Posts

Bersukacita Karena Persekutuan Injil

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

Aku adalah seorang yang pernah menikmati indahnya persekutuan Kristen di kampus. Di persekutuan itulah aku mulai menapaki perjalanan spiritualku bersama Tuhan. Pada tahun 2011, aku memulai studiku di salah satu kampus di Jakarta, dan di sana jugalah aku menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku melalui ibadah KKR penyambutan mahasiswa baru.

Perjalanan itu terus berlanjut. Setelah pertobatanku itu, ada seorang mentor rohani yang setia membimbingku supaya aku mengalami pertumbuhan rohani. Dari dialah aku mengenal apa artinya dan pentingnya bersaat teduh setiap hari. Dan, dari dia jugalah aku mengenal persekutuan kelompok kecil dan menikmati pengalaman memiliki teman yang sama-sama bertumbuh secara rohani. Singkat cerita, kehadiran mentorku ini menjadi salah satu bagian penting yang mewarnai keindahan persekutuan kampus yang pernah kualami.

Beberapa tahun setelahnya, aku mulai dipercayakan untuk melayani adik-adik tingkatku dalam suatu kelompok kecil. Awalnya, aku cukup bingung; apa yang harus kukerjakan untuk membimbing adik-adik tingkatku ini? Aku pernah hanya berkutat dengan bahan-bahan kelompok kecil yang mesti kusampaikan tanpa memberi perhatian yang cukup kepada mereka tiap harinya. Namun, di tengah perjalanan itu, mentorku kembali mengingatkan baik dengan perkataannya maupun juga dengan tindakannya yang dulu pernah dia perbuat kepadaku. “Kelompok kecil itu bukan hanya tentang membagikan pengetahuan bahan-bahan PA atau supaya adik-adik kita mengerti secara kognitif tentang Tuhan, tetapi tentang membagikan hidup kita yang terlebih dulu telah ditransformasi dan mengalami Kristus kepada mereka.”

Berawal dari perenungan itu, akhirnya aku menyadari bahwa sukacita terbesar dalam melayani seseorang adalah bukan hanya ketika mereka mengetahui tentang Tuhan, tetapi ketika melihat mereka mengalami pertumbuhan di dalam pengenalan dan kasih mereka kepada Tuhan. Ya, menyaksikan orang yang kita layani bertumbuh secara rohani, itulah hal yang membuatku paling bersukacita selama melayani. Aku teringat lantunan doa dan ucapan syukur Paulus kepada Tuhan atas jemaat di Filipi. Paulus berkata, “Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini” (Filipi 1:3-4). Di dalam kalimat ini, jelas dikatakan bahwa Paulus selalu berdoa dengan sukacita dan ucapan syukur. Paulus tentu saja mengenal betul bagaimana pertumbuhan rohani jemaat asuhannya ini sewaktu ia masih tinggal bersama di Filipi. Itu sebabnya, Paulus dapat bersukacita dan mengucap syukur kepada Allah ketika melihat jemaat asuhannya bukan saja menerima Injil, tetapi juga bertumbuh dalam persekutuan Injil yang ia beritakan.

Sukacita Paulus atas Jemaat Filipi tidak dapat dipadamkan oleh apapun, termasuk oleh kondisinya pada saat itu. Pada saat menulis surat Filipi, Paulus sedang terbelenggu di penjara. Namun, belenggu rantai-rantai penjara itu tidak dapat memudarkan sukacita Paulus, melainkan semakin mengokohkan keyakinannya atas pekerjaan Allah yang telah Dia mulai sebelumnya (ayat. 4). Paulus memiliki keteguhan hati bahwa meskipun saat itu dia tidak lagi bersama dengan Jemaat Filipi, tetapi dia yakin bahwa Allah yang memulai pekerjaan Injil itu, akan meneruskannya hingga pada kesudahannya. Itulah yang menjadi sumber sukacitanya.

Dari ucapan syukur dan doa Paulus ini, aku juga merefleksikan hal yang penting dalam caraku memandang suatu pelayanan. Ada atau tidak adanya kita, itu tidak akan membuat pekerjaan Tuhan hancur, karena Allah sendirilah yang menginisiasi pekerjaan baik-Nya dan Dia juga yang akan meneruskannya. Pertama, realita ini seharusnya tidak membuat diriku jemawa ketika adik-adik rohaniku mulai bertumbuh secara rohani. Sejatinya, itu semua bukanlah semata-mata karena kecakapanku dalam melayani. Namun, itu semua karena ada Allah yang telah memulai pekerjaan baik itu di dalam diri setiap orang yang kulayani. Kedua, kesadaran ini juga seharusnya tidak membuatku minder atau merasa bersalah yang berlebihan ketika orang-orang yang kulayani nampaknya tidak menghasilkan buah yang baik. Aku tetap bisa bersyukur dan bersukacita karena kita memiliki pengharapan bahwa pekerjaan baik Allah tetap ada di dalam diri mereka dan Dia akan tetap meneruskannya.

