Posts

Keluargaku di Bawah Bayang-bayang Maut

Oleh Monica Koesoemo, Bekasi

Jumat, 4 September 2020. Pagi itu aku bangun dalam keadaan badan kurang enak. Sekujur badan terasa sedikit linu dan lelah. Hingga Rabu, kulewatkan hari-hari dengan kondisi yang tidak kunjung fit. Ditambah kemudian aku mulai tidak bisa mencium atau merasakan apa-apa. Belum lagi kondisiku membaik, putriku mulai merasakan gejala yang sama. Khawatir dengan perkembangan yang semakin memburuk, kami memutuskan menjalani swab test . Sabtu, 12 September, dunia kami terasa runtuh. Tiga dari empat anggota keluargaku sama-sama menerima hasil tes di Sabtu malam itu. Kami positif terinfeksi Covid-19. Tak lama, anak lelakiku juga menjalani swab test. Hasilnya, ia juga positif terinfeksi virus yang telah merenggut banyak jiwa itu.

Dalam suasana hati yang kalut, secercah keberuntungan menghampiri: kami memperoleh kemudahan berupa kamar perawatan yang bisa dipakai berempat. Dengan menjalani perawatan bersama-sama, kami berharap bisa saling menyemangati sehingga bisa pulih lebih cepat. Namun, jujur, kondisiku di saat menulis kisah ini masih tak menentu. Reaksi pertama ketika mengetahui kami sekeluarga terkena Covid-19, aku marah dan syok.

Aku marah, karena merasa selama ini sudah sangat disiplin menjaga diri. Tidak pernah ke luar rumah yang tidak perlu sejak bulan Maret, menghindari ajakan teman untuk kumpul-kumpul, bekerja dari rumah, hanya ke luar untuk membeli kebutuhan pokok, tidak pergi ke mal, dan tidak bersosialisasi. Tapi, ternyata masih kena juga! Apalagi ditambah hasil CT scan paru-paru suami dan anak lelakiku menunjukkan adanya pneumonia. Meskipun secara klinis mereka baik-baik saja, namun ketidaktahuan kami tentang perjalanan penyakit ini membuatku didera kekhawatiran yang parah.

Aku gamang dan kehilangan optimisme. Padahal sehari-hari aku melayani di gereja, aktif memimpin jemaat, sesekali berkhotbah membawakan firman, dan pekerjaanku sehari-hari pun tidak pernah lepas dari firman Tuhan. Tapi mengapa saat aku dan keluarga mendapat cobaan berat ini, aku merasa semua firman yang pernah kubaca lenyap dari ingatan? Mengapa imanku mendadak rapuh? Mengapa aku merasa Tuhan tidak ada untuk menolongku?

Semua pesan firman Tuhan, tulisan-tulisan tentang kekuatan, pengharapan, sukacita, seolah tak ada kekuatannya. Hanya sekadar tulisan tak bermakna. Aku stres berat. Menit demi menit terasa berjalan lambat. Jantungku deg-degan setiap saat. Tangan dan kakiku dingin, berkeringat. Tensiku naik hingga 175 dan tidak turun-turun.

Di tengah kegalauan itu, aku teringat pada sebuah lagu yang menguatkan aku di saat anak perempuanku harus menjalani operasi usus buntu, sekitar enam tahun lalu. Lagu itu bertutur tentang Allah sebagai suara harapan, sauh bagi jiwa, yang sanggup menunjukkan jalan di saat tidak ada jalan. Allah yang adalah Raja Damai, yang menenangkan jiwa di tengah penderitaan. Segera kucari lagu itu di YouTube, dan kudengarkan sambil ikut menyanyikannya, sambil menangis dan mengangkat tangan, menyembah Tuhan. Kulakukan terus sambil berurai air mata. Di saat itu aku benar-benar merasa Tuhan ada di dekatku, memelukku, menenangkanku. Perlahan, kasih-Nya yang lembut itu menyusup masuk dalam hatiku, melingkupiku dengan damai sejahtera.

Setelah bisa tenang kembali, aku merasa Roh Kudus mulai berbicara dengan lembut dalam hatiku. Semua firman yang menguatkan kembali bermunculan dalam hatiku, meneguhkanku. Ya, aku tidak boleh takut! Aku harus percaya Tuhan memelihara hidup kami. Memang kami tidak tahu apa yang akan terjadi di depan, tetapi Tuhan menghendaki kita berserah saja pada-Nya, tidak memusingkan pikiran dengan hal-hal di luar kendali kami. Kami toh sudah berdoa, sudah memohon kesembuhan. Walaupun kami belum menerimanya saat ini, tapi kami harus percaya dengan iman bahwa kami sudah menerimanya (Markus 11:24).

Esok paginya, dalam sesi mezbah keluarga bersama-sama dari kamar isolasi, suamiku bersaksi bahwa tadi malam ia sulit tidur. Bukan apa-apa, tapi karena seakan suara Tuhan terus bergema di dalam hatinya, mengatakan kepadanya agar tidak takut. Tuhan juga terus memperdengarkan lagu-lagu pujian di dalam hatinya, sehingga sepanjang malam hatinya dipenuhi nyanyian sorgawi yang menguatkan:

“Engkau ada bersama-Ku di setiap musim hidupku. Tak pernah Kaubiarkan ku sendiri. Kekuatan di jiwaku adalah bersama-Mu. Tak pernah kuragukan kasih-Mu. Bersama-Mu Bapa, kulewati semua. Perkenanan-Mu yang teguhkan hatiku. Engkau yang bertindak, memberi pertolongan. Anugerah-Mu besar melimpah bagiku.” Suamiku juga menyampaikan pesan Tuhan untuk kami, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34.)

Momen ini menjadi luar biasa, karena setelah itu aku mengikuti persekutuan doa kelompok kecil dengan teman-teman kantor melalui video call, salah seorang di antara mereka meneguhkan pesan Tuhan tadi dengan memberikan ayat yang persis sama! Padahal, aku belum sempat bercerita apa-apa dengannya. Hal itu membuatku semakin yakin, bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, yang benar-benar ada bagi kita di setiap musim dalam hidup kita. Dia sanggup menjangkau hatiku yang galau lewat pesan yang sama yang Dia sampaikan kepada dua orang yang berbeda. Itu bukti bahwa Dia benar-benar memperhatikan keadaanku. Dia tahu aku sedang perlu dihibur dan dikuatkan.

