadaku saat itu, “Tuhanmu telah menyelamatkanmu!”

Rencana Tuhan itu berbeda untuk semua orang; tidak semua orang akan melalui pengalaman yang dramatis sepertiku. Tetapi, pengalaman inilah yang menjadi titik balik dalam hidupku. Sejak hari itu, aku berubah. Aku mulai berdoa, mempelajari Alkitab, dan pergi ke gereja. Aku juga mulai mengubah karakterku, tidak lagi tergesa-gesa seperti dahulu. Tak lama kemudian, aku dibaptis sebagai orang Kristen dan mulai melayani di gereja. Tuhan berkata kepadaku bahwa hidupku adalah milik-Nya, dan karena Dia telah menebusku, maka aku melayani-Nya.

Ketika aku berumur 19 tahun, aku diterima di sebuah universitas yang baik di Hong Kong, dan bahkan melayani sebagai ketua himpunan mahasiswa. Meskipun saat aku kecil aku dipandang rendah, sekarang aku dikenal sebagai mahasiswa yang baik dan menjadi teladan. Perubahan ini semuanya adalah pekerjaan Tuhan.

Meskipun semua prestasi ini memberiku kedudukan yang lebih baik di mata dunia, bagiku ukuran kesuksesan yang paling penting bukanlah dipuji oleh manusia, melainkan menjadi kepunyaan kerajaan Allah—diakui oleh Allah sebagai anak-Nya dan ditopang oleh kasih-Nya yang tidak pernah berkesudahan.

Mengakhiri pertandingan dengan baik
Dulu aku adalah seorang yang tidak punya harapan dan masa depan. Aku bertahan hidup hanya karena obat-obatan. Namun, Tuhan tidak hanya memberikanku keluarga yang mau merawatku, menyembuhkanku secara fisik dan spiritual, tetapi juga memberiku hikmat dan kebaikan di mata manusia. Perubahan hidupku adalah saksi dari kebaikan Tuhan yang juga kita baca dalam Alkitab.

Teman, mungkin saat ini kamu merasa terbebani karena keadaanmu: Mengapa aku lebih buruk daripada yang lain dalam banyak hal? Mengapa aku tidak terlahir dengan kaya raya? Bagaimana aku bisa mewujudkan segala keinginanku kalau aku memulainya dengan sesuatu yang buruk?

Seiring aku bertumbuh dewasa, aku juga sering berkeluh kesah seperti itu. Namun, ada bacaan Alkitab yang menggerakkan dan mengingatkanku untuk tidak mengeluh tentang keadaanku:

“Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.” (1 Korintus 1:27-29)

Setiap kali aku membaca ayat ini, hatiku dipenuhi rasa syukur—aku pernah dianggap rendah oleh dunia, tetapi Tuhan telah menebus hidupku melalui kasih karunia-Nya. Bahkan sejak aku berada dalam rahim ibuku, Tuhan menjagaku. Dia punya rencana dan tujuan untuk hidupku.

Jadi, ketika kita mengandalkan Tuhan, meskipun kita memulai pertandingan hidup ini dalam keadaan yang buruk, kita dapat mengakhirinya dengan baik. Tapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak akan memiliki kesulitan dalam kehidupan kita. Jika hidupmu, seperti hidupku, dipenuhi kehancuran sejak awal dan kamu tidak ingin terus jatuh dalam pusaran tragedi, aku punya kabar baik untukmu—Tuhan dapat menebus hidupmu dan memenuhinya dengan harapan.

Jika ini adalah kerinduan hatimu, aku mengundangmu untuk berdoa seperti ini:

Tuhan,

Aku mengakui bahwa aku tidak dapat sepenuhnya mengontrol hidupku. Aku tidak dapat mengubah keadaan seperti latar belakang keluargaku. Tetapi aku tahu bahwa Engkaulah Tuhan yang sanggup menebus segala sesuatu.

Oleh karena itu, aku dengan rela menerima Engkau sebagai Tuhan dalam hidupku. Izinkan aku untuk mengalami perubahan yang berasal dari percaya kepada-Mu. Aku percaya, Engkau dapat menuntunku di jalan yang berbeda, karena Engkaulah pencipta yang memberikan makna dalam hidupku.

Tolonglah aku, agar aku tidak kehilangan diriku di tengah pengertian sukses menurut dunia dan pengakuan dari orang lain. Biarlah hidupku menjadi berharga dan bermakna karena persekutuan dengan-Mu. Amin!

Baca Juga:

Aku Menemukan Kepuasan di Tengah Keterbatasan Keuangan

Penghasilanku dan suamiku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Kadang kami merasa Tuhan tidak adil. Namun, seiring aku semakin mengenal-Nya, aku sadar bahwa harta terbesar yang seharusnya kumiliki bukanlah uang.

Nenekku dan Seorang Perempuan Nepal

Oleh Eugene Seah, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Nepali Lady And My Grandmother

Ketika kami duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di Nepal, temanku yang adalah seorang Nepal membagikan kabar Injil kepada seorang perempuan yang menyiapkan sarapan kami.