Kita dapat bersukacita karena kita tahu bahwa pertumbuhan rohani sesungguhnya bukan didasarkan kepada keberhasilan maupun kegagalan kita dalam melayani, bukan juga karena semata kecanggihan metode-metode yang kita gunakan. Namun, karena ada Allah yang memulai lebih dulu pekerjaan baik-Nya di dalam masing-masing umat pilihan-Nya sampai pada akhir zaman. Maka, ketika kita berhasil, kita sadar bahwa sesungguhnya tangan Tuhanlah yang pertama memulai pekerjaan baik itu. Apabila kita mengalami kegagalan, kita juga tidak larut dalam kesedihan, karena kita memiliki pengharapan bahwa Allah yang memegang kendali atas mereka.

Di tengah perjalanan pelayananku, terkadang aku dihantui banyak kegagalan di masa lalu. Aku merasa bahwa dulu tidak cukup bersungguh-sungguh di dalam melayani, sehingga orang-orang yang kulayani terhambat pertumbuhan rohaninya. Namun, Tuhan terus mengingatkanku untuk kembali berkomitmen dan giat melayani-Nya, karena aku tahu bahwa Allah telah memulai pekerjaan baik-Nya bagi orang-orang yang kulayani. Bukankah suatu kehormatan bagiku ketika aku dipakai Allah menjadi alat-Nya untuk meneruskan pekerjaan baik itu?

Namun, ada pula masanya ketika aku begitu giat dan semangat melayani. Doa Paulus ini tetap bisa kumaknai dan menjadi pengharapan, karena benih Injil yang pernah kutaburkan tidak akan pernah sia-sia. Pekerjaan baik yang telah Allah mulai tidak akan pernah terhalangi atau berhenti karena apapun. Sebaliknya, Dia akan meneruskan-Nya hingga sampai Kristus datang untuk kedua kalinya. Bukankah realita ini dapat menjadi pengharapan bagi kita di tengah pelayanan kita?

Kiranya teladan Paulus di dalam sukacitanya melayani dapat menjadi pembelajaran yang berharga buat kita yang juga saat ini sedang berjuang untuk membimbing jemaat, adik-adik rohani, dan keluarga kita. Sukacita Paulus tidak berasal dari luar dirinya, tetapi berasal dari Allah yang memulai pekerjaan baik di tengah kita. Sukacitanya juga berasal dari Injil Kristus itu sendiri yang dia yakini berkuasa mentransformasi kehidupan seseorang. Terakhir, sukacitanya bertumbuh karena kehadiran Roh Kudus yang terus menuntun setiap orang yang dilayaninya untuk semakin serupa dengan Kristus dari hari ke hari.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Mengalami Pelecehan Seksual, Aku Memilih untuk Mengampuni dan Dipulihkan

Ketika apa yang kujaga dinoadai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, seketika aku merasa hancur. Aku merasa kotor dan tak layak di hadapan Tuhan. Aku pun trauma berelasi dengan lawan jenis, terlebih apabila terjadi sentuhan fisik.

Dalam Segala Situasi, Bersekutu Itu Selalu Perlu

Oleh Frida Oktavia Sianturi, Pekanbaru

Sudah dua bulan sejak pandemi menghampiri kota Pekanbaru, aku dan adik KTB-ku (Kelompok Tumbuh Bersama) tidak pernah bertemu untuk PA (Pendalaman Alkitab) bersama. Biasanya aku mengunjungi mereka, tetapi kali ini tidak bisa. Mereka memutuskan pulang kampung saja karena perkuliahan mereka dilaksanakan secara daring.

Berbeda denganku, aku harus tetap berada di Pekanbaru. Aku tidak bisa pulang ke rumahku di kabupaten Rokan Hilir karena tetap harus masuk kerja. Pandemi ini pun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Pertanyaan terus menghampiri: Kapan ya ini akan berakhir? Kapan ya aku bisa bertemu lagi dengan adik KTB-ku? KTB teman-temanku yang lain kebanyakan dilakukan via online. Aku pun menawarkan kepada adik-adik KTB-ku untuk KTB online.

Namun, respon mereka membuatku sedih.

“Aku tidak bisa kak, jaringan internet di kampungku susah.”

“aku tidak bisa kak, memori HPku tidak cukup untuk download aplikasi yang baru.”