Entah kapan kami sekeluarga bisa ke luar dari tempat ini. Mungkin masih lama. Mungkin juga sebentar lagi. Ke depan, mungkin akan ada hari-hari di mana aku akan merasakan ketakutan dan kekhawatiran lagi. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku harus kuat, tabah, sabar, dan berani! Aku harus mengimani bahwa di saat yang paling gelap sekalipun, Tuhan Yesus itu tetap dekat. Ia dekat dengan orang-orang yang patah hati, dan menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mazmur 34:18).

Kiranya Tuhan menguatkan kami, dan menguatkan teman-teman semua di luar sana yang saat ini masih harus berjuang menjalani hidup di tengah pandemi yang melanda. Tuhan menyertai kita semua. Tetap semangat!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berdoa dan Bekerja, Manakah yang Lebih Penting?

Kisah Marta dan Maria bukanlah tentang dua sikap yang bertentangan, tentang mana yang lebih penting: bekerja atau berdoa. Apa sejatinya makna kisah mereka buat kita?

Tuhanlah Sumber Kekuatan, Sebuah Surat Dariku yang Pernah Kehilangan

Oleh Nia Andrei, Sampit

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Tuhan Yesus, sekitar satu bulan yang lalu aku menuliskan kesaksian yang berjudul “Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu”. Di tulisan itu aku menceritakan momen-momen ketika Tuhan akhirnya memanggil pulang suamiku. Dan di tulisan ini, aku ingin bercerita kembali tentang kebaikan Tuhan, terkhusus setelah kehilangan berat yang kulalui.

Sebelum dan setelah menikah, aku dan suamiku melayani bersama-sama di gereja. Dia melayani sebagai pemain musik, sedangkan aku sebagai singer. Sempat beberapa kali kami mendapatkan jadwal pelayanan bersama. Sungguh suatu sukacita bisa melayani Tuhan dan jemaat-Nya di gereja. Walaupun saat itu kondisi suamiku telah sakit, dan dalam beberapa minggu sekali dia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk transfusi darah. Namun, dia tetap semangat untuk pelayanan musik di gereja.

Singkat cerita, ketika Tuhan akhirnya memanggilnya pulang, aku kembali mengingat pesan-pesan berharga yang pernah dia sampaikan kepadaku. “Jangan hidup dalam kekhawatiran, ada Tuhan yang pelihara.” Dia juga memintaku untuk jadi wanita yang kuat, bijak, dan mandiri. Aku tidak perlu menangis karena dia baik-baik saja. Aku sangat percaya bahwa sekarang dia baik-baik saja bersama Bapa di surga, sudah sehat dan tidak lagi merasakan penderitaan di dunia. Pesan-pesan itulah yang selalu kuingat sampai saat ini. Sampai pada saat kehilangan itu terjadi, aku tetap berkomitmen memberikan hidupku untuk melayani Tuhan walaupun tidak lagi bersama-sama dengan suamiku.

Aku melakukan aktivitasku seperti biasa: bekerja dan melayani di gereja. Aku minta kekuatan dari Tuhan sebab aku hanyalah manusia yang terbatas. Aku menyadari bahwa kematian itu pasti akan kita alami, namun di balik itu, aku menyadari pula bahwa kehidupan ini berharga bagi Tuhan. Kita bisa menjalani hari demi hari karena kasih dan penyertaan Tuhan. Kita percaya bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan.

Mungkin akan ada saatnya ketika kita tiba di satu titik, kita menyadari bahwa hari-hari yang kita jalani tanpa lagi ditemani oleh orang-orang yang kita cintai. Namun, karena kita punya iman kepada Yesus, kita mampu untuk melalui rasa kesepian dan kesendirian.

Berlarut-larut dalam rasa kehilangan, mungkin bagi sebagian kita itu membuat kita tidak lagi bersemangat, tidak nafsu makan, dan tidak berdaya. Namun, aku percaya bahwa Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:16-17 bahwa Dia menjanjikan Penghibur, Penolong, dan memberikan kita damai sejahtera untuk menjalani hari-hari di hidup kita. Tuhan Yesus juga mengingatkan dalam Yesaya 46:4 bahwa “sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu, Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Dalam satu buku yang kubaca berjudul Dear God-Season One karya Vonny Evelyn Jingga, terdapat ilustrasi percakapan seperti ini:

God : Kau kecewa pada-Ku karena semuanya Ku-ambil darimu?
Me : Tidak, Tuhan. Segala sesuatu boleh Kau ambil dariku. Asal jangan Kau tinggalkan aku.
God : Aku tahu sesungguhnya Aku tidak mengambil semuanya darimu. Ada satu yang Ku-tinggalkan untukmu.
Me : Apakah itu, Tuhan?
God : Hati-Ku.

Aku percaya, melalui tulisanku ini Tuhan hendak menunjukkan bahwa Dia berkuasa penuh dalam hidup kita, tetapi Dia juga ingin menyatakan kemuliaan-Nya di hidup kita. Dia ingin hidup kita menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Meskipun kita mengalami kehilangan yang pedih, kita bisa mempercayai hati-Nya.

Kiranya kehidupan kita sehari-hari dapat berdampak positif dan bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Bagaimana Usia 20-an Mengajariku Cara Pandang Baru untuk Menjalin Relasi

Di usia 20-an kita bukan lagi remaja. Relasi dengan orang-orang di sekitar kita perlu dibina dengan cara yang benar.

Kita Tak Bisa Memilih untuk Lahir di Keluarga Mana, Tapi Kita Bisa Memilih Berjalan Bersama-Nya

Oleh Gabriel Angelia, Malang

Hari ulang tahun bisa dimaknai beragam. Bagi yang diberkati dengan relasi yang erat, mungkin hari ulang tahun adalah momen berbahagia ketika kerabat dan sahabat saling memberi semangat. Tapi, bagi yang mungkin berasal dari keluarga broken home dan tak memiliki kawan karib, mungkin hari ulang tahun tak ubahnya hari biasa.

Tanggal 16 Juni lalu, usiaku tepat 20 tahun. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana aku merayakan hari jadiku bersama teman satu kelas di sekolah dulu, tahun ini terasa berbeda.

Empat tahun belakangan hubungan dalam keluargaku tidak baik. Tidak ada komunikasi di antara kami karena sifat ayahku yang semakin menjadi-jadi. Ayahku adalah seorang yang ringan tangan dan buruk dalam berkata-kata. Masalah-masalah sepele sering menjadi besar dan tak jarang ibuku yang malah disalahkan. Aku merasa berat tinggal di keluarga seperti ini. Meskipun keluargaku mengajakku makan bersama untuk merayakan ulang tahunku, tapi hatiku tak merasa senang. Aku kecewa lahir di keluarga seperti ini. Ucapan selamat dari teman-teman dan sahabat-sahabat pun rasanya hambar. Berat bagiku untuk mengatakan “terima kasih” pada mereka.