Perempuan itu menjawab, “Kalau dengan percaya kepada Tuhanmu aku bisa tidak bekerja, aku akan percaya!”

Bagaimana kamu merespons jawaban itu? Secara pribadi, waktu itu aku tidak bisa meresponsnya dengan jawaban yang tepat. Tapi sekarang, seiring aku mengingat kembali kesaksian nenekku, aku menemukan jawabannya.

Di dekade 1960-an, banyak orang Tionghoa di Singapura lebih memilih untuk punya anak lelaki daripada perempuan. Hasilnya, nenekku sering mendapat perlakuan kejam—secara fisik dan verbal—oleh ayah mertuanya karena dia tidak melahirkan anak laki-laki. Nenekku dikaruniai tiga anak perempuan. Mertuanya pernah meminta suami nenekku untuk mengambil istri lain. Untungnya dia menolak usulan itu. Saat nenekku mengandung anak keempat dan masih terus mengalami penyiksaan fisik, dia didesak oleh tetangganya untuk bunuh diri saja. Namun, dia menolak, dia tidak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Suatu ketika, saat dia sedang dalam perjalanan ke toko daging di mana suaminya bekerja, dia berpapasan dengan kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang Kristen. Dia bergumam, “Kalau Engkau Tuhan yang bisa menyelamatkanku dari segala sakit hatiku dan menjagai anak-anakku, aku akan percaya kepada-Mu!”

Sekarang, nenekku adalah ibu yang luar biasa dari enam anak (tiga anak perempuan dan kemudian dia dikaruniai tiga anak lelaki), dan sangat dicintai oleh hampir selusin cucunya.

Tuhan telah menempatkan harapan di dalam hatinya dan menopangnya melalui tahun-tahun penuh badai. Tuhan kita yang Mahabesar mendengar tangisnya dari surga dan menjawab (Mazmur 55:17)!

Sebagai tanggapan, nenekku menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Dia menceritakan pada Tuhan tentang perjuangannya dan bersyukur kepada Tuhan atas segalanya. Selain itu, dia juga melaksanakan Amanat Agung untuk mencari domba-domba yang hilang dengan membagikan Injil kepada saudara-saudarinya dan orang-orang lain yang belum percaya. Nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Kristus! Meskipun Nenek tidak bisa membaca, tapi Tuhan memakai dirinya untuk membawa banyak orang kepada keselamatan.

Nenekku sungguh-sungguh ingin memahami Alkitab lebih baik. Dia pun belajar bagaimana membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin dan mengikuti seminar-seminar rohani untuk belajar semakin mengenal Tuhan. Semangat nenekku itu membuatku merasa malu, sebab kurasa aku belum pernah sesemangat itu.

Tahun lalu, dia didiagnosis menderita kanker. Seharusnya dia merasa kecewa dan khawatir karena kabar itu. Tapi, keluargaku bisa melihat bahwa saat-saat sedih itu berlalu dengan cepat dan nenekku pun kembali bersukacita.

Seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Injil, kesetiaan Tuhan, dan kebaikan Tuhan, bahkan saat dia bergumul dengan kanker! Memang, Tuhan adalah Tuhan atas segala musim kehidupan kita, kita pun seharusnya menyembah-Nya dalam setiap musim kehidupan kita.

Kembali ke pertanyaan yang diberikan oleh seorang perempuan Nepal tadi, bagaimana aku menjawabnya sekarang?

Menjadi seorang pengikut Kristus tidak berarti bahwa kita bisa berhenti bekerja. Malah, akan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Namun, yang jadi pembedanya adalah sekarang kita bekerja dengan jaminan penuh bahwa semua ada dalam kendali Tuhan dan segala jerih payah kita tidak sia-sia.

Melalui kehidupan nenekku, aku melihat kebesaran dan kesetiaan Tuhan. Dia memberikan sukacita yang nyata kepada semua anak-anak-Nya. Kita juga bisa mendapatkan penghiburan dalam pengetahuan bahwa anak-anak-Nya akan menerima upah yang kekal, yang tidak akan rusak ataupun hilang (Wahyu 22:12).

Memang, penyakit dan kesulitan dapat membuat tubuh kita lelah. Namun sebagai anak-anak Tuhan, meskipun dari luar kita terlihat rapuh, tapi di dalam batin kita dibaharui dari hari ke hari. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Jika Tuhan berkehendak, aku berharap bisa kembali ke Nepal dan memberi tahu perempuan itu tentang kebaikan Tuhan kita. Kiranya kasih-Nya yang teguh dalam kehidupan nenekku, yang sedang berjuang untuk pulih, menjadi dorongan yang nyata untuk perempuan itu! Aku akan berbicara tentang kebaikan Tuhan di mana pun Dia menempatkanku. Ayo, kita bersama-sama menyatakan pujian kepada Tuhan ke manapun kita pergi.

Baca Juga:

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” firman ini menegurku yang merasa kecewa karena impianku masuk ke SMA favorit tidak terwujud. Melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi, aku belajar untuk memahami bahwa rancangan yang Tuhan beri padaku adalah yang terbaik.