“aku tidak bisa kak, paket internetanku terbatas. Uang jajan tidak diberikan karena aku saat ini di rumah”

Respons mereka membuatku bergumul di hadapan Tuhan. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Awalnya, aku memutuskan agar kami saling berbagi pokok doa saja supaya kami bisa tetap saling mendoakan di tempat kami masing-masing sekaligus kami jadi saling mengetahui kondisi satu sama lain.

Namun aku masih gelisah. Aku merenung bagaimana caranya agar adik-adikku juga tetap diperlengkapi oleh Firman Tuhan selama masa-masa karantina ini. Aku berdiskusi dengan teman sekamarku. Dia lalu memberiku saran untuk KTB via telepon saja. Opsi ini baik meskipun aku perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli pulsa. Untuk menelepon empat orang adik dan biasanya kami KTB bisa lebih dari tiga jam, tentu aku harus mengeluarkan uang yang lebih untuk beli pulsa.

Sebenarnya sulit bagiku untuk mengeluarkan uang lebih di tengah kondisi ini. Work From Home membuat kebutuhanku meningkat. Cicilan juga tetap harus dibayar, tetapi kepada Tuhan kuserahkan semua kesulitanku ini.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon mereka berempat dan mengajak mereka KTB via telepon. Tak hanya belajar firman, kami saling mengabari kondisi kami, berbagi pokok doa, dan saling menopang. Aku sangat bersyukur bisa kembali KTB bersama mereka meskipun kami tak bisa dekat secara fisik. Aku bersyukur kami bisa belajar firman Tuhan kembali. Dan aku jadi belajar, lewat kondisi ini sebenarnya tidak ada alasan bagi anak-anak Tuhan untuk tidak datang kepada-Nya. Kemajuan teknologi bisa dipakai-Nya sebagai sarana untuk kita tetap bertumbuh.

Aku teringat kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika raja Nebukadnezar meminta mereka untuk menyembah patung emas dan memuja dewa, mereka menolaknya. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap memegang teguh kepercayaan mereka kepada Tuhan. Kesetiaan mereka berkenan kepada Tuhan, dan Tuhan meluputkan mereka dari panasnya perapian yang menyala-nyala (Daniel 3).

Kita mungkin tidak menghadapi ancaman seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, namun kita dapat meneladani kesetiaan mereka pada Tuhan. Dengan tetap terhubung bersama saudara seiman, kita dapat dikuatkan dalam menghadapi masa-masa sulit. Ibrani 10:24-25, berkata, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

Pandemi ini mungkin tampak mengerikan bagi kita, tapi janganlah kiranya kepercayaan kita kepada Tuhan menjadi padam. Pandemi ini tidak lebih besar dari pada Tuhan kita. Dalam situasi ini, kita hanya butuh hati yang mau taat belajar firman-Nya. Apa pun persoalan yang saat ini kita hadapi, biar kiranya kita melakukannya di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita.

Jika kita kesulitan mengakses persekutuan secara online, tetaplah bangun persekutuan pribadi kita melalui doa dan saat teduh. Atau, jika kita memiliki materi-materi lain seperti buku rohani, kita bisa membacanya sebab itu pun baik untuk pertumbuhan iman kita.

Baca Juga:

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya.

Menjadi Pemimpin di Kelompok Kecil, Cara Tuhan Mengubahkan Hidupku

Oleh Yuki Deli Azzolla Malau, Jakarta

Sewaktu duduk di bangku kuliah di kota Pekanbaru, aku mengikuti pembinaan dalam sebuah kelompok kecil yang diselenggarakan oleh Komunikasi Mahasiswa Kristen (KMK) di kampusku. Awalnya aku tidak pernah terpikir untuk ikut kegiatan ini. Keadaan ekonomi keluargaku yang sedang sulit membuatku ingin segera lulus dan mendapat nilai terbaik. Aku tidak ingin ikut kegiatan yang kupikir dapat mengganggu aktivitas studiku.

Aku sudah mengenal Kristus sejak SMP dan aku juga berjemaat di sebuah gereja. Hal ini jugalah yang menjadi alasan lain mengapa aku enggan mengikuti kelompok kecil dari KMK tersebut. Tapi, kakakku menasihatiku. Dia ingin aku berada di lingkungan Kristen yang baik, karena aku tinggal merantau di kota lain. Lalu, teman-temanku pun banyak yang mengajakku, hingga akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka dan ikut dalam kelompok kecil.