Karena kondisi keluargaku yang dirundung konflik, hampir setiap malam aku menangis. Aku merasa tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Aku pun merasa tak ada gunanya berbahagia di hari ulang tahunku. Tak ada gunanya orang lain datang ke rumahku dan mengucapkanku selamat. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak memberi tahu teman-temanku bahwa tanggal 16 Juni adalah hari ulang tahunku. Aku mengunggah foto di media sosial tapi aku tidak menunjukkan kalau aku berulang tahun, padahal biasanya sejak aku berumur 17 tahun aku selalu mengupload foto ulang tahun dengan tagar #17AndBlessed, #18AndBlessed, #19AndBlessed.

Namun, di tengah kesedihan itu, ada hal yang membuatku tersentak. Upayaku untuk menyembunyikan hari ulang tahunku ternyata tidak berhasil. Tahun ini adalah tahun keduaku berada di sekolah Teologi. Hari ulang tahun tiap mahasiswa dipajang di dinding kampus, bersamaan dengan informasi-informasi studi lainnya. Teman-temanku mengetahui hari ulang tahunku. Ucapan selamat pun berdatangan. Aku yang tadinya merasa getir akan hidupku, terkhusus hari ulang tahunku, menjadi terharu. Tuhan memberiku kejutan!

Memasuki usia yang baru dengan angka yang berbeda adalah penanda akan perjalanan hidup yang menarik, yang Tuhan persiapkan bagiku. Aku mungkin pernah merasa hari lahirku sebagai sebuah kekecewaan, hari yang tak berguna, tapi di hari itulah sejatinya Tuhan berkarya. Tuhan mengirimku untuk lahir di dunia ini, di keluarga yang dirundung konflik. Mungkin sekarang aku belum tahu apa maksud Tuhan dari semua ini, namun sekelumit kesan di hari ulang tahun ini mengingatkanku bahwa dalam perjalanan hidupku, aku disertai-Nya. Aku memang tak dapat memilih untuk dilahirkan di mana, tapi aku dapat memilih untuk menjalani hidupku bersama Tuhan.

Tahun demi tahun ada banyak naik turun yang kualami. Tak mudah tumbuh besar di keluarga yang tak baik, ditambah lagi dengan keadaan pandemi yang kita semua hadapi di tahun ini. Namun syukur kepada Tuhan, berjalan bersama-Nya membuat hari-hari yang sulit bisa dilalui.

Tahun ini, another new milestone telah Tuhan berikan untukku.

Teruntuk kamu yang mungkin merasakan hal yang sama denganku, kiranya Tuhan meneguhkan hatimu.

Baca Juga:

Luka Karena Patah Hati Adalah Sebuah Perjalanan yang Mendewasakanku

Setelah lahir baru aku merasa mudah untuk mengampuni orang lain. Selalu kukatakan pada diriku sendiri bahwa pengampunan yang Tuhan berikan memampukanku untuk mengampuni orang lain. Namun, sepertinya itu hanya teori yang memenuhi kepalaku saja, tidak hatiku.

Dari Danny, Aku Belajar Mengasihi Tanpa Syarat

Oleh Nerissa Archangely, Tangerang

Adikku bernama Danny, usianya 25 tahun. Dia anak yang istimewa dengan retardasi mental, tapi satu yang kuingat adalah dia selalu tersenyum apa pun yang terjadi. Saat bicara, pasti gigi-giginya akan terlihat. Walau sering dimarahi, atau kadang dipukul, dia tetap saja bisa tertawa. Rumah kami pun selalu ramai kalau ada Danny.

Namun, perubahan besar terjadi saat mamaku mendapat serangan stroke. Beliau lumpuh separuh badan dan sulit bicara. Kejadian itu terjadi di Februari 2020, beberapa hari sebelum Imlek. Papaku yang sangat syok dan depresi juga jadi sulit melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, tidur, dan sebagainya. Danny yang biasanya mendapatkan perhatian dan asuhan penuh dari kedua orang tua pun jadi terlantar. Akhirnya, kami sekeluarga berembuk dan dengan berat hati kami menitipkan Danny di sebuah panti rehabilitasi Bethesda yang dikelola oleh Ps. Irwan Silaban, MARS (Manajemen RS) di Bogor. Namun belum genap satu bulan, kami dihubungi panti untuk menjemput Danny di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi (RSMM). Alasannya, Danny sudah empat hari lebih tidak makan. Dia mengalami perburukan gizi, badannya lemas. Saat itu dia diinfus dan dipasangi selang untuk mensuplai makanan ke dalam tubuhnya.

Berbekal info tersebut, aku dan suamiku pergi ke sana untuk melihat Danny secara langsung. Keadaan Danny rupanya lebih buruk dari gambaran kami. Danny terbaring lemas sulit bergerak, tidak bisa bicara. Tawanya kini berganti dengan erangan tertahan, terlebih ada memar-memar di sekujur tubuhnya. Bahkan, didapati ada kerusakan fungsi liver. Kami putuskan untuk merawat Danny sementara di sini sampai fisiknya pulih. Saat itu, virus Covid-19 sudah menyebar di Indonesia dan RSMM pun sempat menerima pasien suspect corona. Hingga tanggal 10 April 2020, Danny diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena intake (kebutuhan gizi) dan fungsi organ vital lainnya sudah stabil.

Karena kondisi orang tua yang tidak memungkinkan lagi untuk merawat Danny, maka aku dan suamiku sepakat untuk merawat Danny di rumah kami. Sangat tidak mudah awalnya, karena kami memang bukan tenaga ahli seperti perawat khusus orang sakit atau homecare. Di tahun ketiga pernikahan kami, di saat kami mengharapkan adanya bayi di tengah keluarga kecil kami, kami seolah-olah mendapatkan ‘bayi besar’ yang setiap hari harus diberi susu, diganti popoknya, dimandikan, dijemur, dan sebagainya. Tapi, anugerah Tuhan tak pernah habis. Aku belajar banyak dari perawat di rumah sakit hingga aku bisa memasang selang NGT sendiri, memandikan di tempat tidur, membersihkan mulut dengan kasa, mengganti popok dengan benar, dan lainnya. Aku juga bersyukur suamiku siap sedia untuk membantu, walau memang awalnya kami jadi sering bertengkar karena selain kesulitan merawat Danny, kami juga khawatir terhadap kedua orang tua kami yang rapuh di tengah masa pandemi. Orangtuaku dirawat oleh adik lelakiku di Tangerang. Bukan hanya kami lelah secara fisik, namun kami juga dirundung oleh beban mental yang besar: khawatir akan kesehatan orang tua dan apakah adikku sanggup merawat mereka seorang diri. Bahkan ada masa-masa di mana aku merasa sangat tertekan hingga tak bisa melihat Allah dan rasanya ingin mati saja. Tapi, dengan segala cara yang ajaib, Tuhan tetap merengkuhku kembali.