Kami sepakat untuk rutin bertemu seminggu sekali, tapi itu tidak berjalan dengan konsisten. Kenyataannya, kami hanya bisa bertemu sebulan sekali atau bahkan lebih jarang dari itu. Karena tidak konsisten, aku merasa imanku tidak bertumbuh dengan baik. Namun aku bersyukur karena ada orang-orang di luar kelompokku yang tetap membantu dan mendukung pertumbuhan imanku. Mereka mengunjungiku, memberi saran buku yang bisa kubaca, sharing firman Tuhan, juga memberiku konseling pribadi.

Setelah dua tahun tergabung dalam kelompok kecil, rekan-rekan di persekutuan mendukungku supaya aku dapat memuridkan kembali adik-adik tingkatku, membagikan kesaksian tentang keselamatan dan pengajaran yang telah kuterima selama aku menjadi anggota kelompok kecil supaya lebih banyak lagi mahasiswa yang menjadi murid Kristus yang berdampak.

Tapi, aku menolak panggilan itu. Aku merasa tidak layak dan tidak mampu. Lagipula aku sendiri sedang mengalami kesulitan keuangan dan memiliki penyakit. Namun, setiap kali aku melihat adik-adik tingkatku atau melihat adanya kelompok kecil yang tidak berjalan efektif seperti kelompokku, aku merasa gelisah. Seandainya saja kelompok kecil itu dapat berjalan efektif, pasti akan menolong pertumbuhan rohani anggotanya. Dalam hatiku aku ingin supaya mahasiswa bisa jadi agent of change, yang selain diperlengkapi secara ilmu akademis, juga memiliki kedewasaan rohani agar kelak mereka bisa menjadi dampak melalui hidupnya. Akhirnya, setelah mendoakannya, aku menerima panggilan tersebut.

Aku lalu memilih nama “Vania Griselda” sebagai nama kelompok kecil yang aku pimpin. “Vania” adalah kata dalam bahasa Rusia yang artinya “hadiah dari Tuhan”. Sedangkan “Griselda” adalah kata dari bahasa Jerman yang artinya “wanita yang bertempur”. Jadi nama ini menggambarkan harapanku untuk anggota kelompokku. Mereka adalah hadiah dari Tuhan, yang Tuhan pilih untuk berperang memenangkan jiwa bagi-Nya.

Kelompok ini terdiri dari delapan mahasiswi yang latar belakang dan karakternya berbeda-beda. Tiap mereka punya cerita, kejatuhan, dan pergumulan sendiri-sendiri. Dari awal proses pendekatan sampai tahun-tahun berikutnya, menggembalakan mereka bukanlah proses yang mudah. Ada beberapa dari mereka yang perasaannya sangat sensitif, ada pula yang kalau bicara blak-blakan hingga membuat orang lain tersinggung. Tapi, aku berusaha untuk tidak menjadikan itu sebagai halangan. Aku belajar untuk menjadi bagian dari mereka. Aku mendengarkan setiap cerita mereka, mencoba menengahi konflik-konflik yang terjadi di antara mereka, mengajarkan firman Tuhan, membantu mereka saat jatuh, dan berusaha untuk menjadi teladan buat mereka. Ketika konflik terjadi karena masalah kedekatan dan kecemburuan, aku berusaha untuk membagi waktu dan perhatianku sama rata supaya tidak ada kesan aku pilih kasih. Dalam setiap pertemuan, aku menyiapkan bahan pengajaranku dengan sebaik mungkin sebab pemikiran mereka sangat kritis.

Sejak aku menjadi pemimpin kelompok kecil ini, hari-hari sebagai mahasiswa yang awalnya ingin kulalui dengan tenang berubah jadi lebih menantang. Aku harus menjadi rekan seperjalanan iman bagi mereka. Ada waktu, dana, dan tenaga yang harus aku korbankan di tengah pergumulan pribadi dan sederet masalah lain yang harus kuhadapi. Kami meluangkan waktu untuk belajar Alkitab bersama, berdoa bersama, dan juga sharing proses kehidupan kami masing-masing. Kami juga berlatih untuk saling mengingatkan, menegur, dan menghibur, serta melakukan pelayanan lainnya baik di dalam persekutuan ataupun di luar. Semua itu adalah pembelajaran buat kami mengikis ego kami dan berkomitmen untuk mau saling belajar.