Saat dirawat di RSMM itu memang ada indikasi pendarahan di otak Danny serta cedera lainnya, namun kami tak pernah menyangka bahwa bahu kanan Danny ternyata mengalami dislokasi dan open fracture. Hingga sekitar akhir April, kami perhatikan ada memar di bahu kanannya yang berujung pada pembengkakan dan sepsis (nanah yang sudah menginfeksi seluruh tubuh) pada 2 Mei 2020. Kami segera membawa Danny ke RS Medika BSD untuk mendapat penanganan pertama. Diperlukan ICU untuk operasi, tapi tak ada tempat tersedia di sana. Terpaksa kami harus menunggu 3 hari untuk mendapat rujukan. Tak hanya itu, kami juga dihadapkan dengan fakta lain. Danny sempat melalui rapid test Covid-19 dan CT-Scan paru-paru. Hasil CT-Scan menunjukan ground-glass opacification/opacity (GGO), sebuah indikasi kuat dari infeksi Covid-19. Kami menghubungi seluruh rumah sakit di Jakarta dan sekitarnya, namun semuanya menolak karena alasan suspect infeksi Covid-19 dan kompleksnya kondisi Danny (ada open fracture bahu, sepsis, dan anak kebutuhan khusus). Pihak RS Medika menyarankan kami untuk membawa Danny langsung ke RSUP Fatmawati yang punya fasilitas lebih lengkap.

Tanggal 5 Mei 2020, akhirnya Danny dibawa ke IGD RSUP Fatmawati sendiri—tanpa ambulans—dan sungguh karena anugerah Tuhan, dia bisa mendapatkan ruang ICU besoknya. Sebelumnya, Danny membutuhkan darah karena sel darah putihnya semakin meningkat akibat infeksi. Ini membuat sel darah merahnya sangat kurang, sehingga sangat berisiko jika dia dioperasi tanpa ada transfusi darah. Awalnya kami ragu akan dapat donor dengan cepat, terlebih karena stok di PMI pusat pun kosong. Pandemi Covid-19 membuat banyak orang enggan mendonorkan darah. Tetapi jalan Tuhan tidak pernah buntu. Lewat pesan broadcast di Twitter, Instagram dan WhatsApp grup serta dibantu oleh rekan-rekanku sewaktu di PMK POMITI dulu, akhirnya kami bisa mendapatkan donor yang diperlukan. Pihak RS membutuhkan minimal 3 orang sebagai pendonor tapi Tuhan yang Maha Pemurah menyediakan sampai 4 orang. Tuhan seolah ingin menyampaikan bahwa rencana-Nya untuk Danny masih belum usai.

Tuhan terlebih-lebih menyayangi Danny. Tuhan memanggil Danny pulang pada 8 Mei 2020 jam 7 pagi. Sekarang Danny tidak lagi merasakan sakit dan sesak. Danny bisa tertawa lagi bersama Bapa di Surga.

Pemakaman Danny sungguh sepi. Tiada musik, tiada karangan bunga, tiada arak-arakan, bahkan kami pun tak sempat memberikan penghormatan terakhir. Tapi kami yakin Allah Bapa telah menyiapkan pesta meriah untuk kepulangannya. Mungkin dunia menolak Danny, tapi tangan Bapa terbuka lebar menyambut Danny.

Awalnya aku bertanya-tanya apa tujuan Tuhan menjadikan Danny hadir di dunia ini? Mengapa Tuhan izinkan Danny ‘berbeda’?

Kini aku mengerti. Lewat Danny, Tuhan mengajariku untuk bisa mengasihi tanpa syarat, kepada siapa pun, sesulit apa pun situasinya. Hidup Danny walau singkat, memberiku kesan mendalam. Aku tak akan pernah lupa pelajaran hidup dari adikku yang istimewa ini.

Aku pribadi amat bersyukur atas setiap hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku. Bahkan sampai saat ini pun aku merasa aku orang yang amat beruntung. Di tengah situasi yang luar biasa sulit, Tuhan yang penuh kuasa memberikan orang-orang yang luar biasa pula, yang dipakai-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.

Suamiku, Indra, dia sosok yang sabar mendampingiku. Dia mendukungku di masa-masa terkelamku, tetap mengasihiku dalam kondisi apa pun. Sungguh aku amat beruntung dikasihi dan memilikinya sebagai teman hidupku.

Mertuaku sekeluarga, juga sangat luar biasa mendukung kami secara fisik maupun mental. Aku tahu dari mana kebaikan suamiku berasal. Papa dan mama mertuaku sungguh istimewa, betapa aku beruntung dan bersyukur bisa memanggil mereka ‘papa’ dan ‘mama’.

Keluarga kecilku di guru-guru sekolah Minggu GKY BSD, Laoshi Wiwi sebagai pembina dan secara khusus partner-ku di kelas 2 siang, kalian sungguh luar biasa. Sungguh ucapan terima kasihku rasanya tak cukup membalas setiap chat, telepon, dukungan dana, dan bahan pangan sehari-hari, serta setiap bentuk perhatian yang dicurahkan. Kehadiran mereka ibarat lilin-lilin kecil yang menerangi hatiku yang gelap dan lembab di tengah keterpurukan.

Juga kelompok kecilku sejak di PMK kampus. Meskipun kami hanya berlima, tapi berdampak besar. Meski kami berjauhan, tapi Tuhan selalu mendekatkan hati kami.

Bahkan, Tuhan juga memakai mereka yang belum percaya, dan juga orang-orang yang baru kukenal via media sosial, yang bermurah hati untuk membantu dari segi dana dan siap menjadi pendonor bagi Danny. Betapa Tuhan juga bermurah padaku dengan mengaruniakan seorang atasan yang peduli, penuh pengertian serta suportif terhadap kondisi yang aku alami, sehingga tanggung jawab pekerjaanku dilonggarkan ketika sedang merawat Danny.

Aku tahu kondisi Covid-19 tidak bisa dianggap remeh, tapi aku tahu Tuhan kita Yesus Kristus jauh lebih hebat daripada virus itu. Di atas segala-galanya, Dialah tabib segala tabib yang mampu menyelamatkan bukan hanya fisik, namun jiwa kita pun sanggup Dia selamatkan.