Tapi, di waktu-waktu yang sulit dan berat itulah aku jadi sering merenungkan bagaimana ketika Tuhan Yesus sendiri menjadi gembala bagi kedua belas murid-Nya. Dalam pelayanan-Nya di bumi, selain mengajar dan menyembuhkan orang banyak, Tuhan Yesus juga memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi penjala manusia (Matius 4:18-22). Yesus selalu mengajak mereka ke mana Yesus pergi dan mengajar mereka lewat firman yang diucapkan-Nya dan lewat perbuatan-Nya. Yesus selalu sabar di tengah kelemahan, keraguan iman, dan motivasi-motivasi yang tidak benar dalam diri murid-Nya. Yesus menegur (Matius 16:23), mendoakan (Lukas 22:32), sekaligus menghibur dan menguatkan mereka (Matius 14:27 dan Lukas 6:23). Ketika konflik terjadi, Yesus ada dan menyelesaikannya (Lukas 9:46-48). Yesus juga mengambil bagian terkecil untuk melayani dengan membasuh kaki Petrus (Yohanes 13). Yesus, dikhianati oleh murid-Nya, dan disiksa oleh orang yang membenci-Nya, namun Dia tidak menaruh dendam. Yesus memaafkan mereka (Lukas 23:34).

Semuanya itu rela ditanggung Tuhan Yesus demi mempersiapkan mereka yang awalnya tidak mengenal Injil menjadi orang yang kelak bukan hanya sekadar menerima, tetapi juga menjadi pembagi berita Injil. Yesus menjadikan para pengikut-Nya memiliki kualitas murid supaya dapat menghasilkan murid kembali. Buah dari segala pelayanan dan penggembalaan yang Yesus lakukan itu adalah kesebelas murid-Nya yang dulu hidup hanya untuk diri sendiri menjadi orang yang hidup untuk Injil. Buah dari karya-Nya. Inilah yang membuat banyak orang sampai saat ini bisa mengenal dan menerima Injil.

Proses pemuridan dan penggembalaan yang kulakukan selain mengubahkan adik-adikku, ternyata juga memberikan mengubahkan hidupku. Karakter buah-buah rohku dibentuk. Aku dapat konsisten melakukan disiplin rohani yang menolongku mendisplinkan diriku sendiri. Karakterku yang dulu suka moody sekarang bisa lebih stabil, aku lebih sabar, dan aku pun jadi pribadi yang lebih terbuka. Selain itu, aku belajar menjadi lebih bijak mengelola aktivitas dan keuanganku. Aku juga menjadi orang yang berserah dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan lewat doa. Karunia mengajar dan menggembalakanku semakin terasah. Bahkan aku mendapatkan keluarga dan komunitas baru yang senantiasa mendukung dan menolongku, yaitu adik-adik rohaniku. Dan, puji Tuhan, pelayanan yang dulu kupikir dapat membuat kuliahku terganggu, ternyata malah membuatku jadi semakin termotivasi untuk menunjukkan teladan dalam studiku. Aku dapat lulus sarjana dalam waktu 3 tahun dan 10 bulan, lebih cepat daripada yang kupikirkan.

Ketika tantangan terasa sulit dan aku ingin menyerah, aku mengingat kembali bagaimana penggembalaan yang Yesus lakukan menghasilkan buah yang begitu besar. Inilah yang menjadi motivasiku. Seberapapun seringnya adik-adik rohaniku jatuh, sesakit apapun konflik yang kami alami, sebesar apapun masalah dan tantangannya, aku tetap bertahan untuk menjadi kakak rohani yang baik buat mereka. Karena sama seperti kesetiaan Tuhan yang menghasilkan banyak jiwa, aku pun ingin kelak melalui kesetiaanku boleh ada murid-murid Kristus baru yang dilahirkan.

Pada akhirnya, lewat proses pemuridan dalam kelompok kecil ini aku juga dapat melihat perubahan yang nyata dalam diri adik-adikku. Mereka yang awalnya tidak mengenal Kristus secara pribadi kini menerima jaminan keselamatan. Mereka yang dulu hidupnya sesuka hati kini belajar memprioritaskan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan mereka. Mereka yang awalnya hidup untuk diri sendiri kemudian berganti menjadi orang yang mau kembali memuridkan adik-adik lainnya.

Membina komunitas dan menggembalakan adik-adik rohani mungkin bukan hal yang mudah. Butuh pengorbanan waktu, tenaga, uang, serta pikiran dan perasaan kita akan terkuras di samping kita juga harus mengurusi pergumulan pribadi kita. Namun, ketika kita mau belajar taat dan setia pada panggilan Tuhan, kita dapat melihat kehadiran komunitas dan penggembalaan itu sebagai salah satu cara Tuhan membentuk dan memproses kita untuk semakin serupa dengan Kristus hingga akhirnya kita kembali membagikan proses itu sendiri dan menghasilkan lebih banyak lagi jiwa buat Tuhan.

Tulisan ini ditulis sebagai apresiasi kepada Tuhan dan juga kedelapan anggota kelompok kecilku: Wan Devi, Dewi, Sophia, Rosmelisa, Rinda, Raisa, Martina, Tetty.