Ayub 1:21 berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengajarku Melalui Anakku yang Cacat Mental

Vonis dokter bahwa Sharon adalah anak cacat membuatku terkejut. Aku termenung sejenak, mengapa ini semua harus terjadi? Di tengah perenungan itu, aku mengingat bahwa bagaimanapun juga, Sharon adalah anak yang kulahirkan sendiri. Penyakit ini datang bukan karena kesalahan Sharon. Oleh karena itu, tak peduli apapun keadaannya, aku berjanji untuk selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.

Cerpen: Mamaku Terkena Stroke Tiba-tiba

Oleh Eka Arapenta Ginting, Medan

Pagi hari itu, Jumat, 8 Agustus 2014, aku terbangun dari tempat tidurku. Aku terkejut melihat mamaku tergeletak di ambal dan sedang diurut oleh ahli urut. Di samping mamaku, ada papa dan kakak.

“Mama kenapa, Pa?” aku bertanya.

“Mama kena stroke. Tangan dan kaki kirinya tidak bisa digerakkan,” jawab papaku.

Jawaban itu menyakitkan hatiku. Air mataku tak terbendung. Aku pergi ke kamar dan menangis tersedu. Hari itu aku harus masuk sekolah, tapi rasanya aku ingin bolos saja. Aku mengambil handuk lalu mandi, tapi di kamar mandi pun aku masih menangis. Seusai mandi, aku pergi ke kamar, mengganti bajuku, dan aku pun berdoa, “Tuhan, aku tidak percaya kalau mama terkena stroke. Sembuhkanlah mama, amin.”

Sesampainya di sekolah, hari itu ada kegiatan olahraga senam. Aku tidak serius mengikuti tiap gerakannya. Lalu di jam-jam setelahnya pun aku banyak diam sampai sahabatku heran dan bertanya, “Eka, kamu kenapa?” Pertanyaan itu tidak kujawab.

Waktu terasa berjalan lama, aku ingin segera pulang. Setelah jam pelajaran usai, aku mengirim sms ke kakakku. “Kak, bagaimana keadaan mama?”

“Sekarang mama lagi dirawat di IGD RS Adam Malik.”

Aku langsung pergi ke rumah sakit. Temanku bersedia mengantarku naik motor, tapi sesampainya di rumah sakit, dia langsung pulang ke rumahnya. Aku segera menjumpai mamaku di IGD.

Di situ aku mau menangis lagi, tapi mamaku bilang, “Jangan nangis, Ka. Tuhan pasti akan memberi jalan.”

Aku memberikan sedikit kataku untuk menyemangati mama, “Ma, kami bertiga belum sukses, Ma. Masa mama sakit? Mama harus bisa sembuh. Apalagi kakak dan abang bentar lagi wisuda, Ma.”

Mama cuma diam dan merenung saja. Sementara itu, kawan mama dan abangnya mengurus semua administrasi di rumah sakit. Aku berterima kasih karena ada orang-orang yang mempedulikan mama. Aku juga bersyukur kepada Tuhan karena seluruh biaya opname dan pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh BPJS.

Kepada kawan mamaku, aku bertanya, “Kok mama bisa kena stroke?”

“Karena mamamu tensinya sampai 200, ditambah lagi jantungnya bengkak. Karena tensinya tinggi, pembuluh darahnya yang di otak mengalami pendarahan.”

Lagi-lagi air mataku ingin menetes, tapi aku berusaha sebisa mungkin menahannya. Waktu tak terasa sudah pukul 16:00, barulah mamaku mendapatkan ruangan opname, di lantai 2. Sekali lagi aku bersyukur karena mamaku mendapatkan ruang menginap dan tidak perlu menunggu sampai besok pagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21:00. Aku pamit kepada mama, bapak, dan kakakku. Abang saudaraku mengantarku pulang. Tapi sesampainya di rumah, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan mama.

Aku berdoa pada Tuhan, “Tuhan, kenapa mamaku bisa terkena stroke ya Tuhan. Ampunilah dosa mama dan keluarga kami ya Tuhan, karena Engkaulah Allah yang paling berkuasa di dunia ini ya Tuhan! Amin.”

Setelah itu kudengarkan lagu rohani dan air mata kembali mengalir deras sampai aku tertidur.

* * *

Sudah dua hari mamaku dirawat di ruang Rindu A lantai 2. Mamaku tidak bisa tidur karena di ruangan itu ada 8 orang. Siang harinya, mama pindah ke lantai 3. Kali ini ruangannya kelas VIP, mama bisa tidur karena di ruangan itu hanya ada dua orang yang dirawat.

Setiap pulang sekolah aku selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk mama. Setiap malam juga aku terus berdoa pada Tuhan dan air mataku selalu mengalir. Hati ini tak bisa menahan perasaan yang menyedihkan.

Puji Tuhan, setelah 6 tahun mama sakit, Tuhan menyembuhkan mama perlahan demi perlahan. Namun, mama masih sering sesak nafas dan harus diopname di rumah sakit karena pasca stroke mama mengalami komplikasi penyakit lainnya.

Hikmah yang aku dapatkan melalui peristiwa ini adalah Tuhan tetap peduli kepadaku dan menjadikanku alat untuk menyatakan kemuliaan-Nya lewat tulisan singkatku ini.

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Roma 15:13).

Baca Juga:

Buatlah Pilihan untuk Melakukan Perkara Surgawi

Di dalam mengambil sebuah pilihan, apa pun itu, ingatlah bahwa semuanya memiliki dampak yang signifikan dalam hidup kita, cepat atau lambat. Itu sebabnya sebagai seorang anak Tuhan berhati-hatilah dalam memilih.

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

Tuhan Memampukanku Menyatakan Kasih Kepada Orang Yang Paling Sulit Kukasihi

Oleh Vika Vernanda, Jakarta

Tanggal 14 Februari kemarin, linimasa Instagramku penuh dengan foto coklat dan ucapan selamat hari kasih sayang. Teman-temanku merayakan hari itu bukan cuma dengan kekasih, ada pula yang bersama keluarga dan rekan-rekan terdekatnya. Namun bagiku, hari kasih sayang tidaklah spesial. Aku melakukan rutinitas mengajarku seperti biasa tanpa memberi atau menerima coklat.

Sekitar jam makan siang, muncul notifikasi di ponselku. Ada pesan dari ayahku. Dia memintaku untuk video call. Seorang ayah yang menelepon anaknya bukanlah kisah luar biasa bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Aku tidak lagi bertemu ayahku sejak aku berusia tiga tahun.