Baca Juga:

Di Tengah Kekhawatiranku, Tuhan Memberikan Kedamaian

Aku pernah begitu khawatir akan kehidupanku dan masa depanku, hingga membuat kesehatan mental dan fisikku terganggu. Sampai akhirnya, ketika aku berseru pada Tuhan, di situlah Dia memberiku solusi atas kekhawatiranku.

Mengasihi Anggota Kelompok Kecil yang Sulit

mengasihi-anggota-kelompok-kecil-yang-sulit

Oleh Leslie Koh

Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Why Love Isn’t A Good Feeling

Aku harus terus terang. Aku benar-benar tidak suka dengan Terence (bukan nama sebenarnya). Aku tidak tahan melihat gayanya berjalan, seperti bos besar, menengok ke kiri dan ke kanan seolah-olah ia mengendalikan seluruh gereja. Aku tidak suka caranya bicara, seolah-olah dia lebih pintar dari semua orang. Caranya bertanya pun tidak enak, seolah-olah jawaban kita itu pasti akan selalu kurang. Kalau sudah dijawab, dia hanya mengangguk, seolah-olah berkata, “Itu bukan jawaban terbaik, tetapi ya apa boleh buat kalau hanya itu yang kamu tahu.”

Dan… aku harus memperhatikan dia. Sebagai pemimpin kelompok kecil yang baru, tugasku adalah untuk menolong dia bertumbuh dalam perjalanannya bersama Tuhan. Oke, Tuhan, tetapi Engkau tahu—aku tidak menyukainya.

Sulit sekali melakukan tugasku dengan perasaan yang demikian. Belum apa-apa, aku sudah merasa kepayahan, tidak tahu bagaimana harus bertindak sebagai seorang pemimpin kelompok, bagaimana harus mengajar, memotivasi, dan memperhatikan orang lain. Untunglah, kebanyakan anggota kelompokku sangat bersemangat dan mau saling mendukung. Mereka bersedia mendengarkan dan berusaha saling melengkapi. Kecuali Terence.

Bulan demi bulan berlalu. Aku akan menekan perasaanku sebisa mungkin tiap kali harus berhadapan dengannya, berusaha bersikap positif dalam pembicaraan kami. Ketika ada orang yang memujinya, aku akan mendukung pendapat orang itu. Ketika Terence memiliki perbedaan pendapat denganku, aku akan mengangguk dan berkata, “Bisa diterima, kamu punya pendapat yang baik.” Tetapi, setelah aku hanya bersama istriku, aku akan mengomel panjang lebar, “Kamu lihat raut mukanya tadi? Dia pikir dia siapa? Anak muda yang tidak tahu diri.”

Aku juga mengeluh kepada pemimpin di atasku, yang bertanggung jawab untuk memperhatikan kelompok kami. Ia kurang sependapat. Menurutnya Terence punya potensi, meskipun ia mengerti mengapa aku mengeluh. “Beri dia kesempatan,” nasihatnya. Begitu pulang, aku langsung bilang kepada istriku, “Bagaimana bisa pemimpin kita begitu buta? Apa dia tidak bisa melihat sifat asli Terence?”

Sepertinya penilaianku mulai terbukti benar ketika Terence bermasalah dengan beberapa anggota kelompok kecil kami. Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang pemimpin kelompok kecil. Bersikap toleran terhadapnya, tetap memperhatikan dan mengasihinya sebagai saudara di dalam Kristus. Tetapi rasanya sulit sekali. Mengasihi dia? Sejujurnya, aku tidak tahan menghadapinya! Namun, melalui hubungan yang sulit inilah Tuhan mengajar aku memaknai kasih dengan perspektif yang baru:

1. Kasih adalah sebuah pilihan.

Saat aku terus bergumul dengan perasaanku sendiri, pemimpin di atasku mengatakan sesuatu yang membuatku tertegun.

“Kamu dipanggil untuk mengasihi dia, bukan untuk menyukai dia,” katanya.

“Tanggung jawabmu adalah ada di sana untuk dia, jika ia membutuhkan pertolongan atau butuh didengarkan. Kamu tidak harus selalu menyukai orangnya.”

Ah! Kalau begitu rasanya lebih mudah. Aku hanya perlu bersikap toleran terhadap kelakuan Terence dan cukup berfokus pada apa yang harus aku lakukan sebagai seorang pemimpin. Aku merasa lebih siap mengontrol perasaanku.

Tetapi, rasanya masih ada yang mengganjal, sikapku seolah berkata, ”Hei bro, aku tidak tahan melihat wajahmu, tetapi aku mengasihimu.” Aku sedang menghakimi Terence, sekaligus menolongnya pada saat yang sama. Rasanya munafik sekali. Pemimpin macam apa aku ini? Orang Kristen macam apa aku ini?

Saat aku merenungkannya, aku mulai memahami kebenaran yang penting: Kasih itu bukan sebuah perasaan, tetapi sebuah pilihan yang diambil dengan penuh kesadaran, sebuah tindakan yang dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Kita tidak mengasihi seseorang dengan sekadar memupuk perasaan sayang kepadanya. Kita mengasihi seseorang dengan mengambil keputusan untuk memperhatikannya, dan mengusahakan apa yang terbaik baginya. Kita memilih untuk mengasihi—berarti secara sadar kita mengambil sebuah komitmen dan keputusan untuk bertindak, untuk mengusahakan sesuatu, dan adakalanya untuk berkorban.

Kupikir, hal ini sedikit banyak menggambarkan tentang kasih Allah. Dia melihat sifat-sifat kita yang berdosa, karakter kita yang jauh dari sempurna, serta kecenderungan hati kita untuk selalu berbuat dosa, dan tetap mengasihi kita. Allah tidak menciptakan Adam dan Hawa, melihat mereka, lalu berpikir, “Wah, manusia-manusia ini menyenangkan sekali, Aku mengasihi mereka!” Tidak, Dia sudah memutuskan untuk mengasihi kita ketika Dia menciptakan kita, sekalipun Dia tahu bahwa kita akan melawan Dia. Karena kasih yang besar itu, Dia mengorbankan Anak-Nya yang tunggal untuk membawa kita kembali kepada-Nya.

2. Kasih adalah sebuah tindakan.

Mungkin kita sudah pernah mendengarkan lusinan khotbah yang diambil dari perikop terkenal, 1 Korintus 13. Bagian Alkitab yang bicara tentang kasih ini sering dikhotbahkan dalam pernikahan. Ironisnya, yang cenderung menjadi fokus adalah apa yang dirasakan oleh pasangan tersebut.

Padahal jika diperhatikan, perikop itu sebenarnya menggambarkan kasih sebagai sifat dan tindakan. (Kasih itu sabar, murah hati, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah. Kasih itu bersukacita karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih itu tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak menyimpan kesalahan orang lain). Tidak ada satu kata pun yang menggambarkan tentang kasih sebagai sebentuk perasaan.

Dalam penjelasan Yesus tentang apa artinya mengasihi sesama (Lukas 10:25-37), orang Samaria yang baik hati digambarkan menunjukkan kasihnya dalam tindakan yang nyata. Ia tidak hanya merasa kasihan dan berkata, “Aku ikut merasakan penderitaanmu, Sobat,” lalu berlalu begitu saja. Ia membalut luka-luka orang itu, membawanya ke tempat penginapan, dan memastikan orang itu mendapat perawatan yang baik.

Ketika Yesus bertanya kepada Petrus, apakah ia mengasihi-Nya (Yohanes 21:15-17), Dia meminta murid-Nya itu untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Kasih Petrus kepada Tuhan harus dinyatakan dalam perhatian yang ia berikan kepada orang-orang yang dikasihi Yesus. Kasih Yesus sendiri juga dinyatakan dengan cara yang sangat luar biasa, Dia mengorbankan nyawa-Nya untuk kita. Ah ya. Kasih itu adalah sebuah tindakan. Jelas aku juga harus mengatasi sikapku yang sering menghakimi Terence—Yesus tentu tidak menghendaki aku berkubang dalam perasaan yang demikian.

Namun, itu tidak berarti aku baru bisa mengasihi Terence sebagai seorang saudara di dalam Kristus jika perasaan tidak suka dalam hatiku sudah hilang sama sekali. Aku dapat tetap mengasihinya dengan memberi perhatian dan siap sedia memberi pertolongan ketika ia membutuhkannya. Pada saat yang sama, aku sadar aku harus mendoakan diriku sendiri, mohon Tuhan mengubahkan hatiku yang sulit mengampuni, mohon Tuhan menolongku melihat Terence dari sudut pandang-Nya, dan memberiku kekuatan untuk mau mengasihi Terence dengan setulus hati. Aku menyadari bahwa aku tidak bisa mengasihi dengan mengandalkan kekuatanku sendiri.