Ayahku meninggalkan keluargaku. Sejak saat itu, aku tinggal bersama keluarga ibuku yang karena tindakan ayahku, jadi amat membencinya. Aku dilarang berkomunikasi dengannya. Keluarga ibuku pun terus menjelek-jelekkan ayahku di depanku. Tak terhitung berapa banyak hal buruk yang diceritakan padaku. Lama-kelamaan, aku tumbuh menjadi pribadi yang punya konsep bahwa ayahku jahat. Tanpa perlu dilarang pun, aku jadi tidak ingin berkomunikasi dengannya. Pernah ketika aku SMA, ayahku mengirimiku friend request di media sosial. Yang kulakukan adalah memblokir akunnya, tapi ayahku tidak berhenti. Dia membuat tiga akun baru dan terus mengirimiku permintaan pertemanan dan responsku tetap sama: aku memblokirnya.

Kakak pembimbing rohaniku tahu akan pergumulanku ini. Dia lalu menyarankanku untuk membuka blokirnya dan memberi kesempatan buat ayahku bicara denganku. Siapa tahu ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Kuikuti saran itu. Ayahku sering mengirimiku pesan, tapi aku sangat jarang membalasnya. Beberapa kali dia meminta video call, tapi tidak juga kurespons hingga tiba hari itu. Aku mengiyakan permintaannya untuk video call.

Untuk pertama kalinya setelah 18 tahun, aku bicara dengan ayahku. Aku menatap wajahnya dari layar ponselku. Dia bicara banyak hal dan mengajukan beberapa pertanyaan. Satu kalimat yang kuingat dari percakapan itu adalah, “Aku [ayah] rindu kamu.” Aku tidak tahu harus merespons apa. Aku terdiam dengan air mata menetes. Ayahku juga menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kujawab dengan diam. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kusampaikan kepada orang yang sudah meninggalkanku selama itu. Percakapan itu kemudian ditutup dengan lambaian tangan.

Aku tidak menyangka apa yang baru saja terjadi itu. Aku bersedia melakukan video call dengan ayahku dan menjawab berbagai pertanyaannya. Aku mempertanyakan diriku sendiri bagaimana aku bisa melakukan ini.

Aku mengingat saat teduh hari itu. Firman yang kubaca diambil dari Mazmur 16, yang mengingatkan kembali tentang kebaikan Allah apa pun kondisinya. Tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah adalah alasan yang masuk akal untuk berpendapat bahwa Tuhan itu tidak baik. Namun, kebenarannya tidak seperti itu. Benar memang aku tidak merasakan kasih seorang ayah, namun ada Ayah sejati yang mengasihiku. Ada Ayah yang mengasihiku bahkan di tengah ketidaklayakanku. Allah yang tetap baik meski semuanya terasa berat.

Aku membuka hatiku untuk menerima ajakan bicara ayahku adalah anugerah Allah, dan aku amat bersyukur kepada-Nya, Ayah sejatiku. Allahlah yang memberiku kekuatan untuk menyatakan kasihku kepada orang yang sangat sulit kukasihi.

Meski belum banyak pernyataan kasih yang bisa kuberikan kepada ayahku, aku bersyukur kepada Allah karena Dia memberiku kesempatan itu. Kupikir inilah hal yang Allah ingin aku lakukan di hari kasih sayang, yaitu menyatakan kasih sayangku kepada orang yang amat sulit kukasihi. Dan, kupikir ini jugalah yang Dia mau kita terus lakukan sebagai anak-anak-Nya, karena kasih-Nya yang besar sudah dinyatakan bagi kita.

Aku berdoa kiranya Tuhan terus memampukanku mengampuni ayahku dan mau berjuang menyatakan kasih kepadanya, sebagaimana Tuhan yang terus menyatakan kasih-Nya padaku.

Baca Juga:

Apa yang Terjadi Jika Kita Lupa Berdoa?

Ternyata aku mempercayai beberapa mitos tentang doa. Kepercayaanku akan mitos-mitos itu menunjukkan bahwa aku salah dalam memahami Tuhan. Lalu, apa sih yang akan terjadi jika kita tidak berdoa?

Ditelantarkan… Tapi Tidak Dilupakan

Oleh Ryan Zies
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Abandoned But Not Forgotten

Bagaimana jika… seseorang tidak memedulikanmu lagi?

Bagaimana jika seseorang meninggalkanmu?

Bagaimana jika seseorang tidak mengakuimu?

Bagaimana jika ibu yang melahirkanmu menghilang tanpa jejak dari hidupmu?

Ditelantarkan.

Aku berkata jujur, aku pernah amat bergumul dengan kata di atas. Itu adalah kata yang tertulis dengan jelas di akta kelahirkanku. Kata “ditelantarkan” itu didefinisikan sebagai, “Dibiarkan tanpa perlindungan, perawatan, atau dukukungan yang diperlukan. Ditinggal oleh pemilik, tidak lagi diingat.”

Kisah ini sungguh terjadi dalam hidupku, tapi kupikir bagian yang paling berat kuterima adalah di tulisan “tidak lagi diingat”… Tidak lagi diingat? Aduh! Itu meninggalkan luka mendalam di hidupku.

Dapatkah kamu membayangkan, seorang ibu yang mengandung bayi selama sembilan bulan, melahirkan bayi itu dengan operasi sesar, lalu tidak pernah terpikirkan lagi akan bayinya? Sulit bagiku untuk percaya bahwa ibuku tidak pernah lagi memikirkanku sejak 13 November 1984. Tetapi, aku yakin bahwa ibuku sebenarnya memikirkanku, juga keputusan yang dia buat.

Namun, kisah hidupku dimulai dari “ditelantarkan”. Inilah bagian dari hidupku, tetapi itu bukanlah akhir hidupku. Aku ditinggalkan di sebuah klinik di kota Seoul, Korea Selatan pada 13 November 1984 hanyalah setitik dari keseluruhan cerita yang Tuhan telah rancangkan bahkan sebelum aku mulai bernafas.

Akta kelahiran asli Ryan Zei (Foto oleh Ryan Zei)

Pilihan yang sulit untuk hidup

Di Seoul, Korea Selatan waktu itu, aborsi secara budaya dapat diterima. Ada lebih dari 500 ribu praktik aborsi dan 650 ribu kelahiran. Artinya, setiap kali seorang anak dikandung, anak itu haya punya 57 persen kemungkinan dilahirkan. Aku selamat dari 43 persen yang malang.

13 November 1984, ibuku melahirkanku di sebuah klinik di luar kota Seoul. Dia menelantarkanku di sana tanpa meninggalkan rekam jejak apapun akan siapa dirinya. Dokumen resmi dari rumah sakit menatakan, “Setelah ibu kandung melahirkan di klinik yang disebutkan di atas (Klinik Dongin), dia menutupi jejaknya. Pihak klinik mencoba mengontaknya, tetapi dia menghilang tanpa jejak.”

Aku pun kemudian menanti untuk diadopsi.

Perjalanan pulang yang panjang

Tetapi, sebelum kisahku dimulai, di belahan bumi yang lain, di sebuah kota kecil di pinggiran Chicago, Tuhan telah merenda kisah hidupku.

Jeff dan Sally menikah di usia 18 dan 20. Bertahun-tahun mereka menanti kehadiran buah hati, tetapi tidak berhasil. Suatu ketika, Sally mendengar seorang rekan kerjanya berbicara tentang adopsi, mereka lalu menemukan Bethany Christian Services di kota Chicago. Keluarga mereka menyarankan untuk tidak mengadopsi bayi dari ras yang berbeda, tapi mereka tetap bersedia jika nantinya mendapatkan bayi yang berbeda ras. Ketika mereka mengajukan surat-surat dan melengkapi dokumen permohonan adopsi, di belahan bumi yang lain, aku dikandung dalam rahim ibu kandungku. Tuhan tahu aku kelak akan menjadi putra dari Jeff dan Sally, dan Dia merenda jalan hidupku.

Di hari Valentine, 14 Februari 1985, aku terbang dari Korea Selatan ke Amerika Serikat. Usiaku waktu itu baru 3 bulan. Proses selanjutnya tidaklah sulit. Yayasan Bethany Christian Services dan Holt International menempatkanku dan bayi-bayi lainnya di pesawat dan menandai kami dengan dua gelang—satu gelang berisi informasi rumah sakit, satunya lagi nama orang tua angkat. Kami terbang selama kurang lebih 13 jam dan dirawat oleh pramugari.

Ketika pesawat mendarat di Chicago, ibu angkatku dan empat ibu lainnya naik ke pesawat untuk menemukan bayi mana yang di gelangnya tertulis nama mereka dan mereka pun bertemu anak-anak mereka untuk pertama kalinya.

Ibuku selalu berkata bahwa akulah kado valentine terbesar yang pernah dia terima. Setiap tahun dia masih menuliskan surat buatku dan mengirimiku hadiah untuk merayakan “Hari Kepulanganku”. Kisah adopsiku sungguh luar biasa dan indah, tetapi itu mengarahkanku pada kisah yang jauh lebih besar—kisah tentang kasih dan tujuan yang lebih besar.

Jeff dan Sally bersama Ryan yang masih bayi (Foto oleh Ryan Zies)

Tangan yang menopang kita semua

Aku menyadari bahwa di dalam hidup ini, Tuhan kita memiliki tujuan untuk tiap anak-anak-Nya. Tuhan melindungiku ketika aku dikandung dan bertumbuh dalam rahim ibuku.

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagin bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Kisah di balik mengapa dan bagaimana ibuku mengandungku mungkin tak akan pernah kuketahui. Tetapi, apa yang akan selalu diketahui adalah bagaimana Tuhan menopang hidupku. Tuhan mengaruniakan keberanian pada ibu kandungku untuk melindungi dan menyelamatkanku di saat aku bisa saja diaborsi. Di dalam kedaulatan Allah, ibuku berjuang mengandungku sembilan bulan, merasakan sakit, gejolak emosi, kepedihan psikologis, hingga pertengkaran fisik untuk membiarkanku tetap lahir ke dunia. Ketidakmampuannya untuk merawatku kelak setelah aku lahir mendorongnya untuk menyerahkanku pada pilihan adopsi.

Ibu kandungku memberiku kesempatan untuk mengecap kehidupan yang lebih baik.

Singkat cerita, kisah hidupku bisa saja hanya berkutat tentang ditelantarkan di sebuah klinik di Korea Selatan. Tetapi, aku ditelantarkan untuk alasan yang lebih besar. Aku ditelantarkan untuk memenuhi tujuan Tuhan dalam hidupku. Matius 22:37 menunjukkan apa yang menjadi tujuan kita, di mana Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Keadaan hidup kita mungkin penuh dengan harapan yang tidak terwujud, duka, perjuangan, dan kesakitan. Tetapi, Tuhan mampu mengendalikannya dan merangkai cerita yang indah darinya. Tuhan merangkai kisah tentang aku dipilih-Nya dan menjadi kepunyaan-Nya. Tuhan mengizinkanku hidup dalam kemerdekaan karena mengetahui Dia dapat menggunakan segala keadaan sebagai cara untuk membawa kehidupan dan menunjukkan tujuan-Nya. Seiring aku menjalani hidupku sekarang, aku ingat bahwa aku dibentuk dengan “unik dan ajaib” untuk tujuan yang jelas di bumi ini. Setiap hal yang kualami hanyalah bagian dari perjalanan untuk mencapai tujuan itu, dan aku percaya Tuhan akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini, kumohon ketahuilah kebenaran ini: Dunia ini akan mencoba memberitahumu siapakah dirimu. Kamu mungkin tergoda untuk melihat keadaanmu dan pengalaman-pengalamanmu untuk mencari tahu apa yang harus kamu percayai atau bagaimana seharusnya kamu hidup.

Tapi, aku mau kamu tahu bahwa Tuhan melihatmu. Kamu tidak sendirian. Dia telah mengenalmu jauh sebelum kehidupanmu dimulai. Keadaan yang kamu alami akan mengarahkanmu untuk meletakkan pandanganmu pada Dia yang menopangmu dalam tangan-Nya. Ketika kamu sungguh percaya pada Bapa Surgawi, tidak ada yang bisa menanggalkan identitas sejatimu. Kamu dikasihi. Kamu berharga. Kamu anak-Nya. Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Dia ada di sisimu di setiap saat hidupmu, dan itulah dirimu.

Tonton kisah adopsi Ryan secara lengkap di sini.

Lihat juga website pribadi Ryan, “Destined & Purposeful”, untuk mengetahui kisah-kisah lanjutan tentang ditelantarkan dan adopsi.

Baca Juga:

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Ketika kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku stres dan khawatir. Bagaimana aku bisa mencukupi kebutuhkan keluargaku? Tapi, lewat momen ini Tuhan mengajariku untuk memaknai pekerjaan dengan cara pandang yang lain.