3. Kasih memelihara kelangsungan hubungan, apapun yang terjadi.

Ketika kita membuat keputusan untuk mengasihi, kita akan menjalani hubungan-hubungan yang kita miliki dengan makna dan kekuatan yang baru. Mengapa? Karena hubungan-hubungan ini tidak lagi bergantung pada perasaan kita terhadap orang lain, tidak juga bergantung pada apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain. Hubungan-hubungan ini tidak akan dihancurkan oleh kemarahan, rasa tersinggung, atau perilaku yang keliru. Hubungan-hubungan ini tidak lagi bersyarat.

Hubungan kasih yang paling kuat adalah hubungan yang lahir dari sebuah keputusan yang didasari kesadaran penuh, pertimbangan yang matang.

Kita ingat perumpamaan tentang seorang bapa yang harta warisannya disia-siakan oleh anaknya sendiri. Ketika anak yang kurang ajar itu kembali, sang bapa siap menerimanya, karena kasihnya melihat anaknya, melampaui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan anak itu (Lukas 15:11-32). Kasih sang bapa tidak bergantung pada apa yang dikatakan atau dilakukan anaknya.

Akankah hubungan kita dengan pasangan kita juga terpelihara oleh kasih yang demikian? Biasanya, hubungan itu dimulai dengan rasa nyaman, rasa sayang yang mengaduk-ngaduk hati, yang membuat kita kemudian ingin menikah. Akankah perasaan kita kemudian didasarkan pada komitmen yang lebih kuat untuk tetap mencintai ketika keretakan dalam hubungan mulai muncul dan kekurangan pasangan kita mulai jelas terlihat? Akankah keputusan untuk mengasihi yang kita ambil dengan kesadaran penuh akan mampu membawa pernikahan kita melewati masa-masa paling kritis?

Begitu juga dalam persahabatan-persahabatan kita—apa yang dapat membuat hubungan-hubungan itu bertahan? Apakah kita siap memaafkan teman-teman kita ketika mereka melukai kita? Akankah kita ada bagi mereka, apapun yang mereka lakukan atau katakan? Relakah kita menyingkirkan gengsi, sakit hati, dan kemarahan, ketika mereka membutuhkan pertolongan kita?

4. Kasih pada akhirnya akan dirasakan.

Aku akan berdusta bila aku berkata sikapku terhadap Terence telah berubah 180 derajat. Tetapi, ketika dengan kesadaran penuh aku mengambil keputusan untuk mengasihi dan memperhatikan Terence, aku lebih bisa menyingkirkan perasaanku yang penuh penghakiman, dan mulai mencoba melihat dalam hal apa ia membutuhkan pertolongan. Kelompok kecil itu kini telah berkembang dan aku sudah tidak lagi berada di dalamnya, jadi ujian hatiku tidak berlanjut. Terence juga meneruskan kehidupannya sendiri.

Namun, melalui pengalaman itu, aku belajar bahwa perasaan kita pasti akan mengikuti tindakan yang kita pilih. Memang dengan tekad yang kuat, bisa saja kita berusaha mengasihi seseorang meskipun kita sebenarnya tidak menyukainya. Namun kita tidak bisa sekadar mengandalkan kekuatan tekad kita. Kesenjangan antara apa yang kita rasakan dan lakukan seharusnya tidak berlangsung selamanya—nanti bukannya mengasihi, kita malah jadi bersungut-sungut.

Di sisi lain, ketika kita terus menaati perintah Allah untuk mengasihi, dan mempraktikkannya melalui tindakan nyata, sikap kita perlahan-lahan akan berubah. Sama seperti tindakan seseorang dapat berkembang menjadi kebiasaan, kebiasaan lalu menjadi karakter, demikian pula usaha yang dimulai oleh pikiran kita untuk mengasihi pada akhirnya akan mengubah dan membentuk perasaan di hati kita.

Perubahan ini hanya dapat terjadi dengan pertolongan Tuhan. Kita tidak dituntut untuk mengasihi dengan kekuatan kita sendiri—bahkan kasih yang digambarkan dalam 1 Korintus 13 sesungguhnya mustahil dicapai tanpa Tuhan memberi kita sebuah hati yang baru.

Seiring dengan ketaatan kita pada perintah Tuhan untuk mengasihi sesama, Dia akan mengubah hati kita supaya bisa memiliki belas kasih yang sama dengan belas kasih-Nya.

Ini adalah sebuah tantangan bagi diriku: untuk bersedia dibentuk Tuhan seiring dengan upayaku berlatih mengasihi sesamaku. Membiarkan Dia bekerja di dalam hatiku, menggantikan hatiku dengan hati-Nya, seiring dengan pilihan-pilihan yang kuambil dengan kesadaran penuh untuk menyatakan kasih melalui perkataan dan tindakanku.

Apakah kamu juga mau bersama-sama dengan aku menjawab tantangan ini?