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Oleh Dian, Surabaya

Aku bekerja sebagai guru. Di bulan April 2019, aku mendapatkan keputusan dari atasanku bahwa kontrak kerjaku tidak dilanjutkan lagi. Berita yang membuatku hopeless dan cukup gelisah. Teman-temanku yang mengetahui kabar ini pun sempat tidak percaya dan menyarankanku untuk bertanya lagi. Tetapi, nyatanya memang keputusan itu tidak bisa dibatalkan. Ada teman juga yang memberikan beberapa informasi lowongan pekerjaan untukku. Beberapa lowongan sudah aku daftarkan dan tak kunjung dapat balasan juga.

Hari demi hari, beberapa teman bersimpati atas kejadian ini. Tapi tak jarang, aku bilang ke teman-temanku, “Tidak apa-apa, aku bisa cari pekerjaan lain”. Tapi itu hanya ketenangan semu untuk menutupi kekecewaanku. Apalagi, kondisiku bukanlah seorang bujang, yang bekerja untuk diri sendiri. Aku punya istri yang sedang mengandung. Tentu masalah finansial memenuhi pemikiranku. Meskipun aku hafal ayat 1 Petrus 5:7 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara yang kamu”, namun tetap saja itu tidak mampu membuat tidurku nyenyak. Apakah aku tidak bisa mengimani ayat ini? Aku juga tidak bisa menjawabnya, karena kenyataannya aku susah untuk tidur atas kekhawatiranku ini. Di sisi lain ayat ini mengatakan Tuhan akan memelihara hidupku.

Selama bekerja memang aku nampak cuek di sekitarku, aku hanya berpikir apa yang bisa kukerjakan dan tidak memikirkan yang lain. Aku juga tidak berpikir terhadap penilaian orang terhadap pekerjaanku dan apa yang kulakukan. Selama siswaku mengerti dan memahami tujuanku mengajar, itu sudah cukup. Tapi bagi atasanku itu tidak cukup untuk melanjutkan karierku bekerja di situ. Di sisi lain, beliau mungkin memiliki pertimbangan yang tidak bisa aku prediksi. Aku menghargai itu, tetapi aku cukup sulit menerima konsekuensi dari keputusannya, karena penghasilanku akan berkurang. Dengan kondisiku sekarang, aku sudah menghitung detail bahwa kemampuan finansialku tidak mampu memenuhi kebutuhan persalinan istriku dan biaya setelahnya.

Lantas apa solusinya? Utang.

Aku memikirkan kata itu untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku, tetapi istriku menolaknya. Ia mengingatkan bahwa kami harus menghindari utang, karena itu akan memberatkan kami dalam melunasinya. Ia selalu memintaku untuk apply pekerjaan. Aku bilang kepadanya, “mending aku kerja jadi marketing aja ya? Gak apa-apa tekanan tinggi, tetapi setidaknya bisa mengejar target finansial kita.”

Ia pun tidak mengizinkan, karena itu bukan background-ku dan kesenanganku. “Percuma kalau kamu bekerja cuma targetnya finansial”, katanya.

“Coba dulu kamu masukkan lamaran di beberapa sekolah,” tambahnya.

Bulan Juli 2019

Bulan ini ada sebuah kelegaan bagiku karena aku mendapatkan pekerjaan baru. Aku bekerja di salah satu sekolah swasta di Surabaya, meskipun sekolah ini hanya memberikan masa orientasi kerja selama 3 bulan. Ini pun membuatku berpikir, “Ternyata Tuhan masih memperhatikanku, meskipun aku sulit menaruhkan kekhawatiranku kepada-Nya”.

Apakah kekhawatiranku sudah hilang? Tidak. Aku masih khawatir apakah aku mendapatkan kesempatan bekerja setelah masa orientasi. Kekhawatiran ini membuatku sangat berhati-hati dalam bekerja. Aku mengusahakan tidak cuek terhadap orang lain, mencoba mencari tahu penilaian orang terhadapku itu seperti apa. Sehingga, secara tidak sadar aku membuat image sesuai apa yang diinginkan oleh rekan kerja, terutama atasan. Berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya, yang tidak memedulikan omongan orang lain.

Aku bertanya kepada partner kerjaku, “Apa kriteria atau syarat supaya kontrak kerjanya lanjut di sini?”

“Ngapain dipikirkan, Pak. Yang penting kerja bener, untuk urusan dilanjut atau enggak. Itu gak usah dipikir. Aku dulu seperti itu,” Jawabnya.

Jawabannya menamparku sejenak. Jawabannya mengingatkanku bahwa aku bekerja bukan untuk dilihat oleh orang lain baik, tapi bagaimana memberi pengaruh baik. Jelas, aku sudah kehilangan esensi dan visi dalam bekerja. Aku sudah takut kehilangan pekerjaanku, bahkan hidup matiku seakan-akan hanya bergantung kepada pekerjaanku itu. Meskipun aku bisa beralasan bahwa itu untuk memenuhi kebutuhan istriku dan kelahiran anakku. Itu nampaknya bukan diinginkan Tuhan yang telah memberikan dan mempercayakan pekerjaan itu kepadaku. Pikiranku melintir menjadi 180 derajat, dari “apa yang bisa kuberikan dari pekerjaan” menjadi “apa yang bisa kudapatkan dari pekerjaanku”.

Ternyata orang bekerja itu ibarat seorang atlet yang bertanding. Meskipun ribuan penonton memberikan ejekan, hinaan, pujian, semangat atau komentar lain terhadap atlet yang bertanding, atlet yang baik pasti tidak terpengaruh oleh seluruh komentar penonton melainkan fokus pada tujuan dalam pertandingan, yaitu menang dengan sportif, respect dan penuh semangat. Walapun atlet itu mengalami kekalahan, ia pasti akan berlatih lebih keras lagi untuk mencapai tujuan kemenangan tersebut. Begitu juga pekerja yang baik adalah pekerja yang tidak terpengaruh oleh penilaian orang lain, melainkan menjaga fokus terhadap tujuan dalam pekerjaan. Apalagi tujuan yang ia bawa sejalan dengan tujuan Tuhan. Aku pun masih mengusahakannya, meskipun jatuh bangun dan rasa kecewa serta was-was masih aku rasakan. Tapi setidaknya aku mencoba belajar menjadi atlet yang baik. Jika masih kalah aku untuk melatihnya lagi.

Baca Juga:

Setelah Jarrid Wilson Bunuh Diri: Ke Mana Kita Melangkah Selanjutnya?

Data WHO menunjukkan ada 800 ribu orang setiap tahunnya meninggal karena bunuh diri. Kita tidak bisa diam saja menanggapi isu ini. Kita perlu beranjak dan melangkah.